2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
June 28, 2025
in Cerpen
Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu membawa garpu plastik. Satu di tas kerja, satu di tas kecil warna hitam yang biasa kupakai belanja, dan beberapa lagi tersimpan rapi di laci dapur, masing-masing dibungkus plastik bening seperti hadiah kecil yang tak pernah diminta. Semuanya hanya kupakai sekali. Lalu kubuang. Entah kenapa. Mungkin karena aku merasa tak layak mencuci sesuatu yang bisa langsung dilupakan. Aku hidup dengan cara itu. Rapi. Terkontrol. Bahkan dengan orang-orang.

Suatu sore, sepulang kerja, aku memutuskan berhenti di kedai tua pinggir kota. Letaknya di bawah pohon asam besar yang tampaknya sudah ada sejak zaman Belanda belum tahu malu. Kedai itu sepi, hanya ada dua meja, kursi kayu yang sudah miring, dan aroma yang mengingatkanku pada dapur rumah ibu, dapur yang dulu ingin kutinggalkan.

Aku memesan semangkuk mi dan secangkir kopi. Ketika diantar, aku mematung. Di samping mangkuk, ada sebatang garpu. Berat. Kusam. Terbuat dari kuningan. Tak ada sumpit. Aku membuka tas, merogoh kantong kecil di dalamnya, tempat garpu plastik biasanya tersimpan. Nihil. Aku lupa membawanya. Sial.

Aku menatap garpu kuningan itu seakan ia benda asing dari planet lain. Mungkin karena ia pernah disentuh banyak orang. Mungkin karena ia tak bisa dibuang setelah kupakai. Mungkin karena, entahlah. Aku hanya mengaduk-aduk mi yang perlahan mendingin, berharap tiba-tiba seseorang datang dan menggantinya dengan mi kemasan yang tinggal seduh.

Saat itulah anak kecil datang. Usianya sekitar tiga tahun. Ia berlari sambil menggenggam pasir, tertawa lepas seperti tidak pernah tahu apa itu rasa malu atau takut gagal, sampai ia terpeleset dan menabrak meja tempatku duduk. Sebagian pasir itu terbang, menukik, dan jatuh tepat ke dalam mangkuk mi-ku yang belum tersentuh.

Anak itu menangis. Pemilik kedai terburu-buru menghampiri. Meminta maaf berulang kali. Sementara aku hanya mematung, merasa bersalah padahal tak tahu salahnya di mana. Aku melirik mangkuk. Pasir menempel di antara helai mi. Lapar dan muak bersamaan.

Pemilik kedai datang membawa mangkuk baru. Kali ini lengkap dengan sepasang sumpit kayu. Sekali pakai. “Maaf, cuma punya ini. Garpu satunya belum dicuci,” katanya pelan. Aku mengangguk. Mengucap terima kasih. Tapi lagi-lagi, aku hanya memegang sumpit itu tanpa niat benar-benar memakainya. Tangan kananku memainkannya seperti pensil. Mangkuk mi itu kembali dingin, seperti sebelumnya.

Aku tidak selalu begini. Dulu aku suka makan langsung dari piring besar, rebutan dengan saudara-saudara. Makan pakai tangan, bahkan berebutan gorengan terakhir yang tinggal setengah. Lalu suatu masa datang. Waktu di mana ayah pulang membawa luka. Ibu sibuk menangis diam-diam. Dan kami dipaksa tumbuh cepat tanpa diberi kesempatan bertanya kenapa nasi tiba-tiba harus dibagi lebih tipis dari biasanya.

Sejak itu aku belajar, jangan berharap banyak. Jangan terlalu dekat. Jangan pakai garpu yang harus dicuci. Semuanya sebaiknya sekali pakai saja. Ringan. Praktis. Tanpa beban kenangan. Termasuk hubungan.

Aku pernah pacaran. Satu kali. Lima tahun lalu. Lelaki itu suka masak, suka menyendok kuah langsung dari panci, suka menyuapiku meski kutolak. Ia bilang, “Makan itu soal rasa, bukan protokol.” .Tapi aku selalu cuci tangan terlalu lama, selalu pilih sendok yang baru dibuka dari bungkusnya. Lalu suatu malam, ia bertanya, “Kamu takut aku atau takut dekat?” Dan aku tidak menjawab. Karena aku tak tahu.

Sumpit itu masih di tanganku. Kedai mulai sepi. Anak kecil yang tadi jatuh kini duduk di kursi kecil sambil menggambar di tanah. Goresan jari-jarinya seperti puisi yang tak selesai. Aku merasa ingin mendekat. Ingin menanyakan namanya. Tapi aku tetap duduk, bermain sumpit seolah sedang memainkan waktu yang tak ingin bergerak.

Pemilik kedai menyapaku, kali ini dengan senyum. “Tak suka mi-nya, ya?”

Aku gelagapan. “Suka. Cuma, saya belum terlalu lapar.”

Ia mengangguk. Mungkin ia tahu aku berbohong. Tapi ia tidak menekan. Hanya duduk di bangku samping, mengambil benang dan jarum dari bawah meja, mulai menjahit sobekan kecil di celemeknya.

Aku menunduk, memandangi mangkuk mi yang makin menggumpal. Di luar, anak kecil tadi tertidur di pangkuan seseorang, mungkin ibunya. Jalanan di pinggir hutan mulai diselimuti kabut. Kedai ini seperti tersangkut di antara waktu yang menolak bergerak dan dunia yang enggan menunggu.

Lalu seseorang masuk. Aku tak langsung menoleh. Tapi langkahnya terdengar aneh. Ringan tapi mantap. Ada suara logam beradu. Mungkin kunci, atau gesper, atau semacamnya. Pemilik kedai langsung berdiri. Tak berkata apa-apa, hanya mematung. Begitu juga aku. Sumpit masih di tangan. Mangkuk di depan.

Lelaki itu menarik kursi. Duduk di seberangku. Rambutnya lebat. Matanya cekung. Tapi senyumnya seperti seseorang yang tahu terlalu banyak. Ia tak memesan apa pun. Hanya mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya: sepasang sumpit kuningan.

“Aku pinjam punyamu,” katanya, menunjuk sumpit kayu di tanganku. “Sekali pakai, kan?”

Aku mengangguk. Lidahku kelu. Ada sesuatu dalam caranya bicara, seperti deja vu yang kelewat halus. Ia menyendok mi dari mangkukku. Pelan. Rapi. Seperti tahu rasanya dingin dan tak ingin membuatnya tambah sedih.

“Lima tahun lalu kamu pergi tanpa pamit,” katanya sambil mengunyah. “Tapi aku tetap simpan ini. Yang dari rumah. Yang biasa kita rebutkan.”

Aku nyaris menjawab. Tapi suara di kepalaku lebih keras. Aku tak ingat siapa dia. Aku sungguh tak ingat. Pemilik kedai masih berdiri. Tapi ia tetap tak berkata apa-apa. Hanya menatap sumpit kuningan itu seakan melihat sesuatu yang dulu pernah hilang.

“Aku kembalikan setelah selesai,” katanya, lalu bangkit. Keluar begitu saja. Tanpa menoleh. Sumpit kuningan itu dibawa pergi. Mangkukku tinggal separuh isi. Dan aku masih di sana, memegang sumpit kayu sekali pakai, tak yakin siapa sebenarnya yang baru saja duduk di hadapanku.

Pemilik kedai akhirnya duduk dan menjahit lagi. Aku berdiri. Meninggalkan mangkuk yang setengah isi dan sumpit kayu yang entah kenapa tadi terasa ringan sekali, seperti tidak pernah benar-benar kupegang. Aku berdiri, ingin cuci tangan. Penjual langsung menunjuk sebuah tempat. Tapi sebelum sampai di tempatnya, aku berbalik, seperti orang linglung.

Aku kembali duduk. Di kursi tempat lelaki tadi duduk. Lalu menemukan sesuatu di ujung baki: sebuah tisu yang dilipat rapi. Di salah satu sisinya, ada gambar kura-kura bertopi. Dan di bawahnya, tertulis dengan pulpen: Kupikir, tak cukup sekali. Ayo, besok lusa kita coba naik kereta yang sama. Duduk di gerbong dua, bangku dekat jendela.

Darahku berhenti sebentar. Tanganku ingat gerakan melipat itu. Cara ia selalu menggambar sesuatu di kertas yang akan dibuang. Kadang boneka, kadang peta kecil, kadang angka tanpa urutan. Tapi kura-kura, sesuatu yang pernah kupinta sekali digambarkan. Untuk alasan yang dulu kupikir sepele. Aku tak tahu sejak kapan tisu itu ada di situ. Tapi rasanya seperti ia baru saja meletakkannya. Aku merobek bungkus sumpit kayu yang tersisa. Perlahan. Seperti membuka amplop dari masa lalu. Dan kali ini, sumpitnya langsung kumasukkan ke saku. Dan aku masih betah duduk di kursinya. Aku tak ingin buru-buru melupakan, bahkan ingin mengingat-ingat sesuatu. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Cindy Neo | Bleki, Sang Penjaga Alam

Next Post

Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co