14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
November 22, 2023
in Khas
Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

Yoga Anugraha dan Heri Windi Anggara dalam workshop musikalisasi puisi Komunitas Mahima | Foto: Mahima/Amri

TANGGAL 19 November lalu, saya mengikuti workshop alih wahana karya sastra ke musikalisasi puisi di Komunits Mahima, Singaraja. Workshop ini adalah salah satu bagian dari kegiatan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima bekerjasama dengan Badan Bahasa, Kemendikbudristek RI.

Pemateri workshop musikalisasi puisi ini adalah Heri Windi Anggara dan Yoga Anugraha.  Nama dua pemateri itu mungkin tidak asing bagi mereka yang sudah berkutat di dunia musikalisasi puisi, namun akan saya perkenalkan sedikit soal mereka. Heri Windi Anggara adalah seorang musisi dari kelompok Sekali Pentas yang pada tahun 2017 melangsungkan konser musikalisasi puisi bertajuk ‘Siapa Berani Menemani Mati’ dan salah satu penyaji Adilango Musikalisasi Puisi ‘Suara Kata Alam Semesta’ Festival Seni Bali Jani IV.

Yoga Anugraha | Foto: Mahima/Amri

Sedangkan Yoga Anugraha adalah seorang komposer musik dari kelompok Budang Bading Badung yang beberapa bulan lalu terpilih dalam Open Call penyaji Utsawa Festival Bali Jani V.

Dalam konteks workshop musikalisasi puisi, peserta yang hadir tergolong banyak. Kurang lebih ada sekitar 4 kelompok yang terbentuk. Kembali pada workshop, materi disajikan pertama oleh Heri. Heri menyinggung terlebih dahulu soal sejarah musikalisasi puisi.

Dari hasil risetnya, dikatakan musikalisasi puisi sudah ada semenjak jaman Sunan Kalijaga. Lebih lanjut lagi, di Bali secara khususnya, awalnya muspus berkembang di tiga kabupaten (Buleleng, Denpasar, Jembrana) terlebih dahulu sekitar tahun 1960an atau mungkin lebih awal.

Heri juga menyampaikan, di Kabupaten Denpasar kala itu ada Tan Lioe Ie dan Wayan Gde Yudane, di Jembrana ada Nanoq da Kansas dan di Buleleng ada Agung Brawida. Kala itu, 3 kabupaten itulah yang sering terlihat menampilkan musikalisasi puisi. Kemudian berkembang diikuti Gianyar, Karangasem dan seterusnya. Setelah penyampaian itu barulah dilanjutkan pada pemaparan materi.

Heri Windi Anggara | Foto: Mahima/Amri

Heri secara spesifik menyampaikan bahwa apa yang akan disampaikan hanyalah salah satu dari banyak cara untuk menciptakan musikalisasi puisi. Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan untuk menciptakan musikalisasi puisi (setelah menentukan puisi pastinya).

Pertama, tentukan tema puisi dan tema (genre) musik. Seusai menentukan puisi coba tentukan tema puisi. Entah itu romantis, sedih atau yang lain. Soal genre, juga boleh ditentukan oleh tahun pembuatan puisi.

Misalnya tahun 1960an genre yang sedang trending adalah folks, jadi genre itu bisa dipilih untuk puisi-puisi tahun 1960an. Sedikit sejarah soal genre, genre blues adalah bentuk luapan emosi/perlawanan dari kaum kulit hitam kala itu. Jadi jika memilih genre ini, tentulah tema puisi yang diambil baiknya tema-tema tentang perlawanan.

Suasana workshop | Foto: Mahima/Amri

Kedua, lakukan pembacaan puisi. Dari gaya pembacaan itu coba dibuat simbol yang menunjukkan naik turun nada/intonasi dan juga pemenggalan/jeda nafas kalimat atau kata. Pembacaan bisa dilakukan dengan bersenandung. Penjedaan nafas juga menentukan apa arti kata yang disebut dan bagaimana nada yang dibuat. Misalnya dalam frasa ‘Aku diam diam diam mencintaimu’, jika jeda yang diambil adalah ‘Aku diam. diam. diam. mencintaimu’ dan dibandingkan dengan jeda ‘Aku diam diam. diam mencintaimu’ tentu memiliki makna berbeda.

Frasa pertama tidak melakukan apa-apa dalam mencintai sedangkan frasa kedua artinya mencintai dengan diam-diam. Begitu pula pada nada yang akan dibuat. Tidak mungkin kita akan akan menggunakan satu nafas dalam frasa pertama jika penjedaan seperti itu dan begitu pula sebaliknya.

Heri menekankan sebaiknya berusaha ikuti terlebih dahulu garis-garis yang sudah dibuat. Hal ini untuk membiasakan kita bergerak sistematis. Meskipun sebenarnya kita sudah bisa atau lebih mudah menciptakan dengan gaya berbeda.

Ketiga, tentukan tema kecil (tema dalam). Maksudnya, jika puisi yang kalian pilih adalah puisi bertema sedih atau senang, maka tema kecil adalah tema yang kalian pilih untuk menunjukan bagaimana perasaan sedih atau senang kalian. Misalnya senang yang menggebu-gebu atau sedih yang marah-marah.

Keempat, rasa. Mengapa rasa yang terakhir dan bukan yang pertama? Karena rasa bisa berubah dengan cepat. Hari ini bisa saja kita sedang sangat sedih, sehingga puisi yang sebenarnya senang jadi memiliki nada yang sedih. Keesokan harinya, ketika kita senang, maka akan terasa tak masuk akal nada yang kita ciptakan kemarin.

Setelah keempat hal itu terpenuhi, akan sangat mudah membuat nada. Yang perlu dilakukan adalah mengaransemen nada sesuai dengan simbol, jeda, tema dan pilihan genre yang dipilih. Jadi misalnya dalam simbol terlihat simbol yang naik keatas, maka nada dibuat naik, saat simbol turun, maka nada turun dan seterusnya. Demikian pula soal pemenggalan. Ketika simbol terpenggal, maka nada berhenti disana dan dilanjutkan kembali setelah jeda.

Suasana workshop | Foto: Mahima/Amri

Kurang lebih itu pemaparan materi yang disampaikan oleh Heri soal penciptaan musikalisasi puisi. Materi kemudian dilanjutkan oleh Yoga Anugraha. Jika Heri memaparkan soal cara membuat nada, maka Yoga lebih berfokus pada tahap mengolah nada dan melodi musik.

Kasarnya, anggaplah kalian telah mengikuti semua arahan Heri dalam tahap sebelumnya dan sudah berhasil mengaransemen sebuah puisi, sudah pasti tidak hanya akan berhenti disana kan? Kalian belum menentukan bagaimana baiknya musik berbunyi.

Yoga memberi contoh satu puisi dari Moch Satrio Welang (Agak sulit bagi saya untuk menjelaskan bagian workshop ini karena saya tak bisa menjelaskan bagaimana bunyi musiknya secara detail). Kurang lebih, apapun bentuknya, bunyi musik harus berangkat dari puisi. Jangan dibalik. Mungkin dalam mengaransemen lagu lain, musik bisa ditentukan terlebih dahulu lalu lirik atau syair mengikuti. Tapi hal itu tidak berlaku untuk musikalisasi puisi.

Misalnya baris awal puisi ada kata ‘berjalan’ dan ‘melangkah’, sebagus apapun bunyi alunan rhytm cepat alat musik kalian, baiknya tak dijadikan pilihan. Karena kata yang tertulis adalah berjalan dan melangkah. Tentu alunan yang baiknya dipilih adalah alunan yang lebih pelan sehingga gambaran orang berjalan atau melangkah lebih terasa (Paragraf ini adalah kesimpulan saya pribadi dari hasil melihat contoh musik yang dimainkan oleh Yoga).

Demikian pemaparan kedua pemateri yang ditutup dengan pertunjukan musikalisasi puisi Melodia karya Umbu Landu Paranggi aransemen mereka. Selanjutnya kelompok peserta yang hadir diminta langsung untuk mencoba mengaransemen dengan dipandu mereka berdua. Semua kelompok terlihat sudah siap dengan puisi masing-masing, termasuk saya.

Dalam diskusi lebih lanjut ketika sedang proses pembuatan lagu, saya sadar bahwa proses pembuatan musikalisasi puisi dengan metode yang dijelaskan tadi, punya kemiripan dengan melukis.

Apa yang dipaparkan Heri adalah bagaimana kita melukis realis dan apa yang dipaparkan Yoga adalah bagaimana kita membuat lukisan itu lebih realistis. Ketika kita melukis realis, misalnya melukis pohon, kita sudah punya patokan soal bagaimana bentuk pohon. Yang perlu dilakukan hanyalah mengikuti bentuk pohon. Tidak usah membuat pohon itu menjadi surealis dengan menambahkan mulut, tangan, telinga atau hal-hal lainnya. Apalagi dijadikan abstrak, jangan dulu. Cukup lukis pohon saja.

Nah setelah berhasil melukis pohon berulang-ulang dengan baik dan terlihat realis, barulah kita mulai mengeksplorasi disana. Misalnya tambahkan detail guratan pada daunnya, warna yang kecoklatan di beberapa bagian, tambahkan buah atau tambah ranting dan seterusnya. Sesudah kita berhasil membuat lukisan realis yang realistis, barulah kita beranjak menuju surealis dan seterusnya sampai abstrak.

Bisa saya simpulkan, dalam proses pembuatan musikalisasi puisi, kita jangan membuat musikalisasi puisi itu terkesan seram karena ada kata ‘puisi’nya disana. Sederhananya, ketika ingin membuat musikalisasi puisi sebagai pemula, tidak ada salahnya memilih puisi yang sederhana dan ‘cair’ terlebih dahulu. Bagaimana cara menentukan puisinya?

Ya itu, kalau kalian kesulitan menentukan tema, kesulitan memilih dimana jeda atau pemenggalan, kesulitan memahami puisi lebih dalam dan entah kalian senang atau sedih tapi tetap tak bisa menentukan bagaimana nadanya, mungkin puisi itu terlalu sulit bagi kalian. Jika puisi yang kalian pilih bisa kalian berikan simbol sesuai pemaparan pemateri, saya yakin aransemen akan jadi. Buktinya semua kelompok yang mendengar sampai akhir, berhasil mengaransemen dan mementaskan musikalisasi puisi mereka di akhir acara. [T]

Terbaik pada Lomba Musikalisasi Puisi di Unud, Komunitas Budang Bading Badung Makin Kompak
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yudhistira ANM Massardi: Menanti Safari Puisi ke Bali

Next Post

Kualitas Hidup Penderita Kanker

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Kualitas Hidup Penderita Kanker

Kualitas Hidup Penderita Kanker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co