8 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-cerita Baru yang Terungkap dalam Pertemuan Seniman di Buleleng — Masih Terkait Kisruh Gong Kebyar Legendaris   

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
April 2, 2024
in Khas
Cerita-cerita Baru yang Terungkap dalam Pertemuan Seniman di Buleleng — Masih Terkait Kisruh Gong Kebyar Legendaris   

Pertemuan seniman Buleleng di Kedai Pesor, Sukasada, Senin 1 April 2024, terkait kisruh gong kebyar di panggung HUT Kota Singaraja | Foto: Hizkia

ADA sejumlah cerita atau informasi baru terkait kisruh gong kebyar legendaris yang terungkap dalam pertemuan seniman Buleleng di Kedai Pesor, sebelah Taman Bung Karno, Sukasada, Buleleng, Senin, 1 April 2024.  Sejumlah cerita itu masih berkaitan dengan kisruh gong kebyar legendaris pada panggung HUT Kota Singaraja, dan ada juga hal lain yang selama ini dipendam-pendam oleh beberapa seniman.

Pertemuan seniman Buleleng itu terjadi atas inisiatif dari Gede Pande Satria Kusuma Yudha alias Olit yang merupakan pimpinan Padepokan Seni Dwi Mekar Singaraja. Hadir dalam pertemuan itu sekitar 40-an seniman dari Buleleng, termasuk koordinator Sekaa Eka Wakya Banjar Paketan Arya Septiawan. Hadir juga tokoh karawitan senior dari Desa Munduk, Made Terip, juga sejumlah pimpinan sanggar seni di Buleleng.

“Ini spontanitas, karena kebanyakan teman-teman sedikit gerah. Ini puncaknya apa yang jadi catatan hitam selama ini. Terdahulu sangat kelam, ini ter-update yang tidak bisa lagi dimaafkan. Ini puncak kita lakukan pergerakan atau aksi reaksi untuk menjaga harkat martabat seniman di Kabupaten Buleleng,” ujar Olit saat membuka pertemuan itu.

Selain cerita dan informasi yang sudah diberitakan banyak media sebelumnya, seperti rundown yang berubah-ubah, tak ada kesempatan cek sound, dan lain-lain, juga terdapat cerita lain yang terungkap dalam pertemuan itu terkait kisruh gong kebyar mebarung di panggung HUT Kota Singaraja.

Pertama, seniman menyesalkan ketidakhadiran Pj Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana dalam ritual guru piduka atau permohonan maaf secara niskala di Pura Pengaruman Banjar Paketan dan di Desa Jagaraga.

Seniman, terutama dari pihak Sekaa Eka Wakya berharap Pj Bupati hadir menghaturkan upacara guru piduka dan bertatap muka langsung dengan sekaa. Bahkan I Made Pasca Wirsutha yang merupakan pentolan dari Sekaa Gong Eka Wakya menyebutkan bahwa Pj Bupati sempat mengatakan akan hadir dalam ritual itu tanpa mewakilkan. Namun yang hadir hanya Kepala Dinas Kebudayaan Nyoman Wisandika.

“Kepala Dinas Kebudayaan itu banjaran kami di Paketan, yang sudah biasa kami lihat,” kata I Made Pasca Wirsutha yang merupakan pentolan dari Sekaa Gong Eka Wakya.

Suasana dalam pertemuan seniman Buleleng di Kedai Pesor, Sukasada, Senin, 1 April 2024 | Foto: Hizkia

Kedua, perubahan tempat juga terjadi pada pelaksanaan lomba balaganjur terkait HUT Kota Singaraja. Seperti disampaikan Pasca Wirsutha, awalnya lomba rencananya diadakan di panggung utama, lalu berubah lagi, dan akhirnya digelar di depan air mancur Taman Kota Singaraja.  

Ketiga, untuk urusan pementasan kesenian tradisional diduga ada koordinasi yang macet antara Dinas Kebudayaan dengan tim kreatif. Seperti terungkap dalam pertemuan itu, sejumlah rancangan acara yang dibuat Dinas Kebudayaan tidak terakomodasi oleh tim kreatif.

Keempat, seniman menyesalkan para pejabat sudah bubar sebelum sekaa gong itu tampil untuk kedua kalinya (yang kemudian batal itu).

Arya Septiawan menceritakan, awalnya masing-masing sekaa gong sudah menampilkan satu tabuh. Tapi kemudian dijeda, karena di atas panggung digelar acara seremonial ulang tahun. Pj. Bupati bersama pejabat naik panggung, dan menyanyikan lagu ulang tahun milik Jambrud. Setelah acara seremonial, pejabat bubar dan tidak menunggu pementasan gong kebyar sesi kedua (yang kemudian batal itu).

Kelima, ada penari dari Sekaa Eka Wakya yang diinfus, mungkin karena tak kuat. Seperti dikatakan Arya Septiawan, ada penabuh tua yang mengaku sakit di dadanya karena harus mendengar musik yang keras ketika penabuh masih duduk menunggu di atas panggung.

Kelima, setelah sekaa gong menurunkan gong dari panggung dan memutuskan untuk batal manggung, Pj, Bupati datang dan langsung meminta maaf. Namun sekaa sudah tak mau pentas lagi.

Suasana dalam pertemuan seniman Buleleng di Kedai Pesor, Sukasada, Senin, 1 April 2024 | Foto: Hizkia

Keenam, seniman tidak puas dengan permintaan maaf yang diunggah di media sosial dengan format seperti pengumuman. “Itu seperti pengumuman ‘Dilarang Kencing Di Sini’,” kata Pasca Wirsutha.

Ketujuh, persoalan-persoalan yang sepertinya menyepelekan seniman pada pentas seni yang diadakan pemerintah bukan hanya terjadi saat ini. Sebelum-sebelumnya juga pernah terjadi, seperti yang diceritakan Jero Dalang Sembroli bahwa dia pernah mau pentas wayang dalam acara yang diadakan pemerintah. Pada saat mau pentas, ternyata acara sudah ditutup oleh MC dan penonton pergi.

“Ya setelah itu saya langsung menggotong gedebong ke mobil,” cerita Jero Dalang Sembroli.

Kedelapan, peristiwa kisruhnya penampilan gong kebyar di Buleleng ini mendapat simpati dan mengundang keprihatinan dari sesama seniman, bukan hanya di Bali, tapi juga dari luar negeri.

Made Terip, tokoh seniman tabuh dari Desa Munduk bercerita bahwa ia mendapat banyak telepon dari temannya di Inggris dan Kanada, selain juga dari teman seniman di Jembrana dan Gianyar. Hal itu juga disampaikan seniman lain yang juga menerima banyak pertanyaan dan keprihatinan dari teman sesama seniman di luar Buleleng.

Suasana dalam pertemuan seniman Buleleng di Kedai Pesor, Sukasada, Senin, 1 April 2024 | Foto: Hizkia

Dalam pertamuan itu Olit mengatakan para seniman sepakat akan membentuk paguyuban. Paguyuban itu akan membangun sebuah pakem pementasan dalam seni tradisional maupun moderen.

“Paguyuban seniman ini, agar kita punya bargaining (nilai tawar) sehingga kita punya taraf selevel dengan even organizer nantinya mengurus pertunjukan seni di Buleleng,” kata Olit.

Suasana dalam pertemuan seniman Buleleng di Kedai Pesor, Sukasada, Senin, 1 April 2024 | Foto: Hizkia

Dalam kisruh sekaa gong mebarung di panggung HUT Kota Singaraja, pihak Pemkab Buleleng sudah menyatakan permintaan maaf secara terbuka melalu media sosial Pemkab Buleleng. Sebelumnya, Pj Bupati Ketut Lihadnyana juga sudah menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf yang videonya beredar juga di media sosial.

Selain itu, Pj Bupati Lihadnyana juga sudah menyampaikan pernyataannya usai sidang paripurna di Gedung DPRD Buleleng, Senin, 1 April 2024.

Sebagaimana rilis yang disampaikan Dinas Kominfosanti Buleleng, Pj Bupati Lihadnyana menyampaikan awalnya sudah melakukan pertemuan langsung saat itu juga bersama klian sekaha gong serta melakukan klarifikasi dan sudah diterima dengan baik. Pihaknya menyampaikan keesokan harinya juga sudah melakukan upacara guru piduka kepada sekaha gong dari Banjar Paketan dan Jagaraga.

“Intinya Pemkab Buleleng tidak hanya hari ini bahkan dari tahun lalu selalu memberikan prioritas terhadap pelaku seni, adat dan musisi serta selalu memberikan ruang untuk tampil,” sambungnya.

Kedepan pihaknya akan terus melakukan evaluasi bahwasannya kesenian tradisional tidak bisa dipadukan dengan kesenian modern dan harus dikhususkan. “Ini mengingatkan kita bahwa hidup akan terus berproses dan selalu akan ada evaluasi untuk arah yang lebih baik,” ucapnya.

Pj. Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana | Foto: Dinas Kominfosanti Buleleng

Lihadnyana kembali menjelaskan bahwa kesenian gong legendaris ini tidak dibatalkan, sebelumnya sudah tampil namun hanya diselangi oleh band dan penampilan fashions show. Untuk itu, akan dievaluasi kembali karena gong legendaris ini memiliki taksu tersendiri dan tidak bisa diselingi dengan kesenian modern.

Menyikapi hal ini, Pemerintah Kabupaten Buleleng akan kembali memberikan ruang tampil kepada pelaku seni khususnya yang akan tampil di acara Pesta Kesenian Bali (PKB) mendatang untuk unjuk gigi dihadapan masyarakat Buleleng yang rencananya akan diselenggarakan di Taman Bung Karno.

“Pra PKB kita akan pentaskan dulu disini, itu artinya komitmen pemerintah tidak akan pernah surut untuk memberikan ruang dan prioritas terhadap pelaku seni kita dan harus bangga bahwa di Buleleng sangat banyak memiliki maestro orang Buleleng. Mungkin pengaturannya akan kita evaluasi kembali,” katanya. [T]

Reporter: Jaswanto/Adnyana Ole
Penulis/Editor: Adnyana Ole

BACA artikel lain tentang GONG KEBYAR LEGENDARIS

Di Tengah Kisruh Itu, Terseliplah Made Kranca, Maestro Karawitan yang Barangkali Tak Banyak Dikenal
Inilah Cerita Lengkap “Kisruh” Gong Kebyar Legendaris Mebarung di Panggung Hut Kota Singaraja
Sekaa Gong Legendaris Jagaraga, Momentum Menghidupkan Kembali Jiwa dan Spirit Gde Manik
Gong Kebyar dan Tari Teruna Jaya, Jembatan Awal Pariwisata Bali
Gong Kebyar Desa Kedis, Setelah 32 Tahun Mati Suri
Tags: gong kebyargong kebyar legendarisHUT Kota Singarajakesenian baliseniman buleleng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Di Tengah Kisruh Itu, Terseliplah Made Kranca, Maestro Karawitan yang Barangkali Tak Banyak Dikenal

Next Post

Eka Sudarma Putra Menggelar Debut Internasionalnya dalam Pameran Tunggal “Paradise Memories” di Nagoya, Jepang

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails

Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

by Jaswanto
July 6, 2026
0
Fingerboard, Lebih dari Sekadar Mainan Anak-Anak

UJUNG telunjuk dan jari tengah itu bergerak lincah di atas papan beroda sepanjang tak lebih dari sepuluh sentimeter. Sesaat papan...

Read moreDetails

Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

by Komang Puja Savitri
July 4, 2026
0
Singaraja Literary Festival 2026, Mengaktivasi Warisan Lontar Melalui Stri Sasana

SOSOK-SOSOK perempuan bergerak perlahan menari di atas panggung, mengenakan caping petani dan membawa slepan (daun kelapa yang sudah tua) sebagai...

Read moreDetails

Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
July 2, 2026
0
Tiga Buku untuk Sebuah Kelulusan —Dari Ujian Tugas Akhir Nonskripsi Proyek Inovatif UPMI Bali

TIGA buku tersusun rapi di atas meja. Sampulnya berbeda-beda, tetapi lahir dari ruang akademik yang sama. Ada ‘Lawaté Surup Ring...

Read moreDetails

The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

by Angelique Maria Cuaca
July 1, 2026
0
The Darling Literary Collective: Membangun Jalan Baru bagi Sastra Indonesia

SEBUAH teks sastra tidak pernah tumbuh sendirian. Agar sampai ke pembaca, ia hadir melalui banyak tangan: penerjemah yang memindahkan makna,...

Read moreDetails

Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

by Wahyu Mahaputra
June 30, 2026
0
Bermain, Belajar, dan Mencintai Alam Lewat Kakua Buta —Catatan dari Workshop Permainan Tradisional di Tabanan

Ketika anak-anak itu bermain riang, ruang Gedung Mario berubah menjadi area interaktif, sangat dinamis dan terkesan lebih hidup. Langit-langit tinggi...

Read moreDetails

Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

by Dede Putra Wiguna
June 26, 2026
0
Bagaimana Seharusnya Generasi Muda Menyikapi Inovasi Seni di Masa Kini?

 “Karya sampah ini. Kok bisa muncul di PKB?" KALIMAT itu masih diingat betul oleh Agung Rahma Putra. Sekitar satu dekade...

Read moreDetails
Next Post
Eka Sudarma Putra Menggelar Debut Internasionalnya dalam Pameran Tunggal “Paradise Memories” di Nagoya, Jepang

Eka Sudarma Putra Menggelar Debut Internasionalnya dalam Pameran Tunggal “Paradise Memories” di Nagoya, Jepang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Bunglon di Republik Kita

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis
Ulas Rupa

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

by Angga Wijaya
July 8, 2026
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa
Ulas Rupa

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

by Sugi Lanus
July 7, 2026
Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja
Esai

Wajah Baru, Jiwa yang Tertinggal —Catatan dari Titik Nol Kota Singaraja

ADA yang janggal dari cara kita merayakan pembangunan hari ini. Setiap kali sebuah kawasan dipoles, dicat ulang, ditata dengan lampu-lampu...

by Satria Aditya
July 7, 2026
Era Chatting Telah Berlalu
Esai

Era Chatting Telah Berlalu

MENGOBROL, berdiskusi, atau berdebat secara daring, yang dalam bahasa Inggris lazim disebut chatting, pelan-pelan ingin saya tinggalkan. Bukan karena saya...

by Angga Wijaya
July 7, 2026
Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan
Esai

Memaknai Singaraja Literary Festival –Mengubur Sekat Kedisinian dan Kedisanaan

SINGARAJA Literary Festival (SLF)  IV   berlangsung sangat meriah selama 3 hari (Jumat-Minggu, 3-5 Juli 2026) di Kawasan Pusat Peradaban Bali...

by I Nyoman Tingkat
July 7, 2026
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar
Khas

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Negeri yang Sakit dan Ambulans yang Berbelok-Belok

PENGALAMAN mendengar Ambulan Zig Zag karya Iwan Fals memang seperti mendengar sirene yang tak pernah benar-benar berhenti. Sirene itu tidak...

by Ahmad Sihabudin
July 7, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co