14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Satria Aditya by Satria Aditya
March 26, 2024
in Esai
Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

LITERASI sampai hari ini masih digaungkan di dunia pendidikan, begitu pula dengan berbagai programnya. Literasi sepertinya masih sangat langka di Indonesia, sehingga pemerintah pun bikin program-program seremonial terkait literasi, bahkan program pemerintah yang paling baru adalah literasi keuangan bagi mahasiswa yang terlilit pinjol. Pertanyaannya, apakah mahasiswa sampai harus dibuatkan sebuah program literasi agar tak terlilit pinjol? Atau itu harusnya menjadi kesadaran mereka?

Literasi, menurut saya, adalah sebuah kesadaran. Kesadaran untuk berpikir kritis, kesadaran membeli buku, kesadaran untuk tahu dan kesadaran bahwa dunia maya tidak serta merta memberikan info-info valid dan baik. Kesadaran itu yang harusnya ditingkatkan dengan sebuah stimulus yang baik pula. Misalnya, memberikan buku bacaan baru yang menarik dan tidak itu-itu saja.

Di lingkungan saya, tempat saya berkerja, stimulus untuk program literasi ini minim diberikan. Awalnya saya merasa senang bahwa ada macam-macam buku bacaan di setiap kelas dan selalu dibaca setiap pagi (katanya). Ada buku Gerson Poyk, beberapa buku Budi Darma dan kebanyakan dongeng-dongeng fabel yang ringan dibaca anak SMP.

Tapi, apakah buku-buku itu akan selalu dibaca dan tak akan bosan membacanya? Ini selalu menjadi pertanyaan saya setiap mengajar dan melihat buku-buku itu terpajang di rak kelas. Buku Gerson Poyk dengan judul Sang Guru misalnya, tak ada anak yang tertarik membaca buku setebal dan tidak menarik bagi mereka itu. Beberapa buku kadang saya bawa dan saya baca ketika sampai di indekost, atau sedang bosan-bosannya mengajar.

Ada pula perpustakaan digital agar mudah diakses untuk anak-anak yang tak gemar membaca buku. Mereka bisa mengakses dengan mudah buku-buku yang ingin dicari. Tapi kendalanya adalah, banyak buku yang tak bisa dibaca lebih lanjut karena buku-buku tersebut kemungkinan habis masa pembeliannya.

Literasi meski dibuatkan berbagai macam program tak akan jadi menarik jika stimulusnya memaksa dan kadang mengharuskan. Bagi saya, membaca adalah sebuah wahana lain untuk merefresh diri, untuk mengetahui lebih banyak lagi dan untuk mengusir bosan. Membaca adalah sebuah makanan yang tak akan terasa kenyang meskipun sudah memakan beribu-ribu huruf dan kata setiap harinya.

Saya jadi ingat ketika saya baru menginjak kelas 5 sekolah dasar dulu, ibu saya seorang guru di pedesaan terpencil. Karena sekolah jauh masuk ke utara dari rumah saya, koran biasanya langsung dititipkan di rumah saya. Setelah mandi, hal yang paling sering terjadi adalah sakit perut yang luar biasa, maka dari itu agar tak bosan di kamar mandi saya mengambil koran Bali Post di atas meja ibu, kadang mengambil koran yang tipis seperti Radar Bali. Membaca adalah sesuatu yang seru dan keberuntungan saya dulu adalah, ibu saya seorang guru yang selalu mendapat titipan koran setiap pagi dan tak adanya HP yang merengut kesempatan saya untuk membaca.

Kadang ketika keasikan membaca, kaki saya keram dan sering terlambat berangkat sekolah. Saya juga adalah orang yang sangat malas membaca teori-teori di buku LKS dan Paket saat itu, malah lebih seru membaca koran. Koran yang paling seru adalah saat hari Sabtu dan Minggu, berita olahraga dan sastra di halaman belakang tak luput dari bacaan saya.

Dari sana kemungkinan saya menjadi sadar bahwa membaca tak harus dipaksa, namun harus ada stimulus dan kesadaran yang diberikan. Mungkin ketika melihat orang tua membaca koran sembari jongkok di WC juga menjadi stimulus seorang anak yang menjadi peniru di masa itu.

Stimulus yang baik hari ini dapat diberikan ketika kita pula ikut membaca dan berperan aktif mengetahui bahan-bahan bacaan yang menarik untuk anak. Misalnya buku-buku terjemahan yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini.

Awalnya saya membaca sebuah buku berjudul “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” karya Luis Sepulveda, dari sana saya kira bacaan seperti ini cocok untuk meningkatkan minat membaca anak, dari sana pula saya menjadi gemar mencari buku-buku terjemahan lain.

Buku lain yang baru saja saya baca adalah “Le Petit Prince” atau “Pangeran Cilik” karya Antoine de Saint-Expurey. Buku ini saya dapat di salah satu kelas ketika saya suntuk menunggu siswa mengerjakan ulangan. Ketika saya membaca buku ini, ternyata isinya tak seperti judulnya. Cerita-cerita kehidupan tertulis sangat dalam. Ini yang menjadikan buku terjemahan sangat menarik untuk dibaca, selain karna Budi Pekerti sekarang dihapus dari mata Pelajaran di sekolah, setidaknya siswa mendapatkan sesuatu untuk diintepretasi di dalam kehidupan mereka.

Namun sayang, ketika mereka selesai mengerjakan soal, saya sempat bertanya kepada siswa yang pernah membaca buku ini. Mereka tidak tahu akan isinya atau lupa dengan isinya. Mungkin terlalu berat pikir saya, namun, ada hal lain yang menganggu ternyata. Sekali lagi, mereka hanya kurang stimulus dan proses untuk menceritakan kembali isi bacaan agar mereka benar-benar mengingat bukan hanya sekedar angin lalu yang dinilai lalu dilupakan.

Saya berpikir kembali, apakah sekolah yang masuk ke pelosok desa mendapatkan juga apa yang sudah saya lihat di kota besar ini? atau entah mereka hanya membaca buku-buku bekas dari sumbangan sukarela para siswa atau mahasiswa KKN yang tak sengaja mendapatkan jatah tempat di sana? Atau sama sekali tidak ada?

Pemerintah hanya memikirkan bahwa kami, guru, hanya harus menyelesaikan apa yang ada di website mereka, apa yang mereka buat dan apa yang mereka haruskan. Tak ada timbal balik, malah ada slogan baru untuk kurikulum sekarang, “Siswa Merdeka, Guru Belajar”.

Tapi, saya sebagai guru akan tetap belajar, namun bukan dalam hal administrasi atau seminar yang dapat ditinggal tidur. Saya akan selalu belajar hal-hal yang tidak nyata, fiksi dan hal yang tidak akan mungkin terjadi, karena dari sana kemungkinan-kemungkinan baru selalu ada di depan mata. Ide berasal dari khayalan, dari khayalan itu kita hanya tinggal mengubah menjadi kenyataan. Begitu dengan kesadaran akan sebuah bacaan, dari kesadaraan yang tak disengaja itu akan menjadi suatau kebiasaan dan tak akan ada program khusus yang memaksa seseorang untuk membaca.

Tulisan ini saya buat atas keresahan saya yang selama ini menganggu pikiran. Di tengah program Merdeka Belajar yang digaungkan pemerintah, masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan di bawah sana.

Begitu pula para eksekutor yang harus membiasakan diri sebelum membiasakannya kepada objek penerima. Contoh kecilnya adalah membaca koran yang setiap hari datang ke sekolah agar tidak hanya menjadi tatakan barang di lemari atau menjadi sampah yang tak berguna. [T]

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa
E-Modul Berbasis Tradisi Lisan: Inovasi dalam Meningkatkan Kompetensi Literasi Siswa
Anak Muda, Literasi dan Golput
Tags: BukuLiterasiliterasi sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam

Next Post

Tangani Cedera Olahraga dengan PRICE dan “Sport Massage” (Part 1)

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Tangani Cedera Olahraga dengan PRICE dan “Sport Massage” (Part 1)

Tangani Cedera Olahraga dengan PRICE dan “Sport Massage” (Part 1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co