3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dwarsa Sentosa Berbagi Cerita di Kedai Umah Pradja, Singaraja : Ini Itu Tentang Musik dan Rekamannya

Son Lomri by Son Lomri
May 5, 2025
in Panggung
Dwarsa Sentosa Berbagi Cerita di Kedai Umah Pradja, Singaraja : Ini Itu Tentang Musik dan Rekamannya

Dwarsa Sentosa sedang mempresentasikan bagaimana proses kreatif membuat musik atau lagu | Foto: tatkala.co/Rusdy

DALAM membuat musik atau lagu, teknologi yang sekarang terus berkembang seharusnya membuat semua orang tambah kreatif. Tinggal mempelajari bagaimana musik bisa diolah dengan perkembangan teknologi yang sudah ada sekarang, bisa dimanfaatkan sebaik mungkin sekarang.

Pemahaman semacam itu muncul dalam acara Denoise Berbagi Cerita Bersama Dwarsa Sentosa dalam Bahasan Menarik Musik Elektronik : Composing mixing editing eksport stems squencer di Kedai Umah Pradja, Singaraja, Jumat malam, 2 Mei 2025.

Seorang produser musik, sekaligus musisi dan penulis lagu asal Bali Utara—yang dikenal lewat pendekatan musik eksperimental dalam dunia musik elektronik—Dwarsa Sentosa, menjadi pembicara dalam acara itu. Ia memberi teknik bagaimana seharusnya bergelut di balik pembuatan musik, yang tidak mesti banyak ritual.

Agar tidak bingung, untuk mempermudah pemahaman orang lain tentang musik, ia menganalogikakan produksi musik sama seperti sebuah pabrik dan musik sama seperti sebuah properti. Sedang pertunjukan musik ia umpamakan seperti pertunjukan sebuah teater.

“Pertunjukan musik adalah teater. Ini sangat penting bahwa apa yang kita produksi sebelumnya dan nanti kita pertunjukkan atau persembahkan di panggung ini. Itu adalah sebuah teater,” kata Dwarsa.

Bukan hanya musik, kata Dwarsa, apa pun yang ada di panggung nanti adalah sebuah skenario yang kita, atau sekelompok orang, jabarkan kepada penikmat di dunia. Musik adalah produk. Ia dimasak, ia diotak-atik hingga menjadi bentuk—yang lezat didengar khalayak ketika dipersembahkan di atas panggung.

“Nah, produksi musik, kenapa kita bilang pabrik? Karena ciptaannya adalah sebuah produk audio. Tentunya kita melalui proses dalam sebuah pabrik, cuma bedanya kita kerjanya di studio, bisa juga dengan laptop. Kemudian musik kenapa di sini bisa menjadi properti?” kata Dwarsa Sentosa.

Beberapa Audiens sedang menyimak diskusi tentang musik | Foto : tatkala.co/Rusdy

Walaupun musik tidak berwujud (fisik), tapi keberadaannya bisa dirasakan. Bahkan kehadirannya juga bisa menjadi seperti sebuah aset penting. Bisa dijual. Atau nanti satu waktu, jika ia menjadi viral, misalnya, tidak menutup kemungkinan akan menghasilkan materi yang cukup.

Walaupun musik tidak berbentuk fisik, ia bisa dipertunjukkan. Selain itu, musik juga tahu diri caranya balas budi—nanti. Tapi persoalannya, bagaimana ritual dalam membuat musik itu sendiri di zaman sekarang—yang penuh persaingan, bahkan dengan AI sekalipun.

“Yang lebih penting itu adalah menjadikan karya dulu. Kalau mastering kan sudah post production sebenarnya. Setelah menjadi lagu dulu nanti nanti kita lanjut proses mastering. Di sanalah sebuah proses kreatif dalam produksi musik bisa dilakukan. Digenjot,” kata Dwarsa.

Penyanyi “Sampai Tua Jadi Gila” itu juga menekankan kepercayaan diri pada audiens, bahwa tidak ada aturan baku dalam proses kreatif—dalam bermusik. Apa duluan, apa duluan, dan apa selanjutnya, misalnya. Tidak ada. Gas saja buat.

“Karena seni (musik) sama dengan melukis juga, enggak ada aturan. Kalian mau pakai garis pinggir, mau enggak pakai garis pinggir, mau pakai warna merah semuanya juga boleh. Enggak ada batasan pokoknya,” jelas Dwarsa.

Vibes Musik—dalam Perasaan si Pembuat

Mood atau keadaan perasaan semacam apa yang muncul ketika kita membuat musik atau lagu? Perasaan apa yang memiliki pengaruh cukup kuat dalam proses kreatif si musisi? Dwarsa Sentosa mengakui, saat membuat musik, mood menentukan proses composing. Inilah yang ditentukan lebih dulu sebagai wacana besarnya.

Beberapa Audiens sedang menyimak diskusi tentang musik | Foto: tatkala.co/ Rusdy

Kondisi perasaan, senang atau jatuh cinta atau marah, atau ngambek, dapat menjadi amunisi atau energi. “Tentang cinta misalnya, atau tentang sebuah kekaguman kepada alam ataupun sebaliknya, keprihatinan terhadap alam,” katanya.

Semua itu, kata Dwarsa, dapat meringankan dalam proses menentukan sketsa berupa kunci progresi kunci atau chord. Misalnya mau dibawa ke minor, atau dominan untuk lagu-lagu yang sedih. Atau mayor nanti untuk ke lagu-lagu yang ada sebuah kekaguman di dalamnya.

Bagian yang selanjutnya adalah menambahkan melodi utama. Menentukan melodi utama bisa dilakukan sebagai hook, atau bagian yang menarik bagi si pendengar sebelum ke tahap yang lain.

Sehingga dalam proses itu, dapat ditentukan poin yang paling penting yang mana kira-kira bisa dinikmati, minimal bisa dirasakan oleh sendiri sebelum ke tahap yang lebih serius—untuk khalayak.

“Selanjutnya setelah menemukan melodi utama, baru selanjutnya, aku, biasanya membuat atau menentukan tempo dulu. Tempo itu belakangan aku lurusin karena setelah jadi melodi ada perubahan tempo biasanya,” jelas Dwarsa Sentosa.

Kemudian setelah memilih tempo yang sudah mantap, kata Dwarsa, barulah menggali referensi sebagai tambahan amunisi si lagu atau musik. Mencari referensi-referensi yang ada sekarang dapat diamati, dapat dijadikan acuan.

Sedang dalam proses kreatif membuat lagu, Dwarsa sendiri masih standar dalam menggunakan alat-alat dapurnya. Seperti laptop, speaker, mic, audio interface, dan beberapa aplikasi pendukung.

“Tapi kalau dilihat dari zaman, sekarang sudah bisa buat lagu yang oke hanya modal HP. Bahkan kalau niat, bisa jadi lagu yang matang juga,”  lanjut Dwarsa meyakinkan begitu canggih zaman sekarang, dan musisi yang perlu berpikir menggunakannya sebagai alat penting, alat bantu.

Ia juga bercerita, di tengah banyak teknologi pendukung terkait proses editing, rekaman itu bahkan tak mesti pergi ke studio, atau menunggu waktu spesial untuk pergi ke sana.

Rekaman bisa dilakukan di mana saja. Di dalam mobil, di kafe dekat dapur, atau di mana saja. Ini hanya soal nyali dan seberapa kreatif si musisi dalam soal waktu dan teknis dengan si alat.

Ketika rekaman di dapur rekaman, terjadi ada suara-suara yang tidak diinginkan masuk, seperti suara jalan karena dapur dekat jalan. Atau suara batuk manusia, suara manusia sedang menggoreng ikan atau memasak kopi.

Kebocoran suara itu bisa dicabik-cabik, atau dihilangkan noise-noise semacam itu dengan alat pendukung ketika proses composing.

Dwarsa Sentosa sedang mempresentasikan bagaimana proses kreatif membuat musik atau lagu | Foto: tatkala.co/Rusdy

“AI itu canggih, tapi manusia jauh lebih kreatif. Dan ketika zaman sudah semakin canggih ini, dan orang-orang masih saklek membuat musik harus pergi ke studio, sebagai cara satu-satunya. Itu terlalu kolot,” kata Dwarsa.

Dan itu bisa menjadi masalah besar. Memanfaatkan teknologi sekarang itu sangat penting, agar proses kreatif kita terus berjalan, tidak terhenti oleh sebuah masalah—tidak punya waktu pergi ke studio. [T]

Repoter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Dwarsa Sentosa, Musisi Buleleng yang Lebih Terkenal di Jawa Ketimbang di Daerah Kelahirannya
Musik Eksperimental Kontemporer dari Dwarsa Sentosa—“Tambah Sedikit Kuota untuk Berdosa”
Akustik Band The Days dari Buleleng dan Kisah Kemenangan Lagu Manawakya di Hindu Channel  
Sawig, Album “Lakuta”, dan Lakuta Bali Tour di Singaraja
Tags: bulelengDwarsa SentosaKedai Umah Pradjamusik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

Next Post

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
0
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

Read moreDetails

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

Read moreDetails

Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
0
Menyingkap Hak Atas Tubuh dalam Novel “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama di Singaraja Literary Festival 2026

 “Perempuan punya hak atas tubuhnya sendiri!” Kalimat itu meluncur tegas dari Sasti Gotama saat membahas novel Korpus Uterus di Singaraja...

Read moreDetails

Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 31, 2026
0
Membincangkan Makna Pulang dalam Novel “Rumah” Karya J.S. Khairen di Singaraja Literary Festival 2026

 “Rumah itu sebenarnya apa?” Pertanyaan itu terus mengemuka sepanjang diskusi buku Rumah karya J.S. Khairen pada hari ketiga Singaraja Literary...

Read moreDetails

13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

by Wahyu Mahaputra
July 30, 2026
0
13 Tahun Bersetia Dengan Jazz  ——Cerita Menjelang Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

Di tengah menjamurnya festival musik yang kian mengaburkan batas antar-genre demi menjangkau pasar yang lebih luas, Sthala Ubud Village Jazz...

Read moreDetails

“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

by Yahya Umar
July 28, 2026
0
“Yang Hilang Yang Terus Berjuang”, Pertunjukan 30 Tahun Kudatuli di Singaraja

jika rakyat pergiketika penguasa pidatokita harus hati-hatibarangkali mereka putus asa kalau rakyat sembunyidan berbisik-bisikketika membicarakan masalahnya sendiripenguasa harus waspada dan...

Read moreDetails

‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
‘Tak Sepatah Kata’: Ketika 100 Tahun Puisi Indonesia di Bali Menjelma Menjadi Sebuah Pertunjukan

RUANGAN Gedung Ksirarnawa mendadak sunyi. Lampu panggung meredup, hanya menyisakan seberkas cahaya yang jatuh pada seorang lelaki yang duduk di...

Read moreDetails

“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

by Dede Putra Wiguna
July 25, 2026
0
“Katarsis Jiwa Kelam”: Ketika Geguritan ‘Bagus Diarsa’ Menjelma Drama Musikal Kontemporer di Festival Seni Bali Jani 2026

KETIKA Bagus Diarsa tampak sibuk menatap layar telepon genggamnya, di sampingnya berdiri sosok berwajah penuh riasan, berbusana merah menyala. Dialah...

Read moreDetails

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
0
Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

Read moreDetails

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026
0
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

Read moreDetails
Next Post
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co