2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Laki-Laki dan Air Mata

Kim Al Ghozali AM by Kim Al Ghozali AM
July 9, 2025
in Esai
Laki-Laki dan Air Mata

Ilustrasi tatkala.co by Canva

LAKI-LAKI tidak bercerita, tapi tiba-tiba pergi mancing ke tengah samudera. Laki-laki tidak bercerita, tapi diam-diam mengendalikan badai, banjir, petir, tsunami… atau tanpa ada yang tahu ia sembunyi-sembunyi menyusun playlist lagu galau-supersad-mewek-termenye-menye lalu diputar di tengah malam sunyi sepi senyap.

Intinya, laki-laki tidak becerita. Harus ada peralihan agar membuat ia tidak bercerita. Ia adalah superhero, atau ahli mitigasi terhadap apa pun yang terjadi tanpa harus bercerita. Meski di balik pengalihan itu ada sakit atau derita yang sedang coba ia tahan. Karena sejak kecil laki-laki memang dilatih menyembunyikan perasaan, alih-alih mengungkapkannya. Laki-laki tidak diajari cara menangis. Yang diajarkan hanya cara menanggulangi sebab-sebabnya, meski itu hanya sebentuk solusi semu.

Di dunia yang membesarkan anak laki-laki dengan kata-kata seperti “jangan cengeng”, “laki-laki itu kuat”, dan “malu kalau nangis”, tidak heran jika banyak laki-laki tumbuh dengan tubuh lengkap tapi perasaan yang pincang. Sejak kecil, pelajaran pertama tentang menjadi laki-laki sering kali bukan soal integritas atau kebaikan hati, melainkan tentang menahan tangis di depan orang lain. Bahkan di depan diri sendiri. Air mata seolah diberi jenis kelamin, dan maskulinitas menjadi semacam kontrak sosial yang melarang kelembutan.

Laki-laki yang menangis dianggap kalah sebelum bertanding. Ia disebut gagal menjadi laki-laki, seakan-akan kejantanan hanya bisa diukur dari seberapa lama ia bisa menahan luka di dalam dadanya tanpa boleh bersedu apalagi teriak. Dalam keluarga, di sekolah, di ruang publik, ada sensor tak kasat mata yang membatasi laki-laki dari ekspresi emosi yang “basah di wajah”. Mereka boleh kasar, keras, marah, tapi tak boleh menangis. Karena air yang mengalir dari mata tak cocok dengan tekstur wajah laki-laki.

Meski kita tahu tangis adalah bagian alami dari manusia yang hidup, sama seperti tertawa atau lapar. Tapi dalam sistem yang dibangun oleh patriarki, laki-laki diberi satu jenis tugas emosional: tahan. Bukan atasi, bukan pahami, bukan sembuhkan. Hanya tahan. Sampai akhirnya tubuhnya meledak dalam bentuk yang lebih tragis, dan kadang tak bisa disusun kembali.

Menurut laporan WHO tahun 2019, dari lebih dari 700 ribu kasus kematian akibat bunuh diri di seluruh dunia, hampir 70 persennya adalah laki-laki. Artinya, tiga dari empat manusia yang mengakhiri hidupnya adalah mereka yang secara sosial disebut “kuat”. Angka global menunjukkan tingkat bunuh diri pada laki-laki adalah 12,6 per 100.000, sementara pada perempuan hanya 5,4. Bahkan di beberapa negara seperti Amerika Serikat, perbandingannya bisa mencapai empat banding satu. Laki-laki lebih sering mati karena bunuh diri, meskipun perempuan lebih sering melakukan percobaan bunuh diri.

Angka ini tentu bukan sekadar statistik. Angka ini nyawa, tubuh-tubuh manusia yang sudah terlalu lama memikul beban menjadi “normal”, menjadi stabil, menjadi kepala rumah tangga yang tak boleh ragu, menjadi tulang punggung yang tak boleh patah, menjadi yang terdepan dalam keluarga. Mereka tidak terbiasa berkata “aku lelah”, karena tidak ada ruang untuk itu. Mereka tidak tahu harus ke mana saat perasaan menggerogoti dari dalam, karena meminta bantuan pun dianggap kelemahan.

Laki-laki belajar untuk menyembunyikan luka. Dan dalam banyak kasus, luka yang tak pernah diobati itu berubah menjadi kematian.

Di balik angka itu ada kisah-kisah yang tidak pernah ditulis sebagai curahan hati. Ada lelaki muda yang gagal di perkuliahan tapi tidak bisa bercerita karena takut disebut tidak tangguh. Ada ayah yang tak sanggup lagi membayar kebutuhan rumah, tapi tidak tahu kepada siapa harus minta tolong. Ada remaja yang dihantui ekspektasi sebagai calon pemimpin, calon suami, calon apa pun (selain dirinya sendiri). Mereka menanggung tekanan dengan diam, karena tidak punya bahasa untuk menceritakannya. Atau mungkin, mereka pernah mencoba bercerita, tapi disambut dengan kalimat, “Laki-laki kok gitu aja nyerah?”

Kematian laki-laki tidak selalu datang dari luar. Ia sering muncul dari dalam, dari kesunyian yang dipelihara terlalu lama, dari beban yang tidak bisa dibagi karena malu, dari konstruksi sosial yang menyuruh mereka jadi keras padahal dunia makin lunak. Tapi sulit untuk bicara tentang luka ketika sejak kecil sudah diminta belajar menyimpan rasa sakit. Sulit untuk menangis ketika tangis adalah aib. Sulit untuk minta tolong ketika minta tolong berarti mengakui kekalahan.

Konstruksi maskulinitas dalam sistem patriarkal tidak hanya merugikan perempuan, seperti yang sudah banyak dibahas dan disepakati. Tapi sistem ini juga menghancurkan laki-laki pelan-pelan. Ia memberi ilusi kekuasaan, tapi di dalamnya ada penjara emosi. Laki-laki diberi akses lebih luas untuk bicara, tapi tidak untuk merasa. Mereka diajarkan berpikir logis, tapi tak diajari mengerti perasaannya sendiri.

Dan ketika sistem ini menciptakan laki-laki yang kehilangan koneksi dengan batinnya sendiri, yang tidak tahu cara berkata “aku sedih”, “aku kesepian”, maka itu bukan maskulinitas yang sehat, itu semacam jebakan.

Jadi, lelaki tidak bercerita itu bukan prestasi, bukan pula tanda ketangguhan. Itu sering kali cuma bentuk lain dari ketakutan. Ya, takut dibilang lemah, takut tidak dianggap laki-laki sejati, takut kecewa sama dirinya sendiri. Padahal, andai dari kecil laki-laki diajari ngomong lebih leluasa tentang perasaannya sendiri, diajari bilang “aku sedih”, mungkin dadanya lebih terbuka karena berkurangnya luka. Mungkin, mereka tidak akan memilih diam sebagai satu-satunya cara bertahan hidup. [T]

Penulis: Kim Al Ghozali
Editor: Adnyana Ole

BACA ARTIKEL LAIN DARI KIM AL GHOZALI

Budaya Kolektif dalam Duka
Ucapan Terima Kasih sebagai Cerminan Peradaban dan Kehalusan Budi 
Pasar Tradisional dengan Segala Kebaikannya
Ilusi Waktu dan Realitas Kemiskinan
Guyon dan Relasi Kuasa dalam Pergaulan: Antara Keakraban dan Penghinaan
Bertemu Kawan Lama: Menemukan Orang Baru
Tags: laki-lakirefleksirenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menyimak “Senglad” di Malam yang Terlewat — Catatan Lepas atas Undangan I Wayan Diana Putra

Next Post

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Kim Al Ghozali AM

Kim Al Ghozali AM

Penulis puisi, prosa, dan esai. Ia memulai proses kreatifnya di Denpasar, dan kini mukim di Surabaya.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Tukik-Tukik yang Disayangi Lelaki Tua Cakra Wijaya di Pantai Umeanyar, Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co