2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Cemas dan Sukacita Tak Dapat Dipilih | Catatan Puisi “Desember” Karya Tan Lioe Ie

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 2, 2023
in Kritik Sastra
Antara Cemas dan Sukacita Tak Dapat Dipilih | Catatan Puisi “Desember” Karya Tan Lioe Ie

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

MOMEN PERGANTIAN tahun memiliki arti bagi setiap orang. Desember menjadi bulan penuh perayaan; liburan, perencanaan, kontemplasi. Pun bagi penyair, banyak puisi ditulis di bulan ini sebagai penanda kebahagiaan, kebersyukuran, atau sebaliknya; kesedihan dan duka-lara. Puisi bisa menyampaikan semuanya dengan amat baik.

Tan Lioe Ie misalnya. Penyair kawakan asal Bali yang sebulan terakhir banyak mengunggah puisi-puisi baru di akun Facebook miliknya juga ikut merayakan akhir tahun dengan menulis puisi berjudul “Desember”.

DESEMBER

Hujan yang kadang rintik
kadang deras
Gubuk-gubuk tergenang
air mata kering
habis sudah menguap bersama
harapan yang tak jemu
membubung ke langit
Rintih tanpa suara
menyesakkan dada orang tua
Sementara anak-anaknya berenang
riang di air kecoklatan.

Desember
Angin kencang
Gadis pohon meliuk
menari
Rambut daunnya diterpa gerimis
lebih tipis dari embun
Bunga-bunga di telinganya
jatuh
bumi riang menyambut harumnya.

Desember
Denting gelas bersulang
Makanan siap santap
Lidah dan perut manja
Pesta dan pasta gigi mahal
menjaga kilau gigi
menjaga mitra usaha
Senyum mengembang
Pintu terbuka
Ucapan selamat datang
usaha baru

Desember
Tiupan terompet di ujung bulan
Pedagang musiman
Dan kembang api
Pedagang musiman
semakin tersisih
Seperti perahu kecil
terombang-ambing
ombak
terancam tenggelam

Desember
Klakson mobil sahut-menyahut
Tumpang tindih
Tak merdu tapi mengundang sorak
Kelab malam ramai
Live music menghentak
menjaga mata tak terpejam
Setiap detik tak hendak
dilewatkan
Meski lajunya tak tertahan

Desember
Menunggu yang tak terduga
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang tak dikenal
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang pasti datang
meski tak ditunggu
Menunggu tamu asing
yang tak diundang
tak perlu kartu undangan
Antara cemas dan sukacita
yang tak dapat dipilih
Tak dapat dipilih.

Puisi sarat renungan. Dibuka penggambaran cuaca hujan, yang biasanya mewarnai akhir tahun, hujan yang tidak biasa; kadang rintik kadang deras, menggenangi gubuk-gubuk orang miskin yang menambah penderitaan. Memberi paradoks; hujan yang menggenangi menjadi tempat anak-anak berenang dengan riang:

Gubuk-gubuk tergenang
air mata kering
habis sudah menguap bersama
harapan yang tak jemu
membubung ke langit
Rintih tanpa suara
menyesakkan dada orang tua
Sementara anak-anaknya berenang
riang di air kecoklatan.

Bait berikutnya, hujan yang sering turun ditambah angin kencang menjadi indah; masa itu pohon-pohon berbunga, jatuh ke bumi yang menyambut harumnya dengan riang.

Desember
Angin kencang
Gadis pohon meliuk
menari
Rambut daunnya diterpa gerimis
lebih tipis dari embun
Bunga-bunga di telinganya
jatuh
bumi riang menyambut harumnya.

Perayaan menyambut tahun baru sering diisi dengan makan bersama, baik dengan keluarga, rekan kerja, sahabat maupun orang terkasih. Penyair menggambarkan itu dengan detail. Termasuk kilau gigi yang dijaga dengan pasta gigi mahal, untuk keberlangsungan bisnis, terutama saat bertemu mitra usaha. Utamanya bagi mereka yang membuka usaha baru. Meja makan menjadi tempat membicarakan ekonomi.

Desember
Denting gelas bersulang
Makanan siap santap
Lidah dan perut manja
Pesta dan pasta gigi mahal
menjaga kilau gigi
menjaga mitra usaha
Senyum mengembang
Pintu terbuka
Ucapan selamat datang
usaha baru

Pedagang terompet dan kembang api juga tidak luput dari perhatian penyair. Usaha musiman akhir tahun tersebut digambarkan semakin tersisih, diibaratkan seperti perahu kecil yang terombang-ambing ombak dan terancam tenggelam. Biasanya, pedagang ini tergusur oleh regulasi pemerintah yang melarang penjualan kembang api (juga mercon) atas alasan ketertiban umum. Meski dilarang, masyarakat tetap saja membeli dan menyalakannya setiap tutup tahun. Kegembiraan yang tak bisa dibendung dan pedagang kembang api kerap “kucing-kucingan” dengan petugas.

Desember
Tiupan terompet di ujung bulan
Pedagang musiman
Dan kembang api
Pedagang musiman
semakin tersisih
Seperti perahu kecil
terombang-ambing
ombak
terancam tenggelam

Di Bali, pada pergantian tahun kemarin diberitakan ruas-ruas jalan mengalami kemacetan lalu lintas. Wisatawan nusantara maupun mancanegara membeludak di beberapa destinasi pariwisata seperti Sanur, Kuta, Canggu, Nusa Dua, juga Ubud. Kelab malam ramai, ditingkahi live music yang menghentak menjaga mata tak terpejam. Semntara di jalan, klakson mobil sahut-menyahut dan tumpang tindih.

Desember
Klakson mobil sahut-menyahut
Tumpang tindih
Tak merdu tapi mengundang sorak
Kelab malam ramai
Live music menghentak
menjaga mata tak terpejam
Setiap detik tak hendak
dilewatkan
Meski lajunya tak tertahan

Di bait terakhir puisi ‘Desember’, penyair seakan memberi konklusi. Dua kata utama, yakni cemas dan sukacita berulangkali ditampilkan. Kondisi psikologis itu disebut penyair sebagai sesuatu yang tidak terduga, selalu ditunggu manusia. Bisa juga sebaliknya, selalu menunggu untuk hadir dan dirasakan oleh kita. Cemas dan sukacita juga disebut sebagai sesuatu yang tidak dikenal. Dalam bahasa kajian esoterik, rasa takut yang sering dirasakan manusia juga pada sesuatu yang unknown, tidak dikenal, seperti masa depan yang memang sebuah misteri.

Penyair mengibaratkannya seperti ‘tamu asing’ yang ‘tak diundang’ juga ‘tak perlu kartu undangan’. Rasa cemas dan sukacita, pada akhirnya tidak dapat dipilih. Seakan menjadi penegasakan, kalimat ‘tak dapat dipilih’ diulang dua kali dalam akhir puisi ‘Desember’. Memang, siapa yang bisa memilih apa yang datang pada kita? Terkadang kita merasakan cemas, pada satu titik menjadi gangguan mental yakni anxiety disorder sehingga membutuhkan bantuan terapis, psikolog, maupun psikiater. Gangguan cemas kini banyak menghinggapi warga di dunia, kaya atau miskin, perempuan maupun laki-laki, tua dan muda semua berpotensi mengalaminya. Cemas akan banyak hal; ekonomi, asmara, pekerjaan, dan lainnya.

Sukacita kerap kita rasakan saat misalnya mendapat pekerjaan, hadiah, prestasi juga ketika mengalami pengalaman spiritual yang bersifat amat personal. Benar, antara cemas dan sukacita memang tidak dapat dipilih. Keduanya datang pada kita silih-berganti. Tidak ada selalu cemas, atau selalu suka (cita). Bahkan, kondisi di antara kedua emosi tersebut juga bisa kita rasakan. Penyair seperti menemukan kata kunci: “tidak dapat dipilih”. Ini semacam hasil perenungan dan pengalaman.

Desember
Menunggu yang tak terduga
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang tak dikenal
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang pasti datang
meski tak ditunggu
Menunggu tamu asing
yang tak diundang
tak perlu kartu undangan
Antara cemas dan sukacita
yang tak dapat dipilih
Tak dapat dipilih.

Sejauh yang saya kenal, Tan Lioe Ie adalah penekun meditasi. Laku spiritual  yang dilakoninya menambah warna pada kedalaman puisi-puisi karya penyair yang juga pemusik dan merupakan pionir musikalisasi puisi di Bali.

Judul tulisan di atas yang diambil dari petikan puisi ‘Desember’ Tan Lioe Ie mengingatkan saya pada bait puisi “Hai, Ma!” W.S. Rendra.  Keduanya sama-sama menukik dalam dan tajam:

dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa kemarin dan esok
adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa

[][][]

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?
Sejarah Sebagai Ruh dalam Karya Sastra – Buku “Di Kota Tuhan”
Undisputed Poetry Surabaya : Kita Mewujud Puisi
Tags: Puisisastrasastrawan baliTan Lioe Ie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Susu Kedelai dari Desa Sangsit, Dibuat Oleh Anak-anak Kurang Mampu

Next Post

Belajar dari Kekecewaan — Kisah Atlet Muaythai Buleleng di Porprov Bali 2022

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Kekecewaan — Kisah Atlet Muaythai Buleleng di Porprov Bali 2022

Belajar dari Kekecewaan -- Kisah Atlet Muaythai Buleleng di Porprov Bali 2022

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co