6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Royyan Julian by Royyan Julian
July 1, 2025
in Ulas Buku
Menguntit Tuan Agerbeek ke Hindia Belanda

Buku "Mencari Sita di Hindia Belanda" karya Angelina Enny

AKU mesti menyampaikan terima kasih kepada Nona Angelina Enny yang telah mengundangku bergabung dalam eskpedisi Mencari Sita di Hindia Belanda meski hanya bisa menguntit pelayaran pertama Tuan Ernest Agerbeek setelah Kapal S.S. Utramarijn berhasil menerabas angin sakal di Tanjung Harapan. Sejak awal pertemuan, pria Indo itu sudah bilang padaku bahwa ia sengaja bertahan lebih lama di geladak untuk menikmati matahari setinggi tiang yang membakar kulitnya dan udara sejuk yang membelai wajahnya. Kubayangkan, perjalanan kami di atas samudra akan secerah langit Titanic saat megatrasportasi rakitan Harland & Wolff itu bertolak dari Bandar Southampton.

Tapi, kisah Tuan Agerbeek selanjutnya malah menggulung biru langit, lalu menyaputnya dengan warna kelabu. Sebab, ia tak bisa menahan diri untuk berkisah tentang kutukan Flying Dutchman yang konon hendak mencelakai kapal sahabatnya di perairan selatan Jawa dalam pelayaran pulang ke negeri Belanda. Entah bermaksud menakut-nakutiku atau sekadar meluapkan gundah gulana, bayangan galiung dalam kemudi Kapten Van der Deckenn yang melayang-layang di atas lautan dengan layar koyak-moyak itu berhasil menegakkan bulu romaku.

Kendatipun warna biru cerah mendominasi elemen-elemen penting—langit, laut, Kapal Utramarijn—perjalanan ini, mau tak mau, suasana cerita yang dibangun Tuan Agerbeek mendesakku turut merasakan misi kelam Kapten Ahab di Moby-Dick atau pengalaman mencekam Ephraim Winslow di The Lighthouse. Apalagi kala itu Tuan Agerbeek mendaku bahwa ia menangkap bisik sayup ombak yang pecah menghantam pagar buritan. Sss-aaa-muuu-drrraaa. Begitulah desis insani sang laut, tak terkesan seindah permai nyanyian raja kelana di “Rayuan Pulau Kelapa”. Bagiku, suara itu lebih seperti bujukan Flying Dutchman agar para pendengarnya terperosok ke pusaran gelap. Atau senandung siren yang menjebak para pelaut terlena. 

Langit biru-tapi-kelabu itu bertambah kelabu saat aku menyaksikan Tuan Agerbeek tiba-tiba berbincang dengan La Amin yang tak bisa kulihat. Pria tak kasat—setidaknya menurut mataku—bernetra ultrabiru itu mengaku bahwa ia putra seorang pelaut yang kawin dengan siren. Bagiku, La Amin cuma mendistorsi cerita dengan menjahit sejumlah hikayat yang pernah didengarnya: tokoh legenda Nawangwulan yang dikaburkan dengan karakter gaib Babad Tanah Jawi, Ratu Rara Kidul. Juga dengan putri duyung dalam jagat mitologis Yunani.

Kuyakin, bualan La Amin yang dituturkan Tuan Agerbeek kepadaku—menjelang sampai di Pelabuhan Batavia—terdengar seperti karangan Tuan Agerbeek sendiri. Kurasa, La Amin alter ego Tuan Agerbeek belaka. Sebab, dunia keduanya memiliki kemiripan. Mereka sama-sama blasteran, sama-sama sedang mencari ibunya yang sama-sama bersuara merdu (ibu Tuan Agerbeek adalah biduanita gambang yang pandai bernyanyi sebagaimana siren). Bahkan, Flaying Dutchman yang dikutuk gentayangan di lautan—seperti terkutuknya La Amin nan terlunta-lunta di atas kapal untuk mencari ibunya—kurasa hanya ekspresi rasa takut Tuan Agerbeek yang cemas bila misinya mencari ibu di Hindia Belanda gagal. Maka, Flying Dutchman dan riwayat hidup La Amin menjadi artikulasi mitis dari ketaksadaran Tuan Agerbeek saat menjalani ekspedisi pencarian sang ibu.

Tuan Agerbeek tampak nanar setelah awak restoran kapal menegur ulang perkara makan siang yang akan segera dibereskan. Pasalnya, Tuan Agerbeek mencari-cari La Amin yang katanya mendadak lenyap. Seperti ditelan samudra atau kedalaman matanya sendiri. Si awak kapal, pada akhirnya, bilang bahwa hantu pria Buton memang kerap singgah dari kapal ke kapal, menyuguhkan kisah pelipur lara bagi orang-orang di lautan.

Aku jadi tahu bahwa dulu, ketika hayat masih dikandung badan, pria itu adalah juru kisah yang tengah mencari ibunya, lalu menerjunkan diri ke laut. “Orang-orang percaya dia sudah bertemu dengan ibunya … samudra,” pungkas awak kapal. “Samudra adalah ibu,” guman Tuan Agerbeek kepadaku, seakan-akan aku tak sanggup menyimpulkan seluruh apa yang terjadi di kapal tersebut sehingga kalimat truisme semacam itu perlu ia utarakan.

 Aku paham, Tuan, aku paham. Ibu adalah laut dan laut adalah ibu. Sebab, Thales pernah berspekulasi bahwa air adalah asal mula dunia. “Mulanya, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air,” catat kitab suci Anda. Ibu adalah air, adalah sumber penciptaan, adalah asal-usul segenap kehidupan.

Tapi, Tuan Agerbeek juga perlu waspada karena dari kisah La Amin, kita juga tahu, ibu hadir untuk mendentangkan lonceng kematian. Ibu adalah dualisme hidup dan maut. Eros dan Thanatos. Liang rahim dan liang lahat. Dari ibu kembali ke ibu. La Amin yang lahir dari samudra pada akhirnya kembali ke samudra. Samudra, dalam takdir La Amin, adalah sangkan paraning dumadi. Kupikir, Tuan Agerbeek perlu membaca Serat Dewa Ruci. Di sana Tuan akan menemukan watak ganda samudra. Samudra memendam Tirta Perwita sekaligus memelihara monster Sambarnyawa yang hendak membinasakan Bratasena.

Maka, sebagaimana legenda Flying Dutchman, aku curiga Tuan Agerbeek sebenarnya sudah pernah mendengar rumor arwah pria Buton. Dorongan bawah sadar telah menggerakkannya untuk memadukan gosip tentang La Amin dengan pengalaman hidupnya yang kebetulan identik. Seandainya turut serta dalam ekspedisi ini, aku yakin, banyak yang akan dikatakan Carl Gustav Jung. Kubayangkan, murid durhaka Sigmund Freud tersebut bakal bilang, “Tuan Agerbeek, Anda sedang mengalami arketipe ibu.”

Aku berhenti mengutit Tuan Agerbeek setelah Ultramarijn melempar sauh di Bandar Batavia. Tugasku dari Nona Angelina Enny memang sampai di situ. Untuk memastikan putra Dokter Agerbeek itu selamat sampai tujuan. Selebihnya, aku perlu segera menulis surat kepada Nona Enny bahwa tanggung jawabku telah tunai.

Untungnya, aku tak gegabah beranjak dari sana. Senyampang belum punya rencana apa pun ke depannya. Kuharap, kelak aku berjumpa kembali dengan Tuan Agerbeek untuk mendengarkan cerita keberhasilannya bertemu sang ibu. Dan itulah yang terjadi. Kami bertemu lagi di titik di mana kami berpisah.

Ia berkisah. Dari geladak kapal, Tuan Agerbeek tak menyiapkan peta. Ia cuma dituntun senandung “Nina Bobo” yang merambat lamat dari kejauhan. Lullaby yang dianggit seorang ibu keluarga Indo Hindia tersebut datang dari masa lalu nan samar. Agaknya, dalam misi menuju ibu, Tuan Agerbeek memang dituntun daya feminin. “Nina Bobo” itu, misalnya, menjadi suara pertama di negeri asing untuk menggiringnya merangkak ke “buaian” sang ibu.

Tapi, tak hanya itu, energi feminin itu menampakkan diri kepada Tuan Agerbeek dalam rupa gadis Cina yang ditemuinya di kota pelabuhan. Perempuan tak dikenal yang memanfaatnya untuk mencuri bubuk opium tersebut justru menjadi jarum kompas yang mengarahkannya pada titik akhir pencarian. Aku tahu, strata sosial di Hindia menempatkan kaum Indo di atas golongan Timur Asing seperti orang-orang Cina. Tapi, di hadapan si gadis Cina, aku melihat Tuan Agerbeek “tidak berdaya”. Peran gadis Cina tersebut terdengar amat dominan dalam menentukan nasib Tuan Agerbeek. Tapi, kenapa harus gadis Cina?

Selama mendengarkan cerita Tuan Agerbeek, aku merasa pria Indo itu kerap memberi tekanan kepada orang-orang terpinggirkan: kaumnya sendiri, peranakan Cina, termasuk perempuan. Entah disengaja atau tidak. Mungkin ia pernah mendengar dari ayahnya bahwa di Hindia, kaum Indo tak memiliki derajat setara dengan orang Belanda. Dan itulah yang menjadi musabab mengapa Dokter Agerbeek memboyongnya ke negeri Belanda—selain karena ingin membawa buah cintanya dengan sang kekasih. Meski tidak dialami Tuan Agerbeek secara langsung, paling tidak pembedaan perlakuan itulah yang menjadi biang keladi perpisahannya dengan ibu. Maka, pengalaman pahit itu mengendap dalam sanubarinya sehingga masuk akal bila tutur ceritanya agak tendensius dengan maksud mengonfrontasi akar kegetiran tersebut: diskriminasi.

Katakanlah saat si Kantjil bilang kepadanya dengan mengangakat jempol, “Bini Bos begini. Sayangnya dia tidak bisa bernyanyi.” Kalimat yang terdengar merendahkan itu ditangkis pria Cina bernama Asiang sambil terus mengisap candu, “Perempuan bukan burung. Tidak apa dia tidak bisa bicara. Tidak apa dia tidak bisa bernyanyi. Dia punya dirinya sendri. Bukan ikuti maunya kamu.” Di sini aku melihat solidaritas antarkelas marginal: Cina dan perempuan.

Perempuan yang disebut “Bini Bos” itu, yang bernama Asti itu, ternyata adalah Sita, ibu Tuan Agerbeek yang telah menjadi istri mafia Tjui Ming Se. Cerita Tuan Agerbeek berhenti sampai di situ. Ia enggan menuturkan kelanjutan kisahnya karena mungkin perkara demikian terlalu privat untuk disampaikan kepada orang lain, apalagi kepadaku yang baru dikenalnya. Atau terlalu perih. Sebenarnya aku penasaran, tapi harus memahami perasaannya.

Aku jadi ingat kuliah cendekia Prancis bernama Jacques Lacan. Konon, manusia berhasrat menggapai keutuhan yang telah hilang begitu yang ia terpisah dengan sang ibu. Ibu, dalam hal ini, menjadi personifikasi dari keutuhan itu sendiri. Bagi Lacan, terpisah dari ibu merupakan sebuah keniscayaan ketika “diri” jatuh menjadi “subjek”. Keterceraian dengan ibu terjadi lantaran si anak menginternalisasi Hukum Ayah: budaya, bahasa, norma, dan tatanan maskulin lainnya. Intervensi Hukum Ayah atau tata simbolik berlangsung dalam sebuah fase—di sini Lacan memperbarui istilah Freud—“kompleks oedipus”. Pulang kepada keutuhan asali, ke rahim ibu, menurut Lacan, adalah ihwal yang mustahil.

Sejatinya, apa yang telah Tuan Agerbeek lalui adalah hasrat tak sadar kita semua. Misi Tuan Agerbeek mencari ibunya semacam ibrah bahwa kembali ke keutuhan takkan pernah bisa dicapai. Anak manusia telah hengkang dari Eden karena tergoda oleh buah pengetahuan Ular itu. Ia takkan bisa kembali ke pelukan sang Taman. Begitupun aku dan sang ibu, sang keutuhan, telah diceraikan oleh Dokter Agerbeek, oleh Tjui Ming Se, oleh hukum kolonial di Hindia, oleh perkawinan resmi ayah di Belanda. Kedigdayaan Sang Nasib memang sukar dihindari sebagaimana kata-kata Asti dalam surat untuk Tuan Agerbeek: Takdir berkata lain. Tentu saja orang-orang suruhan ayahmu dengan mudah menyaingi langkahku. Kau direnggut dariku, seperti dewi yang diculik raksasa dalam kisah Ramayana.

Kurasa, seluruh paparan Tuan Agerbeek tak perlu kusampaikan kepada Nona Angelina Enny. Aku yakin, sebagai sahabat karib, Tuan Agerbeek sendirilah yang kelak akan mengutarakan semua itu kepadanya. Bahkan, dalam versi lebih lengkap dan tanpa tedeng aling-aling. [T]

  • Artikel akan disampaikan dalam program bedah buku Angelina Enny dalam acara Singaraja Literary Festival (SLF), 25-27 Juli 2025 di Singaraja, Bali

Penulis: Royyan Julian
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Membaca Sastra Sebagai Bentuk Pembongkaran Makna — Ulas Novel Telembuk Karya Kedung Darma Romansha
Memungut yang Hilang, Terbenam dalam Ingatan Ikan-ikan Karya sasti gotama
Han Kang dan Kolase Enigmatik Novel Vegetarian
Membaca “Zaman Peralihan”, Melihat Indonesia Hari Ini
Jawa Tempo Doeloe: Wajah Jawa di Mata Orientalis Berkulit Pucat
Tags: Angelina EnnyBukunovelresensi bukuRoyyan JulianSastra IndonesiaSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2025
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anugerah Jurnalisme Warga 2025:  Ketika Anak Muda Bali Bersuara tentang Masalah Sosial dan Ruang Publik

Next Post

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy — [Bagian 2]

Royyan Julian

Royyan Julian

Menulis prosa dan puisi.

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

Polemik Pendidikan Formal di Suku Baduy -- [Bagian 2]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co