2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
July 6, 2025
in Cerpen
Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co by Canva

SUDAH dua purnama Putu Ari membisu di hadapan tanah kawitannya. Ia melihat sawah-sawahnya mulai rata. Alat-alat berat berderet menunjukkan keangkuhannya. Sebentar lagi, tanah kawitannya akan berubah menjadi villa-villa yang menampilkan keindahan semu. Ia tak akan bisa lagi merasakan jernihnya air di jelinjing sawahnya.

Ia tak akan lagi bisa mendengar orang-orang berteriak menghalau burung sawah. Tak akan ada lagi upacara biakukung yang sering ia lakoni bersama ibu tercintanya. Ia usap-usap air matanya yang merembes perlahan. Ibu bumi yang menghidupinya selama ini tak lagi bersamanya. Sawah kawitannya tak lagi memberi keindahan di hatinya.

Hedonisme telah merambati kehidupan desanya. Uang membalikkan hati nurani manusia. Ia tak bisa bertahan menjaga tanah kawitannya. Orang-orang suruhan mendekatinya dengan beragam keinginannya. Hanya satu harapannya agar tanah kawitannya mau dilepaskan jika tidak akan tertutup akses jalan ke sawahnya.

Tanah di sebelahnya telah lebih dulu menjadi villa. Hanya tanahnya yang masih bertahan, tetapi itu dulu. Sekarang, tidak lagi. Ia tak memiliki kekuatan menjaga tanah kawitannya. Ia harus lapang melepasnya.

“Maafkan Putu, Ibu. Tiang tak bisa menjaga tanah kawitan ini. Tiang tahu uang hasil penjualan tanah ini akan habis. Tiang sadar tanah ini bukan hasil keringat anak Ibu. Tanggung jawab yang Ibu berikan pada tiang, tak bisa tiang jaga. Maafkan tiang, Ibu!” Putu Ari berbicara pada dirinya.

Keperihan hatinya tak bisa dihempaskannya. Ia seakan memendam bara marah pada keadaan.

“Kenapa tanah kawitan tak ada yang mau menjaganya?” Putu Ari bertanya-tanya.

Paman-paman terdekatnya sepertinya memberikan kesempatan agar tanah itu cepat laku. Entah apa sebabnya? Apa karena pembagian warisan untuknya sudah habis juga?

Putu Ari yakin tanahnya juga ditawarkan pada pengembang itu. Karena saat pengembang datang mendekatinya, tak ada sepatah kata pun yang membela dirinya. Atau jangan-jangan, ada permainan dengan pengembang.

 “Ah, dasar manusia tak pernah puas atas apa yang diterima dari Tuhan,” bisiknya dalam hati.

“Tu, tak ada seorang perempuan  berhak atas tanah kawitan. Hasil penjualan tanah itu mesti dibagi kepada pamanmu ini. Jika tidak, Putu juga tidak berhak tinggal lagi di rumah ini,” kata paman Putu Ari.

      “Maksud Bapa?”

      “Seorang perempuan tidak punya hak atas warisan.”

      Putu Ari nyengir. Ia menyadari bahwa semua yang dilakukan pamannya itu ternyata ada permainan dengan pengembang villa.

“Pantesan Bapa terus menyuruh Putu menjual tanah sawah ini. Sekarang, Putu sadar akan sikap Bapa. Ingin mengusir Putu dari tanah ini termasuk dari rumah yang Putu tempati sekarang ini. Baiklah Bapa. Ambil saja penjualannya. Dan, sekarang juga, Putu tak lagi tinggal di rumah warisan orang tua Putu. Ambil saja semuanya. Tapi ingat, segala upakara dan upacara di sanggah kawitan, Bapa yang bertanggung jawab. Termasuk nanti jika Putu mati, tak usah Bapa repot memikirkannya. Toh sudah ada krematorium biar diselesaikan di sana saja. Biar karma Putu saja yang mengantar ke alam keabadian,” kata Putu Ari kepada pamannya.

Putu Ari meninggalkan pamannya yang merasa memiliki hak atas warisannya. Ia tak lagi memikirkan tentang warisan. Ia menjauh dan terus menjauh. Ia tetapkan hidup di luar. Tak ada beban yang mengganggunya lagi.

“Maafkan Putu, Meme-Bapa. Putu tak bisa menjaga tanah sawah warisan Meme dan Bapa. Segalanya telah habis terjual. Penjualannya telah diambil saudara Bapa. Biarkan Putu menjalani hidup seperti ini. Menjauh dari beban itu, bukan berarti Putu lari dari tanggung jawab. Putu ingin tahu ke mana maunya saudara Bapa itu.”

Malam menghampiri hidupnya. Putu mencari rumah temannya. Ia sampaikan segala masalah yang dialaminya. Ia juga menyadari hidup menumpang di rumah orang juga kurang bagus. Ia katakan hanya sebentar saja. Ia tak mau mengganggu hubungan keluarga temannya dengan kehadirannya. Ia tatap langit-langit kamar tempat menginapnya. Bayang-bayang  orang tuanya terlintas di benaknya.

Ia ingat kata-kata paranormal dalam upacara memanggil roh ayahnya.

“Tak ada yang salah Putu lakukan. Saudara bapa memang tak akan pernah merasa puas. Bapa sendiri juga di-cetik oleh pamanmu. Kematian bapa ini harapannya sedari dulu. Bapa saja yang berani melawan saat tanah dibagi. Tapi, bapa kalah. Dengan berat hati, tanah kawitan itu dibagi-bagi dan sekarang tak lagi menjadi milik keluarga kita. Habis tak jelas jadinya!”  

“Di-cetik, Bapa? Tega sekali saudara Bapa itu.”

“Itulah manusia Tu. Segala cara bisa digunakan demi sebuah keinginan. Tapi, percayalah akan hukum karma. Tuhan tak pernah  tidur, Anakku. Tak usah timbul rasa dendam di hati Putu. Jalani saja hidupmu seperti sekarang ini. Bapa yakin Putu akan menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Dendam tak akan pernah menyelasaikan masalah. Jauhi saja bapamu itu. Biarkan ia menikmati nafsunya. Keinginan tak ada batasnya Tu. Tapi, belajarlah menata keinginan itu. Carilah kehidupan yang memberi kedamaian di hatimu.”

Malam itu, Putu menumpahkan isi hatinya pada ruang batinnya. Matanya tak sempat dipejamkannya hingga dini hari kantuk tak menghampirinya. Ia tata lagi suasana hatinya agar tak terlihat oleh temannya. Ia ucapkan terima kasih pada temannya karena telah menerimanya. Ia lanjutkan langkahnya menuju dunia baru. Ia pergi ke pulau seberang memulai penghidupan barunya. Nasib baik selalu menghampirinya.

Semakin hari kehidupannya semakin bersinar. Usaha dagangnya perlahan-lahan mendapatkan pembeli yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Setiap senja memanggil semesta, ia haturkan canang sari di pemujaannya. Hatinya tertuju di sanggah kawitannya. Ia memohon walau dari jauh.

“Maafkan hambamu ini Hyang Widhi. Dari tempat ini hamba memujamu. Dengan canang sari ini, hamba memohon kabulkanlah permohoan hamba agar leluhur hamba selalu diberikan kedamaian di alam-Mu.”

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya yang menyatakan bahwa pamannya sedang sakit keras. Tukang tenung mengatakan bahwa pamannya kena pastu dari kawitannya. Hanya Putu Ari saja yang bisa melepaskan kutukan itu. Jika tidak, pamannya tak akan bisa sembuh kembali. Tangan Putu Ari terasa kaku saat mau membalasnya. Ia berulang-ulang membaca pesan di ponselnya.

Catatan:

  • Biakukung: upacara padi menjelang bunting
  • Bapa: Ayah, paman
  • Cetik: racun
  • Jelinjing: saluran air di sawah
  • Meme: ibu
  • Kawitan: leluhur
  • Sanggah: tempat pemujaan di keluarga
  • Tiang: saya
  • Tukang tenung: paranormal

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Next Post

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah "Bersama Seni di Sukawati"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co