21 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembelajaran Berbasis Etnopedagogi yang Cocok Diterapkan di Sekolah Dasar di Desa Trunyan

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
December 11, 2024
in Opini
Tanamkan Kedisiplinan Siswa, Guru dalam  Bayang-Bayang Hukum

Suar Adnyana

Pendahuluan

DESA Trunyan merupakan salah satu desa tradisional yang terletak di kaki Gunung Batur. Desa ini termasuk wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, dan merupakan desa tradisional. Oleh karena itu, desa ini mempunyai keuinikan yang tidak dimiliki oleh desa lain. Ada beberapa keunikan Desa Trunyan. Pertama, sebagai desa tradisional, masyarakat Desa Trunyan berkomuniaksi keseharian menggunakan bahasa Bali Dialek Trunyan (BBTD). Setiap Desa Tradisional di Bali memiliki dialek bahasa Bali tersendiri. Khusus bahasa Bali yang digunakan oleh masyarakat di Desa Trunyan adalah bahasa Bali Dialek Trunyan (Adnyana, 2018)

Keunikan kedua adalah prosesi pemakaman. Masyarakat menyebutnya dengan mepasah. Masyarakat yang meninggal tidak dijadikan satu pemakaman. Ada tiga jenis makan di Desa Trunyan. Pengategorian pemakaman berdasarkan cara meninggal orang tersebut. Ketiga makam (sema) yang diimaksud, yaitu Sema Wayah, Sema Nguda, dan Sema Bantas (Aridiantari, dkk. 2020:67).

Sema Wayah adalah wilayah pemakaman yang diperuntukkan bagi mereka yang meninggal secara normal. Hanya terdapat 7 petak dalam wilayah pemakaman ini, sehingga jika ada jenazah baru, jenazah tersebut akan diletakkan pada petak yang sudah berisi jenazah yang paling lama dan tulang-belulang dari jenazah yang lama akan dipindahkan ke luar petak.

Sema Nguda adalah wilayah pemakaman untuk bayi dan anak kecil yang gigi susunya masih belum tanggal serta orang-orang yang masih lajang. Jasad di sini dimakamkan secara mepasah, pengecualian untuk bayi yang belum memasuki fase meketus yang akan dikuburkan.

Sema Bantas adalah wilayah pemakaman bagi jenazah yang meninggal masih dengan memiliki cacat fisik ataupun meninggal tidak secara natural, contohnya karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang lain. Hanya di area pemakaman ini tubuh jenazah akan dikubutkan secara normal (https://student-activity.binus.ac.id/himja/2021/11/desa-adat-trunyan-di-bali-dan-tradisi-pemakaman-uniknya/

Keunikan ketiga adalah tarian Barong Brutuk. Barong Brutuk diyakini sebagai perwujudan Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat. Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat merupakan leluhur masyarakat Desa Trunyan. Tarian Barong Brutuk dipentaskan setiap tahun sekali yaitu setiap Bulan Purnama Sasih Kapat.

Busana Barong Brutuk terbuat dari dari daun kraras (daun pisang yang kering). Ini mempunyai makna bahwa pada saat Ratu Sakti Pancering Jagat datang ke Desa Trunyan bersama pengikutnya menggunakan pakaian yang sangat sederhana.

Daun kraras yang digunakan sebagai busana Barong Brutuk dimabil dari kraras pohon pisang temaga (pisang tembaga) pisang gedang saba, dan pisang ketip. Daun kraras diambil dari desa tetangga, yaitu Desa Pinggan, Blandingan, dan Bayung. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, hubungan ritual tradisional antara Desa Trunyan dengan Desa Pinggan, Desa Blandingan, dan Desa Bayung telah terjalin ratusan tahun. Daun kraras yang telah dipilih kemudian dirajut.

Daun kraras dipercaya sebagai simbol kesuburan, dan sebagai jimat penolak bala. Busana Barong Brutuk (berupa kraras) yang sudah digunakan pada saat ritual Barong Brutuk, disebarkan ke areal pertanian untuk menyuburkan tanah pertanian dan kraras tersebut juga dibawa ke rumah oleh masyarakat. Kraras terebut dipercaya sebagai penolak bala.

Pada saat menarikan Barong Brutuk, penari memegang pecut (cambuk) yang terbuat dari tiing (bambu)  sulan. Diceritakan pada waktu  Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat datang ke Desa Trunyan  terdapat banyak halangan yang dijumpai dalam perjalanan.

Halangan-halangan tersebut dapat diatasai dengan mencambukkan cambuk tersebut pada setiap penghalang. Gerakan mencambuk pada Tarian Barong Brutuk dipercaya dapat menyembuhkan penonton dari penyakit atau aura negatif. Setiap cambukan pecut tersebut diyakini dapat menyucikan areal Pura Pancering Jagat.

Desa Trunyan yang kaya akan kearifan lokalnya tentu menghadapi tantangan dalam melestarikannya. Hal ini tidak dapat terhindarkan seiring arus globalisasi dan arus moderenisasi sehingga mobilitas masyarakat Desa Trunyan begitu tinggi. Banyak generasi muda meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan, meneruskan pendidikan di beberapa kota di luar Kabupaten Bangli.

Di samping itu, banyak pemuda yang bekerja di luar negeri. Dengan kenyataan ini, kearifan lokal masyarakat Desa Trunyan kian lama kian terkikis akibat arus moderenisasi. Jika hal ini tidak diantisipasi lambat laun kearifan lokal Desa Trunyan akan terkikis oleh arus globalisasi dan moderenisasi.

Agar kearifan lokal masyarakat Desa Trunyan tidak terkikis, perlu dirancang model pembelajaran etnopedagogis yang terintegrasi pada kurikulum sekolah. Hal ini sangat penting, karena dengan merancang pembelajaran dengan menerapkan model etnopedagogi generasi muda sejak dini sudah diperkenalkan tentang kebudayaan lokalnya sehingga siswa lebih awal memahami dan memaknai ragam kearifan lokal yang ada di Desa Trunyan.

Pembahasan

Arus globalisasi dan moderenisasi apabila tidak diantisipasi bisa mengakibatkan identitas masyarakat Desa Trunyan akan luntur. Hal ini tampaknya sudah terjadi pada keberlangsungan BBTD. Sikap positif generasi muda cukup rendah.Hal ini dapat dicermati dari kajian yang dilakukan oleh Adnyana  (2018: 9).

Dengan sikap bahasa seperti ini, eksistensi BBDT akan mengkhawatirkan. Generasi muda perantau ketika berkomunikasi di luar desanya tentu lebih aktif menggunakan bahasa Bali Dialek Dataran (bahasa Bali yang lumrah digunakan oleh masyaralat Bali pada umumnya). Apabila hal ini dibiarkan tidak menutup kemungkinan penutur BBDT akan semakin berkurang dan tidak menutup kemungkinan BBDT mengalami kepunahan.

Begitu pula kesakralan prosesi pemakaman akan tergerus dengan adanya moderenisasi. Prosesi pemakaman di Desa Trunyan  hanya dipahami oleh tetua adat dan jero mangku (orang yang disucikan untuk memimpin upacara agama dalam Hindu).

Generasi belakangan tidak memahami apa makna dan bagaimana menjalankan prosesi pemakaman ini. Prosesi pemakaman cukup rumit. Dengan mobilitas yang begitu tinggi, generasi muda Desa Trunyan tidak mempunyai waktu untuk memahami prosesi pemakaman.

Kekhawatiran berikutnya adalah keberlangsungan ritual Barong Brutuk. Walaupun generasi muda berperan dalam upacara ritual Barong Brutuk tetapi generasi muda tidak memahami dengan baik apa makna ritual tersebut.

Pelaksanaan ritual yang dipimpin oleh pemuka adat tidak memberikan informasi apa makna dari ritual Barong Brutuk. Desa Adat tidak mempunyai program yang bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai ritual kepada generasi muda. Hal ini tentu berakibat buruk bahkan tidak menutup kemungkinan pelaksanaan ritual esensinya akan berubah sekian tahun lagi.

Oleh karena itu, perlu diberikan etnopedagogi kepada generasi muda sejak dini melalui pembelajaran dengan mengintergrasikan dalam kurikulum sekolah. Etnopedagogi adalah pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada pengajaran nilai-nilai budaya lokal.

Dalam etnopedagogi, pendidikan tidak hanya menjadi sarana mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi media untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang hampir terlupakan. Hal ini relevan dalam konteks Desa Trunyan yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.

Pendekatan Etnopedagogi

Pendekatan etnopedagogi di Trunyan dapat membantu generasi muda memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi mereka, seperti penghormatan kepada leluhur, harmoni dengan alam, dan solidaritas komunitas.

Pemahaman nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dapat tercapai apabila generasi muda masih setia terhadap BBDT. Pemahaman terhadap tradisi dan budaya dapat dilakukan dengan baik apabila generasi muda mempunyai sikap positif terhadap BBDT (bdk. Fairclough 1989 dan 1992).

Tradisi pemakaman unik di Trunyan mencerminkan filosofi kehidupan yang menghargai siklus alam dan menjaga keseimbangan lingkungan. Jika nilai-nilai ini diajarkan melalui pendidikan formal generasi muda dapat lebih memahami makna tradisi mereka dan merasa bangga akan identitas budaya mereka.

Begitu dalam ritual tarian Barong Brutuk tentu banyak megandung nilai-nilai filosofi dan nilai pendidikan. Jika hal ini tidak ditransfer melalui pendidikan formal, semua tradisi dan budaya yang ada di Desa Terunyan lambat laun akan punah.

Agar etnopedagogi di Sekolah Dasar yang ada di Desa Trunyan dapat berjalan dengan baik—dengan tujuan melestarikan kearifan lokal Desa Trunyan—diperlukan strategi dalam mengimplementasikannya di sekolah dasar.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan pendekatan etnopepagogi di Sekolah Dasar di Desa Trunyan, sebagai berikut:

Pertama: Integrasi Kurikulum Sekolah

Pemerintah Desa Trunyan, Desa Adat Trunyan, dan Pemuka Agama dan institusi pendidikan (Dinas Pendidikan Dasar dan Menegah) dapat bekerja sama untuk memasukkan materi tentang tradisi dan kearifan lokal Desa Trunyan ke dalam kurikulum sekolah khusus untuk SD di Desa Trunyan. Hal ini bukan berarti memberikan mata pelajaran tambahan. Guru diwajibkan mengintegrasikan nilai kearifan lokal yang ada di Desa Terunyan pada setiap mata pelajaran.

Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dalam mengajarkan tentang berbagai macam teks guru dapat menggunakan sumber informasi terkait dengan kearifan lokal Desa Trunyan sebagai sumber belajar. Apakah tentang tradisi mepasah dan ritual Barong Brutuk.

Dalam pembelajaran bahasa Bali, guru dapat mengajarkan bahasa Bali Dialek Trunyan. Guru dapat menekankan betapa pentingnya menguasai bahasa lokal. Dengan menguasai bahasa lokal generasi muda akan kuat dalam memertahankan ideologi yang dianut masyarakat (Thompson, 1984; William, 1986; Eryanto, 2001).

Begitu pula dalam pembelajaran yang lain, guru dapat mengintegrasikan tradisi dan kearifan lokal ke dalam pembelajaran. Internalisasi nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan menggunakan tradisi dan kearifan lokal yang ada di Desa Trunyan.

Untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, guru bisa mengulas relasi ritual tari Barong Brutuk dengan  Desa Pinggan, Desa Blandingan, dan Desa Bayung telah terjalin ratusan tahun. Dengan mengulas ini, guru dapat menginternalisasi betapa petingnya mempertahankan relasi keharmonisan den

Dengan cara ini ketertarikan siswa dalam mempelajari tradisi dan kearifan lokalnya semakin meningkat.

Kedua: Pelibatan Teknologi Digital

Di era digital, teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan tradisi dan kearifan lokal Desa Trunyan. Pemerintah Kabupaten Bangli hendaknya konsen terhadap kelestarian budaya dan kearifan lokal Desa Trunyan.

Bentuk perhatian pemerintah Kabupaten Bangli melakukan dokumentasi terhadap budaya dan kearifan lokal yang ada di Desa Trunyan. Kearifan lokal terkait dengan mitos, dongeng, dan tradisi diubah dalam bentuk pembelajaran inovatif dapat berupa film animasi, komik digital, dan game enteraktif yang bertemakan budaya dan kearifan lokal Desa Trunyan.

Dengan media pembelajaran digital ini, siswa sekolah dasar akan tertarik untuk mempelajari tradisi dan kearifan lokal yang ada di desanya.

Digital pedagogy merupakan pendekatan yang tidak sekadar berbasis pada keterampilan guru menggunakan teknologi namun  bagaimana  guru  sebagai  fasilitator  memanfaatkan  teknologi untuk membangun kemampuan berpikir sekaligus mengembangkan aspek afektif siswa (Purfitasaria, Septi, dkk. 2019).

Banyak penelitian mengenai pengembangan pedagogi kreatif telah dilakukan, di antaranya oleh Dezuanni & Jetnikoff, 2011; Lin, 2010; Lin, 2011, 2014; Harris & Lemon, 2012; Craft, 2014; Craft et al., 2012; Craft, Cremin, et al., 2014; Craft, Hall, et al., 2014; Gl\uaveanu et al., 2015; Cremin, 2016; Cremin et al., 2018; Cremin & Chappell, 2021; Cheung, 2016; Selkrig & Keamy, 2017; dan  Harris & De Bruin, 2018.

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pedagogi kreatif akan membantu mengebangkan pola berpikir kritis siswa.

Ketiga: Pelatihan Guru

Guru yang memahami konsep etnopedagogi dan budaya lokal memiliki peran penting dalam mengajarkan kearifan lokal kepada generasi muda. Pelatihan khusus dapat diberikan kepada mereka untuk mengembangkan metode pengajaran yang relevan dan menarik.

Pelatihan itu dapat berupa pengembangan keterampilan pembelajaran serta pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis digital. Dengan cara ini, guru bertindak selalu aktif dalam mengembangkan diri dan akan dapat mengelola pembelajaran dengan prinsip mindfull, meaningfull, dan joyfull.

Penutup

Desa Trunyan adalah cerminan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi warisan tak ternilai bagi Bali dan Indonesia secara keseluruhan. Dalam menghadapi tantangan globalisasi, etnopedagogi menawarkan pendekatan yang relevan dan strategis untuk melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya lokal.

Melalui pendidikan berbasis budaya, generasi muda Desa Trunyan dapat dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan rasa bangga akan identitas mereka, sehingga tradisi yang kaya dan unik ini dapat terus hidup dan berkembang.

Pendidikan etnopedagogi yang ditawarkan berupa intergrasi kearifan lokal ke dalam kurikulum sekolah. Integrasi ini bukanlah menciptakan mata pelajaran baru tetapi dalam mata pelajaran yang sudah ada diintegrasikan tradisi dan kearifan lokal Desa Trunyan. Dengan cara ini siswa akan mengenal lebih awal tradisi dan kelarifan lokalnya.

Pembelajaran akan lebih menarik apabila tersedia media pembelajaran berbasis teknologi. Dengan media ini kearifan lokal terkait dengan mitos, dongeng, dan tradisi diubah dalam bentuk pembelajaran inovatif dapat berupa film animasi, komik digital, dan game enteraktif yang bertemakan budaya dan kearifan lokal Desa Trunyan.

Pembuatan konten pembelajaran berbasis digital memerlukan tingkat literasi digital yang baik. Oleh karena itu, guru perlu diberikan pelatihan tentang pendekatan etnopedagogi dan pembuatan media pembelajaran berbasisi digital.[T]

Baca artikel lain dari penulis SUAR ADNYANA

Tanamkan Kedisiplinan Siswa, Guru dalam  Bayang-Bayang Hukum
Guru dan Perubahan
Learning Ownership Siswa, Penentu Keberhasilan Pembelajaran
E-Modul Berbasis Tradisi Lisan: Inovasi dalam Meningkatkan Kompetensi Literasi Siswa
Pendidikan Inklusi : Realitas dan Problematikanya
Tags: BangliDesa TrunyanEtnopedagogiPendidikansekolah dasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Next Post

Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran
Bahasa

“Semua Babi” atau “Serba Babi”, Diksi dalam Perkulineran

DUNIA kuliner di Bali saat ini sedang ramai-ramainya dengan berbagai pilihan olahan. Dari tradisi babi guling yang legendaris hingga tren...

by I Made Sudiana
October 19, 2026
Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional
Pendidikan

Siswa Timedoor Academy Singaraja Raih Juara 2 Local Exhibition Bali Young Coder World Cup, Lolos ke Tingkat Nasional

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan teknologi di Kabupaten Buleleng. Langit Biru, siswa Timedoor Academy Singaraja,...

by Rusdy Ulu
October 19, 2026
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni
Esai

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co