3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto

I Gede Teddy Setiadi by I Gede Teddy Setiadi
January 30, 2024
in Khas
Tari Sakral Jejumputan di Pura Sekaa Juragan, Desa Pedawa: Tidak Boleh Difoto

Penari perempuan Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

PADA era modern seperti saat ini, kesenian tari sepertinya sudah mengalami pergeseran nilai. Banyak tari di Bali yang dipentaskan hanya untuk memenuhi permintaan dunia pariwisata dan mengabaikan nilai-nilai yang dikandungnya. Namun, jangan khawatir, karena ternyata masih banyak desa-desa yang mempertahankan tari ciptaan leluhur agar sesuai dengan roh dan nilainya.

Seperti halnya di Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, salah satu Desa Bali Aga yang terletak di utara Pulau Bali. Desa ini masih tetap mempertahankan seni tari sesuai dengan nilainya. Apalagi, Desa Pedawa memiliki tari yang terbilang unik, yakni tari Jejumputan.

Tari Jejumputan adalah tari yang dipentaskan pada saat pujawali di Pura Sekaa Juragan atau pada saat ngusaba Nguja Binih di Desa Pedawa. Pura Sekaa Juragan adalah salah satu pura tua yang terletak di Dusun Insakan Desa Pedawa.

Penari laki-laki Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Keterangan yang dihimpun dari pengelingsir pengempon Pura Sekaa Juragan menyebutkan, dahulu kala para leluhur di Desa Pedawa mempunyai kebiasaan berburu (meboros).

Pada suatu ketika saat pergi berburu, warga tidak satupun  menemukan binatang buruan. Karena merasa lelah, para pemburu beristirahat sambil berharap menemukan binatang buruan.

Pada saat itulah para pemburu menemukan batu berbentuk lonjong yang bentuknya bagus sekali. Pada saat menemukan batu itu, para pemburu yang sedang beristirahat itu juga mendengar bisikan atau pawisik yang terdengar samar-samar supaya di tempat ditemukannya batu itu dibangun pelinggih Ida Bhetara Sri.

Karena mendapatkan pawisik seperti itu, warga pemburu itu kemudian membangun pelinggih Ida Bhetara Sri, yang dibangun di samping batu lonjong yang ditemukan pada saat berburu, dan diberi nama Pura Sekaa Juragan.

Seiring perkembangannya, Pura Sekaa Juragan juga disebut dengan Pura Pucak Sari yang berarti Pura yang terletak di pegunungan dan memuja Ida Bhetara Sri yang melambangkan Amertha (Amerthasari).

Pujawali di Pura Sekaa Juragan jatuh pada Purnama Sasih Kawulu. Tari Jejumputan yang dipentaskan pada saat pujawali itu memiliki keunikan dan nuansa sakral yang masih dipertahankan.

Tari Jejumputan ini ditarikan oleh anak-anak. Proses pemilihan penarinya dilakukan dengan cara yang tidak boleh sembarangan. Sebelumnya, calon penari yang dipilih terdiri dari pria dan wanita yang berusia kurang dari 10 tahun. Juga dilakukan pemilihan pemain suling yang dilakukan sebelum penek banten (hari H).

Para penari yang dipilih adalah keterwakilan keluarga (dadia) di Desa Pedawa yang berasal dari yos Tapakan Gunung Agung, Bukit Anyar, Labuan Aji dan juga penari yang dipilih di luar ketiga yos tersebut.

Proses pemilihan atau penjumputan para penari dan pemain suling ini dilakukandengan membawa pabuan yang berisi daun sirih (base), pinang, pamor, tembakau, gambir, dan pis bolong sebanyak 25.

Setelah para penari dan pemain suling dipilih (di-jumput), akan diadakan latihan yang lokasinya juga tidak boleh jauh dari keberadaan Pura Sekaa Juragan. Sore hari sebelum pementasan tari jejumputan ini, semua penari akan melakukan pembersihan diri di Kayuan Jeringo, tempat permandian yang lokasinya tidak jauh dari Pura Pucak Sari.

Setelah melalukan pembersihan diri, para penari Jejumputan akan dikenakan pakaian sakral peninggalan leluhur seperti Gegelungan untuk penari laki-laki, Belengker untuk penari perempuan, serta kamben yang dipadukan dengan kain rembang.        

Pada saat penek banten dan seluruh ritual persiapan pementasan selesai dilakukan, maka saat itulah tari Jejumputan sudah boleh dipentaskan. Pementasan dilakukan pada saat malam sampai dengan pagi hari yang diiringi alunan gamelan khas yang terdiri dari suling, ceng-ceng, kendang, dan juga kempul yang menghasilkan alunan suara yang sangat klasik.

Penari perempuan Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng | Foto: Teddy Setiadi

Tarian Jejumputan ini memiliki empat urutan jenis tarian yaitu pertama Aris-Arisan, Semar Pegulingan, Umang dan Merak Mengelo. Tetapi karena memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, jenis tarian Merak Mengelo tidak ditarikan.

Para penari Jejumputan akan dipisahkan antara barisan laki-laki dengan perempuan. Para penari laki-laki dan perempuan yang berada di barisan paling depan masing-masing akan membawa canang sari.

Formasi pada barisan depan merupakan penari yang berasal dari yos tapakan Gunung Agung, dan diikuti oleh para penari yang berasal dari yos lainnya. Tari Jejumputan ini diiringi oleh alunan intrumen yang klasik dan irama yang sangat khas dengan alunan melambat di bagian akhirnya.

Gambelan tari Jejumputan mempunyai beberapa nada saja, yang kemudian dipertebal dengan bunyi kempul sebagai wujud akhir sajian gamelan, lalu dimainkan berulang. Tak jarang instrumen gamelan pengiring tarian Jejumputan ini membuat haru para pendengarnya.

Pada saat menari, seluruh pemedek (warga yang sembahyang) yang menyaksikan tari Jejumputan ini akan dilarang untuk mengabadikan dengan foto dan juga video. Tetapi pengambilan foto dan vidio boleh dilakukan pada saat persiapan pementasan ataupun sesudah selesai tari dipentaskan.

Alasannya jelas karena pada saat pujawali sebelumnya terdapat bebawos, bahwa tidak boleh merekam ataupun mengambil foto pada saat tari Jumputan ditarikan.

Selain sarana banten pujawali terdapat juga banten yang dihaturkan khusus sebagai pengiring dari tarian Jejumputan. Ketika mamasuki pukul 00.00, saat inilah terdapat sedikit jeda bagi para penari yang boleh digunakan untuk beristirahat.

Pada saat jeda ini, Dane Balian serta para Permas akan melakukan matur piuning manyampaikan terimakasih karena telah diberikan keselamatan serta mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Ida Sesuhunan yang kelinggihang di Pura Sekaa Juragan karena telah diberikan merta sari yang cukup, telah diberikan oksigen, alam yang bersahabat, hasil pertanian yang melimpah, tidak ada bencana serta rasa syukur lainnya.

Setelah Dane Balian dan Permas selesai matur piuning yang juga diikuti oleh seluruh masyarakat yang hadir melakukan persembahyangan, tari Jejumputan akan kembali dipentaskan.

Pementasan tari jejumputan ini akan selesai apabila sudah terjadi daratan. Masyarakat Pedawa percaya bahwa daratan adalah turunnya (rauh) energi Sang Hyang Widhi yang masuk ke dalam tubuh manusia yang bersih atau suci dan memberikan pesan kepada umat manusia.

Makna dari pementasan tari jejumputan ini merupakan bentuk permohonan kepada Ida Sesuhunan yang melinggih di pura Sekaa Juragan agar memberikan kemakmuran bagi pertanian yang menjadi salah satu penghasilan ekonomi di Desa Pedawa. Memohon agar mendapat bibit yang unggul, terhindar dari hama dan bencana alam yang menyebabkan hasil pertanian menjadi gagal.

Ada juga persepsi yang meyakini bahwa tari Jejumputan ini bertujuan untuk menghibur atau persembahan kepada Bhetara-Bhetari yang berstana di Pura Sekaa Juragan yang selalu senantiasa melimpahkan kemakmuran untuk masyarakat Pedawa.

Penari laki-laki Tari Jejumputan, Desa Pedawa, Buleleng, Bali | Foto: Teddy Setiadi

Tetapi intinya masyarakat meyakini pementasan tari jejumputan ini adalah sebagai konsep tentang warisan leluhur yang harus dijaga dan paham-paham pikiran yang semestinya tidak perlu diperdebatkan, baik itu tentang kesederhaan gambelan, kesederhanaan pakaian, cara pemilihan para penari, serta ritual yang seperti sudah memiliki pakemnya yang diwariskan oleh para leluhur Pedawa terdahulu.

Sebagai masyarakat Pedawa terutama generasi muda sangat perlu kiranya tetap melestarikan pementasan tari jejumputan sesuai dengan pakemnya, tetap menjaga komponen-komponen yang telah diwariskan oleh para leluhur, agar kesenian ini tetap lestari hingga generasi ke generasi.

Tidak hanya itu sebagai generasi muda juga perlu menanamkan nilai-nilai yang terkandung di dalam tari Jejumputan ini, sehingga prosesi sakral mulai dari sebelum pementasan tari Jejumputan sampai akhir tetap dilaksanakan sesuai dengan pakem yang telah diwariskan sejak dari dulu. serta mempertahankan kesakralan tari Jejumputan di era gempuran pariwisata yang sangat masif ini. [T]   

BACA artikel lain tentang DESA PEDAWA

Pedawa: Kebahagiaan Adalah Kekeluargaan
Tradisi Ngangkid: Upacara Penyucian Roh di Pedawa
“Mepetokan” dari Desa Pedawa: Arena Perang Pantun Untuk Proses Pendewasaan Diri
Tags: bali agabulelengDesa Pedawakesenian balitari sakral
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

d’Bukit Kreatif Space: Ruang Belajar Anak-Anak Bukit Yangudi

Next Post

Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

I Gede Teddy Setiadi

I Gede Teddy Setiadi

Lahir di Desa Pedawa. Kini tinggal di Singaraja

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

Counter Politik Sangkuni Itu Bernama Sri Krishna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co