14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji

Kadek Sri Widiastuti by Kadek Sri Widiastuti
April 23, 2023
in Khas
Perempuan-perempuan “Pencipta” Bibit Tanaman Buah dari Desa Sudaji

Luh Soma, perempuan buruh bibit tanaman dari Desa Sudaji, Buleleng | Foto: Sri Widiastuti

DESA SUDAJI di Kecamatan Sawan, Buleleng, memang dikenal sebagai salah satu sentra pembibitan tanaman buah di Bali. Tapi tahukah kalian, banyak perempuan yang punya peran besar dalam proses pembibitan itu.

Status perempuan itu sebagai buruh. Namun mereka bekerja dengan dedikasi yang tinggi, tanpa meninggalkan pekerjaan-pekerjaan mereka sebagai ibu rumah tangga.

Dua di antara banyak pekerja perempuan dalam sentra pembibitan tanaman buah itu adalah Luh Soma Murniati dan Luh Asti. Mereka sudah bekerja bertahun-tahun, dan hapal bagaimana proses pembibitan dari sejak disemai hingga dijual kepada petani.

25 Tahun Bekerja

Luh Soma Murniati merupakan seorang ibu rumah tangga yang lahir dan tinggal di Banjar Kaja Kangin, Desa Sudaji. Usianya 45 tahun. Ia memiliki dua orang anak. Suaminya juga kebetulan bekerja sebagai buruh bibit tanaman.

Ia sudah mulai menjadi pekerja buruh bibit tanaman sejak usianya masih remaja, sekitar sejak lebih dari 25 tahun lalu.  

“Saya mulai bekerja di bibit tanaman sudah dari remaja, ya kira-kira sekitar usia 19 tahunan,” ujarnya saat saya berkunjung ke rumahnya, Minggu, 16 April 2023.

Menjadi pekerja buruh bibit tanaman tidak semudah yang dibayangkan. Pagi harinya Luh Soma harus menyiapkan makanan untuk keluarga, bersih-bersih rumah, sembahyang dan lain sebagainya, sebelum dia berangkat kerja jam tujuh pagi.

Panas-panasan di bawah terik matahari sudah menjadi hal yang biasa ketika sedang bekerja. Ya, namanya juga resiko kerja, harus dihadapi. “Terkadang juga punggung dan pinggang terasa sakit setelah seharian bekerja,” katanya.

Pembibitan tanaman yang biasanya ia tangani adalah tanaman yang paling diminati oleh konsumen atau pembeli, seperti bibit durian, terutama jenis durian bangkok dan musang king.

Proses awal pembibitan dilakukan selama 3 bulan. Setelah itu masih banyak proses yang dilakukan sebelum bibit-bibit tanaman tersebut bisa dijual. Hingga sekitar kurang sekitar 12 bulan usia bibit itu, barulah bisa dijual.

Proses pengangkatan bibit tanaman, yang saat itu tinggi tanaman kurang lebih satu meter, biasanya dilakukan oleh laki-laki. Karena prosesnya cukup berat dan membutuhkan tenaga besar. Tidak mungkin rasanya dilakukan oleh perempuan. Tapi Luh Soma ini bisa melakukannya.

“Mungkin karena sudah terbiasa,” kata Lih Soma.

Pada proses penangkaran itu ada namanya pekerjaan ngebet bibit. Ngebet artinya mengangkat tanaman dari dalam tanah. Mengangkat bibit yang berada sekitar satu tahun dalam tanah, memang pekerjaan berat.

Biasanya ngebet bibit dilakukan sebelum musim hujan. Dan jumlah dalam sekali pengiriman kepada pembeli, biasanya mencapai 500 sampai bibit tanaman. Jadi dalam waktu yang cepat, sebanyak 500 bibit harus diangkat dari dalam tanah.

Luh Soma di antara bibit tanaman durian di Desa Sudaji, Buleleng | Foto: Sri Widiastuti

Harga bibit itu beragam, tergantung bibit apa yang dibeli. Dan tergantung juga, jika pembeli ngebet bibit sendiri, harga per satu bibit bisa lebih murah. Jika ngebet sendiri, harga bibit sepuluh ribu rupiah, maka jika si pembeli menginginkan bibit yang sudah siap untuk diangkut, harganya menjadi lima belas ribu rupiah.

Luh Soma juga membagikan cara membibit tanaman. Dia mengatakan ada dua cara yang biasanya dilakukan dalam pembibitan tanaman durian.

Yang pertama, ada teknik nembel. Dalam dunia pertanian disebut sebagai okulasi. Cara ini dilakukan dengan menempelkan mata tunas dari satu tanaman ke tanaman yang lain, kemudian diikat menggunakan tali dari plastik. Kemudian yang kedua, menggunakan metode sambung, dengan menggabungkan seluruh bagian pucuk tanaman ke satu tanaman lain.

Luh Soma adalah sosok yang sangat pekerja keras, tak jarang, dia siap untuk lembur bekerja dari jam tujuh pagi hingga jam sembilan malam, jika ada pembeli yang lumayan banyak memesan bibit tanaman.

“Lelah memang, tapi jika terus mengeluh seperti itu, kapan penghasilan itu akan datang,” katanya.

Penghasilan Luh Soma seharinya bisa mencapai seratus ribu hingga seratus empat puluh ribu rupiah. Karena suaminya yang juga bekerja sebagai buruh, penghasilan keduanya digabung menjadi satu, untuk membiayai anak-anaknya yang masih bersekolah. Dan sebagian, digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti membeli beras, bahan masakan dapur dan keperluan rumah tangga lainnya.

Cerita Luh Asti

Luh Asti merupakan ibu rumah tangga dengan dua orang anak yang tinggal di Banjar Dinas Desa, Desa Sudaji. Dia berusia sekitar 35 tahunan.

Anaknya yang paling kecil masih bersekolah di Sekolah Dasar dan anak pertamanya sudah menginjak bangku Sekolah Menengah Pertama.

Suaminya bekerja sebagai buruh tukang ukir sanggah, yakni tempat suci yang biasa digunakan masyarakat Hindu Bali untuk bersembahyang. Penghasilan suaminya tidak seberapa jika dibandingkan dengan pengeluaran semua anggota keluarganya.

Sehingga, untuk menambah pemasukan keluarga. Luh Asti sering bekerja menjadi buruh bibit tanaman di desanya. Tempat bekerjanya pun berbeda-beda dan tidak di satu tempat, kadang di perusahaan bibit tanaman yang berada di banjar tempat tinggalnya, kadang juga di dekat tempat tinggal sepupunya.

Dia akan mengambil setiap pekerjaan sebagai buruh bibit tanaman yang ditawarkan. Informasi yang dia dapatkan biasanya datang dari teman-teman dan sepupu-sepupunya.

Seperti kebanyakan ibu pada umumnya, aktifitasnya sudah sangat padat di pagi hari. Sehingga terkadang dia sulit untuk membagi waktunya saat ada pekerjaan. Jika ada panggilan untuk bekerja, Luh Asti akan bangun jam empat pagi untuk pergi ke pasar, kemudian mulai memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya.

Karena anaknya yang paling kecil belum bisa mengganti baju dan mengepang rambut sendiri, Ibu Asti harus membantunya terlebih dahulu. Membungkus nasi untuk bekal suaminya bekerja dan juga sembahyang di pagi hari.

Luh Asti dari Desa Sudaji | Foto: Sri Widiastuti

Biasanya dia berangkat jam tujuh pagi dari rumah ke tempatnya bekerja, kemudian mendapat waktu istirahat siang untuk makan di jam setengah dua belas hingga jam setengah satu, lalu kembali bekerja hingga jam 5 sore.

“Bekerja sebagai buruh bibit dimulai dari membungkus akar tanaman yang baru diangkat dari tanahnya menggunakan kampil (karung beras bekas), kemudian diikat dengan tali plastik,” ujarnya.

Setelahnya, bibit-bibit tanaman itu akan dimasukkan ke dalam mobil truk, untuk dikirim ke pembeli. Medan jalan dari tempat pengambilan bibit ke jalan raya yang tidak bisa diakses secara langsung oleh mobil truk, membuat Luh Asti dan beberapa temannya mengangkut sendiri bibit-bibit tersebut dengan cara nyuun, atau menjunjung di atas kepala.

“Kami biasa membawa bibit-bibit tersebut menggunakan keranjang. Satu keranjang bisa terisi tujuh sampai delapan buah bibit,” kata Luh asti.

Berat bibit tanaman tersebut satu kilogram lebih perbibitnya, sehingga jika dijumlahkan keseluruhannya bisa mencapai delapan kilogram atau mungkin lebih. Beban yang tidak bisa dianggap remeh jika diangkat menggunakan kepala, oleh orang-orang yang belum terbiasa melakukannya.

Penghasilan yang didapat Luh Asti dari bekerja sebagai buruh bibit tanaman dalam sehari biasanya sembilan puluh ribu. “Saya bekerja dengan sistem borongan, untuk satu kelompok itu terdiri dari lima orang, mendapat uang 450 ribu. Dan nanti uang itu dibagi rata berlima,” tambahnya.

Luh Asti mengaku sudah melakukan pekerjaan ini setelah tamat Sekolah Dasar, dia mulai bekerja bersama ayahnya saat itu. Dahulu ketika belum terbiasa, dan umurnya masih sangat kecil, dia hanya mampu membawa satu sampai dua bibit saja, karena jarak yang ditempuh juga lumayan jauh untuk berjalan kaki.

Hingga setelahnya, dia sudah terbiasa untuk membawa bibit-bibit tersebut dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Sampai saat ini, setelah menikah dan memiliki dua orang anak, pekerjaan sebagai buruh bibit tanaman tersebut masih dilakukan untuk membantu keuangan keluarganya.

Menjadi seorang ibu rumah tangga dengan semua pekerjaan rumah yang tidak dapat ditinggalkan memang sangat melelahkan, ditambah lagi dengan bekerja sebagai buruh bibit tanaman yang sudah pasti menguras banyak tenaga.

Banyak sebenarnya para ibu yang juga bekerja sebagai buruh untuk membantu perekonomian keluarganya. Motivasi yang kuat membuat mereka mampu menjalaninya dengan semangat tanpa mudah mengeluh..[T].

*Penulis adalah mahasiswa prodi Ilmu Komunikasi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Sedang menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL) di tatkala.co.

Sosok-sosok Kartini Buleleng, Dari Segala Lini Menebar Inspirasi Bagi Perempuan Buleleng
Desa Tajun Buka Destinasi Wisata Buah | Ayo, Berpesta Durian di Bawah Pohonnya…
Ketua DPRD, Pj. Bupati dan Sekda Buleleng Berlomba Makan Buah Lokal
Tags: bibit tanamanbuah durianbuah lokalbulelengDesa SudajiPerempuanPerempuan Balipertanian
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Libur Idulfitri, Belajar dari Denpasar yang Sepi

Next Post

Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Kadek Sri Widiastuti

Kadek Sri Widiastuti

Lahir di Singaraja, tahun 2002. Saat ini sedang menempuh pendidikan di STAH N Mpu Kuturan Singaraja, Program Studi Ilmu Komunikasi

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post
Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Keadilan Gender dan Kemandirian Ekonomi bagi Perempuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co