3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mangku Mariase dan Obrolan Seputar Terumbu Karang di Buleleng

Gede Dedy Arya Sandy by Gede Dedy Arya Sandy
November 2, 2023
in Khas
Mangku Mariase dan Obrolan Seputar Terumbu Karang di Buleleng

I Putu Mangku Mariase | Foto: Dok. Penulis

“Keberhasilan sebuah gerakan konservasi adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat, bukan hanya keberhasilan sebuah pelestarian lingkungan itu sendiri.”— I Putu Mangku Mariase.

SELAIN mempunyai wisata alam perbukitan dengan pemandangan yang indah, Buleleng juga mempunyai wisata bawah laut yang tak kalah indah—jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di Bali—yang membentang dari ujung timur sampai ujung barat wilayahnya.

Bila berbicara tentang wisata bawah laut yang ada di Buleleng, sangat tepat rasanya kita ngobrol bersama dengan empunya, yakni  I Putu Mangku Mariase, laki-laki kelahiran 1978 yang berprofesi sebagai scuba instructor itu. (Scuba instructor adalah orang yang bertanggung jawab untuk memberikan rekomendasi kelayakan kepada seseorang berhak atau tidak untuk mendapat sertifikasi sebagai penyelam di jenjangnya.)

Berbekal kemampuanya dalam berbahasa Inggris—yang sudah ia pelajari sejak SMP—Mangku lebih mudah berinteraksi dengan para bule. Tak hanya pandai berbahasa asing, pada saat di STM ia termasuk siswa berperestasi. Ia mengatakan, pada saat itu sering mendapat peringkat satu di jurusanya—bahkan sempat mendapatkan beasiswa kuliah gratis ke salah satu politeknik negeri di Jawa, namun ia tidak mengambilnya.

Mangku mengawali kariernya sebagai penyelam bermula setelah lulus dari STM, setelah sekian lama luntang-lantung seperti para remaja umumnya. Saat itu ia mengikuti kakak perempuanya bekerja di salah satu perusahaan penyedia jasa penyelaman rekreasi terbesar di Buleleng, tepatnya di daerah Lovina, Desa Kaliasem. Nama tempatnya adalah Spice Dive: Pusat Jasa Penyelaman Berbintang Lima Satu-satunya di Bali Utara.

“Kalau saja saya ambil, mungkin sekarang saya sudah menjadi guru di STM. Sebab memang begitulah programnya pada saat itu. Tapi sekarang toh pada akhirnya saya tetap menjadi guru—menjadi dive instructor,” ujarnya, tersenyum.

Tapi untuk menjadi penyelam, perjuangannya juga tidak mudah. Bukan ujug-ujug bisa langsung menjadi dive instructor, katanya. Ia meniti karier dari bawah. Mengikuti dan menikmati tahapan-tahapanya.

Sebelum menjadi seperti sekarang, awalnya ia mengaku hanya menjadi tukang refil tabung selam, perbaiki alat selam, tukang cuci alat selam, tukang fitting alat selam tamu yang akan menyelam, juga guide snorkeling. “Full meng-hendle tamu ke lapangan. Tetapi cuman berenang lihat-lihat pemandangan bawah laut dari permukaan air saja,” terangnya. Nah, dari sini ia sudah mulai berinteraksi langsung dengan bule-bule.

Mangku mengatakan bahwa awal mula ia menyelam itu pada usia 18 tahun, karena saat itu perusahaan memang ingin merekrut penyelam dengan dasar yang kuat. Artinya para penyelam yang memang tahu instrumen dari alat yang dipakai itu layak atau tidak, atau udara dalam tabung itu layak atau tidak, agar nanti tidak berisiko fatal pada saat penyelaman.

“Tak semua orang bisa menjadi penyelam, sebab mereka harus mengikuti beberpa tes fisik, psikologi, bahasa, juga harus menyertakan hasil rogten paru-paru. Tes kekuatan fisik itu di antaranya tes kekuatan berenang tanpa alat bantu sepanjang hampir satu kilo meter,” terangnya.

Kurang lebih begitulah proses untuk menjadi seorang penyelam profesional. Jadi, kesimpulannya seorang penyelam tidak sekadar hanya mengandalkan modal bisa berenang saja. Apalagi hanya bermodal bisa bahasa asing lalu plang-plung lansung nyilem. Bukan seperti itu!

Menjadi penyelam profesional juga ada jenjangnya, di antaranya, open water diver (hanya boleh ke kedalaman 18 meter); advanced (bisa sampai ke kedalaman 40 meter tetapi dalam batas rekreasi saja—no decompression dive); emergency first response “P3K” (penyelam pro yang sudah tahu cara membalut luka, memberikan pernapasan buatan, dll).

Selanjutnya, ada resciue diver (tim penyelamat, membantu orang-orang tenggelam atau juga mencari mayat, seperti tim SAR); dive master (meng-hendle tamu  di dalam diving rekreasi); assistant instructor; dan scuba instructor—posisi Mangku saat ini. Dan dari sekian jenjang itu, yang paling tinggi posisinya adalah course director, para pencetak instructor.

Kesadaran Menjaga Alam

Kesadaran, apa pun itu, kadang muncul secara tak terduga. Bisa saja terpantik oleh lingkungan, pengalaman, pencerahan, dan ilmu pengetahuan. Dan ia—kesadaran itu—tak pandang bulu. Ia bisa menghampiri siapa pun yang dihendakinya.

Seperti Mangku Mariase, misalnya. Saat ini, seiring waktu berjalan, alih-alih fokus di dunia penyelaman, perlahan mindset-nya sedikit demi sedikit berubah lebih fokus untuk memperbaiki alam bawah laut, sekecil apa pun yang ia bisa.

Dulu, tujuanya memang hanya menyelam; mengajak tamu lalu dapat uang. Tapi sekarang ia mulai merawat trumbu karang bersama masyarakat pesisir—masyarakat yang perduli pada masa depan kehidupan bawah laut.

Tak main-main, saat ini ia dipercaya sebagai pembina konservasi alam keluarga nelayan di Kalimantan Timur dalam program tahunan TJSL (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan) yang dananya dikeluarkan oleh  Pupuk Kaltim sebagai perusahaan BUMN.

Pabrik pupuk terbesar di Asia Tenggara itu, untuk TJSL, menggelontorkan dana sebesar 70 milyar per tahun. Dana itu disalurkan ke tracking mangrove (wisata mangrove), beasiswa sekolah, pelatihan konservasi alam, pelatihan kerajinan rumah, pendampingan sampai permodalan ekonomi kreatif. Atas usaha tersebut, saat ini nelayan-nelayan di Kaltim tak lagi melakukan pengeboman ikan. Mereka justru ikut terlibat dalam konservasi laut.

Saat bercerita mengenai TJSL di Kalimantan Timur, Mangku diam-diam membayangkan—atau lebih tepatnya berharap—seandainya perusahaan BUMN yang ada di Buleleng mampu mengeluarkan dana TJSL bukan sekadar hanya untuk pendidikan dan perbaikan tempat ibadah. Tapi juga untuk perbaikan lingkungan.

“Misalnya melibatkan Subak untuk perawatan sungai. Supaya mereka bisa membersihkannya dari sampah plastik.  Atau memberikan dana penghijauan. Ini bukan hanya berlaku untuk perusahaan BUMN saja, tapi juga BUMD. Ini demi masa depan lingkungan kita di Buleleng!” ujarnya, tegas.

Tanya Jawab

Bagaimana ceritanya Bli Mangku bisa dilirik atau direkrut oleh perusahaan Pupuk Kaltim?

Sebenarnya berawal dari satu tahun lalu. Saya sempat ke sana, mengajar divisi TJSL. Dan dari sana mereka tahu bahawa saya juga bergerak di bidang konservasi. Jadi, pada saat berangkat kedua kalinya, saya diminta untuk menjadi delegasi konservasi, yaitu untuk memberikan metode-metode dan kiat-kiat konservasi. Sambil juga mengajar menyelam nelayan di daerah Bontang. Ya itung-itung menyebarkan virus-virus konservasi dari Bali Utara. Hehehe.

Terus, menurut Bli Mangku, di mana tempat trumbu karang paling bagus di Buleleng?

Mungkin di Penuktukan. Di sana trumbu karangnya sangat bagus, bahkan mungkin lebih bagus dari yang ada di Pemutera. Meskipun di Penuktukan sangat minim income, minim dukungan dari pemerintah dan cuma bermodal Pemdes juga kesadaran masyarakat, tapi terumbu karang di sana tetap top.

Saya dengar kabar-kabar dari media sosial, bukanya terumbu karang di Pemuteran itu lebih bagus?

Bukan Pemuteran saja. Jangan tanya Pemuteran, sebab mereka dapat sokongan dana besar dari pemerintah lokal maupun dana dari luar negeri. Dan itu terus mengalir. Dan terumbu karang mereka adalah terumbu buatan yang sangat susah diaplikasikan—karena metode biorock yang perlu pelajaran khusus dan juga biaya banyak.

Apa itu metode biorock?

Itu adalah proses elektrolisis air laut, yaitu dengan meletakkan dua elektroda di dasar laut dan dialiri dengan listrik tegangan rendah yang aman, sehingga memungkinkan mineral pada air laut mengkristal di atas elektroda.

Atau sederhananya, arus listrik itu akan lebih cepat merangsang tumbuhnya fospor, di mana bibit karang sangat suka menempel di sana. Dengan begitu, sangat masuk akal bila mereka memiliki terumbu karang yang bagus. Selain itu, mereka juga menikmati hasil dari itu, kan? Artinya, bila mereka merusak karang biorock itu, sama saja dengan bunuh diri—karena itu merupakan icon mereka.

Kalau Penuktukan bagaimana, Bli?

Penuktukan itu alami—meskipun ada beberapa terumbu karang buatan. Itu pun dengan metode simpel, tak ribet. Jadi masyarakat awam pun akan mudah mengerti dan berpartisipasi. Sementara kalau dilihat dari perbandingan karangnya, di Pemuteran itu sebagian besar rahabilitasi, sedangkan yang di Penuktukan sebagian besar karang alami.

Perlu diingat, bahwa goal, keberhasilan dari konservasi terumbu karang adalah bukan hanya tentang pertumbuhan karang yang bagus, akan tetapi yang terpenting di setiap gerakan konservasi adalah juga tumbuhnya kesadaran masyarakat yang baik.

Lalu kenapa yang di Penuktukan tak begitu di lirik oleh pemerintah? Ya kita semua tahu bahwa pemerintah itu sangat jarang mau merintis. Istilah Balinya “ngalih tis dogen, nyan men be jadi mare masuk ngalih kontribusi” biasanya begitu.

Menurut Bli Mangku, bagaiman keadaan terumbu karang di Buleleng pada umumnya?

Keadaan terumbu karang di Buleleng dalam kondisi sakit, dan akan bisa disembuhkan dengan gerakan kesadaran kolektif, dari hulu sampai hilir. Mustahil terumbu karang akan sehat jika pihak dari hulu tidak dilibatkan!

Maksudnya, sungai-sungai harus seminim mungkin menyumbang pencemaran limbah padat maupun cair. Mayarakat pesisir juga harus mulai sadar bahwa laut itu adalah sumber kehidupanya. Mereka harus mulai menangkap ikan secara bijak, mulai ikut berpartisipasi dalam konservasi laut dan pesisir. Jadi, kalau terumbu karang sehat, ikan sehat, nelayan pun sehat.

Untuk di Buleleng, di daerah mana saja kegiatan konservasi saat ini? Dan bagaimana harapan Bli Mangku atas konservasi tersebut?

Untuk konservasinya masih di seputaran Tembok, Tejakula, Pacung, Kerobokan, Penimbangan, Lovina, Umanyar, dan Sumberkima.

Perkembangan industri scuba diving di Bali Utara sangat pesat, namun terlalu sedikit destinasi tempat penyelaman yang memenuhi kriteria sebagai spot rekreasi. Sehingga, aktivitas penyelaman hanya bisa terlaksana di beberapa tempat saja—dan itu berakibat dapat menyebabkan stresnya habitat peraiaran hingga kehancuran secara singkat.

Harapan ke depanya, pemandu wisata selam hendaknya memiliki kompetensi yang mumpuni sehingga mengetahui apa yang sebenarnya dimintai oleh para wisata selam wisman (bule). Sebab di daerah asal mereka hanya mengandalkan danau laut yang keruh juga dingin, minim ikan, dan itu bisa kita jadikan kesempatan untuk memperkenalkan bentang laut utara kita yang lebih dari 120 km.

Juga minimnya dedikasi—profesionalisme pemandu wisata selam bagaikan tombak yang tumpul. Mereka seperti kurang mengerti apa itu pariwisata. Kiranya pemerintah harus kembali menerapkan Sapta Pesona, yang menurut saya itulah sebenarnya sendi-sendi sebuah pariwisata yang tak akan terkalahkan oleh zaman di era sekarang.

Apa itu Sapta Pesona?

Aman, bersih, sejuk, indah, tertib, ramah, kenangan. Ini adalah konsep pariwisata di zaman Pak Harto—visit Indonesian year.

Memang ada efeknnya?

Sangat ada manfaatnya, sebab itu semua adalah dasar, sendi tubuh, atau tulangnya pariwisata, yang bisa membuat kokoh dan berdiri tegak. Jangan ngomong pariwisata kalau tidak bisa merintis dan berkomitmen untuk mewujudkan Sapta Pesona.

Coba bayangkan, bagaimana kalau situasinya tidak aman, tidak bersih, megaburan, semrawut, termasuk lalu lintas dan lingkunganya, apakah kita mau berwisata ke tempat seperti itu? Tentu tidak, kan.

Contoh di daerah Lovina itu, Candi Paduraksa ke arah pantai yang sempit. Bus nggak bisa masuk. Padahal ada parkir besar di area patung dolpin. Juga trotoar yang tingginya hampir 50 cm itu sangat tidak ramah untuk para pejalan kaki. Apalagi para penyandang disabilitas.

Sanitary juga minim, pelit toilet. Di daerah luar negeri toilet itu gratis. Kalau pun nantinya toilet perlu perawatan, hendaknya uangnya dijadikan satu di tiket masuk, bukanya justru orang kebelet distop, disuruh bayar dulu baru bisa masuk.

Desa adat juga harus aktif berpartisipasi lewat para Pecalangnya. Bila perlu, bentuk Pecalang Segara untuk mengawasi segala aktivitas di pesisir. Berikan mereka pelatihan agar mampu dan kompeten layaknya baywacth, lifeguard. Dengan begitu, wisatawan akan merasa nyaman, aman, dan suasana akan tertib.

Terkadang orang menertawakan proses karena mereka hanya mau menunggu hasil—dan itu adalah sifat buruk yang harus dirubah. Kita minim jiwa perintis. Walaupun pewaris, kita harus tetap merintis (berinovasi). Kalau tidak, berarti kita kan sakit batis (tidak bisa bergerak ke depan).[T]

Reporter: Gede Dedy Arya Sandy
Penulis: Gede Dedy Arya Sandy
Editor: Jaswanto

Baca juga artikel atau tulisan menarik lainnya GEDE DEDY ARYA SANDY

Tara Listiawan, Kesetiaan Membina Anak-anak Menari di Desa Padang Bulia
Orang-Orang Dusun Prabakula, Mengukir Kehidupan di Atas Pasir Hitam
Riwayat dan Prestasi Tim Bola Voli Padang Bulia Serta Persoalan yang Dihadapinya
Tags: balibulelengkonservasiterumbu karangtokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Begal Payudara: Ilusi Para Bandit ke Tubuh Perempuan — Tantangan Masyarakat Terdidik

Next Post

Jango Pramartha, Made Wianta, Paul Trinidad, dan Spirit Seni Indonesia-Australia dalam “Drawing Cosmic Mantra”

Gede Dedy Arya Sandy

Gede Dedy Arya Sandy

Kerap dijuluki "Orang Gila dari Utara". Pelukis dan seniman tato. Tinggal di desanya di Padangbulia sembali membuka studio melukis sekaligus studio tato. Jika datang ke studionya, ia banyak punya cerita menarik bukan hanya soal tato, tapi juga soal kehidupan

Related Posts

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
0
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

Read moreDetails

Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

by Emi Suy
June 1, 2026
0
Di Tengah Dunia yang Semakin Pintar, Manusia Jangan Sampai Kehilangan Hati

Catatan tentang AI, media sosial, dan manusia yang semakin sulit mendengar suara hatinya sendiri. KADANG-KADANG saya merasa bahwa perubahan terbesar...

Read moreDetails

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails
Next Post
Jango Pramartha, Made Wianta, Paul Trinidad, dan Spirit Seni Indonesia-Australia dalam “Drawing Cosmic Mantra”

Jango Pramartha, Made Wianta, Paul Trinidad, dan Spirit Seni Indonesia-Australia dalam “Drawing Cosmic Mantra”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?
Esai

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

by Rsi Suwardana
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co