2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Budayasa, Seniman Ukir Pasir Hitam dari Desa Sudaji

Gede Dedy Arya Sandy by Gede Dedy Arya Sandy
February 1, 2024
in Khas
Made Budayasa, Seniman Ukir Pasir Hitam dari Desa Sudaji

Made Budayasa

INI cerita tentang seorang seniman ukir pasir hitam dari Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, tepatnya di Banjar Ceblong.

Desa Sudaji adalah sebuah desa wisata yang sedang berkembang.  Desa Sudaji ditetapkan sebagai desa wisata berdasarkan Keputusan Bupati Buleleng Nomor 430/405/HK/2017, tentang desa wisata Kabupaten Buleleng  dan telah mendapatkan prioritas pengembangan dari pihak Kementerian Pariwisata Indonesia

Seniman ukir itu adalah Made Budayasa. Ia laki laki berusia 30 tahun ini adalah seorang seniman ukir pasir hitam yang sudah menekuni seni ukir pasir hitam sejak tamat sekolah dasar. Setamat SD ia mulai belajar mengukir bersama pamannya, Ketut Susana.

Proses belajarnya terjun langsung dalam pekerjaan mengukir.Pertama-tama  ia menjadi pengayah saat ikut bersama pamannya menggarap ukiran sanggah (tempat suci keluarga) di Kabupaten Gianyar. Pengayah adalah orang yang melayani si pengukir, misalnya membawakan adonan pasir. Dari pengayah ia kemudian jadi seniman ukir atau pengukir.

Tapi jangan dikira ia bisa langsung begitu saja, dari status pengayah menjadi seniman atau tukang ukir. Prosesnya lama, perlahan dan tentu saja tidak gampang.

Bagian-bagian sanggah dengan ukiran pasir hitam siap dikirim ke pemesan | Foto: Dedy

Made Budayasa mengatakan, selama ikut bersama pamannya ia tak bisa dengan mudah langsung bisa belajar. Sebab kedisiplinan pamannya pada waktu bekerja itu cukup keras. Kalau jadi pengayah, harus disiplin pada waktu agar pekerjaan tidak molor. Sehingga ia tak sempat mengambil pengutik (alat untuk mengukir) saat sedang bekerja.

Ia kemudian memilik ide untuk belajar setelah jam kerja selesai sekitar jam 5 sore. Setelah beres-beres dan ketika teman teman serta pamannya pergi istirahat, ia tidak langsung ikut istirahat. Ia justru bergegas untuk membuat coran (adonan pasir dan semen) untuk dipakai belajar membuat ukiran. Ia melakukanya kadang sampai malam.

Akhirnya, setelah tiga tahun ikut pamannya sambil juga belajar mengukir di sela sela jam istirahat, usaha kerasnya membuahkan hasil. Ia pun diakui sebagai tukang ukir, bukan lagi sebagai pengayah, sebab ia sudah mampu mengerjakan berbagai macam ukiran.  

Akhir tahun 2013 ia pun memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri. Ia mengontrak sebidang tanah di Desa Baktiseraga di wilayah dekat Kota Singaraja, untuk dijadikan tempat menjual sanggah ukiran pasir hitam. Tempat itu juga sekaligus dijadikan tempat untuk mencetak berbagai bentuk yang menjadi bagian-bagian untuk sanggah.

Setelah 7 tahun di Desa Baktiseraga ia kemudian pindah, karena oleh pemiliknya tempat itu  dijadikan ruko. Akhirnya tahun 2019 ia pindah ke Desa Anturan di pinggir Jalan Raya Singaraja-Lovina, tepatnya di pertigaan menuju Pantai Celuk Agung.

Sudaji, Desa Seniman Ukir Pasir Hitam

Ada hal yang menarik perhatian ketika berbincang cukup lama dengan Made Budayasa. Ternyata, penjual-penjual sanggah cetakan yang sering dijumpai di tepi-tepi jalan raya di Buleleng atau di tempat lain di Bali, kebanyakan berasal dari Desa Sudaji.

Proses pengukiran dengan pasir hitam dan hasilnya | Foto: Dedy

Menurut Budayasa, di sepanjang jalan di Buleleng dari timur hingga barat, dari daerah Penarukan sampai Lovina, bahkan sampi terus ke barat, para penjual sanggah ukir pasir hitam itu 90 persen berasal dari Desa Sudaji. Bahkan dua saudara kandung Budayasa juga menjadi penjual sanggah di sekitaran Anturan. Juga paman serta sepupunya,  serta kerabat kerabatnya dari Desa Sudaji menjual sanggah ukiran pasir hitam juga di daerah lain di Bali, bahkan ada yang di Gianyar.

Jika dihitung, kira-kira berapa warga Desa Sudaji menjadi seniman ukir pasir hitam?

Made Budayasa mengatakan ada sekitar 200 orang.  Walau tidak semuanya adalah tukang ukir pasir hitam, karena ada juga yang menjadi pengayah. Ada juga sebagai tukang ukir kayu dan ada juga yang sebagai tukang pasang duk (ijuk) untuk atap sanggah, atap meru, atap piasan dan bangunan suci lain.

Sebagaimana dituturkan Made Budayasa, ukiran pasir hitam di Desa Sudaji pertama kali diperkenalkan oleh seniman ukir pasir hitam yang sudah seniaor yang bernama Pak Toko.

Kini di Desa Sudaji sudah ada kelompok perajin sanggah dan beberapa orang telah bergabung di klompok itu. Namun Budayasa sendiri mengaku belum bisa bergabung sebab ia masih ingin bekerja sendiri.

“Mungkin lain kali saya bergabung,” katanya.

Selama menjadi pengukir sekaligus penjual sanggah ukir pasir hitam di Singaraja, Budayasa memiliki pelangganya dari banyak tempat. Ada dari seputaran Buleleng, bahkan ada dari Gerokgak, juga Tabanan, Pupuan dan Nusa Dua.

Proses pengerjaan ukiran pasir hitam | Foto: Dedy

Apa ada ciri khas tertentu tentang ukiran dari Desa Sudaji atau sama saja dengan ukiran-ukiran dari desa lain?

Secara umum menurut Budayasa, jenis ukiranya sama saja, namun ada beberapa hal yang membedakan, seperti lelengisan. Orang-orang menyebut lelengisan sudaji itu beda dengan lelengisan dari pengukir desa lain. “Kalau orang-orang yang sudah paham tentang ukiran pasir hitam, akan dengan sangat mudah mengenali lelengisan sudaji,” kata Made Budayasa.

Budayasa mejelaskan sambil menunjukan beberapa contoh dari ukiran lelengisan sudaji yang katanya dapat dibedakan dari corak-corak pada kupakan kupakan ukirannya.

Dalam bekerja, Made Budayasa mengajak empat orang tukang dan empat orang pengayah. Mereka semua bukan hanya dari Desa Sudaji saja, ada juga dari Desa Padangbulia dan Desa Anturan. Ada juga dari Desa Selat Gambuh. Jadi, totalnya tim kerja Budayasa sebanyak delapan orang. Untuk ukiran kayu, Budayasa bekerja sama dengan temannya dari Desa Jinengdalem dan dari Desa Sudaji.

Salah satu bentuk ukiran pasir hitam pada bagian sanggah (pelinggih) di Bali | Foto: Dedy

Apa saja kendalanya dalam menjalakan bisnis menjual sanggah ukir pasir hitam?

Sambil tertawa Made Budayasa mengatakan kendala terbesarnya adalah faktor dewasa (hari dan waktu yang dianggap mempunyai pengaruh baik ataupun buruknya hari di Bali). Pada saat hari-hari menjelang buncal balung atau nguncal balung, sudah dapat dipastikan orang-orang tidak akan ada yang memebeli sanggah sebab pada hari-hari itu dianggap kurang bagus untuk melaksanakn upacara keagamaan seperti melaspas (upacara peresmian bangunan).

Untuk masalah harga, apakah ada kesepakatan antar sesama penjual sanggah khususnya dengan penjual dari Desa Sudaji?

Untuk masalah harga, kata Made Budayasa, meski tidak ada kesepakatan resmi. Semua harga sama, di manapun tempat penjualnya, untuk harga tetap sama. Paling-paling, jika ada harga yang berbeda, itu biasanya disebabkan oleh permintaan khusus dari pemesan, misalnya minta kualitas lebih bagus atau minta ukiran tertentu yang tingkat kesulitannya lebih besar dan waktu pengerjaannya lebih lama.

Lalu, harapan ke depan terkait ukiran pasir hitam ini apa? “Semoga tidak lagi terjadi pandemi covid lagi,” kata Budayasasambil tertawa yang juga sebagai pengakhir perbincangan kami sore itu di gudangnya di Desa Anturan. [T]   

Reporter: Gede Dedy Arya Sandy
Penulis: Gede Dedy Arya Sandy
Editor: Adnyana Ole

 

Mengenal Unik dan Kerasnya Silat Depok dari Gede Regeg di Desa Padangbulia
Jero Dalang Wijana, Dalang Genjek dan Seniman Serba Bisa dari Padang Bulia
Tara Listiawan, Kesetiaan Membina Anak-anak Menari di Desa Padang Bulia
Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam
Tags: bulelengDesa SudajiSeni Ukirseni ukir pasir hitam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anak-Anak Desa Kedis, Berkesenian Sejak Dalam Kandungan

Next Post

Sandya Gita Smaradahana, Sesolahan KOKAR Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2024

Gede Dedy Arya Sandy

Gede Dedy Arya Sandy

Kerap dijuluki "Orang Gila dari Utara". Pelukis dan seniman tato. Tinggal di desanya di Padangbulia sembali membuka studio melukis sekaligus studio tato. Jika datang ke studionya, ia banyak punya cerita menarik bukan hanya soal tato, tapi juga soal kehidupan

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Sandya Gita Smaradahana, Sesolahan KOKAR Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2024

Sandya Gita Smaradahana, Sesolahan KOKAR Bali pada Pembukaan Bulan Bahasa Bali 2024

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co