24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lisawati, Perempuan Penjual Bendera: 10 Tahun Merantau di Bali, Pernah Dikira Sudah Meninggal

Dede Putra Wiguna by Dede Putra Wiguna
August 17, 2024
in Khas
Lisawati, Perempuan Penjual Bendera: 10 Tahun Merantau di Bali, Pernah Dikira Sudah Meninggal

Lisawati | Foto: Dede

“Di kampung itu saya sudah diselametin, sudah sampai tahlilan ke-100 hari. Pas saya pulang, satu kampung engga nyangka saya masih hidup!”

Begitulah kata Lisawati ketika menceritakan pengalamannya saat pulang ke kampung halaman di Cianjur, Jawa Barat, untuk pertama kalinya, setelah mengadu nasib di Bali selama 10 tahun.

Lisawati merupakan penjual bendera pinggir jalan yang berada di Jalan WR Supratman, Kesiman, Denpasar. Tepatnya di tikungan arah Kesiman menuju Tohpati. Perempuan asal Cianjur itu telah melakoni pekerjaan sebagai penjual bendera selama 10 tahun setiap bulan Agustus. Lapaknya buka dari tanggal 1 sampai 16 Agustus, dari pukul 06:30 sampai 18:30 Wita.

Sebelum menjadi penjual bendera, ia pernah menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) di Malaysia sebagai ART (Asisten Rumah Tangga). Ia menjadi TKW sebelum menikah, yaitu pada tahun 1998 sampai akhir tahun 2003.

Lisawati mengatakan, saat menjadi TKW di Negeri Jiran itu, ia masih sering berkomunikasi dan sering mengabari keluarganya, terutama keluarga bapaknya. Barulah ketika menikah dan merantau ke Bali, ia mulai jarang berkomunikasi lagi, sudah lost contact.

“Sudah tidak ada yang bisa saya hubungi karena saking lamanya. Selain itu karena kendala ekonomi juga, jadi bukannya saya lupa, tapi memang tidak bisa karena tidak punya cukup uang untuk pulang,” kata Lisawati memberikan alasan.

Jika tidak berjualan bendera, ia sehari-hari menjual nasi di warungnya yang bernama Warung Dua Putri, letaknya di jalan bypass Padang Galak menuju Sanur. Suaminya bekerja jadi sopir truk, itupun tidak tetap setiap hari, terkadang juga serabutan.

Selain itu, dua anaknya yang masih berusia 19 dan 17 tahun juga terpaksa harus putus sekolah sejak pandemi, karena Ibu Lisawati dan suami tidak bisa membiayai sekolah anak-anaknya. Anak sulungnya kini bekerja di salah satu toko servis handphone di Denpasar, sementara yang bungsu bekerja menjadi pelayan di sebuah kedai makan di Jalan Tukad Barito, Denpasar.

Lisawati melayani pembeli bendera | Foto: Dede

Kedatangan rezeki dan mukjizat memang terkadang tidak terduga, begitupun dengan nasib baik Ibu Lisawati pada Lebaran lalu, ia mendapatkan program mudik gratis. Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan olehnnya. Ia pun pergi mudik ke Cianjur ditemani oleh anak bungsunya.

Lisawati begitu rindu dengan keluarga dan kampung halamannya, terutama dengan bapaknya. Ia menjelaskan, ibunya sudah meninggal sejak ia berusia tiga tahun, jadi semasa kecil, ia dan saudara-saudaranya diasuh oleh bapaknya. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara.

“Bersyukur kemarin ada mudik gratis, jadinya saya bisa melihat keluarga lagi dan bertemu Bapak. Bapak masih ingat betul dengan saya, padahal sudah lama tidak pulang,” ungkapnya.

Mendengarkan cerita Lisawati saya jadi teringat dengan kutipan dalam lirik lagu Iwan Fals yang berjudul Rindu Tebal, “Rinduku tebal kasih yang kekal, detik ke detik bertambah tebal”. Barangkali itulah yang dirasakan oleh Ibu Lisawati ketika akhirnya berhasil mudik ke kampung halamannya.

Akan tetapi, sesampainya di kampung, ia baru menyadari ternyata ia  dianggap sudah meninggal, karena saking lamanya tidak pulang dan tidak berkabar. Bahkan ia ternyata sudah diupacarai sampai tuntas, sudah sampai tahlilan hari ke 100.

Lisawati merasa sedih ketika mengetahui ia dianggap sudah meninggal. Namun ia tak larut dalam kesedihan, baginya yang terpenting adalah berhasil pulang kampung dan bertemu bapaknya.

“Bapak saya umurnya sudah hampir 105 tahun, walaupun saya lama tidak pulang, tapi Bapak masih ingat betul saya siapa, ternyata ia memang menunggu saya untuk pulang. Bapak yakin kalau saya masih hidup,” katanya.

“Sepuluh hari saya di kampung, terus balik lagi ke Bali. Baru dua minggu saya di Bali, saya dikabari kalau Bapak meninggal. Ternyata sepuluh hari itu adalah kesempatan terakhir bertemu Bapak,” ujarnya sambil menahan tangis.

Lisawati merasa sangat terpukul dengan kepergian bapaknya, ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri. Tetapi baginya, yang namanya jalan hidup dan takdir, kita tidak bisa mengaturnya, semua atas kuasa Tuhan. Intinya semua harus disyukuri.

Ketika mendapatkan kabar itu, ia berusaha mencari pinjaman ke sana kemari agar bisa kembali pulang kampung untuk mengikuti upacara pemakaman bapaknya.

“Pas dapat kabar meninggalnya, saya paksain pulang. Walaupun ongkos pulang saya dapat minjem di tetangga, yang penting saya bisa pulang lagi,” ungkapnya.

Lisawati merapikan lapaknya | Foto: Dede

Lisawati mengungkapkan, kesulitan dalam menjual bendera adalah persaingannya. Ia mengatakan, di sepanjang jalan Kesiman menuju Tohpati itu banyak berjejer penjual-penjual bendera lainnya. Jadi tidak semua orang bisa pas berhenti di lapaknya, karena bisa saja di lapak penjual lain.

Menurutnya, penjualannya tahun ini merupakan tahun yang paling sepi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Kini sangat sedikit orang yang berhenti di lapaknya untuk membeli bendera.

Biasanya ia bisa menjual bendera dengan hasil Rp 700 ribu hingga Rp 2 juta pe rhari. Namun, tahun ini kebanyakan orang menepi hanya untuk membeli bendera-bendera kecil atau bendera-bendera plastik yang harganya sekitar Rp 5 ribu hingga Rp 50 ribu.

Hasil penjualan tersebut bukan sepenuhnya milik Lisawati, karena ia hanya menjualkan dagangan orang. Jadi jika tidak habis maka akan dikembalikan. Ia hanya mendapatkan upah karena telah membantu menjualkan bendera tersebut.

Kendati demikian, untuk bendera plastik seharga Rp 5 ribu, ia sendiri yang memodalinya sendiri, sehingga keuntungannya sepenuhnya ia bisang kantongi sendiri. Modal yang ia gunakan berasal dari upah hasil menjual bendera yang besar-besar itu.

“Bisanya cuma beli ini saja saya, jadi modalnya hanya untuk ini, karena mampunya hanya ini, kalau bendera yang lain saya tidak sanggup belinya,” katanya sembari menunjuk bendera plastik di lapaknya.

Dengan sikapnya yang sederhana, Lisawati menunjukkan bagaimana harus bersikap sabar dalam mengahadapi berbagai cobaan dan bersyukur dengan apa yang kita punya dan kita miliki. Merdeka secara sederhana adalah bagaimana kita bisa bersyukur dan memaknai kehidupan dengan arif. Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. [T]

Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole

Perempuan-Perempuan Pemetik Kopi di Desa Pegayaman
Belajar Kebermaknaan Hidup di PKP Community Centre, di Payangan-Gianyar
Ni Made Mira Cahyani, Lulusan Terbaik yang Suka Laki-laki Berbahasa Bali
Tags: baliHUT Kemerdekaan RIpenjual benderaperantau
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Sastrawan Bali Mengumandangkan Semangat Kepahlawanan dalam Puspa Suara Pujangga

Next Post

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Dede Putra Wiguna

Dede Putra Wiguna

Kontributor tatkala.co, tinggal di Guwang, Sukawati, Gianyar

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Puisi-puisi Moch Aldy MA | Mari Berjumpa Selepas Kita Bekerja Keras

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co