2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Satria Aditya by Satria Aditya
March 26, 2024
in Esai
Sadar Membaca Dahulu, Terbiasa Kemudian

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

LITERASI sampai hari ini masih digaungkan di dunia pendidikan, begitu pula dengan berbagai programnya. Literasi sepertinya masih sangat langka di Indonesia, sehingga pemerintah pun bikin program-program seremonial terkait literasi, bahkan program pemerintah yang paling baru adalah literasi keuangan bagi mahasiswa yang terlilit pinjol. Pertanyaannya, apakah mahasiswa sampai harus dibuatkan sebuah program literasi agar tak terlilit pinjol? Atau itu harusnya menjadi kesadaran mereka?

Literasi, menurut saya, adalah sebuah kesadaran. Kesadaran untuk berpikir kritis, kesadaran membeli buku, kesadaran untuk tahu dan kesadaran bahwa dunia maya tidak serta merta memberikan info-info valid dan baik. Kesadaran itu yang harusnya ditingkatkan dengan sebuah stimulus yang baik pula. Misalnya, memberikan buku bacaan baru yang menarik dan tidak itu-itu saja.

Di lingkungan saya, tempat saya berkerja, stimulus untuk program literasi ini minim diberikan. Awalnya saya merasa senang bahwa ada macam-macam buku bacaan di setiap kelas dan selalu dibaca setiap pagi (katanya). Ada buku Gerson Poyk, beberapa buku Budi Darma dan kebanyakan dongeng-dongeng fabel yang ringan dibaca anak SMP.

Tapi, apakah buku-buku itu akan selalu dibaca dan tak akan bosan membacanya? Ini selalu menjadi pertanyaan saya setiap mengajar dan melihat buku-buku itu terpajang di rak kelas. Buku Gerson Poyk dengan judul Sang Guru misalnya, tak ada anak yang tertarik membaca buku setebal dan tidak menarik bagi mereka itu. Beberapa buku kadang saya bawa dan saya baca ketika sampai di indekost, atau sedang bosan-bosannya mengajar.

Ada pula perpustakaan digital agar mudah diakses untuk anak-anak yang tak gemar membaca buku. Mereka bisa mengakses dengan mudah buku-buku yang ingin dicari. Tapi kendalanya adalah, banyak buku yang tak bisa dibaca lebih lanjut karena buku-buku tersebut kemungkinan habis masa pembeliannya.

Literasi meski dibuatkan berbagai macam program tak akan jadi menarik jika stimulusnya memaksa dan kadang mengharuskan. Bagi saya, membaca adalah sebuah wahana lain untuk merefresh diri, untuk mengetahui lebih banyak lagi dan untuk mengusir bosan. Membaca adalah sebuah makanan yang tak akan terasa kenyang meskipun sudah memakan beribu-ribu huruf dan kata setiap harinya.

Saya jadi ingat ketika saya baru menginjak kelas 5 sekolah dasar dulu, ibu saya seorang guru di pedesaan terpencil. Karena sekolah jauh masuk ke utara dari rumah saya, koran biasanya langsung dititipkan di rumah saya. Setelah mandi, hal yang paling sering terjadi adalah sakit perut yang luar biasa, maka dari itu agar tak bosan di kamar mandi saya mengambil koran Bali Post di atas meja ibu, kadang mengambil koran yang tipis seperti Radar Bali. Membaca adalah sesuatu yang seru dan keberuntungan saya dulu adalah, ibu saya seorang guru yang selalu mendapat titipan koran setiap pagi dan tak adanya HP yang merengut kesempatan saya untuk membaca.

Kadang ketika keasikan membaca, kaki saya keram dan sering terlambat berangkat sekolah. Saya juga adalah orang yang sangat malas membaca teori-teori di buku LKS dan Paket saat itu, malah lebih seru membaca koran. Koran yang paling seru adalah saat hari Sabtu dan Minggu, berita olahraga dan sastra di halaman belakang tak luput dari bacaan saya.

Dari sana kemungkinan saya menjadi sadar bahwa membaca tak harus dipaksa, namun harus ada stimulus dan kesadaran yang diberikan. Mungkin ketika melihat orang tua membaca koran sembari jongkok di WC juga menjadi stimulus seorang anak yang menjadi peniru di masa itu.

Stimulus yang baik hari ini dapat diberikan ketika kita pula ikut membaca dan berperan aktif mengetahui bahan-bahan bacaan yang menarik untuk anak. Misalnya buku-buku terjemahan yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini.

Awalnya saya membaca sebuah buku berjudul “Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarinya Terbang” karya Luis Sepulveda, dari sana saya kira bacaan seperti ini cocok untuk meningkatkan minat membaca anak, dari sana pula saya menjadi gemar mencari buku-buku terjemahan lain.

Buku lain yang baru saja saya baca adalah “Le Petit Prince” atau “Pangeran Cilik” karya Antoine de Saint-Expurey. Buku ini saya dapat di salah satu kelas ketika saya suntuk menunggu siswa mengerjakan ulangan. Ketika saya membaca buku ini, ternyata isinya tak seperti judulnya. Cerita-cerita kehidupan tertulis sangat dalam. Ini yang menjadikan buku terjemahan sangat menarik untuk dibaca, selain karna Budi Pekerti sekarang dihapus dari mata Pelajaran di sekolah, setidaknya siswa mendapatkan sesuatu untuk diintepretasi di dalam kehidupan mereka.

Namun sayang, ketika mereka selesai mengerjakan soal, saya sempat bertanya kepada siswa yang pernah membaca buku ini. Mereka tidak tahu akan isinya atau lupa dengan isinya. Mungkin terlalu berat pikir saya, namun, ada hal lain yang menganggu ternyata. Sekali lagi, mereka hanya kurang stimulus dan proses untuk menceritakan kembali isi bacaan agar mereka benar-benar mengingat bukan hanya sekedar angin lalu yang dinilai lalu dilupakan.

Saya berpikir kembali, apakah sekolah yang masuk ke pelosok desa mendapatkan juga apa yang sudah saya lihat di kota besar ini? atau entah mereka hanya membaca buku-buku bekas dari sumbangan sukarela para siswa atau mahasiswa KKN yang tak sengaja mendapatkan jatah tempat di sana? Atau sama sekali tidak ada?

Pemerintah hanya memikirkan bahwa kami, guru, hanya harus menyelesaikan apa yang ada di website mereka, apa yang mereka buat dan apa yang mereka haruskan. Tak ada timbal balik, malah ada slogan baru untuk kurikulum sekarang, “Siswa Merdeka, Guru Belajar”.

Tapi, saya sebagai guru akan tetap belajar, namun bukan dalam hal administrasi atau seminar yang dapat ditinggal tidur. Saya akan selalu belajar hal-hal yang tidak nyata, fiksi dan hal yang tidak akan mungkin terjadi, karena dari sana kemungkinan-kemungkinan baru selalu ada di depan mata. Ide berasal dari khayalan, dari khayalan itu kita hanya tinggal mengubah menjadi kenyataan. Begitu dengan kesadaran akan sebuah bacaan, dari kesadaraan yang tak disengaja itu akan menjadi suatau kebiasaan dan tak akan ada program khusus yang memaksa seseorang untuk membaca.

Tulisan ini saya buat atas keresahan saya yang selama ini menganggu pikiran. Di tengah program Merdeka Belajar yang digaungkan pemerintah, masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan di bawah sana.

Begitu pula para eksekutor yang harus membiasakan diri sebelum membiasakannya kepada objek penerima. Contoh kecilnya adalah membaca koran yang setiap hari datang ke sekolah agar tidak hanya menjadi tatakan barang di lemari atau menjadi sampah yang tak berguna. [T]

Pondok Literasi Sabih dan Masa Depan Pedawa
E-Modul Berbasis Tradisi Lisan: Inovasi dalam Meningkatkan Kompetensi Literasi Siswa
Anak Muda, Literasi dan Golput
Tags: BukuLiterasiliterasi sekolah
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Desa Pegayaman di Bulan Ramadan: Salat Tarawih di Masjid Pukul Sepuluh Malam

Next Post

Tangani Cedera Olahraga dengan PRICE dan “Sport Massage” (Part 1)

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Tangani Cedera Olahraga dengan PRICE dan “Sport Massage” (Part 1)

Tangani Cedera Olahraga dengan PRICE dan “Sport Massage” (Part 1)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co