29 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Jaswanto by Jaswanto
January 25, 2024
in Khas
Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar  Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Wayan Parsa | Foto: Dian

KISAH itu meluber dari bibirnya yang tebal dan menghitam. Kerutan di wajah, sepasang mata mengabu, dan putih rambut adalah bukti bahwa ia sudah hidup lebih dari setengah abad. Meski demikian, melihat tatapan, perangai fisik, sisa-sisa otot, jejak ketangguhannya di masa lalu masih dapat kita lihat—walaupun jalannya yang gontai tidak dapat disembunyikannya. “Wayan Parsa,” ia mengenalkan diri.

“Semua berawal dari tahun 1963,” katanya memulai cerita, “saat saya mulai bekerja di Buleleng, tepatnya di daerah Seririt.” Saat itu usianya masih 24 tahun. Lama di Seririt, ia mendengar ada lowongan pekerjaan di Perusahaan Air Milik Negara (PAM-Negara). Perusahaan itu membutuhkan teknisi, katanya lagi. Akhirnya, sekitar tahun 1976, ia diterima dan mulai bekerja sebagai karyawan PAM-Negara. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh bangunan.

Pada tahun 1970, Proyek Peningkatan Sarana Air Bersih Bali (PPSAB Bali) mengadakan penambahan kapasitas produksi di PAM-Negara dengan mengambil sumber air di Bangkiang Sidem sebesar 15 ltr/dt. Kemudian, secara bertahap, pihak PAM-Negara juga meningkatkan kapasitas produksi dari 40 ltr/dt menjadi 75 ltr/dt. Pantas saja ia diterima, sebab perusahaan memang sedang menaikkan kapasitas.

Angin berderu. Sore menjelang. Pak tua itu duduk dengan tenang. Dengan topi yang pudar warnanya, dan kaos polo bergaris tiga, ia berusaha kembali ke masa lalu yang jauh, yang mungkin sudah jarang dikunjunginya.

Setelah resmi menjadi pegawai PAM, ia ditugaskan di bagian distribusi. Tetapi, sebagaimana lazimnya pekerja di Indonesia, tugasnya tidak hanya melayani sambungan air ke rumah warga, namun juga melakukan perbaikan pipa yang rusak dan bocor. Saat itu, katanya, PAM-Negara hanya memiliki 30 karyawan dengan 1 orang sebagai direktur. Perusahaan air minum itu dulu berkantor di Jalan Gajah Mada, Singaraja.

Reservoar zaman Belanda yang masih kokoh / Foto: Dian

“Saat itu pimpinan saya Gusti Bagus Temaja dari Desa Patemon, Seririt. Sekarang kantornya jadi Disdukcapil,” katanya saat dijumpai, Kamis (4/1/2024) sore.

Pada zaman itu, sebagai seorang pegawai yang penuh dedikasi, Pak Tua Parsa bekerja dengan sepenuh hati. Ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan air untuk pelanggan. Berbagai cara ia lakukan agar pelanggannya dapat menikmati air bersih. Dengan sepeda ontel miliknya, Parsa berkeliling Buleleng melakukan perbaikan. Tangannya tidak pernah kosong. Selalu ada pipa besi di pundaknya. Ia menerima upah per bulannya Rp. 200,-.

“Kalau sudah keluar kantor pasti ada yang harus diservis. Saya bawa sepeda sambil negen pipa besi. Itu ada tiga batang pernah saya bawa. Ukurannya 3 dim dan panjangnya 3-6 meter,” ujarnya penuh kebanggan saat menceritakan usahanya yang heroik.

Tentu saja, kondisi Buleleng saat itu tidak sama dengan sekarang. Dengan peralatan yang belum secanggih sekarang, perbaikan bisa saja mengalami banyak kendala dan memakan waktu yang lama. Namun, meski demikian, pekerjaan di lapangan tidak akan ia tinggalkan sebelum perbaikan benar-benar selesai. Ia juga mesti memastikan air dapat kembali mengalir lancar ke saluran warga.

“Berangkat dari kantor pagi hari, pulang besok paginya. Pokoknya sampai pekerjaan itu selesai baru bisa pulang. Istilahnya sing ngecor, sing mulih,”  katanya sembari tertawa. Entah apa yang ia tertawakan.

Kondisi jalan di wilayah Buleleng yang menanjak terkadang menyulitkan Parsa. Tak jarang ia mesti menuntun sepeda dengan beban pipa besi di atasnya, kala ia tak kuat mengayuh. Setelah menemukan jalan yang agak rata, barulah ia kembali menaiki sepedanya dan kembali negen pipa besi.

“Kalau sudah sampai di Bale Agung saya dorong sepeda saya. Pipa besinya saya taruh di atas sepeda. Kalau sudah agak datar, naik lagi dan pipanya tegen lagi,” ujarnya.

Suatu hari, hujan deras melanda Buleleng. Bencana longsor di kawasan Bangkiangsidem, Sukasada, menimpa pipa transmisi. Pipa tersebut terbawa material longsor ke dalam jurang sekitar 100 meter. Parsa dan kawan-kawannya pun segera meluncur untuk melakukan perbaikan. Pipa besi yang terjerembab akibat longsor itu diangkat kembali beramai-ramai.

“Ambil lagi, karena masih bisa dipakai. Itu kan pipa besi. Tidak pecah, tidak rusak, tidak patah. Hanya terlepas,” imbuhnya.

Pipa besi itu kemudian dipasang kembali dengan Giboult. Giboult merupakan kuncian sambungan pipa air yang berfungsi untuk menutup sambungan, agar tidak terjadi kebocoran pipa air. Pun sebagai penutup kebocoran yang telah terjadi pada pipa. Setelah memastikan seluruhnya aman, Parsa dan kawan-kawannya baru bisa bernapas lega.

Waktu melesat seperti air dalam pipa. Tiga tahun setelah kejadian yang membuat lutut orang biasa bergetar itu, tepatnya 1979, Parsa dimutasi. Pada tahun itu ia mulai bertugas sebagai penjaga reservoir atau bak penampungan air. Ada dua bak tua yang mesti ia jaga dan memastikan kondisi airnya tidak tercemar. Selain menjaga bak, ia juga masih tetap bekerja di bidang distribusi, namun tidak seintens sebelumnya.

“Saya ditugaskan di sini menggantikan Gede Mangku yang berasal dari Lingkungan Bakung, Kelurahan Sukasada. Ia meninggal dunia,” terangnya.

Pada tahun yang sama, berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 071.KPTS/CK/X/1979 tanggal 8 Oktober 1979, sebagaimana tertuang dalam “Sejarah PDAM Kabupaten Buleleng”, PAM Negara Singaraja diubah namanya menjadi Badan Pengelola Air Minum (BPAM) Kabupaten Dati II Buleleng.

Reservoar zaman Belanda yang masih kokoh / Foto: Dian

Parsa tidak lagi berkantor di Jalan Gajah Mada. Tahun 1982, kantornya pindah ke kawasan Mumbul, Singaraja. Saat pindahan, mereka telah memiliki mobil operasional: pickup Datsun. Satu-satunya mobil yang dimiliki perusahaan kala itu. Hingga kini, kantor perusahaan air minum yang sekarang bernama Perumda Tirta Hita Buleleng itu tetap berlokasi di kawasan Mumbul.

Merujuk pada sejarah yang tercecer di mana-mana, reservoir di Buleleng sudah ada sejak tahun 1902, kira-kira setahun setelah Ratu Belanda Wilhelmina menerima tanggung jawab politik etis demi kesejahteraan rakyat kolonial mereka. Orang Belanda menyebut reservoir itu dengan sebutan “waterleiding”.

Zaman itu, Belanda membangun tampungan air di lingkungan Bantang Banua, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Di sana ada sebuah bangunan yang atapnya terbuat dari beton paten yang kokoh. Pondasi hingga dinding bangunan dibuat dari tumpukan batu keras seperti besi. Dari atas, bangunan ini memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter dengan kapasitas penampungan 180 kubik air.

Saat itu, aliran air yang tertampung di waterleiding berasal dari reservoir yang ada di Desa Padangbulia. Reservoir itu juga berangka tahun 1902. Air yang ditampung di reservoir kemudian dialirkan melalui pipa-pipa perunggu berlapis yang kala itu digunakan.

Alirannya sampai ke seluruh wilayah Kerajaan Buleleng (kini menjadi kawasan Puri Buleleng hingga Peken Buleleng dan sekitarnya). Tidak hanya itu, zaman itu aliran air juga dinikmati oleh para bangsawan atau orang-orang kaya. Sedangkan, masyarakat biasa mendapat dan meminum air di kayoan atau Pancoran Buleleng.

“Ada juga yang mengambil langsung ke reservoir. Dulu air sampai meluap-luap, nah luapan air itu—atau overflow—bisa diambil oleh warga. Zaman itu, kata tetua, pasang saluran air mesti bayar Rp. 150,-,” kata Agus Budiawan yang kini bertugas menjaga reservoir itu.

Pada tahun 1930-an, saat Jepang menguasai Nusantara, industri air minum di Buleleng cukup berkembang. Zaman itu reservoir disebut dengan “suido syo”, tidak lagi waterleiding. Dan seakan tak mau kalah dengan penjajah terdahulu, Jepang membangun satu reservoir yang letaknya berdampingan dengan waterleiding Belanda. Airnya berasal dari kawasan Pangkung Dalem, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada. Dua bangunan tua—yang sekarang di bawah asuhan Perumda Tirta Hita Buleleng—itulah yang dijaga Pak Tua Parsa sejak 1979 sampai 2007.

Jauh sebelum Parsa, ada beberapa penjaga reservoir yang bertugas. Pertama ada Ketut Sumerasta, ambtenaar yang bertugas pada masa kolonial Belanda. Sumerasta kemudian digantikan oleh Gusti Komang Karang. Setelah itu ia lantas digantikan oleh Gede Mangku.

Tugas Gede Mangku lalu dilanjutkan oleh Wayan Parsa karena Mangku, sebagaimana telah disampaikan di awal, meninggal dunia. Lama bertugas, tahun 2007 Parsa pensiun. Tugasnya sebagai penjaga reservoir dilanjutkan oleh anaknya, Agus Budiawan, sampai sekarang.

Hingga kini, dua reservoir tua yang mungkin dibangun dengan siksaan dan di bawah tekanan bedil itu, masih berdiri kokoh dan menampung air dari kawasan Pangkung Dalem, Gitgit, dan kawasan Bangkiangsidem. Air itu kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sukasada hingga kawasan Kota Singaraja.[T]

Sarpi, Batik Gedhog, dan Tradisi Masyarakat Gaji
Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand
Tags: balibulelengPDAM BulelengSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MUSIC CELEBRATION 2024: Pesta Musik Awal Tahun, Tanggung Jawab tentang Lingkungan dan Iklim

Next Post

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 29, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya
Esai

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co