23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wayang Wong (Anak) Tejakula: Melestarikan Kesenian, Menjaga Lingkungan

Jaswanto by Jaswanto
October 21, 2024
in Khas
Wayang Wong (Anak) Tejakula: Melestarikan Kesenian, Menjaga Lingkungan

Seorang anak memakai topeng Wayang Wong Hanoman saat latihan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

DI TENGAH kering udara sore hari, puluhan anak berkumpul dan membikin barisan. Mereka dipimpin oleh seorang anak yang tampaknya telah dipercaya sang pelatih. Si pemimpin, anak berselendang kain batik itu, mengarahkan dan menertibkan rekan-rekannya. Tak jarang ia berteriak dengan mata bersungut, kesal.

Anak-anak berkumpul. Lalu berdoa dan mulai pemanasan. Mereka berlari-lari kecil, kadang sambil berjinjit, melompat-lompat, mengelilingi tanah lapang berdebu. Seorang anak mengelap keringat di dahinya menggunakan lengan kanannya dengan kasar. Sore hari yang terik, memang.

Selesai melakukan pemanasan di tengah panas sungguhan, seorang pria dewasa membagi mereka menjadi beberapa kelompok. Mereka dibagi berdasarkan karakter yang dipelajarinya. Sekelompok anak menjadi pasukan Sugriwa—Raja Wanara dari epos Ramayana itu—dan mulai menarikan gerakan layaknya kera ekor panjang. Lainnya menjelma pasukan raksasa, juga mulai menari. Beberapa turis berkulit pucat mengabadikannya. Gawai-gawai itu seolah tak mau mati. Kameranya menyorot ke mana pun anak-anak bergerak.

Merasa cukup menari, si pelatih meminta mereka untuk istirahat. Turis-turis bertepuktangan dengan senyum penuh kebahagiaan. Di akhir latihan, orang-orang manca itu membagikan beberapa bungkus permen kepada anak-anak. Mereka membaginya, rata.

Anak-anak berlatih Tari Wayang Wong di depan para turis di Sekretariat Jepri-Link | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Tidak bayar, semua gratis!” ujar Eta sambil membenarkan letak duduknya pada sore yang gerah di Banjar Dinas Tegal Sumaga, Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Bersama embusan angin kemarau yang kering, debu, dan gugur daun rambutan, pria itu begitu serius saat mengatakannya. Sedang dari utara, suara genta suci masih terdengar jelas—walau kadang lamat-lamat, timbul tenggelam. “Mereka [anak-anak] mau datang saja saya sudah senang,” sambungnya, singkat.

Sore itu, Eta baru saja menyelesaikan tugasnya dengan baik. Oleh sebab ada beberapa turis yang ingin melihatnya, terpaksa Eta mengundang anak-anak didiknya untuk datang dan latihan—walau barang sebentar, katanya. “Sudah biasa begini. Kalau ada tamu yang minta, kami akan ke sini, meski bukan jadwal latihan,” ungkap Eta. Ini adalah bentuk keseriusannya dalam mengenalkan tradisi kepada orang-orang manca berkulit pucat itu.

Hampir empat tahunan ini, Eta memang memiliki kesibukan tambahan secara sukarela. Di tengah aktivitasnya sebagai front office di salah satu hotel elit di Tejakula, sejak tahun 2020, ia mendedikasikan dirinya menjadi pelatih anak-anak setempat untuk belajar Tari Wayang Wong Tejakula. Dari sekian banyak seniman wayang wong di desa terbut, tampaknya hanya Eta yang memiliki pikiran untuk mengajarkan tarian tua ini kepada anak-anak usia SD dan SMP—bahkan usia TK beberapa—secara umum dan, seperti yang telah Eta katakan, cuma-cuma.

“Ada yang mengajarkan; tapi hanya kepada anak atau kerabatnya sendiri aja. Kalau secara umum belum ada. Makanya saya coba,” ujar pria bernama lengkap Ketut Sweta Swatara itu.

Eta memulai semua ini pada tahun 2020, seperti yang telah disinggung di atas. Awalnya, pada tahun tersebut, sebagaimana seniman Wayang Wong Tejakula lainnya, ia hanya melatih kedua anak dan keponakannya di rumah. Lalu bertambah sekira enam anak tetangga, sebelum belipat-lipat anak-anak mengikutinya.

Tapi Eta mengusahakannya dengan langkah serius. Mengetahui Tejakula memiliki pemimpin baru, ia memberanikan diri sowan untuk membicarakan apa yang ingin ia lakukan. “Saya menghadap Pak Camat,” katanya, tenang. Dan dasar nasib baik, dengan tulus Camat Tejakula menyambutnya.

Ketut Sweta Swatara melatih anak-anak Tari Wayang Wong Tejakula di Sekretariat Jepri-Link | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Eta senang, apalagi saat Pak Camat bersedia menjadikan tempat pribadinya sebagai semacam sanggar seni dadakan. “Tak hanya itu, Pak Camat juga mengajak anak-anak di sekitar rumahnya untuk ikut latihan—sekitar 10 anak, waktu itu,” terang Eta sembari tersenyum. Jadilah Eta melatih anak-anak Tari Wayang Wong Tejakula di tempatnya Pak Camat, di Sekretariat Komunitas Jejaring Pemerhati Lingkungan (Jepri-Link), Banjar Dinas Tegal Sumaga, sampai sekarang.

“Setelah saya posting di Facebook, makin banyak orang tua yang mendaftarkan anaknya. Dan, awal 2021, baru latihan sekitar tiga atau empat bulan, sudah ada undangan pentas di Taman Bung Karno (TBK), Singaraja. Waktu itu kami masih gabung dengan Sanggar Seni Rare Mekar Tejakula—karena mereka memiliki gamelan,” Eta bercerita.

Ayam berkokok. Dari pura, genta suci pedanda masih terdengar.

“Sampai sekarang sudah ada 43 anak yang ikut berlatih. Ada yang sudah SMP, banyak juga yang masih SD,” Eta memberi keterangan. Sampai sekarang, anak-anak Tejakula berlatih Tari Wayang Wong setiap satu minggu sekali, pada hari Minggu, saat anak-anak libur sekolah—dan kelompok ini sudah pentas beberapa kali di luar Tejakula.

Kesenian di Tangan yang Tepat

Sekretariat Jepri-Link teronggok tepat bersebelahan dengan kebun rambutan, pisang, dan kelapa milik warga. Jalan menuju ke sana tak besar, kecil saja, setapak dan berdebu. Kendaraan roda empat tak bisa mengaksesnya. Tamu-tamu bermobil harus rela jalan kaki, meski tak terlalu jauh dari tempat parkir di dekat jalan gang di ujung setapak. Tapi berkat pepohonan dan tanaman bunga, tempat itu cukup asri untuk dataran rendah seperti Tejakula.

Di sana ada beberapa bangunan. Salah satu bangunan digunakan untuk memajang beberapa produk daur ulang plastik yang diproduksi Jepri-Link, seperti sofa ecobrick salah satunya. Di depan bangunan tersebut terdapat tanah lapang memanjang yang berdebu. Di sanalah anak-anak Tejakula bermain dan berlatihan menari dengan suka cita.

Jepri-Link didirikan pada 2017, sesuai dengan Surat Keputusan Perbekel Tejakula Nomor 26 Tahun 2017. Komunitas yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup ini secara konsisten melakukan program-program dan gerakan pelestarian dengan cara mengolah sampah plastik, konservasi sungai dan laut, dan gerakan lain yang berkaitan dengan hal tersebut yang memiliki tujuan bersama untuk meningkatkan mutu lingkungan hidup dengan mengedepankan upaya pemberdayaan.

Pada 2018, dua tahun sebelum kelompok Wayang Wong Anak Tejakula terbentuk, Jepri-Link Desa Tejakula meraih penghargaan Silpakara Nugraha kategori Ipteks dari Gubernur Bali, I Made Mangku Pastika, berkat inovasinya dalam mengolah limbah plastik di desa tersebut.

Ecobrick dan sebuah sofa produksi Jepri-Link | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Selain sebagai Camat Tejakula, beliau sudah lama dikenal sebagai pelestari lingkungan,” ujar Eta memperkenalkan I Gede Suyasa, Camat Tejakula, yang duduk di sebelahnya. Lelaki paruh baya itu tertawa. Tampaknya Gede Suyasa merupakan sosok pemimpin yang menyenangkan.

Ya, berbicara kelompok wayang wong anak-anak di Tejakula kurang lengkap rasanya kalau tidak menyebut nama Gede Suyasa. Sebab sosok inilah yang menguatkan Ketut Eta untuk membentuk semacam sekaa wayang wong anak-anak. Bahkan, sebagaimana telah disinggung di atas, Suyasa memfasilitasi tempat untuk latihan.

Tak hanya menyediakan tempat latihan, Pak Camat juga punya ide cemerlang, yaitu meminta anak-anak yang ikut latihan menari wayang wong supaya membawa sampah platik yang bisa didaur ulang. Ya, selama ini, Eta memang tak memungut uang sepeser pun—alias gratis—dari anak-anak yang ikut latihan Tari Wayang Wong. Tapi, dan ini yang membuat kagum banyak orang, sekali lagi berkat Camat Tejakula Gede Suyasa, setiap anak yang ikut latihan dianjurkan membawa sampah plastik setiap minggu sebagai, katakanlah, “bayarannya”.

Itu menjadi sesuatu yang menarik perhatian—termasuk orang-orang manca itu. Jadi, seminggu sebelum latihan, anak-anak didik Ketut Eta akan berusaha mengumpulkan sampah plastik, sebanyak-banyaknya. Mengenai hal ini, tak jarang orang tua juga ikut turun tangan membantu mengumpulkan sampah plastik, supaya anaknya bisa ikut latihan.

“Saya percaya bahwa menjaga dan melestarikan lingkungan juga merupakan praktik kebudayaan. Dan kesenian tentu bisa kita jadikan sebagai wadah untuk anak-anak belajar mencintai lingkungan juga. Jadi disisipkan pengetahuannya, pelan-pelan,” kata Suyasa sembari tertawa.

Sejak awal kelompok Wayang Wong Anak-Anak Tejakula ini memang tidak diniatkan untuk mencari pundi-pundi rupiah. Ini dibuat memang untuk keperluan pelestarian kesenian dan usaha, sedikit demi sedikit, mengurangi waktu anak-anak bermain smartphone, pula mengajak anak-anak untuk bergerak, berolahraga.

“Kami tidak pernah mematok harga saat anak-anak diminta tampil di suatu acara. Paling hanya cukup untuk transportasi atau konsumsi aja kami sudah bersyukur. Yang jelas, anak-anak di sini kami beri pemahaman bahwa menari itu orientasinya bukan upah,” kata Eta, tegas.

Untuk keperluan pakaian, tapel (topeng), dan sebagainya, menurut Suyasa—dan itu diamini oleh Eta—kelompok ini masih bergantung dari donasi yang diberikan oleh wisatawan yang berkunjung ke tempat latihan mereka dan hasil penjualan produk dari sampah plastik yang dikumpulkan anak-anak. Ya, di sela-sela mereka latihan menari, mereka juga diajari membuat sofa dari ecobrick—sofa dari sampah plastik.

I Gede Suyasa, Camat Tejakula saat diwawancarai | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“Di sini, selain menjaga tradisi, anak-anak juga belajar memperhatikan lingkungan sekitar. Maka kelompok seni ini saya namai: Wayang Wong Sispri-Link (Siswa Pemerhati Lingkungan),” ungkap Suyasa sembari tertawa. “Tapi rencananya saya mau tambahi nama itu dengan satu kata bahasa Bali, biar lebih terasa tradisinya. Namanya jadi Sekaa Wayang Wong Rare Sispri-Link. Sispri-Link-nya masih ada, biar kelihatan bahwa ada kegiatan peduli lingkungannya. Jadi belajar menari sambil bawa sampah plastik,” Eta menimpali.

Di Tejakula, Eta dan Suyasa dianggap “buduh”—dengan konotasi positif. “Pak Camat ini pemimpin yang ‘gila’, memang,” ujar Nyoman Sudi Paharta, pengelola sampah plastik Teja Olah Persada, yang sedari tadi ikut nimbrung di Sekretariat Jepri-Link. “Dia sama Eta itu cocok, sama-sama buduh.” Mendengar hal tersebut, Eta dan Pak Camat terbahak dan merasa bahwa mereka berdua memang “gila”—dan Nyoman Sudi juga termasuk golongannya.

Eta dan Suyasa, juga orang-orang yang mendukung apa yang mereka kerjakan, memberi napas baru bagi kesenian Wayang Wong Tejakula. Mereka melanjutkan perjuangan tokoh seniman hebat macam Sardono W Kusumo dan pelukis sekaligus tokoh Tejakula Nyoman Tusan (almarhum) yang membawa Wayang Wong Tejakula ke luar negeri.

Namun, terlepas dari itu semua, apa yang dilakukan Pak Camat dan Eta semacam pribahasa sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Di satu sisi melatih anak-anak untuk melestarikan kesenian (tradisi), pula mengajarkan betapa pentingnya menjaga dan merawat lingkungan. Dari mereka kita belajar bahwa kesenian dapat dipertemukan dengan gerakan pemerhati lingkungan.

Jika begitu, seharusnya agama pun demikian. Agama, dengan segala ajaran luhurnya, mesti dapat menjaga lingkungan—sebagaimana kesenian di tangan Eta, Suyasa, dan orang-orang sekitarnya.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Ketut Sweta Swatara, Menjaga Nyala Wayang Wong Tejakula
Menyaksikan Lakon Wayang Wong “Ripati Patih Sputa Daksa lan Pratapa Naksir” di Pura Ratu Gede Sambangan Tejakula
Wayang Wong yang Kikuk di Panggung “Buleleng Festival”
Penari-penari Muda dalam Wayang Wong Tejakula
Mengurai Ekosistem Wayang Wong Tejakula dan Usaha Menjaga Eksistensinya
Tags: Jepri-Link Tejakulalingkunganwayang wongWayang Wong Anak-Anak TejakulaWayang Wong Tejakula
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam

Next Post

Mencari  Bupati  Rakyat

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Korelasi PKPU 13 Tahun 2024 dengan Kotak Kosong

Mencari  Bupati  Rakyat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co