6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Yahya Umar by Yahya Umar
August 6, 2025
in Ulas Buku
Ajaklah Waktu untuk Menidurkan Puisi, dan Memensiunkan Mimpi-mimpi — Catatan Buku Puisi Willy Fahmy Agiska “seperti orang mati yang hidup”

Cover buku “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska

SEBELUM membuka dan membaca buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska, iseng-iseng saya bertanya kepada ChatGPT dan Meta AI, apa makna “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Ya, iseng-iseng ngikutin gen Z sih, biar tidak dibilang ketinggalan trend.
Di era digital masak gak kenal Chat GPT atau Meta AI? Masak nggak mau memanfaatkan aplikasi yang diklaim pinter dan serba bisa menjawab apa saja tersebut?

Saya tanya, apa makna “seperti orang mati yang hidup”? ChatGPT bilang: Kalimat “seperti orang mati yang hidup” adalah ungkapan atau majas yang biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang secara fisik masih hidup, tetapi secara emosional, mental, atau spiritual tampak hampa, tidak bersemangat, atau kehilangan arah. Ini bisa digunakan secara harfiah atau kiasan tergantung konteks.

Chat GPT memberikan rincian makna dari “seperti orang mati yang hidup” tersebut. Makna umum: secara kiasan: menggambarkan seseorang yang hidup tanpa semangat, tujuan, atau harapan — seperti zombie hidup secara emosional.

Secara psikologis: Bisa merujuk pada kondisi depresi, trauma, atau kehilangan yang mendalam. Secara spiritual atau filosofis: Seseorang yang kehilangan nilai, iman, atau makna hidup, meskipun tubuhnya masih berjalan seperti biasa.

Bahkan Chat GPT memberikan contoh : “Sejak kehilangan anaknya, dia seperti orang mati yang hidup — ada, tapi kosong.” “Dia kerja setiap hari, tapi tanpa gairah. Seperti orang mati yang hidup saja.” Wiihh lengkap kan jawabannya?

Chat GPT memberikan makna yang disebutnya “Makna Lebih Dalam”. Kata Chat GPT: “Kalimat ini sering membawa nuansa kesedihan, kehampaan, atau keterasingan dari kehidupan itu sendiri. Kadang digunakan juga dalam karya sastra, puisi, atau lagu untuk menggambarkan krisis eksistensial.”

Sementara kalau ditanyakan hal yang sama ke Meta Al, ini jawabannya. “seperti orang mati yang hidup” biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang terlihat sangat lelah, lemah, atau tidak berenergi, seolah-olah mereka sudah tidak memiliki semangat hidup lagi. Ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelelahan fisik, stres, depresi, atau masalah kesehatan lainnya.

Willy Fahmy Agiska (pegang mik) saat mendiskusi buku puisinya di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Dalam beberapa konteks, kata Meta AI, ungkapan ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan seseorang yang kehilangan gairah hidup atau motivasi, sehingga mereka terlihat seperti “mati” secara mental atau emosional.

Tentu saja jawaban Chat GPT maupun Meta AI tidak untuk menjelaskan buku kumpulan puisi “seperti orang mati yang hidup” karya Willy Fahmy Agiska. Apalagi menjelaskan puisi-puisi yang dimuat di dalamnya.

Lalu? “seperti orang mati yang hidup” adalah kontemplasi Willy Fahmy Agiska meredam amuk, membenamkan ludah, dan bukan tinju. Begitu kata pengantar dari redaktur Velodrom, penerbit buku ini.

masukkan
selera humormu
ke toples

lakban, lakban

Willy Fahmy Agiska dalam puisi “tutup” tersebut seperti bersuara ‘jengkel tapi tertahan’. Ia membiarkan, dan ia menunggu.

lihat, seberapa tahan
dunia menahan dirinya
tidak menyingkirkan

Suara ‘jengkel tapi tertahan’ bisa juga dirasakan pada puisi Willy Fahmy Agiska berjudul “bangun”.

bangun
aku perlu matamu
untuk menjelaskan
hari yang putih
di ventilasi

Willy Fahmy Agiska memendam ludah. Memendam kejengkelan agar tidak menjadi amuk. Dan buanglah kejengkelan itu karena akan menjadi racun yang menyakiti diri.

sekarang
waktunya minum segelas air
lalu pergi ke toilet

buang sejumlah orang
dan kebekuan kemarin
seperti urin

Racun harus dikeluarkan dari tubuh kita, agar kita bisa sehat. Sakit akan menjadi sembuh jika racun-racun tak bersarang lagi dalam tubuh.

kata-kata sudah banyak
untuk membikin kekosongan

menguap-menguap
seperti kekuasaan

(exit 1)

“seperti orang mati yang hidup” adalah kamar yang memulangkan ‘aku’ dari kecewa dan suntuk. Ini merupakan upaya penyembuhan. Menyembuhkan diri dari rasa sakit menghadapi praktik kekuasaan yang memangsa hidup kita, misalnya.

pintunya sengaja tak dikunci
silakan masuk, negara
sebagaimana nyamuk-nyamuk girang
dilepas-lepas senja

apakah ia masih berselera
dengan daging kita

yang
selamanya terselip
di bawah harga nasional

(toxic)

“seperti orang mati yang hidup” adalah penundaan kematian atas gairah hidup. Memensiunkan segala obsesi dan segenap kesibukan mengejar batas usia.

manusia baiknya mengalir saja
lewat, tak perlu kedalaman

(tanpa)

Toh, pada akhirnya siapa pun akan sampai pada batas. Namun, ….

tanpa iman
semua yang kau sentuh
membuatmu menggigil

tak ada gojek
yang bisa mengantarmu
dengan alamat kosong

(ketemu)

Setelah membaca buku “seperti orang mati yang hidup”, saya seperti ingin mengajak waktu untuk menidurkan puisi dan memensiunkan mimpi-mimpi.

Yahya Umar (penulis), Esha Tegar Putra dan Willy Fahmy Agiska saat mendiskusi buku puisi di Singaraja Literary Festival 2025 | Foto: Dok. SLF 2025

Ya pada akhirnya kita mesti menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi. Inilah proses mengumpulkan energi kembali, untuk menyembuhkan tubuh, menyembuhkan diri.

Puisi-puisi (semangat, gairah) sekali waktu harus diistirahatkan, ditidurkan. Mimpi-mimpi (keinginan, obsesi, dan sejenisnya) harus dipensiunkan. Itulah yang menyakiti diri, menyakiti keseluruhan bagian tubuh. Menidurkan puisi, dan memensiunkan mimpi-mimpi akan mengobati rasa sakit itu. Mengobati penyakit itu. (Yahya Umar)

Willy Fahmy Agiska lahir di Ciamis, 28 Agustus 1992. Ia aktif menulis puisi. Ia memenangi buku terbaik Sayembara Buku Puisi Hari Puisi Indonesia 2019 dengan buku “Mencatat Demam” (2019).

Buku-buku puisinya yang telah terbit yakni “Mencatat Demam (Kentja Pres, 2018), dan “Unboxing”(Buruan & Co, 2023). Willy kini mengelola Toko Atelir, penerbit Velodrom, dan redaktur Buruan.co.

Data buku:

  • Judul : seperti orang mati yang hidup
  • Pengarang : Willy Fahmy Agiska
  • Penerbit : Velodrom

Penulis: Yahya Umar
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
“Tribute to Umbu”: Hikayat Puisi, Hikayat Umbu Landu Paranggi
Jagat Batin Bali dalam Sajak-sajak Umbu Landu Paranggi
Sudahi Bicara Mitos, Mulai Bicara Karya-karya Umbu Landu Paranggi | Dari Peluncuran dan Diskusi Buku Melodia

Tags: buku puisiresensi bukuSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025Willy Fahmy Agiska
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

STHALA UVJF 2025, Jazz, Layangan, dan Sungai yang Menyanyi

Next Post

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Yahya Umar

Yahya Umar

Penulis serabutan: wartawan, juga menulis cerpen, puisi dan novel. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Uang Bolong dan Kecongkakan Manusia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co