3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
November 22, 2023
in Khas
Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

Yoga Anugraha dan Heri Windi Anggara dalam workshop musikalisasi puisi Komunitas Mahima | Foto: Mahima/Amri

TANGGAL 19 November lalu, saya mengikuti workshop alih wahana karya sastra ke musikalisasi puisi di Komunits Mahima, Singaraja. Workshop ini adalah salah satu bagian dari kegiatan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima bekerjasama dengan Badan Bahasa, Kemendikbudristek RI.

Pemateri workshop musikalisasi puisi ini adalah Heri Windi Anggara dan Yoga Anugraha.  Nama dua pemateri itu mungkin tidak asing bagi mereka yang sudah berkutat di dunia musikalisasi puisi, namun akan saya perkenalkan sedikit soal mereka. Heri Windi Anggara adalah seorang musisi dari kelompok Sekali Pentas yang pada tahun 2017 melangsungkan konser musikalisasi puisi bertajuk ‘Siapa Berani Menemani Mati’ dan salah satu penyaji Adilango Musikalisasi Puisi ‘Suara Kata Alam Semesta’ Festival Seni Bali Jani IV.

Yoga Anugraha | Foto: Mahima/Amri

Sedangkan Yoga Anugraha adalah seorang komposer musik dari kelompok Budang Bading Badung yang beberapa bulan lalu terpilih dalam Open Call penyaji Utsawa Festival Bali Jani V.

Dalam konteks workshop musikalisasi puisi, peserta yang hadir tergolong banyak. Kurang lebih ada sekitar 4 kelompok yang terbentuk. Kembali pada workshop, materi disajikan pertama oleh Heri. Heri menyinggung terlebih dahulu soal sejarah musikalisasi puisi.

Dari hasil risetnya, dikatakan musikalisasi puisi sudah ada semenjak jaman Sunan Kalijaga. Lebih lanjut lagi, di Bali secara khususnya, awalnya muspus berkembang di tiga kabupaten (Buleleng, Denpasar, Jembrana) terlebih dahulu sekitar tahun 1960an atau mungkin lebih awal.

Heri juga menyampaikan, di Kabupaten Denpasar kala itu ada Tan Lioe Ie dan Wayan Gde Yudane, di Jembrana ada Nanoq da Kansas dan di Buleleng ada Agung Brawida. Kala itu, 3 kabupaten itulah yang sering terlihat menampilkan musikalisasi puisi. Kemudian berkembang diikuti Gianyar, Karangasem dan seterusnya. Setelah penyampaian itu barulah dilanjutkan pada pemaparan materi.

Heri Windi Anggara | Foto: Mahima/Amri

Heri secara spesifik menyampaikan bahwa apa yang akan disampaikan hanyalah salah satu dari banyak cara untuk menciptakan musikalisasi puisi. Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan untuk menciptakan musikalisasi puisi (setelah menentukan puisi pastinya).

Pertama, tentukan tema puisi dan tema (genre) musik. Seusai menentukan puisi coba tentukan tema puisi. Entah itu romantis, sedih atau yang lain. Soal genre, juga boleh ditentukan oleh tahun pembuatan puisi.

Misalnya tahun 1960an genre yang sedang trending adalah folks, jadi genre itu bisa dipilih untuk puisi-puisi tahun 1960an. Sedikit sejarah soal genre, genre blues adalah bentuk luapan emosi/perlawanan dari kaum kulit hitam kala itu. Jadi jika memilih genre ini, tentulah tema puisi yang diambil baiknya tema-tema tentang perlawanan.

Suasana workshop | Foto: Mahima/Amri

Kedua, lakukan pembacaan puisi. Dari gaya pembacaan itu coba dibuat simbol yang menunjukkan naik turun nada/intonasi dan juga pemenggalan/jeda nafas kalimat atau kata. Pembacaan bisa dilakukan dengan bersenandung. Penjedaan nafas juga menentukan apa arti kata yang disebut dan bagaimana nada yang dibuat. Misalnya dalam frasa ‘Aku diam diam diam mencintaimu’, jika jeda yang diambil adalah ‘Aku diam. diam. diam. mencintaimu’ dan dibandingkan dengan jeda ‘Aku diam diam. diam mencintaimu’ tentu memiliki makna berbeda.

Frasa pertama tidak melakukan apa-apa dalam mencintai sedangkan frasa kedua artinya mencintai dengan diam-diam. Begitu pula pada nada yang akan dibuat. Tidak mungkin kita akan akan menggunakan satu nafas dalam frasa pertama jika penjedaan seperti itu dan begitu pula sebaliknya.

Heri menekankan sebaiknya berusaha ikuti terlebih dahulu garis-garis yang sudah dibuat. Hal ini untuk membiasakan kita bergerak sistematis. Meskipun sebenarnya kita sudah bisa atau lebih mudah menciptakan dengan gaya berbeda.

Ketiga, tentukan tema kecil (tema dalam). Maksudnya, jika puisi yang kalian pilih adalah puisi bertema sedih atau senang, maka tema kecil adalah tema yang kalian pilih untuk menunjukan bagaimana perasaan sedih atau senang kalian. Misalnya senang yang menggebu-gebu atau sedih yang marah-marah.

Keempat, rasa. Mengapa rasa yang terakhir dan bukan yang pertama? Karena rasa bisa berubah dengan cepat. Hari ini bisa saja kita sedang sangat sedih, sehingga puisi yang sebenarnya senang jadi memiliki nada yang sedih. Keesokan harinya, ketika kita senang, maka akan terasa tak masuk akal nada yang kita ciptakan kemarin.

Setelah keempat hal itu terpenuhi, akan sangat mudah membuat nada. Yang perlu dilakukan adalah mengaransemen nada sesuai dengan simbol, jeda, tema dan pilihan genre yang dipilih. Jadi misalnya dalam simbol terlihat simbol yang naik keatas, maka nada dibuat naik, saat simbol turun, maka nada turun dan seterusnya. Demikian pula soal pemenggalan. Ketika simbol terpenggal, maka nada berhenti disana dan dilanjutkan kembali setelah jeda.

Suasana workshop | Foto: Mahima/Amri

Kurang lebih itu pemaparan materi yang disampaikan oleh Heri soal penciptaan musikalisasi puisi. Materi kemudian dilanjutkan oleh Yoga Anugraha. Jika Heri memaparkan soal cara membuat nada, maka Yoga lebih berfokus pada tahap mengolah nada dan melodi musik.

Kasarnya, anggaplah kalian telah mengikuti semua arahan Heri dalam tahap sebelumnya dan sudah berhasil mengaransemen sebuah puisi, sudah pasti tidak hanya akan berhenti disana kan? Kalian belum menentukan bagaimana baiknya musik berbunyi.

Yoga memberi contoh satu puisi dari Moch Satrio Welang (Agak sulit bagi saya untuk menjelaskan bagian workshop ini karena saya tak bisa menjelaskan bagaimana bunyi musiknya secara detail). Kurang lebih, apapun bentuknya, bunyi musik harus berangkat dari puisi. Jangan dibalik. Mungkin dalam mengaransemen lagu lain, musik bisa ditentukan terlebih dahulu lalu lirik atau syair mengikuti. Tapi hal itu tidak berlaku untuk musikalisasi puisi.

Misalnya baris awal puisi ada kata ‘berjalan’ dan ‘melangkah’, sebagus apapun bunyi alunan rhytm cepat alat musik kalian, baiknya tak dijadikan pilihan. Karena kata yang tertulis adalah berjalan dan melangkah. Tentu alunan yang baiknya dipilih adalah alunan yang lebih pelan sehingga gambaran orang berjalan atau melangkah lebih terasa (Paragraf ini adalah kesimpulan saya pribadi dari hasil melihat contoh musik yang dimainkan oleh Yoga).

Demikian pemaparan kedua pemateri yang ditutup dengan pertunjukan musikalisasi puisi Melodia karya Umbu Landu Paranggi aransemen mereka. Selanjutnya kelompok peserta yang hadir diminta langsung untuk mencoba mengaransemen dengan dipandu mereka berdua. Semua kelompok terlihat sudah siap dengan puisi masing-masing, termasuk saya.

Dalam diskusi lebih lanjut ketika sedang proses pembuatan lagu, saya sadar bahwa proses pembuatan musikalisasi puisi dengan metode yang dijelaskan tadi, punya kemiripan dengan melukis.

Apa yang dipaparkan Heri adalah bagaimana kita melukis realis dan apa yang dipaparkan Yoga adalah bagaimana kita membuat lukisan itu lebih realistis. Ketika kita melukis realis, misalnya melukis pohon, kita sudah punya patokan soal bagaimana bentuk pohon. Yang perlu dilakukan hanyalah mengikuti bentuk pohon. Tidak usah membuat pohon itu menjadi surealis dengan menambahkan mulut, tangan, telinga atau hal-hal lainnya. Apalagi dijadikan abstrak, jangan dulu. Cukup lukis pohon saja.

Nah setelah berhasil melukis pohon berulang-ulang dengan baik dan terlihat realis, barulah kita mulai mengeksplorasi disana. Misalnya tambahkan detail guratan pada daunnya, warna yang kecoklatan di beberapa bagian, tambahkan buah atau tambah ranting dan seterusnya. Sesudah kita berhasil membuat lukisan realis yang realistis, barulah kita beranjak menuju surealis dan seterusnya sampai abstrak.

Bisa saya simpulkan, dalam proses pembuatan musikalisasi puisi, kita jangan membuat musikalisasi puisi itu terkesan seram karena ada kata ‘puisi’nya disana. Sederhananya, ketika ingin membuat musikalisasi puisi sebagai pemula, tidak ada salahnya memilih puisi yang sederhana dan ‘cair’ terlebih dahulu. Bagaimana cara menentukan puisinya?

Ya itu, kalau kalian kesulitan menentukan tema, kesulitan memilih dimana jeda atau pemenggalan, kesulitan memahami puisi lebih dalam dan entah kalian senang atau sedih tapi tetap tak bisa menentukan bagaimana nadanya, mungkin puisi itu terlalu sulit bagi kalian. Jika puisi yang kalian pilih bisa kalian berikan simbol sesuai pemaparan pemateri, saya yakin aransemen akan jadi. Buktinya semua kelompok yang mendengar sampai akhir, berhasil mengaransemen dan mementaskan musikalisasi puisi mereka di akhir acara. [T]

Terbaik pada Lomba Musikalisasi Puisi di Unud, Komunitas Budang Bading Badung Makin Kompak
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yudhistira ANM Massardi: Menanti Safari Puisi ke Bali

Next Post

Kualitas Hidup Penderita Kanker

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Kualitas Hidup Penderita Kanker

Kualitas Hidup Penderita Kanker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co