6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar

Selvi Agnesia by Selvi Agnesia
November 18, 2024
in Ulas Rupa
ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar

Beyond My Wildest Dream (2024) karya Zeta Ranniry Abidin | Foto: Selvi Agnesia

BANGUNAN historis bekas kantor pos Surabaya berbentuk aula terbuka dua lantai disulap menjadi ruang pamer dengan menggunakan skala kursale—ruangan  seluas 3900 meter persegi untuk satu pameran besar—bisa dibayangkan besarnya biaya dan kerja keras art handling memasang banyak panel putih untuk display karya, memasang banyak air conditioner (AC), juga memperbaiki ubin rusak yang terlihat jelas dari tambalan di lantai.

Untuk saya pribadi, idealnya membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menikmati sekitar 200 karya dari 154 seniman—dengan cara melihat sepintas dan tidak banyak berfoto seperti pengunjung lain— untuk perhelatan seni rupa berskala nasional berjuluk ARTSUBS yang baru pertama kali digelar di Surabaya pada 26 Oktober-24 November 2024 di Pos Bloc, daerah Kebon Rojo, Kembangan Selatan.

Perhelatan ARTSUBS mengambil tema “Ways of Dreaming” atau diartikan “aneka jalan mimpi.” Makna mimpi tersebut, ungkap Nirwan Dewanto sebagai kurator pameran dalam wawancara di laman ARTSUBS bahwa bermimpi yang dimaksud adalah mimpi tentang lanskap seni rupa kontemporer yang lebih meriah dan lebih dari itu mendekatkan seni rupa kepada publik atau publik ke seni rupa.

Terutama ketika kita menengok infrastuktur ruang seni di Indonesia dengan museum seni rupa yang belum berjalan baik dan masih sangat sedikit. Nirwan menyakini bila pameran-pameran besar merupakan sebuah jawaban atas kelangkaan tersebut, karya-karya seni rupa itu adalah cara kita berimajinasi atau bermimpi tentang realitas masa kini dan masa depan.

Selain itu, dreaming dimaknai Nirwan sebagai mimpi dan harapan bahwa kegiatan seni rupa tidak hanya berlangsung secara sentral di Yogyakarta, Jakarta, Bali atau Bandung tetapi juga munculnya lokasi-lokasi baru dan situs-situs baru seni rupa kontemporer, dalam hal ini Surabaya. Seperti event serupa Art Fair yang dikenal seperti ARTJOG, Art Jak, Biennale Jogja, waktunya Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia unjuk gigi melalui ARTSUBS.

“Bila tema ARTSUBS 2024 ini adalah Ways of Dreaming, maka kami ingin mengatakan bahwa karya-karya seni adalah berbagai cara mimpi, refleksi, fantasi dan imajinasi, baik secara pribadi dan sosial, tentang berbagai masa kini dan masa depan. Berbagai cara untuk lebih inovatif dalam berbagai bidang kehidupan.” Ungkap Rambat, pengelola Jagad Gallery yang berperan sebagai penggagas dan direktur utama ARTSUBS.

“The Currents” karya Ni Nyoman Sani | Foto: Selvi Agnesia

Lebih lanjut, kurator dan art director asal Bandung, Asmudjo J.Irianto melalui wawancara  di media sosial ARTSUBS memaparkan bahwa ARTSUBS digagas sebagai pameran besar yang mengandung karakter yang bisa disebut sebagai artist fair, berbeda dengan art fair yang umumnya berisi galeri-galeri.

Para seniman diundang langsung untuk memeriahkan ARTSUBS yang didalamnya mengandung gagasan artist fair sebagai pengembangan seni rupa dalam pasar (market) dengan karakter biennale yang mengandung semacam refleksi melihat perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Melalui karakter biennale, ada semacam diskursus atau edukasi yang akan dibagi ke publik. Selain secara khusus untuk penyampaian informasi dipresentasikan dengan baik kepada audience, melalui wall teks dan biodata pada setiap karya. Selain itu terdapat kegiatan komplemen  lain seperti diskusi, artist talk, galeri tour, workshop dan curatorial talk.

Karya-karya di ARTSUBS 2024 terbagi ke dalam 11 (sebelas) lingkup gelaran (platform), semuanya untuk menggarisbawahi upaya pemetaan seni rupa kontemporer Indonesia dalam perkembangannya yang paling kini di antaranya: (1) lanskap kontemporer; (2) pasca-tradisi dan pasca-orientalisme; (3) materialitas dan terobosan medium; (4) arus pop dan low brow; (5) objek dan kebendaan; (6) irisan arsitektur; (7) abstraksi dan selebihnya (8) kesosokan baru; (9) fotografi dan cetak grafis, (10) jangkauan ekologi; dan (11) kolektif seni.

“Karya seniman ini kan beragam, jadi kita mappingnya dari mulai karya otonom, lalu partisipatoris, kolaboratif kemudian kolektif ada mappingnya dengan berbagai keragaman di masing-masing kategori” jelas Asmudjo.

Seniman Perempuan dalam Wacana Platform ARTSUBS

Dengan mengacu pada 11 platform tersebut, saya mencoba secara sederhana melakukan pembacaan dengan skala lebih mikro terhadap karya-karya seniman perempuan. Pada sosok 19 seniman dari 154 seniman yang terlibat di ARTSUBS, karya-karya mereka meliputi 10 platform—tidak termasuk platform kolektif seni— yang pasti, menurut Nirwan bahwa “seniman-seniman yang telah terpilih adalah mereka yang sudah punya reputasi tinggi (established), yang sedang tumbuh pesat (emerging) dan yang mulai meraih reputasi (emerging-established), maupun yang pendatang baru.”

Dimulai dari lukisan Mangku Muriati, Lini Natalini dan instalasi pasangan Agus Ismoyo dan Nia Fliam yang merujuk pada platform “Pasca Tradisi-Pasca Orientalisme.”

Menilik lukisan Mangku Muriati, saya terpesona dengan detail dari teknik gaya Kamasan, sebagai gaya lukisan tradisional Bali sejak abad ke-16. Puteri dari Mangku Mura, maestro lukisan Kamasan ini mencoba menyesuaikan gaya Kamasan dengan isu-isu terkini. Tilikan tersebut terlihat dari lukisan kisah Mahabharata berjudul “Sudamala” putera bungsu Pandawa, bersanding dengan salah satunya lukisan berjudul “Wanita Karir.” Sebuah upaya meneruskan warisan leluhur dan beradaptasi dengan fenomena zaman.

Allegory of Cornucopia, karya Maharani Mancanagara | Foto: Selvi Agnesia

Sedikit berbeda dengan karya Lini Natalini Widhiasi dari segi konsep dan media. Dalam corak abstrak figuratif, perupa asal Surabaya ini menggunakan pelat aluminium sebagai bahan dasar. Dalam karya “Resilience” (2024) Lini memperlakukan aluminium dengan berbagai teknik seperti menoreh, memukul, melipat dan teknik lainnya sehingga menjadi bentuk trimatra yang baru.

Sedangkan melalui karya instalasi Agus Ismoyo x Nia Fliam, dijelaskan dalam pengantar karya bahwa mereka berupaya membaca teks visual batik tradisional Jawa yang merupakan ekspresi pengetahuan yang terkandung dalam warisan budaya batik dan mengekspresikannya dalam bentuk kontemporer. Kekayaan ini didasarkan pada hubungan mendalam dengan alam dan diwujudkan dalam ekologi artistik yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan segala bentuk kreativitas seni.

Salah satu platform yang menjadi banyak corak pilihan seniman perempuan di ARTSUBS kali ini yakni “Fotografi dan cetak grafis” dimana keduanya beroleh tempat penting, bukan sebagai arus utama, namun sekadar tambahan—jika dibandingkan dengan seni lukis. Tentu saja, sejak awal kemunculannya, fotografi diakui sebagai karya seni. Para seniman tersebut di antaranya: Arum Dayu, Cecil Mariani, Etza Meisyara dan Utami Dewi.

Pada karya berjuluk “Dragons Praying To Be Dove: A Spliting Self-Portrait as The Great Grandmother” (2024), Cecil Mariani menyertakan paduan karya berupa cetak gumoil dan lembar kerja berbentuk film yang disajikan dalam kotak lampu (neon box). Ini adalah model reproduksi karya dalam seni grafis. Lembar kerja berbentuk film, secara teknis menjadi awal, menuju suatu hasil karya seni cetak, sebagaimana sketsa menjadi gagasan awal sebelum menjelma jadi lukisan.  Secara filosofis, saya melihat karya Cecil ingin menyampaikan self-potrait dirinya dan leluhur, seperti yang ia paparkan untuk memberi tempat, agar jejak awal tidak hilang, terbuang. Justru dengan begitu ia dapat berdiri sendiri, bahkan saling menguatkan dengan jejak akhirnya.

Etza Meisyara sebagai seniman intermedia, mencoba menjelajahi kesalingterhubungan manusia, alam dan teknologi. Pada karya “Muted Landscape #1” (2023) berupa foto etsa dan patina pada pelat kuningan. Baginya, logam bukan sekadar media, melainkan penanda hubungan antara yang fisik dan yang metafisik, antara kekuatan alamiah dan respons artistik. Melalui logam, ia menciptakan ruang sonik ketika suara dapat hadir dalam wujud materialnya yang paling kasar sekaligus halus.

Beyond My Wildest Dream (2024) karya Zeta Ranniry Abidin | Foto: Selvi Agnesia

Berikutnya, Ayu Arista Murti satu-satunya seniman yang bermain di platform “Arus Pop” Pada karya “Camoflouge #02 – #03” (2024) dengan material plastik daur ulang, resin, akrilik pada papan PVC. Ayu selalu mengambil tema personal yang beririsan dengan kondisi sosial. Ia adalah seniman yang punya perhatian besar pada isu-isu lingkungan hidup, peran penting perempuan, dan bagaimana manusia bertahan dan keluar dari situasi sulit. Karya-karyanya menggunakan beragam bahan dengan warna-warna cerah demi mencapai kualitas lukisan abstrak yang sedap dipandang mata.

Adapun perupa perempuan yang beririsan pada platform “materialitas dan terobosan medium”  yaitu Cecilia Patricia Untario, Faelerie dan Theresia Agustina Sitompul.  Pada instalasi karya “Kelahiran Kembali” (2024), Theresia berkolaborasi dengan Pable Indonesia untuk membuat karya grafis dengan bahan material kain, border dan drypoint.

“Saya tertarik karena mereka punya made to be again. Jadi kayak solusi yang berkelanjutan mereka menjadi sampah sebagai bahan baku, mengelola limbah tekstil menjadi produk baru lagi” jelas There dalam wawancaranya melalui laman instagram ARTSUBS. 

“Bloody Rhythm” karya Faelerie dalam ARTSUBS 2024 menampilkan sebentang “kain” yang menggambarkan bayangan tubuh-tubuh manusia, sepenuhnya berwarna merah. Di situ, hanya tangan-tangan dan kaki-kaki yang terlihat gamblang. Melalui teknik seni rajut dan bahan poliester, Faelerie ingin menghadirkan gambaran setengah abstrak yang merepresentasikan kerapuhan tubuh manusia.

Eunike Nugroho, satu-satunya seniman yang terpilih mewakili karya dengan platform “Jangkauan Ekologi.” Seniman yang mendirikan Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) menampilkan kembali alam tumbuhan di atas kanvas dan kertas, gambar-gambar botani Eunike Nugroho hadir dengan rupa yang teliti dan terperinci. Dengan itu ia berharap karyanya dapat memberi suara bagi makhluk yang bisu, tetapi teramat penting bagi kehidupan.

Pada platform “Kesosokan Baru” dimana manusia menegakkan citra dirinya sebagai makhluk berjiwa, atau wujud spiritual. Maka seni rupa kontemporer memberi kita puing-puing jiwa yang menggapai masa lalu, raga masa kini yang tidak punya sejarah, hingga roman muka yang terlalu lekas terdampar ke masa depan. Itulah sosok-sosok kita—di dunia nyata dan dunia maya, yang entah apa lagi bedanya.

Selaras dengan platform tersebut, Maharani Mancanagara  membawakan karya dari seri testimonial objects “sebagai seri lukisan sebelumnya. 

“Bagaimana saya melihat lukisan-lukisan based relief di Eropa menjadi diterapkan di Indonesia, seperti apa dan bagaimana setiap benda memiliki makna-makna tersendiri” ungkap Rani.  Yang menarik dari karya-karya Rani, secara teknik Ia bukan hanya menggrafis, tetapi juga menggambar, melukis dan membangun instalasi di atas permukaan kayu.

Dragons Praying To Be Dove” A Spliting Self-Portrait as The Great Grandmother (2024) karya Cecil Mariani | Foto: Selvi Agnesia

Bila Rani mengangkat objek kesosokan baru dalam konteks sejarah. Lukisan Zeta Ranniry Abidin mengambil objek dirinya sendiri. Lukisan seniman asal Surabaya ini mendekati realisme fotografis dibaurkan dengan benda-benda lain dalam pelbagai posisi dan sudut pandang. Atau, ia memasukkan ikon-ikon budaya populer Korea yang membuat lukisan-lukisannya dekat dengan anak-anak muda.

Selanjutnya, dalam konteks seni rupa kontemporer, abstraksi menawarkan alternatif yang lebih luas dibandingkan abstrak murni, tanpa terikat pada pencarian esensi tunggal. Tanpa orientasi menuju satu esensi, abstraksi dalam seni rupa kontemporer memberikan berbagai

kemungkinan gaya. Serupa lukisan Ni Nyoman Sani  berjudul “The Currents” (2024) berwujud kanvas putih besar dengan titik-titik yang saling berkaitan. Yang ketika dilihat dari perspektif yang berbeda terlihat kesan pola-pola yang dibentuk menyerupai pola alam. Bisa jadi aliran laut, awan, bulir padi atau tiruan alam lainnya.

“Gagasan karya saya masih ada hubungannya dengan Tranquility, jadi ada seri di UOB yang sekarang tema nya saya ambil dari arus atau The Current ungkap perupa kelahiran Sanur, Bali. Ia menjelaskan bahwa dengan tema Ways of Dreaming, membuat dirinya bisa menjelajah dengan bebas, selain ARTSUBS menurutnya menjadi roda pintu pertama dan menjadi pembuka di Surabaya untuk menjadi tonggak sejarah untuk event-event seni rupa selanjutnya. 

Adapun platformdari seniman perempuan lain, selain yang dipaparkan di atas diantaranya: Dea Widya yang fokus pada aspek-aspek sejarah, produksi spasial, ingatan dan naratif dalam platform Irisan Arsitektur, Dewi Fortuna Maharani pada lanskap kontemporer melalui pemandangan yang tergambar dalam lukisan “Folding into Repeat” yang dibingkai melalui foto, ketika dirinya berhadapan dengan lanskap lautan beberapa tahun silam.

Mia Diwasasri sebagai platform “Objek Kebendaan” dengan melukis di atas keramik. Juga Nunung W.S. perupa abstrak senior yang karya abstraknya  mahir memanfaatkan aneka warna untuk menciptakan karya yang beresonansi dengan alam bawah sadar, mencerminkan mimpi dan emosi.

“Wanita Karir” karya Mangku Muriati | Foto: Selvi Agnesia

Pemetaan dalam skala lebih mikro pada karya-karya seniman perempuan ARTSUBS ini, hanya upaya kecil saya untuk menulis lebih mikro dan spesifik. Namun, yang esensial bagi saya adalah mengamati bagaimana seniman perempuan—secara jujur—memandang di dalam dan di luar dirinya melalui tema Ways of Dream, juga bekal pemikiran, pengetahun dan ekspresi terbuka mereka menerima modernitas dalam dinamika wacana seni rupa kontemporer.

Meskipun hanya ada sekitar 19 seniman dari 150 seniman yang menunjukan keterlibatan perupa perempuan yang sangat minim. Sehingga tidak mengherankan bila sosok perempuan akan melalui jalan yang cukup sulit untuk dapat terbaca dalam pemetaan dan percaturan juga pasar dunia seni rupa Indonesia, tetapi ARTSUBS menjadi salah satu letupan baru yang membuka jalan tersebut. Aneka mimpi untuk dibaca dan menumbuhkan ekosistem baru di ranah percaturan seni rupa kontemporer Indonesia, juga di perhelatan ARTSUBS selanjutnya. Semoga! [T]

BACA artikel lain dari penulis SELVI AGNESIA

Pulang dan Rumah untuk Hanafi – Catatan Pameran “Coming Home” di Ubud
Festival Panen “Ki’lomaan” di Taiwan Timur – Kepulangan dan Kebangkitan Budaya Amis
Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek
Tags: pameran seniPameran Seni RupaPerempuanSeni RupaSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman

Next Post

Eksplorasi Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Suwat Waterfall

Selvi Agnesia

Selvi Agnesia

Penulis seni budaya bermukim di Yogyakarta

Related Posts

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails

Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

by I Wayan Westa
February 22, 2026
0
Rush to Paradise: Tumbal Menuju “Surga”

INI mobil kayu, mirip Ferrari, kendaraan tercepat di lintas darat. Dipajang di Labyrinth Art  Galleri Nuanu, Tabanan. Di ruang pameran...

Read moreDetails

Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

by Agung Bawantara
February 19, 2026
0
Ombak, Ingatan, dan Pantai yang Dipertaruhkan — Catatan dari Pameran ‘Magic in The Waves’ Made Bagus Irawan

Pameran Foto MAGIC IN THE WAVEFotografer : Made Bagus IrawanKurator : Ni Komang ErvianiProduser : Rofiqi HasanPameran. : 18 –...

Read moreDetails

Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

by Made Chandra
February 9, 2026
0
Grafis yang Melentur: Menerka Praktik Berkesenian Seorang Kadek Dwi

APA yang tebersit ketika kita membayangkan kata grafis dalam kacamata kesenian hari ini? Bagaimana posisinya, atau bahkan eksistensinya, di era...

Read moreDetails

Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

by Rasman Maulana
February 6, 2026
0
Menabur Ketabahan: Membaca “Tabur Tabah” Karya Derry Aderialtha Sembiring

SUNGGUH menarik melihat “Tabur Tabah” karya Derry Aderialtha Sembiring di pameran seni rupa “Pulang ke Palung”—Denpasar, 24 Desember 2025 sampai...

Read moreDetails

Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

by Hartanto
February 3, 2026
0
Fajar dan Rekonstruksi Prambanan

PADA tahun 1995, saya bersama wartawan majalah TEMPO, Putu Wirata -  menghadiri, atau tepatnya meliput Upacara Tawur Kesanga Hari Raya...

Read moreDetails

Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

by Made Chandra
February 2, 2026
0
Mengurai Ke-Aku-An Seorang Wayan Suja : Catatan pinggir dari kacamata Gen-z dalam membaca relasi otonom-heteronom seorang seniman Gen-X

MENDENGAR adalah kegiatan tersulit yang sanggup untuk dilakoni oleh seorang seniman. Gurauan tentang bagaimana seniman adalah kegilaan yang diciptakan oleh...

Read moreDetails

Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

by Vincent Chandra
January 30, 2026
0
Print-Mapping: Decolonial Axis — a Solo exhibition by Agung Pramana

“Ne visitez pas I’Exposition Coloniale! (Jangan kunjungi Pameran Kolonial!)”, begitu desak kelompok seniman surealis Prancis melalui selebaran-selebaran yang mereka bagikan...

Read moreDetails

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

by Angelique Maria Cuaca
January 12, 2026
0
Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

BAGAIMANA membangunkan kembali pengetahuan yang tertidur—cerita yang tertinggal di lidah, ingatan bunyi yang mulai hilang bentuknya, catatan perjalanan yang tersisa...

Read moreDetails
Next Post
Eksplorasi Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Suwat Waterfall

Eksplorasi Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Suwat Waterfall

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co