24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
January 30, 2024
in Opini
Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

Wayang Bali Sang Kresna atau Sri Krishna

SETELAH lama vakum dalam menulis Opini di media masa, tiba-tiba seorang teman dari jauh menyapa dan bertanya. Pertanyaannya muncul, kata dia, setelah dia membaca tulisan di tatkala.co yang berjudul “Waspada! Sosok Sangkuni Menjelang Pesta Demokrasi 2024”

Pertanyaannya sederhana, “Dengan gegap gempitanya kemampuan politik Sangkuni, mengapa ia bisa gagal mengantarkan keponakan tersayangnya Duryodhana menjadi Raja Hastinapura?

“Di atas langit, masih ada langit!” Itulah salah satu kata pepatah yang menunjukkan bahwa seberapa hebat seseorang, akan masih ada orang lain yang lebih hebat atau berada di atasnya. Begitu juga dalam kancah perpolitikan. Seberapa besar kegemilangan seseorang, bisa saja jatuh di tangan orang yang lebih cemerlang. Terlebih kegemilangan tersebut, diarahkan dengan jalan yang tidak benar dan malah membuat orang lain sengsara.

Hal itulah yang terjadi pada Sangkuni. Counter atau penangkal sosok Sangkuni yang hebat dalam berpolitik itu bernama Sri Krishna.

Siapa itu sosok Sri Krishna? Jika mengacu kepada cerita agung Mahabharata, Sri Krishna adalah putra raja Basudewa dari kerajaan Madhura, dan setelah menumbangkan kekuasaan pamannya yang kejam bernama Kanza, ia mendirikan dan menjadi raja di sebuah kerajaan besar dan megah bernama Dwaraka.

Kemudian pertanyaannya, seberapa jauh sepak terjang Sri Krishna sehingga dipandang sebagai counter dari Sangkuni?

Jika ditarik dari beberapa penggalan cerita Mahabharata (Titib, 2008: 363-364), berikut adalah sepak terjang Sri Krishna yang bisa dijadikan pedoman untuk meng-counter sosok Sangkuni di kontestasi politik tahun 2024.

Sang Penghukum Penebar Fitnah ‘Sisupala’

Sisupala merupakan seorang raja yang memiliki rasa iri hati yang sangat besar. Termasuk kepada Sri Krishna sebagai sosok seorang raja yang besar. Hal ini tidak lepas dari didikan Jarasanda, Raja Magadha, yang membenci sosok tokoh atau pemimpin suci seperti Sri Krishna. Terlebih ketika mengetahui Jarasanda terbunuh di tangan Bima akibat ikut campurnya Sri Krishna, membuat kebencian Sisupala tak terelakkan.

Sisupala pada akhirnya mulai menebar fitnah dan hinaan kepada Sri Krishna. Fitnah ini juga didorong oleh Sakuni untuk menyerang Yudistira, Bhisma, dan tokoh pemimpin agung Hastinapura lainnya. Puncaknya terjadi pada saat Upacara Rajasuya di Kerajaann Indraprastha yang diadakan oleh Pandawa.

Menimbang fitnah dan hinaan Sisupala sudah terlewat batas dan melebihi 100 kali, Sri Krishna atas izin raja-raja yang hadir pada akhirnya menghukum Sisupala dengan menebas kepalanya menggunakan Cakra Sudarsananya.

Jika dikaitkan dengan cerita tersebut, Sisupala dan Sangkuni di suasana menjelang kontestasi politik tahun 2024 adalah sosok yang hampir sama. Mereka sama-sama memanfaatkan fitnah, berita bohong, dan kampanye hitam untuk menjatuhkan lawannya.

Di sinilah peran Sri Krishna sebagai pihak yang berani menghabisi orang-orang kalut seperti itu. Ketegasan dan keberanian inilah yang menjadi alarm peringatan bagi orang-orang semacam Sangkuni dan Sisupala agar berpikir dua kali sebelum melancarkan aksi liciknya.

Netral di Tengah Kontestasi, Namun Tetap Berpihak pada Kebenaran

Sri Krishna adalah sepupu dari Pandawa dan Kurawa. Meskipun berada di tengah sepupu yang tengah berkontestasi, ia tetap menampilkan karakter yang netral dan tidak memihak kepada salah satu pihak sepupunya. Namun karena adanya Sangkuni di pihak Kurawa yang senang memancing di air keruh, membuat Sri Krishna beberapa kali tampil membantu pihak Pandawa yang berada di sisi kebenaran.

Tidak ayal, tindakan Sri Krishna beberapa kali membuat Sangkuni pusing tujuh keliling karena rencananya gagal untuk menjatuhkan pihak Pandawa.

Jika dihubungkan dengan karakter Sri Krishna tersebut, Sri Krishna di kondisi pesta demokrasi 2024 mungkin sosok yang ide cerdiknya hampir sama dengan Sangkuni. Bedanya ia mengandalkan kecerdikannya untuk kebenaran, serta mengarahkan kecerdasannya untuk keharmonisan. 

Sri Krishna sebagai pihak ketiga dalam kontestasi bersikap netral, tetapi tetap setia berada di pihak yang benar jika membutuhkan pertolongan. Sikap inilah yang terkadang menyulitkan orang-orang seperti Sangkuni untuk mengadu domba.

Juru Damai Pencegah Perang Bharata

Setelah mendengar kabar bahwa Perang Bharata yang melibatkan kedua sepupunya, Sri Krishna tidak tinggal diam. Ia menjadi inisiator penengah dan juru damai diantara kedua belah pihak yang akan berperang.

Sri Krishna mendatangi kedua kubu, baik pihak Pandawa maupun Kurawa. Dari sinilah, Sri Krishna mengetahui bahwa, pihak Pandawa berkenan untuk tidak berperang jika hak-hak mereka setelah menjalani masa pengasingan dikembalikan. Sementara pihak Kurawa yang bersikeras tidak mau mengembalikan hak-hak Pandawa dan bersedia jika terjadi perang sekalipun. Hal itu terjadi tentu berkat kelicikan Sangkuni yang tetap mendesak pihak Kurawa untuk mempertahankan istana dan kekayaan yang semestinya milik Pandawa.

Jika dihubungkan dengan sikap Sri Krishna tersebut, sesungguhnya bisa menjadi suri tauladan untuk pemilih di masa Pemilu. Berusaha tetap menjadi pihak penengah, dan berusaha mendamaikan pihak yang bertikai sangat dibutuhkan di suasana panas seperti pesta demokrasi.

Sikap inilah yang akan membawa pesta demokrasi pada esensi utamanya yakni kemenangan bersama. Bukan pesta ambisi milik Sangkuni yang haus akan kekuasaan dan senang akan perselisihan.

Counter dari Segala Kelicikan Sangkuni

Perang Bharata adalah puncak dari kelicikan Sangkuni yang haus akan ambisi kekuasaan. Bahkan di masa-masa perang, kelicikan Sangkuni mengarah kepada tindakan-tindakan curang yang berusaha menghabisi dan mengalahkan pihak Pandawa. Mulai dari penyerangan di malam hari yang menyalahi aturan, menyembunyikan Jayadrata, serta tindakan licik lainnya.

Namun sebagai seorang kusir Arjuna yang berperan sebagai penasihat, semua ide licik Sangkuni dibantahkan oleh Sri Krishna. Untuk menghadapi pasukan Kurawa yang menyerang pada malam hari, Sri Krishna meminta Bima untuk memanggil anaknya yang berkekuatan raksasa yakni Gatot Kaca sebagai tambahan kekuatan.

Sri Krishna juga berperan dalam menutup matahari di saat senja menggunakan Cakra Sudarsana-Nya untuk mengelabui Sangkuni dan Jayadrata. Tidak ayal, segala usaha licik dari Sangkuni sebagai juru perang Kurawa menjadi sia-sia di tengah kecerdasan Sri Krishna.

Jika dihubungkan dengan situasi menjelang pesta demokrasi 2024, Sangkuni adalah sosok yang memiliki ide yang sangat jahat. Namun segala niat jahat tersebut, mampu tercounter oleh kecerdasan dan kebijaksanaan yang disimbolkan oleh Sri Krishna.

Hal ini tentu bisa menjadi pedoman bagi rakyat Indonesia yang akan menentukan pilihannya. Jangan sampai terbuai oleh ambisi kekuasaan dan kelicikan, namun tetap setia mengarahkan kecerdasan untuk kebenaran dan kebijaksanaan.

Melalui sepak terjang Sri Krishna di dalam kisah Mahabharata tersebut, dapat dijadikan pedoman untuk menghadapi kontestasi politik di tahun 2024 ini. Sikap Sri Krishna yang berani, tenang, netral, dan bijaksana menghadapi persoalan menjadi obat mujarab dari bahayanya kelicikan Sangkuni.

Bahkan, sosok seagung Sangkuni dan Sisupala yang terkenal akan kelicikannya mampu ditepis oleh Sri Krishna dengan kecerdasan yang lebih licik. Jadi ini menjadi penegas, bahwa memang benar counter politik Sangkuni itu bernama Sri Krishna! [T]

Sumber Referensi:

Titib, I Made. 2008. Itihāsa Ramāyāna & Mahābhārata (Viracarita): Kajian Kritis Sumber Ajaran Hindu. Surabaya: Paramita.

Waspada! Sosok Sangkuni Menjelang Pesta Demokrasi 2024
Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita
Kisah Kehancuran Keluarga Sri Krishna dalam Kakawin Mausala Parwa
Tags: kisah pewayanganKresnapewayanganPolitikSangkuniSengkuniSri Krishna
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto

Next Post

Kelingo Family, Keliling Indonesia dengan Mobil Tenda

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kelingo Family, Keliling Indonesia dengan Mobil Tenda

Kelingo Family, Keliling Indonesia dengan Mobil Tenda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co