25 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Dina Widiawan Membangun Din’z Handmade

Jaswanto by Jaswanto
February 6, 2024
in Persona
Bagaimana Dina Widiawan Membangun Din’z Handmade

Dina Widiawan | Foto: Dok. Dina

DI TERAS rumah yang sekaligus ruang kerjanya, terdapat sebuah mesin jahit berwarna putih, lemari cukup besar, sebuah sofa tua tanpa meja, dan beberapa ornamen penghias yang diletakkan di samping pintu. Di dinding belakang mesin jahit, plang kecil tertera nama usaha tercantol begitu saja. Sedang pohon-pohon dan tanaman hias, subur di samping kendaraan diparkirkan.

Tak seperti umumnya tempat produksi kerajinan tangan, rumah itu jauh dari kata berantakan. Tak ada sisa potongan kain, tak ada benang kusut, tak ada benda-benda serupa berserakan di mana-mana. Bukan karena sedang macet produksi, tapi benda-benda yang disebutkan, memang berada di tempatnya masing-masing. Sungguh terlalu rapi untuk disebut rumah produksi. Tetapi barangkali wajar, sebab selain sebagai rumah usaha, itu juga sekaligus tempat tinggalnya.

Dina Widiawan tidak sedang menjahit saat tatkala.co berkunjung ke kediamannya—yang juga sekaligus laboratoriumnya dalam berinovasi dan berkreasi selama ini. Entah karena sudah menyelesaikan pekerjaan, atau sengaja menundanya sebab sudah kadung janjian, ia tak mengatakan alasannya. Yang jelas, ia begitu bersemangat saat menceritakan perjalanannya dalam merintis usaha.

“Saya belajar menjahit itu tahun 2018,” ujarnya memulai obrolan. Perempuan bernama lengkap Luh Putu Dina Febriana Dewi itu mengaku tak pernah bersentuhan atau bersinggungan dengan dunia jahit-menjahit sebelumnya. Ia sangat awam dengan itu.

Bahkan, saat suaminya membelikannya sebuah mesin jahit, alih-alih tahu produk apa yang hendak dibuat, ia masih sibuk dengan tutorial bagaimana menyalakan, mengoprsikan, dan mematikan mesin jahitnya. “Beruntungnya ada YouTube,” katanya sembari menertawakan diri sendiri.

Topi kain pewarna alami produksi Din’z Handmade / Foto: Dok. Din’z Handmade

Tetapi, setahun setelah menguasai mesin jahit, dan saat karya pertamanya terjual tanpa sengaja melalui postingan di media sosial, Dina, dengan segenap keberanian dan keyakinan, memutuskan mendirikan usaha kerajinan tangan dengan nama “Din’z Handmade”—sebuah usaha kerajinan pembuatan tas, topi, dan aksesoris lainnya dengan bahan kain pewarna alami yang ramah lingkungan.

“Sebelum menggunakan kain pewarna alami, saya menggunakan kain perca endek, yang saya ambil dari Kalianget itu. Tapi karena sudah banyak yang menggunakannya, saya beralih ke kain pewarna alam,” katanya.

Saat ini, setelah bertemu dan berbincang dengan Made Andika Putra, pemilik usaha Pagi Motley—usaha yang bergerak dalam bidang pewarnaan alam yang meliputi jasa pencelupan (kulit, kain, agel, kayu), tenun, desain interior, workshop warna natural, dan desain pakaian itu—nyaris semua produk Din’z Handmade sudah menggunakan kain dengan warna alami. Menurutnya, selain ramah lingkungan, ini juga yang membedakan produknya dengan produk lainnya.

“Akhirnya ini menjadi semacam ciri khas, yang tak semua produk memilikinya. Dan ternyata semakin banyak orang yang berminat,” ujarnya dengan bangga.

Benar. Dalam dunia bisnis, cara berpikir seperti itu seolah memang harus dimiliki setiap pelaku usaha. Berbeda dari yang lain adalah nilai tambah suatu produk. Buat apa memproduksi barang tanpa memiliki keunggulan, keistimewaan, dan keotentikan. Bukankah barang yang sama dan serupa akan lebih sulit dipasarkan?

Perempuan kelahiran 14 Februari 1977 itu, kini dikenal sebagai seorang desainer dan pengusaha. Ia mendirikan Din’z Handmade tepat di tanggal kelahirannya, semacam hadiah ulang tahunnya yang ke-42, setahun sebelum pandemi Covid-19 meluluh-lantahkan dunia. Logo dan merek Din’z Handmade sudah memiliki hak paten dan berbadan usaha.

Selama mendirikan usaha, Dina Widiawan pernah menjadi semifinalis Femina Woman Enterpreneur 2021. Di tahun yang sama, ia juga menempati podium semifinalis Program Widuri Bali-Nusra Kemenparekraft. Dan pada 2023, Dina mendapat dua penghargaan sekaligus, yakni UMKM Bank Indonesia (BI) terbaik di bidang kriya dan UMKM Unggulan Buleleng dalam kegiatan Gema UMKM Buleleng. Dan terkait ngajar-mengajar, sudah dua tahun Dina Widiawan mengikuti program merdeka belajar. Ia mengajar di Universitas Udayana dan Universitas Pendidikan Ganesha, Bali.

***

Pada tahun 2000, setelah menamatkan pendidikan S-1 di STIE Malangkucecwara di Malang, Jawa Timur, Dina bekerja di Bank Central Asia (BCA) sebagai seorang akuntan. Hingga 2015, ia memutuskan berhenti bekerja di BCA dan merintis usaha pembuatan abon ikan asin (abon sudang), sudang lepet, dan sambal embe dalam kemasan.

Usaha abonnya ini sebenarnya cukup lanjar, bahkan sudah menembus pasar luar kota seperti Jakarta, Surabaya, dll, dan luar negeri dari  Asia Tenggara (Malaysia), Australia, Eropa (Inggris, Kanada, Belgia), sampai Amerika. Namun, pada 2019, Dina terpaksa menghentikannya sebab kelangkaan bahan baku. Bahan berupa ikan asin itu ia datangkan dari Kangean, Madura.

Setahun sebelum menutup usaha abonnya, Dina mulai tertarik dengan keterampilan baru: menjahit. Ketertarikannya dengan mesin jahit terpantik saat ia berkunjung ke seorang teman di Desa Pemaron. Kebetulan, saat itu, di sana sedang berlangsung pelatihan menjahit untuk ibu-ibu PKK. Ia tak ikut pelatihan, hanya melihat dan memperhatikan. Lalu terbit ketertarikan. Dari sana lah, jika bisa dibilang begitu, Dina mulai meletakkan bata pertama dalam membangun usaha kerajinan tangannya.

Tas kain pewarna alami produksi Din’z Handmade / Foto: Dok. Din’z Handmade

Dina sosok perempuan paruh baya yang tangguh, ulet, konsisten, dan haus pengetahuan. Pepatah “mengukir di atas air” seperti tak berlaku padanya. Nyatanya, meski belajar menjahit di masa dewasa, ia tetap dapat mendirikan usaha dan mengembangkannya.

“Awalnya saya mencoba membuat tas-tas kecil, biasanya dipakai untuk menyimpan perhiasan. Itu saya buat dari kain-kain perca yang sudah tidak terpakai,” katanya.

Mengenai pemanfaatan kain perca, ia merasa prihatin saat berkunjung ke sentra tenun endek di Desa Kalianget. Di sana, katanya, potongan-potongan kain sisa dibuang begitu saja. “Kadang dipakai lap juga,” sambungnya. Meski merasa sayang, saat itu ia belum bisa berbuat apa-apa. Namun, setelah bisa menjahit, seperti mendapat wahyu, Dina memungut dan menjadikannya sebagai produk dengan nilai jual yang lumayan tinggi.

Pada awal pendirian usaha kerajinan tangannya, Dina sanggup mengerjakan semuanya sendiri. Dari mulai mendesain, menjahit, sampai memasarkannya—bahkan ia membangun jaringan usahanya sendiri. Tetapi, meski pemasaran masih ditanggani sendiri, sejak banyaknya pesanan, ia meminta empat orang perempuan untuk membantunya dalam hal produksi.

“Mereka membantu saya menjahit, bisa bekerja dari rumah,” tuturnya. Soal pembayarannya bagaimana? “Saya bayar per produk. Jadi semakin banyak mereka menjahit produk, semakin banyak pula mendapat imbalan,” jawabnya.

Din’z Handmade, sebagaimana telah disebutkan di atas, memproduksi dompet, tas, topi, dan aksesoris lain sesuai pesanan. Tetapi, dari semua produk yang telah disebutkan, produk berupa tas lah yang paling banyak dihasilkan. “Sebulan saya sendiri bisa memproduksi 50 pcs produk. Kalau dibantu bisa lebih dari itu,” tuturnya.

Pada tahun 2021, Din’z Handmade terpilih menjadi usaha mitra binaan Bank Indonesia (BI). Sejak tahun 2015,  sebagai Bank Sentral, BI memang berupaya memberikan kontribusi terbaik untuk meningkatkan peran UMKM dalam perekonomian. Pengembangan UMKM yang dilakukan diselaraskan dengan bidang tugas Bank Indonesia dan sejalan dengan visi, misi, dan program strategisnya.

Sehingga, program tersebut difokuskan untuk mendukung upaya pengendalian inflasi, khususnya inflasi volatile food, yang dilakukan dari sisi suplai; mendorong UMKM potensi ekspor dan pendukung pariwisata untuk mendukung upaya penurunan defisit transaksi berjalan; dan meningkatkan akses keuangan UMKM untuk mendukung stabilitas sistem keuangan.​

Topi kain pewarna alami produksi Din’z Handmade / Foto: Dok. Din’z Handmade

“BI lebih banyak memberikan saya pelatihan, akses pemasaran seperti pameran, akses bahan baku, peralatan, dan sebagainya. Kami juga diberi akses permodalan ke bank-bank, dan itu sangat membantu,” ujar Dina.

Bermacam-macam bentuk tas dengan motif yang sederhana telah diproduksi dan dipasarkan. Pembelinya datang dari kalangan kelas menengah ke atas. Dari pengusaha, instansi negara, artis, sampai orang-orang mancanegara.

Selain memasarkan produknya di berbagai pameran, selama ini Dina juga menawarkannya secara online di media sosial, seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Ia mendaftarkan Din’z Handmade di marketplace, seperti Shopee, Tokopedia, Blibli, tapi tak cukup menarik banyak pembeli. Dina juga belum terpikirkan untuk membangun toko offline, fisik. Sebab, menurutnya, mendirikan toko di Buleleng hanya membuang-buang biaya saja.

“Siapa yang bakal masuk kalau bikin toko di Buleleng,” katanya sembari tertawa. Meski begitu, pada 2022-2023, ia pernah mencoba konsinyasi dengan pihak pusat perbelanjaan di Jakarta, Sarinah, untuk memasarkan produknya.

Karena menjadi tenaga pengajar di Pendopo Alam Sutera, Dina juga menitipkan barangnya di sana. Selain itu, beberapa produk ia titipkan di salah satu toko di New York dan Australia. “Yang di Sarinah tidak lanjut, karena keterbatasan modal,” ujarnya. “Jadi, selama ini, selain pameran, media sosial sangat efektif,” sambungnya.

***

Namun, meski demikian, selama menjalankan usaha, kendala pasti ada. Dina mengatakan, selama ini, selain permodalan, kendala yang paling dirasakannya adalah SDM, bahan baku, dan stereotip yang melekat pada produk lokal.

“Di Buleleng belum ada yang menyediakan bahan baku dan printilan-printilan lainnya. Tapi beruntung ada online shop seperti Shopee, jadi saya bisa mencari bahan baku di sana, daripada harus jalan ke Denpasar, macet-macetan,” terangnya sambari tertawa.

Selain itu, aspek sumber daya manusia juga masih menjadi kendala. Ia merasa masih belum sepenuhnya menguasai bahasa asing dan kesulitan untuk membuat semacam proposal penawaran yang bagus.

“Pernah suatu ketika, saat bekerjasama dengan BNI, produk saya dipamerkan di Korea dan Afrika Selatan. Saat itu saya diberi banyak akses ke pihak yang tertarik dengan barang saya, tapi karena tidak bisa bikin penawaran yang bagus, jadinya tidak terjangkau,” katanya serius.

Stereotip atau stigma yang melekat pada produk lokal ternyata juga menjadi tantangan tersendiri. Masih banyak orang yang menganggap bahwa merek lokal tidak lebih bagus daripada produk luar negeri. Anggapan seperti itu biasanya berimbas kepada harga barang. Barang yang diproduksi di dalam negeri, oleh orang pribumi, seolah tak pantas diberi harga tinggi. Ungkapan “barang dalam negeri aja harganya kok mahal sekali” masih dapat kita temukan di mana-mana.

Padahal, bagi Dina, anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, banyak produk lokal yang tak kalah berkualitas dengan produk orang bule. “Tapi kalau produk orang bule, semahal apa pun, dimaklumi, tidak apa-apa. Coba bayangkan, kalau di pasar biasa kita menyebutnya daster, tapi kalau di Bamboo Blonde, barang yang sama, kain yang sama, disebutnya apa, dress. Harganya juga jelas beda,” ujarnya, untuk memberikan ilustrasi kesenjangan antara produk lokal dan luar negeri.

Tas laptop kain pewarna alami produksi Din’z Handmade / Foto: Dok. Din’z Handmade

Terlepas dari itu semua, Dina juga merasa bahwa di Bali Utara, sebenarnya ekosistem bisnis seperti yang digelutinya belum sepenuhnya terbentuk. Pemerintah Kabupaten Buleleng belum sepenuhnya mendukung produk-produk yang ia maupun UMKM lainnya hasilkan. Infrastruktur untuk mengenalkan produk-produk hasil karya orang-orang Buleleng sepertinya belum terpikirkan—untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali.

Tetapi, itu semua tidak menyurutkan semangat Dina Widiawan dalam berusaha mengembangkan Din’z Handmade—usaha yang telah ia perjuangkan dan besarkan. Ia berharap, dua sampai tiga tahun ke depan, Din’z Handmade lebih banyak dikenal dan menjangkau pasar lebih luas. Selain itu, ia juga berharap lebih banyak orang yang menggunakan produk ramah lingkungannya. Sebab, ia merasa, kerusakan lingkungan akibat industrialisasi—khususnya industri sandang—sudah tampak kentara di depan mata.

“Apa yang saya lakukan, meskipun dalam skala kecil, saya niatkan untuk menjaga alam, lingkungan. Jadi, saya berharap, meskipun tidak menggunakan produk saya, orang-orang mulai sadar untuk beralih ke produk ramah lingkungan,” tuturnya.

Siang semakin panas. Tapi teras rumah Din’z Handmade yang terletak di Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, itu tetap saja asri. Angin berkesiur. Dina Widiawan mematung, menatap ke depan. Barangkali ia sedang mereka-reka, apa yang akan terjadi pada usahanya di tahun-tahun yang akan datang. Sebagaimana ia berharap, semoga itu sesuatu yang diinginkan, bukan malah sebaliknya.[T]

Reporter: Jaswanto
Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Sarpi, Batik Gedhog, dan Tradisi Masyarakat Gaji
Wayan Antari, Gerip Maurip, dan Makin Kencanglah Angin Sastra dari Bangli
Carma Mira dan Gerip Maurip yang Menumbuhkan Semangat Baru dalam Menulis Sastra
Tags: balibulelengSingarajatokohUMKMusaha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jegeg Bagus Jembrana Ajak Anak Muda Menjadi Master Public Speaking

Next Post

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails
Next Post
Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

Alih Fungsi Sawah Tidak Terkendali: Subak Hilang, Wisatawan Tidak akan Datang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?
Esai

Kebaya Hari Ini, Masihkah Menutup Sesuai Adabnya?

KEMERIAHAN saya sebagai generasi milenial dalam berpakaian pada masa kanak kanak sangat jauh berbeda dengan gen alpha dan gen beta...

by Pande Susan
July 24, 2026
Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem
Pendidikan

Lewat Digitalisasi dan “Green Tourism”, Mahasiswa Politeknik Negeri Bali Menghidupkan Potensi Desa Muncan, Karangasem

BANYAK program pengabdian masyarakat berakhir sebagai seremoni. Datang, memberi pelatihan, lalu pulang. Namun, program Bina Desa yang digagas Badan Eksekutif...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni
Pameran

Kesetiaan Itu Mahal ——Ketika Gotawa Menafsirkan “Satya” Lewat Pameran Tunggal di Toke, Toko Kopi & Seni

DI tengah denting musik elektronik yang berpadu dengan aroma dupa dan canang, Gotawa berdiri di depan kanvas. Tangannya bergerak, menumpahkan...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Siap-siap ke Lovina Festival 2026
Panggung

Siap-siap ke Lovina Festival 2026

"Hari ini kesiapan sudah seratus persen," ucap Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra membuka jumpa pers di Spice Dive Beach Club,...

by Komang Puja Savitri
July 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Ketika Negara Kehilangan Hak untuk Dipercaya

BEBERAPA waktu terakhir, publik menyaksikan pemberitaan mengenai penyitaan barang bukti berupa emas dan uang tunai dalam jumlah yang sangat besar...

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 24, 2026
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital
Esai

Sejak Kapan Pemerintah Mengurus Orientasi Seksual Warganya?

Salah satu indikator paling nyata dari kemunduran tata kelola pemerintahan adalah ketika negara lebih disibukkan mengatur moralitas di ruang privat...

by Surfian Rahmat AP
July 24, 2026
Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung
Gaya

Instalasi Panel Surya dan Sertifikasi Green Building: Panduan untuk Pemilik Gedung

INSTALASI panel surya kini menjadi salah satu strategi yang semakin dipertimbangkan untuk mengendalikan biaya energi, sekaligus memenuhi target keberlanjutan. Saat...

by tatkala
July 24, 2026
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis
Khas

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.
Ulas Rupa

Semesta di Dalam Tanah Liat: Membaca Karya-Karya Keramik Dr. Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si.

BARANGKALI kita terlalu sering memandang alam sebagai sesuatu yang berada di luar diri. Gunung adalah bentang yang dikunjungi ketika musim...

by Angga Wijaya
July 24, 2026
Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali
Khas

Selera, Kualitas, dan Masa Depan Musik Pop Bali

“SATU yang tidak bisa dilakukan oleh AI adalah sentuhan nurani.” Kalimat itu diucapkan oleh I Made Adnyana di tengah diskusi...

by Dede Putra Wiguna
July 24, 2026
Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu
Ulas Rupa

Musikal Visual Karya Wayan Sujana Suklu

Pameran Yogya Annual Art ke-11 yang mengambil tema Direction (Arah) digelar di Bale Banjar Sangkring, Nitiprayan No. 88, Ngestiharjo, Kasihan,...

by Hartanto
July 24, 2026
Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026
Panggung

Bunyi Mata Ugra, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Panggung Festival Seni Bali Jani VIII 2026

PERTIKAIAN dan peperangan kerap melahirkan penderitaan, kebencian, dendam, serta luka yang membekas dalam jiwa. Namun, di balik kehancuran itu selalu...

by Nyoman Budarsana
July 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co