2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam

Jaswanto by Jaswanto
March 25, 2024
in Khas
Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam

Salat Tarawih di Masjid Jami’ Safinatus Salam Desa Pegayaman | Foto: Jaswanto

JIKA pada umumnya, di tempat-tempat lain selama bulan Ramadan, salat Tarawih dilaksanakan bakda salat Isya sekira pukul tujuh malam atau lebih sedikit, lain daripada itu, di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali, salat Tarawih di masjid dilaksanakan pukul sepuluh malam. Sesuatu yang jarang ditemukan di tempat lain.

Saat pukul sembilan malam baru saja lewat, orang-orang Pegayaman mulai berdatangan ke Masjid Jami’ Safinatus Salam—satu-satunya masjid yang berdiri di Desa Pegayaman—dari berbagai penjuru. Mereka, tua-muda-anak-anak, yang tinggal di atas bukit, di balik lembah, di belantara kebun, berbondong-bondong menuju masjid tua kebanggan yang kini dalam tahap pembangunan itu.

Uniknya, dari sekian banyak orang yang datang, tak ada satu pun perempuan terlihat. Tak seperti di tempat-tempat lain memang, perempuan Pegayaman tidak melangsungkan Tarawih di masjid. Mereka salat di musala atau rumah-rumah warga—dan ini sudah terjadi sejak dulu kala. Hanya laki-laki yang salat Tarawih berjamaah di masjid.

“Perempuan Pegayaman salat Tarawih seperti orang-orang pada umumnya, setelah salat Isya pukul tujuh malam lebih. Tapi mereka tidak di masjid. Mereka salat di musala atau rumah-rumah warga. Jadi, di Pegayaman ada dua sistem salat Tarawih,” ujar Ketut Muhammad Suharto, pemerhati sejarah Desa Pegayaman, di rumahnya yang sekaligus Sekretariat LPS Kumpi Bukit Pegayaman, Minggu (24/3/2024) sore.

Mengenai alasan kenapa perempuan tidak salat Tarawih di masjid dapat ditinjau dari dua teropong yang berbeda—tentu berbeda tidak dalam arti yang sesungguhnya. Pertama dari hukum agama, dan kedua dari tradisi warga Pegayaman sendiri. Dalam Islam, sebenarnya perempuan cukup melaksanakan salat di rumah saja. Sedangkan laki-laki dianjurkan untuk berjamaah di masjid atau di musala. Ini pandangan yang pertama.

Yang kedua, hal tersebut berkaitan dengan tradisi orang Pegayaman yang menganjurkan perempuan untuk tidak keluar sendirian tanpa ditemani keluarga atau mahramnya. Kebiasaan ini dipercaya, selain dapat menjaga kehormatan perempuan, juga menghindar dari fitnah yang tak diharapkan. Dan ini, tampaknya juga bersumber dari ajaran Islam itu sendiri.

Jika demikian, adat-istiadat, kebudayaan, dan agama sepertinya sudah bercampur-baur di Pegayaman—menjadi nilai, norma yang arif, yang membentuk kepribadian orang Pegayaman dari dulu hingga sekarang.  

Kebiasaan salat Tarawih pukul sepuluh malam ini sudah berlangsung selama berabad-abad silam. Dan ini dilakukan bukan tanpa sebab. Dulu, permukiman warga Pegayaman masih berjarak-jarak sangat jauh dari masjid—sekarang pun demikian. Tapi zaman itu belum ada kendaraan bermesin seperti sekarang. Jalan pun masih setapak dengan gelap yang pekat.

Mereka yang tinggal di selatan desa, di dataran tinggi Pegayaman, harus turun ke utara dengan berjalan kaki. “Karena alasan itulah, para tetua dulu memiliki kebijaksanaan untuk melangsungkan Tarawih pukul sepuluh malam. Supaya saudara-saudara yang jauh dari masjid tidak telat dan bisa berjamaah,” tutur Suharto menerangkan.

Salat Tarawih di Masjid Jami’ Safinatus Salam Desa Pegayaman | Foto: Jaswanto

Meskipun kondisi hari ini sudah jauh berbeda dengan yang dulu, tapi orang-orang Pegayaman masih mengikuti tradisi tersebut. Mereka bahkan tak memiliki sedikit pun pikiran untuk merubah atau justru menghilangkannya. Tradisi ini dianggap sudah mendarah-daging, tak bisa dilepaskan dari DNA orang Pegayaman. Ketaatannya dalam mempertahankan tradisi, sama besarnya dengan menjaga keimanan itu sendiri.

“Kami berusaha untuk mempertahankan tradisi ini. Karena ini menjadi ciri khas Muslim di Pegayaman. Meskipun, tidak dapat dimungkiri, hari ini tradisi salat Tarawih di Pegayaman sudah sedikit berubah dari segi waktu pelaksanaannya. Dulu, di sini, salat Tarawih dilaksanakan tengah malam, tepat seperti istiwa. Tapi sekarang digeser lebih cepat, pukul sepuluh malam—tentu dengan berbagai pertimbangan,” kata  Agus Asghar Ali, Perbekel Desa Pegayaman, di musala miliknya sesaat setelah salat Tarawih—ia menjadi imam salat di sana.

Sebagai kepala desa, Agus berusaha semaksimal mungkin dalam menjaga dan mempertahankan tradisi warisan leluhur. Selama tidak bertentangan dengan syariat Islam dan norma-norma yang berlaku di Pegayaman, apa pun itu bentuknya, patut dilestarikan. Seperti tradisi salat Tarawih pukul sepuluh malam ini, misalnya.

Sebagai ibadah sunah—artinya ibadah yang tidak wajib dilakukan—selama bulan Ramadan, waktu melaksanakan salat Tarawih memang sangat longgar. Dalam kitab-kitab salaf, pelaksanaan salat Tarawih disebutkan di antara “salat Isya dan terbitnya fajar, sama seperti salat Witir”, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Al-Minhajul Qawim. Artinya, pelaksanaan salat Tarawih di Desa Pegayaman sama sekali tidak bertentangan dengan hukum Islam.

Namun, seperti yang dikatakan Kepala Desa Pegayaman di atas, kebiasaan salat Tarawih di masjid di Pegayaman sudah sedikit berubah. Dulu, hampir seluruh laki-laki di Desa Pegayaman melaksanakan salat Tarawih di masjid—yang dilaksanakan pukul sepuluh malam itu. Tapi sekitar tahun ’80-an, sejak musala banyak berdiri di Pegayaman—di desa ini musala berdiri di mana-mana—banyak lelaki yang melakukan salat di musala, satu tempat dengan perempuan.

“Tidak masalah. Mereka [laki-laki Pegayaman] yang memilih salat Tarawih di musala bareng dengan perempuan tentu punya alasan sendiri. Toh salat Tarawih di masjid juga bukan kewajiban. Ini hanya kebiasaan kami saja. Tetapi, meski bukan kewajiban, sekali lagi, kami tetap berusaha mempertahankannya,” ujar Perbekel Pegayaman.

Menjelang salat Tarawih di Masjid Jami’ Safinatus Salam, sambil menunggu jamaah, imam yang bertugas terlebih dahulu memberi sedikit khutbah agama. Alih-alih disampaikan menggunakan bahasa Indonesia atau Arab, sang imam menyampaikan ceramahnya menggunakan bahasa Bali halus yang sesekali dilengkapi dengan dalil-dalil kitab suci maupun ucapan Nabi.

Malam itu, langit Pegayaman cerah dengan satu-dua bintang berkedip. Angin malam berkesiur sejuk. Masjid yang berdiri sejak dulu kala itu, seperti madu yang mengundang lebah berdatangan. Laki-laki Pegayaman berduyun-duyun memasuki pintunya. Tak butuh waktu lama, lima saf panjang penuh terisi. Jamaah merapatkan barisan. Imam memulai salat Tarawih.     

Desa Pegayaman merupakan wilayah yang bersejarah. Berbicara Pegayaman tidak bisa dilepaskan dari sejarah Kerajaan Buleleng—atau kepemimpinan Ki Barak Panji Sakti, Raja Buleleng pertama—itu sendiri. Pengetahuan tentang hubungan baik antara Pegayaman dengan Kerajaan Buleleng itu sudah menjadi buah bibir di kalangan akademisi maupun masyarakat pada umumnya.

Di Pegayaman, dari sekitar tujuh ribu kepala keluarga, sembilan tujuh persen dari jumlah tersebut merupakan umat Islam. Maka tak heran jika desa ini sering disebut sebagai Desa Muslim Pegayaman. Dan karena dihuni oleh mayoritas Muslim, wajah desa ini nyaris tak tampak bahwa letaknya di Pulau Bali—yang notabene penduduknya lebih banyak memeluk agama Hindu.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Rayakan Bulan Ramadan, HMI Cabang Singaraja Bagi-Bagi Takjil Gratis
Bubur Kajanan, Kuliner Khas Bulan Ramadan
Sahur Bersama di Masjid Jami’ Singaraja, Hal yang Ditunggu Saat Bulan Puasa
Ramadan, Jalan Jeruk, dan Wajah Pluralisme di Bali
Usaha Menemukan dan Mengabadikan Desa Muslim Pegayaman Bali | Ulasan Buku Ensiklopedia Desa Muslim Pegayaman Bali
Tags: bulan puasaDesa PegayamanRamadansalat TarawihTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cerita dari Jalan Raya Sisi Hutan Bali Barat: Hiburan Monyet dan Pahlawan Jalanan

Next Post

Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co