13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Kadek Tina Meliani by Kadek Tina Meliani
February 25, 2023
in Ulas Buku
Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami

KEHIDUPAN ZAMAN sekarang sudah amat-amat sangat modern. Kenapa aku bisa mengatakan seperti itu?

Lihatlah bagaimana manusia hidup dengan sangat mudah di zaman sekarang ini. Orang-orang yang ingin bepergian tinggal menancap gas untuk berjalan dan tinggal menginjak rem untuk berhenti.

Tidak seperti dulu, orang-orang yang hendak bepergian harus melangkahkan kakinya beribu ribu langkah dan menempuh jarak berkilo kilometer untuk sampai di tujuan yang disertai dengan cucuran keringat di dahinya. Bayangkan saja bagaimana pegalnya kaki mereka dan bagaimana lelahnya perjalanan tersebut.

Zaman dulu jika orang ingin menggunakan air mereka harus mengambil di sungai atau menimba di sumur. Tentu tidak dengan kehidupan sekarang, jika orang ingin menggunakan air, ya tinggal menghidupkan keran saja.

Kapankah kehidupan zaman dulu yang dimaksud tersebut? Apakah pada saat dinosaurus masih hidup di bumi ini? Atau pada saat manusia purba masih beraktivitas di dunia ini? Ataukah pada saat masa reformasi?

Jika kehidupan zaman dulu yang dimaksud adalah kehidupn ketika masa reformasi, maka kehidupan modern yang dimaksud adalah masa saat pascareformasi. Dengan adanya kehidupan modernisme tentu semua kehidupan manusia mulai berubah. Tidak hanya tingkah laku dan gaya hidup manusia, melainkan pemikiran manusia memandang suatu hal juga berbeda. 

Salah satu hal yang menjadi pembeda modernisme dan pascamodernisme adalah pandangan akan kebenaran. Dalam modernisme, kebenaran bersifat tunggal, mono, sedangkan dalam pasca modernisme kebenaran bersifat plural.

Sebagai konsekuensi logisnya, modernitas memiliki kecenderungan mengabaikan liyan, sedangkan pascamodernitas merangkul keberagaman.

Jika berbicara tentang kehidupan yang modern, seketika aku teringat dengan penggalan cerita dalam Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami menceritakan tentang perjalanan kisah persahabatan tiga remaja yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja Manjali yang juga di antara persabahatan mereka ada cinta segitiga.

Sandi Yuda adalah pemuda yang mempunyai hoby memanjat tebing, ia adalah sosok yang sangat tidak mempercayai adanya mitos dan takhayul karena ia memiliki pemikiran modernisme.

Kemudian Ayu Utami menghadirkan sosok Parang Jati yang merupakan penduduk  Watugunung yaitu tempat Sandi Yuda memanjat bersama teman-temannya.

Sandi Yuda yang memiliki pemikiran modernisme dan tidak percaya takhayul akhirnya berubah ketika  ia bertemu dengan sosok Parang Jati. Semua berawal ketika ia kalah taruhan dengan Parang Jati, Yuda yang biasanya selalu menang taruhan kini ia kalah. Dan kekalahan taruhan itu membuat ia harus berpindah agama menjadi “clean climbing”.

Dan saat itu ia menyadari bahwa ia bukanlah pemanjat sejati, ia masih menggunakan paku, bor,  gantungan dan alat-alat untuk memanjat tebing. Secara tidak langsung, Parang Jati  memberi pelajaran kepada pembaca untuk tidak merusak alam. Maka dari itu ia meminta Sandi Yuda untuk menjadi pemanjat yang bersih.

Dalam novel itu Ayu Utami menjelaskan bahwa orang-orang di desa itu masih sangat percaya terhadap takhayul. Ini terbukti ketika seorang warga desa bernama Kabur bin Sasus meninggal karena digigit anjing liar. Namun pada saat pemakaman, seorang pemuda desa bernama  Kupu Kupu sangat tidak setuju jika Kabur bin Sasus dimakamkan secara wajar. Hal ini karena semasa hidupnya, Kabur bin Sasus sering melakukan sesajenan untuk menyembah setan. Hal inipun dianggap musyrik oleh pemuda tersebut.

Akhirnya semua warga setuju dan Kabur bin Sasus dimakamkan di tanah yang jauh dari desa. Lantas apakah mitos mitos tersebut benar adanya? Tentu kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini sendiri. Karena ini berdasarkan pendapat dan kepercayaan.

Jika kita percaya terhadap mitos tersebut, maka mitos mitos itu benar adanya. Namun, jika kita tidak percaya dengan mitos, maka hal itu hanyalah sebuah takhayul. Melalui novel ini kita tahu dan bisa merasakan bagaimana kondisi Indonesia saat itu.

Dalam novel ini diceritakan kisah politik di Indonesia yang dimana saat itu Indonesia mengalami “Krisis Moneter” yang terjadi pada tahun 1998,yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur.

Pada saat krisis moneter harga barang sangat melambung sedangkan pendapatan masyarakat sangat minim.  Saat itu juga diktator yang telah memerintah selama 32 tahun turun dari kepresidenan yaitu Jenderal Soeharto. Ini terjadi karena mahasiswa mendemo dan kabinet mogok. Peristiwa ini dikenal dengan “Lengser Keprabon”, kemudian B.J. Habibie naik menjadi presiden pada saat itu.

Dan pada saat itulah disebut masa pascareformasi. Semenjak adanya peristiwa lengser keprabon tersebut banyak kekerasan terjadi, kerusuhan antar suku, kerusuhan antar agama, juga hal-hal mengerikan yang terjadi di pasar, maling dibakar hidup-hidup.

Dalam suasana kekerasan ini, ada satu gejala yang mencekang. Ialah serentetan pembunuhan misterius terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet. Kerusuhan itu diteror oleh sekelompok ninja yang memburu para tetua agama. Meski sudah dicegah, ternyata tetua agama tetap berhasil dibunuh oleh kelompok misterius tersebut. Mayat yang dikubur pun mendadak ikut menghilang, menambah nuansa mencekam di antara penduduk desa.

Ya, begitulah kehidupan modernisme, walaupun kehidupan menjadi lebih mudah namun banyak masalah yang menghampiri. Kota juga bisa membuktikannya pada kehidupan sekarang.

Dalam novel ini juga diceritakan dalam menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung, yuda bersama parang jati dan juga marja membuat strategi budaya yang dimana mereka memiliki harapan strategi tersebut dapat menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung akibat perusahaan batu kapur setempat.

Dalam menyiapkan strategi budaya mereka melalui banyak peristiwa dan kendala, salah satunya bentrok polri dan TNI akibat rebutan wewenang. Dalam usahanya mempertahankan kawasan karst bukit warugunung parang jati juga membuat aliran baru yaitu kejawan Baru yang dimana sudah berhasil diregistrasikan di departeman kebudayaan.

Melalui Bilangan Fu, Ayu Utami secara keras menentang pertambangan besar-besaran yang menguntungkan sebelah pihak, yang tidak mempertimbangkan bahkan memberikan solusi untuk kebaikan masyarakat sekitar perbukitan yang ditambangi. Bukti bahwa kegiatan penambangan besar-besaran berdampak buruk pada masyarakat terdapat pada kutipan berikut,

 “Jika karst dikelola dengan salah, hal itu dapat mengakibatkan kekeringan, konflik sosial budaya, dan kehilangan biodivitas unik yang belum diteliti. Jika terus dibiarkan, dampaknya yang cukup serius dalam pertambangan karst akan terjadi, terutama bagi petani yang mengandalkan pengairan melalui sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan karst”

 Pada pernyatan tersebut jelas bahwa penambangan kapur yang dilakukan secara besar-besaran, akan berdampak buruk pada kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Dalam suasana ekonomi dan politik yang masih labil ini, banyak peristiwa peristiwa yang tak terduga. Pak penghulu yang sering disebut semar oleh yuda tewas terbunuh di rumahnya setelah kembali dari padepokan suhubudi bapak angkat dari Parang Jati. Yuda dan parang jati terdiam merasakn kekosongan yang mengerikan itu.

Setelah kejadian itu, Parang Jati menulis sebuah tulisan yang berjudul “3M” yang berpotensi merusak bumi yaitu Modernisme, Militerisme, Monoteisme. Yang dimana dalam tulisannya itu menceritakan kekerasan dalam reformasi dalam bentuk penjarahan alam, juga kekerasan dalam dengan latar suku agama, di balik kekerasan itu diduga ada peran militer. Indikasinya : operasi yang sangat terencana, dan di beberapa kasus, adanya pasokan senjata. [T]

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Tags: Ayu UtamisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini

Next Post

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Kadek Tina Meliani

Kadek Tina Meliani

Lahir di Singaraja, 2003. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 dengan program studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Memiliki hobi memasak

Related Posts

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails
Next Post
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co