22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laki-Laki dan Air Mata

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
July 9, 2025
in Esai
Laki-Laki dan Air Mata

Ilustrasi tatkala.co by Canva

LAKI-LAKI tidak bercerita, tapi tiba-tiba pergi mancing ke tengah samudera. Laki-laki tidak bercerita, tapi diam-diam mengendalikan badai, banjir, petir, tsunami… atau tanpa ada yang tahu ia sembunyi-sembunyi menyusun playlist lagu galau-supersad-mewek-termenye-menye lalu diputar di tengah malam sunyi sepi senyap.

Intinya, laki-laki tidak becerita. Harus ada peralihan agar membuat ia tidak bercerita. Ia adalah superhero, atau ahli mitigasi terhadap apa pun yang terjadi tanpa harus bercerita. Meski di balik pengalihan itu ada sakit atau derita yang sedang coba ia tahan. Karena sejak kecil laki-laki memang dilatih menyembunyikan perasaan, alih-alih mengungkapkannya. Laki-laki tidak diajari cara menangis. Yang diajarkan hanya cara menanggulangi sebab-sebabnya, meski itu hanya sebentuk solusi semu.

Di dunia yang membesarkan anak laki-laki dengan kata-kata seperti “jangan cengeng”, “laki-laki itu kuat”, dan “malu kalau nangis”, tidak heran jika banyak laki-laki tumbuh dengan tubuh lengkap tapi perasaan yang pincang. Sejak kecil, pelajaran pertama tentang menjadi laki-laki sering kali bukan soal integritas atau kebaikan hati, melainkan tentang menahan tangis di depan orang lain. Bahkan di depan diri sendiri. Air mata seolah diberi jenis kelamin, dan maskulinitas menjadi semacam kontrak sosial yang melarang kelembutan.

Laki-laki yang menangis dianggap kalah sebelum bertanding. Ia disebut gagal menjadi laki-laki, seakan-akan kejantanan hanya bisa diukur dari seberapa lama ia bisa menahan luka di dalam dadanya tanpa boleh bersedu apalagi teriak. Dalam keluarga, di sekolah, di ruang publik, ada sensor tak kasat mata yang membatasi laki-laki dari ekspresi emosi yang “basah di wajah”. Mereka boleh kasar, keras, marah, tapi tak boleh menangis. Karena air yang mengalir dari mata tak cocok dengan tekstur wajah laki-laki.

Meski kita tahu tangis adalah bagian alami dari manusia yang hidup, sama seperti tertawa atau lapar. Tapi dalam sistem yang dibangun oleh patriarki, laki-laki diberi satu jenis tugas emosional: tahan. Bukan atasi, bukan pahami, bukan sembuhkan. Hanya tahan. Sampai akhirnya tubuhnya meledak dalam bentuk yang lebih tragis, dan kadang tak bisa disusun kembali.

Menurut laporan WHO tahun 2019, dari lebih dari 700 ribu kasus kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia, hampir 70 persennya adalah laki-laki. Artinya, tiga dari empat manusia yang mengakhiri hidupnya adalah mereka yang secara sosial disebut “kuat”. Angka global menunjukkan tingkat bunuh diri pada laki-laki adalah 12,6 per 100.000, sementara pada perempuan hanya 5,4. Bahkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, perbandingannya bisa mencapai empat banding satu. Laki-laki lebih sering mati karena bunuh diri, meskipun perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri.

Angka ini tentu bukan sekadar statistik. Angka ini nyawa, tubuh-tubuh manusia yang sudah terlalu lama memikul beban menjadi “normal”, menjadi stabil, menjadi kepala rumah tangga yang tak boleh ragu, menjadi tulang punggung yang tak boleh patah, menjadi yang terdepan dalam keluarga. Mereka tidak terbiasa berkata “aku lelah”, karena tidak ada ruang untuk itu. Mereka tidak tahu harus ke mana saat perasaan menggerogoti dari dalam, karena meminta bantuan pun dianggap kelemahan.

Laki-laki belajar untuk menyembunyikan luka. Dan dalam banyak kasus, luka yang tak pernah diobati itu berubah menjadi kematian.

Di balik angka itu ada kisah-kisah yang tidak pernah ditulis sebagai curahan hati. Ada lelaki muda yang gagal di perkuliahan tapi tidak bisa bercerita karena takut disebut tidak tangguh. Ada ayah yang tak sanggup lagi membayar kebutuhan rumah, tapi tidak tahu kepada siapa harus minta tolong. Ada remaja yang dihantui ekspektasi sebagai calon pemimpin, calon suami, calon apa pun (selain dirinya sendiri). Mereka menanggung tekanan dengan diam, karena tidak punya bahasa untuk menceritakannya. Atau mungkin, mereka pernah mencoba bercerita, tapi disambut dengan kalimat, “Laki-laki kok gitu aja nyerah?”

Kematian laki-laki tidak selalu datang dari luar. Ia sering muncul dari dalam, dari kesunyian yang dipelihara terlalu lama, dari beban yang tidak bisa dibagi karena malu, dari konstruksi sosial yang menyuruh mereka jadi keras padahal dunia makin lunak. Tapi sulit untuk bicara tentang luka ketika sejak kecil sudah diminta belajar menyimpan rasa sakit. Sulit untuk menangis ketika tangis adalah aib. Sulit untuk minta tolong ketika minta tolong berarti mengakui kekalahan.

Konstruksi maskulinitas dalam sistem patriarkal tidak hanya merugikan perempuan, seperti yang sudah banyak dibahas dan disepakati. Tapi sistem ini juga menghancurkan laki-laki pelan-pelan. Ia memberi ilusi kekuasaan, tapi di dalamnya ada penjara emosi. Laki-laki diberi akses lebih luas untuk bicara, tapi tidak untuk merasa. Mereka diajarkan berpikir logis, tapi tak diajari mengerti perasaannya sendiri.

Dan ketika sistem ini menciptakan laki-laki yang kehilangan koneksi dengan batinnya sendiri, yang tidak tahu cara berkata “aku sedih”, “aku kesepian”, maka itu bukan maskulinitas yang sehat, itu semacam jebakan.

Jadi, lelaki tidak bercerita itu bukan prestasi, bukan pula tanda ketangguhan. Itu sering kali cuma bentuk lain dari ketakutan. Ya, takut dibilang lemah, takut tidak dianggap laki-laki sejati, takut kecewa sama dirinya sendiri. Padahal, andai dari kecil laki-laki diajari ngomong lebih leluasa tentang perasaannya sendiri, diajari bilang “aku sedih”, mungkin dadanya lebih terbuka karena berkurangnya luka. Mungkin, mereka tidak akan memilih diam sebagai satu-satunya cara bertahan hidup. [T]

Penulis: Kim Al Ghozali
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI

Budaya Kolektif dalam Duka
Ucapan Terima Kasih sebagai Cerminan Peradaban dan Kehalusan Budi 
Pasar Tradisional dengan Segala Kebaikannya
Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan
Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru
Tags: laki-lakirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyimak “Senglad” di Malam yang Terlewat — Catatan Lepas atas Undangan I Wayan Diana Putra

Next Post

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co