12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

I Wayan Sukarta Yasa by I Wayan Sukarta Yasa
February 25, 2023
in Ulas Buku
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma karya Cok Sawitri

SETIAP KALI aku mendengar nama Sutasoma, hal pertama yang mencuat dalam pikiranku tertuju kepada semboyan bangsa kita (bangsa indonesia) yang diusulkan oleh Muhammad Yamin. Sloka “Bhinneka Tunggal Ika” yang dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Usul itu ia lontarkan kepada Soekarno dan bapak-bapak bangsa yang hadir pada saat itu. Muhammad Yamin mengambil sloka itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Secara lengkap bait 5 berbunyi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)

Kutipan sloka tersebut merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno yang sekian lama telah kukenal, versi “Kapustakan Jawi” karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah kisah yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India.

Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat yang tertuang didalam kitab ini mengajarkan kita akan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha.

Oleh sebab itu dalam usulannya Muhammad Yamin mengusulkan agar kutipan sloka tersebut digunakan sebagai semboyan bangsa kita, dengan konteks ia ingin menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di jagat nusantara ini (Indonesia).

Kedua, barulah pikiranku mengingatkanku pada sebuah novel masterpiece dari Cok Sawitri, perempuan pengarang dari Bali. Sutasoma, itulah nama dari karya Cok Sawitri tersebut, yang diilhami dari kitab Sutasoma (Purosadha) karya Mpu Tantular. Hal tersebut diperkuat dengan kutipan dari Wartono dan Still (1990:1) yang menyatakan bahwa pengarang adalah pembaca teks, dan hal tersebut sudah dapat dipastikan karena di Bali sendiri kakawin Sutasoma sangat dikenal dalam masyarakat.

Selain itu, pemikiran-pemikiran atau ide brilian dari Cok Sawitri, yang tertuang dalam buku ini memberikan warna yang beragam dalam penceritaan novel ini. Sehingga karya ini kaya akan berbagai sudut pandang yang mampu melahirkan sebuah penafsiran-penafsiran baru terhadap apa yang telah didengarkan oleh Cok Sawitri pada masa kecilnya.

Novel yang mengisahkan tentang Jayakanta, Raja Kerajaan Ratnakanda yang harus menyaksikan konflik dan carut-marut keluarga kerajaannya. Persaingan terselubung, politik istana yang saling tarik-menarik, hingga perebutan kekuasaan mewarnai perjalanan hidup Sang Raja dan menyebabkan Ratnakanda perlahan berada di ambang kehilangan Sang Raja mengembalikan kedaulatan Ratnakanda.

Dalam karya Cok Sawitri ini  sosok Jayantaka hadir hingga 14 bab pertama dan segera membius para pembaca untuk jatuh cinta pada karakternya yang gagah, sakti, dan cerdas. Jayantaka merupakan seorang raja yang dinobatkan pada masa perkabungan ayahnya dan meneruskan niatan Raja Sudasa untuk menegakkan dharma agama dan dharma negara.

Dengan ambisi yang begitu besar dan semangat perjuangannya yang bagaikan si jago merah yang sedang membara, Jayantaka justru meluaskan niatnnya tersebut bukan saja di negerinya sendiri, tetapi juga meluas ke negeri-negeri lain. Oleh karena itu Jayantaka berkaul kepada sang Kala yaitu 100 kepala raja dan oleh karena kaulnya tersebut ia dikenal sebagai Porusadha, raksasa pelahap kepala raja.

Seperti apa yang diceritakan dalam kakawin, dalam novel itu juga diceritakan bahwa Buddha bereinkarnasi dan menitis kepada putra Raja Hastina Prabu Mahaketu. Putranya bernama Sutasoma. Setelah dewasa Sutasoma rajin beribadah, cinta akan agama Buddha (Mahayana). Ia tidak senang akan dinikahkan dan dinobatkan menjadi raja.

Maka pada suatu malam, Sutasoma melarikan diri dari negara Hastina dan menuju ke hutan. Setibanya di hutan, Sutasoma bersembahyang dalam sebuah kuil. Lalu datanglah Dewi Widyukarali yang bersabda bahwa sembahyang Sutasoma telah diterima dan dikabulkan. Kemudian Sutasoma mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta.

Sesampainya di sebuah pertapaan, maka Sutasoma mendengarkan riwayat cerita seorang raja, reinkarnasi seorang raksasa yang senang makan manusia, Porusadha. Porusadha memiliki kaul akan mempersembahkan 100 raja kepada Sang Kala.

Pada saat yang sama, sedang terjadi perang antara Porusadha dan Raja Dasabahu, sepupu Sutasoma. Secara tidak sengaja ia menjumpai Sutasoma dan diajaknya pulang. Porusadha yang sudah mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada Batara Kala mendapati kenyataan bahwa Batara Kala tidak puas. Batara Kala baru mau menerima persembahan Porusadha bila ada Sutasoma.

Maka Porusadha menangkap Sutasoma yang tidak melawan. Sutasoma bersedia dimakan Batara Kala, asal ke 100 raja itu semua dilepaskan. Pengorbanan diri Sutasoma ini menyentuh hati Batara Siwa yang menitis pada Porusadha. Batara Siwa tahu bahwa Sutasoma adalah Sang Budha sendiri. Maka ditinggalkannya tubuh raksasa Porusadha dan ia kembali ke kahyangan. Porusadha akhirnya bertobat. Semua raja dilepaskan.

Karya sastra dari Cok Sawitri ini merupakan salah satu bentuk narasi fiksi sastra dan memanglah suatu yang niscaya mampu untuk menarik para pembaca, baik yang telah kenal dengan teks terdahulu atau belum. Ditambahkannya tokoh-tokoh baru seperti Belawa, Nini, ketiga istri Sudasa, anak-anak tiri Sudasa dan sekaligus saudara Jayantaka sekaligus penokohan baru atas tokoh-tokoh yang ada dalam teks terdahulu membuat novel ini “kaya amunisi”.

Bahkan boleh dibilang bukan hanya kaya amunisi, tetapi juga “gemuk” oleh pandangan-pandangan personal Cok Sawitri yang dititipkan ke dalam tiap tokoh yang ada sehingga membuat Sutasoma karya Cok Sawitri ini boleh dikatakan cukup berbeda.

Persoalan kebhinnekaan dalam teks terdahulu juga hadir di sini, namun tentu saja keempat dimensi toleransi antaragama yang ada di teks terdahulu kini tergantikan. Gantinya, adalah toleransi antara agama minoritas dan agama mayoritas. Jayantaka dalam teks Cok Sawitri mewakili agama minoritas, yang dalam pernyataan Cok Sawitri mewakili apa yang tengah diperjuangkannya adalah mewakili agama Tantrayana, sedang Sutasoma mewakili agama mayoritas, baik itu Hindu dalam konteks Bali atau agama mayoritas di Indonesia yakni Islam. Petuah dalam gubahan Cok Sawitri cukup jelas melansir keinginannya agar agama-agama mayoritas/besar tidak menghancurkan agama kecil, melainkan belajar untuk mentoleransi dalam semangat kebhinekaan yang dihembuskan oleh Sutasoma.

Kritik pada masyarakat kelas atas yang berada pada lingkaran istana juga mencuat dalam karya Cok Sawitri ini, yang dengan mudah bisa ditarik garis paralel antara negeri di bawah pimpinan Sudasa dan Jayantaka dengan negeri Indonesia ini. Sebuah paralelisme yang kurang lebih sama dilakukan Mpu Tantular sewaktu menggubah Sutasoma kali pertama dari teks aslinya. [T]

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Tags: Bhineka Tunggal IkaCok SawitrinovelSastra IndonesiaSutasoma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Next Post

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

I Wayan Sukarta Yasa

I Wayan Sukarta Yasa

Lahir di Sandan, 2002. Sedang menempuh pendidikan program S1 pada Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Hobi matembang dan menjadi juara dalam berbagai lomba geguritan dan lomba lain yang berkaitan dengan sastra Bali.

Related Posts

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails
Next Post
Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co