12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lisawati, Perempuan Penjual Bendera: 10 Tahun Merantau di Bali, Pernah Dikira Sudah Meninggal

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 17, 2024
in Khas
Lisawati, Perempuan Penjual Bendera: 10 Tahun Merantau di Bali, Pernah Dikira Sudah Meninggal

Lisawati | Foto: Dede

“Di kampung itu saya sudah diselametin, sudah sampai tahlilan ke-100 hari. Pas saya pulang, satu kampung engga nyangka saya masih hidup!”

Begitulah kata Lisawati ketika menceritakan pengalamannya saat pulang ke kampung halaman di Cianjur, Jawa Barat, untuk pertama kalinya, setelah mengadu nasib di Bali selama 10 tahun.

Lisawati merupakan penjual bendera pinggir jalan yang berada di Jalan WR Supratman, Kesiman, Denpasar. Tepatnya di tikungan arah Kesiman menuju Tohpati. Perempuan asal Cianjur itu telah melakoni pekerjaan sebagai penjual bendera selama 10 tahun setiap bulan Agustus. Lapaknya buka dari tanggal 1 sampai 16 Agustus, dari pukul 06:30 sampai 18:30 Wita.

Sebelum menjadi penjual bendera, ia pernah menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Malaysia sebagai ART (Asisten Rumah Tangga). Ia menjadi TKW sebelum menikah, yaitu pada tahun 1998 sampai akhir tahun 2003.

Lisawati mengatakan, saat menjadi TKW di Negeri Jiran itu, ia masih sering berkomunikasi dan sering mengabari keluarganya, terutama keluarga bapaknya. Barulah ketika menikah dan merantau ke Bali, ia mulai jarang berkomunikasi lagi, sudah lost contact.

“Sudah tidak ada yang bisa saya hubungi karena saking lamanya. Selain itu karena kendala ekonomi juga, jadi bukannya saya lupa, tapi memang tidak bisa karena tidak punya cukup uang untuk pulang,” kata Lisawati memberikan alasan.

Jika tidak berjualan bendera, ia sehari-hari menjual nasi di warungnya yang bernama Warung Dua Putri, letaknya di jalan bypass Padang Galak menuju Sanur. Suaminya bekerja jadi sopir truk, itupun tidak tetap setiap hari, terkadang juga serabutan.

Selain itu, dua anaknya yang masih berusia 19 dan 17 tahun juga terpaksa harus putus sekolah sejak pandemi, karena Ibu Lisawati dan suami tidak bisa membiayai sekolah anak-anaknya. Anak sulungnya kini bekerja di salah satu toko servis handphone di Denpasar, sementara yang bungsu bekerja menjadi pelayan di sebuah kedai makan di Jalan Tukad Barito, Denpasar.

Lisawati melayani pembeli bendera | Foto: Dede

Kedatangan rezeki dan mukjizat memang terkadang tidak terduga, begitupun dengan nasib baik Ibu Lisawati pada Lebaran lalu, ia mendapatkan program mudik gratis. Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan olehnnya. Ia pun pergi mudik ke Cianjur ditemani oleh anak bungsunya.

Lisawati begitu rindu dengan keluarga dan kampung halamannya, terutama dengan bapaknya. Ia menjelaskan, ibunya sudah meninggal sejak ia berusia tiga tahun, jadi semasa kecil, ia dan saudara-saudaranya diasuh oleh bapaknya. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

“Bersyukur kemarin ada mudik gratis, jadinya saya bisa melihat keluarga lagi dan bertemu Bapak. Bapak masih ingat betul dengan saya, padahal sudah lama tidak pulang,” ungkapnya.

Mendengarkan cerita Lisawati saya jadi teringat dengan kutipan dalam lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Rindu Tebal, “Rinduku tebal kasih yang kekal, detik ke detik bertambah tebal”. Barangkali itulah yang dirasakan oleh Ibu Lisawati ketika akhirnya berhasil mudik ke kampung halamannya.

Akan tetapi, sesampainya di kampung, ia baru menyadari ternyata ia  dianggap sudah meninggal, karena saking lamanya tidak pulang dan tidak berkabar. Bahkan ia ternyata sudah diupacarai sampai tuntas, sudah sampai tahlilan hari ke 100.

Lisawati merasa sedih ketika mengetahui ia dianggap sudah meninggal. Namun ia tak larut dalam kesedihan, baginya yang terpenting adalah berhasil pulang kampung dan bertemu bapaknya.

“Bapak saya umurnya sudah hampir 105 tahun, walaupun saya lama tidak pulang, tapi Bapak masih ingat betul saya siapa, ternyata ia memang menunggu saya untuk pulang. Bapak yakin kalau saya masih hidup,” katanya.

“Sepuluh hari saya di kampung, terus balik lagi ke Bali. Baru dua minggu saya di Bali, saya dikabari kalau Bapak meninggal. Ternyata sepuluh hari itu adalah kesempatan terakhir bertemu Bapak,” ujarnya sambil menahan tangis.

Lisawati merasa sangat terpukul dengan kepergian bapaknya, ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Tetapi baginya, yang namanya jalan hidup dan takdir, kita tidak bisa mengaturnya, semua atas kuasa Tuhan. Intinya semua harus disyukuri.

Ketika mendapatkan kabar itu, ia berusaha mencari pinjaman ke sana kemari agar bisa kembali pulang kampung untuk mengikuti upacara pemakaman bapaknya.

“Pas dapat kabar meninggalnya, saya paksain pulang. Walaupun ongkos pulang saya dapat minjem di tetangga, yang penting saya bisa pulang lagi,” ungkapnya.

Lisawati merapikan lapaknya | Foto: Dede

Lisawati mengungkapkan, kesulitan dalam menjual bendera adalah persaingannya. Ia mengatakan, di sepanjang jalan Kesiman menuju Tohpati itu banyak berjejer penjual-penjual bendera lainnya. Jadi tidak semua orang bisa pas berhenti di lapaknya, karena bisa saja di lapak penjual lain.

Menurutnya, penjualannya tahun ini merupakan tahun yang paling sepi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kini sangat sedikit orang yang berhenti di lapaknya untuk membeli bendera.

Biasanya ia bisa menjual bendera dengan hasil Rp 700 ribu hingga Rp 2 juta pe rhari. Namun, tahun ini kebanyakan orang menepi hanya untuk membeli bendera-bendera kecil atau bendera-bendera plastik yang harganya sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 50 ribu.

Hasil penjualan tersebut bukan sepenuhnya milik Lisawati, karena ia hanya menjualkan dagangan orang. Jadi jika tidak habis maka akan dikembalikan. Ia hanya mendapatkan upah karena telah membantu menjualkan bendera tersebut.

Kendati demikian, untuk bendera plastik seharga Rp 5 ribu, ia sendiri yang memodalinya sendiri, sehingga keuntungannya sepenuhnya ia bisang kantongi sendiri. Modal yang ia gunakan berasal dari upah hasil menjual bendera yang besar-besar itu.

“Bisanya cuma beli ini saja saya, jadi modalnya hanya untuk ini, karena mampunya hanya ini, kalau bendera yang lain saya tidak sanggup belinya,” katanya sembari menunjuk bendera plastik di lapaknya.

Dengan sikapnya yang sederhana, Lisawati menunjukkan bagaimana harus bersikap sabar dalam mengahadapi berbagai cobaan dan bersyukur dengan apa yang kita punya dan kita miliki. Merdeka secara sederhana adalah bagaimana kita bisa bersyukur dan memaknai kehidupan dengan arif. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Perempuan-Perempuan Pemetik Kopi di Desa Pegayaman
Belajar Kebermaknaan Hidup di PKP Community Centre, di Payangan-Gianyar
Ni Made Mira Cahyani, Lulusan Terbaik yang Suka Laki-laki Berbahasa Bali
Tags: baliHUT Kemerdekaan RIpenjual benderaperantau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Sastrawan Bali Mengumandangkan Semangat Kepahlawanan dalam Puspa Suara Pujangga

Next Post

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co