22 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Jaswanto by Jaswanto
January 25, 2024
in Khas
Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar  Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Wayan Parsa | Foto: Dian

KISAH itu meluber dari bibirnya yang tebal dan menghitam. Kerutan di wajah, sepasang mata mengabu, dan putih rambut adalah bukti bahwa ia sudah hidup lebih dari setengah abad. Meski demikian, melihat tatapan, perangai fisik, sisa-sisa otot, jejak ketangguhannya di masa lalu masih dapat kita lihat—walaupun jalannya yang gontai tidak dapat disembunyikannya. “Wayan Parsa,” ia mengenalkan diri.

“Semua berawal dari tahun 1963,” katanya memulai cerita, “saat saya mulai bekerja di Buleleng, tepatnya di daerah Seririt.” Saat itu usianya masih 24 tahun. Lama di Seririt, ia mendengar ada lowongan pekerjaan di Perusahaan Air Milik Negara (PAM-Negara). Perusahaan itu membutuhkan teknisi, katanya lagi. Akhirnya, sekitar tahun 1976, ia diterima dan mulai bekerja sebagai karyawan PAM-Negara. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh bangunan.

Pada tahun 1970, Proyek Peningkatan Sarana Air Bersih Bali (PPSAB Bali) mengadakan penambahan kapasitas produksi di PAM-Negara dengan mengambil sumber air di Bangkiang Sidem sebesar 15 ltr/dt. Kemudian, secara bertahap, pihak PAM-Negara juga meningkatkan kapasitas produksi dari 40 ltr/dt menjadi 75 ltr/dt. Pantas saja ia diterima, sebab perusahaan memang sedang menaikkan kapasitas.

Angin berderu. Sore menjelang. Pak tua itu duduk dengan tenang. Dengan topi yang pudar warnanya, dan kaos polo bergaris tiga, ia berusaha kembali ke masa lalu yang jauh, yang mungkin sudah jarang dikunjunginya.

Setelah resmi menjadi pegawai PAM, ia ditugaskan di bagian distribusi. Tetapi, sebagaimana lazimnya pekerja di Indonesia, tugasnya tidak hanya melayani sambungan air ke rumah warga, namun juga melakukan perbaikan pipa yang rusak dan bocor. Saat itu, katanya, PAM-Negara hanya memiliki 30 karyawan dengan 1 orang sebagai direktur. Perusahaan air minum itu dulu berkantor di Jalan Gajah Mada, Singaraja.

Reservoar zaman Belanda yang masih kokoh / Foto: Dian

“Saat itu pimpinan saya Gusti Bagus Temaja dari Desa Patemon, Seririt. Sekarang kantornya jadi Disdukcapil,” katanya saat dijumpai, Kamis (4/1/2024) sore.

Pada zaman itu, sebagai seorang pegawai yang penuh dedikasi, Pak Tua Parsa bekerja dengan sepenuh hati. Ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan air untuk pelanggan. Berbagai cara ia lakukan agar pelanggannya dapat menikmati air bersih. Dengan sepeda ontel miliknya, Parsa berkeliling Buleleng melakukan perbaikan. Tangannya tidak pernah kosong. Selalu ada pipa besi di pundaknya. Ia menerima upah per bulannya Rp. 200,-.

“Kalau sudah keluar kantor pasti ada yang harus diservis. Saya bawa sepeda sambil negen pipa besi. Itu ada tiga batang pernah saya bawa. Ukurannya 3 dim dan panjangnya 3-6 meter,” ujarnya penuh kebanggan saat menceritakan usahanya yang heroik.

Tentu saja, kondisi Buleleng saat itu tidak sama dengan sekarang. Dengan peralatan yang belum secanggih sekarang, perbaikan bisa saja mengalami banyak kendala dan memakan waktu yang lama. Namun, meski demikian, pekerjaan di lapangan tidak akan ia tinggalkan sebelum perbaikan benar-benar selesai. Ia juga mesti memastikan air dapat kembali mengalir lancar ke saluran warga.

“Berangkat dari kantor pagi hari, pulang besok paginya. Pokoknya sampai pekerjaan itu selesai baru bisa pulang. Istilahnya sing ngecor, sing mulih,”  katanya sembari tertawa. Entah apa yang ia tertawakan.

Kondisi jalan di wilayah Buleleng yang menanjak terkadang menyulitkan Parsa. Tak jarang ia mesti menuntun sepeda dengan beban pipa besi di atasnya, kala ia tak kuat mengayuh. Setelah menemukan jalan yang agak rata, barulah ia kembali menaiki sepedanya dan kembali negen pipa besi.

“Kalau sudah sampai di Bale Agung saya dorong sepeda saya. Pipa besinya saya taruh di atas sepeda. Kalau sudah agak datar, naik lagi dan pipanya tegen lagi,” ujarnya.

Suatu hari, hujan deras melanda Buleleng. Bencana longsor di kawasan Bangkiangsidem, Sukasada, menimpa pipa transmisi. Pipa tersebut terbawa material longsor ke dalam jurang sekitar 100 meter. Parsa dan kawan-kawannya pun segera meluncur untuk melakukan perbaikan. Pipa besi yang terjerembab akibat longsor itu diangkat kembali beramai-ramai.

“Ambil lagi, karena masih bisa dipakai. Itu kan pipa besi. Tidak pecah, tidak rusak, tidak patah. Hanya terlepas,” imbuhnya.

Pipa besi itu kemudian dipasang kembali dengan Giboult. Giboult merupakan kuncian sambungan pipa air yang berfungsi untuk menutup sambungan, agar tidak terjadi kebocoran pipa air. Pun sebagai penutup kebocoran yang telah terjadi pada pipa. Setelah memastikan seluruhnya aman, Parsa dan kawan-kawannya baru bisa bernapas lega.

Waktu melesat seperti air dalam pipa. Tiga tahun setelah kejadian yang membuat lutut orang biasa bergetar itu, tepatnya 1979, Parsa dimutasi. Pada tahun itu ia mulai bertugas sebagai penjaga reservoir atau bak penampungan air. Ada dua bak tua yang mesti ia jaga dan memastikan kondisi airnya tidak tercemar. Selain menjaga bak, ia juga masih tetap bekerja di bidang distribusi, namun tidak seintens sebelumnya.

“Saya ditugaskan di sini menggantikan Gede Mangku yang berasal dari Lingkungan Bakung, Kelurahan Sukasada. Ia meninggal dunia,” terangnya.

Pada tahun yang sama, berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 071.KPTS/CK/X/1979 tanggal 8 Oktober 1979, sebagaimana tertuang dalam “Sejarah PDAM Kabupaten Buleleng”, PAM Negara Singaraja diubah namanya menjadi Badan Pengelola Air Minum (BPAM) Kabupaten Dati II Buleleng.

Reservoar zaman Belanda yang masih kokoh / Foto: Dian

Parsa tidak lagi berkantor di Jalan Gajah Mada. Tahun 1982, kantornya pindah ke kawasan Mumbul, Singaraja. Saat pindahan, mereka telah memiliki mobil operasional: pickup Datsun. Satu-satunya mobil yang dimiliki perusahaan kala itu. Hingga kini, kantor perusahaan air minum yang sekarang bernama Perumda Tirta Hita Buleleng itu tetap berlokasi di kawasan Mumbul.

Merujuk pada sejarah yang tercecer di mana-mana, reservoir di Buleleng sudah ada sejak tahun 1902, kira-kira setahun setelah Ratu Belanda Wilhelmina menerima tanggung jawab politik etis demi kesejahteraan rakyat kolonial mereka. Orang Belanda menyebut reservoir itu dengan sebutan “waterleiding”.

Zaman itu, Belanda membangun tampungan air di lingkungan Bantang Banua, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Di sana ada sebuah bangunan yang atapnya terbuat dari beton paten yang kokoh. Pondasi hingga dinding bangunan dibuat dari tumpukan batu keras seperti besi. Dari atas, bangunan ini memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter dengan kapasitas penampungan 180 kubik air.

Saat itu, aliran air yang tertampung di waterleiding berasal dari reservoir yang ada di Desa Padangbulia. Reservoir itu juga berangka tahun 1902. Air yang ditampung di reservoir kemudian dialirkan melalui pipa-pipa perunggu berlapis yang kala itu digunakan.

Alirannya sampai ke seluruh wilayah Kerajaan Buleleng (kini menjadi kawasan Puri Buleleng hingga Peken Buleleng dan sekitarnya). Tidak hanya itu, zaman itu aliran air juga dinikmati oleh para bangsawan atau orang-orang kaya. Sedangkan, masyarakat biasa mendapat dan meminum air di kayoan atau Pancoran Buleleng.

“Ada juga yang mengambil langsung ke reservoir. Dulu air sampai meluap-luap, nah luapan air itu—atau overflow—bisa diambil oleh warga. Zaman itu, kata tetua, pasang saluran air mesti bayar Rp. 150,-,” kata Agus Budiawan yang kini bertugas menjaga reservoir itu.

Pada tahun 1930-an, saat Jepang menguasai Nusantara, industri air minum di Buleleng cukup berkembang. Zaman itu reservoir disebut dengan “suido syo”, tidak lagi waterleiding. Dan seakan tak mau kalah dengan penjajah terdahulu, Jepang membangun satu reservoir yang letaknya berdampingan dengan waterleiding Belanda. Airnya berasal dari kawasan Pangkung Dalem, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada. Dua bangunan tua—yang sekarang di bawah asuhan Perumda Tirta Hita Buleleng—itulah yang dijaga Pak Tua Parsa sejak 1979 sampai 2007.

Jauh sebelum Parsa, ada beberapa penjaga reservoir yang bertugas. Pertama ada Ketut Sumerasta, ambtenaar yang bertugas pada masa kolonial Belanda. Sumerasta kemudian digantikan oleh Gusti Komang Karang. Setelah itu ia lantas digantikan oleh Gede Mangku.

Tugas Gede Mangku lalu dilanjutkan oleh Wayan Parsa karena Mangku, sebagaimana telah disampaikan di awal, meninggal dunia. Lama bertugas, tahun 2007 Parsa pensiun. Tugasnya sebagai penjaga reservoir dilanjutkan oleh anaknya, Agus Budiawan, sampai sekarang.

Hingga kini, dua reservoir tua yang mungkin dibangun dengan siksaan dan di bawah tekanan bedil itu, masih berdiri kokoh dan menampung air dari kawasan Pangkung Dalem, Gitgit, dan kawasan Bangkiangsidem. Air itu kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sukasada hingga kawasan Kota Singaraja.[T]

Sarpi, Batik Gedhog, dan Tradisi Masyarakat Gaji
Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand
Tags: balibulelengPDAM BulelengSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MUSIC CELEBRATION 2024: Pesta Musik Awal Tahun, Tanggung Jawab tentang Lingkungan dan Iklim

Next Post

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
0
Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

Read moreDetails

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
0
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

Read moreDetails

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
0
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

Read moreDetails

Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026
0
Lomba Lagu Pop Bali Festival Seni Bali Jani VIII 2026 Bak “Perang Bintang”

LOMBA Menyanyi Lagu Pop Bali dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 berlangsung bak "perang bintang". Hampir seluruh...

Read moreDetails

BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
BNN Kota Denpasar Ajak Murid Baru Tangkal Ancaman Narkoba di Ignite Fest Kesbam 2026

 “Hari ini kalian mungkin berpikir narkoba itu urusan orang lain. Padahal, yang dibutuhkan pengedar hanya satu celah, yaitu rasa penasaran.”...

Read moreDetails

Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 19, 2026
0
Ignite Fest 2026, Wajah Baru MPLS di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SORAK-sorai ratusan murid baru memenuhi Aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sesekali tepuk tangan bergemuruh tatkala acara diselingi penampilan...

Read moreDetails

Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

by Nyoman Budarsana
July 18, 2026
0
Lomba Cerpen Festival Seni Bali Jani 2026 Diikuti 172 Peserta, Juri Soroti Orisinalitas Karya di Era AI

MINAT masyarakat terhadap dunia sastra kembali menunjukkan geliat yang menggembirakan. Lomba Menulis Cerpen dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ)...

Read moreDetails

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

Read moreDetails

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

Read moreDetails

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
0
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

Read moreDetails
Next Post
Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah
Khas

Sastra Masuk Kurikulum: Guru Menjadi Kunci Penguatan Literasi di Sekolah

PROGRAM Sastra Masuk Kurikulum menjadi salah satu isu penting yang mengemuka dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila
Panggung

“Di Bawah Pohon Sukun”, Teater Selem Putih Menghidupkan Kembali Pergulatan Lahirnya Pancasila

TEATER Selem Putih kembali menunjukkan kekuatan estetikanya dalam Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026. Melalui pementasan Di Bawah...

by Nyoman Budarsana
July 21, 2026
Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA
Pemerintahan

Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Berikan Catatan Penting Mengenai Postur APBD serta Fenomena Pencatatan SiLPA

SINGARAJA | TATKALA.CO -- Ketua DPRD Kabupaten Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan penting mengenai postur APBD serta fenomena pencatatan...

by tatkala
July 20, 2026
Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026
Ulas Pentas

Tubuh yang Dilukiskan, Tak Pernah Dimiliki —Membaca “Agem Ni Pollok” dalam Parade Monolog Festival Seni Bali Jani 2026

PARADE Monolog dalam Festival Seni Bali Jani 2016 yang digelar pada 14 Juli  di Gedung Ksirarnawa, dibuka pukul 17.00 Wita,...

by Satria Aditya
July 20, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

Siapa yang Berhak Menentukan Kebebasan Tubuh Perempuan? —-[Menanggapi Tulisan Surfian Rahmat AP]

SEJAK dulu, tubuh perempuan selalu menjadi objek analisis dan justifikasi orang lain. Kita sering mendengar komentar terhadap cara seorang perempuan...

by Early NHS
July 20, 2026
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja
Opini

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026
Khas

Ketika Barang Bekas Menjelma Produk Bernilai Guna di Pameran Kreativitas Ignite Fest Kesbam 2026

KALA itu, pada hari keempat Ignite Fest, Kamis, 16 Juli 2026, kawasan di depan aula hingga halaman SMKS Kesehatan Bali...

by Dede Putra Wiguna
July 20, 2026
Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]
Ulas Rupa

Genesis: Rahim Bumi, Rahim Kehidupan —[Membaca Karya Keramik Ida Ayu Gede Artayani]

"Kita tidak mewarisi bumi dari leluhur. Kita meminjamnya dari anak cucu." Kalimat yang sering dikutip dalam berbagai diskusi lingkungan itu...

by Angga Wijaya
July 20, 2026
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]
Ulas Musik

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Trauma KUD dan Hasrat Politik 2029 Lewat KDMP

POLEMIK seputar Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) hingga kini belum juga surut. Namun the show must go on. Program andalan...

by Chusmeru
July 20, 2026
Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026
Esai

Nasib Antek-Antek Ronaldo dan Real Madrid di Piala Dunia 2026

ISTILAH antek-antek Ronaldo bukan saya yang bikin. Saya mencurinya dari unggahan akun virdian_aurellio di media sosial. Waktu Argentina comeback melawan...

by Rusdy Ulu
July 20, 2026
Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman
Khas

Menelisik Napas Puisi di Bali, Ketika Kata-Kata Bertahan Melawan Zaman

DI Beranda Pustaka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang dipenuhi percakapan hangat pada Sabtu (18/7), para penyair...

by Nyoman Budarsana
July 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co