24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

I Wayan Sukarta Yasa by I Wayan Sukarta Yasa
February 25, 2023
in Ulas Buku
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma karya Cok Sawitri

SETIAP KALI aku mendengar nama Sutasoma, hal pertama yang mencuat dalam pikiranku tertuju kepada semboyan bangsa kita (bangsa indonesia) yang diusulkan oleh Muhammad Yamin. Sloka “Bhinneka Tunggal Ika” yang dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Usul itu ia lontarkan kepada Soekarno dan bapak-bapak bangsa yang hadir pada saat itu. Muhammad Yamin mengambil sloka itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Secara lengkap bait 5 berbunyi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)

Kutipan sloka tersebut merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno yang sekian lama telah kukenal, versi “Kapustakan Jawi” karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah kisah yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India.

Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat yang tertuang didalam kitab ini mengajarkan kita akan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha.

Oleh sebab itu dalam usulannya Muhammad Yamin mengusulkan agar kutipan sloka tersebut digunakan sebagai semboyan bangsa kita, dengan konteks ia ingin menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di jagat nusantara ini (Indonesia).

Kedua, barulah pikiranku mengingatkanku pada sebuah novel masterpiece dari Cok Sawitri, perempuan pengarang dari Bali. Sutasoma, itulah nama dari karya Cok Sawitri tersebut, yang diilhami dari kitab Sutasoma (Purosadha) karya Mpu Tantular. Hal tersebut diperkuat dengan kutipan dari Wartono dan Still (1990:1) yang menyatakan bahwa pengarang adalah pembaca teks, dan hal tersebut sudah dapat dipastikan karena di Bali sendiri kakawin Sutasoma sangat dikenal dalam masyarakat.

Selain itu, pemikiran-pemikiran atau ide brilian dari Cok Sawitri, yang tertuang dalam buku ini memberikan warna yang beragam dalam penceritaan novel ini. Sehingga karya ini kaya akan berbagai sudut pandang yang mampu melahirkan sebuah penafsiran-penafsiran baru terhadap apa yang telah didengarkan oleh Cok Sawitri pada masa kecilnya.

Novel yang mengisahkan tentang Jayakanta, Raja Kerajaan Ratnakanda yang harus menyaksikan konflik dan carut-marut keluarga kerajaannya. Persaingan terselubung, politik istana yang saling tarik-menarik, hingga perebutan kekuasaan mewarnai perjalanan hidup Sang Raja dan menyebabkan Ratnakanda perlahan berada di ambang kehilangan Sang Raja mengembalikan kedaulatan Ratnakanda.

Dalam karya Cok Sawitri ini  sosok Jayantaka hadir hingga 14 bab pertama dan segera membius para pembaca untuk jatuh cinta pada karakternya yang gagah, sakti, dan cerdas. Jayantaka merupakan seorang raja yang dinobatkan pada masa perkabungan ayahnya dan meneruskan niatan Raja Sudasa untuk menegakkan dharma agama dan dharma negara.

Dengan ambisi yang begitu besar dan semangat perjuangannya yang bagaikan si jago merah yang sedang membara, Jayantaka justru meluaskan niatnnya tersebut bukan saja di negerinya sendiri, tetapi juga meluas ke negeri-negeri lain. Oleh karena itu Jayantaka berkaul kepada sang Kala yaitu 100 kepala raja dan oleh karena kaulnya tersebut ia dikenal sebagai Porusadha, raksasa pelahap kepala raja.

Seperti apa yang diceritakan dalam kakawin, dalam novel itu juga diceritakan bahwa Buddha bereinkarnasi dan menitis kepada putra Raja Hastina Prabu Mahaketu. Putranya bernama Sutasoma. Setelah dewasa Sutasoma rajin beribadah, cinta akan agama Buddha (Mahayana). Ia tidak senang akan dinikahkan dan dinobatkan menjadi raja.

Maka pada suatu malam, Sutasoma melarikan diri dari negara Hastina dan menuju ke hutan. Setibanya di hutan, Sutasoma bersembahyang dalam sebuah kuil. Lalu datanglah Dewi Widyukarali yang bersabda bahwa sembahyang Sutasoma telah diterima dan dikabulkan. Kemudian Sutasoma mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta.

Sesampainya di sebuah pertapaan, maka Sutasoma mendengarkan riwayat cerita seorang raja, reinkarnasi seorang raksasa yang senang makan manusia, Porusadha. Porusadha memiliki kaul akan mempersembahkan 100 raja kepada Sang Kala.

Pada saat yang sama, sedang terjadi perang antara Porusadha dan Raja Dasabahu, sepupu Sutasoma. Secara tidak sengaja ia menjumpai Sutasoma dan diajaknya pulang. Porusadha yang sudah mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada Batara Kala mendapati kenyataan bahwa Batara Kala tidak puas. Batara Kala baru mau menerima persembahan Porusadha bila ada Sutasoma.

Maka Porusadha menangkap Sutasoma yang tidak melawan. Sutasoma bersedia dimakan Batara Kala, asal ke 100 raja itu semua dilepaskan. Pengorbanan diri Sutasoma ini menyentuh hati Batara Siwa yang menitis pada Porusadha. Batara Siwa tahu bahwa Sutasoma adalah Sang Budha sendiri. Maka ditinggalkannya tubuh raksasa Porusadha dan ia kembali ke kahyangan. Porusadha akhirnya bertobat. Semua raja dilepaskan.

Karya sastra dari Cok Sawitri ini merupakan salah satu bentuk narasi fiksi sastra dan memanglah suatu yang niscaya mampu untuk menarik para pembaca, baik yang telah kenal dengan teks terdahulu atau belum. Ditambahkannya tokoh-tokoh baru seperti Belawa, Nini, ketiga istri Sudasa, anak-anak tiri Sudasa dan sekaligus saudara Jayantaka sekaligus penokohan baru atas tokoh-tokoh yang ada dalam teks terdahulu membuat novel ini “kaya amunisi”.

Bahkan boleh dibilang bukan hanya kaya amunisi, tetapi juga “gemuk” oleh pandangan-pandangan personal Cok Sawitri yang dititipkan ke dalam tiap tokoh yang ada sehingga membuat Sutasoma karya Cok Sawitri ini boleh dikatakan cukup berbeda.

Persoalan kebhinnekaan dalam teks terdahulu juga hadir di sini, namun tentu saja keempat dimensi toleransi antaragama yang ada di teks terdahulu kini tergantikan. Gantinya, adalah toleransi antara agama minoritas dan agama mayoritas. Jayantaka dalam teks Cok Sawitri mewakili agama minoritas, yang dalam pernyataan Cok Sawitri mewakili apa yang tengah diperjuangkannya adalah mewakili agama Tantrayana, sedang Sutasoma mewakili agama mayoritas, baik itu Hindu dalam konteks Bali atau agama mayoritas di Indonesia yakni Islam. Petuah dalam gubahan Cok Sawitri cukup jelas melansir keinginannya agar agama-agama mayoritas/besar tidak menghancurkan agama kecil, melainkan belajar untuk mentoleransi dalam semangat kebhinekaan yang dihembuskan oleh Sutasoma.

Kritik pada masyarakat kelas atas yang berada pada lingkaran istana juga mencuat dalam karya Cok Sawitri ini, yang dengan mudah bisa ditarik garis paralel antara negeri di bawah pimpinan Sudasa dan Jayantaka dengan negeri Indonesia ini. Sebuah paralelisme yang kurang lebih sama dilakukan Mpu Tantular sewaktu menggubah Sutasoma kali pertama dari teks aslinya. [T]

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Tags: Bhineka Tunggal IkaCok SawitrinovelSastra IndonesiaSutasoma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Next Post

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

I Wayan Sukarta Yasa

I Wayan Sukarta Yasa

Lahir di Sandan, 2002. Sedang menempuh pendidikan program S1 pada Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Hobi matembang dan menjadi juara dalam berbagai lomba geguritan dan lomba lain yang berkaitan dengan sastra Bali.

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co