3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud

Agus Eka Cahyadi by Agus Eka Cahyadi
January 31, 2023
in Panggung
Narasi Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud

Penari Onying dalam Dramatari Penyalonarangan “Kala Ludra” di Pura Dalem Desa Adat Ubud

Rabu 25 Januari 2023, dalam rangkaian upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud, digelar pementasan dramatari penyalonarangan. Pementasan dilakukan di jaba Pura Dalem Ubud dengan mengambil lakon Kala Ludra. Lakon ini bersumber dari lontar Kala Tattwa, yang mengisahkan pertemuan Bhatari Durga dalam wujud Durga Mahabhairawi dengan Bhatara Siwa dalam wujud Kala Ludra.

Dramatari penyalonarangan Kala Ludra diawali dengan prosesi napak kalangan yang menghadirkan seluruh tapakan atau sesuhunan se-Desa Adat Ubud: Ida Sesuhunan Ratu Lingsir, Ratu Ayu dan Ratu Sakti yang malinggih di Pura Batur Sari, Ida Ratu Gede Manik yang melinggih di Puri Agung Ubud Pesaren Kauh, Ida Sesuhunan Ratu Ayu Pura Desa Adat Ubud, Ida Ratu Sapuh jagat, Ida Ratu Niang Sakti dan Ida Ratu Sida Karya yang melinggih di Pura Dalem Desa Adat Ubud.

Ida sesuhunan diiring mengelilingi tempat pementasan dengan arah pradaksina (berkeliling ke arah kanan) sebagai simbol penyucian. Di tengah-tengah ritual ini, Ida Sesuhunan dihaturkan tarian sakral Rejang Dewa yang ditarikan oleh Sembilan remaja putri.

Pada kesempatan ini, Ida Ratu Lingsir katurang mesolah, napak pertiwi, menari di tengah kalangan pementasan. Ida Ratu Lingsir atau yang juga disebut Anusapati merupakan sesuhunan Barong Ket yang disungsung oleh seluruh Krama Desa Adat Ubud. Ida sesuhunan melinggih atau beryoga di Pura Batur Sari.

Gambar: Ida Ratu Lingsir Pura Batur Sari Ubud berperan sebagai Kala Ludra

Cerita dimulai ketika Bhatari Uma menjalani kutukan turun ke dunia. Dikisahkan, karena suatu kekeliruan Bhatari Uma, sakti Bethara Siwa, dihukum turun ke dunia menjadi Durga Mahabhairawi. Kutukan dijalani Bhatari Durga dengan melakukan yoga di tengah Setra atau kuburan Gandamayu yang terkenal angker.

Kekuatan yoga yang mahadasyat dari Bhatari Durga, mengakibatkan getaran dan goncangan yang sangat kuat terhadap alam semesta. Mengetahui ancaman bahaya terhadap kehidupan di dunia, membuat Sang Hyang Tri Murti turun ke dunia menghadapi Bhatari Durga. Saat turun ke dunia Sang Hyang Tri Murti merubah wujud. Bhatara Wisnu mengambil wujud Telek yaitu topeng petak atau topeng putih yang ditarikan oleh delapan orang putri. Bhatara Brahma mengambil wujud topeng Bang atau topeng merah yang ditarikan oleh dua orang putra. Sedangkan Bhatara Siwa menjelma menjadi Banaspati Raja atau Barong.

Bhatari Durga yang diganggu yoganya menjadi marah dan menjelma menjadi Durga mahabhairawi dengan wujud yang sangat menyeramkan. Matanya melotot bercahaya bagaikan matahari, lidahnya menjulur mengelurakan api yang mampu membinasakan segala yang ada di dekatnya. Suaranya lantang keras mengaum memekikkan telinga. Sosok Bhatari Durga ini diperankan Ida Sesuhunan Ratu Niang Sakti yang melinggih di Pura Dalem Desa Adat Ubud.

Ketika Bhatara Siwa menjumpai istrinya, terjadi pertempuran yang sangat hebat. Siwa dalam wujud Pandung berulang kali menusukkan keris ke tubuh Durga, namun tidak mempan sama sekali. Kemudian Pandung memurti rupa menjadi Banaspati Raja yang sangat mengerikan. Berupa binatang gaib berbulu yang dilingkupi dengan cahaya terang.

Banaspati Raja diperankan Ida Sesuhunan Ratu Lingsir Batur Sari. Bergerak dengan lincah sambil menghentak-hentakkan kaki mengeluarkan suara gemerincing. Pertemuan ini kembali menggetarkan semesta. Kemudian Banaspati menghilang secara gaib menjelma menjadi penari onying yang menghunus keris.

Para onying sigap berani tidak gentar menghadapi kemarahan Bhatari Durga. Meskipun sesekali harus terjengkang terkena libasan kereb atau kain putih yang dikibas-kibaskan Durga. Hingga kemudian kemarahan dan kebencian Durga mulai pudar dan bersamaan dengan itu Durga lenyap secara gaib.

Sedangkan Para onying yang tengah dilingkupi energi besar Banaspati dan dirasuki kemarahan Durga, kemudian mulai menusukan keris yang digenggam ke tubuh mereka masing-masing sebagai bentuk perlawanan terhadap nafsu (sad ripu) yang ada dalam diri hingga ditentramkan kembali dengan percikan tirtha pekuluh Ida Sesuhunan Ratu Lingsir.

Gambar: Penari Onying.

Dalam episode selanjutnya, diceritakan kembali mengenai Bhatari Uma yang tengah menjalani hukuman di dunia. Setelah sekian lama Bhatari Uma melinggih di Kahyangan Dalem, beliau dikenal sebagai Bhatari Durga, dan para pengikut dan sisya beliau semakin banyak. Ritus-ritus dan persembahan kehadapan Ida Bhatari Durga semakin sering dilakukan. Para sisya mengabdi dengan rasa tulus dan gembira. Tarian sisya ngelembar, menampilkan delapan penari putri menggambarkan kesetiaan para sisya atau pengikut Bhatari Durga.

Bhatari Durga dikelilingi oleh para abdi yang sangat setia. Salah satu diantaranya bernama Kalikamaya. Kalikamaya pada mulanya adalah seorang bidadari cantik dari swargaloka. Namun karena suatu kesalahan, bidadari ini dikutuk turun ke dunia dengan wujud yang sangat menyeramkan. Dia dianugrahi pengikut para butha kala dan ditugaskan menjadi penjaga setra atau kuburan.

Dalam pertunjukan ini, Kalikamaya ditampilkan sebagai sosok galuh liku yang berparas cantik, dan ditemani bibi Sahpati yang ditampilkan sebagai condong. Mereka sangat setia menjadi abdi dan pengikut Ida Bhatari Durga.

Sosok Bhatari Durga ditampilkan dalam wujud sosok Matah Gede, seorang wanita tua berparas angker. Ketika memasuki sasih Kalima hingga Jyesta, Ida Bhatari Durga melakukan perjalanan, berkeliling macecingak mengawasi seantero Desa. Sebelum itu, Ida Bhatari diiringi Kalikamaya dan Sahpati pergi menuju setra atau kuburan untuk melakukan pemujaan dan pembersihan diri melalui ritus gerak-gerak tarian yoga.

Di Siwaloka, tempat beryoganya Bhatara Siwa, para pengikut Siwa (penasar dan wijil) mendapat titah dari Siwa untuk turun ke dunia mencari keberadaan Bhatari Uma. Bhatara Siwa merasakan rindu yang sangat mendalam dengan istrinya yang sudah lama menjalani kutukan turun ke dunia menjadi Durga Mahabhairawi. Setelah menerima laporan tentang keberadaan istrinya, Siwa disertai para pengikut turun ke bumi menuju setra Gandamayu.

Di setra Gandamayu yang angker, Bhatara Siwa berjumpa dengan Kalikamaya dan Sahpati, yang ditugaskan menjadi tempat itu. Diselimuti perasaan rindu yang menggebu, Siwa mengira Kalikamaya yang berparas cantik itu adalah istrinya. Hampir saja Siwa menumpahkan rindunya yang bergejolak kepada Kalikamaya. Namun ketika Kalikamaya ingin didekap oleh Siwa, seketika Kalikamaya menampakkan wujud aslinya sebagai celuluk, sosok raksasa botak yang mengerikan.

Kehadiran Siwa di bumi kemudian disampaikan kehadapan Bhatari Durga. Siwa menyadari, tidak bisa bertemu dan menumpahkan rindu kepada istrinya yang tengah dikutuk sebagai Mahabhairawi. Maka untuk mengimbangi kutukan itu, Bhatara Siwa memurti rupa, berubah wujud menjadi Kala Ludra. Kala Ludra merupakan pemurtian Siwa dengan wujud yang paling mengerikan. Kala Ludra diperankan melalui Ida Ratu Lingsir Batur Sari. Sedangkan Durga Mahabhairawi diperankan Ida Ratu Sakti Batur Sari.

Kala Ludra dan Durga Mahabhairawi bertemu di pemuunan setra Gandamayu. Mereka berdua melakukan pertemuan sakral, yang dilingkupi suasana magis yang menggetarkan seisi semesta. Dari pertemuan ini, kemudian melahirkan berbagai unsur-unsur ganjil, aneh dan menyeramkan, seperti roh-roh, Butha Kala dan mahluk-mahkluk yang mengerikan, termasuk penyakit, bakteri, virus Covid dan sebagainya.

Kelahiran berbagai unsur-unsur negatif ini menyebabkan terjadinya guncangan dan ketidakstabilan di bumi. Para pengikut Durga dengan masif menebarkan wabah penyakit yang meneror kehidupan manusia. Sakit demam panas sehari atau dua hari, lalu mati. Mayat bertumpuk-tumpuk di makam, di ladang-ladang dan di jalan-jalan. Jalanan sepi sunyi, tidak ada yang berani melintas.

Di negeri Galuh, berbagai upaya sudah dilakukan untuk lepas dari segala musibah dan teror wabah yang diakibatkan oleh kehadiran unsur negatif ini. Di tengah penderitaan dan keputus asaan, diutuslah seorang patih andal Janapati untuk menghadap Bhatari Durga. Patih ditugaskan untuk memohon kehadiran Bhatari Durga yang akan dipersembahkan Yadnya Peneduh Jagat yang dilaksanakan di Setra. Dengan segala keberanian, Sang patih menghunuskan dan menusukkan ujung keris ke tubuh Hyang Durga, sambil memohon supaya segala unsur negatif yang merusak ketentraman dunia menjadi somya atau kembali ke asalnya. 

Tindakan sang patih Janapati menyebabkan kemarahan Durga. Teriakan Durga telah mengundang kehadiran empat saudaranya yang lain yang sedang beryoga di empat penjuru mata angin. Sekejap saja mereka berubah wujud menjadi lima raksasa yang sangat menakutkan dan menempati lima arah penjuru mata angin.

Mereka dikenal sebagai Panca Durga, yaitu Sri Durga di timur, diperankan oleh Ida Ratu Ayu Pura Desa, Dari Durga di Selatan diperankan oleh Ida Ratu Sakti Pura Batur Sari, Suksmi Durga di Barat, diperankan oleh Ida Ratu Ayu Pura Batur Sari, Raji Durga di Utara, diperankan oleh Ida Ratu Niang Sakti, serta Dewi Durga di tengah diperankan oleh Ida Ratu Sapuh Jagat.

Kelima Durga inilah yang beryoga menciptakan berbagai mahkluk jahat untuk menjalankan tugasnya menyebarkan berbagai penyakit. Kehadiran panca durga napak pertiwi menjadi bagian akhir dari kisah dramatari penyalonarangan ini.

Panca Durga diiringi menuju pura Prajapati Desa Adat Ubud. Di tengah setra desa adat ubud Ida Sesuhunan dihaturkan upacara caru, segehan agung yang disertai sambleh kucit butuan sebagai wujud doa permohonan masyarakat Ubud agar Ida Sesuhungan Panca Durga sedia menyerap dan memusnahkan segala unsur negatif dan menghadirkan ketentraman serta kesejahteraan jagat Ubud.

Gambar: Ida Ratu Sapuh Jagat berperan sebagai Bhatari Durga

Dramatari Penyalonarangan berlakon Kala Ludra merupakan pertunjukan seni yang berpangkal dari sastra agama, terangkai dengan ritus yadnya khususnya Bhuta Yadnya yang sarat dengan nilai-nilai filosofis, magis dan keindahan. Pementasan kolosal ini melibatkan seniman tari seperti Celekontong Mas, Jero Mangku Kadek Serongga, Maskar, Made Astari, Kadek Capung, Bawa, Mang Tawa, Niktung, Cikho Cis, Gus Epik, Wayan Sukra, Ngurah Janur, dan didukung oleh para Yowana se-Bale Agung Ubud, STT Santhi Graha Ubud Kaja (SGUK), Krama Desa Adat Ubud Kaja, serta diiringi alunan gamelan sekaa Gong Bina Yowana Canthi Puri Menara Ubud.

Ide Cerita dari Jero Mangku Kadek Serongga, Pembina Tabuh adalah Dewa Putu Rai, I Wayan Sudirana, dan Koordinator Nyoman Aryawan. Sebagai pelindung adalah Bendesa Adat Ubud Cokorda Raka Kertyasa (Cok Ibah) dan Kelian Desa Adat Ubud Kaja Nyoman Ada. [T]

Tags: Calonarangkesenian baliUbud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Satu Abad NU: Kurangi Seremoni, Perbanyak Aksi

Next Post

Tinggi Kasus Rabies di Buleleng, Desa Adat Atur Tata Cara Pelihara Anjing Lewat Pararem

Agus Eka Cahyadi

Agus Eka Cahyadi

I Wayan Agus Eka Cahyadi. Lahir di Ubud, 12 Agustus 1984. Dosen FSRD ISI Denpasar

Related Posts

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

Read moreDetails

Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Dari Laut hingga Ladang, Ubud Food Festival 2026 Resmi Dibuka dengan Semangat Menjaga Pangan

MALAM baru saja turun di Taman Kuliner Ubud, Kamis, 28 Mei 2026. Di hadapan para tamu undangan, pelaku industri kuliner,...

Read moreDetails

Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Ubud Food Festival 2026 Dibuka dengan Seruan Menjaga Tanah dan Pangan Indonesia

MEMASUKI tahun kesebelas penyelenggaraannya, Ubud Food Festival kembali digelar di Taman Kuliner Ubud dengan mengusung tema “Farmers: Guardians of Land...

Read moreDetails

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
0
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

Read moreDetails

Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

by Made Chandra
May 25, 2026
0
Bumi Bajra : Ruang Tumbuh yang Menubuh

DI sudut gang yang dari luar tampak tak sepenuhnya meyakinkan, tampak sebuah ruang yang terasa begitu hangat karena dipeluk tertawaan...

Read moreDetails

Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

by Nyoman Budarsana
May 25, 2026
0
Janger Pegok, Janger Tua di Bali: Dokumentasi Video Ditemukan di Jerman, Kini Dipentaskan di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA suasana hening dari masyarakat dan para undangan, tabuh mulai dimainkan. Muda-mudi yang didominasi para remaja itu menari lepas tanpa...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
0
Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

Read moreDetails

Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

by Dede Putra Wiguna
May 22, 2026
0
Sekar Mas, Seka Serbabisa: Ruang Kreativitas Anak Muda untuk Bertumbuh

DI sebuah pagi yang riuh, sekelompok anak muda berjalan beriringan di jalanan desa Ketewel, Gianyar. Di tangan mereka, suling, kendang,...

Read moreDetails

Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

by Komang Puja Savitri
May 21, 2026
0
Mebarung Gong Kebyar Lintas Benua, Kanada dan Banjar Paketan di Singaraja Bertukar Budaya Lewat Gamelan

DUA sekaa gong yang mebarung atau tampil berhadap-hadapan memenuhi Bale Banjar Paketan, Desa Adat Buleleng, Kecamatan Buleleng, dalam sebuah pertukaran...

Read moreDetails

Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Bang Dance Matangkan Struktur dan Posisi Artistik dalam Inkubasi Tahap III “Sejak Padi Mengakar”

"Memasuki tahap akhir inkubasi, Bang Dance merumuskan struktur dramaturgi, strategi afektif, dan posisi artistik karya sebagai praktik koreografi kontemporer berbasis...

Read moreDetails
Next Post
Tinggi Kasus Rabies di Buleleng, Desa Adat Atur Tata Cara Pelihara Anjing Lewat Pararem

Tinggi Kasus Rabies di Buleleng, Desa Adat Atur Tata Cara Pelihara Anjing Lewat Pararem

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co