17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Jaswanto by Jaswanto
January 25, 2024
in Khas
Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar  Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Wayan Parsa | Foto: Dian

KISAH itu meluber dari bibirnya yang tebal dan menghitam. Kerutan di wajah, sepasang mata mengabu, dan putih rambut adalah bukti bahwa ia sudah hidup lebih dari setengah abad. Meski demikian, melihat tatapan, perangai fisik, sisa-sisa otot, jejak ketangguhannya di masa lalu masih dapat kita lihat—walaupun jalannya yang gontai tidak dapat disembunyikannya. “Wayan Parsa,” ia mengenalkan diri.

“Semua berawal dari tahun 1963,” katanya memulai cerita, “saat saya mulai bekerja di Buleleng, tepatnya di daerah Seririt.” Saat itu usianya masih 24 tahun. Lama di Seririt, ia mendengar ada lowongan pekerjaan di Perusahaan Air Milik Negara (PAM-Negara). Perusahaan itu membutuhkan teknisi, katanya lagi. Akhirnya, sekitar tahun 1976, ia diterima dan mulai bekerja sebagai karyawan PAM-Negara. Sebelumnya ia bekerja sebagai buruh bangunan.

Pada tahun 1970, Proyek Peningkatan Sarana Air Bersih Bali (PPSAB Bali) mengadakan penambahan kapasitas produksi di PAM-Negara dengan mengambil sumber air di Bangkiang Sidem sebesar 15 ltr/dt. Kemudian, secara bertahap, pihak PAM-Negara juga meningkatkan kapasitas produksi dari 40 ltr/dt menjadi 75 ltr/dt. Pantas saja ia diterima, sebab perusahaan memang sedang menaikkan kapasitas.

Angin berderu. Sore menjelang. Pak tua itu duduk dengan tenang. Dengan topi yang pudar warnanya, dan kaos polo bergaris tiga, ia berusaha kembali ke masa lalu yang jauh, yang mungkin sudah jarang dikunjunginya.

Setelah resmi menjadi pegawai PAM, ia ditugaskan di bagian distribusi. Tetapi, sebagaimana lazimnya pekerja di Indonesia, tugasnya tidak hanya melayani sambungan air ke rumah warga, namun juga melakukan perbaikan pipa yang rusak dan bocor. Saat itu, katanya, PAM-Negara hanya memiliki 30 karyawan dengan 1 orang sebagai direktur. Perusahaan air minum itu dulu berkantor di Jalan Gajah Mada, Singaraja.

Reservoar zaman Belanda yang masih kokoh / Foto: Dian

“Saat itu pimpinan saya Gusti Bagus Temaja dari Desa Patemon, Seririt. Sekarang kantornya jadi Disdukcapil,” katanya saat dijumpai, Kamis (4/1/2024) sore.

Pada zaman itu, sebagai seorang pegawai yang penuh dedikasi, Pak Tua Parsa bekerja dengan sepenuh hati. Ia selalu berusaha memenuhi kebutuhan air untuk pelanggan. Berbagai cara ia lakukan agar pelanggannya dapat menikmati air bersih. Dengan sepeda ontel miliknya, Parsa berkeliling Buleleng melakukan perbaikan. Tangannya tidak pernah kosong. Selalu ada pipa besi di pundaknya. Ia menerima upah per bulannya Rp. 200,-.

“Kalau sudah keluar kantor pasti ada yang harus diservis. Saya bawa sepeda sambil negen pipa besi. Itu ada tiga batang pernah saya bawa. Ukurannya 3 dim dan panjangnya 3-6 meter,” ujarnya penuh kebanggan saat menceritakan usahanya yang heroik.

Tentu saja, kondisi Buleleng saat itu tidak sama dengan sekarang. Dengan peralatan yang belum secanggih sekarang, perbaikan bisa saja mengalami banyak kendala dan memakan waktu yang lama. Namun, meski demikian, pekerjaan di lapangan tidak akan ia tinggalkan sebelum perbaikan benar-benar selesai. Ia juga mesti memastikan air dapat kembali mengalir lancar ke saluran warga.

“Berangkat dari kantor pagi hari, pulang besok paginya. Pokoknya sampai pekerjaan itu selesai baru bisa pulang. Istilahnya sing ngecor, sing mulih,”  katanya sembari tertawa. Entah apa yang ia tertawakan.

Kondisi jalan di wilayah Buleleng yang menanjak terkadang menyulitkan Parsa. Tak jarang ia mesti menuntun sepeda dengan beban pipa besi di atasnya, kala ia tak kuat mengayuh. Setelah menemukan jalan yang agak rata, barulah ia kembali menaiki sepedanya dan kembali negen pipa besi.

“Kalau sudah sampai di Bale Agung saya dorong sepeda saya. Pipa besinya saya taruh di atas sepeda. Kalau sudah agak datar, naik lagi dan pipanya tegen lagi,” ujarnya.

Suatu hari, hujan deras melanda Buleleng. Bencana longsor di kawasan Bangkiangsidem, Sukasada, menimpa pipa transmisi. Pipa tersebut terbawa material longsor ke dalam jurang sekitar 100 meter. Parsa dan kawan-kawannya pun segera meluncur untuk melakukan perbaikan. Pipa besi yang terjerembab akibat longsor itu diangkat kembali beramai-ramai.

“Ambil lagi, karena masih bisa dipakai. Itu kan pipa besi. Tidak pecah, tidak rusak, tidak patah. Hanya terlepas,” imbuhnya.

Pipa besi itu kemudian dipasang kembali dengan Giboult. Giboult merupakan kuncian sambungan pipa air yang berfungsi untuk menutup sambungan, agar tidak terjadi kebocoran pipa air. Pun sebagai penutup kebocoran yang telah terjadi pada pipa. Setelah memastikan seluruhnya aman, Parsa dan kawan-kawannya baru bisa bernapas lega.

Waktu melesat seperti air dalam pipa. Tiga tahun setelah kejadian yang membuat lutut orang biasa bergetar itu, tepatnya 1979, Parsa dimutasi. Pada tahun itu ia mulai bertugas sebagai penjaga reservoir atau bak penampungan air. Ada dua bak tua yang mesti ia jaga dan memastikan kondisi airnya tidak tercemar. Selain menjaga bak, ia juga masih tetap bekerja di bidang distribusi, namun tidak seintens sebelumnya.

“Saya ditugaskan di sini menggantikan Gede Mangku yang berasal dari Lingkungan Bakung, Kelurahan Sukasada. Ia meninggal dunia,” terangnya.

Pada tahun yang sama, berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: 071.KPTS/CK/X/1979 tanggal 8 Oktober 1979, sebagaimana tertuang dalam “Sejarah PDAM Kabupaten Buleleng”, PAM Negara Singaraja diubah namanya menjadi Badan Pengelola Air Minum (BPAM) Kabupaten Dati II Buleleng.

Reservoar zaman Belanda yang masih kokoh / Foto: Dian

Parsa tidak lagi berkantor di Jalan Gajah Mada. Tahun 1982, kantornya pindah ke kawasan Mumbul, Singaraja. Saat pindahan, mereka telah memiliki mobil operasional: pickup Datsun. Satu-satunya mobil yang dimiliki perusahaan kala itu. Hingga kini, kantor perusahaan air minum yang sekarang bernama Perumda Tirta Hita Buleleng itu tetap berlokasi di kawasan Mumbul.

Merujuk pada sejarah yang tercecer di mana-mana, reservoir di Buleleng sudah ada sejak tahun 1902, kira-kira setahun setelah Ratu Belanda Wilhelmina menerima tanggung jawab politik etis demi kesejahteraan rakyat kolonial mereka. Orang Belanda menyebut reservoir itu dengan sebutan “waterleiding”.

Zaman itu, Belanda membangun tampungan air di lingkungan Bantang Banua, Kelurahan Sukasada, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Di sana ada sebuah bangunan yang atapnya terbuat dari beton paten yang kokoh. Pondasi hingga dinding bangunan dibuat dari tumpukan batu keras seperti besi. Dari atas, bangunan ini memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter dengan kapasitas penampungan 180 kubik air.

Saat itu, aliran air yang tertampung di waterleiding berasal dari reservoir yang ada di Desa Padangbulia. Reservoir itu juga berangka tahun 1902. Air yang ditampung di reservoir kemudian dialirkan melalui pipa-pipa perunggu berlapis yang kala itu digunakan.

Alirannya sampai ke seluruh wilayah Kerajaan Buleleng (kini menjadi kawasan Puri Buleleng hingga Peken Buleleng dan sekitarnya). Tidak hanya itu, zaman itu aliran air juga dinikmati oleh para bangsawan atau orang-orang kaya. Sedangkan, masyarakat biasa mendapat dan meminum air di kayoan atau Pancoran Buleleng.

“Ada juga yang mengambil langsung ke reservoir. Dulu air sampai meluap-luap, nah luapan air itu—atau overflow—bisa diambil oleh warga. Zaman itu, kata tetua, pasang saluran air mesti bayar Rp. 150,-,” kata Agus Budiawan yang kini bertugas menjaga reservoir itu.

Pada tahun 1930-an, saat Jepang menguasai Nusantara, industri air minum di Buleleng cukup berkembang. Zaman itu reservoir disebut dengan “suido syo”, tidak lagi waterleiding. Dan seakan tak mau kalah dengan penjajah terdahulu, Jepang membangun satu reservoir yang letaknya berdampingan dengan waterleiding Belanda. Airnya berasal dari kawasan Pangkung Dalem, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada. Dua bangunan tua—yang sekarang di bawah asuhan Perumda Tirta Hita Buleleng—itulah yang dijaga Pak Tua Parsa sejak 1979 sampai 2007.

Jauh sebelum Parsa, ada beberapa penjaga reservoir yang bertugas. Pertama ada Ketut Sumerasta, ambtenaar yang bertugas pada masa kolonial Belanda. Sumerasta kemudian digantikan oleh Gusti Komang Karang. Setelah itu ia lantas digantikan oleh Gede Mangku.

Tugas Gede Mangku lalu dilanjutkan oleh Wayan Parsa karena Mangku, sebagaimana telah disampaikan di awal, meninggal dunia. Lama bertugas, tahun 2007 Parsa pensiun. Tugasnya sebagai penjaga reservoir dilanjutkan oleh anaknya, Agus Budiawan, sampai sekarang.

Hingga kini, dua reservoir tua yang mungkin dibangun dengan siksaan dan di bawah tekanan bedil itu, masih berdiri kokoh dan menampung air dari kawasan Pangkung Dalem, Gitgit, dan kawasan Bangkiangsidem. Air itu kemudian menyebar ke seluruh wilayah Sukasada hingga kawasan Kota Singaraja.[T]

Sarpi, Batik Gedhog, dan Tradisi Masyarakat Gaji
Pak Sarman: Dukun Ebeg yang Berjanji Menjaga Tradisi
I Ketut Suwela, Atlet Atletik 80-an, Berlari Sampai Thailand
Tags: balibulelengPDAM BulelengSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MUSIC CELEBRATION 2024: Pesta Musik Awal Tahun, Tanggung Jawab tentang Lingkungan dan Iklim

Next Post

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co