14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ni Diah Tantri Dalam Carita Tantri: Tokoh Penyeimbang Karakter Maskulin dalam Kepemimpinan

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 27, 2022
in Opini
Ni Diah Tantri Dalam Carita Tantri: Tokoh Penyeimbang Karakter Maskulin dalam Kepemimpinan

Foto ilustrasi diambil dari Poster pementasan Sendratari Dongeng Tantri karya Bumi Bajra Sandhi Bali (1917)

Kupasan Cerita Ni Diah Tantri sudah dilakukan oleh para akademisi. Berbagai ulasan telah lahir, berbagai sudut pandang telah dihasilkan tentang cerita fabel dengan tokoh sentral Ni Diah Tantri.

Di saat masyarakat Bali masih minim akan pilihan hiburan, masih bisalah ditemukan cukilan kisah fabel dari Ni Diah Tantri di jadikan bahan mesatua/bercerita yang dilakukan Nenek dan Kakek, untuk pengantar tidur cucu-cucunya.

Demikian pula di saat masyarakat Bali di tahun 1980-an masih terbuai dengan pesona pertunjukkan wayang kulit, salah seorang dalang  senior yang berasal dari Banjar Babakan, Sukawati Gianyar – I Wayan Wija, tidak pernah surut mengangkat cerita Tantri sebagai lakon dalam pertunjukkan wayangnya bahkan telah berhasil menciptakan Wayang Tantri.

Saat itu, cerita tantri membahana dari banjar ke banjar di seantero pulau Bali, dan sampai mampu membawa popularitas Dalang Wija di puncak ketenarannya.

Masih dalam pentas budaya. Dalam ajang pentas seni drama tari kolosal yang digelar oleh ISI Denpasar pada saat digelarnya Festival Seni dan Budaya Bali yang bertajuk Mandara Mahalango dalam gelaran ke III bulan Agustus 2016 dipentaskan drama tari musikal  “Tantri Kamandaka” (https://bali.antaranews.com/berita/93126/isi-denpasar-pentaskan-drama-tari-kolosal).

Tidak cukup kiranya sampai di sana, ulasan tentangnya dilakukan oleh banyak pihak yang menghasilkan berbagai karya dan pandangan. Cok Sawitri (2011) menghasilkan karya Tantri yang lewat karyanya mendudukan kisah Tanri sebagai foros patokan-patokan moral dalam  menghargai dan menjalani hidup.

Seorang Cok Sawitri juga mengakui bahwa kisah Tantri adalah kisah yang bukan hanya ingin  menonjolkan kemampuan seorang pendongeng, namun sekaligus ingin menonjolkan kecerdasan seorang perempuan dalam mengalahkan ke bengisan seorang raja Eswaryadala dalam memperlakukan perempuan.

Dengan sudut pandang yang hampir serupa ulasan I Nyoman Tika melalui Kompasiana pada tanggal 6 Februari 2020 menegaskan bahwa carita Ni Diah Tantri adalah carita tentang pelecehan raja Eswaryadala terhadap perempuan. Dialog yang ditonjolkan dalam paparan tulisannya menyuguhkan sajian bahwa Ni Diah Tantri hadir sebagai tokoh yang menjadi penegas tentang perempuan sebagai makhluk yang mulia dihadapan raja yang punya kegemaran melecehkan wanita (https://www.kompasiana.com/inyoman3907/5e3b8012097f36409b5d6f92/ni-diah-tantri-paduka-telah-melecehkan-wanita?page=2&page_images=1 ).

Selain itu, ulasan tentang cerita fabel dalam carita Diah Tantri diulas juga dari perspektif budaya politik oleh Kadek Suartaya (https://www.balipost.com/news/2021/02/26/177595/Filosofi-Peradaban-dari-Dongeng-I…html) melalui kisah I Cangak.

Ulasannya, ingin menegaskan bahwa carut marut kehidupan berbangsa dalam dasa warsa belakangan ini bisa menggunakan cerita I Cangak untuk mendapat cermin dalam pemenangan kontestasi politik

Cerita Tantri juga tidak kalah populernya ketika dituangkan ke dalam kanvas oleh para seniman sehingga menghasilkan beragam lukisan yang bernilai rupiah tinggi. Bahkan dalam wujud lukisan carita Tantri telah menjadi monumen yang diabadikan dalam bentuk panil yang tersaji pada dinding Kertagosa, Klungkung. pada panil paling bawah pada langit-langit bangunan Kerta Gosa.

Ceritanya dimulai dari panel sebelah timur beriringan keselatan, barat dan berakhir pada panil sebelah utara.

Bangunan Gedung Kertagosa Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kerta-gosa/ diakses 12 Nopember 2022

Pendek kata ulasan tentang Ni Diah Tantri telah masuk dalam cakupan  karya  sastra modern dan klasik, ikonografi, dan seni pertunjukkan. Di tengah-tengah carita Tantri yang banyak mengandung kiasan yang diambil dari tingkah polah binantang, sangat bijak pandangan seorang Prof Dharma Putra, yang mengatakan, hanya orang yang dungu yang tidak mampu mengambil pelajaran dari kias-kias carita Tantri.

Pandangan ini mengemuka dalam Seminar yang bertajuk “Nilai-nilai Sastra dan Budaya dalam Carita Tantri di Bali” (https://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/09/27/tantri-kekuatan-sebuah-dongeng.html/attachment/img_6675).

Demikian banyaknya ulasan tentang carita Tantri menjadi pertanda bahwa carita ini memang memiliki daya tarik yang luar biasa yang diakui oleh banyak pihak bermuatan pelajaran hidup yang tidak pernah padam sampai saat ini. Hal ini pun tidak bisa lepas dari banyaknya trait budaya yang bermuatan kisah tantri. Sesuai penjelasan I Made Pasek (1999:iii) berikut ini.

“Carita Tantri kalintang lumrah ring Bali, Sajeroning kapustakaan Bali wenten kapangguh makudang-kudang wangun sastra sane medaging carita Tantri, minakadinipun: Kakawin (kakawin Tanri) Kidung (Kidung Tantri Nandhaka-harana; Kidung Mandhuka – harana, Kidung Mandhuka Prakarana, Kidung   Ragawinasa, Kidung Pisaca- harana); Parikan miwah Geguritan (Parikan Tantri, Geguritan Cangak, Geguritan Panca Puspita); Gancaran (Tantri Kamandaka); Prasi (Tantri Prasi). Miwah sane lianan. Sios ring punika ring pakraman taler kapanggih gegambaran, balih-balihan, rauhing wayang sane nyaritayang daging Carita Tantri”.

Keabadian carita Tantri yang tertuang dalam berbagai trait budaya tidak akan pernah kering untuk digali dari berbagai sudut pandang.  Semakin carita ini digali semakin menunjukkan betapa ampuhnya dongeng sebagai alat konstruksi budaya.

Selama ini, jika tolehan kita dikembalikan kepada kajian yang selama ini sudah dilakukan, sorotan pandangan kita akan lebih tertuju pada kekuatan dongeng sebagai medium pendidikan nilai karakter untuk berbagai jenjang usia. Padahal ada sisi lain yang menarik dari kehadiran carita ini, tatkala dilihat dari isu gender.

Ni Diah Tantri, dari Perspektif Gender

Siapa Ni Diah Tantri?

Dihadirkan sebagai tokoh utama dalam cerita Tantri bejenis kelamin perempuan dengan adanya istilah Ni yang melekat pada sosok ini sebagai identitas biologis untuk menyebut nama perempuan.

Salah satu lokasi yang bisa diandalkan untuk mengetahui sosok ini bisa ditemukan pada langit-langit bangunan Kerta Gosa, yang ceritanya dimulai dari panel sebelah timur beriringan ke selatan, barat dan berakhir pada panil sebelah utara. Ibarat cerita seribu satu malam Ni Dyah Tantri digambarkan sebagai seorang gadis yang berjuang menghapus hasrat seksualitas seorang raja yang bernama Eswaryadala -, yang mempunyai kebiasaan “memangsa” perempuan yang diminati sesuai apa yang dia mau. Mahapatih mempunyai tugas setiap harinya mencarikan perempuan untuk Sang Raja.

Karena itu dilakukan setiap hari lama kelamaan perempuan di wilayah kerajaan tersebut menjadi habis. Kondisi tersebut terbaca oleh puteri Sang Patih yang bernama Diah Tantri yang selanjutnya menawarkan dirinya untuk dipersembahkan kepada raja (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kerta-gosa/ diakses 12 Nopember 2022)

Dari sudut pandang gender, tawaran Diah Tantri untuk menjadi persembahan Sang Raja bisa dapat dianggap sebagai orang yang memposisikan diri sebagai objek pemuas laki-laki. Dari segi kultur dominan, posisi perempuan sebagai objek seks laki-laki merupakan potret yang dianggap sebagai suatu kelaziman.

Steriotyp tentang hal ini dapat ditemui dari cara pandang terhadap perempuan sebagai mahkluk lemah, pelayan laki-laki, makhluk penurut dan banyak anggapan lainnya yang berujung pada posisi perempuan yang subordinat. Hanya saja, tokoh rekaan, seorang Diah Tantri dari segi perspektif gender ditampilkan sebagai sosok yang di luar pola umum.

Dia dihadirkan sebagai karakter pemberontak, berani, cerdas dan berpengetahuan. Tanpa melepaskan identitas gender perempuan dia digambarkan sebagai sosok yang punya kemampuan membangkitkan karakter maskulin dalam dirinya untuk melawan sosok maskulin di luar dirinya. Melalui rekaan semacam ini,

Ni Diah Tantri mengendalikan keadaan melalui pesona kecerdasannya. Sosok Diah Tantri bisa diartikan sebagai upaya dekontruksi terhadap kultur gender dominan, bahwa perempuan dalam kehidupan sosial tidak bisa digeralisasikan – di mana semua perempuan dalam semua lapisan sosial merupakan sosok yang lemah dan subordinat.

Diah Tantri adalah sosok feminis yang melawan kekerasan dengan kelembutan melalui suguhan cerita fabel dengan gaya cerita yang sanggup menyihir perwatakan Raja yang digambarkan sebagai sosok yang haus seks.

Ketika ulasan cerita ini dihentikan hanya sebatas membedah peran seorang Diah Tantri maka kekayaan cerita-cerita fabel yang dijadikan bahan oleh Ni Diah Tantri untuk membuka kesadaran Raja Eswaryadala sebagai seorang pemimpin,  ketemulah sederetan nilai-nilai karakter ideal yakni. Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Setia Kawan, Pantang Menyerah, Menghargai Orang Lain, Persahabatan, Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab, Sopan Santun, Tolong Menolong, Menghargai Prestasi (https://www.bawarasa.org/nilai-pendidikan-karakter-dalam-kisah-tantri-kamandaka/ diakses, 12/11/2022).

Setidaknya, bayangan seorang pemimpin yang merujuk pada karakter tersebut akan tampil pemimpin yang cerdas, cakap dan sekaligus humanis. Karakter tersebut merupakan perpaduan pensifatan maskulin dan feminin.

Di era kapanpun karakter ideal seorang pemimpin tidak akan pernah jauh dari karakter tersebut.. Diah Tantri dihadirkan dalam cerita Tantri sebagai penyeimbang untuk menetralisir pensifatan maskulin yang tampil dominan sehingga mengundang penindasan. 

Catatan menarik lainnya tatkala kisah Ni Diah Tantri dilihat dari perspektif berbeda yang tidak hanya sekedar membedah nilai karakter, namun melihat muatan isu gender di dalamnya. Secara hidden bisa ditemukan berikut ini.

Pertama, muatan moral dalam sosok Ni Diah Tantri adalah perempuan yang digambarkan bertugas menjadi penyelamat situasi kritis. Dengan cara tetap menjaga sisi femininnya dalam wujud kelembutan – inilah konstruksi gender yang berhasil menegaskan bahwa perempuan diharapkan menjadi penetralisir dominasi kekerasan.

Konstruksi semacam ini bisa berkembang menjadi mitos insklusif. Bingkai ceritanya dibalut mitos agar kemamapan konstruksi gender ideal untuk perempuan tetap dapat terjaga.

Ketika cerita ini dilihat dengan mata telanjang maka dia hanya hanya akan tampak sebagai kisah yang ampuh untuk penanaman nilai karakter pada generasi muda melalaui cerita-cerita binatang, mampu menggugah kesadaran bahwa menjadi pemimpin yang disegani harus memiliki karakter yang seimbang antara karakter maskulin dan feminin.

Namun, kalau dibedah dari kacamata kritis maka dapat ditemukan konstruksi ideologi gender yang menggunakan karya sastra sebagai medium. Mengapa sastra? Keampuhan sastra yang punya kesanggupan membungkus ideologi kiranya tidak bisa diragukan. Oleh karena itulah, kandungan karya sastra sebagai alat konstruksi ideologi menjadi pilihan dari masa ke masa.

Kedua, uniknya lagi carita Ni Diah Tantri  sesungguhnya menegaskan suatu ideologi yang bias laki-laki. Artinya, cerita ini bermuatan pesan moral bahwa laki-laki akan bangkit kesadarannya lewat pesona dan empowermant yang dimiliki perempuan. Dalam konteks ini laki-laki yang diwakili lewat tokoh raja Eswaryadala digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya.

Keberdayaannya muncul karena pesona Ni Diah Tantri melalui kepiawiannya bercerita membuat Sang Raja terbuai dan tersadar akan kekeliruannya. Konstruksi semacam ini jelas menjadi model penanaman kultur yang menguatkan bahwa laki-laki seolah-olah tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan kesadaran di atas kemampuan sendiri, dan selalu harus mendatangkan pihak di luar dirinya.

Ketika pemahaman ini di internalisasi secara terus menerus, maka yang terjadi adalah bentukan konstruksi yang tidak adil kepada laki-laki.

Sulit kiranya membantah bahwa carita Ni Diah Tantri adalah medium yang sangat strategis untuk dijadikan penanaman nilai karakter yang tak akan pernah lekang oleh jaman. Namun jika kita ingin benar-benar menjadikan sebagai alat edukasi untuk generasi muda saat ini, perlu ada kehati-hatian agar tidak terjebak pada kedangkalan cara pandang yang hanya melihatnya dari sisi permukaan carita.

Dengan kata lain, kisah ini bisa dipakai untuk melatihkan generasi muda di  pendidikan formal maupun informal sebagai latihan memperdebatkan kerumitan dan kompleksitas konstruksi gender melalui medium karya sastra. Inilah contoh belajar tentang tata cara permainan konstruksi ideologi. [T]

BACA opini lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Tags: ceritacerita rakyatDongeng TantriGenderkesenian baliNi Dyah TantriPerempuanTantri Kamandaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co