17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Hafis Azhari by Hafis Azhari
January 25, 2024
in Esai
Kaya Harta Tak Identik Kaya Jiwa 

Ilustrasi diolah tatkala.co dari Canva

AKHIR-AKHIR ini sering diperdebatkan, apakah orang Islam itu perlu kaya ataukah cukup membiarkan dirinya miskin dan hidup apa adanya. Di antara mereka berpendapat, bukankah orang Islam itu perlu membayar zakat, rajin bersedekah, bahkan berangkat haji ke Mekah. Bukankah semuanya itu memerlukan biaya tinggi, dan karenanya umat Islam harus hidup kaya? Di sisi lain, bukankah rezeki setiap orang sudah diatur dan ditakar oleh Allah, lalu mengapa Allah menakdirkan umat Islam hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan?

Sesungguhnya, kaya jiwa identik dengan kekayaan iman dan ilmu, sebab kaya ilmu tanpa kekuatan iman niscaya akan menjerumuskan manusia kepada keangkuhan dan kesombongan. Sebaliknya, iman tanpa kecerdasan (ilmu) juga akan membuat agama mudah diperlakukan sebagai “berhala” yang akan memenjarakan jiwa. Rasulullah menyatakan perihal makmurnya suatu negeri, jika orang-orang miskinnya dapat bersabar, dan orang-orang kayanya banyak bersyukur. Dalam masyarakat seperti itu, si miskin akan jauh dari rasa frustrasi dan sikap putus asa, sementara si kaya akan bersikap loyal dan rendah hati, karenanya akan senantiasa menopang nasib si miskin dari kekurangan dan keterbatasan rezekinya.

Kaya harta sama sekali tidak identik dengan kaya jiwa, begitupun sebaliknya. Orang yang kaya jiwa meskipun miskin harta, niscaya akan bersabar dengan segala keterbatasannya. Tetapi, orang yang miskin jiwa meskipun kaya harta, ia akan senantiasa hidup dalam kesengsaraan dan penderitaan. Ia merasa tidak perlu menambah kualitas ilmunya lantaran merasa dirinya cukup pintar, karenanya keimanan dalam dirinya bersifat mandek dan statis. Padahal, sifat iman sebagaimana ilmu, akan terus mengalami fluktuasi peningkatan, dan karenanya hanya dengan kerendahan hati dan merasa dirinya “bodoh” seseorang akan terus mencari dan menemukan dinamikanya yang lebih luhur.

Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah menyatakan bahwa ketamakan dan keserakahan diperbolehkan manakala diperuntukkan untuk peningkatan keilmuan. Namun, kebanyakan orang lebih fokus pada urusan-urusan persaingan duniawi, hingga membolehkan segala cara demi untuk melegitimasi hawa nafsu, sifat dengki, dan dendam kesumatnya.

Pada prinsipnya, memang ada manusia tertentu yang dimudahkan rezekinya oleh Allah, baik rezeki yang bersifat kekayaan ilmu (hidayah) maupun kekayaan harta (kekuasaan). Rezeki dalam kategori kedua ini memang mudah dilihat secara kasatmata, sehingga banyak orang diberkahi kekayaan materi, lalu menganggap bahwa Tuhan sedang menolong dan mengasihi dirinya. Padahal hakikatnya, Tuhan sedang menguji kualitas hidupnya, apakah ia sanggup menjadi ahli syukur dan dermawan dengan harta kekayaan yang dimilikinya, ataukah sebaliknya.

Banyak orang berlomba untuk mengejar pundi-pundi lantaran didorong oleh hasrat dan nafsu hendak mengungguli dan mengalahkan pesaing atau rivalitasnya. Generasi “sakit hati” semacam ini tak ubahnya mental inlander yang ujung-ujungnya, ketika mengalami jalan buntu, mereka akan melarikan diri pada klenik dan takhayul, hingga terpelanting dan menjauh dari kualitas iman yang semula sudah dipupuknya. Layaknya seorang pemintal kain tenun, lalu ketika kain tenun akan rampung dipintal, tiba-tiba dia mengobrak-abrik dan mengacak-acak kembali benang-benang hasil tenunannya.

Hak Prerogatif Tuhan

Sesungguhnya, kaya harta dan jiwa tak bisa menjadi monopoli agama tertentu. Ia hanya menjadi hak prerogatif Tuhan Yang Maha Kaya (ghani) dan Maha Pemberi rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya (mughni). Tuhan juga berhak memberikan kepada  siapapun, meskipun dia seorang atheis atau tidak berpegang pada kepercayaan agama tertentu (agnostik).

Di kalangan filosof Barat, seorang agnostik disebut sebagai manusia tanpa agama (homo non-religious). Ia adalah manusia profan yang cenderung sekuler, tetapi bukan berarti anti agama tertentu. Sebagaimana sosok Salman Al-Farisi yang terlahir dari orang tua Majusi (Zoroaster), kemudian ia melanglang buana mencari kebenaran melalui pendeta Nasrani, saudagar Yahudi, hingga kemudian menemukan kebenaran tertinggi ketika berjumpa Rasulullah di Madinah. Untuk itu, Rasulullah pernah menjuluki dirinya sebagai “ahlul bait”, meskipun Salman hanya seorang pendatang dari Persia (Iran).

Kaum agnostik sangat marak di era abad pertengahan (aufklaerung) di negeri-negeri Eropa. Terutama dianut oleh para eksplorator dan ilmuwan, setelah bersengketa sengit dengan kalangan Gereja (Kristen Ortodoks). Saat itu, dunia Gereja tak sanggup menjawab persoalan-persoalan prinsipil yang bersifat logis dan rasional, karenanya kaum fanatik dari mereka disebut penganut fundamentalisme, yang konotasinya bukan lagi “mengakar” atau “membumi”. Secara politis, sebutan fundamentalisme kelak menjadi cikal-bakal untuk mengklaim dunia Islam sebagai gerakan “radikalisme”.

Padahal secara etimologis, manusia perlu berpikir radikal untuk dapat menemukan akar permasalahan yang lebih fundamen dari persoalan-persoalan ketuhanan maupun kemanusiaan.

Kembali pada soal kekayaan jiwa, di dalam Islam dikenal sifat “zuhud” yang banyak diteladani kaum sufi dan para wali kekasih Allah. Sifat ini bukan mengajarkan manusia agar hidup miskin, akan tetapi memberi peringatan agar manusia membaca, bercermin diri dan bermuhasabah, serta memahami batas kemampuan dirinya.

Untuk itu, dalam kezuhudan dan kesederhanaan, seseorang tetap harus menjaga martabat dan harga dirinya. Ia tidak boleh bermental budak, yang hidupnya merasa terjajah dan termarjinalkan. Ia tak layak merasa dirinya sebagai “korban” dari ketidakadilan sistem, meskipun tetap akan berposisi selaku pembela dan penegak keadilan dan kebenaran, jika melihat orang-orang diperlakukan sewenang-wenang.

Kilas Balik Sejarah

Di zaman kerasulan Muhammad, ketika hitung-hitungan politik belum memungkinkan untuk merombak sistem secara revolusioner, maka sahabat Abu Bakar rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk menebus pembayaran pada seorang pembesar Qurays, agar memerdekakan Bilal bin Rabah selaku budaknya. Seketika itu, terbebaslah budak asal Afrika itu dari belenggu tiran dari sang majikan.

Dalam sistem ekonomi yang digenggam penguasa totaliter yang bertindak semena-mena, hanya beberapa gelintir orang kaya yang sanggup bersikap dermawan hingga mampu menebus dan membebaskan para budak yang tertindas. Lalu, di manakah peran orang-orang kaya lainnya? Di sini perlu ditegaskan sekali lagi bahwa: “Dalam sistem yang korup dan tidak adil, kekayaan selalu saja buah dari sistem semacam itu.” Namun demikian, Islam hadir bukanlah untuk menghancurkan sistem (status quo). Berbeda dengan revolusi fasisme maupun komunisme yang cenderung merusak dan menghancurkan sistem lama, akan tetapi Islam hadir secara transformatif yang bersifat melengkapi dan membenahi sistem (status quo).

Sebab bagaimanapun, kehidupan ini adalah siklus rutinitas yang harus dimaknai secara religius dan imanen. Matahari selalu terbit dari timur pada waktu yang sama, dan tenggelam ke barat pada waktu yang sama pula. Tiap-tiap negara punya karakter musimnya tersendiri yang harus pintar dikelola populasi penduduk yang menetap di dalamnya. Dari bangun tidur hingga ke tidur lagi, kita melakukan ibadah, makan-minum, berangkat dan pulang kerja (sekolah) terus-menerus pada ruang dan waktu yang sama.

Tahu-tahu kita sudah menua, kemudian lahir bayi-bayi baru generasi anak-cucu. Jika kita tak mampu memaknai kehidupan ini secara dinamis, serta tak sanggup berperan dan ikut andil dalam percaturan sejarah, terutama melalui sumbangan ilmu dan amal jariyah, maka hidup kita hanyalah seonggok daging yang muncul dalam beberapa dasawarsa ini, kemudian punah dan menghilang dalam dasawarsa berikutnya.

Kehidupan para sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in, para sufi dan wali kekasih Allah, adalah tipologi terbaik yang patut menjadi teladan kita semua. Untuk itu, dalam bacaan salat (al-Fatihah), senantiasa kita minta ditunjukkan jalan yang lurus, yakni jalan mereka yang tidak dimurkai Allah (al-magdlub), juga bukan jalan orang-orang yang berada dalam kesesatan (ad-dlallun).

Terkait dengan sistem yang tidak adil (korup) yang sekan bermutasi dari satu pemerintah ke pemerintahan baru, barangkali perlu dipahami perihal bangsa ini yang baru bangkit dari puing-puing pasca-kolonialisme. Oleh karena itu, tindakan meniru dan meneladani kaum imperialisme yang bersifat “memburu” dan mengeksploitasi manusia lapisan bawah, untuk tujuan memperkaya diri (dengan dalih apapun) adalah tindakan sewenang-wenang yang tak bisa ditoleransi. Baik dalam pandangan kaum beragama maupun dalam nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks ini, Rasulullah pernah memperingatkan bahwa mereka yang memperjualbelikan agama (akhirat) demi untuk kepentingan dunia, jauh lebih berbahaya ketimbang orang yang mencari dunia tapi diperuntukkan bagi kepentingan akhirat (agama).

Dulu, ketika seorang sahabat melaporkan pada Nabi tentang adanya orang Tionghoa yang bertransaksi (muamalat) di Pasar Madinah, justru Rasulullah mengingatkan para sahabat bahwa ilmu Tuhan memang tiada terbatas. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina,” ujar Rasulullah. Secara pribadi, saya merasa khawatir, jangan-jangan sebagian penceramah yang melarang kita bermuamalat dengan orang Cina (karena dianggap kafir), justru mereka termasuk kategori yang berseberangan dengan cita-cita Rasulullah. Boleh jadi mereka tergolong manusia yang hanya sibuk membangun akhirat, tapi demi keuntungan duniawi semata.

Bandingkan dengan etnis Cina yang rajin berbisnis dalam kesehariannya, namun tak jarang di antara mereka yang ikut menyumbang bagi pembangunan masjid maupun pesantren. Ketimbang orang yang menyibukkan dirinya di dunia pesantren, namun getol mengorupsi uang santri bagi kepentingan dirinya dan keluarganya.

Muslim Idealis

Secara ideal, tentu saja seorang muslim dan pemeluk agama apapun menginginkan kaya jiwa sekaligus kaya harta. Idealisme semacam itu tak ubahnya dengan ribuan dan jutaan rakyat Indonesia yang bercita-cita ingin jadi presiden atau menjadi pilot, sehingga kita bisa mengoperasikan lajunya pesawat yang meninggalkan landasan, atau menguasai negeri demi terselenggaranya rakyat adil dan makmur. Meski pada akhirnya, toh kita semua harus legawa menerima, bahwa pada kenyataannya hanya satu orang presiden yang akan terpilih nanti. Entah yang satu orang itu pernah bercita-cita jadi presiden sewaktu kecil, atau justru tidak sama sekali. Namun, fakta akan menunjukkan bahwa Tuhan hanya akan “mengabulkan” permintaan satu orang saja, ketimbang ribuan dan jutaan lainnya.

Demikian halnya dengan kehendak ingin menjadi orang kaya, terutama kaya harta. Seringkali orang-orang di sekeliling kita tergopoh-gopoh dan terseok-seok hingga menggadaikan nalar dan akal sehatnya untuk meraih kekayaan duniawi. Mereka berdalih, lalu siapakah yang akan membayar zakat dan pergi ke Baitullah, jika umat Islam tidak menjadi orang-orang yang kaya harta? Bukankah kefakiran dapat menjerumuskan manusia ke jurang kekufuran?

 Dalam perspektif tertentu, sebenarnya ketidakadilan sistem di manapun, dan zaman kapan pun, sudah ada gambarannya dalam sejarah hidup Nabi maupun para sahabat? Bukankah ketika bertahun-tahun dunia perdagangan disabotase dan diboikot secara masif, justru membuat pengkhidupan umat Islam menjadi terpuruk? Bahkan para sahabat, termasuk Nabi sendiri terpaksa harus mengais-ngais makanan dengan harga murah, sampai-sampai tulang unta yang masih muda terpaksa harus menjadi sop untuk dikonsumsi keluarga Nabi dan saudara-kerabatnya?

Memang, sangat jarang orang yang mau berjuang meluangkan waktu dan daya upaya demi untuk meraih kekayaan jiwa. Karena ia dianggap tak kasatmata, meski pada hakikatnya di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya. Kekayaan jiwa memang tidak bersifat wadak demi kepentingan sesaat dan kesenangan semu belaka. Ia merupakan kakayaan batin yang tidak bersifat zahir, namun dengan itu manusia Indonesia akan menjaga martabat dan harga dirinya sebagai manusia beradab, berkeadilan dan berbudi luhur.

Dengan kekayaan jiwa, seorang muslim akan sanggup meraih sifat wara dan qanaah, sehingga ketika banyak orang pontang-panting untuk mengejar kedudukan dan “membeli” dunia, seorang yang qanaah justru membuat seluruh dunia tak sanggup membeli harga dirinya.

Kita hendaknya menjaga diri (takwa) agar jangan tergiur oleh tipuan fana yang meninabobokan dan menyesatkan. Kita mesti menyadari diri kita yang baru bangkit dari puing-puing reruntuhan penjajahan (pasca kolonialisme). Sehingga, kebangkitan ini tidak selayaknya dengan memelihara sifat “berburu” untuk menjadi penjajah-penjajah baru, lantaran kita merasa pernah menjadi makhluk terzalimi (tereksploitasi) di masa lalu.

Hendaknya kita menghargai dan menghormati setiap orang yang berjuang sesuai kapasitasnya, berikut rizki yang menjadi hak dan perolehannya. Kita juga harus menghargai orang-orang yang sanggup menggapai kekayaan materi, terlebih kekayaan ilmu dan hidayah di sekeliling kita. Apapun etnis, agama, dan kepercayaan mereka. Yang diperintahkan bagi kita adalah berjuang secara optimal untuk menjadi manusia-manusia yang kaya jiwa sekaligus kaya harta. Meskipun kita menyadari, bahwa orang-orang yang kualitas kesalehannya tinggi seperti para sahabat Nabi, tidak jarang mereka pun hidup dalam keterbatasan dan kekurangan.

Mereka senantiasa mengingat dan mengindahkan sabda Rasulullah, bahwa orang yang memiliki kekayaan iman dan ilmu, niscaya hidupnya akan merasa cukup dan dilapangkan selalu. “Dan jika seorang hamba merasa dirinya cukup,” demikian tegas Rasulullah, “niscaya Allah akan memberinya kecukupan dalam hidupnya.”[T]

Menanam Pohon Sebelum Kiamat | Cerpen Hafis Azhari
Islam Agama Pembebasan
Tags: agamaesaiIslam
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pak Tua Parsa Si Penjaga Reservoar Waterleiding dan Suido Syo di Buleleng

Next Post

Buleleng Kini Punya Pusat Informasi Bernama “Buleleng Command Center”

Hafis Azhari

Hafis Azhari

Penulis novel Pikiran Orang Indonesia dan Perasaan Orang Banten

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Buleleng Kini Punya Pusat Informasi Bernama “Buleleng Command Center”

Buleleng Kini Punya Pusat Informasi Bernama “Buleleng Command Center”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co