13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (2)

Jaswanto by Jaswanto
March 28, 2024
in Tualang
Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (2)

Berbincang dengan Perbekel Pegayaman (kanan) | Foto: Kardian

MENINGGALKAN rumah panggung Suharto, kami menuju ke sebuah musala kecil di dalam gang yang sempit. Waktu menunjuk pukul tujuh malam lebih. Azan Isya baru saja berkumandang. Ibu-ibu dan para gadis Pegayaman obral seperti laron di musim penghujan, keluar dari lubang rumah masing-masing. Mereka, dengan sajadah dan mukenah, berduyun-duyun menuju tempat yang sama—tempat yang menggelar salat Tarawih berjamaah.

Pegayaman punya sistem sendiri dalam menjalankan salat Tarawih. Alih-alih barengan antara laki-laki dan perempuan sebagaimana umumnya di tempat lain, di Pegayaman, antara laki-laki dan perempuan, punya waktu dan tempat masing-masing.

Perempuan Pegayaman menjalankan salat Tarawih sekira pukul tujuh malam atau lebih—selepas salat Isya, tak ada bedanya dengan tempat lain. Mereka berjamaah di musala atau di rumah-rumah warga.

Sedangkan salat Tarawih laki-laki digelar satu jam setelah perempuan selesai salat, atau lebih tepatnya pukul sepuluh malam. Jika perempuan berjamaah Tarawih di musala atau di rumah-rumah warga, laki-laki melaksanakannya di masjid—walaupun ada beberapa lelaki yang mengerjakan Tarawih di musala, bersamaan dengan perempuan.

“Mungkin mereka punya alasan lain untuk itu,” ujar Suharto saat melihat beberapa pria salat Tarawih di musala.

Salat Tarawih berjamaah di Masjid Safinatus Salam Pegayaman | Foto: Jaswanto

Salat Tarawih di musala tentu bukan sebuah kesalahan. Toh, sistem yang dianut masyarakat Pegayaman juga bukan suatu keharusan. Ini hanya tradisi, bukan syariat. Alasan tetua Pegayaman, dulu, melaksanakan Tarawih pukul sepuluh malam karena menunggu jamaah yang tinggal jauh dari Masjid Safinatus Salam—satu-satunya masjid yang berdiri di desa ini, dari dulu hingga kini.

Desa Pegayaman memang memiliki wilayah gografis yang cukup luas. Penduduknya tak hanya tinggal di pusat desa, tapi tersebar sampai ke bukit, lembah, dan tengah kebun yang jauh.

Wilayah Pegayaman dibagi menjadi lima banjar atau dusun, yaitu Dauh Margi (Barat Jalan), Dangin Margi (Timur Jalan), Kubu Lebah, Kubu, dan Amertasari. Khusus penduduk di Banjar Amertasari, mereka lebih banyak memeluk agama Hindu. Sedangkan sisanya kebanyakan Muslim. Dan selama ini, tak pernah ada pertikaian antaragama di sini.

Jika ada perkelahian, orang-orang Pegayaman tak menganggapnya sebagai gejolak agama, tapi karena urusan pribadi masing-masing. Mereka saling percaya, tak ada agama yang mengajarkan—atau menghendaki—pertikaian yang menyebabkan perpecahan di tubuh sendiri.

Musala kecil itu sudah diisi puluhan ibu-ibu, gadis-gadis, anak-anak perempuan, dan beberapa lelaki—yang jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan. Seperti petapa bijak yang baru saja keluar dari tempat pengasingannya, kakek tua itu memasuki musala. Dialah yang bertugas menjadi imam malam ini. Sebagaimana orang yang dituakan dan dihormati, perangainya tampak jauh dari dunia hitam.

Kakek tua itu terbata-bata melantunkan Al-Fatihah. Meski terbata, tapi bacaannya sangat fasih, tak keluar dari hukum tajwid. Suaranya parau dan pelan, meski pernapasannya masih teratur. Tapi fisiknya memang masih bugar. Ia menyelesaikan empat rakaat Isya tanpa hambatan apa pun.

“Tarawih di sini dua puluh rakaat dan tiga rakaat Witir. Jadi semuanya 23 rakaat,” Suharto menerangkan. Saya membayangkan kakek tua yang menjadi imam itu. Diam-diam saya mengaguminya. Sungguh, lelaki yang kuat di umurnya yang tak lagi muda. Ah, atau saya saja yang lemah dan terlalu malas.

Meninggalkan musala di balik gang sempit itu, kami menuju ke musala tempat Perbekel Pegayaman menjadi imam salat Tarawih. Ini sesuatu yang langka, setidaknya di kampung saya. Sependek ingatan, baru kali ini saya menemukan seorang kepala desa menjadi imam salat. Di kampung saya, misalnya, boro-boro menjadi imam, ke musala atau ke masjid saja bisa dihitung pakai jari.

Dan Suharto tertawa saat mendengar hal itu keluar dari mulut saya. Ia merasa bangga memiliki kepala desa yang bisa dan mampu menjadi imam salat. Barangkali ia memiliki bayangan bahwa kepala desanya saat ini semacam khalifah—pemimpin pemerintahan sekaligus imam agama—di zaman dulu.

Kami memasuki lorong-lorong sempit dengan parit-parit kecil di samping rumah warga yang mengalir tak henti-henti. Tampaknya air di Pegayaman masih melimpah. Setapak basah malam itu. Terompah meninggalkan jejak-jejak di tanah yang gembur. Lantunan Al-Fatihah dan surat-surat pendek terdengar dari segala penjuru. Di Pegayaman, musala berserak di mana-mana. Nyaris di setiap gang satu musala teronggok.

Di depan musala tempat kepala desa menjadi imam Tarawih, kami mematung. Belum lama kami datang, kepala desa mengucap salam terakhir. Itu tanda akhir dari rangkaian Tarawih dan Witir. Kami menghampirinya di dalam musala.

Agus Asghar Ali, namanya. Kepala Desa Pegayaman yang sudah menjabat selama tiga periode berturut-turut. Dia, sang kepala desa, alih-alih tampak seperti pejabat pemerintah, dilihat dari perangainya, malah mirip seorang ulama khos pemimpin pondok pesantren tua di pedalaman Jawa. Lihat saja kumis dan jenggot tipisnya yang sudah memutih itu. Dan kata-katanya… Ah, setegas pemuka agama dalam menyerukan amar ma’ruf nahi munkar!

“Tak banyak tradisi yang berubah di sini,” ujar Asghar Ali. “Selama itu tidak bertentangan dengan agama, kami berusaha untuk melestarikan dan mempertahankannya,” sambungnya diplomatis. Perbekel paruh baya ini bercerita panjang lebar tentang bagaimana masyarakat Pegayaman masih menganut budaya lama, seperti misalnya Tarawih di masjid pukul sepuluh malam.

Mendengar apa yang dikatakan Asghar Ali, bisa dibilang tak banyak perubahan terjadi di Pegayaman, maksudnya dalam hal kepercayaan, tradisi, dan kebudayaan. Perubahan barangkali hanya terjadi pada bentu fisik, bukan jiwa Pegayaman. Tradisi-tradisi lama pada saat bulan Puasa, seperti ngejot, misalnya, kata Ali, masih berlangsung hingga kini. Para tetangga, sanak keluarga, handai tolan, saling berbagi kudapan dengan mengantarkannya ke rumah-rumah. Ngejot biasanya dilakukan secara bergantian, meski tak jarang bersamaan.

Berbincang dengan Perbekel Pegayaman (tengah berpeci hitam) | Foto: Jaswanto

Salah satu faktor penyebab budaya di Pegayaman tak banyak berubah, menurut Ali, dikarenakan tak banyak hal luar yang masuk ke Pegayaman. Benar. Masyarakat Pegayaman sangat selektif terhadap hal baru di luar sana, sebut saja pariwisata, misalnya. Istilah yang sangat populer di Bali ini, sebisa mungkin, tak mempengaruhi Pegayaman—apalagi tergoda olehnya. “Bukannya kami menolak pariwisata, kami hanya mempertimbangkan banyak hal!” ujar Ali serius.

Dalam kacamata destinasi wisata, Pegayaman sebenarnya memiliki potensi. Selain menarik sebagai tempat yang sering dikunjungi untuk penelitian Islam di Bali, kesenian dan sumber daya alam Pegayaman berpotensi masuk radar pariwisata. Pegayaman menyimpan banyak hal. Dari keindahan alam, kesenian, kebudayaan, hingga peninggalan sejarah masa silam. Di Pegayaman, masih ada jejak tentara Jepang saat menjajah Hindia Belanda.

“Di sini ada benteng di masa penjajahan Jepang. Mereka menyuruh orang Pegayaman untuk membangunnya. Letaknya di bukit sana. Lumayan jauh dari sini,” kata Ali kepada kami. Sepertinya Pegayaman memang wilayah strategis sebagai benteng pertahanan. Kita tahu, jauh sebelum Jepang menginvasi Hindia Belanda—dan membangun benteng di Pegayaman—I Gusti Anglurah Panji Sakti, Raja Buleleng pertama, sudah melakukannya terlebih dahulu.

“Tapi kami tidak merawat benteng Jepang itu,” kata Ali lagi. Saya agak kaget mendengarnya. “Buat apa? Orang-orang Pegayaman tidak menganggapnya penting!” sambungnya. Saya dibuat lebih kaget lagi setelah mendengar ucapannya. Saya tak setuju dengan pikiran semacam itu. Tapi juga tidak mau membantahnya sekarang. Alasan Ali tak merawat peninggalan sejarah itu, selain karena menganggap itu bukan sesuatu yang penting, juga nanti akan mengundang lebih banyak orang luar datang ke Pegayaman. Tampaknya, secara tidak langsung, Ali memang tak tertarik dengan rayuan pariwisata. Tapi bukankah pariwisata dapat menambah pendapatan warga, Pak Ali?

“Leluhur kami memberi pesan, antara urusan dunia dan akhirat harus seimbang, kalau bisa malah 70 akhirat, 30 dunia. Jadi, kami belum membutuhkan pariwisata. Yang penting adalah, masyarakat Pegayaman masih menegakkan agama Islam, dan mempertahankan tradisinya. Saya tidak mau menjadi penyebab perubahan yang buruk bagi Pegayaman,” ujar Ali, lagi-lagi diplomatis.

Malam kian beranjak. Ali masih berbicara. Kali ini omongannya ke mana-mana. Lompat sana-lompat sini. Banyak hal yang tak saya setujui. Tapi buat apa juga mengutarakannya. Toh, saya datang ke Pegayaman untuk bertanya, bukan memberi pernyataan. Jadi, lebih baik saya telan bulat-bulat ketidaksetujuan itu.

***

Kami meninggalkan Ali yang menggebu-gebu. Masjid adalah tujuan selanjutnya. Tapi sebelum benar-benar memasuki kawasannya, Suharto mengajak kami berhenti di sebuah rumah sederhana yang dijadikan tempat tadarus Al-Qur’an besama-sama. “Ini juga salah satu tradisi kami saat bulan Ramadan,” tutur penulis buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali itu.

Sebagaimana di tempat lain saat bulan Puasa, umat Islam di Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, setelah selesai salat Tarawih, juga melangsungkan tadarus Al-Qur’an bersama-sama. Bedanya, jika di tempat lain tadarus bersama hanya dilakukan di musala atau masjid, di Pegayaman, digelar di tiga tempat sekaligus, yakni musala, masjid, dan rumah-rumah warga.

Seperti halnya pelaksanaan salat Tarawih di masjid pada pukul sepuluh malam, tadarus di rumah-rumah warga ini juga sudah berlangsung sejak dulu—ini adalah tradisi warisan leluhur orang-orang Pegayaman yang sudah berabad-abad menghuni wilayah pemberian Raja Buleleng pertama itu.

Di Pegayaman, tak hanya satu atau dua rumah saja yang menggelar tadarus bersama, tapi nyaris delapan dari sepuluh rumah melakukannya. Para tetangga, handai tolan, sanak-keluarga, kadang kala datang bergantian di setiap rumah warga yang menggelar tadarus.

Dan dalam semalam, di semua tempat, entah di musala-masjid-rumah, mereka biasa—dan harus bahkan—membaca Al-Qur’an sampai tiga juz. Orang-orang Pegayaman, selama bulan Puasa, bisa khatam Al-Qur’an sampai tiga kali. Aturannya memang begitu sejak dulu.

Anak-anak tadarus bersama di rumah Abdul Hadi | Foto: Jaswanto

Di rumah sederhana itu, anak-anak laki-laki dari umur SD sampai SMA bergerombol menghadap kitab suci Al-Qur’an yang mereka bawa. Mereka sedang menunggu giliran untuk membaca. Sementara anak lain sedang membaca, mereka menyimaknya dengan khusyuk. Anak-anak itu melakukannya setiap malam seusai salat Tarawih ibu-ibu.

Rumah tempat anak-anak tadarus itu miliki salah satu tokoh agama di Pegayaman. Namanya Abdul Hadi. Lelaki berumur 60 tahun itu pernah mondok di Blok Agung, Banyuwangi, Jawa Timur. Sejak dulu, sejak kakek-buyutnya, rumah Abdul Hadi sudah digunakan sebagai tempat belajar mengaji anak-anak sekitar.

Di rumah inilah, banyak anak-anak Pegayaman yang lancar membaca Qur’an dan tahu dan paham ilmu-ilmu agama lainnya. Sebab, selain sebagai tempat belajar membaca Al-Qur’an, di rumah tersebut juga mengajarkan isi kitab-kitab dasar seputar Islam, fiqih, tajwid, aqidah, seperti kitab Aqidatul Awam karya Syeikh Sayyid Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki Al-Hasani (1205-1261 H) sampai kitab Fathul Qorib-nya Muhammad bin Qasim Al-Ghazi (1455- 1512 M).

“Ada sekitar 150 anak yang ngaji di sini. Bahkan, yang rumahnya jauh, mereka sampai menginap di sini, sudah seperti pondok pesantren,” kata Hadi di tengah-tengah suara anak-anak membaca Al-Qur’an di rumahnya.

Ini suasana yang jarang ditemukan di tempat lain. Seperti yang telah disinggung di atas, bahwa umumnya, pada saat bulan Puasa, tadarus bersama hanya dilaksanakan di musala atau masjid. Di tempat lain, kalaupun tadarus di rumah, biasanya hanya dilakukan sendiri-sendiri, tidak bersama-sama seperti orang Pegayaman. 

Oleh karena itu, tentu saja, rumah Abdul Hadi bukan satu-satunya tempat yang menggelar tadarus bersama. Belakangan, tak jauh dari rumah Hadi, di sebuah rumah warga lainnya, orang-orang dewasa juga sedang membaca Al-Qur’an bersama. Bedanya, kalau di rumah Hadi dilakukan setelah salat Tarawih ibu-ibu, sedangkan di rumah-rumah warga lainnya digelar setelah salat Tarawih bapak-bapak—yang dilaksanakan pukul sepuluh malam itu.

Kami menuju masjid. Pukul sembilan malam baru saja lewat, orang-orang Pegayaman mulai berdatangan ke Masjid Jami’ Safinatus Salam—satu-satunya masjid yang berdiri di Desa Pegayaman—dari berbagai penjuru. Mereka, tua-muda-anak-anak, yang tinggal di atas bukit, di balik lembah, di belantara kebun, berbondong-bondong menuju masjid tua kebanggan yang kini dalam tahap pembangunan itu.

Safinatus Salam terlihat semakin megah dari tahun-tahun sebelumnya. Di lantai pertama yang luas, karpet-karpet bercorak Islami terbentang memenuhi ruangan. Satu dua orang lelaki duduk di teras. Sedang kebanyakan dari mereka sudah menempati saf di belakang imam. Saya mengamati mereka dari balik jendela.

Sesekali saya berpaling menuju bedug tua yang bertengger di pojok utara. Saya lupa bertanya kepada Suharto kayu apa yang dipakai ini. Yang jelas, bedug itu cukup besar. Dan ini dibuat tanpa sambungan sedikit pun. Benar-benar kayu utuh yang dilubangi lalu ditutup dengan kulit sapi. Seingat saya, Suharto mengatakan bahwa bedug ini adalah buah tangan masyarakat Pegayaman sendiri, tidak membeli atau pemberian orang lain.

Menjelang salat Tarawih di Masjid Jami’ Safinatus Salam, sambil menunggu jamaah, imam yang bertugas malam itu terlebih dahulu memberi sedikit khutbah agama. Alih-alih menggunakan bahasa Indonesia atau Arab, sang imam memilih menyampaikan ceramahnya menggunakan bahasa Bali halus yang sesekali dilengkapi dengan dalil-dalil kitab suci maupun ucapan Nabi.

Bedug tua di Masjid Safinatus Salam | Foto: Jaswanto

Malam itu, langit Pegayaman cerah dengan satu-dua bintang berkedip menghiasainya. Angin malam berkesiur sejuk. Masjid yang berdiri sejak dulu kala itu, seperti madu yang mengundang lebah berdatangan. Laki-laki Pegayaman berduyun-duyun memasuki pintunya. Tak butuh waktu lama, lima saf panjang penuh terisi. Jamaah merapatkan barisan. Imam memulai salat Tarawih.    

Kebiasaan salat Tarawih pukul sepuluh malam ini sudah berlangsung selama berabad-abad silam. Dan ini dilakukan bukan tanpa sebab. Dulu, sebagaimana telah disinggung di atas, permukiman warga Pegayaman masih berjarak-jarak sangat jauh dari masjid—sekarang pun demikian. Tapi zaman itu belum ada kendaraan bermesin seperti sekarang. Jalan pun masih setapak dengan gelap yang pekat.

Mereka yang tinggal di selatan desa, di dataran tinggi Pegayaman, harus turun ke utara dengan berjalan kaki. “Karena alasan itulah, para tetua dulu memiliki kebijaksanaan untuk melangsungkan Tarawih pukul sepuluh malam. Supaya saudara-saudara yang jauh dari masjid tidak telat dan bisa berjamaah,” tutur Suharto memberi keterangan.

Meskipun kondisi hari ini sudah jauh berbeda dengan yang dulu, tapi orang-orang Pegayaman masih mengikuti tradisi tersebut. Mereka bahkan tak memiliki sedikit pun pikiran untuk merubah atau justru menghilangkannya. Tradisi ini dianggap sudah mendarah-daging, tak bisa dilepaskan dari DNA orang Pegayaman. Ketaatannya dalam mempertahankan tradisi, sama besarnya dengan menjaga keimanan itu sendiri.

Selama bulan Puasa, orang Pegayaman seperti tak memiliki waktu istirahat. Selain mengisi hari dengan kegiatan sehari-hari, bekerja mencari nafkah, mereka juga menghabiskan waktu dengan beribadah, salah satunya adalah dengan tadarus bersama setelah salat Tarawih.

“Laki-laki salat Tarawih jam sepuluh malam di masjid. Paling tidak itu membutuhkan waktu satu jam baru selesai. Setelah itu baru tadarus, selesai sekitar pukul dua dini hari. Setelah tadarus, sebentar saja sudah masuk waktu sahur. Pagi sampai siang beraktivitas kerja dan sebagainya. Jadi, waktu tidur di bulan Puasa lebih sedikit daripada hari-hari biasa,” kata Suharto sembari tertawa.

Orang-orang Pegayaman tampaknya memang tak mau membuang-buang kesempatan yang hanya hadir setahun sekali ini. Mereka berusaha semaksimal mungkin untuk mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan yang bernilai akhirat. Musala, masjid, rumah pribadi, bergitu meriah.

Orang-orang berbondong-bondong, beribadah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Kuasa. Dan setiap menjelang tengah malam, di sana, ayat-ayat suci Al-Qur’an berkumandang di mana-mana. Bersama lantunan ayat-ayat suci itulah, saya meninggalkan Pegayaman. Membelah angin basah, menuju Singaraja.[T]

Wajah Desa (Muslim) Pegayaman Saat Bulan Ramadan (1)
Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa
Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam
Tags: balibulan puasabulelengDesa PegayamanKecamatan SukasadaPuasaRamadansalat Tarawihtadarus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar dari Komeng

Next Post

Tiga Pesilat Putri Pagar Nusa Buleleng Sabet Juara di Porjar 2024: Bulan Puasa Bukan Halangan!

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails

Berguru ke Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 21, 2026
0
Berguru ke Baduy Luar

SETELAH rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan persembahyangan di Pura Aditya Jaya Rawangun Jakarta Timur pada Kamis Umanis Gumbreg, 14...

Read moreDetails
Next Post
Tiga Pesilat Putri Pagar Nusa Buleleng Sabet Juara di Porjar 2024: Bulan Puasa Bukan Halangan!

Tiga Pesilat Putri Pagar Nusa Buleleng Sabet Juara di Porjar 2024: Bulan Puasa Bukan Halangan!

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co