22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar

Selvi Agnesia by Selvi Agnesia
November 18, 2024
in Ulas Rupa
ARTSUBS: Seniman, Platform dan Pasar

Beyond My Wildest Dream (2024) karya Zeta Ranniry Abidin | Foto: Selvi Agnesia

BANGUNAN historis bekas kantor pos Surabaya berbentuk aula terbuka dua lantai disulap menjadi ruang pamer dengan menggunakan skala kursale—ruangan  seluas 3900 meter persegi untuk satu pameran besar—bisa dibayangkan besarnya biaya dan kerja keras art handling memasang banyak panel putih untuk display karya, memasang banyak air conditioner (AC), juga memperbaiki ubin rusak yang terlihat jelas dari tambalan di lantai.

Untuk saya pribadi, idealnya membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk menikmati sekitar 200 karya dari 154 seniman—dengan cara melihat sepintas dan tidak banyak berfoto seperti pengunjung lain— untuk perhelatan seni rupa berskala nasional berjuluk ARTSUBS yang baru pertama kali digelar di Surabaya pada 26 Oktober-24 November 2024 di Pos Bloc, daerah Kebon Rojo, Kembangan Selatan.

Perhelatan ARTSUBS mengambil tema “Ways of Dreaming” atau diartikan “aneka jalan mimpi.” Makna mimpi tersebut, ungkap Nirwan Dewanto sebagai kurator pameran dalam wawancara di laman ARTSUBS bahwa bermimpi yang dimaksud adalah mimpi tentang lanskap seni rupa kontemporer yang lebih meriah dan lebih dari itu mendekatkan seni rupa kepada publik atau publik ke seni rupa.

Terutama ketika kita menengok infrastuktur ruang seni di Indonesia dengan museum seni rupa yang belum berjalan baik dan masih sangat sedikit. Nirwan menyakini bila pameran-pameran besar merupakan sebuah jawaban atas kelangkaan tersebut, karya-karya seni rupa itu adalah cara kita berimajinasi atau bermimpi tentang realitas masa kini dan masa depan.

Selain itu, dreaming dimaknai Nirwan sebagai mimpi dan harapan bahwa kegiatan seni rupa tidak hanya berlangsung secara sentral di Yogyakarta, Jakarta, Bali atau Bandung tetapi juga munculnya lokasi-lokasi baru dan situs-situs baru seni rupa kontemporer, dalam hal ini Surabaya. Seperti event serupa Art Fair yang dikenal seperti ARTJOG, Art Jak, Biennale Jogja, waktunya Surabaya sebagai kota terbesar kedua di Indonesia unjuk gigi melalui ARTSUBS.

“Bila tema ARTSUBS 2024 ini adalah Ways of Dreaming, maka kami ingin mengatakan bahwa karya-karya seni adalah berbagai cara mimpi, refleksi, fantasi dan imajinasi, baik secara pribadi dan sosial, tentang berbagai masa kini dan masa depan. Berbagai cara untuk lebih inovatif dalam berbagai bidang kehidupan.” Ungkap Rambat, pengelola Jagad Gallery yang berperan sebagai penggagas dan direktur utama ARTSUBS.

“The Currents” karya Ni Nyoman Sani | Foto: Selvi Agnesia

Lebih lanjut, kurator dan art director asal Bandung, Asmudjo J.Irianto melalui wawancara  di media sosial ARTSUBS memaparkan bahwa ARTSUBS digagas sebagai pameran besar yang mengandung karakter yang bisa disebut sebagai artist fair, berbeda dengan art fair yang umumnya berisi galeri-galeri.

Para seniman diundang langsung untuk memeriahkan ARTSUBS yang didalamnya mengandung gagasan artist fair sebagai pengembangan seni rupa dalam pasar (market) dengan karakter biennale yang mengandung semacam refleksi melihat perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia. Melalui karakter biennale, ada semacam diskursus atau edukasi yang akan dibagi ke publik. Selain secara khusus untuk penyampaian informasi dipresentasikan dengan baik kepada audience, melalui wall teks dan biodata pada setiap karya. Selain itu terdapat kegiatan komplemen  lain seperti diskusi, artist talk, galeri tour, workshop dan curatorial talk.

Karya-karya di ARTSUBS 2024 terbagi ke dalam 11 (sebelas) lingkup gelaran (platform), semuanya untuk menggarisbawahi upaya pemetaan seni rupa kontemporer Indonesia dalam perkembangannya yang paling kini di antaranya: (1) lanskap kontemporer; (2) pasca-tradisi dan pasca-orientalisme; (3) materialitas dan terobosan medium; (4) arus pop dan low brow; (5) objek dan kebendaan; (6) irisan arsitektur; (7) abstraksi dan selebihnya (8) kesosokan baru; (9) fotografi dan cetak grafis, (10) jangkauan ekologi; dan (11) kolektif seni.

“Karya seniman ini kan beragam, jadi kita mappingnya dari mulai karya otonom, lalu partisipatoris, kolaboratif kemudian kolektif ada mappingnya dengan berbagai keragaman di masing-masing kategori” jelas Asmudjo.

Seniman Perempuan dalam Wacana Platform ARTSUBS

Dengan mengacu pada 11 platform tersebut, saya mencoba secara sederhana melakukan pembacaan dengan skala lebih mikro terhadap karya-karya seniman perempuan. Pada sosok 19 seniman dari 154 seniman yang terlibat di ARTSUBS, karya-karya mereka meliputi 10 platform—tidak termasuk platform kolektif seni— yang pasti, menurut Nirwan bahwa “seniman-seniman yang telah terpilih adalah mereka yang sudah punya reputasi tinggi (established), yang sedang tumbuh pesat (emerging) dan yang mulai meraih reputasi (emerging-established), maupun yang pendatang baru.”

Dimulai dari lukisan Mangku Muriati, Lini Natalini dan instalasi pasangan Agus Ismoyo dan Nia Fliam yang merujuk pada platform “Pasca Tradisi-Pasca Orientalisme.”

Menilik lukisan Mangku Muriati, saya terpesona dengan detail dari teknik gaya Kamasan, sebagai gaya lukisan tradisional Bali sejak abad ke-16. Puteri dari Mangku Mura, maestro lukisan Kamasan ini mencoba menyesuaikan gaya Kamasan dengan isu-isu terkini. Tilikan tersebut terlihat dari lukisan kisah Mahabharata berjudul “Sudamala” putera bungsu Pandawa, bersanding dengan salah satunya lukisan berjudul “Wanita Karir.” Sebuah upaya meneruskan warisan leluhur dan beradaptasi dengan fenomena zaman.

Allegory of Cornucopia, karya Maharani Mancanagara | Foto: Selvi Agnesia

Sedikit berbeda dengan karya Lini Natalini Widhiasi dari segi konsep dan media. Dalam corak abstrak figuratif, perupa asal Surabaya ini menggunakan pelat aluminium sebagai bahan dasar. Dalam karya “Resilience” (2024) Lini memperlakukan aluminium dengan berbagai teknik seperti menoreh, memukul, melipat dan teknik lainnya sehingga menjadi bentuk trimatra yang baru.

Sedangkan melalui karya instalasi Agus Ismoyo x Nia Fliam, dijelaskan dalam pengantar karya bahwa mereka berupaya membaca teks visual batik tradisional Jawa yang merupakan ekspresi pengetahuan yang terkandung dalam warisan budaya batik dan mengekspresikannya dalam bentuk kontemporer. Kekayaan ini didasarkan pada hubungan mendalam dengan alam dan diwujudkan dalam ekologi artistik yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan segala bentuk kreativitas seni.

Salah satu platform yang menjadi banyak corak pilihan seniman perempuan di ARTSUBS kali ini yakni “Fotografi dan cetak grafis” dimana keduanya beroleh tempat penting, bukan sebagai arus utama, namun sekadar tambahan—jika dibandingkan dengan seni lukis. Tentu saja, sejak awal kemunculannya, fotografi diakui sebagai karya seni. Para seniman tersebut di antaranya: Arum Dayu, Cecil Mariani, Etza Meisyara dan Utami Dewi.

Pada karya berjuluk “Dragons Praying To Be Dove: A Spliting Self-Portrait as The Great Grandmother” (2024), Cecil Mariani menyertakan paduan karya berupa cetak gumoil dan lembar kerja berbentuk film yang disajikan dalam kotak lampu (neon box). Ini adalah model reproduksi karya dalam seni grafis. Lembar kerja berbentuk film, secara teknis menjadi awal, menuju suatu hasil karya seni cetak, sebagaimana sketsa menjadi gagasan awal sebelum menjelma jadi lukisan.  Secara filosofis, saya melihat karya Cecil ingin menyampaikan self-potrait dirinya dan leluhur, seperti yang ia paparkan untuk memberi tempat, agar jejak awal tidak hilang, terbuang. Justru dengan begitu ia dapat berdiri sendiri, bahkan saling menguatkan dengan jejak akhirnya.

Etza Meisyara sebagai seniman intermedia, mencoba menjelajahi kesalingterhubungan manusia, alam dan teknologi. Pada karya “Muted Landscape #1” (2023) berupa foto etsa dan patina pada pelat kuningan. Baginya, logam bukan sekadar media, melainkan penanda hubungan antara yang fisik dan yang metafisik, antara kekuatan alamiah dan respons artistik. Melalui logam, ia menciptakan ruang sonik ketika suara dapat hadir dalam wujud materialnya yang paling kasar sekaligus halus.

Beyond My Wildest Dream (2024) karya Zeta Ranniry Abidin | Foto: Selvi Agnesia

Berikutnya, Ayu Arista Murti satu-satunya seniman yang bermain di platform “Arus Pop” Pada karya “Camoflouge #02 – #03” (2024) dengan material plastik daur ulang, resin, akrilik pada papan PVC. Ayu selalu mengambil tema personal yang beririsan dengan kondisi sosial. Ia adalah seniman yang punya perhatian besar pada isu-isu lingkungan hidup, peran penting perempuan, dan bagaimana manusia bertahan dan keluar dari situasi sulit. Karya-karyanya menggunakan beragam bahan dengan warna-warna cerah demi mencapai kualitas lukisan abstrak yang sedap dipandang mata.

Adapun perupa perempuan yang beririsan pada platform “materialitas dan terobosan medium”  yaitu Cecilia Patricia Untario, Faelerie dan Theresia Agustina Sitompul.  Pada instalasi karya “Kelahiran Kembali” (2024), Theresia berkolaborasi dengan Pable Indonesia untuk membuat karya grafis dengan bahan material kain, border dan drypoint.

“Saya tertarik karena mereka punya made to be again. Jadi kayak solusi yang berkelanjutan mereka menjadi sampah sebagai bahan baku, mengelola limbah tekstil menjadi produk baru lagi” jelas There dalam wawancaranya melalui laman instagram ARTSUBS. 

“Bloody Rhythm” karya Faelerie dalam ARTSUBS 2024 menampilkan sebentang “kain” yang menggambarkan bayangan tubuh-tubuh manusia, sepenuhnya berwarna merah. Di situ, hanya tangan-tangan dan kaki-kaki yang terlihat gamblang. Melalui teknik seni rajut dan bahan poliester, Faelerie ingin menghadirkan gambaran setengah abstrak yang merepresentasikan kerapuhan tubuh manusia.

Eunike Nugroho, satu-satunya seniman yang terpilih mewakili karya dengan platform “Jangkauan Ekologi.” Seniman yang mendirikan Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) menampilkan kembali alam tumbuhan di atas kanvas dan kertas, gambar-gambar botani Eunike Nugroho hadir dengan rupa yang teliti dan terperinci. Dengan itu ia berharap karyanya dapat memberi suara bagi makhluk yang bisu, tetapi teramat penting bagi kehidupan.

Pada platform “Kesosokan Baru” dimana manusia menegakkan citra dirinya sebagai makhluk berjiwa, atau wujud spiritual. Maka seni rupa kontemporer memberi kita puing-puing jiwa yang menggapai masa lalu, raga masa kini yang tidak punya sejarah, hingga roman muka yang terlalu lekas terdampar ke masa depan. Itulah sosok-sosok kita—di dunia nyata dan dunia maya, yang entah apa lagi bedanya.

Selaras dengan platform tersebut, Maharani Mancanagara  membawakan karya dari seri testimonial objects “sebagai seri lukisan sebelumnya. 

“Bagaimana saya melihat lukisan-lukisan based relief di Eropa menjadi diterapkan di Indonesia, seperti apa dan bagaimana setiap benda memiliki makna-makna tersendiri” ungkap Rani.  Yang menarik dari karya-karya Rani, secara teknik Ia bukan hanya menggrafis, tetapi juga menggambar, melukis dan membangun instalasi di atas permukaan kayu.

Dragons Praying To Be Dove” A Spliting Self-Portrait as The Great Grandmother (2024) karya Cecil Mariani | Foto: Selvi Agnesia

Bila Rani mengangkat objek kesosokan baru dalam konteks sejarah. Lukisan Zeta Ranniry Abidin mengambil objek dirinya sendiri. Lukisan seniman asal Surabaya ini mendekati realisme fotografis dibaurkan dengan benda-benda lain dalam pelbagai posisi dan sudut pandang. Atau, ia memasukkan ikon-ikon budaya populer Korea yang membuat lukisan-lukisannya dekat dengan anak-anak muda.

Selanjutnya, dalam konteks seni rupa kontemporer, abstraksi menawarkan alternatif yang lebih luas dibandingkan abstrak murni, tanpa terikat pada pencarian esensi tunggal. Tanpa orientasi menuju satu esensi, abstraksi dalam seni rupa kontemporer memberikan berbagai

kemungkinan gaya. Serupa lukisan Ni Nyoman Sani  berjudul “The Currents” (2024) berwujud kanvas putih besar dengan titik-titik yang saling berkaitan. Yang ketika dilihat dari perspektif yang berbeda terlihat kesan pola-pola yang dibentuk menyerupai pola alam. Bisa jadi aliran laut, awan, bulir padi atau tiruan alam lainnya.

“Gagasan karya saya masih ada hubungannya dengan Tranquility, jadi ada seri di UOB yang sekarang tema nya saya ambil dari arus atau The Current ungkap perupa kelahiran Sanur, Bali. Ia menjelaskan bahwa dengan tema Ways of Dreaming, membuat dirinya bisa menjelajah dengan bebas, selain ARTSUBS menurutnya menjadi roda pintu pertama dan menjadi pembuka di Surabaya untuk menjadi tonggak sejarah untuk event-event seni rupa selanjutnya. 

Adapun platformdari seniman perempuan lain, selain yang dipaparkan di atas diantaranya: Dea Widya yang fokus pada aspek-aspek sejarah, produksi spasial, ingatan dan naratif dalam platform Irisan Arsitektur, Dewi Fortuna Maharani pada lanskap kontemporer melalui pemandangan yang tergambar dalam lukisan “Folding into Repeat” yang dibingkai melalui foto, ketika dirinya berhadapan dengan lanskap lautan beberapa tahun silam.

Mia Diwasasri sebagai platform “Objek Kebendaan” dengan melukis di atas keramik. Juga Nunung W.S. perupa abstrak senior yang karya abstraknya  mahir memanfaatkan aneka warna untuk menciptakan karya yang beresonansi dengan alam bawah sadar, mencerminkan mimpi dan emosi.

“Wanita Karir” karya Mangku Muriati | Foto: Selvi Agnesia

Pemetaan dalam skala lebih mikro pada karya-karya seniman perempuan ARTSUBS ini, hanya upaya kecil saya untuk menulis lebih mikro dan spesifik. Namun, yang esensial bagi saya adalah mengamati bagaimana seniman perempuan—secara jujur—memandang di dalam dan di luar dirinya melalui tema Ways of Dream, juga bekal pemikiran, pengetahun dan ekspresi terbuka mereka menerima modernitas dalam dinamika wacana seni rupa kontemporer.

Meskipun hanya ada sekitar 19 seniman dari 150 seniman yang menunjukan keterlibatan perupa perempuan yang sangat minim. Sehingga tidak mengherankan bila sosok perempuan akan melalui jalan yang cukup sulit untuk dapat terbaca dalam pemetaan dan percaturan juga pasar dunia seni rupa Indonesia, tetapi ARTSUBS menjadi salah satu letupan baru yang membuka jalan tersebut. Aneka mimpi untuk dibaca dan menumbuhkan ekosistem baru di ranah percaturan seni rupa kontemporer Indonesia, juga di perhelatan ARTSUBS selanjutnya. Semoga! [T]

BACA artikel lain dari penulis SELVI AGNESIA

Pulang dan Rumah untuk Hanafi – Catatan Pameran “Coming Home” di Ubud
Festival Panen “Ki’lomaan” di Taiwan Timur – Kepulangan dan Kebangkitan Budaya Amis
Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek
Tags: pameran seniPameran Seni RupaPerempuanSeni RupaSurabaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bali Dalam Politik: Pola Kampanye Semu Calon Pejabat Publik Dilihat Dari Perspektif Dramaturgi Erving Goffman

Next Post

Eksplorasi Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Suwat Waterfall

Selvi Agnesia

Selvi Agnesia

Penulis seni budaya bermukim di Yogyakarta

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Eksplorasi Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Suwat Waterfall

Eksplorasi Pesona Keindahan Alam Tersembunyi di Suwat Waterfall

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co