12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Kadek Tina Meliani by Kadek Tina Meliani
February 25, 2023
in Ulas Buku
Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami

KEHIDUPAN ZAMAN sekarang sudah amat-amat sangat modern. Kenapa aku bisa mengatakan seperti itu?

Lihatlah bagaimana manusia hidup dengan sangat mudah di zaman sekarang ini. Orang-orang yang ingin bepergian tinggal menancap gas untuk berjalan dan tinggal menginjak rem untuk berhenti.

Tidak seperti dulu, orang-orang yang hendak bepergian harus melangkahkan kakinya beribu ribu langkah dan menempuh jarak berkilo kilometer untuk sampai di tujuan yang disertai dengan cucuran keringat di dahinya. Bayangkan saja bagaimana pegalnya kaki mereka dan bagaimana lelahnya perjalanan tersebut.

Zaman dulu jika orang ingin menggunakan air mereka harus mengambil di sungai atau menimba di sumur. Tentu tidak dengan kehidupan sekarang, jika orang ingin menggunakan air, ya tinggal menghidupkan keran saja.

Kapankah kehidupan zaman dulu yang dimaksud tersebut? Apakah pada saat dinosaurus masih hidup di bumi ini? Atau pada saat manusia purba masih beraktivitas di dunia ini? Ataukah pada saat masa reformasi?

Jika kehidupan zaman dulu yang dimaksud adalah kehidupn ketika masa reformasi, maka kehidupan modern yang dimaksud adalah masa saat pascareformasi. Dengan adanya kehidupan modernisme tentu semua kehidupan manusia mulai berubah. Tidak hanya tingkah laku dan gaya hidup manusia, melainkan pemikiran manusia memandang suatu hal juga berbeda. 

Salah satu hal yang menjadi pembeda modernisme dan pascamodernisme adalah pandangan akan kebenaran. Dalam modernisme, kebenaran bersifat tunggal, mono, sedangkan dalam pasca modernisme kebenaran bersifat plural.

Sebagai konsekuensi logisnya, modernitas memiliki kecenderungan mengabaikan liyan, sedangkan pascamodernitas merangkul keberagaman.

Jika berbicara tentang kehidupan yang modern, seketika aku teringat dengan penggalan cerita dalam Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami.

Novel Bilangan Fu karya Ayu Utami menceritakan tentang perjalanan kisah persahabatan tiga remaja yaitu Sandi Yuda, Parang Jati, dan Marja Manjali yang juga di antara persabahatan mereka ada cinta segitiga.

Sandi Yuda adalah pemuda yang mempunyai hoby memanjat tebing, ia adalah sosok yang sangat tidak mempercayai adanya mitos dan takhayul karena ia memiliki pemikiran modernisme.

Kemudian Ayu Utami menghadirkan sosok Parang Jati yang merupakan penduduk  Watugunung yaitu tempat Sandi Yuda memanjat bersama teman-temannya.

Sandi Yuda yang memiliki pemikiran modernisme dan tidak percaya takhayul akhirnya berubah ketika  ia bertemu dengan sosok Parang Jati. Semua berawal ketika ia kalah taruhan dengan Parang Jati, Yuda yang biasanya selalu menang taruhan kini ia kalah. Dan kekalahan taruhan itu membuat ia harus berpindah agama menjadi “clean climbing”.

Dan saat itu ia menyadari bahwa ia bukanlah pemanjat sejati, ia masih menggunakan paku, bor,  gantungan dan alat-alat untuk memanjat tebing. Secara tidak langsung, Parang Jati  memberi pelajaran kepada pembaca untuk tidak merusak alam. Maka dari itu ia meminta Sandi Yuda untuk menjadi pemanjat yang bersih.

Dalam novel itu Ayu Utami menjelaskan bahwa orang-orang di desa itu masih sangat percaya terhadap takhayul. Ini terbukti ketika seorang warga desa bernama Kabur bin Sasus meninggal karena digigit anjing liar. Namun pada saat pemakaman, seorang pemuda desa bernama  Kupu Kupu sangat tidak setuju jika Kabur bin Sasus dimakamkan secara wajar. Hal ini karena semasa hidupnya, Kabur bin Sasus sering melakukan sesajenan untuk menyembah setan. Hal inipun dianggap musyrik oleh pemuda tersebut.

Akhirnya semua warga setuju dan Kabur bin Sasus dimakamkan di tanah yang jauh dari desa. Lantas apakah mitos mitos tersebut benar adanya? Tentu kita tidak bisa menjawab pertanyaan ini sendiri. Karena ini berdasarkan pendapat dan kepercayaan.

Jika kita percaya terhadap mitos tersebut, maka mitos mitos itu benar adanya. Namun, jika kita tidak percaya dengan mitos, maka hal itu hanyalah sebuah takhayul. Melalui novel ini kita tahu dan bisa merasakan bagaimana kondisi Indonesia saat itu.

Dalam novel ini diceritakan kisah politik di Indonesia yang dimana saat itu Indonesia mengalami “Krisis Moneter” yang terjadi pada tahun 1998,yakni lumpuhnya kegiatan ekonomi karena semakin banyak perusahaan yang tutup dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur.

Pada saat krisis moneter harga barang sangat melambung sedangkan pendapatan masyarakat sangat minim.  Saat itu juga diktator yang telah memerintah selama 32 tahun turun dari kepresidenan yaitu Jenderal Soeharto. Ini terjadi karena mahasiswa mendemo dan kabinet mogok. Peristiwa ini dikenal dengan “Lengser Keprabon”, kemudian B.J. Habibie naik menjadi presiden pada saat itu.

Dan pada saat itulah disebut masa pascareformasi. Semenjak adanya peristiwa lengser keprabon tersebut banyak kekerasan terjadi, kerusuhan antar suku, kerusuhan antar agama, juga hal-hal mengerikan yang terjadi di pasar, maling dibakar hidup-hidup.

Dalam suasana kekerasan ini, ada satu gejala yang mencekang. Ialah serentetan pembunuhan misterius terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet. Kerusuhan itu diteror oleh sekelompok ninja yang memburu para tetua agama. Meski sudah dicegah, ternyata tetua agama tetap berhasil dibunuh oleh kelompok misterius tersebut. Mayat yang dikubur pun mendadak ikut menghilang, menambah nuansa mencekam di antara penduduk desa.

Ya, begitulah kehidupan modernisme, walaupun kehidupan menjadi lebih mudah namun banyak masalah yang menghampiri. Kota juga bisa membuktikannya pada kehidupan sekarang.

Dalam novel ini juga diceritakan dalam menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung, yuda bersama parang jati dan juga marja membuat strategi budaya yang dimana mereka memiliki harapan strategi tersebut dapat menyelamatkan kawasan karst di bukit watugunung akibat perusahaan batu kapur setempat.

Dalam menyiapkan strategi budaya mereka melalui banyak peristiwa dan kendala, salah satunya bentrok polri dan TNI akibat rebutan wewenang. Dalam usahanya mempertahankan kawasan karst bukit warugunung parang jati juga membuat aliran baru yaitu kejawan Baru yang dimana sudah berhasil diregistrasikan di departeman kebudayaan.

Melalui Bilangan Fu, Ayu Utami secara keras menentang pertambangan besar-besaran yang menguntungkan sebelah pihak, yang tidak mempertimbangkan bahkan memberikan solusi untuk kebaikan masyarakat sekitar perbukitan yang ditambangi. Bukti bahwa kegiatan penambangan besar-besaran berdampak buruk pada masyarakat terdapat pada kutipan berikut,

 “Jika karst dikelola dengan salah, hal itu dapat mengakibatkan kekeringan, konflik sosial budaya, dan kehilangan biodivitas unik yang belum diteliti. Jika terus dibiarkan, dampaknya yang cukup serius dalam pertambangan karst akan terjadi, terutama bagi petani yang mengandalkan pengairan melalui sungai-sungai yang mengalir dari pegunungan karst”

 Pada pernyatan tersebut jelas bahwa penambangan kapur yang dilakukan secara besar-besaran, akan berdampak buruk pada kehidupan sosial masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Dalam suasana ekonomi dan politik yang masih labil ini, banyak peristiwa peristiwa yang tak terduga. Pak penghulu yang sering disebut semar oleh yuda tewas terbunuh di rumahnya setelah kembali dari padepokan suhubudi bapak angkat dari Parang Jati. Yuda dan parang jati terdiam merasakn kekosongan yang mengerikan itu.

Setelah kejadian itu, Parang Jati menulis sebuah tulisan yang berjudul “3M” yang berpotensi merusak bumi yaitu Modernisme, Militerisme, Monoteisme. Yang dimana dalam tulisannya itu menceritakan kekerasan dalam reformasi dalam bentuk penjarahan alam, juga kekerasan dalam dengan latar suku agama, di balik kekerasan itu diduga ada peran militer. Indikasinya : operasi yang sangat terencana, dan di beberapa kasus, adanya pasokan senjata. [T]

Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer, Relasi Kuasa dan Perlawanan
Tags: Ayu UtamisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini

Next Post

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Kadek Tina Meliani

Kadek Tina Meliani

Lahir di Singaraja, 2003. Sekarang sedang menempuh pendidikan S1 dengan program studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, di Kampus STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Memiliki hobi memasak

Related Posts

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails
Next Post
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co