14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
July 6, 2025
in Cerpen
Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co by Canva

SUDAH dua purnama Putu Ari membisu di hadapan tanah kawitannya. Ia melihat sawah-sawahnya mulai rata. Alat-alat berat berderet menunjukkan keangkuhannya. Sebentar lagi, tanah kawitannya akan berubah menjadi villa-villa yang menampilkan keindahan semu. Ia tak akan bisa lagi merasakan jernihnya air di jelinjing sawahnya.

Ia tak akan lagi bisa mendengar orang-orang berteriak menghalau burung sawah. Tak akan ada lagi upacara biakukung yang sering ia lakoni bersama ibu tercintanya. Ia usap-usap air matanya yang merembes perlahan. Ibu bumi yang menghidupinya selama ini tak lagi bersamanya. Sawah kawitannya tak lagi memberi keindahan di hatinya.

Hedonisme telah merambati kehidupan desanya. Uang membalikkan hati nurani manusia. Ia tak bisa bertahan menjaga tanah kawitannya. Orang-orang suruhan mendekatinya dengan beragam keinginannya. Hanya satu harapannya agar tanah kawitannya mau dilepaskan jika tidak akan tertutup akses jalan ke sawahnya.

Tanah di sebelahnya telah lebih dulu menjadi villa. Hanya tanahnya yang masih bertahan, tetapi itu dulu. Sekarang, tidak lagi. Ia tak memiliki kekuatan menjaga tanah kawitannya. Ia harus lapang melepasnya.

“Maafkan Putu, Ibu. Tiang tak bisa menjaga tanah kawitan ini. Tiang tahu uang hasil penjualan tanah ini akan habis. Tiang sadar tanah ini bukan hasil keringat anak Ibu. Tanggung jawab yang Ibu berikan pada tiang, tak bisa tiang jaga. Maafkan tiang, Ibu!” Putu Ari berbicara pada dirinya.

Keperihan hatinya tak bisa dihempaskannya. Ia seakan memendam bara marah pada keadaan.

“Kenapa tanah kawitan tak ada yang mau menjaganya?” Putu Ari bertanya-tanya.

Paman-paman terdekatnya sepertinya memberikan kesempatan agar tanah itu cepat laku. Entah apa sebabnya? Apa karena pembagian warisan untuknya sudah habis juga?

Putu Ari yakin tanahnya juga ditawarkan pada pengembang itu. Karena saat pengembang datang mendekatinya, tak ada sepatah kata pun yang membela dirinya. Atau jangan-jangan, ada permainan dengan pengembang.

 “Ah, dasar manusia tak pernah puas atas apa yang diterima dari Tuhan,” bisiknya dalam hati.

“Tu, tak ada seorang perempuan  berhak atas tanah kawitan. Hasil penjualan tanah itu mesti dibagi kepada pamanmu ini. Jika tidak, Putu juga tidak berhak tinggal lagi di rumah ini,” kata paman Putu Ari.

      “Maksud Bapa?”

      “Seorang perempuan tidak punya hak atas warisan.”

      Putu Ari nyengir. Ia menyadari bahwa semua yang dilakukan pamannya itu ternyata ada permainan dengan pengembang villa.

“Pantesan Bapa terus menyuruh Putu menjual tanah sawah ini. Sekarang, Putu sadar akan sikap Bapa. Ingin mengusir Putu dari tanah ini termasuk dari rumah yang Putu tempati sekarang ini. Baiklah Bapa. Ambil saja penjualannya. Dan, sekarang juga, Putu tak lagi tinggal di rumah warisan orang tua Putu. Ambil saja semuanya. Tapi ingat, segala upakara dan upacara di sanggah kawitan, Bapa yang bertanggung jawab. Termasuk nanti jika Putu mati, tak usah Bapa repot memikirkannya. Toh sudah ada krematorium biar diselesaikan di sana saja. Biar karma Putu saja yang mengantar ke alam keabadian,” kata Putu Ari kepada pamannya.

Putu Ari meninggalkan pamannya yang merasa memiliki hak atas warisannya. Ia tak lagi memikirkan tentang warisan. Ia menjauh dan terus menjauh. Ia tetapkan hidup di luar. Tak ada beban yang mengganggunya lagi.

“Maafkan Putu, Meme-Bapa. Putu tak bisa menjaga tanah sawah warisan Meme dan Bapa. Segalanya telah habis terjual. Penjualannya telah diambil saudara Bapa. Biarkan Putu menjalani hidup seperti ini. Menjauh dari beban itu, bukan berarti Putu lari dari tanggung jawab. Putu ingin tahu ke mana maunya saudara Bapa itu.”

Malam menghampiri hidupnya. Putu mencari rumah temannya. Ia sampaikan segala masalah yang dialaminya. Ia juga menyadari hidup menumpang di rumah orang juga kurang bagus. Ia katakan hanya sebentar saja. Ia tak mau mengganggu hubungan keluarga temannya dengan kehadirannya. Ia tatap langit-langit kamar tempat menginapnya. Bayang-bayang  orang tuanya terlintas di benaknya.

Ia ingat kata-kata paranormal dalam upacara memanggil roh ayahnya.

“Tak ada yang salah Putu lakukan. Saudara bapa memang tak akan pernah merasa puas. Bapa sendiri juga di-cetik oleh pamanmu. Kematian bapa ini harapannya sedari dulu. Bapa saja yang berani melawan saat tanah dibagi. Tapi, bapa kalah. Dengan berat hati, tanah kawitan itu dibagi-bagi dan sekarang tak lagi menjadi milik keluarga kita. Habis tak jelas jadinya!”  

“Di-cetik, Bapa? Tega sekali saudara Bapa itu.”

“Itulah manusia Tu. Segala cara bisa digunakan demi sebuah keinginan. Tapi, percayalah akan hukum karma. Tuhan tak pernah  tidur, Anakku. Tak usah timbul rasa dendam di hati Putu. Jalani saja hidupmu seperti sekarang ini. Bapa yakin Putu akan menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Dendam tak akan pernah menyelasaikan masalah. Jauhi saja bapamu itu. Biarkan ia menikmati nafsunya. Keinginan tak ada batasnya Tu. Tapi, belajarlah menata keinginan itu. Carilah kehidupan yang memberi kedamaian di hatimu.”

Malam itu, Putu menumpahkan isi hatinya pada ruang batinnya. Matanya tak sempat dipejamkannya hingga dini hari kantuk tak menghampirinya. Ia tata lagi suasana hatinya agar tak terlihat oleh temannya. Ia ucapkan terima kasih pada temannya karena telah menerimanya. Ia lanjutkan langkahnya menuju dunia baru. Ia pergi ke pulau seberang memulai penghidupan barunya. Nasib baik selalu menghampirinya.

Semakin hari kehidupannya semakin bersinar. Usaha dagangnya perlahan-lahan mendapatkan pembeli yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Setiap senja memanggil semesta, ia haturkan canang sari di pemujaannya. Hatinya tertuju di sanggah kawitannya. Ia memohon walau dari jauh.

“Maafkan hambamu ini Hyang Widhi. Dari tempat ini hamba memujamu. Dengan canang sari ini, hamba memohon kabulkanlah permohoan hamba agar leluhur hamba selalu diberikan kedamaian di alam-Mu.”

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya yang menyatakan bahwa pamannya sedang sakit keras. Tukang tenung mengatakan bahwa pamannya kena pastu dari kawitannya. Hanya Putu Ari saja yang bisa melepaskan kutukan itu. Jika tidak, pamannya tak akan bisa sembuh kembali. Tangan Putu Ari terasa kaku saat mau membalasnya. Ia berulang-ulang membaca pesan di ponselnya.

Catatan:

  • Biakukung: upacara padi menjelang bunting
  • Bapa: Ayah, paman
  • Cetik: racun
  • Jelinjing: saluran air di sawah
  • Meme: ibu
  • Kawitan: leluhur
  • Sanggah: tempat pemujaan di keluarga
  • Tiang: saya
  • Tukang tenung: paranormal

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Next Post

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah "Bersama Seni di Sukawati"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co