24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

A.A.N. Anggara Surya by A.A.N. Anggara Surya
November 22, 2023
in Khas
Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima

Yoga Anugraha dan Heri Windi Anggara dalam workshop musikalisasi puisi Komunitas Mahima | Foto: Mahima/Amri

TANGGAL 19 November lalu, saya mengikuti workshop alih wahana karya sastra ke musikalisasi puisi di Komunits Mahima, Singaraja. Workshop ini adalah salah satu bagian dari kegiatan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang diselenggarakan oleh Komunitas Mahima bekerjasama dengan Badan Bahasa, Kemendikbudristek RI.

Pemateri workshop musikalisasi puisi ini adalah Heri Windi Anggara dan Yoga Anugraha.  Nama dua pemateri itu mungkin tidak asing bagi mereka yang sudah berkutat di dunia musikalisasi puisi, namun akan saya perkenalkan sedikit soal mereka. Heri Windi Anggara adalah seorang musisi dari kelompok Sekali Pentas yang pada tahun 2017 melangsungkan konser musikalisasi puisi bertajuk ‘Siapa Berani Menemani Mati’ dan salah satu penyaji Adilango Musikalisasi Puisi ‘Suara Kata Alam Semesta’ Festival Seni Bali Jani IV.

Yoga Anugraha | Foto: Mahima/Amri

Sedangkan Yoga Anugraha adalah seorang komposer musik dari kelompok Budang Bading Badung yang beberapa bulan lalu terpilih dalam Open Call penyaji Utsawa Festival Bali Jani V.

Dalam konteks workshop musikalisasi puisi, peserta yang hadir tergolong banyak. Kurang lebih ada sekitar 4 kelompok yang terbentuk. Kembali pada workshop, materi disajikan pertama oleh Heri. Heri menyinggung terlebih dahulu soal sejarah musikalisasi puisi.

Dari hasil risetnya, dikatakan musikalisasi puisi sudah ada semenjak jaman Sunan Kalijaga. Lebih lanjut lagi, di Bali secara khususnya, awalnya muspus berkembang di tiga kabupaten (Buleleng, Denpasar, Jembrana) terlebih dahulu sekitar tahun 1960an atau mungkin lebih awal.

Heri juga menyampaikan, di Kabupaten Denpasar kala itu ada Tan Lioe Ie dan Wayan Gde Yudane, di Jembrana ada Nanoq da Kansas dan di Buleleng ada Agung Brawida. Kala itu, 3 kabupaten itulah yang sering terlihat menampilkan musikalisasi puisi. Kemudian berkembang diikuti Gianyar, Karangasem dan seterusnya. Setelah penyampaian itu barulah dilanjutkan pada pemaparan materi.

Heri Windi Anggara | Foto: Mahima/Amri

Heri secara spesifik menyampaikan bahwa apa yang akan disampaikan hanyalah salah satu dari banyak cara untuk menciptakan musikalisasi puisi. Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan untuk menciptakan musikalisasi puisi (setelah menentukan puisi pastinya).

Pertama, tentukan tema puisi dan tema (genre) musik. Seusai menentukan puisi coba tentukan tema puisi. Entah itu romantis, sedih atau yang lain. Soal genre, juga boleh ditentukan oleh tahun pembuatan puisi.

Misalnya tahun 1960an genre yang sedang trending adalah folks, jadi genre itu bisa dipilih untuk puisi-puisi tahun 1960an. Sedikit sejarah soal genre, genre blues adalah bentuk luapan emosi/perlawanan dari kaum kulit hitam kala itu. Jadi jika memilih genre ini, tentulah tema puisi yang diambil baiknya tema-tema tentang perlawanan.

Suasana workshop | Foto: Mahima/Amri

Kedua, lakukan pembacaan puisi. Dari gaya pembacaan itu coba dibuat simbol yang menunjukkan naik turun nada/intonasi dan juga pemenggalan/jeda nafas kalimat atau kata. Pembacaan bisa dilakukan dengan bersenandung. Penjedaan nafas juga menentukan apa arti kata yang disebut dan bagaimana nada yang dibuat. Misalnya dalam frasa ‘Aku diam diam diam mencintaimu’, jika jeda yang diambil adalah ‘Aku diam. diam. diam. mencintaimu’ dan dibandingkan dengan jeda ‘Aku diam diam. diam mencintaimu’ tentu memiliki makna berbeda.

Frasa pertama tidak melakukan apa-apa dalam mencintai sedangkan frasa kedua artinya mencintai dengan diam-diam. Begitu pula pada nada yang akan dibuat. Tidak mungkin kita akan akan menggunakan satu nafas dalam frasa pertama jika penjedaan seperti itu dan begitu pula sebaliknya.

Heri menekankan sebaiknya berusaha ikuti terlebih dahulu garis-garis yang sudah dibuat. Hal ini untuk membiasakan kita bergerak sistematis. Meskipun sebenarnya kita sudah bisa atau lebih mudah menciptakan dengan gaya berbeda.

Ketiga, tentukan tema kecil (tema dalam). Maksudnya, jika puisi yang kalian pilih adalah puisi bertema sedih atau senang, maka tema kecil adalah tema yang kalian pilih untuk menunjukan bagaimana perasaan sedih atau senang kalian. Misalnya senang yang menggebu-gebu atau sedih yang marah-marah.

Keempat, rasa. Mengapa rasa yang terakhir dan bukan yang pertama? Karena rasa bisa berubah dengan cepat. Hari ini bisa saja kita sedang sangat sedih, sehingga puisi yang sebenarnya senang jadi memiliki nada yang sedih. Keesokan harinya, ketika kita senang, maka akan terasa tak masuk akal nada yang kita ciptakan kemarin.

Setelah keempat hal itu terpenuhi, akan sangat mudah membuat nada. Yang perlu dilakukan adalah mengaransemen nada sesuai dengan simbol, jeda, tema dan pilihan genre yang dipilih. Jadi misalnya dalam simbol terlihat simbol yang naik keatas, maka nada dibuat naik, saat simbol turun, maka nada turun dan seterusnya. Demikian pula soal pemenggalan. Ketika simbol terpenggal, maka nada berhenti disana dan dilanjutkan kembali setelah jeda.

Suasana workshop | Foto: Mahima/Amri

Kurang lebih itu pemaparan materi yang disampaikan oleh Heri soal penciptaan musikalisasi puisi. Materi kemudian dilanjutkan oleh Yoga Anugraha. Jika Heri memaparkan soal cara membuat nada, maka Yoga lebih berfokus pada tahap mengolah nada dan melodi musik.

Kasarnya, anggaplah kalian telah mengikuti semua arahan Heri dalam tahap sebelumnya dan sudah berhasil mengaransemen sebuah puisi, sudah pasti tidak hanya akan berhenti disana kan? Kalian belum menentukan bagaimana baiknya musik berbunyi.

Yoga memberi contoh satu puisi dari Moch Satrio Welang (Agak sulit bagi saya untuk menjelaskan bagian workshop ini karena saya tak bisa menjelaskan bagaimana bunyi musiknya secara detail). Kurang lebih, apapun bentuknya, bunyi musik harus berangkat dari puisi. Jangan dibalik. Mungkin dalam mengaransemen lagu lain, musik bisa ditentukan terlebih dahulu lalu lirik atau syair mengikuti. Tapi hal itu tidak berlaku untuk musikalisasi puisi.

Misalnya baris awal puisi ada kata ‘berjalan’ dan ‘melangkah’, sebagus apapun bunyi alunan rhytm cepat alat musik kalian, baiknya tak dijadikan pilihan. Karena kata yang tertulis adalah berjalan dan melangkah. Tentu alunan yang baiknya dipilih adalah alunan yang lebih pelan sehingga gambaran orang berjalan atau melangkah lebih terasa (Paragraf ini adalah kesimpulan saya pribadi dari hasil melihat contoh musik yang dimainkan oleh Yoga).

Demikian pemaparan kedua pemateri yang ditutup dengan pertunjukan musikalisasi puisi Melodia karya Umbu Landu Paranggi aransemen mereka. Selanjutnya kelompok peserta yang hadir diminta langsung untuk mencoba mengaransemen dengan dipandu mereka berdua. Semua kelompok terlihat sudah siap dengan puisi masing-masing, termasuk saya.

Dalam diskusi lebih lanjut ketika sedang proses pembuatan lagu, saya sadar bahwa proses pembuatan musikalisasi puisi dengan metode yang dijelaskan tadi, punya kemiripan dengan melukis.

Apa yang dipaparkan Heri adalah bagaimana kita melukis realis dan apa yang dipaparkan Yoga adalah bagaimana kita membuat lukisan itu lebih realistis. Ketika kita melukis realis, misalnya melukis pohon, kita sudah punya patokan soal bagaimana bentuk pohon. Yang perlu dilakukan hanyalah mengikuti bentuk pohon. Tidak usah membuat pohon itu menjadi surealis dengan menambahkan mulut, tangan, telinga atau hal-hal lainnya. Apalagi dijadikan abstrak, jangan dulu. Cukup lukis pohon saja.

Nah setelah berhasil melukis pohon berulang-ulang dengan baik dan terlihat realis, barulah kita mulai mengeksplorasi disana. Misalnya tambahkan detail guratan pada daunnya, warna yang kecoklatan di beberapa bagian, tambahkan buah atau tambah ranting dan seterusnya. Sesudah kita berhasil membuat lukisan realis yang realistis, barulah kita beranjak menuju surealis dan seterusnya sampai abstrak.

Bisa saya simpulkan, dalam proses pembuatan musikalisasi puisi, kita jangan membuat musikalisasi puisi itu terkesan seram karena ada kata ‘puisi’nya disana. Sederhananya, ketika ingin membuat musikalisasi puisi sebagai pemula, tidak ada salahnya memilih puisi yang sederhana dan ‘cair’ terlebih dahulu. Bagaimana cara menentukan puisinya?

Ya itu, kalau kalian kesulitan menentukan tema, kesulitan memilih dimana jeda atau pemenggalan, kesulitan memahami puisi lebih dalam dan entah kalian senang atau sedih tapi tetap tak bisa menentukan bagaimana nadanya, mungkin puisi itu terlalu sulit bagi kalian. Jika puisi yang kalian pilih bisa kalian berikan simbol sesuai pemaparan pemateri, saya yakin aransemen akan jadi. Buktinya semua kelompok yang mendengar sampai akhir, berhasil mengaransemen dan mementaskan musikalisasi puisi mereka di akhir acara. [T]

Terbaik pada Lomba Musikalisasi Puisi di Unud, Komunitas Budang Bading Badung Makin Kompak
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Memperdebatkan Kembali Tentang Alat Musik Akustik dalam Musikalisasi Puisi
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Yudhistira ANM Massardi: Menanti Safari Puisi ke Bali

Next Post

Kualitas Hidup Penderita Kanker

A.A.N. Anggara Surya

A.A.N. Anggara Surya

Pemain teater, menulis puisi dan cerpen. Tulisannya berupa ulasan pementasan teater sering dimuat di media massa. Kini sedang menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris, Undiksha, Singaraja.

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Kualitas Hidup Penderita Kanker

Kualitas Hidup Penderita Kanker

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co