2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
April 23, 2023
in Khas
Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji

Luh Soma, perempuan buruh bibit tanaman dari Desa Sudaji, Buleleng | Foto: Sri Widiastuti

DESA SUDAJI di Kecamatan Sawan, Buleleng, memang dikenal sebagai salah satu sentra pembibitan tanaman buah di Bali. Tapi tahukah kalian, banyak perempuan yang punya peran besar dalam proses pembibitan itu.

Status perempuan itu sebagai buruh. Namun mereka bekerja dengan dedikasi yang tinggi, tanpa meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka sebagai ibu rumah tangga.

Dua di antara banyak pekerja perempuan dalam sentra pembibitan tanaman buah itu adalah Luh Soma Murniati dan Luh Asti. Mereka sudah bekerja bertahun-tahun, dan hapal bagaimana proses pembibitan dari sejak disemai hingga dijual kepada petani.

25 Tahun Bekerja

Luh Soma Murniati merupakan seorang ibu rumah tangga yang lahir dan tinggal di Banjar Kaja Kangin, Desa Sudaji. Usianya 45 tahun. Ia memiliki dua orang anak. Suaminya juga kebetulan bekerja sebagai buruh bibit tanaman.

Ia sudah mulai menjadi pekerja buruh bibit tanaman sejak usianya masih remaja, sekitar sejak lebih dari 25 tahun lalu.  

“Saya mulai bekerja di bibit tanaman sudah dari remaja, ya kira-kira sekitar usia 19 tahunan,” ujarnya saat saya berkunjung ke rumahnya, Minggu, 16 April 2023.

Menjadi pekerja buruh bibit tanaman tidak semudah yang dibayangkan. Pagi harinya Luh Soma harus menyiapkan makanan untuk keluarga, bersih-bersih rumah, sembahyang dan lain sebagainya, sebelum dia berangkat kerja jam tujuh pagi.

Panas-panasan di bawah terik matahari sudah menjadi hal yang biasa ketika sedang bekerja. Ya, namanya juga resiko kerja, harus dihadapi. “Terkadang juga punggung dan pinggang terasa sakit setelah seharian bekerja,” katanya.

Pembibitan tanaman yang biasanya ia tangani adalah tanaman yang paling diminati oleh konsumen atau pembeli, seperti bibit durian, terutama jenis durian bangkok dan musang king.

Proses awal pembibitan dilakukan selama 3 bulan. Setelah itu masih banyak proses yang dilakukan sebelum bibit-bibit tanaman tersebut bisa dijual. Hingga sekitar kurang sekitar 12 bulan usia bibit itu, barulah bisa dijual.

Proses pengangkatan bibit tanaman, yang saat itu tinggi tanaman kurang lebih satu meter, biasanya dilakukan oleh laki-laki. Karena prosesnya cukup berat dan membutuhkan tenaga besar. Tidak mungkin rasanya dilakukan oleh perempuan. Tapi Luh Soma ini bisa melakukannya.

“Mungkin karena sudah terbiasa,” kata Lih Soma.

Pada proses penangkaran itu ada namanya pekerjaan ngebet bibit. Ngebet artinya mengangkat tanaman dari dalam tanah. Mengangkat bibit yang berada sekitar satu tahun dalam tanah, memang pekerjaan berat.

Biasanya ngebet bibit dilakukan sebelum musim hujan. Dan jumlah dalam sekali pengiriman kepada pembeli, biasanya mencapai 500 sampai bibit tanaman. Jadi dalam waktu yang cepat, sebanyak 500 bibit harus diangkat dari dalam tanah.

Luh Soma di antara bibit tanaman durian di Desa Sudaji, Buleleng | Foto: Sri Widiastuti

Harga bibit itu beragam, tergantung bibit apa yang dibeli. Dan tergantung juga, jika pembeli ngebet bibit sendiri, harga per satu bibit bisa lebih murah. Jika ngebet sendiri, harga bibit sepuluh ribu rupiah, maka jika si pembeli menginginkan bibit yang sudah siap untuk diangkut, harganya menjadi lima belas ribu rupiah.

Luh Soma juga membagikan cara membibit tanaman. Dia mengatakan ada dua cara yang biasanya dilakukan dalam pembibitan tanaman durian.

Yang pertama, ada teknik nembel. Dalam dunia pertanian disebut sebagai okulasi. Cara ini dilakukan dengan menempelkan mata tunas dari satu tanaman ke tanaman yang lain, kemudian diikat menggunakan tali dari plastik. Kemudian yang kedua, menggunakan metode sambung, dengan menggabungkan seluruh bagian pucuk tanaman ke satu tanaman lain.

Luh Soma adalah sosok yang sangat pekerja keras, tak jarang, dia siap untuk lembur bekerja dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam, jika ada pembeli yang lumayan banyak memesan bibit tanaman.

“Lelah memang, tapi jika terus mengeluh seperti itu, kapan penghasilan itu akan datang,” katanya.

Penghasilan Luh Soma seharinya bisa mencapai seratus ribu hingga seratus empat puluh ribu rupiah. Karena suaminya yang juga bekerja sebagai buruh, penghasilan keduanya digabung menjadi satu, untuk membiayai anak-anaknya yang masih bersekolah. Dan sebagian, digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti membeli beras, bahan masakan dapur dan keperluan rumah tangga lainnya.

Cerita Luh Asti

Luh Asti merupakan ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang tinggal di Banjar Dinas Desa, Desa Sudaji. Dia berusia sekitar 35 tahunan.

Anaknya yang paling kecil masih bersekolah di Sekolah Dasar dan anak pertamanya sudah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama.

Suaminya bekerja sebagai buruh tukang ukir sanggah, yakni tempat suci yang biasa digunakan masyarakat Hindu Bali untuk bersembahyang. Penghasilan suaminya tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengeluaran semua anggota keluarganya.

Sehingga, untuk menambah pemasukan keluarga. Luh Asti sering bekerja menjadi buruh bibit tanaman di desanya. Tempat bekerjanya pun berbeda-beda dan tidak di satu tempat, kadang di perusahaan bibit tanaman yang berada di banjar tempat tinggalnya, kadang juga di dekat tempat tinggal sepupunya.

Dia akan mengambil setiap pekerjaan sebagai buruh bibit tanaman yang ditawarkan. Informasi yang dia dapatkan biasanya datang dari teman-teman dan sepupu-sepupunya.

Seperti kebanyakan ibu pada umumnya, aktifitasnya sudah sangat padat di pagi hari. Sehingga terkadang dia sulit untuk membagi waktunya saat ada pekerjaan. Jika ada panggilan untuk bekerja, Luh Asti akan bangun jam empat pagi untuk pergi ke pasar, kemudian mulai memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya.

Karena anaknya yang paling kecil belum bisa mengganti baju dan mengepang rambut sendiri, Ibu Asti harus membantunya terlebih dahulu. Membungkus nasi untuk bekal suaminya bekerja dan juga sembahyang di pagi hari.

Luh Asti dari Desa Sudaji | Foto: Sri Widiastuti

Biasanya dia berangkat jam tujuh pagi dari rumah ke tempatnya bekerja, kemudian mendapat waktu istirahat siang untuk makan di jam setengah dua belas hingga jam setengah satu, lalu kembali bekerja hingga jam 5 sore.

“Bekerja sebagai buruh bibit dimulai dari membungkus akar tanaman yang baru diangkat dari tanahnya menggunakan kampil (karung beras bekas), kemudian diikat dengan tali plastik,” ujarnya.

Setelahnya, bibit-bibit tanaman itu akan dimasukkan ke dalam mobil truk, untuk dikirim ke pembeli. Medan jalan dari tempat pengambilan bibit ke jalan raya yang tidak bisa diakses secara langsung oleh mobil truk, membuat Luh Asti dan beberapa temannya mengangkut sendiri bibit-bibit tersebut dengan cara nyuun, atau menjunjung di atas kepala.

“Kami biasa membawa bibit-bibit tersebut menggunakan keranjang. Satu keranjang bisa terisi tujuh sampai delapan buah bibit,” kata Luh asti.

Berat bibit tanaman tersebut satu kilogram lebih perbibitnya, sehingga jika dijumlahkan keseluruhannya bisa mencapai delapan kilogram atau mungkin lebih. Beban yang tidak bisa dianggap remeh jika diangkat menggunakan kepala, oleh orang-orang yang belum terbiasa melakukannya.

Penghasilan yang didapat Luh Asti dari bekerja sebagai buruh bibit tanaman dalam sehari biasanya sembilan puluh ribu. “Saya bekerja dengan sistem borongan, untuk satu kelompok itu terdiri dari lima orang, mendapat uang 450 ribu. Dan nanti uang itu dibagi rata berlima,” tambahnya.

Luh Asti mengaku sudah melakukan pekerjaan ini setelah tamat Sekolah Dasar, dia mulai bekerja bersama ayahnya saat itu. Dahulu ketika belum terbiasa, dan umurnya masih sangat kecil, dia hanya mampu membawa satu sampai dua bibit saja, karena jarak yang ditempuh juga lumayan jauh untuk berjalan kaki.

Hingga setelahnya, dia sudah terbiasa untuk membawa bibit-bibit tersebut dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Sampai saat ini, setelah menikah dan memiliki dua orang anak, pekerjaan sebagai buruh bibit tanaman tersebut masih dilakukan untuk membantu keuangan keluarganya.

Menjadi seorang ibu rumah tangga dengan semua pekerjaan rumah yang tidak dapat ditinggalkan memang sangat melelahkan, ditambah lagi dengan bekerja sebagai buruh bibit tanaman yang sudah pasti menguras banyak tenaga.

Banyak sebenarnya para ibu yang juga bekerja sebagai buruh untuk membantu perekonomian keluarganya. Motivasi yang kuat membuat mereka mampu menjalaninya dengan semangat tanpa mudah mengeluh..[T].

*Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Sosok-sosok Kartini Buleleng, Dari Segala Lini Menebar Inspirasi Bagi Perempuan Buleleng
Desa Tajun Buka Destinasi Wisata Buah | Ayo, Berpesta Durian di Bawah Pohonnya…
Ketua DPRD, Pj. Bupati dan Sekda Buleleng Berlomba Makan Buah Lokal
Tags: bibit tanamanbuah durianbuah lokalbulelengDesa SudajiPerempuanPerempuan Balipertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Libur Idulfitri, Belajar dari Denpasar yang Sepi

Next Post

Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co