1 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kelindan Mimpi dan Kenyataan: UWRF dari Mata Penulis Kemarin Sore

Arif Kurniawan by Arif Kurniawan
November 3, 2024
in Esai
Kelindan Mimpi dan Kenyataan: UWRF dari Mata Penulis Kemarin Sore

Arif Kurniawan bersama penulis emerging lain di UWRF 2024

DUA belas jam menanti penerbangan di Jakarta menuju Bengkulu membuatku termenung dan hanyut dalam pikiran: Mungkin ini semua hanya mimpi dan ketika pesawat tiba aku akan terbangun.

Jujur saja, walau kerap mengikuti sayembara cerpen dan berhasil membawa pulang medali perunggu Peksiminas XVI, adanya Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) baru kuketahui dua bulan sebelum waktu pengajuan naskah ditutup, dari seorang teman via Instagram. Alhasil, ditambah perjalanan menulis yang baru menginjak tahun ketiga, aku tidak memancang ekspektasi apa-apa. Sedari proses riset hingga penyuntingan, semua itu kuniatkan untuk mengisi waktu luang selepas menuntaskan keperluan wisuda.

Meski demikian, Tuhan selalu saja menuliskan alur yang lebih baik—mencuri ungkapan Bioy Casares, la trama celeste (plot surgawi). Tepat sebulan setelah tali toga berpindah—masa-masa ketika badai kegamangan tak bosannya menerpa—Bang Gustra Adnyana, selaku pihak UWRF, mengabarkan kalau salah satu cerpen yang kuajukan membuatku terpilih menjadi Emerging Writer tahun ini.

Tentunya, selain rasa bahagia, kebingungan memborbardir pikiranku: Secepat ini? serius langsung lolos, nih? Nanti aku harus bersikap bagaimana? Apa aku bisa diterima mereka yang sudah lebih banyak membuahkan tulisan? Namun, itu semua perlahan sirna setelah beberapa kali bincang-bincang via zoom sebelum keberangkatan. Baik pihak penyelenggara, dewan kurator, dan rekan Emerging lainnya, interaksi dengan mereka hanya memunculkan kehangatan bagiku.

Perjalanan ke Bali, selain memakan waktu panjang, menjadi pengalaman pertamaku bepergian ke luar kota seorang diri. Akibatnya, sesampainya di penginapan, penat memenuhi raga dan jiwaku. Tapi, untungnya, sambutan dan obrolan singkat dengan Bang Arif Purnama dan Bang Nanda Winar (Emerging Writer asal Padang dan Aceh), yang sampai lebih dulu, seketika memangkas rasa lelah.

Begitu juga esok paginya, perkenalan dengan Bang Ade Mulyono dan Bang Kurnia Gusti (Emerging Writer asal Tegal dan Tanggerang) menambah warna baru untuk anak muda dari daerah yang kerap disangka terletak di Kalimantan ini. Tidak berhenti sampai situ, beberapa interaksi dengan rekan Emerging perempuan (kebetulan, tahun ini gender penulis yang terpilih terbagi rata) juga memenuhi hari-hari selama di Ubud. Walau, kebanyakan guyonan dan cengcenganlah yang kudapati.

Bincang-bincang sedari sarapan sampai malam buta, yang terus bergulir hingga hari terakhir, memperluas horizon harapanku terhadap sastra. Pengalaman dari latar belakang mereka yang berbeda-beda, pandangan terhadap dunia kreatif, kesan mereka terhadap politik dan komedi dapur kesusastraan, semua obrolan itu—yang selama ini kudamba ada di kota asal—sampai bila-bila akan terus mengakar dalam batok kepala. Bisa dikatakan, di Angkatan UWRF ini, akulah si bungsu yang mengekori bayangan kesembilan kakaknya.

Selama festival, selain peluncuran antologi, ada tiga momen yang paling berkesan untukku.

I. Goenawan Mohamad: Arti Kesunyian Si Penyair Malin Kundang

Sejak para pembicara mulai diumumkan melalui media sosial UWRF, perhatianku hanya tertuju pada satu orang: GM. Dari banyaknya penyair, aku merasa begitu dekat dengan puisi-puisi GM. Entahlah … bagiku, kebisuan bisa begitu bising lewat pilihan katanya.

Goenawan Mohamad (kiri) dan saya | Foto: Dok. Arif Kurniawan

Menghadiri sesi peluncuran buku puisi dwibahasanya, Don Quixote, memandang GM begitu dekat, membuatku tidak hentinya kegirangan. Sampai sesi tanya jawab, dengan gemetar, kuberanikan diri untuk mengangkat tangan. Namun, ketika mulai berbicara, dan GM yang sejenak terkejut mengetahui kalau ada seorang pembaca muda yang terpikat, dan khatam, dengan puisi-puisinya, menyirnakan semua kecemasan.

Pak Goen, kataku, dalam puisi-puisi Anda, saya merasa bahwa kesunyian, kesepian, kemuraman, kedukaan, adalah karib-karib Anda. Tapi, entah bagaimana, itu semua juga memikat saya. Jadi, pertanyaan saya, apa kesunyian bagi Anda?

Tepat setelah mengembalikan pelantang suara, hanya rasa senang yang kuketahui, mungkin aku juga lupa untuk berhenti tersenyum sepanjang sesi.

Pertama, mulainya, saya mau berterima kasih karena sudah membaca tulisan-tulisan saya. Jarang ada anak generasi saat ini yang terhubung dengan karya saya. Mendengar ini, makin berlipat-lipatlah kegiranganku. Setelah itu, GM menjelaskan bahwa ia tidak pernah memutuskan sejak awal akan jadi seperti apa puisinya. Puisinyalah yang menjadi, membentuk, dirinya sendiri. Tapi, kemudian, ia berpendapat kalau kesunyian amat diperlukan, apa lagi di tengah kebisingan kini hari yang melaju kian cepat. Bayangkan Taman Zen, sambungnya, enggak perlu jauh-jauh ke Jepang juga, tinggal dicari di internet. Kesunyian itulah penyeimbangnya, suatu ruang tenang bagi kita untuk berkontemplasi. Jadi, bagi saya itulah pentingnya kesunyian.

Lanjut ke sesi tanda tangan, aku membawa buku sendiri dari rumah. Sekali lagi, aku dibuat bahagia dengan kehangatannya. Tak ada mimpi paling indah bagi seorang pembaca, selain diucapkan terima kasih oleh penulis panutannya. Kamu sering ke Jakarta? tanyanya sembari menandatangani puisi favoritku, Meditasi. Tidak, Pak, jawabku—entah apa maksud dari pertanyaan itu. Selepas berfoto dan sembari menjabat tangan, GM kembali berterima kasih diiringi senyuman teduh.

Seumur-umur, aku tidak pernah membayangkan momen seperti ini dapat terjadi.

II. Seno Gumira Ajidarma: Banyolan yang Mendarah Daging

Agaknya, alasan banyaknya tokoh flamboyan, easy-going, ceplas-ceplos dalam karya SGA dikarenakan mereka semua adalah serpihan diri si pengarang langsung. Sesi bincang-bincang SGA adalah yang “paling ramai pertanyaan” karena si empunya sesi tidak punya, mungkin tidak menyiapkan sama sekali, hal untuk dibicarakan. Alhasil, SGA hanya menjawab pertanyaan yang bergantian dilontarkan para hadirin. Walau pada akhirnya, tanggapan tanpa jawaban pasti pula yang diutarakannya.

Meski demikian, aku cukup senang karena berhasil, agaknya, membuat SGA sedikit “berpikir” ketika menjawab. Bagi Pak Seno, tanyaku, bagaimana membedakan tulisan yang buruk dengan tulisan yang baik, dan kapan momen Anda mengetahui bahwa tulisan yang Anda tulis sudah selesai, tidak perlu lagi disunting?

SGA, yang pada pertanyaan sebelum-sebelumnya langsung menjawab alakadarnya, kini diam sejenak, memandang langit-langit, mungkin tengah menerawang ke luar atap. Kemudian, kurang-lebih, menjawab seperti ini: Saya mulai dari yang kedua. Jujur, saya tidak pernah tahu kapan tulisan itu benar-benar selesai. Saya hanya menuliskannya. Dan untuk pertanyaan satunya lagi, saya bisa katakan begini, tulisan yang baik itu latihan keterampilan menulis kita, sedangkan tulisan yang buruk itu latihan keterampilan membaca kita … Yahh, saya rasa, itu, tutupnya dengan seringai jenaka.

Aku sebenarnya mengharapkan jawaban yang lebih “nyastra”, semacam wangsit dari orang yang kerap dijuluki “berhala” itu. Tapi setelah kupikir kembali, memang tidak ada klenik atau kemegahan yang meledak-ledak dalam proses kreatif. Tidak seperti produknya, perjalan untuk menjemput itu memanglah apa-adanya—bahkan, kadang kala penuh kemuraman.

Sesi itu, seperti sesi lainnya, diakhiri dengan penandatanganan karya dan foto bersama. Ya, silahkan, silahkan, katanya ramah tiap kali hadirin meminta izin. Toh, foto tinggal foto, kan?

III. Soesilo Toer: Abadinya Jiwa Muda

87 hanya angka bagi Soesilo Toer. Usia senja tak kuasa menumpulkan ketajaman ingatannya. Bahkan, sebelum sesi peringatan 100 tahun kakaknya—Pramoedya—dimulai, beliau sudah begitu ceria berbincang-bincang dengan siapa saja yang mau duduk di sampingnya dan mengajukan pertanyaan ini-itu. Dan mendapat kesempatan sebagai salah satu pembicara bersama beliau, tentu menjadi pengalaman yang surreal.

Begitu banyak yang Pak Soes bagikan sepanjang sesi. Watu satu jam bahkan berlalu seperti beberapa menit. Mulai dari riwayat singkat keluarganya, Pram yang sempat tak naik kelas, sedikit membahas akhir hayat Pushkin—yang secara pribadi, menjadi favoritku dalam hal cara matinya para penulis besar setelah Mishima, ketidakadilan yang menimpa mereka bersaudara, juga hari-hari akhir sang nenek, si Gadis Pantai, ketika ditanya salah seorang hadirin, Kak Dewi Setiawan. Tapi, yang paling menarik adalah ketika beliau membagikan pengalaman kelam Pram semasa di penjara.

Soesilo Toer dan saya | Foto: Dok. Arif Kurniawan

Kurang-lebih, seperti ini terang Pak Soes: Pram bosan dengan makanan penjara. Jadi, dia mau makanan baru. Kamu tau, apa makanannya, tanya beliau ke hadirin. Pensil sama kertas! Jadi, Pram itu diam-diam menulis karena itu dilarang di penjara. Suatu kali, ada sweeping. Pensil Pram ketinggalan di atas ranjang. Jadi, pensil itu digenggamnya, terus pura-pura sakit perut. Ketika ditanya oleh sipir penjara, Pram bilang kalau dia sakit pertu. Jadi, sipir itu nendang perutnya Pram dan disuruh ke WC. Di WC, pensil yang dipegang dimasukkan ke anusnya. Ya, pantat. Supaya tidak ketahuan.

Mendengar cerita itu, Fitra Ariesta, selaku interpreter, sontak kebingungan mesti menyampaikan dengan kata apa agar terdengar “halus” bagi hadirin. Jujur, momen singkat itu, dahi yang sepersekian detik mengernyit tegas dibarengi senyum yang tersimpul kikuk, kemudian sebisanya menerjemahkan adegan ekstrem itu sesopan mungkin, menjadi salah satu gambaran yang tak terlupa. Untungnya, Iyas Lawrance, selaku moderator, secara apa-adanya menyampaikan itu ke hadirin. Agaknya, Fitra begitu ketat dalam memilah kata yang terlontar dari mulutnya.

Di penghujung sesi, Pak Soes menyatakan sikapnya ketika ditanya mengenai kehidupannya kini sebagai pemulung, meski memiliki riwayat pendidikan mumpuni dari negeri kelahiran Tolstoy dan Dostoevsky itu. Beliau dengan bangga menerangkan betapa, pada nyatanya, kegiatan memulung ikut berdampak krusial menjaga keasrian lingkungan. No problem! cetusnya menanggapi pihak yang mungkin memandangnya aneh. Saya hidup bukan dari mereka.

Sebagai penutup, ada satu kalimat yang kerap dijargonkan Pak Soes, dan akan selalu menggema sepanjang langkahku: Hidup harus berani! Menang-kalah lain lagi.

Selain ketiga itu, tentu masih banyak hal berkesan lainnya. Hanya saja, akan terlalu panjang jika dituliskan satu-satu. Ditambah ini adalah festival pertama yang kudatangi, slogan Ubud is Magical terasa benar adanya untukku.  

Hari terakhir datang dan menjadi ujian ketegaranku menghadapi perpisahan. Karena jadwal penerbangan malam hari, aku menjadi yang paling terakhir meninggalkan penginapan. Memandangi punggung mereka pergi—pulang ke kesibukan dan kesunyian masing-masing sampai waktu perjumpaan kembali yang hanya Tuhan tahu, kamar yang kehilangan candanya dan hanya menyisakan selimut-selimut kusut, rupanya lebih menyesakkan dibanding diselingkuhi dalam hubungan cinta masa remaja.

Bersama penulis emerging lain di UWRF 2024 | Foto: Dok. Arif Kurniawan

Berkeliling seorang diri, melewati venue festival yang perlahan dibongkar, seketika menghapus magis yang selama ini menyelimuti: Ubud, bagiku, hanya menawan jika bersama kawan.

Sore hari, sopir mengantarku ke bandara. Sepanjang jalan aku hanya menatap kosong kemacetan yang baru pertama itu kusaksikan langsung. Kantuk perlahan mengisi jiwa lalu aku terlelap. Begitu juga di bandara, aku khusyuk seorang diri, tenggelam dalam lembar-lembar puisi GM, lalu tidur sepanjang penerbangan.

Jika sebelumnya aku mesti menunggu seharian, kini aku mesti menunggu semalaman. Sedari waktu pesawat tiba, lalu menaiki anak tangga, sampai duduk di kursi penumpang dan mengencangkan sabuk pengaman, perubahan euforia yang begitu tiba-tiba itu menciptakan jurang kenyataan dan memuntahkan keraguan yang memenuh sum-sum kesadaran.

Pukul 11.25 pesawat mendarat di Bengkulu. Dalam benak, aku masih berpikir: Mungkin aku akan terbangun setelah turun pesawat.

Ternyata tidak.

Ah, mungkin sebentar lagi, tepat setelah keluar bandara.

Masih juga tidak.

Ketika menarik koper, seorang bapak-bapak menepuk pundakku dan berkata: Mas, itu tangannya berdarah. Entah tersayat apa, tak kusadari kelingking dan jari manis kananku terluka. Untungnya, darah tidak mengenai kemeja putihku. Ketika memandang jemari berlumur merah saga itu, juga perih mulai mencuat, dalam hati terpantik satu perasaan aneh, semacam rasa syukur, serupa kelegaan selepas sunat.

Hah … ternyata bukan mimpi. [T]

Rejang Lebong, November 2024

Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala
Melihat Fatris dari Pinggir
Saya Emerging Writer UWRF 2024, Namun Hidup Harus Tetap Berjalan: Sebuah Refleksi
Soesilo Toer, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer, dan Cerita Tak Biasa  di UWRF 2024
Berawal dari Musik, Puisi, Lalu Puisi-Musik: Perjumpaan Pertama dengan Tan Lioe Ie
Haru Menguar dengan Tetes atau Tanpa Tetes Air Mata : Dari Pemutaran Film Eksil di UWRF 2024
Bertemu Dee Lestari di UWRF 2024, Bertemu “Tanpa Rencana”, Sebuah Karya yang Jujur
Tags: apresiasi sastraGoenawan MohamadSeno Gumira AjidarmaSoesilo ToerUbudUWRF 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gadis Kretek, Ubud, dan Sedikit Hantu-hantu: Perbincangan Singkat dengan Ratih Kumala

Next Post

Hidup Tak Hanya Urusan Benar-Salah atau Baik-Buruk Semata: Mengusung Visi PKBI: Inklusivisme dan Sikap Respek

Arif Kurniawan

Arif Kurniawan

Seorang penulis asal Curup, Bengkulu. Ia semakin menyukai sastra setelah membaca karya Danarto, Pramoedya Ananta Toer, Ray Bradbury, dan Jorge Luis Borges. Ia juga mendapat inspirasi dari mahakarya sinematik Andrei Tarkovsky dan Federico Fellini. Selain menulis, Arif aktif terlibat dalam Majelis Perenungan Tunggal.

Related Posts

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

by Iko Amadeus
June 30, 2026
0
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

Read moreDetails

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
0
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

Read moreDetails

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
0
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

Read moreDetails

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

by Angga Wijaya
June 29, 2026
0
Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

Read moreDetails

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
0
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

Read moreDetails

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

by Sugi Lanus
June 29, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

Read moreDetails

Bulan Juni Milik Empat Presiden

by I Nyoman Tingkat
June 28, 2026
0
Bulan Juni Milik Empat Presiden

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” (Ir. Soekarno). PEMERINTAH Provinsi Bali sejak...

Read moreDetails

Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

by Agung Sudarsa
June 28, 2026
0
Ishavasyam Idam Sarvam: Ketika Seluruh Alam Semesta Adalah Wujud Ilahi

īśāvāsyam idaṁ sarvaṁ yat kiñca jagatyāṁ jagat |tena tyaktena bhuñjīthā mā gṛdhaḥ kasyasvid dhanam || "Seluruh alam semesta ini, apa...

Read moreDetails

Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

by T.H. Hari Sucahyo
June 28, 2026
0
Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Pemborosan

ADA satu pemandangan yang hingga kini selalu mengusik. Seorang barista selesai meracik secangkir kopi, lalu menyadari ada kesalahan kecil. Mungkin...

Read moreDetails

Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

by Doni Sugiarto Wijaya
June 28, 2026
0
Lahan Basah  Sebagai Ginjal Bumi

PADA tanggal 14 Juni 2026, saya mengikuti acara kolaborasi Grab Bali Nusra dengan Bali Book Party. Museum Pasifika Nusa Dua...

Read moreDetails
Next Post
Besakih dan Medsos

Hidup Tak Hanya Urusan Benar-Salah atau Baik-Buruk Semata: Mengusung Visi PKBI: Inklusivisme dan Sikap Respek

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi
Ulas Rupa

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

by Mahesa Putra
June 30, 2026
Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise
Esai

Menurunkan Standar, Meninggikan Prestise

HAMPIR saja tim nasional sepak bola Republik Indonesia lolos ke Piala Dunia 2026 yang dihelat di tiga negara, Amerika Serikat,...

by Iko Amadeus
June 30, 2026
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan
Khas

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja
Ulas Pentas

Kembalinya Roh Teo-Estetika —Menguatkan Kembali Konsolidasi Sosial Masyarakat Banjar Bukit Buwung Kesiman Melalui Kesenian Dramatari Arja

KEMBALINYA seni Arja di Banjar Bukit Buwung, Kesiman, tidak dapat dipahami semata sebagai upaya revitalisasi kesenian tradisional, melainkan sebagai proses...

by IM Gede Nesa Saputra
June 30, 2026
Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan
Esai

Wawancara antara Saya dan AI —Ketika Mesin Bertanya tentang Masa Depan Kebudayaan

IRONI terbesar abad ke-21 mungkin bukan ketika mesin mulai mampu berbicara. Ironinya justru ketika mesin mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah...

by Wayan Gde Yudane
June 30, 2026
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya
Ulas Rupa

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

by Hartanto
June 29, 2026
Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?
Esai

Mengapa ‘Tidak Punya Modal’ Adalah Kebohongan Terbesar Calon Pengusaha?

DALAM berbagai diskusi mengenai kewirausahaan, ada satu narasi yang terus berulang seperti sebuah gema yang tak kunjung reda. Ketika seorang...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
June 29, 2026
Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival
Bahasa

Merawat Harapan Optimistis Lewat Kalimat Adjektival

SETELAH melewati rentetan perawatan medis yang panjang dan melelahkan, pernahkah Anda berbisik pada diri sendiri, "Apakah tubuh ini akan kembali...

by I Made Sudiana
June 29, 2026
Teringat Mendiang Bang DS. Putra
Esai

Teringat Mendiang Bang DS. Putra

PAGI INI saya teringat mendiang Ida Bagus Ketut Dharma Santika Putra, sahabat dan guru kami dalam dunia sastra dan budaya...

by Angga Wijaya
June 29, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Liputan Khusus

Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

"YANG kami bangun bukan sekadar ruang publik yang indah, tetapi juga ruang yang mampu mengingatkan masyarakat akan perjalanan panjang Kota...

by Jaswanto
June 29, 2026
KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?
Esai

KEDAULATAN HIJAU DI TANGAN RAKYAT: Konservasi Berbasis Komunitas, Jalankah?

KRISIS iklim bukan lagi ramalan apokaliptik di makalah-makalah seminar melainkan kenyataan di depan mata semua bangsa. Ayolah jujur mengakui ironi...

by I Gede Joni Suhartawan
June 29, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEHANCURAN HINDU NUSANTARA & DUNNING-KRUGER EFFECT

JAUH sebelum psikolog modern David Dunning dan Justin Kruger merumuskan Dunning-Kruger Effect pada tahun 1999, pujangga Jawa Kuno telah meramalkan...

by Sugi Lanus
June 29, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co