23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha

Yuditeha by Yuditeha
June 28, 2025
in Cerpen
Sekali Pakai | Cerpen Yuditeha

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

AKU selalu membawa garpu plastik. Satu di tas kerja, satu di tas kecil warna hitam yang biasa kupakai belanja, dan beberapa lagi tersimpan rapi di laci dapur, masing-masing dibungkus plastik bening seperti hadiah kecil yang tak pernah diminta. Semuanya hanya kupakai sekali. Lalu kubuang. Entah kenapa. Mungkin karena aku merasa tak layak mencuci sesuatu yang bisa langsung dilupakan. Aku hidup dengan cara itu. Rapi. Terkontrol. Bahkan dengan orang-orang.

Suatu sore, sepulang kerja, aku memutuskan berhenti di kedai tua pinggir kota. Letaknya di bawah pohon asam besar yang tampaknya sudah ada sejak zaman Belanda belum tahu malu. Kedai itu sepi, hanya ada dua meja, kursi kayu yang sudah miring, dan aroma yang mengingatkanku pada dapur rumah ibu, dapur yang dulu ingin kutinggalkan.

Aku memesan semangkuk mi dan secangkir kopi. Ketika diantar, aku mematung. Di samping mangkuk, ada sebatang garpu. Berat. Kusam. Terbuat dari kuningan. Tak ada sumpit. Aku membuka tas, merogoh kantong kecil di dalamnya, tempat garpu plastik biasanya tersimpan. Nihil. Aku lupa membawanya. Sial.

Aku menatap garpu kuningan itu seakan ia benda asing dari planet lain. Mungkin karena ia pernah disentuh banyak orang. Mungkin karena ia tak bisa dibuang setelah kupakai. Mungkin karena, entahlah. Aku hanya mengaduk-aduk mi yang perlahan mendingin, berharap tiba-tiba seseorang datang dan menggantinya dengan mi kemasan yang tinggal seduh.

Saat itulah anak kecil datang. Usianya sekitar tiga tahun. Ia berlari sambil menggenggam pasir, tertawa lepas seperti tidak pernah tahu apa itu rasa malu atau takut gagal, sampai ia terpeleset dan menabrak meja tempatku duduk. Sebagian pasir itu terbang, menukik, dan jatuh tepat ke dalam mangkuk mi-ku yang belum tersentuh.

Anak itu menangis. Pemilik kedai terburu-buru menghampiri. Meminta maaf berulang kali. Sementara aku hanya mematung, merasa bersalah padahal tak tahu salahnya di mana. Aku melirik mangkuk. Pasir menempel di antara helai mi. Lapar dan muak bersamaan.

Pemilik kedai datang membawa mangkuk baru. Kali ini lengkap dengan sepasang sumpit kayu. Sekali pakai. “Maaf, cuma punya ini. Garpu satunya belum dicuci,” katanya pelan. Aku mengangguk. Mengucap terima kasih. Tapi lagi-lagi, aku hanya memegang sumpit itu tanpa niat benar-benar memakainya. Tangan kananku memainkannya seperti pensil. Mangkuk mi itu kembali dingin, seperti sebelumnya.

Aku tidak selalu begini. Dulu aku suka makan langsung dari piring besar, rebutan dengan saudara-saudara. Makan pakai tangan, bahkan berebutan gorengan terakhir yang tinggal setengah. Lalu suatu masa datang. Waktu di mana ayah pulang membawa luka. Ibu sibuk menangis diam-diam. Dan kami dipaksa tumbuh cepat tanpa diberi kesempatan bertanya kenapa nasi tiba-tiba harus dibagi lebih tipis dari biasanya.

Sejak itu aku belajar, jangan berharap banyak. Jangan terlalu dekat. Jangan pakai garpu yang harus dicuci. Semuanya sebaiknya sekali pakai saja. Ringan. Praktis. Tanpa beban kenangan. Termasuk hubungan.

Aku pernah pacaran. Satu kali. Lima tahun lalu. Lelaki itu suka masak, suka menyendok kuah langsung dari panci, suka menyuapiku meski kutolak. Ia bilang, “Makan itu soal rasa, bukan protokol.” .Tapi aku selalu cuci tangan terlalu lama, selalu pilih sendok yang baru dibuka dari bungkusnya. Lalu suatu malam, ia bertanya, “Kamu takut aku atau takut dekat?” Dan aku tidak menjawab. Karena aku tak tahu.

Sumpit itu masih di tanganku. Kedai mulai sepi. Anak kecil yang tadi jatuh kini duduk di kursi kecil sambil menggambar di tanah. Goresan jari-jarinya seperti puisi yang tak selesai. Aku merasa ingin mendekat. Ingin menanyakan namanya. Tapi aku tetap duduk, bermain sumpit seolah sedang memainkan waktu yang tak ingin bergerak.

Pemilik kedai menyapaku, kali ini dengan senyum. “Tak suka mi-nya, ya?”

Aku gelagapan. “Suka. Cuma, saya belum terlalu lapar.”

Ia mengangguk. Mungkin ia tahu aku berbohong. Tapi ia tidak menekan. Hanya duduk di bangku samping, mengambil benang dan jarum dari bawah meja, mulai menjahit sobekan kecil di celemeknya.

Aku menunduk, memandangi mangkuk mi yang makin menggumpal. Di luar, anak kecil tadi tertidur di pangkuan seseorang, mungkin ibunya. Jalanan di pinggir hutan mulai diselimuti kabut. Kedai ini seperti tersangkut di antara waktu yang menolak bergerak dan dunia yang enggan menunggu.

Lalu seseorang masuk. Aku tak langsung menoleh. Tapi langkahnya terdengar aneh. Ringan tapi mantap. Ada suara logam beradu. Mungkin kunci, atau gesper, atau semacamnya. Pemilik kedai langsung berdiri. Tak berkata apa-apa, hanya mematung. Begitu juga aku. Sumpit masih di tangan. Mangkuk di depan.

Lelaki itu menarik kursi. Duduk di seberangku. Rambutnya lebat. Matanya cekung. Tapi senyumnya seperti seseorang yang tahu terlalu banyak. Ia tak memesan apa pun. Hanya mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya: sepasang sumpit kuningan.

“Aku pinjam punyamu,” katanya, menunjuk sumpit kayu di tanganku. “Sekali pakai, kan?”

Aku mengangguk. Lidahku kelu. Ada sesuatu dalam caranya bicara, seperti deja vu yang kelewat halus. Ia menyendok mi dari mangkukku. Pelan. Rapi. Seperti tahu rasanya dingin dan tak ingin membuatnya tambah sedih.

“Lima tahun lalu kamu pergi tanpa pamit,” katanya sambil mengunyah. “Tapi aku tetap simpan ini. Yang dari rumah. Yang biasa kita rebutkan.”

Aku nyaris menjawab. Tapi suara di kepalaku lebih keras. Aku tak ingat siapa dia. Aku sungguh tak ingat. Pemilik kedai masih berdiri. Tapi ia tetap tak berkata apa-apa. Hanya menatap sumpit kuningan itu seakan melihat sesuatu yang dulu pernah hilang.

“Aku kembalikan setelah selesai,” katanya, lalu bangkit. Keluar begitu saja. Tanpa menoleh. Sumpit kuningan itu dibawa pergi. Mangkukku tinggal separuh isi. Dan aku masih di sana, memegang sumpit kayu sekali pakai, tak yakin siapa sebenarnya yang baru saja duduk di hadapanku.

Pemilik kedai akhirnya duduk dan menjahit lagi. Aku berdiri. Meninggalkan mangkuk yang setengah isi dan sumpit kayu yang entah kenapa tadi terasa ringan sekali, seperti tidak pernah benar-benar kupegang. Aku berdiri, ingin cuci tangan. Penjual langsung menunjuk sebuah tempat. Tapi sebelum sampai di tempatnya, aku berbalik, seperti orang linglung.

Aku kembali duduk. Di kursi tempat lelaki tadi duduk. Lalu menemukan sesuatu di ujung baki: sebuah tisu yang dilipat rapi. Di salah satu sisinya, ada gambar kura-kura bertopi. Dan di bawahnya, tertulis dengan pulpen: Kupikir, tak cukup sekali. Ayo, besok lusa kita coba naik kereta yang sama. Duduk di gerbong dua, bangku dekat jendela.

Darahku berhenti sebentar. Tanganku ingat gerakan melipat itu. Cara ia selalu menggambar sesuatu di kertas yang akan dibuang. Kadang boneka, kadang peta kecil, kadang angka tanpa urutan. Tapi kura-kura, sesuatu yang pernah kupinta sekali digambarkan. Untuk alasan yang dulu kupikir sepele. Aku tak tahu sejak kapan tisu itu ada di situ. Tapi rasanya seperti ia baru saja meletakkannya. Aku merobek bungkus sumpit kayu yang tersisa. Perlahan. Seperti membuka amplop dari masa lalu. Dan kali ini, sumpitnya langsung kumasukkan ke saku. Dan aku masih betah duduk di kursinya. Aku tak ingin buru-buru melupakan, bahkan ingin mengingat-ingat sesuatu. [T]

Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Buket Mawar Merah |  Cerpen Yuditeha
Ketut Asti | Cerpen Yuditeha
Teman Sepanjang Perjalanan | Cerpen Putu Gede Pradipta
Lengkingan Gagak Hitam | Cerpen Mas Ruscitadewi
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi
Rudra Tiga | Cerpen Mas Ruscitadewi
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Cindy Neo | Bleki, Sang Penjaga Alam

Next Post

Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Yuditeha

Yuditeha

Penulis tinggal di Karanganyar. IG: @yuditeha2

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Riuh Baleganjur Mempertemukan Koster dan Gen Z di Pesta Kesenian Bali 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co