14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laki-Laki dan Air Mata

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
July 9, 2025
in Esai
Laki-Laki dan Air Mata

Ilustrasi tatkala.co by Canva

LAKI-LAKI tidak bercerita, tapi tiba-tiba pergi mancing ke tengah samudera. Laki-laki tidak bercerita, tapi diam-diam mengendalikan badai, banjir, petir, tsunami… atau tanpa ada yang tahu ia sembunyi-sembunyi menyusun playlist lagu galau-supersad-mewek-termenye-menye lalu diputar di tengah malam sunyi sepi senyap.

Intinya, laki-laki tidak becerita. Harus ada peralihan agar membuat ia tidak bercerita. Ia adalah superhero, atau ahli mitigasi terhadap apa pun yang terjadi tanpa harus bercerita. Meski di balik pengalihan itu ada sakit atau derita yang sedang coba ia tahan. Karena sejak kecil laki-laki memang dilatih menyembunyikan perasaan, alih-alih mengungkapkannya. Laki-laki tidak diajari cara menangis. Yang diajarkan hanya cara menanggulangi sebab-sebabnya, meski itu hanya sebentuk solusi semu.

Di dunia yang membesarkan anak laki-laki dengan kata-kata seperti “jangan cengeng”, “laki-laki itu kuat”, dan “malu kalau nangis”, tidak heran jika banyak laki-laki tumbuh dengan tubuh lengkap tapi perasaan yang pincang. Sejak kecil, pelajaran pertama tentang menjadi laki-laki sering kali bukan soal integritas atau kebaikan hati, melainkan tentang menahan tangis di depan orang lain. Bahkan di depan diri sendiri. Air mata seolah diberi jenis kelamin, dan maskulinitas menjadi semacam kontrak sosial yang melarang kelembutan.

Laki-laki yang menangis dianggap kalah sebelum bertanding. Ia disebut gagal menjadi laki-laki, seakan-akan kejantanan hanya bisa diukur dari seberapa lama ia bisa menahan luka di dalam dadanya tanpa boleh bersedu apalagi teriak. Dalam keluarga, di sekolah, di ruang publik, ada sensor tak kasat mata yang membatasi laki-laki dari ekspresi emosi yang “basah di wajah”. Mereka boleh kasar, keras, marah, tapi tak boleh menangis. Karena air yang mengalir dari mata tak cocok dengan tekstur wajah laki-laki.

Meski kita tahu tangis adalah bagian alami dari manusia yang hidup, sama seperti tertawa atau lapar. Tapi dalam sistem yang dibangun oleh patriarki, laki-laki diberi satu jenis tugas emosional: tahan. Bukan atasi, bukan pahami, bukan sembuhkan. Hanya tahan. Sampai akhirnya tubuhnya meledak dalam bentuk yang lebih tragis, dan kadang tak bisa disusun kembali.

Menurut laporan WHO tahun 2019, dari lebih dari 700 ribu kasus kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia, hampir 70 persennya adalah laki-laki. Artinya, tiga dari empat manusia yang mengakhiri hidupnya adalah mereka yang secara sosial disebut “kuat”. Angka global menunjukkan tingkat bunuh diri pada laki-laki adalah 12,6 per 100.000, sementara pada perempuan hanya 5,4. Bahkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, perbandingannya bisa mencapai empat banding satu. Laki-laki lebih sering mati karena bunuh diri, meskipun perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri.

Angka ini tentu bukan sekadar statistik. Angka ini nyawa, tubuh-tubuh manusia yang sudah terlalu lama memikul beban menjadi “normal”, menjadi stabil, menjadi kepala rumah tangga yang tak boleh ragu, menjadi tulang punggung yang tak boleh patah, menjadi yang terdepan dalam keluarga. Mereka tidak terbiasa berkata “aku lelah”, karena tidak ada ruang untuk itu. Mereka tidak tahu harus ke mana saat perasaan menggerogoti dari dalam, karena meminta bantuan pun dianggap kelemahan.

Laki-laki belajar untuk menyembunyikan luka. Dan dalam banyak kasus, luka yang tak pernah diobati itu berubah menjadi kematian.

Di balik angka itu ada kisah-kisah yang tidak pernah ditulis sebagai curahan hati. Ada lelaki muda yang gagal di perkuliahan tapi tidak bisa bercerita karena takut disebut tidak tangguh. Ada ayah yang tak sanggup lagi membayar kebutuhan rumah, tapi tidak tahu kepada siapa harus minta tolong. Ada remaja yang dihantui ekspektasi sebagai calon pemimpin, calon suami, calon apa pun (selain dirinya sendiri). Mereka menanggung tekanan dengan diam, karena tidak punya bahasa untuk menceritakannya. Atau mungkin, mereka pernah mencoba bercerita, tapi disambut dengan kalimat, “Laki-laki kok gitu aja nyerah?”

Kematian laki-laki tidak selalu datang dari luar. Ia sering muncul dari dalam, dari kesunyian yang dipelihara terlalu lama, dari beban yang tidak bisa dibagi karena malu, dari konstruksi sosial yang menyuruh mereka jadi keras padahal dunia makin lunak. Tapi sulit untuk bicara tentang luka ketika sejak kecil sudah diminta belajar menyimpan rasa sakit. Sulit untuk menangis ketika tangis adalah aib. Sulit untuk minta tolong ketika minta tolong berarti mengakui kekalahan.

Konstruksi maskulinitas dalam sistem patriarkal tidak hanya merugikan perempuan, seperti yang sudah banyak dibahas dan disepakati. Tapi sistem ini juga menghancurkan laki-laki pelan-pelan. Ia memberi ilusi kekuasaan, tapi di dalamnya ada penjara emosi. Laki-laki diberi akses lebih luas untuk bicara, tapi tidak untuk merasa. Mereka diajarkan berpikir logis, tapi tak diajari mengerti perasaannya sendiri.

Dan ketika sistem ini menciptakan laki-laki yang kehilangan koneksi dengan batinnya sendiri, yang tidak tahu cara berkata “aku sedih”, “aku kesepian”, maka itu bukan maskulinitas yang sehat, itu semacam jebakan.

Jadi, lelaki tidak bercerita itu bukan prestasi, bukan pula tanda ketangguhan. Itu sering kali cuma bentuk lain dari ketakutan. Ya, takut dibilang lemah, takut tidak dianggap laki-laki sejati, takut kecewa sama dirinya sendiri. Padahal, andai dari kecil laki-laki diajari ngomong lebih leluasa tentang perasaannya sendiri, diajari bilang “aku sedih”, mungkin dadanya lebih terbuka karena berkurangnya luka. Mungkin, mereka tidak akan memilih diam sebagai satu-satunya cara bertahan hidup. [T]

Penulis: Kim Al Ghozali
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI

Budaya Kolektif dalam Duka
Ucapan Terima Kasih sebagai Cerminan Peradaban dan Kehalusan Budi 
Pasar Tradisional dengan Segala Kebaikannya
Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan
Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru
Tags: laki-lakirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyimak “Senglad” di Malam yang Terlewat — Catatan Lepas atas Undangan I Wayan Diana Putra

Next Post

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co