23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Kadek Tina Meliani by Kadek Tina Meliani
February 25, 2023
in Ulas Buku
Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami

KEHIDUPAN ZAMAN sekarang sudah amat-amat sangat modern. Kenapa aku bisa mengatakan seperti itu?

Lihatlah bagaimana manusia hidup dengan sangat mudah di zaman sekarang ini. Orang-orang yang ingin bepergian tinggal menancap gas untuk berjalan dan tinggal menginjak rem untuk berhenti.

Tidak seperti dulu, orang-orang yang hendak bepergian harus melangkahkan kakinya beribu ribu langkah dan menempuh jarak berkilo kilometer untuk sampai di tujuan yang disertai dengan cucuran keringat di dahinya. Bayangkan saja bagaimana pegalnya kaki mereka dan bagaimana lelahnya perjalanan tersebut.

Zaman dulu jika orang ingin menggunakan air mereka harus mengambil di sungai atau menimba di sumur. Tentu tidak dengan kehidupan sekarang, jika orang ingin menggunakan air, ya tinggal menghidupkan keran saja.

Kapankah kehidupan zaman dulu yang dimaksud tersebut? Apakah pada saat dinosaurus masih hidup di bumi ini? Atau pada saat manusia purba masih beraktivitas di dunia ini? Ataukah pada saat masa reformasi?

Jika kehidupan zaman dulu yang dimaksud adalah kehidupn ketika masa reformasi, maka kehidupan modern yang dimaksud adalah masa saat pascareformasi. Dengan adanya kehidupan modernisme tentu semua kehidupan manusia mulai berubah. Tidak hanya tingkah laku dan gaya hidup manusia, melainkan pemikiran manusia memandang suatu hal juga berbeda. 

Salah satu hal yang menjadi pembeda modernisme dan pascamodernisme adalah pandangan akan kebenaran. Dalam modernisme, kebenaran bersifat tunggal, mono, sedangkan dalam pasca modernisme kebenaran bersifat plural.

Sebagai konsekuensi logisnya, modernitas memiliki kecenderungan mengabaikan liyan, sedangkan pascamodernitas merangkul keberagaman.

Jika berbicara tentang kehidupan yang modern, seketika aku teringat dengan penggalan cerita dalam Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami menceritakan tentang perjalanan kisah persahabatan tiga remaja yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja Manjali yang juga di antara persabahatan mereka ada cinta segitiga.

Sandi Yuda adalah pemuda yang mempunyai hoby memanjat tebing, ia adalah sosok yang sangat tidak mempercayai adanya mitos dan takhayul karena ia memiliki pemikiran modernisme.

Kemudian Ayu Utami menghadirkan sosok Parang Jati yang merupakan penduduk  Watugunung yaitu tempat Sandi Yuda memanjat bersama teman-temannya.

Sandi Yuda yang memiliki pemikiran modernisme dan tidak percaya takhayul akhirnya berubah ketika  ia bertemu dengan sosok Parang Jati. Semua berawal ketika ia kalah taruhan dengan Parang Jati, Yuda yang biasanya selalu menang taruhan kini ia kalah. Dan kekalahan taruhan itu membuat ia harus berpindah agama menjadi “clean climbing”.

Dan saat itu ia menyadari bahwa ia bukanlah pemanjat sejati, ia masih menggunakan paku, bor,  gantungan dan alat-alat untuk memanjat tebing. Secara tidak langsung, Parang Jati  memberi pelajaran kepada pembaca untuk tidak merusak alam. Maka dari itu ia meminta Sandi Yuda untuk menjadi pemanjat yang bersih.

Dalam novel itu Ayu Utami menjelaskan bahwa orang-orang di desa itu masih sangat percaya terhadap takhayul. Ini terbukti ketika seorang warga desa bernama Kabur bin Sasus meninggal karena digigit anjing liar. Namun pada saat pemakaman, seorang pemuda desa bernama  Kupu Kupu sangat tidak setuju jika Kabur bin Sasus dimakamkan secara wajar. Hal ini karena semasa hidupnya, Kabur bin Sasus sering melakukan sesajenan untuk menyembah setan. Hal inipun dianggap musyrik oleh pemuda tersebut.

Akhirnya semua warga setuju dan Kabur bin Sasus dimakamkan di tanah yang jauh dari desa. Lantas apakah mitos mitos tersebut benar adanya? Tentu kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini sendiri. Karena ini berdasarkan pendapat dan kepercayaan.

Jika kita percaya terhadap mitos tersebut, maka mitos mitos itu benar adanya. Namun, jika kita tidak percaya dengan mitos, maka hal itu hanyalah sebuah takhayul. Melalui novel ini kita tahu dan bisa merasakan bagaimana kondisi Indonesia saat itu.

Dalam novel ini diceritakan kisah politik di Indonesia yang dimana saat itu Indonesia mengalami “Krisis Moneter” yang terjadi pada tahun 1998,yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur.

Pada saat krisis moneter harga barang sangat melambung sedangkan pendapatan masyarakat sangat minim.  Saat itu juga diktator yang telah memerintah selama 32 tahun turun dari kepresidenan yaitu Jenderal Soeharto. Ini terjadi karena mahasiswa mendemo dan kabinet mogok. Peristiwa ini dikenal dengan “Lengser Keprabon”, kemudian B.J. Habibie naik menjadi presiden pada saat itu.

Dan pada saat itulah disebut masa pascareformasi. Semenjak adanya peristiwa lengser keprabon tersebut banyak kekerasan terjadi, kerusuhan antar suku, kerusuhan antar agama, juga hal-hal mengerikan yang terjadi di pasar, maling dibakar hidup-hidup.

Dalam suasana kekerasan ini, ada satu gejala yang mencekang. Ialah serentetan pembunuhan misterius terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet. Kerusuhan itu diteror oleh sekelompok ninja yang memburu para tetua agama. Meski sudah dicegah, ternyata tetua agama tetap berhasil dibunuh oleh kelompok misterius tersebut. Mayat yang dikubur pun mendadak ikut menghilang, menambah nuansa mencekam di antara penduduk desa.

Ya, begitulah kehidupan modernisme, walaupun kehidupan menjadi lebih mudah namun banyak masalah yang menghampiri. Kota juga bisa membuktikannya pada kehidupan sekarang.

Dalam novel ini juga diceritakan dalam menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung, yuda bersama parang jati dan juga marja membuat strategi budaya yang dimana mereka memiliki harapan strategi tersebut dapat menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung akibat perusahaan batu kapur setempat.

Dalam menyiapkan strategi budaya mereka melalui banyak peristiwa dan kendala, salah satunya bentrok polri dan TNI akibat rebutan wewenang. Dalam usahanya mempertahankan kawasan karst bukit warugunung parang jati juga membuat aliran baru yaitu kejawan Baru yang dimana sudah berhasil diregistrasikan di departeman kebudayaan.

Melalui Bilangan Fu, Ayu Utami secara keras menentang pertambangan besar-besaran yang menguntungkan sebelah pihak, yang tidak mempertimbangkan bahkan memberikan solusi untuk kebaikan masyarakat sekitar perbukitan yang ditambangi. Bukti bahwa kegiatan penambangan besar-besaran berdampak buruk pada masyarakat terdapat pada kutipan berikut,

 “Jika karst dikelola dengan salah, hal itu dapat mengakibatkan kekeringan, konflik sosial budaya, dan kehilangan biodivitas unik yang belum diteliti. Jika terus dibiarkan, dampaknya yang cukup serius dalam pertambangan karst akan terjadi, terutama bagi petani yang mengandalkan pengairan melalui sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan karst”

 Pada pernyatan tersebut jelas bahwa penambangan kapur yang dilakukan secara besar-besaran, akan berdampak buruk pada kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Dalam suasana ekonomi dan politik yang masih labil ini, banyak peristiwa peristiwa yang tak terduga. Pak penghulu yang sering disebut semar oleh yuda tewas terbunuh di rumahnya setelah kembali dari padepokan suhubudi bapak angkat dari Parang Jati. Yuda dan parang jati terdiam merasakn kekosongan yang mengerikan itu.

Setelah kejadian itu, Parang Jati menulis sebuah tulisan yang berjudul “3M” yang berpotensi merusak bumi yaitu Modernisme, Militerisme, Monoteisme. Yang dimana dalam tulisannya itu menceritakan kekerasan dalam reformasi dalam bentuk penjarahan alam, juga kekerasan dalam dengan latar suku agama, di balik kekerasan itu diduga ada peran militer. Indikasinya : operasi yang sangat terencana, dan di beberapa kasus, adanya pasokan senjata. [T]

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Tags: Ayu UtamisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini

Next Post

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Kadek Tina Meliani

Kadek Tina Meliani

Lahir di Singaraja, 2003. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 dengan program studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Memiliki hobi memasak

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co