12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (2)

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2024
in Tualang
Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (2)

Berbincang dengan Perbekel Pegayaman (kanan) | Foto: Kardian

MENINGGALKAN rumah panggung Suharto, kami menuju ke sebuah musala kecil di dalam gang yang sempit. Waktu menunjuk pukul tujuh malam lebih. Azan Isya baru saja berkumandang. Ibu-ibu dan para gadis Pegayaman obral seperti laron di musim penghujan, keluar dari lubang rumah masing-masing. Mereka, dengan sajadah dan mukenah, berduyun-duyun menuju tempat yang sama—tempat yang menggelar salat Tarawih berjamaah.

Pegayaman punya sistem sendiri dalam menjalankan salat Tarawih. Alih-alih barengan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana umumnya di tempat lain, di Pegayaman, antara laki-laki dan perempuan, punya waktu dan tempat masing-masing.

Perempuan Pegayaman menjalankan salat Tarawih sekira pukul tujuh malam atau lebih—selepas salat Isya, tak ada bedanya dengan tempat lain. Mereka berjamaah di musala atau di rumah-rumah warga.

Sedangkan salat Tarawih laki-laki digelar satu jam setelah perempuan selesai salat, atau lebih tepatnya pukul sepuluh malam. Jika perempuan berjamaah Tarawih di musala atau di rumah-rumah warga, laki-laki melaksanakannya di masjid—walaupun ada beberapa lelaki yang mengerjakan Tarawih di musala, bersamaan dengan perempuan.

“Mungkin mereka punya alasan lain untuk itu,” ujar Suharto saat melihat beberapa pria salat Tarawih di musala.

Salat Tarawih berjamaah di Masjid Safinatus Salam Pegayaman | Foto: Jaswanto

Salat Tarawih di musala tentu bukan sebuah kesalahan. Toh, sistem yang dianut masyarakat Pegayaman juga bukan suatu keharusan. Ini hanya tradisi, bukan syariat. Alasan tetua Pegayaman, dulu, melaksanakan Tarawih pukul sepuluh malam karena menunggu jamaah yang tinggal jauh dari Masjid Safinatus Salam—satu-satunya masjid yang berdiri di desa ini, dari dulu hingga kini.

Desa Pegayaman memang memiliki wilayah gografis yang cukup luas. Penduduknya tak hanya tinggal di pusat desa, tapi tersebar sampai ke bukit, lembah, dan tengah kebun yang jauh.

Wilayah Pegayaman dibagi menjadi lima banjar atau dusun, yaitu Dauh Margi (Barat Jalan), Dangin Margi (Timur Jalan), Kubu Lebah, Kubu, dan Amertasari. Khusus penduduk di Banjar Amertasari, mereka lebih banyak memeluk agama Hindu. Sedangkan sisanya kebanyakan Muslim. Dan selama ini, tak pernah ada pertikaian antaragama di sini.

Jika ada perkelahian, orang-orang Pegayaman tak menganggapnya sebagai gejolak agama, tapi karena urusan pribadi masing-masing. Mereka saling percaya, tak ada agama yang mengajarkan—atau menghendaki—pertikaian yang menyebabkan perpecahan di tubuh sendiri.

Musala kecil itu sudah diisi puluhan ibu-ibu, gadis-gadis, anak-anak perempuan, dan beberapa lelaki—yang jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan. Seperti petapa bijak yang baru saja keluar dari tempat pengasingannya, kakek tua itu memasuki musala. Dialah yang bertugas menjadi imam malam ini. Sebagaimana orang yang dituakan dan dihormati, perangainya tampak jauh dari dunia hitam.

Kakek tua itu terbata-bata melantunkan Al-Fatihah. Meski terbata, tapi bacaannya sangat fasih, tak keluar dari hukum tajwid. Suaranya parau dan pelan, meski pernapasannya masih teratur. Tapi fisiknya memang masih bugar. Ia menyelesaikan empat rakaat Isya tanpa hambatan apa pun.

“Tarawih di sini dua puluh rakaat dan tiga rakaat Witir. Jadi semuanya 23 rakaat,” Suharto menerangkan. Saya membayangkan kakek tua yang menjadi imam itu. Diam-diam saya mengaguminya. Sungguh, lelaki yang kuat di umurnya yang tak lagi muda. Ah, atau saya saja yang lemah dan terlalu malas.

Meninggalkan musala di balik gang sempit itu, kami menuju ke musala tempat Perbekel Pegayaman menjadi imam salat Tarawih. Ini sesuatu yang langka, setidaknya di kampung saya. Sependek ingatan, baru kali ini saya menemukan seorang kepala desa menjadi imam salat. Di kampung saya, misalnya, boro-boro menjadi imam, ke musala atau ke masjid saja bisa dihitung pakai jari.

Dan Suharto tertawa saat mendengar hal itu keluar dari mulut saya. Ia merasa bangga memiliki kepala desa yang bisa dan mampu menjadi imam salat. Barangkali ia memiliki bayangan bahwa kepala desanya saat ini semacam khalifah—pemimpin pemerintahan sekaligus imam agama—di zaman dulu.

Kami memasuki lorong-lorong sempit dengan parit-parit kecil di samping rumah warga yang mengalir tak henti-henti. Tampaknya air di Pegayaman masih melimpah. Setapak basah malam itu. Terompah meninggalkan jejak-jejak di tanah yang gembur. Lantunan Al-Fatihah dan surat-surat pendek terdengar dari segala penjuru. Di Pegayaman, musala berserak di mana-mana. Nyaris di setiap gang satu musala teronggok.

Di depan musala tempat kepala desa menjadi imam Tarawih, kami mematung. Belum lama kami datang, kepala desa mengucap salam terakhir. Itu tanda akhir dari rangkaian Tarawih dan Witir. Kami menghampirinya di dalam musala.

Agus Asghar Ali, namanya. Kepala Desa Pegayaman yang sudah menjabat selama tiga periode berturut-turut. Dia, sang kepala desa, alih-alih tampak seperti pejabat pemerintah, dilihat dari perangainya, malah mirip seorang ulama khos pemimpin pondok pesantren tua di pedalaman Jawa. Lihat saja kumis dan jenggot tipisnya yang sudah memutih itu. Dan kata-katanya… Ah, setegas pemuka agama dalam menyerukan amar ma’ruf nahi munkar!

“Tak banyak tradisi yang berubah di sini,” ujar Asghar Ali. “Selama itu tidak bertentangan dengan agama, kami berusaha untuk melestarikan dan mempertahankannya,” sambungnya diplomatis. Perbekel paruh baya ini bercerita panjang lebar tentang bagaimana masyarakat Pegayaman masih menganut budaya lama, seperti misalnya Tarawih di masjid pukul sepuluh malam.

Mendengar apa yang dikatakan Asghar Ali, bisa dibilang tak banyak perubahan terjadi di Pegayaman, maksudnya dalam hal kepercayaan, tradisi, dan kebudayaan. Perubahan barangkali hanya terjadi pada bentu fisik, bukan jiwa Pegayaman. Tradisi-tradisi lama pada saat bulan Puasa, seperti ngejot, misalnya, kata Ali, masih berlangsung hingga kini. Para tetangga, sanak keluarga, handai tolan, saling berbagi kudapan dengan mengantarkannya ke rumah-rumah. Ngejot biasanya dilakukan secara bergantian, meski tak jarang bersamaan.

Berbincang dengan Perbekel Pegayaman (tengah berpeci hitam) | Foto: Jaswanto

Salah satu faktor penyebab budaya di Pegayaman tak banyak berubah, menurut Ali, dikarenakan tak banyak hal luar yang masuk ke Pegayaman. Benar. Masyarakat Pegayaman sangat selektif terhadap hal baru di luar sana, sebut saja pariwisata, misalnya. Istilah yang sangat populer di Bali ini, sebisa mungkin, tak mempengaruhi Pegayaman—apalagi tergoda olehnya. “Bukannya kami menolak pariwisata, kami hanya mempertimbangkan banyak hal!” ujar Ali serius.

Dalam kacamata destinasi wisata, Pegayaman sebenarnya memiliki potensi. Selain menarik sebagai tempat yang sering dikunjungi untuk penelitian Islam di Bali, kesenian dan sumber daya alam Pegayaman berpotensi masuk radar pariwisata. Pegayaman menyimpan banyak hal. Dari keindahan alam, kesenian, kebudayaan, hingga peninggalan sejarah masa silam. Di Pegayaman, masih ada jejak tentara Jepang saat menjajah Hindia Belanda.

“Di sini ada benteng di masa penjajahan Jepang. Mereka menyuruh orang Pegayaman untuk membangunnya. Letaknya di bukit sana. Lumayan jauh dari sini,” kata Ali kepada kami. Sepertinya Pegayaman memang wilayah strategis sebagai benteng pertahanan. Kita tahu, jauh sebelum Jepang menginvasi Hindia Belanda—dan membangun benteng di Pegayaman—I Gusti Anglurah Panji Sakti, Raja Buleleng pertama, sudah melakukannya terlebih dahulu.

“Tapi kami tidak merawat benteng Jepang itu,” kata Ali lagi. Saya agak kaget mendengarnya. “Buat apa? Orang-orang Pegayaman tidak menganggapnya penting!” sambungnya. Saya dibuat lebih kaget lagi setelah mendengar ucapannya. Saya tak setuju dengan pikiran semacam itu. Tapi juga tidak mau membantahnya sekarang. Alasan Ali tak merawat peninggalan sejarah itu, selain karena menganggap itu bukan sesuatu yang penting, juga nanti akan mengundang lebih banyak orang luar datang ke Pegayaman. Tampaknya, secara tidak langsung, Ali memang tak tertarik dengan rayuan pariwisata. Tapi bukankah pariwisata dapat menambah pendapatan warga, Pak Ali?

“Leluhur kami memberi pesan, antara urusan dunia dan akhirat harus seimbang, kalau bisa malah 70 akhirat, 30 dunia. Jadi, kami belum membutuhkan pariwisata. Yang penting adalah, masyarakat Pegayaman masih menegakkan agama Islam, dan mempertahankan tradisinya. Saya tidak mau menjadi penyebab perubahan yang buruk bagi Pegayaman,” ujar Ali, lagi-lagi diplomatis.

Malam kian beranjak. Ali masih berbicara. Kali ini omongannya ke mana-mana. Lompat sana-lompat sini. Banyak hal yang tak saya setujui. Tapi buat apa juga mengutarakannya. Toh, saya datang ke Pegayaman untuk bertanya, bukan memberi pernyataan. Jadi, lebih baik saya telan bulat-bulat ketidaksetujuan itu.

***

Kami meninggalkan Ali yang menggebu-gebu. Masjid adalah tujuan selanjutnya. Tapi sebelum benar-benar memasuki kawasannya, Suharto mengajak kami berhenti di sebuah rumah sederhana yang dijadikan tempat tadarus Al-Qur’an besama-sama. “Ini juga salah satu tradisi kami saat bulan Ramadan,” tutur penulis buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali itu.

Sebagaimana di tempat lain saat bulan Puasa, umat Islam di Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, setelah selesai salat Tarawih, juga melangsungkan tadarus Al-Qur’an bersama-sama. Bedanya, jika di tempat lain tadarus bersama hanya dilakukan di musala atau masjid, di Pegayaman, digelar di tiga tempat sekaligus, yakni musala, masjid, dan rumah-rumah warga.

Seperti halnya pelaksanaan salat Tarawih di masjid pada pukul sepuluh malam, tadarus di rumah-rumah warga ini juga sudah berlangsung sejak dulu—ini adalah tradisi warisan leluhur orang-orang Pegayaman yang sudah berabad-abad menghuni wilayah pemberian Raja Buleleng pertama itu.

Di Pegayaman, tak hanya satu atau dua rumah saja yang menggelar tadarus bersama, tapi nyaris delapan dari sepuluh rumah melakukannya. Para tetangga, handai tolan, sanak-keluarga, kadang kala datang bergantian di setiap rumah warga yang menggelar tadarus.

Dan dalam semalam, di semua tempat, entah di musala-masjid-rumah, mereka biasa—dan harus bahkan—membaca Al-Qur’an sampai tiga juz. Orang-orang Pegayaman, selama bulan Puasa, bisa khatam Al-Qur’an sampai tiga kali. Aturannya memang begitu sejak dulu.

Anak-anak tadarus bersama di rumah Abdul Hadi | Foto: Jaswanto

Di rumah sederhana itu, anak-anak laki-laki dari umur SD sampai SMA bergerombol menghadap kitab suci Al-Qur’an yang mereka bawa. Mereka sedang menunggu giliran untuk membaca. Sementara anak lain sedang membaca, mereka menyimaknya dengan khusyuk. Anak-anak itu melakukannya setiap malam seusai salat Tarawih ibu-ibu.

Rumah tempat anak-anak tadarus itu miliki salah satu tokoh agama di Pegayaman. Namanya Abdul Hadi. Lelaki berumur 60 tahun itu pernah mondok di Blok Agung, Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak dulu, sejak kakek-buyutnya, rumah Abdul Hadi sudah digunakan sebagai tempat belajar mengaji anak-anak sekitar.

Di rumah inilah, banyak anak-anak Pegayaman yang lancar membaca Qur’an dan tahu dan paham ilmu-ilmu agama lainnya. Sebab, selain sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an, di rumah tersebut juga mengajarkan isi kitab-kitab dasar seputar Islam, fiqih, tajwid, aqidah, seperti kitab Aqidatul Awam karya Syeikh Sayyid Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki Al-Hasani (1205-1261 H) sampai kitab Fathul Qorib-nya Muhammad bin Qasim Al-Ghazi (1455- 1512 M).

“Ada sekitar 150 anak yang ngaji di sini. Bahkan, yang rumahnya jauh, mereka sampai menginap di sini, sudah seperti pondok pesantren,” kata Hadi di tengah-tengah suara anak-anak membaca Al-Qur’an di rumahnya.

Ini suasana yang jarang ditemukan di tempat lain. Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa umumnya, pada saat bulan Puasa, tadarus bersama hanya dilaksanakan di musala atau masjid. Di tempat lain, kalaupun tadarus di rumah, biasanya hanya dilakukan sendiri-sendiri, tidak bersama-sama seperti orang Pegayaman. 

Oleh karena itu, tentu saja, rumah Abdul Hadi bukan satu-satunya tempat yang menggelar tadarus bersama. Belakangan, tak jauh dari rumah Hadi, di sebuah rumah warga lainnya, orang-orang dewasa juga sedang membaca Al-Qur’an bersama. Bedanya, kalau di rumah Hadi dilakukan setelah salat Tarawih ibu-ibu, sedangkan di rumah-rumah warga lainnya digelar setelah salat Tarawih bapak-bapak—yang dilaksanakan pukul sepuluh malam itu.

Kami menuju masjid. Pukul sembilan malam baru saja lewat, orang-orang Pegayaman mulai berdatangan ke Masjid Jami’ Safinatus Salam—satu-satunya masjid yang berdiri di Desa Pegayaman—dari berbagai penjuru. Mereka, tua-muda-anak-anak, yang tinggal di atas bukit, di balik lembah, di belantara kebun, berbondong-bondong menuju masjid tua kebanggan yang kini dalam tahap pembangunan itu.

Safinatus Salam terlihat semakin megah dari tahun-tahun sebelumnya. Di lantai pertama yang luas, karpet-karpet bercorak Islami terbentang memenuhi ruangan. Satu dua orang lelaki duduk di teras. Sedang kebanyakan dari mereka sudah menempati saf di belakang imam. Saya mengamati mereka dari balik jendela.

Sesekali saya berpaling menuju bedug tua yang bertengger di pojok utara. Saya lupa bertanya kepada Suharto kayu apa yang dipakai ini. Yang jelas, bedug itu cukup besar. Dan ini dibuat tanpa sambungan sedikit pun. Benar-benar kayu utuh yang dilubangi lalu ditutup dengan kulit sapi. Seingat saya, Suharto mengatakan bahwa bedug ini adalah buah tangan masyarakat Pegayaman sendiri, tidak membeli atau pemberian orang lain.

Menjelang salat Tarawih di Masjid Jami’ Safinatus Salam, sambil menunggu jamaah, imam yang bertugas malam itu terlebih dahulu memberi sedikit khutbah agama. Alih-alih menggunakan bahasa Indonesia atau Arab, sang imam memilih menyampaikan ceramahnya menggunakan bahasa Bali halus yang sesekali dilengkapi dengan dalil-dalil kitab suci maupun ucapan Nabi.

Bedug tua di Masjid Safinatus Salam | Foto: Jaswanto

Malam itu, langit Pegayaman cerah dengan satu-dua bintang berkedip menghiasainya. Angin malam berkesiur sejuk. Masjid yang berdiri sejak dulu kala itu, seperti madu yang mengundang lebah berdatangan. Laki-laki Pegayaman berduyun-duyun memasuki pintunya. Tak butuh waktu lama, lima saf panjang penuh terisi. Jamaah merapatkan barisan. Imam memulai salat Tarawih.    

Kebiasaan salat Tarawih pukul sepuluh malam ini sudah berlangsung selama berabad-abad silam. Dan ini dilakukan bukan tanpa sebab. Dulu, sebagaimana telah disinggung di atas, permukiman warga Pegayaman masih berjarak-jarak sangat jauh dari masjid—sekarang pun demikian. Tapi zaman itu belum ada kendaraan bermesin seperti sekarang. Jalan pun masih setapak dengan gelap yang pekat.

Mereka yang tinggal di selatan desa, di dataran tinggi Pegayaman, harus turun ke utara dengan berjalan kaki. “Karena alasan itulah, para tetua dulu memiliki kebijaksanaan untuk melangsungkan Tarawih pukul sepuluh malam. Supaya saudara-saudara yang jauh dari masjid tidak telat dan bisa berjamaah,” tutur Suharto memberi keterangan.

Meskipun kondisi hari ini sudah jauh berbeda dengan yang dulu, tapi orang-orang Pegayaman masih mengikuti tradisi tersebut. Mereka bahkan tak memiliki sedikit pun pikiran untuk merubah atau justru menghilangkannya. Tradisi ini dianggap sudah mendarah-daging, tak bisa dilepaskan dari DNA orang Pegayaman. Ketaatannya dalam mempertahankan tradisi, sama besarnya dengan menjaga keimanan itu sendiri.

Selama bulan Puasa, orang Pegayaman seperti tak memiliki waktu istirahat. Selain mengisi hari dengan kegiatan sehari-hari, bekerja mencari nafkah, mereka juga menghabiskan waktu dengan beribadah, salah satunya adalah dengan tadarus bersama setelah salat Tarawih.

“Laki-laki salat Tarawih jam sepuluh malam di masjid. Paling tidak itu membutuhkan waktu satu jam baru selesai. Setelah itu baru tadarus, selesai sekitar pukul dua dini hari. Setelah tadarus, sebentar saja sudah masuk waktu sahur. Pagi sampai siang beraktivitas kerja dan sebagainya. Jadi, waktu tidur di bulan Puasa lebih sedikit daripada hari-hari biasa,” kata Suharto sembari tertawa.

Orang-orang Pegayaman tampaknya memang tak mau membuang-buang kesempatan yang hanya hadir setahun sekali ini. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan yang bernilai akhirat. Musala, masjid, rumah pribadi, bergitu meriah.

Orang-orang berbondong-bondong, beribadah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Kuasa. Dan setiap menjelang tengah malam, di sana, ayat-ayat suci Al-Qur’an berkumandang di mana-mana. Bersama lantunan ayat-ayat suci itulah, saya meninggalkan Pegayaman. Membelah angin basah, menuju Singaraja.[T]

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)
Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa
Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam
Tags: balibulan puasabulelengDesa PegayamanKecamatan SukasadaPuasaRamadansalat Tarawihtadarus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Komeng

Next Post

Tiga Pesilat Putri Pagar Nusa Buleleng Sabet Juara di Porjar 2024: Bulan Puasa Bukan Halangan!

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails

Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

by I Nyoman Tingkat
August 7, 2026
0
Pantai Jimbaran dengan Kafe Ikan Bakarnya  

Sejak dahulu, Jimbaran, Kedonganan, Kelan, dan Kuta adalah daerah nelayan. Namun, yang terkenal hanya Jimbaran dan Kuta. Ketika Asosiasi Kepala...

Read moreDetails

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
0
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Pesilat Putri Pagar Nusa Buleleng Sabet Juara di Porjar 2024: Bulan Puasa Bukan Halangan!

Tiga Pesilat Putri Pagar Nusa Buleleng Sabet Juara di Porjar 2024: Bulan Puasa Bukan Halangan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co