3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
January 30, 2024
in Khas
Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto

Penari perempuan Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

PADA era modern seperti saat ini, kesenian tari sepertinya sudah mengalami pergeseran nilai. Banyak tari di Bali yang dipentaskan hanya untuk memenuhi permintaan dunia pariwisata dan mengabaikan nilai-nilai yang dikandungnya. Namun, jangan khawatir, karena ternyata masih banyak desa-desa yang mempertahankan tari ciptaan leluhur agar sesuai dengan roh dan nilainya.

Seperti halnya di Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, salah satu Desa Bali Aga yang terletak di utara Pulau Bali. Desa ini masih tetap mempertahankan seni tari sesuai dengan nilainya. Apalagi, Desa Pedawa memiliki tari yang terbilang unik, yakni tari Jejumputan.

Tari Jejumputan adalah tari yang dipentaskan pada saat pujawali di Pura Sekaa Juragan atau pada saat ngusaba Nguja Binih di Desa Pedawa. Pura Sekaa Juragan adalah salah satu pura tua yang terletak di Dusun Insakan Desa Pedawa.

Penari laki-laki Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Keterangan yang dihimpun dari pengelingsir pengempon Pura Sekaa Juragan menyebutkan, dahulu kala para leluhur di Desa Pedawa mempunyai kebiasaan berburu (meboros).

Pada suatu ketika saat pergi berburu, warga tidak satupun  menemukan binatang buruan. Karena merasa lelah, para pemburu beristirahat sambil berharap menemukan binatang buruan.

Pada saat itulah para pemburu menemukan batu berbentuk lonjong yang bentuknya bagus sekali. Pada saat menemukan batu itu, para pemburu yang sedang beristirahat itu juga mendengar bisikan atau pawisik yang terdengar samar-samar supaya di tempat ditemukannya batu itu dibangun pelinggih Ida Bhetara Sri.

Karena mendapatkan pawisik seperti itu, warga pemburu itu kemudian membangun pelinggih Ida Bhetara Sri, yang dibangun di samping batu lonjong yang ditemukan pada saat berburu, dan diberi nama Pura Sekaa Juragan.

Seiring perkembangannya, Pura Sekaa Juragan juga disebut dengan Pura Pucak Sari yang berarti Pura yang terletak di pegunungan dan memuja Ida Bhetara Sri yang melambangkan Amertha (Amerthasari).

Pujawali di Pura Sekaa Juragan jatuh pada Purnama Sasih Kawulu. Tari Jejumputan yang dipentaskan pada saat pujawali itu memiliki keunikan dan nuansa sakral yang masih dipertahankan.

Tari Jejumputan ini ditarikan oleh anak-anak. Proses pemilihan penarinya dilakukan dengan cara yang tidak boleh sembarangan. Sebelumnya, calon penari yang dipilih terdiri dari pria dan wanita yang berusia kurang dari 10 tahun. Juga dilakukan pemilihan pemain suling yang dilakukan sebelum penek banten (hari H).

Para penari yang dipilih adalah keterwakilan keluarga (dadia) di Desa Pedawa yang berasal dari yos Tapakan Gunung Agung, Bukit Anyar, Labuan Aji dan juga penari yang dipilih di luar ketiga yos tersebut.

Proses pemilihan atau penjumputan para penari dan pemain suling ini dilakukandengan membawa pabuan yang berisi daun sirih (base), pinang, pamor, tembakau, gambir, dan pis bolong sebanyak 25.

Setelah para penari dan pemain suling dipilih (di-jumput), akan diadakan latihan yang lokasinya juga tidak boleh jauh dari keberadaan Pura Sekaa Juragan. Sore hari sebelum pementasan tari jejumputan ini, semua penari akan melakukan pembersihan diri di Kayuan Jeringo, tempat permandian yang lokasinya tidak jauh dari Pura Pucak Sari.

Setelah melalukan pembersihan diri, para penari Jejumputan akan dikenakan pakaian sakral peninggalan leluhur seperti Gegelungan untuk penari laki-laki, Belengker untuk penari perempuan, serta kamben yang dipadukan dengan kain rembang.        

Pada saat penek banten dan seluruh ritual persiapan pementasan selesai dilakukan, maka saat itulah tari Jejumputan sudah boleh dipentaskan. Pementasan dilakukan pada saat malam sampai dengan pagi hari yang diiringi alunan gamelan khas yang terdiri dari suling, ceng-ceng, kendang, dan juga kempul yang menghasilkan alunan suara yang sangat klasik.

Penari perempuan Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Tarian Jejumputan ini memiliki empat urutan jenis tarian yaitu pertama Aris-Arisan, Semar Pegulingan, Umang dan Merak Mengelo. Tetapi karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, jenis tarian Merak Mengelo tidak ditarikan.

Para penari Jejumputan akan dipisahkan antara barisan laki-laki dengan perempuan. Para penari laki-laki dan perempuan yang berada di barisan paling depan masing-masing akan membawa canang sari.

Formasi pada barisan depan merupakan penari yang berasal dari yos tapakan Gunung Agung, dan diikuti oleh para penari yang berasal dari yos lainnya. Tari Jejumputan ini diiringi oleh alunan intrumen yang klasik dan irama yang sangat khas dengan alunan melambat di bagian akhirnya.

Gambelan tari Jejumputan mempunyai beberapa nada saja, yang kemudian dipertebal dengan bunyi kempul sebagai wujud akhir sajian gamelan, lalu dimainkan berulang. Tak jarang instrumen gamelan pengiring tarian Jejumputan ini membuat haru para pendengarnya.

Pada saat menari, seluruh pemedek (warga yang sembahyang) yang menyaksikan tari Jejumputan ini akan dilarang untuk mengabadikan dengan foto dan juga video. Tetapi pengambilan foto dan vidio boleh dilakukan pada saat persiapan pementasan ataupun sesudah selesai tari dipentaskan.

Alasannya jelas karena pada saat pujawali sebelumnya terdapat bebawos, bahwa tidak boleh merekam ataupun mengambil foto pada saat tari Jumputan ditarikan.

Selain sarana banten pujawali terdapat juga banten yang dihaturkan khusus sebagai pengiring dari tarian Jejumputan. Ketika mamasuki pukul 00.00, saat inilah terdapat sedikit jeda bagi para penari yang boleh digunakan untuk beristirahat.

Pada saat jeda ini, Dane Balian serta para Permas akan melakukan matur piuning manyampaikan terimakasih karena telah diberikan keselamatan serta mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Ida Sesuhunan yang kelinggihang di Pura Sekaa Juragan karena telah diberikan merta sari yang cukup, telah diberikan oksigen, alam yang bersahabat, hasil pertanian yang melimpah, tidak ada bencana serta rasa syukur lainnya.

Setelah Dane Balian dan Permas selesai matur piuning yang juga diikuti oleh seluruh masyarakat yang hadir melakukan persembahyangan, tari Jejumputan akan kembali dipentaskan.

Pementasan tari jejumputan ini akan selesai apabila sudah terjadi daratan. Masyarakat Pedawa percaya bahwa daratan adalah turunnya (rauh) energi Sang Hyang Widhi yang masuk ke dalam tubuh manusia yang bersih atau suci dan memberikan pesan kepada umat manusia.

Makna dari pementasan tari jejumputan ini merupakan bentuk permohonan kepada Ida Sesuhunan yang melinggih di pura Sekaa Juragan agar memberikan kemakmuran bagi pertanian yang menjadi salah satu penghasilan ekonomi di Desa Pedawa. Memohon agar mendapat bibit yang unggul, terhindar dari hama dan bencana alam yang menyebabkan hasil pertanian menjadi gagal.

Ada juga persepsi yang meyakini bahwa tari Jejumputan ini bertujuan untuk menghibur atau persembahan kepada Bhetara-Bhetari yang berstana di Pura Sekaa Juragan yang selalu senantiasa melimpahkan kemakmuran untuk masyarakat Pedawa.

Penari laki-laki Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng, Bali | Foto: Teddy Setiadi

Tetapi intinya masyarakat meyakini pementasan tari jejumputan ini adalah sebagai konsep tentang warisan leluhur yang harus dijaga dan paham-paham pikiran yang semestinya tidak perlu diperdebatkan, baik itu tentang kesederhaan gambelan, kesederhanaan pakaian, cara pemilihan para penari, serta ritual yang seperti sudah memiliki pakemnya yang diwariskan oleh para leluhur Pedawa terdahulu.

Sebagai masyarakat Pedawa terutama generasi muda sangat perlu kiranya tetap melestarikan pementasan tari jejumputan sesuai dengan pakemnya, tetap menjaga komponen-komponen yang telah diwariskan oleh para leluhur, agar kesenian ini tetap lestari hingga generasi ke generasi.

Tidak hanya itu sebagai generasi muda juga perlu menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam tari Jejumputan ini, sehingga prosesi sakral mulai dari sebelum pementasan tari Jejumputan sampai akhir tetap dilaksanakan sesuai dengan pakem yang telah diwariskan sejak dari dulu. serta mempertahankan kesakralan tari Jejumputan di era gempuran pariwisata yang sangat masif ini. [T]   

BACA artikel lain tentang DESA PEDAWA

Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Tradisi Ngangkid: Upacara Penyucian Roh di Pedawa
“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri
Tags: bali agabulelengDesa Pedawakesenian balitari sakral
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Next Post

Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co