2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud

Agus Eka Cahyadi by Agus Eka Cahyadi
January 31, 2023
in Panggung
Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud

Penari Onying dalam Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud

Rabu 25 Januari 2023, dalam rangkaian upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud, digelar pementasan dramatari penyalonarangan. Pementasan dilakukan di jaba Pura Dalem Ubud dengan mengambil lakon Kala Ludra. Lakon ini bersumber dari lontar Kala Tattwa, yang mengisahkan pertemuan Bhatari Durga dalam wujud Durga Mahabhairawi dengan Bhatara Siwa dalam wujud Kala Ludra.

Dramatari penyalonarangan Kala Ludra diawali dengan prosesi napak kalangan yang menghadirkan seluruh tapakan atau sesuhunan se-Desa Adat Ubud: Ida Sesuhunan Ratu Lingsir, Ratu Ayu dan Ratu Sakti yang malinggih di Pura Batur Sari, Ida Ratu Gede Manik yang melinggih di Puri Agung Ubud Pesaren Kauh, Ida Sesuhunan Ratu Ayu Pura Desa Adat Ubud, Ida Ratu Sapuh jagat, Ida Ratu Niang Sakti dan Ida Ratu Sida Karya yang melinggih di Pura Dalem Desa Adat Ubud.

Ida sesuhunan diiring mengelilingi tempat pementasan dengan arah pradaksina (berkeliling ke arah kanan) sebagai simbol penyucian. Di tengah-tengah ritual ini, Ida Sesuhunan dihaturkan tarian sakral Rejang Dewa yang ditarikan oleh Sembilan remaja putri.

Pada kesempatan ini, Ida Ratu Lingsir katurang mesolah, napak pertiwi, menari di tengah kalangan pementasan. Ida Ratu Lingsir atau yang juga disebut Anusapati merupakan sesuhunan Barong Ket yang disungsung oleh seluruh Krama Desa Adat Ubud. Ida sesuhunan melinggih atau beryoga di Pura Batur Sari.

Gambar: Ida Ratu Lingsir Pura Batur Sari Ubud berperan sebagai Kala Ludra

Cerita dimulai ketika Bhatari Uma menjalani kutukan turun ke dunia. Dikisahkan, karena suatu kekeliruan Bhatari Uma, sakti Bethara Siwa, dihukum turun ke dunia menjadi Durga Mahabhairawi. Kutukan dijalani Bhatari Durga dengan melakukan yoga di tengah Setra atau kuburan Gandamayu yang terkenal angker.

Kekuatan yoga yang mahadasyat dari Bhatari Durga, mengakibatkan getaran dan goncangan yang sangat kuat terhadap alam semesta. Mengetahui ancaman bahaya terhadap kehidupan di dunia, membuat Sang Hyang Tri Murti turun ke dunia menghadapi Bhatari Durga. Saat turun ke dunia Sang Hyang Tri Murti merubah wujud. Bhatara Wisnu mengambil wujud Telek yaitu topeng petak atau topeng putih yang ditarikan oleh delapan orang putri. Bhatara Brahma mengambil wujud topeng Bang atau topeng merah yang ditarikan oleh dua orang putra. Sedangkan Bhatara Siwa menjelma menjadi Banaspati Raja atau Barong.

Bhatari Durga yang diganggu yoganya menjadi marah dan menjelma menjadi Durga mahabhairawi dengan wujud yang sangat menyeramkan. Matanya melotot bercahaya bagaikan matahari, lidahnya menjulur mengelurakan api yang mampu membinasakan segala yang ada di dekatnya. Suaranya lantang keras mengaum memekikkan telinga. Sosok Bhatari Durga ini diperankan Ida Sesuhunan Ratu Niang Sakti yang melinggih di Pura Dalem Desa Adat Ubud.

Ketika Bhatara Siwa menjumpai istrinya, terjadi pertempuran yang sangat hebat. Siwa dalam wujud Pandung berulang kali menusukkan keris ke tubuh Durga, namun tidak mempan sama sekali. Kemudian Pandung memurti rupa menjadi Banaspati Raja yang sangat mengerikan. Berupa binatang gaib berbulu yang dilingkupi dengan cahaya terang.

Banaspati Raja diperankan Ida Sesuhunan Ratu Lingsir Batur Sari. Bergerak dengan lincah sambil menghentak-hentakkan kaki mengeluarkan suara gemerincing. Pertemuan ini kembali menggetarkan semesta. Kemudian Banaspati menghilang secara gaib menjelma menjadi penari onying yang menghunus keris.

Para onying sigap berani tidak gentar menghadapi kemarahan Bhatari Durga. Meskipun sesekali harus terjengkang terkena libasan kereb atau kain putih yang dikibas-kibaskan Durga. Hingga kemudian kemarahan dan kebencian Durga mulai pudar dan bersamaan dengan itu Durga lenyap secara gaib.

Sedangkan Para onying yang tengah dilingkupi energi besar Banaspati dan dirasuki kemarahan Durga, kemudian mulai menusukan keris yang digenggam ke tubuh mereka masing-masing sebagai bentuk perlawanan terhadap nafsu (sad ripu) yang ada dalam diri hingga ditentramkan kembali dengan percikan tirtha pekuluh Ida Sesuhunan Ratu Lingsir.

Gambar: Penari Onying.

Dalam episode selanjutnya, diceritakan kembali mengenai Bhatari Uma yang tengah menjalani hukuman di dunia. Setelah sekian lama Bhatari Uma melinggih di Kahyangan Dalem, beliau dikenal sebagai Bhatari Durga, dan para pengikut dan sisya beliau semakin banyak. Ritus-ritus dan persembahan kehadapan Ida Bhatari Durga semakin sering dilakukan. Para sisya mengabdi dengan rasa tulus dan gembira. Tarian sisya ngelembar, menampilkan delapan penari putri menggambarkan kesetiaan para sisya atau pengikut Bhatari Durga.

Bhatari Durga dikelilingi oleh para abdi yang sangat setia. Salah satu diantaranya bernama Kalikamaya. Kalikamaya pada mulanya adalah seorang bidadari cantik dari swargaloka. Namun karena suatu kesalahan, bidadari ini dikutuk turun ke dunia dengan wujud yang sangat menyeramkan. Dia dianugrahi pengikut para butha kala dan ditugaskan menjadi penjaga setra atau kuburan.

Dalam pertunjukan ini, Kalikamaya ditampilkan sebagai sosok galuh liku yang berparas cantik, dan ditemani bibi Sahpati yang ditampilkan sebagai condong. Mereka sangat setia menjadi abdi dan pengikut Ida Bhatari Durga.

Sosok Bhatari Durga ditampilkan dalam wujud sosok Matah Gede, seorang wanita tua berparas angker. Ketika memasuki sasih Kalima hingga Jyesta, Ida Bhatari Durga melakukan perjalanan, berkeliling macecingak mengawasi seantero Desa. Sebelum itu, Ida Bhatari diiringi Kalikamaya dan Sahpati pergi menuju setra atau kuburan untuk melakukan pemujaan dan pembersihan diri melalui ritus gerak-gerak tarian yoga.

Di Siwaloka, tempat beryoganya Bhatara Siwa, para pengikut Siwa (penasar dan wijil) mendapat titah dari Siwa untuk turun ke dunia mencari keberadaan Bhatari Uma. Bhatara Siwa merasakan rindu yang sangat mendalam dengan istrinya yang sudah lama menjalani kutukan turun ke dunia menjadi Durga Mahabhairawi. Setelah menerima laporan tentang keberadaan istrinya, Siwa disertai para pengikut turun ke bumi menuju setra Gandamayu.

Di setra Gandamayu yang angker, Bhatara Siwa berjumpa dengan Kalikamaya dan Sahpati, yang ditugaskan menjadi tempat itu. Diselimuti perasaan rindu yang menggebu, Siwa mengira Kalikamaya yang berparas cantik itu adalah istrinya. Hampir saja Siwa menumpahkan rindunya yang bergejolak kepada Kalikamaya. Namun ketika Kalikamaya ingin didekap oleh Siwa, seketika Kalikamaya menampakkan wujud aslinya sebagai celuluk, sosok raksasa botak yang mengerikan.

Kehadiran Siwa di bumi kemudian disampaikan kehadapan Bhatari Durga. Siwa menyadari, tidak bisa bertemu dan menumpahkan rindu kepada istrinya yang tengah dikutuk sebagai Mahabhairawi. Maka untuk mengimbangi kutukan itu, Bhatara Siwa memurti rupa, berubah wujud menjadi Kala Ludra. Kala Ludra merupakan pemurtian Siwa dengan wujud yang paling mengerikan. Kala Ludra diperankan melalui Ida Ratu Lingsir Batur Sari. Sedangkan Durga Mahabhairawi diperankan Ida Ratu Sakti Batur Sari.

Kala Ludra dan Durga Mahabhairawi bertemu di pemuunan setra Gandamayu. Mereka berdua melakukan pertemuan sakral, yang dilingkupi suasana magis yang menggetarkan seisi semesta. Dari pertemuan ini, kemudian melahirkan berbagai unsur-unsur ganjil, aneh dan menyeramkan, seperti roh-roh, Butha Kala dan mahluk-mahkluk yang mengerikan, termasuk penyakit, bakteri, virus Covid dan sebagainya.

Kelahiran berbagai unsur-unsur negatif ini menyebabkan terjadinya guncangan dan ketidakstabilan di bumi. Para pengikut Durga dengan masif menebarkan wabah penyakit yang meneror kehidupan manusia. Sakit demam panas sehari atau dua hari, lalu mati. Mayat bertumpuk-tumpuk di makam, di ladang-ladang dan di jalan-jalan. Jalanan sepi sunyi, tidak ada yang berani melintas.

Di negeri Galuh, berbagai upaya sudah dilakukan untuk lepas dari segala musibah dan teror wabah yang diakibatkan oleh kehadiran unsur negatif ini. Di tengah penderitaan dan keputus asaan, diutuslah seorang patih andal Janapati untuk menghadap Bhatari Durga. Patih ditugaskan untuk memohon kehadiran Bhatari Durga yang akan dipersembahkan Yadnya Peneduh Jagat yang dilaksanakan di Setra. Dengan segala keberanian, Sang patih menghunuskan dan menusukkan ujung keris ke tubuh Hyang Durga, sambil memohon supaya segala unsur negatif yang merusak ketentraman dunia menjadi somya atau kembali ke asalnya. 

Tindakan sang patih Janapati menyebabkan kemarahan Durga. Teriakan Durga telah mengundang kehadiran empat saudaranya yang lain yang sedang beryoga di empat penjuru mata angin. Sekejap saja mereka berubah wujud menjadi lima raksasa yang sangat menakutkan dan menempati lima arah penjuru mata angin.

Mereka dikenal sebagai Panca Durga, yaitu Sri Durga di timur, diperankan oleh Ida Ratu Ayu Pura Desa, Dari Durga di Selatan diperankan oleh Ida Ratu Sakti Pura Batur Sari, Suksmi Durga di Barat, diperankan oleh Ida Ratu Ayu Pura Batur Sari, Raji Durga di Utara, diperankan oleh Ida Ratu Niang Sakti, serta Dewi Durga di tengah diperankan oleh Ida Ratu Sapuh Jagat.

Kelima Durga inilah yang beryoga menciptakan berbagai mahkluk jahat untuk menjalankan tugasnya menyebarkan berbagai penyakit. Kehadiran panca durga napak pertiwi menjadi bagian akhir dari kisah dramatari penyalonarangan ini.

Panca Durga diiringi menuju pura Prajapati Desa Adat Ubud. Di tengah setra desa adat ubud Ida Sesuhunan dihaturkan upacara caru, segehan agung yang disertai sambleh kucit butuan sebagai wujud doa permohonan masyarakat Ubud agar Ida Sesuhungan Panca Durga sedia menyerap dan memusnahkan segala unsur negatif dan menghadirkan ketentraman serta kesejahteraan jagat Ubud.

Gambar: Ida Ratu Sapuh Jagat berperan sebagai Bhatari Durga

Dramatari Penyalonarangan berlakon Kala Ludra merupakan pertunjukan seni yang berpangkal dari sastra agama, terangkai dengan ritus yadnya khususnya Bhuta Yadnya yang sarat dengan nilai-nilai filosofis, magis dan keindahan. Pementasan kolosal ini melibatkan seniman tari seperti Celekontong Mas, Jero Mangku Kadek Serongga, Maskar, Made Astari, Kadek Capung, Bawa, Mang Tawa, Niktung, Cikho Cis, Gus Epik, Wayan Sukra, Ngurah Janur, dan didukung oleh para Yowana se-Bale Agung Ubud, STT Santhi Graha Ubud Kaja (SGUK), Krama Desa Adat Ubud Kaja, serta diiringi alunan gamelan sekaa Gong Bina Yowana Canthi Puri Menara Ubud.

Ide Cerita dari Jero Mangku Kadek Serongga, Pembina Tabuh adalah Dewa Putu Rai, I Wayan Sudirana, dan Koordinator Nyoman Aryawan. Sebagai pelindung adalah Bendesa Adat Ubud Cokorda Raka Kertyasa (Cok Ibah) dan Kelian Desa Adat Ubud Kaja Nyoman Ada. [T]

Tags: Calonarangkesenian baliUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Abad NU: Kurangi Seremoni, Perbanyak Aksi

Next Post

Tinggi Kasus Rabies di Buleleng, Desa Adat Atur Tata Cara Pelihara Anjing Lewat Pararem

Agus Eka Cahyadi

Agus Eka Cahyadi

I Wayan Agus Eka Cahyadi. Lahir di Ubud, 12 Agustus 1984. Dosen FSRD ISI Denpasar

Related Posts

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails

Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

by Nyoman Budarsana
September 20, 2026
0
Energi Anak Muda Menghidupkan Baleganjur Ngarap di ARMA Fest 2026

Ketika malam mulai turun, suasana Open Stage Museum ARMA, Ubud, berubah semarak. Kreativitas anak-anak muda tumpah dalam Lomba Baleganjur Ngarap...

Read moreDetails

21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

by Nyoman Budarsana
September 16, 2026
0
21 Gelar Juara Dibawa Badung, Koster Minta Tahun Depan Hadiah Utsawa Dharmagita Dinaikkan

Kabupaten Badung tampil dominan pada Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 dengan memborong 21 dari 37 gelar juara...

Read moreDetails

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
0
Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

Read moreDetails

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
0
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

Read moreDetails

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails
Next Post
Tinggi Kasus Rabies di Buleleng, Desa Adat Atur Tata Cara Pelihara Anjing Lewat Pararem

Tinggi Kasus Rabies di Buleleng, Desa Adat Atur Tata Cara Pelihara Anjing Lewat Pararem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co