24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
July 6, 2025
in Cerpen
Putu Ari Nama Perempuan Itu | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co by Canva

SUDAH dua purnama Putu Ari membisu di hadapan tanah kawitannya. Ia melihat sawah-sawahnya mulai rata. Alat-alat berat berderet menunjukkan keangkuhannya. Sebentar lagi, tanah kawitannya akan berubah menjadi villa-villa yang menampilkan keindahan semu. Ia tak akan bisa lagi merasakan jernihnya air di jelinjing sawahnya.

Ia tak akan lagi bisa mendengar orang-orang berteriak menghalau burung sawah. Tak akan ada lagi upacara biakukung yang sering ia lakoni bersama ibu tercintanya. Ia usap-usap air matanya yang merembes perlahan. Ibu bumi yang menghidupinya selama ini tak lagi bersamanya. Sawah kawitannya tak lagi memberi keindahan di hatinya.

Hedonisme telah merambati kehidupan desanya. Uang membalikkan hati nurani manusia. Ia tak bisa bertahan menjaga tanah kawitannya. Orang-orang suruhan mendekatinya dengan beragam keinginannya. Hanya satu harapannya agar tanah kawitannya mau dilepaskan jika tidak akan tertutup akses jalan ke sawahnya.

Tanah di sebelahnya telah lebih dulu menjadi villa. Hanya tanahnya yang masih bertahan, tetapi itu dulu. Sekarang, tidak lagi. Ia tak memiliki kekuatan menjaga tanah kawitannya. Ia harus lapang melepasnya.

“Maafkan Putu, Ibu. Tiang tak bisa menjaga tanah kawitan ini. Tiang tahu uang hasil penjualan tanah ini akan habis. Tiang sadar tanah ini bukan hasil keringat anak Ibu. Tanggung jawab yang Ibu berikan pada tiang, tak bisa tiang jaga. Maafkan tiang, Ibu!” Putu Ari berbicara pada dirinya.

Keperihan hatinya tak bisa dihempaskannya. Ia seakan memendam bara marah pada keadaan.

“Kenapa tanah kawitan tak ada yang mau menjaganya?” Putu Ari bertanya-tanya.

Paman-paman terdekatnya sepertinya memberikan kesempatan agar tanah itu cepat laku. Entah apa sebabnya? Apa karena pembagian warisan untuknya sudah habis juga?

Putu Ari yakin tanahnya juga ditawarkan pada pengembang itu. Karena saat pengembang datang mendekatinya, tak ada sepatah kata pun yang membela dirinya. Atau jangan-jangan, ada permainan dengan pengembang.

 “Ah, dasar manusia tak pernah puas atas apa yang diterima dari Tuhan,” bisiknya dalam hati.

“Tu, tak ada seorang perempuan  berhak atas tanah kawitan. Hasil penjualan tanah itu mesti dibagi kepada pamanmu ini. Jika tidak, Putu juga tidak berhak tinggal lagi di rumah ini,” kata paman Putu Ari.

      “Maksud Bapa?”

      “Seorang perempuan tidak punya hak atas warisan.”

      Putu Ari nyengir. Ia menyadari bahwa semua yang dilakukan pamannya itu ternyata ada permainan dengan pengembang villa.

“Pantesan Bapa terus menyuruh Putu menjual tanah sawah ini. Sekarang, Putu sadar akan sikap Bapa. Ingin mengusir Putu dari tanah ini termasuk dari rumah yang Putu tempati sekarang ini. Baiklah Bapa. Ambil saja penjualannya. Dan, sekarang juga, Putu tak lagi tinggal di rumah warisan orang tua Putu. Ambil saja semuanya. Tapi ingat, segala upakara dan upacara di sanggah kawitan, Bapa yang bertanggung jawab. Termasuk nanti jika Putu mati, tak usah Bapa repot memikirkannya. Toh sudah ada krematorium biar diselesaikan di sana saja. Biar karma Putu saja yang mengantar ke alam keabadian,” kata Putu Ari kepada pamannya.

Putu Ari meninggalkan pamannya yang merasa memiliki hak atas warisannya. Ia tak lagi memikirkan tentang warisan. Ia menjauh dan terus menjauh. Ia tetapkan hidup di luar. Tak ada beban yang mengganggunya lagi.

“Maafkan Putu, Meme-Bapa. Putu tak bisa menjaga tanah sawah warisan Meme dan Bapa. Segalanya telah habis terjual. Penjualannya telah diambil saudara Bapa. Biarkan Putu menjalani hidup seperti ini. Menjauh dari beban itu, bukan berarti Putu lari dari tanggung jawab. Putu ingin tahu ke mana maunya saudara Bapa itu.”

Malam menghampiri hidupnya. Putu mencari rumah temannya. Ia sampaikan segala masalah yang dialaminya. Ia juga menyadari hidup menumpang di rumah orang juga kurang bagus. Ia katakan hanya sebentar saja. Ia tak mau mengganggu hubungan keluarga temannya dengan kehadirannya. Ia tatap langit-langit kamar tempat menginapnya. Bayang-bayang  orang tuanya terlintas di benaknya.

Ia ingat kata-kata paranormal dalam upacara memanggil roh ayahnya.

“Tak ada yang salah Putu lakukan. Saudara bapa memang tak akan pernah merasa puas. Bapa sendiri juga di-cetik oleh pamanmu. Kematian bapa ini harapannya sedari dulu. Bapa saja yang berani melawan saat tanah dibagi. Tapi, bapa kalah. Dengan berat hati, tanah kawitan itu dibagi-bagi dan sekarang tak lagi menjadi milik keluarga kita. Habis tak jelas jadinya!”  

“Di-cetik, Bapa? Tega sekali saudara Bapa itu.”

“Itulah manusia Tu. Segala cara bisa digunakan demi sebuah keinginan. Tapi, percayalah akan hukum karma. Tuhan tak pernah  tidur, Anakku. Tak usah timbul rasa dendam di hati Putu. Jalani saja hidupmu seperti sekarang ini. Bapa yakin Putu akan menjadi yang terbaik dalam hidupmu. Dendam tak akan pernah menyelasaikan masalah. Jauhi saja bapamu itu. Biarkan ia menikmati nafsunya. Keinginan tak ada batasnya Tu. Tapi, belajarlah menata keinginan itu. Carilah kehidupan yang memberi kedamaian di hatimu.”

Malam itu, Putu menumpahkan isi hatinya pada ruang batinnya. Matanya tak sempat dipejamkannya hingga dini hari kantuk tak menghampirinya. Ia tata lagi suasana hatinya agar tak terlihat oleh temannya. Ia ucapkan terima kasih pada temannya karena telah menerimanya. Ia lanjutkan langkahnya menuju dunia baru. Ia pergi ke pulau seberang memulai penghidupan barunya. Nasib baik selalu menghampirinya.

Semakin hari kehidupannya semakin bersinar. Usaha dagangnya perlahan-lahan mendapatkan pembeli yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Setiap senja memanggil semesta, ia haturkan canang sari di pemujaannya. Hatinya tertuju di sanggah kawitannya. Ia memohon walau dari jauh.

“Maafkan hambamu ini Hyang Widhi. Dari tempat ini hamba memujamu. Dengan canang sari ini, hamba memohon kabulkanlah permohoan hamba agar leluhur hamba selalu diberikan kedamaian di alam-Mu.”

Tiba-tiba sebuah pesan masuk di ponselnya yang menyatakan bahwa pamannya sedang sakit keras. Tukang tenung mengatakan bahwa pamannya kena pastu dari kawitannya. Hanya Putu Ari saja yang bisa melepaskan kutukan itu. Jika tidak, pamannya tak akan bisa sembuh kembali. Tangan Putu Ari terasa kaku saat mau membalasnya. Ia berulang-ulang membaca pesan di ponselnya.

Catatan:

  • Biakukung: upacara padi menjelang bunting
  • Bapa: Ayah, paman
  • Cetik: racun
  • Jelinjing: saluran air di sawah
  • Meme: ibu
  • Kawitan: leluhur
  • Sanggah: tempat pemujaan di keluarga
  • Tiang: saya
  • Tukang tenung: paranormal

Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Made Adnyana Ole

  • KLIK untuk BACA cerpen lain
Perempuan Bercahaya Rembulan | Cerpen IBW Widiasa Keniten
Lebih Gelap dari Palung Mariana | Cerpen Anggit Rizkianto
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Lelaki yang Menghilang di Tengah Laut | Cerpen Pry S.
Perbincangan Rindu | Cerpen Lanang Taji
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Yuditeha | Lelaki di Gunung Batur

Next Post

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah “Bersama Seni di Sukawati”

Dede Putra Wiguna Raih Gelar Sarjana dengan Buku Berita Kisah "Bersama Seni di Sukawati"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co