23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Cemas dan Sukacita Tak Dapat Dipilih | Catatan Puisi “Desember” Karya Tan Lioe Ie

Angga Wijaya by Angga Wijaya
January 2, 2023
in Kritik Sastra
Antara Cemas dan Sukacita Tak Dapat Dipilih | Catatan Puisi “Desember” Karya Tan Lioe Ie

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

MOMEN PERGANTIAN tahun memiliki arti bagi setiap orang. Desember menjadi bulan penuh perayaan; liburan, perencanaan, kontemplasi. Pun bagi penyair, banyak puisi ditulis di bulan ini sebagai penanda kebahagiaan, kebersyukuran, atau sebaliknya; kesedihan dan duka-lara. Puisi bisa menyampaikan semuanya dengan amat baik.

Tan Lioe Ie misalnya. Penyair kawakan asal Bali yang sebulan terakhir banyak mengunggah puisi-puisi baru di akun Facebook miliknya juga ikut merayakan akhir tahun dengan menulis puisi berjudul “Desember”.

DESEMBER

Hujan yang kadang rintik
kadang deras
Gubuk-gubuk tergenang
air mata kering
habis sudah menguap bersama
harapan yang tak jemu
membubung ke langit
Rintih tanpa suara
menyesakkan dada orang tua
Sementara anak-anaknya berenang
riang di air kecoklatan.

Desember
Angin kencang
Gadis pohon meliuk
menari
Rambut daunnya diterpa gerimis
lebih tipis dari embun
Bunga-bunga di telinganya
jatuh
bumi riang menyambut harumnya.

Desember
Denting gelas bersulang
Makanan siap santap
Lidah dan perut manja
Pesta dan pasta gigi mahal
menjaga kilau gigi
menjaga mitra usaha
Senyum mengembang
Pintu terbuka
Ucapan selamat datang
usaha baru

Desember
Tiupan terompet di ujung bulan
Pedagang musiman
Dan kembang api
Pedagang musiman
semakin tersisih
Seperti perahu kecil
terombang-ambing
ombak
terancam tenggelam

Desember
Klakson mobil sahut-menyahut
Tumpang tindih
Tak merdu tapi mengundang sorak
Kelab malam ramai
Live music menghentak
menjaga mata tak terpejam
Setiap detik tak hendak
dilewatkan
Meski lajunya tak tertahan

Desember
Menunggu yang tak terduga
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang tak dikenal
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang pasti datang
meski tak ditunggu
Menunggu tamu asing
yang tak diundang
tak perlu kartu undangan
Antara cemas dan sukacita
yang tak dapat dipilih
Tak dapat dipilih.

Puisi sarat renungan. Dibuka penggambaran cuaca hujan, yang biasanya mewarnai akhir tahun, hujan yang tidak biasa; kadang rintik kadang deras, menggenangi gubuk-gubuk orang miskin yang menambah penderitaan. Memberi paradoks; hujan yang menggenangi menjadi tempat anak-anak berenang dengan riang:

Gubuk-gubuk tergenang
air mata kering
habis sudah menguap bersama
harapan yang tak jemu
membubung ke langit
Rintih tanpa suara
menyesakkan dada orang tua
Sementara anak-anaknya berenang
riang di air kecoklatan.

Bait berikutnya, hujan yang sering turun ditambah angin kencang menjadi indah; masa itu pohon-pohon berbunga, jatuh ke bumi yang menyambut harumnya dengan riang.

Desember
Angin kencang
Gadis pohon meliuk
menari
Rambut daunnya diterpa gerimis
lebih tipis dari embun
Bunga-bunga di telinganya
jatuh
bumi riang menyambut harumnya.

Perayaan menyambut tahun baru sering diisi dengan makan bersama, baik dengan keluarga, rekan kerja, sahabat maupun orang terkasih. Penyair menggambarkan itu dengan detail. Termasuk kilau gigi yang dijaga dengan pasta gigi mahal, untuk keberlangsungan bisnis, terutama saat bertemu mitra usaha. Utamanya bagi mereka yang membuka usaha baru. Meja makan menjadi tempat membicarakan ekonomi.

Desember
Denting gelas bersulang
Makanan siap santap
Lidah dan perut manja
Pesta dan pasta gigi mahal
menjaga kilau gigi
menjaga mitra usaha
Senyum mengembang
Pintu terbuka
Ucapan selamat datang
usaha baru

Pedagang terompet dan kembang api juga tidak luput dari perhatian penyair. Usaha musiman akhir tahun tersebut digambarkan semakin tersisih, diibaratkan seperti perahu kecil yang terombang-ambing ombak dan terancam tenggelam. Biasanya, pedagang ini tergusur oleh regulasi pemerintah yang melarang penjualan kembang api (juga mercon) atas alasan ketertiban umum. Meski dilarang, masyarakat tetap saja membeli dan menyalakannya setiap tutup tahun. Kegembiraan yang tak bisa dibendung dan pedagang kembang api kerap “kucing-kucingan” dengan petugas.

Desember
Tiupan terompet di ujung bulan
Pedagang musiman
Dan kembang api
Pedagang musiman
semakin tersisih
Seperti perahu kecil
terombang-ambing
ombak
terancam tenggelam

Di Bali, pada pergantian tahun kemarin diberitakan ruas-ruas jalan mengalami kemacetan lalu lintas. Wisatawan nusantara maupun mancanegara membeludak di beberapa destinasi pariwisata seperti Sanur, Kuta, Canggu, Nusa Dua, juga Ubud. Kelab malam ramai, ditingkahi live music yang menghentak menjaga mata tak terpejam. Semntara di jalan, klakson mobil sahut-menyahut dan tumpang tindih.

Desember
Klakson mobil sahut-menyahut
Tumpang tindih
Tak merdu tapi mengundang sorak
Kelab malam ramai
Live music menghentak
menjaga mata tak terpejam
Setiap detik tak hendak
dilewatkan
Meski lajunya tak tertahan

Di bait terakhir puisi ‘Desember’, penyair seakan memberi konklusi. Dua kata utama, yakni cemas dan sukacita berulangkali ditampilkan. Kondisi psikologis itu disebut penyair sebagai sesuatu yang tidak terduga, selalu ditunggu manusia. Bisa juga sebaliknya, selalu menunggu untuk hadir dan dirasakan oleh kita. Cemas dan sukacita juga disebut sebagai sesuatu yang tidak dikenal. Dalam bahasa kajian esoterik, rasa takut yang sering dirasakan manusia juga pada sesuatu yang unknown, tidak dikenal, seperti masa depan yang memang sebuah misteri.

Penyair mengibaratkannya seperti ‘tamu asing’ yang ‘tak diundang’ juga ‘tak perlu kartu undangan’. Rasa cemas dan sukacita, pada akhirnya tidak dapat dipilih. Seakan menjadi penegasakan, kalimat ‘tak dapat dipilih’ diulang dua kali dalam akhir puisi ‘Desember’. Memang, siapa yang bisa memilih apa yang datang pada kita? Terkadang kita merasakan cemas, pada satu titik menjadi gangguan mental yakni anxiety disorder sehingga membutuhkan bantuan terapis, psikolog, maupun psikiater. Gangguan cemas kini banyak menghinggapi warga di dunia, kaya atau miskin, perempuan maupun laki-laki, tua dan muda semua berpotensi mengalaminya. Cemas akan banyak hal; ekonomi, asmara, pekerjaan, dan lainnya.

Sukacita kerap kita rasakan saat misalnya mendapat pekerjaan, hadiah, prestasi juga ketika mengalami pengalaman spiritual yang bersifat amat personal. Benar, antara cemas dan sukacita memang tidak dapat dipilih. Keduanya datang pada kita silih-berganti. Tidak ada selalu cemas, atau selalu suka (cita). Bahkan, kondisi di antara kedua emosi tersebut juga bisa kita rasakan. Penyair seperti menemukan kata kunci: “tidak dapat dipilih”. Ini semacam hasil perenungan dan pengalaman.

Desember
Menunggu yang tak terduga
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang tak dikenal
antara cemas dan sukacita
Menunggu yang pasti datang
meski tak ditunggu
Menunggu tamu asing
yang tak diundang
tak perlu kartu undangan
Antara cemas dan sukacita
yang tak dapat dipilih
Tak dapat dipilih.

Sejauh yang saya kenal, Tan Lioe Ie adalah penekun meditasi. Laku spiritual  yang dilakoninya menambah warna pada kedalaman puisi-puisi karya penyair yang juga pemusik dan merupakan pionir musikalisasi puisi di Bali.

Judul tulisan di atas yang diambil dari petikan puisi ‘Desember’ Tan Lioe Ie mengingatkan saya pada bait puisi “Hai, Ma!” W.S. Rendra.  Keduanya sama-sama menukik dalam dan tajam:

dan apabila aku menulis sajak
aku juga merasa bahwa kemarin dan esok
adalah hari ini
Bencana dan keberuntungan sama saja
Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa

[][][]

Kritik Sastra “Pribumi”: Teoritisasi atau Cita Rasa?
Sejarah Sebagai Ruh dalam Karya Sastra – Buku “Di Kota Tuhan”
Undisputed Poetry Surabaya : Kita Mewujud Puisi
Tags: Puisisastrasastrawan baliTan Lioe Ie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Susu Kedelai dari Desa Sangsit, Dibuat Oleh Anak-anak Kurang Mampu

Next Post

Belajar dari Kekecewaan — Kisah Atlet Muaythai Buleleng di Porprov Bali 2022

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Belajar dari Kekecewaan — Kisah Atlet Muaythai Buleleng di Porprov Bali 2022

Belajar dari Kekecewaan -- Kisah Atlet Muaythai Buleleng di Porprov Bali 2022

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co