19 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca Arsip Pertanian, Membentang Benang Kearifan: Teropong Mitos, Manuskrip, dan Ritus

Jero Penyarikan Duuran Batur by Jero Penyarikan Duuran Batur
August 28, 2024
in Esai
Membaca Arsip Pertanian, Membentang Benang Kearifan: Teropong Mitos, Manuskrip, dan Ritus

Jero Penyarikan Duuran Batur/IK Eriadi Ariana | desain tatkala.co

  • Artikel ini adalah materi dalam panel diskusi “Membaca Kembali Arsip Pertanian”, serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF), Jumat, 23 Agustus 2024, di area Museum Buleleng, Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

MEMBACA arsip-arsip pertanian Bali sama artinya dengan membaca utuh tubuh kebudayaan Bali. Arsip-arsip pertanian Bali bukan hanya menurun sebagai gambar visual atau dokumen tertulis, tetapi turut mengalir sebagai narasi-narasi budaya, adat-istiadat yang kompleks, hingga situs-situs paling sakral di Tanah Dewata.

Leluhur Bali sejak berabad-abad silam memandang pertanian bukan sekadar objek ekonomi, tetapi mata air peradaban. Hampir seluruh pura, manuskrip, tradisi lisan, kesenian, ritus, pengetahuan tradisional, hingga pranata orang Bali lahir dari aktivitas bercocok tanam di tegalan atau sawah. Bahkan, Agama Tirtha–sebutan Hooykaas untuk praktik beragama orang Bali sebelum dikenal sebagai Hindu–juga berpangkal pada kesadaran orang Bali atas kemuliaan dan kemahakuasaan energi ibu bumi, khususnya pada entitas tanah dan air: dua unsur terpenting dalam aktivitas pertanian.

Berdasarkan alasan-alasan tersebut, membicarakan arsip pertanian Bali perlu batasan. Pembatasan dilakukan semata-mata karena terbatasnya waktu bagi penulis untuk merambah luasnya ladang pemikiran agraris manusia Bali: ladang yang tak pernah habis dibajak dan ditanami pohon kehidupan.

Pada tulisan ini narasi tentang arsip pertanian Bali dibatasi sebatas pada beberapa mitologi, manuskrip, dan ritus tentang pertanian. Ketiganya adalah objek kebudayaan yang saling kait-mengkait dan dapat merepresentasikan objek-objek kebudayaan secara keseluruhan.

Mitos umumnya berperan sebagai motif pelaksanaan ritual. Kehadiran manuskrip umumnya berperan sebagai media untuk memperpanjang usia hidup mitos, sekaligus berperan sebagai dasar pelaksanaan ritual. Sementara itu, ritual hadir sebagai visual dari mitos dan teks yang tumbuh dalam ruang imaji.

Aliran Mitos Agraris

Mitos bukan sekadar cerita tentang entitas dewa, manusia-manusia terpilih, atau makhluk tertentu pada peristiwa luar biasa di suatu tempat. Mitos juga bukan seperangkat argumen tanpa logika yang tidak bisa dijelaskan. Jauh lebih dalam dari semua itu, mitos merupakan sistem komunikasi yang dibangun untuk menyampaikan pesan-pesan kearifan masa silam. Melalui mitoslah pengetahuan dirawat dan diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi masa depan.

Ada banyak mitos di Bali yang terkait dengan tata laku pertanian. Pada pembahasan ini akan dibahas tiga mitos yang bertumpu pada tokoh Bhatari Dewi Danuh, yakni mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah, mitos Ida Ratu Ayu Kentel Gumi, dan mitos Bukit Buung Batu Majalan. Pemilihan ketiga mitos itu didasarkan pada ketokohan Bhatari Dewi Danuh yang terhubung langsung dengan budaya pertanian di Bali.

Bhatari Dewi Danuh, dengan berbagai gelarnya, muncul dalam banyak manuskrip serta ritual yang melibatkan masyarakat agraris. Tokoh ini dinarasikan sebagai entitas yang “diberi kuasa” menjaga unsur pradhana Pulau Bali oleh dewa tertinggi alam semesta, Bhatara Hyang Pasupati. Elemen pradhana adalah elemen keibuan yang erat kaitannya dengan  kebendaan, kesejahteraan, dan “kesaktian”. Pradhana berpasangan dengan purusa, yakni elemen kebapakan yang erat kaitannya dengan kejiwaan, spiritualitas, dan kemurnian.

Elemen purusa dipegang oleh Bhatara Putrajaya yang bersetana di Gunung Agung. Konsep purusa-pradhana itulah yang menjadi alasan entitas Bhatara Putrajaya (Bhatara Gunung Agung) dan Bhatari Dewi Danuh (Bhatari Gunung Batur) dipuja oleh seluruh manusia Bali, setidak-tidaknya dalam wujud palinggih ‘bangunan suci’ Gedong Catu Mujung (Kerucut) dan Gedong Caru Meres.

Mitos Ida Ratu Ayu Mas Membah bercerita tentang Bhatari Danuh yang “menjual” air Tirta Mas Mampeh ke berbagai tempat. Tirta Mas Mampeh berada di barat Gunung Batur dan diamanatkan untuk disebarluaskan ke seluruh pelosok Pulau Bali. Air dijual dengan melewati beberapa tempat, seperti Belandingan, Pura Puseh Meneng, Munti Gunung, Baturinggit, Pegonjongan (Gretek), Panjingan (Les-Panuktukan), Tejakula, Bondalem, Air Sanih, hingga Pura Panusuan (Kubutambahan) (Duija, 2009). Aktivitas menyebarkan air yang demikian bernilai itulah penyebab Bhatari Danuh diberi gelar Ida Ratu Ayu Mas Membah.

Interaksi “jual-beli” air antara Bhatari Dewi Danuh dengan masyarakat di desa-desa tersebut bermuara pada kemunculan sumber air di masing-masing desa. Keberadaan mata air yang diterima oleh setiap komunitas adalah dasar munculnya relasi agraris antara masyarakat setempat dengan Pura Ulun Danu Batur berupa persembahan sarin tahun (hasil panen tahunan). Praktik mempersembahkan sarin tahun merupakan wujud memuliakan air dan tanah sebagai intisari aktivitas pertanian.

Mitos Ida Ratu Ayu Kentel Gumi terkait dengan asal-muasal hama yang menyerang tanaman. Konon, setelah Ida Bhatari Danuh dan Ida Bhatara Putrajaya bersetana di Gunung Agung dan Gunung Batur, keduanya terlibat perselisihan. Perselisihan ini disulut oleh ulah abdi Bhatara Gunung Agung yang merusak ladang pertanian Bhatari Gunung Batur. Peristiwa kutuk-mengkutuk pun terjadi antara dua tokoh tersebut, hingga akhirnya danau, sungai, sawah, dan lautan tercemar. Pencemaran lingkungan bermuara pada kemunculan hama yang menyebabkan gagal panen (Ariana, 2023).

Melihat kerusakan yang terjadi akibat pertikaian Bhatara Putrajaya dan Bhatari Danuh, ayahanda mereka, Bhatara Hyang Pasupati (Bhatara Semeru), turun ke Bali untuk mendamaikan. Setelah keduanya berdamai, Bhatara Semeru memberi Bhatari Dewi Danuh kuasa untuk meruwat hama dan wabah. Sejak saat itulah manifestasi Bhatari Dewi Danuh sebagai peruwat hama dan wabah bergelar Ida Ratu Ayu Kentel Gumi. Air sucinya dimohon dan diyakini dapat menghilangkan hama.

Mitos Bukit Buung Batu Majalan eksis di Desa Adat Pangosekan, Ubud. Pada mitos ini konon Ida Bhatari Danuh berkeinginan membuat danau dan bukit di Munduk Galang, kawasan Desa Pengosekan saat ini. Namun, rencana itu pupus setelah Ida Brahmana Gunung Sari menolaknya.

Penciptaan danau dan bukit mengalami kegagalan oleh celotehan pengembala bebek yang mengatakan “bukit buung, batu majalan (bukit yang gagal, batu yang berjalan)” ditambah dampak dari mantra sakti Ida Bhatara Gunung Lebah yang menyebabkan batu dan air berpencar.

Berdasarkan mitos tersebut, masyarakat setempat tidak perlu datang ke Danau Batur untuk mengambil sarana-sarana keperluan ritual mendem padagingan. Mereka cukup mengambil lumpur dari Carik Labak di desa setempat sebagai representasi kehadiran Danau Batur (Dewi, dkk., 2023).

Ladang Sastra Pertanian

Seperti halnya mitos, manuskrip pertanian juga berlimpah ruah di Bali. Pembahasan terhadap manuskrip-manuskrip itu tidak bisa diselesaikan pada satu tulisan singkat ini. Tulisan ini hanya akan membahas secara ringkas jejak pertanian dalam  Dharma Pamaculan (Sri Tattwa), Aji Pari, Uma Tattwa, Tantu Panggelaran, Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul, dan Kakawin Purwaning Gunung Agung.

Apabila membicarakan pertanian, Dharma Pamaculan menjadi teks yang cukup sering dibincangkan, baik di meja akademik maupun di kalangan praktisi pertanian. Konon, teks Dharma Pamaculan memuat ajaran Mpu Kuturan yang dahulu kala diterapkan di Majapahit.

Secara umum, teks ini membicarakan beberapa bahasan pokok, antara lain tata cara mengolah sawah, perhitungan waktu baik-buruk untuk aktivitas di sawah, tahapan menanam padi, tata cara memelihara padi, menghadapi hama, memperlakukan padi setelah dipanen, serta pelaksanaan ritual pada praktik pertanian di sawah maupun di ladang (pagagan).

Aji Pari adalah teks lain yang menyinggung praktik agraris. Aji Pari berarti ‘pengetahuan tentang padi’. Salah satu naskah Aji Pari disimpan di Unit Lontar Udayana (kode naskah: Kropak 29 No. 699). Lontar ini tergolong tipis, lantaran hanya terdiri atas enam lembar. Apabila ajaran Dharma Pamaculan dibawa dari Majapahit oleh Mpu Kuturan, maka Aji Pari adalah pengetahuan tentang Bhatari Sri yang awalnya berkembang di Jempakling, Melayu, Kamulan, Kampuga, dan Kawijilan.

Pengetahuan tentang padi itu kemudian dibawa ke Bali dengan sarana jung dan kuli-kuli. Aji Pari membahas nama-nama Bhatari Sri (padi) menurut wujudnya, tata cara memperlakuan padi, mantra-mantra terkait aktivitas pertanian padi, serta waktu-waktu yang berkaitan dengan pemujaan terhadap Dewi Kesejahteraan.

Uma Tattwa mewacanakan filosofis Bhatari Sri sebagai wujud inti dari padi. Selain itu, teks Uma Tattwa juga menyinggung tentang mantra dan sarana yang digunakan ketika padi dihadapkan pada berbagai kondisi, misalnya diserang hama.  Beberapa penanganan terhadap padi juga dilengkapi dengan gambar (rajah) yang diyakini berkekuatan magis dalam memecahkan persoalan aktivitas pertanian.

Rekam jejak agraris juga dapat ditelusuri dalam Tantu Panggelaran. Satu episode teks yang diduga berasal dari sekolah-sekolah rohani di Pulau Jawa pada abad ke-15 itu disebutkan asal-usul jenis beras.  Konon, berbagai jenis beras dahulu kala berasal dari tembolok empat ekor burung milik Bhatara Sri. Namun, keempat burung itu, yakni perkutut, puter derkuku merah, dan merpati hitam diburu oleh lima orang anak Hyang Kandiawan, yakni Mangukuhin, Sandang Garba, Kantung Malaras,  Karungkala, dan Wreti Kandayun.

Keempat tembolok burung tersebut di dalamnya terdapat gabah dengan biji yang beraneka warna. Gabah dengan biji berwarna hitam didapatkan dari tembolok merpati hitam, gabah dengan biji berwarna putih didapat dari tembolok burung perkutut, gabah dengan biji merah didapat dari tembolok derkuku merah, sedangkan gabah dengan biji berwarna kuning didapat dari tembolok burung puter.

Gabah yang didapat dari tembolok burung puter baunya sangat harum, sehingga kelima anak itu memakan biji beras berwarna kuning sampai habis. Mereka hanya meninggalkan kulit gabah yang ketika ditanam tumbuh menjadi tanaman kunyit. Peristiwa itu membuat beras berwarna kuning punah dan peran beras kuning digantikan dengan beras putih yang dilumuri dengan kunyit.

Konsep swi kreti ‘pemuliaan sawah’ sebagai salah satu bagian sad kreti  ‘enam pemuliaan’ terekam dalam manuskrip berjudul Kuttara Kanda Dewa Purana Bangsul. Manuskrip yang dikoleksi Perpustakaan Lontar Universitas Hindu Indonesia tersebut menjelaskan sad kreti sebagai tata laku manusia Bali untuk mencapai keharmonisan.

Setiap unsur sad kreti (giri kreti, wana kreti, ranu kreti, swi kreti, sagara kreti, dan jagat kreti) dijaga oleh para dewa manifestasi Dewa Sad Winayaka. Pusat pemuliaan unsur swi kreti berada di Pura Luhur Pakendungan dengan otoritas dewa yang bergelar Sang Hyang Sadhanatra.

Kakawin Purwaning Gunung Agung yang merupakan salah satu anak ideologis kawi wiku, Ida Pedanda Made Sidemen, menarasikan ilmu pertanian sebagai ilmu pertanian tingkat surga yang diajarkan langsung kepada manusia oleh Sang Hyang Trumurti. Manuskrip yang kini disimpan di Unit Lontar Universitas Udayana (kode koleksi: keropak 8 no. 502) itu menyebut motif Sang Hyang Trimurti menurunkan ilmu tentang persawahan agar manusia tidak kekurangan makanan.

Pematang Ritus Pertanian: dari Mapag Toya sampai Ngusaba

Rekam jejak peradaban pertanian di Bali juga tidak bisa dipisahkan dengan ritual-ritual yang berkelindan di seputarnya. Ritual pemuliaan lahan pertanian dilakukan di lahan kering maupun lahan basah. Namun, pertanian lahan basah, utamanya padi, memiliki pola ritual lebih kompleks.

Pada tingkat individu petani, ritual pertanian pada lahan basah mensiklus dari persiapan lahan hingga pascapanen. Pada periode pra-tanam, petani melaksanakan ritual-ritual seperti mapag toya (menjemput air), ngeruwak atau ngendagin (membuka lahan), dan ngurit (menyemai benih).

Pada periode masa tanam, ritual seperti mabiukung (ketika bulir padi akan keluar) dan persembahan upacara di bedugul akan digelar. Pada beberapa kawasan juga terdapat ritual nangluk merana (meruwat hama dari yang sifat merusak menjadi sifat membangun). Sementara itu, setelah padi memasuki masa panen, petani akan melaksanakan ritual manyi (memanen padi), ngadegang dewa nini, mendak dewa nini, dan ritual menempatkan padi di lumbung.

Selain ritual-ritual yang terkait siklus tanam, masyarakat agraris di Bali juga melaksanakan upacaradi pura yang terkait dengan sawah garapannya, misalnya Pura Ulun Carik, Pura Ulun Swi, dan Pura Ulun Danu. Upacara tersebut ada yang disebut pujawali, ada pula yang disebut ngusaba. Jenis ngusaba sangat banyak, misalnya ngusaba nini, ngusaba desa, ngusaba tegen, dan ngusaba nangluk merana. Setiap enam bulan sekali, petani Bali juga dilaksanakan upacara Tumpek Bubuh (Tumpek Wariga) sebagai momentum berterima kasih atas limpahan kontribusi tumbuh-tumbuhan pada kehidupan manusia.

Praktik ritual di Pura Ulun Danu Batur yang terhubung langsung dengan jejaring pasihan (komunitas subak yang berhulu ke Pura Ulun Danu Batur) dapat menjadi contoh rekaman ritual pemuliaan pertanian dalam skala yang lebih luas. Ritual yang dilaksanakan di Pura Ulun Danu Batur dan pura pangiderannya berjalan mensiklus selama setahun penuh, kecuali pada Sasih Sadha. Beberapa ritual di antaranya terkait dengan momentum turunnya air suci dengan fungsi yang berbeda-beda dalam dunia pertanian, yakni tirta pangruwak (pangendag), tirta nangluk merana, dan tirta sarin tahun.

Tirta pangruwak (air suci pembuka lahan) dimohon oleh masyarakat pasihan pada kisaran Sasih Kasa hingga Sasih Karo (Juli-Agustus). Tirta nangluk merana (air suci menetralisir hama) dimohon pada Sasih Kalima (November), tepatnya pada pelaksanaan Ngusaba Nangluk Merana.

Tirta sarin tahun dimohon pada Sasih Kadasa (April), yakni pada pelaksanaan Ngusaba Kadasa. Selain itu juga dilaksanakan ritual mendak toya setiap Purnama Sasih Katiga serta beberapa upacara pakelem sebagai pemuliaan terhadap danau, yakni danu kreti (setiap lima tahun sekali), tribhuwana (setiap 30 tahun), dan candi narmada (setiap 100 tahun).

Narasi Melemah, Lanskap Rebah, Kerakter Agraris Punah?

Arsip-arsip pertanian Bali, setidaknya terbatas pada mitos, manuskrip, dan ritual memberi gambaran tentang cara pandang orang Bali dalam memuliakan pertanian. Membaca rekam jejak itu, kita pun tidak bisa menampik bahwa pertanian diposisikan sebagai ibu yang selalu mengasihi segenap manusia.

Namun demikian, saat ini pertanian dan budaya bertani di Bali tengah berhadapan dengan persoalan serius. Narasi pertanian Bali terus melemah. Mitos-mitos kehilangan taringnya untuk mengikat kepatuhan manusia Bali dalam mengelola alam. Generasi muda Bali tidak lagi tertarik pada dunia pertanian karena dianggap sebagai dunia yang tidak menarik. Manuskrip-manuskrip yang menyimpan kearifan pertanian dilupakan, sementara ritus-ritus pertanian acapkali dirayakan hanya sebatas perayaan yang nihil nilai.

Melemahnya narasi pertanian Bali menjadi satu faktor rebahnya lanskap-lanskap pertanian Bali. Saat ini alih fungsi lahan pertanian terus terjadi. Lahan-lahan pertanian produktif menyerah dihantam kuasa kapital yang digandeng oleh pariwisata. Alih fungsi bahkan tak malu lagi menyergap kawasan-kawasan suci, bahkan acapkali tanpa mengindahkan bhisama, awig-awig, maupun pararem masyarakat adat setempat.

Menilik berbagai persoalan yang menghujam budaya pertanian Bali, pada akhirnya kita akan dihadapkan pada berbagai pertanyaan krusial: masihkah pertanian dianggap penting oleh orang Bali?; akankah karakter manusia Bali sebagai insan agraris akan punah?; dapatkah nilai-nilai agraris itu bertahan atau bertransformasi dalam bentuk yang lebih populer? Kita semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjawab pertanyaan tersebut.[T]

Daftar Pustaka

Ariana, I Ketut Eriadi. (2023). Mitos Ida Ratu Ayu Kentel Gumi: Strategi Konservasi Air Berbasis Tradisi Lisan pada I Made Suastika dan I Ketut Suar Adnyana (Ed.), Bunga Rampai Tradisi Lisan, Keberagaman, Menuju Era Batur (hal. 427-438). Pustaka Larasan

Duija, I Nengah. (2009). Mitos I Ratu Ayu Mas Membah (Pendekatan Theo-Antropologi). Pidato pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Antropologi Budaya pada Fakultas Dharma Acarya Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar.

Dewi, Ni Putu Novsa, dkk. (2023). Mitos Bukit Buung Batu Majalan di desa Adat Pengosekan: Analisis Ekologi Sastra. Humanis: Journal of Art and Humanities Vol. 27.1. Februari 2023 (hal. 53-64)

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
Mereka yang Mengabadikan Diri dalam Karya
Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
Khasanah Rempah, Makanan dan Obat Bagi Raga
Menyeret Teks Lama ke Dalam Eksperimentasi Media Baru
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Tags: Lontar Dharma PemaculanmanuskripSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Parfum Berbahan Rempah: Kearifan Sastra Bermotif Panji yang Belum Banyak Digali

Next Post

Tribute to Cok Sawitri: Sitayana, Jirah, dan Percakapan-Percakapan Lainnya

Jero Penyarikan Duuran Batur

Jero Penyarikan Duuran Batur

Memiliki nama lahir I Ketut Eriadi Ariana. Pemuda Batur yang saat ini dosen di Prodi Sastra Jawa Kuna Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Senang berkegiatan di alam bebas.

Related Posts

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

Read moreDetails

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails
Next Post
Tribute to Cok Sawitri: Sitayana, Jirah, dan Percakapan-Percakapan Lainnya

Tribute to Cok Sawitri: Sitayana, Jirah, dan Percakapan-Percakapan Lainnya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026
Panggung

Dramatari Arja Klasik Giri Nata Kusuma Hidup Kembali, Menjadi Duta Kota Denpasar Tampil di PKB 2026

WARGA Banjar Bukit Buwung¸ Desa Kesiman Petilan, Kecamatan Denpasar Timur memiliki semangat untuk membangkitkan kembali kesenian dramatari arja yang sudah...

by Nyoman Budarsana
May 19, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

‘Lock Accounts, Shaken Trust’: Perlunya Transparansi Komunikasi Perbankan

Freeze & Fret! Guys, tiba-tiba rekening kamu ada yang diblokir?? Nah, kebijakan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terkait...

by Fitria Hani Aprina
May 19, 2026
‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co