15 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Situs Nyoman Rai Srimben: Penanda Penting Lahirnya Pendiri Bangsa dan Inspirasi Bersatunya Nusantara

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 30, 2024
in Khas
Situs Nyoman Rai Srimben: Penanda Penting Lahirnya Pendiri Bangsa dan Inspirasi Bersatunya Nusantara

Patung Nyoman Rai Srimben, Foto: Dede

TAK banyak yang mengetahui jika kota Singaraja yang penuh pesona itu terdapat situs yang bersejarah, tempat dimana Ibunda Ir. Soekarno dahulu pernah tinggal.

Siapa yang tak mengenal Soekarno, ia merupakan tokoh penting bangsa, Presiden pertama Republik Indonesia. Soekarno adalah sosok yang dikenal memiliki banyak nama dan julukan, mulai dari Bapak Proklamator, pendiri bangsa, The Great Seducer (perayu terhebat), The Great Lover (pecinta hebat), penyambung lidah rakyat, dan yang paling ikonik adalah julukan dari Ibunya, yaitu Putra Sang Fajar.

Kisah-kisah tentang Soekarno sebagian besar masyarakat telah mengetahuinya, kisahnya seakan-akan menjadi santapan wajib saat masih duduk di bangku sekolah. Namun, tak banyak masyarakat yang mengetahui sosok Ibunda Soekarno, yaitu Nyoman Rai Srimben.

Kini sosok Nyoman Rai Srimben diabadikan dan dikenang di rumah asalnya di Singaraja, yakni di Dusun Bale Agung, Desa Paket Agung, Buleleng. Tempat ini kini dikenal sebagai Situs Nyoman Rai Srimben. Bangunan Bale Gede yang merupakan peninggalan orang tua Nyoman Rai Srimben (Nyoman Pasek dan Made Liran), telah ditetapkan sebagai situs cagar budaya provinsi Bali.

Dilansir dari situs resmi kemdikbud, disebutkan bahwa secara administrasi rumah Ni Nyoman Rai Srimben dan Pura Bale Agung termasuk dalam wilayah Dusun Bale Agung, Desa Paket Agung, Kecamatan Buleleng. Area rumah ini berdampingan dengan Pura Bale Agung yang ada di sebelah timurnya. Rumah Ni Nyoman Rai Srimben merupakan salah satu bangunan di antara sekian banyak bangunan yang ada di pekarangan tersebut.

Awal bulan Agustus lalu, saya berkesempatan untuk menyambangi situs bersejarah tersebut saat mengikuti program Kuliah Kerja Lapangan (KKL) bersama para mahasiswa semester VII program studi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI). Di sana kami bertemu dengan Jro Mangku Made Arsana (salah satu keluarga Ni Nyoman Rai Srimben), ia menjelaskan tentang beberapa bangunan yang berkaitan dengan Nyoman Rai Srimben, menjelaskan silsilah keluarga, serta menceritakan suka duka dan kisah cinta Nyoman Rai Srimben.

Bale Gede di Situs Nyoman Rai Srimben | Foto: Dede

Dusun Bale Agung menjadi saksi kisah romansa Nyoman Rai Srimben dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo. Mereka merupakan pasangan yang berbeda suku dan agama. Nyoman Rai merupakan gadis bali dan seringkali disebut kembang desa, sedangkan Raden Soekemi merupakan guru yang juga seorang priyayi muslim.

Kisah cinta mereka begitu rumit, mereka dihalangi tembok yang lebih tinggi daripada kasta. Yaitu perbedaan suku dan agama. Raden Soekemi adalah orang Jawa, sementara Rai Srimben adalah orang Bali. Demi cinta, mereka memutuskan untuk melakukan kawin lari.

Pernikahan dua suku yang berbeda adalah pernikahan yang mustahil dilakukan pada masa itu, namun kedua orang tua Soekarno itu adalah orang tua yang berpikiran maju, mereka tidak ingin cinta mereka dihalangi oleh aturan adat lama. Mungkin hal ini juga yang merasuki jiwa Soekarno untuk menyatukan bangsa Indonesia yang berbeda suku, agama, budaya, dan bahasa.

“Bhinneka Tunggal Ika”, itulah semboyan bangsa Indonesia yang diusulkan pertama kali oleh Moh. Yamin saat sidang BPUPKI, diambil dari kitab Sutasoma karangan Mpu Tantular. Yang berarti, “walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.

Nyoman Rai Srimben merupakan perempuan Bali kelahiran Singaraja, 1 Januari 1881. Ia merupakan anak dari pasangan Nyoman Pasek dan Made Liran. Jro Mangku Made Arsana menceritakan, belum usianya belasan tahun, Nyoman Rai Srimben sudah dilanda kesedihan yang mendalam karena Ibunya meninggal dunia. Tak hanya itu, ia juga tambah kecewa karena ayahnya kawin lagi dengan Ni Sukenyeri.

Rai Srimben kemudian menghabiskan waktunya di rumah asal Ibunya, dan di situ ia diasuh oleh Ni Ketut Nesa (bibinya). Di sana ia menyalurkan hobinya, seperti menari, mekidung, membuat sesajen, dan menenun.

Jro Mangku Made Arsana menjelaskan silsilah | Foto: Dede

Informasi dan silsilah keluarga Ni Nyoman Rai Srimben | Foto: Dede

Setelah menjelaskan silsilah keluarga, Jro Mangku Made Arsana melanjutkan dengan mengisahkan kisah cinta Nyoman Rai Srimben. Ia mengatakan, awal pertemuan Nyoman Rai dengan Raden Soekemi adalah di Pelabuhan Buleleng. Saat itu Raden Soekemi ditugaskan menjadi guru untuk mengajar di Buleleng. Kedatangannya itu disambut oleh masyarakat setempat, dan di sanalah awal pertemuan mereka, meski hanya sempat saling pandang saja.

Ketika hendak mencari murid, Raden Soekemi melihat Nyoman Rai saat ke Bale Agung. Dari sanalah ia mulai merasakan jatuh hati kepada Nyoman Rai Srimben.

Jro Mangku Made Arsana menuturkan, Raden Soekemi adalah orang yang bersahabat dekat dengan Made Lastri (sepupu Nyoman Rai) dan Putu Kaler dari Bale Agung. Persahabatan ini dimanfaatkan oleh Raden Soekemi sebagai upaya untuk berhubungan dekat dengan Nyoman Rai. Kemudian mereka pun menjalin hubungan secara diam-diam atas perantara Made Lastri dan Putu Kaler.

Singkat cerita, karena hubungannya tidak direstui oleh keluarga Bale Agung, pada 15 Juni 1897 mereka memustuskan untuk kawin lari. Saat hari menjelang malam, Nyoman Rai menghilang tidak bisa ditemukan, sontak kejadian itu membuat Buleleng menjadi gempar.

Raden Soekemi dan Nyoman Rai berlindung di kantor polisi, dihadapan polisi mereka menyatakan bahwa mereka kawin lari atas dasar suka sama suka, saling mencintai.

Keluarga Bale Agung segera mengetahui keberadaan mereka di kantor polisi tersebut, setelah diberitahu oleh salah seorang polisi Belanda yang diutus untuk menyampaikan pesan. Keluarga Bale Agung pun segera menuju ke kantor polisi. Setibanya di kantor polisi, Nyoman Rai langsung bersujud dan meminta maaf atas perbuatannya. Dalam isak tangisnya, ia mengatakan bahwa dirinya saling mencintai serta memohon restu.

Dalam suasana gaduh dan emosi, kemarahan keluarga Bale Agung memuncak, sampai-sampai menyebabkan Nyoman Rai tidak diperkenankan lagi untuk menginjakkan kakinya di Bale Agung.

“Walaupun menghadapi banyak rintangan, atas kuasa Tuhan mereka dipertemukan dan pada akhirnya dipersatukan sebagai suami istri,” kata Jro Mangku Made Arsana.

 Mereka pun kemudian melangsungkan pernikahannya di Tulungagung, Jawa Timur. Setelah itu, mereka kembali lagi ke Buleleng dan menempati rumah kontrakan. Setahun kemudian lahirlah anak pertama mereka yaitu Soekarmini, semenjak itu kemarahan keluarga Bale Agung berangsur mereda.

Kemudian suatu ketika, mereka kembali pindah ke Surabaya. Tepat tanggal 6 Juni 1901, saat matahari terbit dan meletusnya Gunung Kelud, Nyoman Rai Srimben melahirkan anak kedua yaitu Koesno Sosrodihardjo yang kemudian karena sering sakit-sakitan namanya diganti menjadi Soekarno. Karena lahir tepat saat matahari terbit, ia kemudian disebut dengan julukan “Putra Sang Fajar”.

Potret Soekarno bersama Nyoman Rai Srimben (Ibundanya) | Foto: Dede

Itulah cerita singkat yang lumayan padat dari Jro Mangku Made Arsana tentang perjalanan hidup Nyoman Rai Srimben. Ia mengatakan, Nyoman Rai Srimben adalah inspirasi bersatunya nusantara. Mungkin saja lewat kisah perjuangan Ibunya, Soekarno begitu gigih mempersatukan Indonesia yang amat beragam dengan berbagai suku, ras, dan agama.

Dr. I Made Sujaya, S.S., M.Hum. selaku Kaprodi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah UPMI, mengatakan bahwa kisah cinta dari Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben telah diabadikan dalam sebuah novel berjudul “Stamboel Cinta dari Bali” karya Nurinwa Ki S. Hendrowinoto, yang diterbitkan pertama pada tahun 2020. Dalam novel tersebut diceritakan bagaimana kisah cinta dan perjuangan dari orang tua Ir. Soekarno.

Ada pula novel dengan judul “Jangir Bali” karya Nur Sutan Iskandar yang diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1946, novelnya memang tidak menceritakan spesifik tentang Nyoman Rai Srimben, nama-nama tokohnya pun berbeda. Namun jalan cerita dan setting novel tersebut begitu mirip dan serupa dengan kisah dari Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben, yaitu berlatar pulau Bali dan kota Surabaya.

“Jika kalian ingin tahu cerita yang lebih lengkap, bisa baca novel “Stamboel Cinta dari Bali”, novel ini menceritakan kisah cinta dari Raden Soekemi dan Nyoman Rai Srimben. Atau boleh juga baca novel “Jangir Bali”, ceritanya mirip dengan kisah Raden Soekemi dan Nyoman Rai,” ujar Made Sujaya memberitahu seluruh Mahasiswa KKL. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain dari penulis DEDE PUTRA WIGUNA

Soekarno Lahir dari Drama Cinta Jawa-Bali yang Romantis
Gejolak Kenangan Pentas Teater “Rai Srimben” | Catatan Sutradara SMPN 1 Gerokgak
Peraturan Pentas Adalah Tantangan | Catatan Sutradara Teater Rai Srimben SMPN 4 Singaraja
Tentang Pintu/Lawang/Kori di Bale Agung, Buleleng
Patung Buddha Tidur, Pesona Vihara Dharma Giri di Pupuan-Tabanan

Tags: Bale Agung BulelengBung KarnoIr. SoekarnoRai SrimbenSingarajaSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kilas Balik Jegeg Bagus Karangasem 2024: Kreativitas dalam Kebudayaan untuk Menjaga Kesucian Alam

Next Post

Warga Buleleng Merayakan Hasil-Hasil Pembangunan di Hari Kemerdekaan

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

Read moreDetails

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
0
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

Read moreDetails

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
0
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

Read moreDetails

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails
Next Post
Warga Buleleng Merayakan Hasil-Hasil Pembangunan di Hari Kemerdekaan

Warga Buleleng Merayakan Hasil-Hasil Pembangunan di Hari Kemerdekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang
Pameran

Bali Megarupa VIII: Saat Spiritualitas, Tradisi, dan Seni Kontemporer Bertemu dalam Satu Ruang

MEMASUKI Gedung Kriya, Taman Budaya Provinsi Bali, pengunjung seolah diajak melintasi beragam dunia. Di satu sudut, akar kayu menjelma simbol...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co