2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Komang Puja Savitri by Komang Puja Savitri
July 9, 2025
in Khas
Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Tukik Penyu Lekang di Oemah Penyu, Seririt, Buleleng | Foto: tatkala.co/Puja

DI sebuah bangunan sederhana berdinding bambu dengan atap seng, seorang nelayan berusia 57 tahun dengan cekatan memberikan pakan ikan kepada ratusan tukik. Kulitnya yang sawo matang sering terpapar matahari, tangan yang keriput, dan rambut yang memutih tak mengurangi kegesitannya.

Setiap pagi dan sore, I Gusti Bagus Cakra Wijaya sudah sibuk di Oemah Penyu, sebuah konservasi pelestarian penyu berbasis masyarakat di hamparan pasir Pantai Umeanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng, Bali. Rutinitas ini ia jalani selama tiga belas tahun mengabdi sebagai relawan di Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Umeanyar, di mana sepuluh tahun hingga sekarang mengemban sebagai ketua.

“Ini panggilan hati, bukan pekerjaan,” ujar Cakra, pria yang lebih akrab disapa dengan namanya itu.

Pengabdian Cakra dan rekan-rekannya di Pokmaswas Umeanyar adalah murni kerelawanan. Tak ada sepeser pun gaji yang mengalir dan jarang mendapat bantuan dari pemerintah, meskipun kegiatan mereka didukung penuh oleh berbagai instansi seperti PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan), BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam), Dinas Pariwisata Buleleng, hingga Pemerintah Desa Umeanyar.

I Gusti Bagus Cakra Wijaya, relawan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Umeanyar, sedang sibuk mengurus penyu dan tukik-tukik di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja

Seluruh biaya operasional untuk merawat tukik dan penyu, terutama untuk pakan dan kesehatan, ditopang oleh donasi dari para pengunjung domestik dan mancanegara. Bagi mereka, upah yang paling berharga adalah melihat tukik berenang bebas ke lautan dan antusiasme pengunjung yang peduli terhadap kelestarian penyu.

“Penyu itu memiliki insting yang luar biasa kuat. Semua jenis penyu yang kami lepas di Pantai Umeanyar ini, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, pasti akan kembali untuk bertelur di sini, di kampung halamannya,” jelas Cakra.

Keyakinan inilah yang menjadi bahan bakar semangatnya. Namun, di usianya yang tak lagi muda, sebuah kekhawatiran mulai menggelayut, soal regenerasi. “Sekarang mencari anak muda yang aktif di desa itu susah. Banyak yang sudah bekerja jauh dari desa, ada yang kuliah. Saya ingin sekali mencari bibit-bibit unggul anak muda yang serius untuk menjadi relawan penerus,” tuturnya.

I Gusti Bagus Cakra Wijaya, relawan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Umeanyar, sedang sibuk mengurus penyu dan tukik-tukik di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja

Dari Patroli Malam hingga Ruang Perawatan Intensif

Tugas Pokmaswas Umeanyar jauh melampaui kegiatan bersih-bersih pantai yang rutin mereka lakukan bersama masyarakat dan anak-anak sekolah. Misi utama mereka adalah mengawasi dan melindungi seluruh ekosistem pesisir.

“Tugas kita itu mengawasi terumbu karang supaya tidak ada yang mengambil. Tahun lalu pernah ada kejadian, ada yang mengambil karang di barat. Itu tugas kami sebagai Pokmaswas untuk menindak,” ungkapnya. Pengawasan mereka tak terbatas, menyisir sepanjang garis pantai untuk memastikan biota laut yang dilindungi undang-undang tetap aman.

Fokus utama mereka tentu saja adalah penyu. Proses penyelamatan dimulai dari patroli malam hari di sepanjang pantai.

“Kalau kita patroli malam, bisa ketemu langsung dengan induknya yang sedang bertelur. Jika patroli kepagian sekitar jam lima pagi, biasanya sudah ada jejaknya. Jejak siripnya itu,” cerita Cakra.

Dari jejak itulah mereka melacak lokasi sarang. Menggunakan tongkat kayu, mereka mencari titik lunak di pasir hingga kedalaman sekitar empat puluh senti meter. Setiap butir telur kemudian dipindahkan dengan sangat hati-hati ke Oemah Penyu.

Oemah Penyu, tempat konservasi pelestarian penyu berbasis masyarakat di hamparan pasir Pantai Umeanyar, Kecamatan Seririt, Buleleng | Foto: tatkala.co/Puja

“Telur tidak boleh dipindahkan lebih dari satu jam setelah diambil, karena jika terlalu lama di luar, telur akan dingin dan potensi menetasnya menurun drastis,” terangnya.

Di lokasi penangkaran, sarang buatan disiapkan semirip mungkin dengan kondisi alam liar, ditanam di dalam pasir, bukan inkubator. Setiap sarang diberi papan tanda yang berisi informasi penting: nomor sarang, tanggal pemindahan, dan lokasi asli penemuan telur.

Setelah 45 hingga 50 hari masa inkubasi, satu per satu tukik akan mulai menetas dan merangkak naik ke permukaan pasir. Tukik-tukik ini kemudian dipindahkan ke bak-bak perawatan. Di sinilah ruang perawatan intensif dimulai. Selama kurang lebih tiga bulan, mereka dirawat layaknya bayi.

“Air laut di bak harus diganti setiap hari karena kami tidak menggunakan pompa sirkulasi. Kalau tidak diganti, air akan cepat kotor dan bau karena sisa pakan,” kata Cakra. Makannya pun harus dijaga, sehari dua kali, pagi dan sore. Dengan beri ikan-ikan kecil seperti teri atau kembung yang dicincang halus.

Sarang buatan tempat penetasan telur-telur penyu di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja

Bahkan, ada dokter hewan yang ikut serta untuk memastikan kesehatan tukik. Penyakit umum seperti parasit menjadi tantangan, tapi kebersihan dan pengawasan rutin membuat tukik di sini relatif sehat.

Stres juga menjadi masalah serius bagi tukik. Jika stres, mereka akan kehilangan nafsu makan dan rentan mati. Namun, jika sudah terbiasa adaptasi, tukik akan langsung mangap begitu diberi makan. “Kayak bayi, kalau lapar, dia langsung buka mulut,” kata Cakra sambil tertawa.

Penyu, Dibayangi Ancaman

Di Oemah Penyu, dua jenis penyu dominan dirawat: Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). “Penyu Lekang ada di mana-mana. Tapi yang istimewa di sini, tahun ini dominan Penyu Sisik. Di pesisir Buleleng lain, baik di timur maupun barat, jarang sekali ditemukan Penyu Sisik yang mendarat,” tutur Cakra.

Sebelum Pokmaswas berdiri, perburuan telur dan bahkan induk penyu adalah pemandangan biasa. “Dulu terang-terangan dijual di pasar, ada lawar penyu, sate penyu. Bahkan induknya diambil untuk dimasak,” kenangnya getir. Kulit Penyu Sisik yang bermotif indah juga diburu untuk dijadikan aksesori seperti tusuk konde dan sisir.

Kini, ancaman terbesar datang dari bentuk yang berbeda. “Predator paling jahat saat ini manusia dengan sampahnya,” tegas Cakra. Sampah plastik yang mengapung di laut seringkali disangka makanan oleh penyu dan akhirnya dimakan. Belum lagi ancaman terjerat sampah plastik yang bisa berakibat fatal. Tumpukan sampah di pantai juga dapat menghalangi induk penyu untuk naik dan bertelur.

Pantai Umeanyar memiliki ekosistem pendukung yang lengkap yaitu lamun (jenis tumbuhan laut yang menjadi makanan utama penyu), dan lapisan pasir yang cocok untuk bertelur. Namun, keberadaan lamun ini sangat rentan terhadap sedimentasi akibat banjir dan pencemaran sampah.

Dua penyu remaja berusia 3 tahun di Oemah Penyu. Sebelah kanan Penyu Lekang sebelah kiri Penyu Sisik | Foto: tatkala.co/Puja

Cakra menjelaskan bahwa adanya bendungan Titab membuat banjir dan endapan lumpur dari gunung kini lebih jarang turun ke laut. Hal ini membawa dampak positif karena lamun bisa tumbuh lebih subur. “Kalau lamun hilang, penyu juga akan pergi,” katanya tegas.

Tantangan lain datang dari aktivitas nelayan. Terkadang, penyu tak sengaja terjerat jaring. “Tapi astungkara, sekarang nelayan di Buleleng sudah banyak yang mengerti. Jika ada yang kena jaring, mereka akan melepaskannya kembali. Kami terus melakukan sosialisasi,” katanya.

Harapan dari Pesisir Umeanyar

Hingga pertengahan tahun ini, sekitar 700 ekor tukik telah menetas di Oemah Penyu, dengan 300 di antaranya sudah dilepasliarkan bersama berbagai pihak, mulai dari siswa sekolah, aparat pemerintah, hingga tamu-tamu domestik hingga mancanegara.

Saat rilis, tukik-tukik mungil itu dibawa mendekati bibir pantai, hanya dua hingga tiga meter dari tepi pantai. Di situlah mereka dilepas, mengenal kembali rumah asalnya. “Biar tukik bisa beradaptasi dari proses saat tukik merangkak menuju laut hingga akhirnya tersapu ombak,” ujar Cakra pelan.

Tingkat keberhasilan penetasan di penangkaran ini sangat tinggi, mencapai 85-90 persen per sarang. Angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan jika telur-telur itu dibiarkan di alam liar, rentan terhadap predator seperti anjing dan biawak, serta risiko gagal menetas karena tertindih.

Tukik-tukik di Oemah Penyu | Foto: tatkala.co/Puja

Di bak biru yang besar, dua penyu remaja berusia tiga tahun sengaja dipelihara untuk edukasi. “Ini agar pengunjung tetap bisa melihat penyu, bahkan saat datang di luar musim bertelur induknya yang berlangsung dari Januari hingga Agustus,” jelas Cakra.

Oemah Penyu di pesisir Umeanyar, Cakra Wijaya dan para relawan lainnya tidak hanya merawat tukik. Mereka merawat harapan, memastikan bahwa suatu hari nanti, para penjelajah lautan itu akan menepati janjinya untuk kembali pulang—ke tempat di mana ia dirawat seperti anak sendiri.[T]

Penulis: Komang Puja Savitri
Editor: Jaswanto

Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

  • BACA JUGA:
Kami, 23 Penyu Itu, Menuju Laut dengan Aman, Tapi Laut Barangkali Tidak Aman…
Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih di Jembrana Kini Menjaga Penyu dengan “Adopt Nest Technology”
Mungkin Saja Penyu Akan Menyelamatkanmu — Cerita dari Pantai Samas
BUMDes Bondalem Kembangkan “Eco Dive”, Biar Turis Bisa Menonton Keindahan Biota Laut di Kedalaman
Tags: bulelengOemah PenyuPantai UmeanyarpenyuSeririttukik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Laki-Laki dan Air Mata

Next Post

Bungah dan Cekatan, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala, Kuta Selatan, Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Komang Puja Savitri

Komang Puja Savitri

Mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Bungah dan Cekatan, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala, Kuta Selatan, Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Bungah dan Cekatan, Sekaa Gong Wanita Karang Asti Komala, Kuta Selatan, Badung, di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co