25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
July 6, 2025
in Cerpen
Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co by Canva

SUDAH dua purnama Putu Ari membisu di hadapan tanah kawitannya. Ia melihat sawah-sawahnya mulai rata. Alat-alat berat berderet menunjukkan keangkuhannya. Sebentar lagi, tanah kawitannya akan berubah menjadi villa-villa yang menampilkan keindahan semu. Ia tak akan bisa lagi merasakan jernihnya air di jelinjing sawahnya.

Ia tak akan lagi bisa mendengar orang-orang berteriak menghalau burung sawah. Tak akan ada lagi upacara biakukung yang sering ia lakoni bersama ibu tercintanya. Ia usap-usap air matanya yang merembes perlahan. Ibu bumi yang menghidupinya selama ini tak lagi bersamanya. Sawah kawitannya tak lagi memberi keindahan di hatinya.

Hedonisme telah merambati kehidupan desanya. Uang membalikkan hati nurani manusia. Ia tak bisa bertahan menjaga tanah kawitannya. Orang-orang suruhan mendekatinya dengan beragam keinginannya. Hanya satu harapannya agar tanah kawitannya mau dilepaskan jika tidak akan tertutup akses jalan ke sawahnya.

Tanah di sebelahnya telah lebih dulu menjadi villa. Hanya tanahnya yang masih bertahan, tetapi itu dulu. Sekarang, tidak lagi. Ia tak memiliki kekuatan menjaga tanah kawitannya. Ia harus lapang melepasnya.

“Maafkan Putu, Ibu. Tiang tak bisa menjaga tanah kawitan ini. Tiang tahu uang hasil penjualan tanah ini akan habis. Tiang sadar tanah ini bukan hasil keringat anak Ibu. Tanggung jawab yang Ibu berikan pada tiang, tak bisa tiang jaga. Maafkan tiang, Ibu!” Putu Ari berbicara pada dirinya.

Keperihan hatinya tak bisa dihempaskannya. Ia seakan memendam bara marah pada keadaan.

“Kenapa tanah kawitan tak ada yang mau menjaganya?” Putu Ari bertanya-tanya.

Paman-paman terdekatnya sepertinya memberikan kesempatan agar tanah itu cepat laku. Entah apa sebabnya? Apa karena pembagian warisan untuknya sudah habis juga?

Putu Ari yakin tanahnya juga ditawarkan pada pengembang itu. Karena saat pengembang datang mendekatinya, tak ada sepatah kata pun yang membela dirinya. Atau jangan-jangan, ada permainan dengan pengembang.

 “Ah, dasar manusia tak pernah puas atas apa yang diterima dari Tuhan,” bisiknya dalam hati.

“Tu, tak ada seorang perempuan  berhak atas tanah kawitan. Hasil penjualan tanah itu mesti dibagi kepada pamanmu ini. Jika tidak, Putu juga tidak berhak tinggal lagi di rumah ini,” kata paman Putu Ari.

      “Maksud Bapa?”

      “Seorang perempuan tidak punya hak atas warisan.”

      Putu Ari nyengir. Ia menyadari bahwa semua yang dilakukan pamannya itu ternyata ada permainan dengan pengembang villa.

“Pantesan Bapa terus menyuruh Putu menjual tanah sawah ini. Sekarang, Putu sadar akan sikap Bapa. Ingin mengusir Putu dari tanah ini termasuk dari rumah yang Putu tempati sekarang ini. Baiklah Bapa. Ambil saja penjualannya. Dan, sekarang juga, Putu tak lagi tinggal di rumah warisan orang tua Putu. Ambil saja semuanya. Tapi ingat, segala upakara dan upacara di sanggah kawitan, Bapa yang bertanggung jawab. Termasuk nanti jika Putu mati, tak usah Bapa repot memikirkannya. Toh sudah ada krematorium biar diselesaikan di sana saja. Biar karma Putu saja yang mengantar ke alam keabadian,” kata Putu Ari kepada pamannya.

Putu Ari meninggalkan pamannya yang merasa memiliki hak atas warisannya. Ia tak lagi memikirkan tentang warisan. Ia menjauh dan terus menjauh. Ia tetapkan hidup di luar. Tak ada beban yang mengganggunya lagi.

“Maafkan Putu, Meme-Bapa. Putu tak bisa menjaga tanah sawah warisan Meme dan Bapa. Segalanya telah habis terjual. Penjualannya telah diambil saudara Bapa. Biarkan Putu menjalani hidup seperti ini. Menjauh dari beban itu, bukan berarti Putu lari dari tanggung jawab. Putu ingin tahu ke mana maunya saudara Bapa itu.”

Malam menghampiri hidupnya. Putu mencari rumah temannya. Ia sampaikan segala masalah yang dialaminya. Ia juga menyadari hidup menumpang di rumah orang juga kurang bagus. Ia katakan hanya sebentar saja. Ia tak mau mengganggu hubungan keluarga temannya dengan kehadirannya. Ia tatap langit-langit kamar tempat menginapnya. Bayang-bayang  orang tuanya terlintas di benaknya.

Ia ingat kata-kata paranormal dalam upacara memanggil roh ayahnya.

“Tak ada yang salah Putu lakukan. Saudara bapa memang tak akan pernah merasa puas. Bapa sendiri juga di-cetik oleh pamanmu. Kematian bapa ini harapannya sedari dulu. Bapa saja yang berani melawan saat tanah dibagi. Tapi, bapa kalah. Dengan berat hati, tanah kawitan itu dibagi-bagi dan sekarang tak lagi menjadi milik keluarga kita. Habis tak jelas jadinya!”  

“Di-cetik, Bapa? Tega sekali saudara Bapa itu.”

“Itulah manusia Tu. Segala cara bisa digunakan demi sebuah keinginan. Tapi, percayalah akan hukum karma. Tuhan tak pernah  tidur, Anakku. Tak usah timbul rasa dendam di hati Putu. Jalani saja hidupmu seperti sekarang ini. Bapa yakin Putu akan menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Dendam tak akan pernah menyelasaikan masalah. Jauhi saja bapamu itu. Biarkan ia menikmati nafsunya. Keinginan tak ada batasnya Tu. Tapi, belajarlah menata keinginan itu. Carilah kehidupan yang memberi kedamaian di hatimu.”

Malam itu, Putu menumpahkan isi hatinya pada ruang batinnya. Matanya tak sempat dipejamkannya hingga dini hari kantuk tak menghampirinya. Ia tata lagi suasana hatinya agar tak terlihat oleh temannya. Ia ucapkan terima kasih pada temannya karena telah menerimanya. Ia lanjutkan langkahnya menuju dunia baru. Ia pergi ke pulau seberang memulai penghidupan barunya. Nasib baik selalu menghampirinya.

Semakin hari kehidupannya semakin bersinar. Usaha dagangnya perlahan-lahan mendapatkan pembeli yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Setiap senja memanggil semesta, ia haturkan canang sari di pemujaannya. Hatinya tertuju di sanggah kawitannya. Ia memohon walau dari jauh.

“Maafkan hambamu ini Hyang Widhi. Dari tempat ini hamba memujamu. Dengan canang sari ini, hamba memohon kabulkanlah permohoan hamba agar leluhur hamba selalu diberikan kedamaian di alam-Mu.”

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya yang menyatakan bahwa pamannya sedang sakit keras. Tukang tenung mengatakan bahwa pamannya kena pastu dari kawitannya. Hanya Putu Ari saja yang bisa melepaskan kutukan itu. Jika tidak, pamannya tak akan bisa sembuh kembali. Tangan Putu Ari terasa kaku saat mau membalasnya. Ia berulang-ulang membaca pesan di ponselnya.

Catatan:

  • Biakukung: upacara padi menjelang bunting
  • Bapa: Ayah, paman
  • Cetik: racun
  • Jelinjing: saluran air di sawah
  • Meme: ibu
  • Kawitan: leluhur
  • Sanggah: tempat pemujaan di keluarga
  • Tiang: saya
  • Tukang tenung: paranormal

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Next Post

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah "Bersama Seni di Sukawati"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co