13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan-perempuan Desa Jasri-Karangasem yang Tetap Setia Menciptakan Gerabah Tradisional

Agus Eka Cahyadi by Agus Eka Cahyadi
July 25, 2024
in Khas
Perempuan-perempuan Desa Jasri-Karangasem yang Tetap Setia Menciptakan Gerabah Tradisional

DESA JASRI merupakan salah satu desa tua di Kabupaetn Karangasem. Desa ini termasuk dalam Kelurahan Subagan, Kecamatan Karangasem. Kondisi geografis Desa Jasri didominasi lahan agraris dan bahari, dengan panorama pesisir yang menawan.

Sebagian besar masyarakat Desa Jasri bekerja sebagai petani, pedagang dan nelayan. Disamping itu ada satu kegiatan khusus yang dilakukan oleh penduduk desa yaitu membuat kerajinan gerabah. Pekerjaan ini biasanya dilakukan oleh para wanita.

Menurut penuturan sejumlah penduduk, kerajinan gerabah telah menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun di desa mereka. Sejak kapan tradisi ini dimulai dan sejak kapan ada di desa mereka, tidak ada yang bisa menjawab. Sejak lahir mereka sudah mendapati sanak keluarga membuat gerabah. Mungkin ada kaitannya dengan lokasi desa yang cukup dekat dengan pusat pemerintahan tradisional yaitu kerajaan atau puri Karangasem.

Pada masanya, Jasri dikenal sebagai desa penghasil gerabah terbaik di Karangasem. Pada masa kini, desa ini merupakan satu-satunya desa pengrajin gerabah di Kabupaten Karangasem. Keberadaan kerajinan gerabah di Desa Jasri yang telah ada sejak ratusan tahun, tentu telah mengalami pasang-surut.

Pada era-era sebelum dan sekitar tahun 1970-an, desa ini sempat mengalami masa kejayaan sebagai penghasil gerabah. Namun, belakangan hasil kerajinan itu semakin terpinggirkan dengan hadirnya barang-barang modern yang berbahan aluminum, seng, atau plastik.

Dahulu, hampir semua perabotan rumah tangga terbuat dari bahan tanah liat. Saat itu permintaan terhadap produk gerabah sangat tinggi, seperti tempat air, periuk, tungku, dan sebagainya., semua terbuat dari tanah.

Beberapa tetua di Jasri masih ingat bagaimana hampir di setiap rumah para wanita sibuk, bekerja, bergelut dengan tanah liat. Ketika itu, bahan baku tanah liat didatangkan dari Desa Seraya. Para pedagang tanah liat mendatangi Desa Jasri untuk menjajakan bahan baku grabah ini.

Namun kondisi itu sangat berbeda dengan sekarang, karena tidak ada lagi pedagang tanah liat yang berkunjung ke desa, tetapi pengrajin Desa Jasri yang harus mencari ke Desa Seraya. Penurunan pamor gerabah Jasri mulai terjadi seiring dengan derasnya aliran perabot-perabot rumah tangga modern berbahan plastik, logam, aluminium, dan sebagainya.

Perabot-perabot modern ini mulai merebak di awal tahun 1980-an. Perabot-perabot itu hadir dengan berbagai keunggulan seperti harga murah, praktis, higienis, dan modern.

Kencangnya aliran barang-barang modern tentu menyebabkan geliat kerajinan gerabah di Desa Jasri mulai meredup dan hampir punah. Dari semula dapat ditemui ratusan pengrajin yang aktif, sekarang tinggal belasan pengrajin saja. Pengrajin yang masih bertahan hingga sekarang lebih banyak hanya melayani kebutuhan untuk alat-alat upacara keagamaan (yadnya).

Para pengrajin yang tersisa didominasi oleh wanita yang sudah sepuh. Sangat sedikit para pemuda yang tertarik untuk bergelut sebagai pengrajin grabah. Mereka lebih memilih bekerja merantau ke luar desa.

***

Mengunjungi dan berdialog dengan para pengrajin grabah di Desa Jasri membuat saya sangat berkesan. Karakter masyarakat desa tradisional yang guyub, menerima saya dengan ramah. Di rumah mereka yang sederhana, saya dapat menyaksikan aktivitas pengrajin yang bercengkrama dengan tanah liat. Harum aroma tanah begitu terasa menyelimuti perbincangan kami.

Pengrajin membuat gerabah dengan teknik atau proses tradisional. Adapun bahan yang digunakan untuk memproduksi grabah antara lain tanah liat, bahan pewarna (pere), dan air. Alat yang digunakan juga sangat sederhana, antara lain bangkongan, lilidan, batu dan kayu, pemokpok, dan sidi (ayakan)

Gambar 1. Suasana rumah pengrajin gerabah di desa Jasri

Gambar 2. Bahan baku tanah liat dari Desa Seraya

Gambar 3. Alat-alat tradisional yang digunakan untuk memproduksi gerabah di Desa Jasri

Proses pengerjaan gerabah tradisional Desa Jasri masih mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Setidaknya ada tiga tahapan pengerjaan gerabah di desa ini, yaitu dimulai dengan mengolah bahan baku tanah liat, membentuk berbagai jenis produk, dan pembakaran.

Mengolah Tanah

Tanah liat sebagai bahan baku diperoleh dari Desa Seraya. Tanah dari desa ini dianggap sebagai tanah terbaik karena bersih dari campuran seperti batu padas, bata, pasir dan yang lainnya serta berkualitas bagus atau elastis. Pengolahannya adalah sebagai berikut:

  • Nendeng. Tanah liat terlebih dahulu dijemur hingga kering.
  • Nigtig. Tanah yang sudah kering ditumbuk atau dipukul-pukul dengan kayu dan batu.
  • Nyidi. Dilanjutkan dengan menyaring tanah tersebut dengan ayakan hingga dihasilkan tanah yang bertekstur halus.
  • Ngulam. Tanah yang sudah halus dicampur dengan air sedikit demi sedikit sambil diulet hingga menjadi adonan yang siap diolah. Proses ini dikerjakan pada meja yang disebut pemokpok

Membentuk produk

  • Nguseh. Setelah adonan tanah siap, dilanjutkan dengan proses pembentukan menjadi produk-produk yang diinginkan. Nguseh dilakukan di atas (lilidan) yaitu papan kayu bundar dengan permukaan datar dan bisa diputar-putar. Lilidan ditaruh di atas bangkongan yang sekaligus sebagai tempat duduk si pengrajin. Sambil tangan kiri terus menggerakkan atau memutar lilidan, dengan cekatan tangan kanan pengrajin mengolah adonan menjadi bentuk produk yang diinginkan.
  • Panyeliman. Setelah menampakkan bentuk produk, maka dilanjutkan melakukan pengusapan dengan kain pada permukaan produk untuk membersihkan dan memperhalus tampilannya.
  • Mepayasin. Terhadap produk yang dilengkapi hiasan dilanjutkan menambah motif dan gambar.
  • Ngewarnin. Mengusapkan warna pada permukaan produk dengan bahan alami (pere)

Pembakaran

  • Nengdeng. Pengeringan di bawah sinar matahari
  • Penunyelin. Pengasapan produk yang sudah kering yang dilakukan pada tungku

Gambar 4. Proses pembentukan gerabah

***

Produk yang dihasilkan oleh para pengrajin Desa Jasri sebenarnya sangat tergantung dari pasar dan pesanan para pelanggan. Dapat diketahui setidaknya ada tiga macam produk berdasarkan fungsinya, yaitu produk grabah yang berfungsi sebagai kelengkapan upacara yadnya, sebagai perabot rumah tangga, dan fungsi hiasan.

Produk yang berfungsi sebagai sarana upacara yadnya antara lain  Coblong (tempat tirta), Pasepan (tempat perapian), penudusan, Sewamba, Kulu, Gupa (sarana upakara untuk pitra yadnya), Mingke, dan lain-lain. 

Produk gerabah yang berfungsi sebagai perabot rumah tangga seperti Gentong (tempat air), Ceretan (tempat air), Payuk (Periuk), Pane atau paso (tempayan), Jalikan (damar), kulub. Produk gerabah yang berfungsi untuk penghias seperti pas bunga, pot tanaman dan lain-lain.

Gambar 5. Beberapa jenis produk yang dihasilkan

BACA artikel lain dari penulis AGUS EKA CAHYADI

Tradisi Menganyam Tikar Pandan di Desa Tumbu, Tradisi yang Bertahan Menghidupi Warga
Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud
Ida Bagus Jelantik Purwa | Cerita Manusia, Hewan dan Tumbuhan pada Prasi yang Istimewa
Tags: Desa Jasrigerabahkarangasemperajin gerabah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Mumuland Up Close” di Rumah Tanjung Bungkak

Next Post

Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali

Agus Eka Cahyadi

Agus Eka Cahyadi

I Wayan Agus Eka Cahyadi. Lahir di Ubud, 12 Agustus 1984. Dosen FSRD ISI Denpasar

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali

Menghidupkan Spirit Marya dan Pernik Estetika Festival sebagai Ruang Alternatif Seni Pertunjukan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co