6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Utang Perbincangan Dua Abad Pada Putu Juli Sastrawan Setelah Membaca Novel “Menuai Badai”

Wayan Paing by Wayan Paing
August 3, 2025
in Ulas Buku
Utang Perbincangan Dua Abad Pada Putu Juli Sastrawan Setelah Membaca Novel “Menuai Badai”

Novel Menuai Badai

SETIDAKNYA ada tiga hal yang membuat saya spontan berjanji pada Putu Juli Sastrawan setelah membaca novel Menuai Badai. Kekaguman pada penulis yang di masa kecilnya penikmat “cerita susu (kaleng?)” ini membuat saya tidak ragu berjanji. Apalagi, “cerita susu (kaleng)” itulah yang mengantarnya menjadi penulis bukan kaleng-kaleng saat ini.

Saat di-tag pada sebuah WAG, sepontan saya mengumbar janji akan berbincang selama dua abad dengannya. Janji yang akhirnya saya ingkari dengan selaksa alasan klasik. (Persis janji politikus yang tampaknya selalu dirancang berlebih-lebihan untuk kemudian diingkari).

Tentu saja saya akan berbincang tentang novel terbarunya, “Menuai Badai”. Hal pertama, setelah membaca ayahnya Kandar dihabisi akibat memiliki tato macan di lengannya, tentu akan membuka diskusi yang tidak singkat. Apalagi di awal novelnya tertulis: untuk kakek saya.

Peristiwa 1965 yang menjadi pokok pembahasan dalam novel ini tentu tidak terlepas dari sosok seorang kakek, setidaknya buat saya. Bagi saya, sosok kakek adalah penutur utama peristiwa kelam enam puluh tahun lalu itu. Peristiwa serius yang selalu dibawakan dalam mode serius membuatnya lumayan melekat dalam ingatan. Diawali pertanyaan yang harus dijawab dengan tepat saat itu, cerita kakek kemudian mengalir.

“Kambing apa macan?” Itulah pertanyaan sekaligus pilihan yang harus dipilih dengan tepat. Apabila salah menjawabnya, nyawa menjadi taruhan. Andai saja waktu itu dijawab macan, maka “para kambing” akan menggeruduknya seketika itu juga. Orang yang bertanya bukan orang yang kita kenal. Berasal dari beberapa desa yang jauh dari tempat kita. Mereka datang dengan tujuan untuk menyerbu “macan” yang melarikan diri. Cerita kuno yang mengisahkan kambing yang ditakuti macan tampak nyata pada tahun itu. di sini, bukan masalah berani atau takut, melainkan “kambing” yang berburu “macan”.

Macan-macan pada tahun itu tidak ada yang takut, bahkan menjelang hari-hari terakhirnya, mereka yang dicap macan berpamitan kepada rekan-rekan lekatnya di masyarakat. Biasanya dalam pertemuan di tajen, misalnya. Berpamitan dengan baik-baik serta meminta maaf atas segala kesalahan yang mungkin pernah mereka buat. Tidak ada ketakutan di mata mereka, tidak pula kepasrahan. Mereka terlihat tegar. Peristiwa berpamitan tersebut kemudian disusul dengan rombongan yang bertanya kambing atau macan tadi. Beruntungnya sudah ada yang memberi komando untuk menjawab kambing. Selamatlah kita dan ada kewajiban bagi masyarakat tertentu untuk ikut rombongan tersebut memburu macan ke tempat yang sudah diidentifikasi.

Pertanyaannya kemudian, apakah cerita kambing dan macan tersebut merupakan cerita yang merata tersebar di seluruh Bali sehingga diambil sebagai simbol tato macan oleh Juli Sastrawan dalam novel Menuai Badai? Seperti permintaan maaf oleh orang yang tertuduh di dalam novel juga diceritakan oleh kakek saya tentang peristiwa 1965 itu.

Hal kedua, untuk mencari jawaban penyebab awal Kandar mengalami trauma berkepanjangan selama sisa-sisa hidupnya. Beberapa pembaca mungkin berusaha mencari sebab utamanya. Di dalam novel sekilas diceritakan kondisi itu akibat Kandar harus membuat keputusan pada parang yang tertambat di lehernya. Keputusan yang jawabannya pasti: putus. Akan tetapi dua pilihannya, diputus atau memutus. Sebuah situasi yang membuat Kandar menjawab “iya”, yang artinya dia memilih memutus. Keputusan yang membuat parang itu tidak memutus bagian tubuhnya. Kilasan tersebut tentu belum memberi gambaran yang jelas bagi pembaca (setidaknya saya).

Juli dengan apiknya menggiring pembaca menikmati lembar demi lembar novelnya sampai akhir untuk menemukan situasi kompleks yang membuat Kandar mengambil keputusan itu. Kebersamaan Kandar dan Jimakir, adiknya,  saat melihat ayah mereka ditemukan sudah tidak bernafas lalu ibunya yang pergi meninggalkan mereka, seolah memberi sedikit peluang.  Akan tetapi, ternyata tidak demikian. Seolah sengaja memberi jamuan lain bagi pembaca untuk mencarinya dibagian lain.

Tanpa terasa halaman demi halaman berlalu dengan hidangan bergizi pengetahuan tinggi tentang peristiwa  mencekam tersebut. Bukan hanya cerita, namun petikan-petikan berita yang dimuat menjadikan novel ini terasa bukan sebuah karya fiksi melainkan kisah nonfiksi. Kondisi yang membuat pembaca perlahan melupakan tujuan awal karena tenggelam dalam pengetahuan yang disajikan.

Pada bagian Kandar berada di puskesmas dan mendengarkan perbincangan antara supir mobil yang menabraknya dengan seorang ibu bernama Tarmini, harapan itu sedikit muncul. Munculnya ketika Ibu Tarmini menceritakan empat anaknya. Berharap salah satu dari anaknya itu adalah Kandar dan mungkin menyinggung mengapa kandar menjadi tameng. Ternyata sampai akhir percakapan belum memberi jawaban sebab tidak ada cerita tentang anaknya yang menjadi tameng.

Jika dalam sebuah situasi Kandar dan Jimakir tertangkap dan ibunya bisa melarikan diri, kenapa Kandar saja yang dipaksa memilih menjadi tameng? Apakah Jimakir masih terlalu kecil sehingga terbebas dari pilihan itu? Keberadaan dua bersaudara yang menjalani kehidupan menua bersama tanpa keluarga lain sebenarnya sudah mempertegas bahwa secara sosial mereka dihukum dengan tidak ada yang mau menikah dengan mereka. Usaha mencari alasan kompleks Kandar menjadi tameng seolah hanya upaya untuk membuat ulasan yang sedikit panjang. Tentu itu bagian dari cara penulis menggiring pembaca menelan habis karyanya. Satu yang terlihat jelas kemudian adalah novel setebal 158 halaman ini sangat berpotensi untuk dipertebal lagi.

Hal ketiga, mempertanyakan ketegaan penulis menghukum Kandar dengan peristiwa yang dialami Jimakir. Penderitaan kompleks Kandar sepertinya sudah setimpal dengan perbuatan masa lalunya. Dihantui dan dikejar-kejar tanpa henti oleh para korbannya, mengharuskan memakai pakaian dalaman loreng, baret yang tidak boleh dicuci, dan helm tempur, membuatnya tampak seperti orang gila.

Rasa bersalah karena merasa memberatkan adiknya yang harus membiayai pengobatan dan merawatnya, serta upaya menyiksa diri untuk tidak meminta pertolongan orang lain. Sebuah penderitaan yang sempurna maksimal bagi seorang tokoh dengan perbuatan kelamnya. Kesempurnaan itu dilengkapi dengan penolakan perwakilan korban untuk memberi kesempatan meminta maaf kepada korban sebagai tujuan dari novel ini. Sampai di sini, Juli sepertinya ingin memperberatnya lagi dengan cara membuat Kandar menyelesaikan prosesi pemandian mayat dan penguburan adiknya, satu-satunya orang yang menjaganya selama ini.

Sebagai pembaca, ingin rasanya protes pada keputusan penulis untuk membunuh Jimakir dalam novel Menuai Badai ini. Keputusan yang tidak hanya membuat Kandar makin menderita tapi juga membuat pembaca syok. Sebuah twist yang benar-benar mencengangkan. Twist yang membuat saluran lakrimal bereaksi dengan kiriman mendadak cairan ke kornea.

Tiga hal itu tampak layak untuk diperbincangkan lama-lama kalau bertemu sekaligus mencicil utang percakapan dua abad yang terlontar dengan sembrononya. Selain itu, novel menuai badai tampak layak menjadi pedoman penulisan novel bagi para pemula. Upaya menampilkan data secara akurat dalam novel ini seolah memberitahu kita bahwa pendalaman terhadap cerita yang dibangun sangat penting dilakukan.

Riset yang baik akan menghidupkan cerita yang dibangun. Demikian pula, cerita-cerita yang ada dalam masyarakat tentang sejarah masa lalu walau tidak akurat dengan angka tanggal, tahun, maupun statistik sangat layak dirangkum dan diarsipkan dalam berbagai media. Berjibunnya konflik dalam novel seolah memberi bimbingan membangun konflik cerita dapat begitu mudahnya dilakukan (tentu diasah dengan latihan dan latihan)

Hal tambahan yang mungkin bisa dijadikan topik adalah protes pada Juli Sastrawan. Betapa susahnya mendapatkan novel ini secara fisik. Susahnya di sini ditinjau dari keberadaannya dalam toko buku. Masalahnya bukan ada atau tidak ada dalam toko buku, tapi keberadaan toko buku itu sendiri. Beberapa waktu lalu sempat berusaha mendapatkannya di sebuah toko pakaian besar di Denpasar, di atas pintu masuk jelas masih terlihat tulisan Gramedia. Biasanya masuk ke sana di lantai dua atau tiga (lupa juga posisi pasnya) hamparan buku terpajang dengan rapi di sepanjang ruangan. Akan tetapi, waktu dicari di lantai dua hanya hamparan pakaian. Mencoba naik ke lantai tiga juga sama.

Akhirnya turun dan bergumam, “mungkin di lantai empat,” lalu pergi tanpa berusaha bertanya ada atau tidak lantai empat atau di bagian bangunan lainnya letak toko buku tersebut. Meninggalkan tempat tersebut, mencoba singgah di toko buku besar di Jalan Hayam Wuruk. Eh, ternyata sama. Bangunan yang dulunya toko buku tersebut ternyata sudah dibongkar. “Mau dijadikan hotel.” Itu kata penjaga yang ada di sana. Situasi yang kemudian membuat hati merasa bersalah menyalahkan penulisnya. [T]

Penulis: Wayan Paing
Editor: Made Adnyana Ole

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”
Menyembuhkan Ilusi “Manusia Berkuasa Atas Bumi” | Ulasan Buku “Al Qur’an Bilang Kepentingan Bumi Harus Didahulukan” karya AS Rosyid
Menyakiti Makhluk Itu Bisa Mengakhiri Zaman | Ulasan Buku “Musik Akhir Zaman” karya Kiki Sulistyo
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda
Tags: novelPutu Juli Sastrawansastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Next Post

Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Wayan Paing

Wayan Paing

Lahir di Gulinten, 6 April 1983. Menjadi guru di Ababi, Abang, Karangasem. Saat mahasiswa suka sastra dan teater yang kini ingin ditekuninya kembali

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Panen Perdana Padi “Semeton Buleleng”, Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Panen Perdana Padi "Semeton Buleleng", Komitmen Swasembada Pangan di Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co