7 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pembelajaran Berbasis Etnopedagogi yang Cocok Diterapkan di Sekolah Dasar di Desa Trunyan

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
December 11, 2024
in Opini
Tanamkan Kedisiplinan Siswa, Guru dalam  Bayang-Bayang Hukum

Suar Adnyana

Pendahuluan

DESA Trunyan merupakan salah satu desa tradisional yang terletak di kaki Gunung Batur. Desa ini termasuk wilayah Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, dan merupakan desa tradisional. Oleh karena itu, desa ini mempunyai keuinikan yang tidak dimiliki oleh desa lain. Ada beberapa keunikan Desa Trunyan. Pertama, sebagai desa tradisional, masyarakat Desa Trunyan berkomuniaksi keseharian menggunakan bahasa Bali Dialek Trunyan (BBTD). Setiap Desa Tradisional di Bali memiliki dialek bahasa Bali tersendiri. Khusus bahasa Bali yang digunakan oleh masyarakat di Desa Trunyan adalah bahasa Bali Dialek Trunyan (Adnyana, 2018)

Keunikan kedua adalah prosesi pemakaman. Masyarakat menyebutnya dengan mepasah. Masyarakat yang meninggal tidak dijadikan satu pemakaman. Ada tiga jenis makan di Desa Trunyan. Pengategorian pemakaman berdasarkan cara meninggal orang tersebut. Ketiga makam (sema) yang diimaksud, yaitu Sema Wayah, Sema Nguda, dan Sema Bantas (Aridiantari, dkk. 2020:67).

Sema Wayah adalah wilayah pemakaman yang diperuntukkan bagi mereka yang meninggal secara normal. Hanya terdapat 7 petak dalam wilayah pemakaman ini, sehingga jika ada jenazah baru, jenazah tersebut akan diletakkan pada petak yang sudah berisi jenazah yang paling lama dan tulang-belulang dari jenazah yang lama akan dipindahkan ke luar petak.

Sema Nguda adalah wilayah pemakaman untuk bayi dan anak kecil yang gigi susunya masih belum tanggal serta orang-orang yang masih lajang. Jasad di sini dimakamkan secara mepasah, pengecualian untuk bayi yang belum memasuki fase meketus yang akan dikuburkan.

Sema Bantas adalah wilayah pemakaman bagi jenazah yang meninggal masih dengan memiliki cacat fisik ataupun meninggal tidak secara natural, contohnya karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang lain. Hanya di area pemakaman ini tubuh jenazah akan dikubutkan secara normal (https://student-activity.binus.ac.id/himja/2021/11/desa-adat-trunyan-di-bali-dan-tradisi-pemakaman-uniknya/

Keunikan ketiga adalah tarian Barong Brutuk. Barong Brutuk diyakini sebagai perwujudan Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat. Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat merupakan leluhur masyarakat Desa Trunyan. Tarian Barong Brutuk dipentaskan setiap tahun sekali yaitu setiap Bulan Purnama Sasih Kapat.

Busana Barong Brutuk terbuat dari dari daun kraras (daun pisang yang kering). Ini mempunyai makna bahwa pada saat Ratu Sakti Pancering Jagat datang ke Desa Trunyan bersama pengikutnya menggunakan pakaian yang sangat sederhana.

Daun kraras yang digunakan sebagai busana Barong Brutuk dimabil dari kraras pohon pisang temaga (pisang tembaga) pisang gedang saba, dan pisang ketip. Daun kraras diambil dari desa tetangga, yaitu Desa Pinggan, Blandingan, dan Bayung. Berdasarkan kepercayaan masyarakat, hubungan ritual tradisional antara Desa Trunyan dengan Desa Pinggan, Desa Blandingan, dan Desa Bayung telah terjalin ratusan tahun. Daun kraras yang telah dipilih kemudian dirajut.

Daun kraras dipercaya sebagai simbol kesuburan, dan sebagai jimat penolak bala. Busana Barong Brutuk (berupa kraras) yang sudah digunakan pada saat ritual Barong Brutuk, disebarkan ke areal pertanian untuk menyuburkan tanah pertanian dan kraras tersebut juga dibawa ke rumah oleh masyarakat. Kraras terebut dipercaya sebagai penolak bala.

Pada saat menarikan Barong Brutuk, penari memegang pecut (cambuk) yang terbuat dari tiing (bambu)  sulan. Diceritakan pada waktu  Ida Bhatara Ratu Sakti Pancering Jagat datang ke Desa Trunyan  terdapat banyak halangan yang dijumpai dalam perjalanan.

Halangan-halangan tersebut dapat diatasai dengan mencambukkan cambuk tersebut pada setiap penghalang. Gerakan mencambuk pada Tarian Barong Brutuk dipercaya dapat menyembuhkan penonton dari penyakit atau aura negatif. Setiap cambukan pecut tersebut diyakini dapat menyucikan areal Pura Pancering Jagat.

Desa Trunyan yang kaya akan kearifan lokalnya tentu menghadapi tantangan dalam melestarikannya. Hal ini tidak dapat terhindarkan seiring arus globalisasi dan arus moderenisasi sehingga mobilitas masyarakat Desa Trunyan begitu tinggi. Banyak generasi muda meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan, meneruskan pendidikan di beberapa kota di luar Kabupaten Bangli.

Di samping itu, banyak pemuda yang bekerja di luar negeri. Dengan kenyataan ini, kearifan lokal masyarakat Desa Trunyan kian lama kian terkikis akibat arus moderenisasi. Jika hal ini tidak diantisipasi lambat laun kearifan lokal Desa Trunyan akan terkikis oleh arus globalisasi dan moderenisasi.

Agar kearifan lokal masyarakat Desa Trunyan tidak terkikis, perlu dirancang model pembelajaran etnopedagogis yang terintegrasi pada kurikulum sekolah. Hal ini sangat penting, karena dengan merancang pembelajaran dengan menerapkan model etnopedagogi generasi muda sejak dini sudah diperkenalkan tentang kebudayaan lokalnya sehingga siswa lebih awal memahami dan memaknai ragam kearifan lokal yang ada di Desa Trunyan.

Pembahasan

Arus globalisasi dan moderenisasi apabila tidak diantisipasi bisa mengakibatkan identitas masyarakat Desa Trunyan akan luntur. Hal ini tampaknya sudah terjadi pada keberlangsungan BBTD. Sikap positif generasi muda cukup rendah.Hal ini dapat dicermati dari kajian yang dilakukan oleh Adnyana  (2018: 9).

Dengan sikap bahasa seperti ini, eksistensi BBDT akan mengkhawatirkan. Generasi muda perantau ketika berkomunikasi di luar desanya tentu lebih aktif menggunakan bahasa Bali Dialek Dataran (bahasa Bali yang lumrah digunakan oleh masyaralat Bali pada umumnya). Apabila hal ini dibiarkan tidak menutup kemungkinan penutur BBDT akan semakin berkurang dan tidak menutup kemungkinan BBDT mengalami kepunahan.

Begitu pula kesakralan prosesi pemakaman akan tergerus dengan adanya moderenisasi. Prosesi pemakaman di Desa Trunyan  hanya dipahami oleh tetua adat dan jero mangku (orang yang disucikan untuk memimpin upacara agama dalam Hindu).

Generasi belakangan tidak memahami apa makna dan bagaimana menjalankan prosesi pemakaman ini. Prosesi pemakaman cukup rumit. Dengan mobilitas yang begitu tinggi, generasi muda Desa Trunyan tidak mempunyai waktu untuk memahami prosesi pemakaman.

Kekhawatiran berikutnya adalah keberlangsungan ritual Barong Brutuk. Walaupun generasi muda berperan dalam upacara ritual Barong Brutuk tetapi generasi muda tidak memahami dengan baik apa makna ritual tersebut.

Pelaksanaan ritual yang dipimpin oleh pemuka adat tidak memberikan informasi apa makna dari ritual Barong Brutuk. Desa Adat tidak mempunyai program yang bertujuan untuk mentransfer nilai-nilai ritual kepada generasi muda. Hal ini tentu berakibat buruk bahkan tidak menutup kemungkinan pelaksanaan ritual esensinya akan berubah sekian tahun lagi.

Oleh karena itu, perlu diberikan etnopedagogi kepada generasi muda sejak dini melalui pembelajaran dengan mengintergrasikan dalam kurikulum sekolah. Etnopedagogi adalah pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada pengajaran nilai-nilai budaya lokal.

Dalam etnopedagogi, pendidikan tidak hanya menjadi sarana mentransfer ilmu, tetapi juga menjadi media untuk melestarikan dan menghidupkan kembali kearifan lokal yang hampir terlupakan. Hal ini relevan dalam konteks Desa Trunyan yang kaya akan tradisi dan kearifan lokal.

Pendekatan Etnopedagogi

Pendekatan etnopedagogi di Trunyan dapat membantu generasi muda memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi mereka, seperti penghormatan kepada leluhur, harmoni dengan alam, dan solidaritas komunitas.

Pemahaman nilai-nilai budaya dan kearifan lokal dapat tercapai apabila generasi muda masih setia terhadap BBDT. Pemahaman terhadap tradisi dan budaya dapat dilakukan dengan baik apabila generasi muda mempunyai sikap positif terhadap BBDT (bdk. Fairclough 1989 dan 1992).

Tradisi pemakaman unik di Trunyan mencerminkan filosofi kehidupan yang menghargai siklus alam dan menjaga keseimbangan lingkungan. Jika nilai-nilai ini diajarkan melalui pendidikan formal generasi muda dapat lebih memahami makna tradisi mereka dan merasa bangga akan identitas budaya mereka.

Begitu dalam ritual tarian Barong Brutuk tentu banyak megandung nilai-nilai filosofi dan nilai pendidikan. Jika hal ini tidak ditransfer melalui pendidikan formal, semua tradisi dan budaya yang ada di Desa Terunyan lambat laun akan punah.

Agar etnopedagogi di Sekolah Dasar yang ada di Desa Trunyan dapat berjalan dengan baik—dengan tujuan melestarikan kearifan lokal Desa Trunyan—diperlukan strategi dalam mengimplementasikannya di sekolah dasar.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam mengimplementasikan pendekatan etnopepagogi di Sekolah Dasar di Desa Trunyan, sebagai berikut:

Pertama: Integrasi Kurikulum Sekolah

Pemerintah Desa Trunyan, Desa Adat Trunyan, dan Pemuka Agama dan institusi pendidikan (Dinas Pendidikan Dasar dan Menegah) dapat bekerja sama untuk memasukkan materi tentang tradisi dan kearifan lokal Desa Trunyan ke dalam kurikulum sekolah khusus untuk SD di Desa Trunyan. Hal ini bukan berarti memberikan mata pelajaran tambahan. Guru diwajibkan mengintegrasikan nilai kearifan lokal yang ada di Desa Terunyan pada setiap mata pelajaran.

Misalnya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, dalam mengajarkan tentang berbagai macam teks guru dapat menggunakan sumber informasi terkait dengan kearifan lokal Desa Trunyan sebagai sumber belajar. Apakah tentang tradisi mepasah dan ritual Barong Brutuk.

Dalam pembelajaran bahasa Bali, guru dapat mengajarkan bahasa Bali Dialek Trunyan. Guru dapat menekankan betapa pentingnya menguasai bahasa lokal. Dengan menguasai bahasa lokal generasi muda akan kuat dalam memertahankan ideologi yang dianut masyarakat (Thompson, 1984; William, 1986; Eryanto, 2001).

Begitu pula dalam pembelajaran yang lain, guru dapat mengintegrasikan tradisi dan kearifan lokal ke dalam pembelajaran. Internalisasi nilai-nilai Pancasila dapat dilakukan dengan menggunakan tradisi dan kearifan lokal yang ada di Desa Trunyan.

Untuk menanamkan nilai-nilai toleransi, guru bisa mengulas relasi ritual tari Barong Brutuk dengan  Desa Pinggan, Desa Blandingan, dan Desa Bayung telah terjalin ratusan tahun. Dengan mengulas ini, guru dapat menginternalisasi betapa petingnya mempertahankan relasi keharmonisan den

Dengan cara ini ketertarikan siswa dalam mempelajari tradisi dan kearifan lokalnya semakin meningkat.

Kedua: Pelibatan Teknologi Digital

Di era digital, teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk mendokumentasikan dan menyebarluaskan tradisi dan kearifan lokal Desa Trunyan. Pemerintah Kabupaten Bangli hendaknya konsen terhadap kelestarian budaya dan kearifan lokal Desa Trunyan.

Bentuk perhatian pemerintah Kabupaten Bangli melakukan dokumentasi terhadap budaya dan kearifan lokal yang ada di Desa Trunyan. Kearifan lokal terkait dengan mitos, dongeng, dan tradisi diubah dalam bentuk pembelajaran inovatif dapat berupa film animasi, komik digital, dan game enteraktif yang bertemakan budaya dan kearifan lokal Desa Trunyan.

Dengan media pembelajaran digital ini, siswa sekolah dasar akan tertarik untuk mempelajari tradisi dan kearifan lokal yang ada di desanya.

Digital pedagogy merupakan pendekatan yang tidak sekadar berbasis pada keterampilan guru menggunakan teknologi namun  bagaimana  guru  sebagai  fasilitator  memanfaatkan  teknologi untuk membangun kemampuan berpikir sekaligus mengembangkan aspek afektif siswa (Purfitasaria, Septi, dkk. 2019).

Banyak penelitian mengenai pengembangan pedagogi kreatif telah dilakukan, di antaranya oleh Dezuanni & Jetnikoff, 2011; Lin, 2010; Lin, 2011, 2014; Harris & Lemon, 2012; Craft, 2014; Craft et al., 2012; Craft, Cremin, et al., 2014; Craft, Hall, et al., 2014; Gl\uaveanu et al., 2015; Cremin, 2016; Cremin et al., 2018; Cremin & Chappell, 2021; Cheung, 2016; Selkrig & Keamy, 2017; dan  Harris & De Bruin, 2018.

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pedagogi kreatif akan membantu mengebangkan pola berpikir kritis siswa.

Ketiga: Pelatihan Guru

Guru yang memahami konsep etnopedagogi dan budaya lokal memiliki peran penting dalam mengajarkan kearifan lokal kepada generasi muda. Pelatihan khusus dapat diberikan kepada mereka untuk mengembangkan metode pengajaran yang relevan dan menarik.

Pelatihan itu dapat berupa pengembangan keterampilan pembelajaran serta pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis digital. Dengan cara ini, guru bertindak selalu aktif dalam mengembangkan diri dan akan dapat mengelola pembelajaran dengan prinsip mindfull, meaningfull, dan joyfull.

Penutup

Desa Trunyan adalah cerminan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang menjadi warisan tak ternilai bagi Bali dan Indonesia secara keseluruhan. Dalam menghadapi tantangan globalisasi, etnopedagogi menawarkan pendekatan yang relevan dan strategis untuk melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya lokal.

Melalui pendidikan berbasis budaya, generasi muda Desa Trunyan dapat dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan rasa bangga akan identitas mereka, sehingga tradisi yang kaya dan unik ini dapat terus hidup dan berkembang.

Pendidikan etnopedagogi yang ditawarkan berupa intergrasi kearifan lokal ke dalam kurikulum sekolah. Integrasi ini bukanlah menciptakan mata pelajaran baru tetapi dalam mata pelajaran yang sudah ada diintegrasikan tradisi dan kearifan lokal Desa Trunyan. Dengan cara ini siswa akan mengenal lebih awal tradisi dan kelarifan lokalnya.

Pembelajaran akan lebih menarik apabila tersedia media pembelajaran berbasis teknologi. Dengan media ini kearifan lokal terkait dengan mitos, dongeng, dan tradisi diubah dalam bentuk pembelajaran inovatif dapat berupa film animasi, komik digital, dan game enteraktif yang bertemakan budaya dan kearifan lokal Desa Trunyan.

Pembuatan konten pembelajaran berbasis digital memerlukan tingkat literasi digital yang baik. Oleh karena itu, guru perlu diberikan pelatihan tentang pendekatan etnopedagogi dan pembuatan media pembelajaran berbasisi digital.[T]

Baca artikel lain dari penulis SUAR ADNYANA

Tanamkan Kedisiplinan Siswa, Guru dalam  Bayang-Bayang Hukum
Guru dan Perubahan
Learning Ownership Siswa, Penentu Keberhasilan Pembelajaran
E-Modul Berbasis Tradisi Lisan: Inovasi dalam Meningkatkan Kompetensi Literasi Siswa
Pendidikan Inklusi : Realitas dan Problematikanya
Tags: BangliDesa TrunyanEtnopedagogiPendidikansekolah dasar
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

GenRe Badung Awards Vol II 2024: Ajang Apresiasi yang Bermakna bagi Remaja Badung

Next Post

Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails
Next Post
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Dunia Tanpa Ampun: Ketika Jejak Digital Menghakimi Anda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali
Esai

Disobedience Day dan For Hati Baki, Ketika Keberanian Bertanya Menjadi Bentuk Cinta kepada Bali

TIDAK semua bentuk ketidakpatuhan merupakan tindakan negatif. Dalam sejarah peradaban manusia, justru banyak perubahan besar lahir dari keberanian seseorang mengatakan...

by Agung Sudarsa
July 6, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

BISA jadi akan muncul celetukan ‘kalo gak cocok sama gaji yah keluar saja, cari perguruan tinggi yang gajinya besar’. Celetukan...

by Nur Inayah Yushar
July 6, 2026
Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati
Esai

Pentingnya Menggali Tradisi agar Tidak Mati

Tradisi merupakan akar kehidupan suatu masyarakat. Ia bukan sekadar kumpulan kebiasaan yang diwariskan dari generasi ke generasi, melainkan fondasi yang...

by Nyoman Mariyana
July 6, 2026
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Ulas Rupa

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

by Mahesa Putra
July 6, 2026
Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”
Pameran

Perhelatan Perupa dan Penyair: Pekan Kedua Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

PALEMBANG pada 21 Juni 2026 memang sedang garang-garangnya, seolah tidak menyisakan kulit untuk bersantai dan dibelai lembut oleh kehadirannya. Asmaran...

by Adwan SA
July 6, 2026
Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak
Kritik Seni

Antara Sakral dan Profan: Nyongkolan di Persimpangan Budaya Sasak

BENTANG alam Lombok tidak hanya sajikan keindahan panorama geografis, juga hadirkan teater kebudayaan yang terus bergerak. Kebudayaan Sasak, inti dari...

by Arief Rahzen
July 6, 2026
Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra
Panggung

Lomba Baca Puisi SLF 2026: Bukti Generasi Muda Bali Tetap Mencintai Sastra

JIKA menyaksikan Lomba Baca Puisi tingkat SMP dalam rangka Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, kekhawatiran bahwa generasi muda semakin jauh...

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak
Khas

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

by Jaswanto
July 6, 2026
Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Tari Kontemporer “Perempuan di Sawah” Membuka Singaraja Literary Festival 2026

PEMBUKAAN Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 3 Juli 2026, berlangsung berbeda dari kebiasaan. Bukannya diawali dengan tari penyambutan tradisional seperti...

by Nyoman Budarsana
July 4, 2026
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana
Khas

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana
Ulas Buku

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

by I Nyoman Darma Putra
July 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co