3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Festival Panen “Ki’lomaan” di Taiwan Timur – Kepulangan dan Kebangkitan Budaya Amis

Selvi Agnesia by Selvi Agnesia
July 26, 2019
in Tualang
Festival Panen “Ki’lomaan” di Taiwan Timur – Kepulangan dan Kebangkitan Budaya Amis

Ritual festival panen tahunan yang disebut “Ki’lomaan" di Taiwan Timur. [Foto: Ratu Selvi Agnesia]

Lapangan besar di Desa Atolan, Donghe, Taitung, diisi lingkaran besar manusia. Saya terpukau menyaksikan hampir seluruh masyarakat Suku Amis menari dan menyanyi bersamaan. Mereka melakukan gerakan langkah kaki dan senandung nyanyian yang dilakukan sama persis satu sama lain, juga terus dilakukan berulang-ulang bersama tangan yang saling bergandengan.

Malikuda adalah sebutan tarian yang dilakukan bersamaan semua golongan. Berawal dari lingkaran kecil golongan tua di Suku Amis hingga golongan yang paling muda. Mereka membawakan  tarian dan nyanyian yang saling sambung menyambung membentuk lingkaran spiral yang terus membesar menjadi energi kebersamaan.  

Itulah sekilas pemandangan ritual festival panen tahunan yang disebut  “Ki’lomaan”. Dalam bahasa Amis, Ki’lomaan bermakna “Rumah”. Ritual tersebut berlangsung selama tiga hari pada 15-17 Juli 2019 di Desa Atolan, Donghe, Taitung, Taiwan Timur.

Menurut data arsip dari Digital Museum of Taiwan Indigineous People, Suku Amis adalah kelompok etnis terbesar di antara penduduk asli Taiwan. Dalam bahasa Amis, kata Amis berarti utara (manusia dari utara) untuk menyebutkan leluhur mereka yang berasal dari utara.  Dari 16 suku asli (aboriginal) yang diakui di Taiwan, lebih dari 37 % mayoritas suku asli Taiwan ditempati oleh Suku Amis sebagai jumlah terbesar di antara suku lain.

Suku Amis telah mengembangkan berbagai langkah dan lagu tarian yang terlihat sederhana namun sebenarnya mengandung berbagai simbol makna budaya. Dalam pertunjukan musik polifonik Amis, menari dan menyanyi selalu digabungkan bersama dan memiliki implikasi ritual, juga sebagai fungsi pelatihan fisik untuk membangun solidaritas. Langkah-langkah tarian mereka sebagian besar terkait dengan tanah, perempuan, pertanian, memancing, dan berburu.

Saya tertarik mengenal Suku Amis lebih jauh saat berbincang dengan Alik Nikar, salah seorang antropolog dan dosen dari National Taiwan University. Kami bertemu dan berbincang di rumah Mbak Mini, salah seorang Pekerja Migran Indonesia asal Indramayu yang membantu memasak selama festival untuk kelompok remaja suku Amis.

Alik telah meneliti masyarakat Amis lebih dari belasan tahun, begitu intimnya dia terlibat bersama masyarakat hingga diberikan nama dalam bahasa Amis.

Dalam ritual festival panen tahunan suku Amis sebagai bagian penelitian disertasinya. Menurut Alik, hal paling menarik dari ritual tersebut adalah sistem hirarki  dan pengaturan usia.

Di suku Amis terdapat organisasi yang mengatur hirarki usia untuk memimpin aktivitas komunitas tradisional suku Amis dipimpin oleh Kakita’an sebagai kepala suku. Dalam organisasi usia ini, para tetua diberkahi dengan kekuatan politik oleh masyarakat. Dapat dikatakan bahwa Amis adalah masyarakat yang menghormati tetua.

Ketika seorang anak mencapai usia delapan hingga dua belas tahun, mereka terdaftar dalam kelompok pertama di organisasi yang mengatur usia. Setiap kelompok usia juga mempunyai nama dari yang termuda hingga yang tertua.


[Foto: Ratu Selvi Agnesia]

Tiga sistem penamaan dasar ini mengacu pada nama warisan, nama kreatif yang dibuat oleh kelompok masing-masing, dan campuran dari kedua nama ini.  Seperti beberapa nama kelompok yang pentas pada festival ini, antara lain Ladatong, Laliwiy, Lacingsi, Lakanca, Lakayakay, Lakangcin dan Kaying.  Selain menari bersama, setiap kelompok  juga membawakan tarian masing-masing berdasarkan koreografi kelompoknya untuk para tetua, disaksikan masyarakat sekitar juga turis asing.

Dengan kata lain, Ki’lomaan sebagai Festival Panen tahunan menjadi salah  satu  wadah untuk mengamati seberapa ketat organisasi yang mengatur usia. Setiap kelompok dengan kostum-kostum yang mencolok ini juga turut menari dan menyanyi untuk menghibur dan menghormati para tetua. Melalui sistem usia inilah, budaya Amis dapat terus diwariskan, sekaligus mereka terbuka dengan suku lain yang menikah dengan orang Amis untuk masuk organisasi usia tersebut. Di luar acara Kilo’maan, anggota dalam kelompok atau satu generasi usia yang sama adalah teman baik yang saling membantu dan menolong.

Migrasi, Kepulangan dan Kebangkitan Budaya

Penyebaran migrasi dan geografis Suku Amis menyebar ke hampir seluruh wilayah Taiwan. Oleh sebab itu, di setiap pertengahan tahun inilah acara Kilo’maan berlangsung di berbagai wilayah.

Suku Amis menjadi salah satu perwakilan dari masyarakat asli Taiwan dalam simbol bentuk artistik menari dan menyanyi. Banyak tujuan wisata di perkampungan suku asli Taiwan menawarkan tarian dan nyanyian Amis sebagai atraksi mereka. Lebih lanjut, di balik atraksi  tarian dan nyanyian tradisional yang dilakukan secara serempak tersebut mengandung simbol identitas, solidaritas, penghormatan pada tetua dan kebersamaan.

Fungsi tarian dan nyanyian tersebut untuk mengikatkan kembali silaturahmi dan menghidupkan desa yang sudah satu tahun mereka tinggalkan.

“Setiap tahun, acara ini seperti memanggil kembali orang-orang Amis yang merantau ke kota besar” ucap Suming, salah seorang musisi yang berasal dari Suku Amis yang turut menggagas Amis Music Festival.

Suming menceritakan bahwa banyak anak-anak dari Suku Amis yang merantau ke kota-kota besar untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja.


[Foto: Ratu Selvi Agnesia]

Pada saat ini, migrasi suku Amis disebabkan oleh alasan ekonomi, namun sejarah migrasi suku Amis disebabkan banyak faktor dan berlangsung sejak lama. Dimulai dari konflik domestik dan ancaman antar suku, perpindahan sejumlah imigran China ke daerah Hualien dan Taitung, hingga tahun 1960-a ketika perkembangan industri perikanan meningkat, banyak dari pelaut Amis yang meninggalkan jaring nelayan dan bekerja di lokasi konstruksi atau pembangunan.

Seperti suku asli Taiwan lainnya, suku Amis memiliki sistem pemerintahan berskala kecil tetapi mandiri. Saat ini, sistem tersebut telah berintegrasi dengan sistem politik yang lebih besar. Terutama setelah masuknya imigran dan pemerintahan Kuomintang, Tiongkok yang pernah berkuasa dan bersikaf represif. Akibatnya, keberadaan suku-suku asli Taiwan semakin tersingkir dan menderita “Stigma Identitas”.

Selain gerakan-gerakan politik dan sosial yang saat ini semakin marak dilakukan, banyak seniman Amis yang menjadi lebih aktif dan ingin mengekspresikan diri mereka setelah ditekan begitu lama. Energi budaya yang dihasilkan oleh seniman Amis, bersama dengan penyebaran gerakan sosial dan politik, telah membawa efek signifikan, terutama yang berkaitan dengan identitas budaya.

Semakin banyak orang Amis telah memutuskan untuk mengganti nama Cina mereka dengan nama Amis dalam beberapa tahun terakhir. Mereka juga mulai berani menunjukan identitas mereka dalam bentuk pertunjukan tarian, nyanyian, menggiatkan kembali bahasa Amis, kuliner khas suku Amis, juga memulihkan sistem pengaturan usia.

Seluruh elemen budaya Amis dapat terlihat jelas di Ki’lomaan. Oleh sebab itu, setiap tahun, masyarakat suku Amis yang merantau ke berbagai kota besar kembali ke kampungnya untuk merayakan Festival Panen Tahunan “Ki’lomaan” sebagai simbol kebangkitan identitas budaya. [T]

Tags: festivalfestival panenritualTaitungtaiwanTaiwan Timur
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak Kita & HIV

Next Post

Pameran Lukisan “@rtquarelle” dari Seniman Cat Air Lintas Negara di Nusa Dua

Selvi Agnesia

Selvi Agnesia

Penulis seni budaya bermukim di Yogyakarta

Related Posts

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails

Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

by Ahmad Sihabudin
July 27, 2026
0
Mencari Rasa di Ranah Minang: Negeri yang Berbicara Lewat Masakan

"Perjalanan yang baik bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu kota ke kota lain. Ia memindahkan cara pandang kita terhadap kehidupan."...

Read moreDetails

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Lukisan “@rtquarelle” dari Seniman Cat Air Lintas Negara di Nusa Dua

Pameran Lukisan “@rtquarelle” dari Seniman Cat Air Lintas Negara di Nusa Dua

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co