23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tribute to Cok Sawitri: Sitayana, Jirah, dan Percakapan-Percakapan Lainnya

Tini Wahyuni by Tini Wahyuni
August 22, 2024
in Esai
Tribute to Cok Sawitri: Sitayana, Jirah, dan Percakapan-Percakapan Lainnya
  • Artikel ini adalah materi dalam sesi “Tribute to Cok Sawitri”, serangkaian Singaraja Literary Festival (SLF), Sabtu 24 Agustus 2024, di area Gedong Kirtya Singaraja, Bali
  • Artikel ini disiarkan atas kerjasama tatkala.co dan Singaraja Literary Festival (SLF), 23-25 Agustus 2024

***

LIMA BELAS tahun lalu, saya sangat ingin punya teman penulis. Penulis perempuan Bali. Kenapa penulis perempuan Bali? Karena saya punya banyak pertanyaan tentang perempuan Bali, khususnya. Dalam benak saya, penulis adalah sosok yang menakjubkan. Berkenalan dengan penulis dan membaca karya-karyanya adalah kesempatan mengenal pikiran-pikiran, perasaan, persepsi, kecerdasan, dan juga kedalaman penyelaman batin mereka.

Lima belas tahun lalu itu, sekitar tahun 2009, Cok Sawitri (Cok) berkunjung ke kota saya, Singaraja. Buku Sutasoma, salah satu karyanya di bedah di FBS, Undiksha. Saya hadir. Sejak itulah saya memulai pertemanan. Pertemuan-pertemuan secara tatap muka jarang bisa terjadi karena Cok di Denpasar dan saya di sini. Media yang sering saya pakai untuk menemuinya adalah kotak pesan FB; tempat saya bertanya, bercerita dan mendengar cerita.

Tahun 2014, Cok rajin berbagi draft tulisannya, Sitayana, di status FB-nya. Setiap hari saya menunggu tulisan Cok dan me-repost-nya. Ternyata saya tidak sendirian. Cukup banyak teman FB saya  memberi apresiasi dan setiap hari setia menanti Sitayana. Teman-teman saya itu berasal dari berbagai macam latar belakang.

Saya selalu menyampaikan salam dan apresiasi mereka dan Cok selalu responsif:

”Terima kasih. Indah sekali rasanya jika suka dengan tulisan yang berlawanan dengan yang konvensional. Dari dulu saya ingin menulis tanpa beban di media yang bebas. Ternyata FB menyediakan itu …”

Tentang Sitayana, Cok pernah tiba-tiba menyapa:

”Mbok Tini, ini tahap paling berat dari Sitayana. Rasanya seperti tengah berhadapan dengan konsep awatara sekaligus maskulinitas dalam sastra. ”

”Ya, saya merasakannya. Tidak terbayang bagaimana proses penulisnya. Bagaimana cara Cok menghadapi bagian ini? Saya merasakan proses ini seperti dentuman energi,” jawab saya sekaligus bertanya.

”Saya berusaha untuk menjaga emosi agar tidak tergelincir. Saya seperti menarik nafas untuk bagian-bagian yang sangat ideologis itu,” terang Cok.

Setiap draft Sitayana saya simpan bagian per bagian ke satu berkas penyimpanan di FB. Ada 30-an lebih potongan-potongan tulisan draft itu yang kemudian terbit menjadi novel Sitayana.

Di tahun yang sama, masih 2014,  saya juga mulai bertanya tentang Jirah.

”Cok, berceritalah tentang Jirah. Saya ingin mengenalnya,” ujar saya meminta.

”Jirah yang mana Mbok Tini ingin tuju? Jirah sang ibu yang melahirkan garis penganut Siwa Budha atau versi pertunjukkan atau versi ruwatan sastra?” tanyanya sebelum menjelaskan.

”Yang mana menurut Cok yang sebaiknya saya tahu? Sebagai perempuan, sebagai ibu, mendengar nama Jirah membuat saya teringat perasaan yang tak ternamai. Perasaan-perasaan suka dan duka yang berujung rindu pulang ke rahim ibu,” kata saya.

”Sejujurnya, sejak kemarin saya kembali membuka kisah Calon Arang. Entah kenapa saya ingin membacanya dan ingin melanjutkan tulisan saya mengenai Jirah dan murid-muridnyanya. Rangda Ing Jirah atau Calon Arang adalah ibu buyut dari Mpu Tantular, penganut Budha yang tegas dan mempengaruhi sikap Budha Tantrisme. Ajaran Budha Jirah itu, serius mengajak menguji nalar dan rasio … pada akhirnya mengajak menjadi manusia biasa,” terang Cok.

Dengan rendah hati seperti biasanya seorang Cok Sawitri mengaku: ”Sampai sekarang saya juga masih belajar. Belajar dasar lakon ini, belajar menonton diri sendiri. Ada yang di dalam, ada yang diluar. Ada yang menonton, ada yang ditonton. Semua harus dilakoni. Seperti penari, harus bisa merasa menjadi penonton yang menonton agar tidak hanya merasa menjadi tontonan.”

Saat itu adalah saat-saat Cok mulai melengkapi tulisannya hingga kemudian lahir buku Trilogi Jirah.

***

Saya tidak setiap hari mengganggu Cok dengan pertanyaan-pertanyaan. Ada pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang seringkali saya maksudkan untuk mencocokan persepsi saja. Dan jika ada berbeda, kami sama-sama mengizinkan  perbedaan.

Pernah saya bertanya seputar kematian, kelahiran, dan semesta raya.

”Kemana nanti jika saya mati, Cok?” tanya saya kepadanya.

”Mbok kembali ke alam sebagai penggenap 5 energi besar yang nantinya membuat alam lebih tahan memenuhi kebutuhan manusia. Mbok kembali ke alam,” jawabnya.

”Kesini lagi—ke Bali?” saya kembali bertanya.

“Ini yang susah diprediksi. Ada kisah tentang benih yang terpental dari poros jeruji pedati semesta. Orang Bali memakai metafor ‘benih’ …  ‘suinih’ … ‘jelijih’ … Ketika memilih bulir beras, akan ada satu bulir benih yang dicopot dan justru itulah yang bisa tumbuh,” terang Cok.

Kemudian Cok meneruskan tentang “hal-hal putaran akasa, kehampaan adalah energi semesta, dan keentahan dalam hitungan yang mungkin sekejap, dan dalam tarikan nafas siapa kemudian titik kecil energi  yang mengandung kita akan dilahirkan…”

Saya melanjutkan bertanya. ”Lantas untuk apa lahir?”

”Untuk menderita.”

”Untuk apa menderita?”

”Untuk tersesat dari kesadaran. Untuk mengira tidur hanya karena mengantuk. Untuk merasakan tekanan sebagai tekanan yang kemudian membuat kita berpikir dan menyadari tentang lahirnya perasaan menderita. Kesadaran menyadari itu selalu disyarati keagungan, yang selalu akan lahir agar kita tidak tersesat .”

Percakapan-percakapan seperti ini biasanya terjadi malam hari hingga waktunya kami perlu istirahat. Cok suka pamit dari percakapan dengan mengabarkan akan pergi mandi dulu sebelum tidur. Cok juga dengan ringan pernah berbagi bunyi doanya sebelum tidur:

“Ya Tuhanku,  jika aku mati saat tidur, ya silakan. Agar esok disaat terjaga, terasa terang ringan jiwa tak takut apa-apa.”

Kadang rasa takut sering mengajak bercanda—4 April 2024.

Terima kasih untuk pertemuan singkat ini. Selamat melanjutkan perjalanan ke alam pilihan bersama buah-buah karma yang kelak terlahir di atas sayap-sayap takdir.[T]

Singaraja, 11 Agustus 2024.

  • BACA artikel lain terkait SINGARAJA LITERARY FESTIVAL 2024
ŚRI TATTWA: DEWI ŚRI & MPU KUTURAN — Merayakan Spirit Kesejahteraan Umat Manusia untuk Melawan Nafsu Kuasa Para Raksasa
Pedih Padi dan Tuhan Yang ‘Mabuk’ [Untuk Bapak dan Ibu]
Tentang Rambut dan Kisah-kisahnya
WARṆANAWARNA : Cerita Tentang Warna dan Kemungkinan Skema Teori Warna Bali
Parfum Berbahan Rempah: Kearifan Sastra Bermotif Panji yang Belum Banyak Digali
Membaca Arsip Pertanian, Membentang Benang Kearifan: Teropong Mitos, Manuskrip, dan Ritus
Tags: Cok SawitriSingaraja Literary FestivalSingaraja Literary Festival 2024
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca Arsip Pertanian, Membentang Benang Kearifan: Teropong Mitos, Manuskrip, dan Ritus

Next Post

Sastra yang Mengasuh

Tini Wahyuni

Tini Wahyuni

Seniman, pelukis, penulis. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Sastra yang Mengasuh

Sastra yang Mengasuh

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co