25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ni Diah Tantri Dalam Carita Tantri: Tokoh Penyeimbang Karakter Maskulin dalam Kepemimpinan

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 27, 2022
in Opini
Ni Diah Tantri Dalam Carita Tantri: Tokoh Penyeimbang Karakter Maskulin dalam Kepemimpinan

Foto ilustrasi diambil dari Poster pementasan Sendratari Dongeng Tantri karya Bumi Bajra Sandhi Bali (1917)

Kupasan Cerita Ni Diah Tantri sudah dilakukan oleh para akademisi. Berbagai ulasan telah lahir, berbagai sudut pandang telah dihasilkan tentang cerita fabel dengan tokoh sentral Ni Diah Tantri.

Di saat masyarakat Bali masih minim akan pilihan hiburan, masih bisalah ditemukan cukilan kisah fabel dari Ni Diah Tantri di jadikan bahan mesatua/bercerita yang dilakukan Nenek dan Kakek, untuk pengantar tidur cucu-cucunya.

Demikian pula di saat masyarakat Bali di tahun 1980-an masih terbuai dengan pesona pertunjukkan wayang kulit, salah seorang dalang  senior yang berasal dari Banjar Babakan, Sukawati Gianyar – I Wayan Wija, tidak pernah surut mengangkat cerita Tantri sebagai lakon dalam pertunjukkan wayangnya bahkan telah berhasil menciptakan Wayang Tantri.

Saat itu, cerita tantri membahana dari banjar ke banjar di seantero pulau Bali, dan sampai mampu membawa popularitas Dalang Wija di puncak ketenarannya.

Masih dalam pentas budaya. Dalam ajang pentas seni drama tari kolosal yang digelar oleh ISI Denpasar pada saat digelarnya Festival Seni dan Budaya Bali yang bertajuk Mandara Mahalango dalam gelaran ke III bulan Agustus 2016 dipentaskan drama tari musikal  “Tantri Kamandaka” (https://bali.antaranews.com/berita/93126/isi-denpasar-pentaskan-drama-tari-kolosal).

Tidak cukup kiranya sampai di sana, ulasan tentangnya dilakukan oleh banyak pihak yang menghasilkan berbagai karya dan pandangan. Cok Sawitri (2011) menghasilkan karya Tantri yang lewat karyanya mendudukan kisah Tanri sebagai foros patokan-patokan moral dalam  menghargai dan menjalani hidup.

Seorang Cok Sawitri juga mengakui bahwa kisah Tantri adalah kisah yang bukan hanya ingin  menonjolkan kemampuan seorang pendongeng, namun sekaligus ingin menonjolkan kecerdasan seorang perempuan dalam mengalahkan ke bengisan seorang raja Eswaryadala dalam memperlakukan perempuan.

Dengan sudut pandang yang hampir serupa ulasan I Nyoman Tika melalui Kompasiana pada tanggal 6 Februari 2020 menegaskan bahwa carita Ni Diah Tantri adalah carita tentang pelecehan raja Eswaryadala terhadap perempuan. Dialog yang ditonjolkan dalam paparan tulisannya menyuguhkan sajian bahwa Ni Diah Tantri hadir sebagai tokoh yang menjadi penegas tentang perempuan sebagai makhluk yang mulia dihadapan raja yang punya kegemaran melecehkan wanita (https://www.kompasiana.com/inyoman3907/5e3b8012097f36409b5d6f92/ni-diah-tantri-paduka-telah-melecehkan-wanita?page=2&page_images=1 ).

Selain itu, ulasan tentang cerita fabel dalam carita Diah Tantri diulas juga dari perspektif budaya politik oleh Kadek Suartaya (https://www.balipost.com/news/2021/02/26/177595/Filosofi-Peradaban-dari-Dongeng-I…html) melalui kisah I Cangak.

Ulasannya, ingin menegaskan bahwa carut marut kehidupan berbangsa dalam dasa warsa belakangan ini bisa menggunakan cerita I Cangak untuk mendapat cermin dalam pemenangan kontestasi politik

Cerita Tantri juga tidak kalah populernya ketika dituangkan ke dalam kanvas oleh para seniman sehingga menghasilkan beragam lukisan yang bernilai rupiah tinggi. Bahkan dalam wujud lukisan carita Tantri telah menjadi monumen yang diabadikan dalam bentuk panil yang tersaji pada dinding Kertagosa, Klungkung. pada panil paling bawah pada langit-langit bangunan Kerta Gosa.

Ceritanya dimulai dari panel sebelah timur beriringan keselatan, barat dan berakhir pada panil sebelah utara.

Bangunan Gedung Kertagosa Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kerta-gosa/ diakses 12 Nopember 2022

Pendek kata ulasan tentang Ni Diah Tantri telah masuk dalam cakupan  karya  sastra modern dan klasik, ikonografi, dan seni pertunjukkan. Di tengah-tengah carita Tantri yang banyak mengandung kiasan yang diambil dari tingkah polah binantang, sangat bijak pandangan seorang Prof Dharma Putra, yang mengatakan, hanya orang yang dungu yang tidak mampu mengambil pelajaran dari kias-kias carita Tantri.

Pandangan ini mengemuka dalam Seminar yang bertajuk “Nilai-nilai Sastra dan Budaya dalam Carita Tantri di Bali” (https://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/09/27/tantri-kekuatan-sebuah-dongeng.html/attachment/img_6675).

Demikian banyaknya ulasan tentang carita Tantri menjadi pertanda bahwa carita ini memang memiliki daya tarik yang luar biasa yang diakui oleh banyak pihak bermuatan pelajaran hidup yang tidak pernah padam sampai saat ini. Hal ini pun tidak bisa lepas dari banyaknya trait budaya yang bermuatan kisah tantri. Sesuai penjelasan I Made Pasek (1999:iii) berikut ini.

“Carita Tantri kalintang lumrah ring Bali, Sajeroning kapustakaan Bali wenten kapangguh makudang-kudang wangun sastra sane medaging carita Tantri, minakadinipun: Kakawin (kakawin Tanri) Kidung (Kidung Tantri Nandhaka-harana; Kidung Mandhuka – harana, Kidung Mandhuka Prakarana, Kidung   Ragawinasa, Kidung Pisaca- harana); Parikan miwah Geguritan (Parikan Tantri, Geguritan Cangak, Geguritan Panca Puspita); Gancaran (Tantri Kamandaka); Prasi (Tantri Prasi). Miwah sane lianan. Sios ring punika ring pakraman taler kapanggih gegambaran, balih-balihan, rauhing wayang sane nyaritayang daging Carita Tantri”.

Keabadian carita Tantri yang tertuang dalam berbagai trait budaya tidak akan pernah kering untuk digali dari berbagai sudut pandang.  Semakin carita ini digali semakin menunjukkan betapa ampuhnya dongeng sebagai alat konstruksi budaya.

Selama ini, jika tolehan kita dikembalikan kepada kajian yang selama ini sudah dilakukan, sorotan pandangan kita akan lebih tertuju pada kekuatan dongeng sebagai medium pendidikan nilai karakter untuk berbagai jenjang usia. Padahal ada sisi lain yang menarik dari kehadiran carita ini, tatkala dilihat dari isu gender.

Ni Diah Tantri, dari Perspektif Gender

Siapa Ni Diah Tantri?

Dihadirkan sebagai tokoh utama dalam cerita Tantri bejenis kelamin perempuan dengan adanya istilah Ni yang melekat pada sosok ini sebagai identitas biologis untuk menyebut nama perempuan.

Salah satu lokasi yang bisa diandalkan untuk mengetahui sosok ini bisa ditemukan pada langit-langit bangunan Kerta Gosa, yang ceritanya dimulai dari panel sebelah timur beriringan ke selatan, barat dan berakhir pada panil sebelah utara. Ibarat cerita seribu satu malam Ni Dyah Tantri digambarkan sebagai seorang gadis yang berjuang menghapus hasrat seksualitas seorang raja yang bernama Eswaryadala -, yang mempunyai kebiasaan “memangsa” perempuan yang diminati sesuai apa yang dia mau. Mahapatih mempunyai tugas setiap harinya mencarikan perempuan untuk Sang Raja.

Karena itu dilakukan setiap hari lama kelamaan perempuan di wilayah kerajaan tersebut menjadi habis. Kondisi tersebut terbaca oleh puteri Sang Patih yang bernama Diah Tantri yang selanjutnya menawarkan dirinya untuk dipersembahkan kepada raja (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kerta-gosa/ diakses 12 Nopember 2022)

Dari sudut pandang gender, tawaran Diah Tantri untuk menjadi persembahan Sang Raja bisa dapat dianggap sebagai orang yang memposisikan diri sebagai objek pemuas laki-laki. Dari segi kultur dominan, posisi perempuan sebagai objek seks laki-laki merupakan potret yang dianggap sebagai suatu kelaziman.

Steriotyp tentang hal ini dapat ditemui dari cara pandang terhadap perempuan sebagai mahkluk lemah, pelayan laki-laki, makhluk penurut dan banyak anggapan lainnya yang berujung pada posisi perempuan yang subordinat. Hanya saja, tokoh rekaan, seorang Diah Tantri dari segi perspektif gender ditampilkan sebagai sosok yang di luar pola umum.

Dia dihadirkan sebagai karakter pemberontak, berani, cerdas dan berpengetahuan. Tanpa melepaskan identitas gender perempuan dia digambarkan sebagai sosok yang punya kemampuan membangkitkan karakter maskulin dalam dirinya untuk melawan sosok maskulin di luar dirinya. Melalui rekaan semacam ini,

Ni Diah Tantri mengendalikan keadaan melalui pesona kecerdasannya. Sosok Diah Tantri bisa diartikan sebagai upaya dekontruksi terhadap kultur gender dominan, bahwa perempuan dalam kehidupan sosial tidak bisa digeralisasikan – di mana semua perempuan dalam semua lapisan sosial merupakan sosok yang lemah dan subordinat.

Diah Tantri adalah sosok feminis yang melawan kekerasan dengan kelembutan melalui suguhan cerita fabel dengan gaya cerita yang sanggup menyihir perwatakan Raja yang digambarkan sebagai sosok yang haus seks.

Ketika ulasan cerita ini dihentikan hanya sebatas membedah peran seorang Diah Tantri maka kekayaan cerita-cerita fabel yang dijadikan bahan oleh Ni Diah Tantri untuk membuka kesadaran Raja Eswaryadala sebagai seorang pemimpin,  ketemulah sederetan nilai-nilai karakter ideal yakni. Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Setia Kawan, Pantang Menyerah, Menghargai Orang Lain, Persahabatan, Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab, Sopan Santun, Tolong Menolong, Menghargai Prestasi (https://www.bawarasa.org/nilai-pendidikan-karakter-dalam-kisah-tantri-kamandaka/ diakses, 12/11/2022).

Setidaknya, bayangan seorang pemimpin yang merujuk pada karakter tersebut akan tampil pemimpin yang cerdas, cakap dan sekaligus humanis. Karakter tersebut merupakan perpaduan pensifatan maskulin dan feminin.

Di era kapanpun karakter ideal seorang pemimpin tidak akan pernah jauh dari karakter tersebut.. Diah Tantri dihadirkan dalam cerita Tantri sebagai penyeimbang untuk menetralisir pensifatan maskulin yang tampil dominan sehingga mengundang penindasan. 

Catatan menarik lainnya tatkala kisah Ni Diah Tantri dilihat dari perspektif berbeda yang tidak hanya sekedar membedah nilai karakter, namun melihat muatan isu gender di dalamnya. Secara hidden bisa ditemukan berikut ini.

Pertama, muatan moral dalam sosok Ni Diah Tantri adalah perempuan yang digambarkan bertugas menjadi penyelamat situasi kritis. Dengan cara tetap menjaga sisi femininnya dalam wujud kelembutan – inilah konstruksi gender yang berhasil menegaskan bahwa perempuan diharapkan menjadi penetralisir dominasi kekerasan.

Konstruksi semacam ini bisa berkembang menjadi mitos insklusif. Bingkai ceritanya dibalut mitos agar kemamapan konstruksi gender ideal untuk perempuan tetap dapat terjaga.

Ketika cerita ini dilihat dengan mata telanjang maka dia hanya hanya akan tampak sebagai kisah yang ampuh untuk penanaman nilai karakter pada generasi muda melalaui cerita-cerita binatang, mampu menggugah kesadaran bahwa menjadi pemimpin yang disegani harus memiliki karakter yang seimbang antara karakter maskulin dan feminin.

Namun, kalau dibedah dari kacamata kritis maka dapat ditemukan konstruksi ideologi gender yang menggunakan karya sastra sebagai medium. Mengapa sastra? Keampuhan sastra yang punya kesanggupan membungkus ideologi kiranya tidak bisa diragukan. Oleh karena itulah, kandungan karya sastra sebagai alat konstruksi ideologi menjadi pilihan dari masa ke masa.

Kedua, uniknya lagi carita Ni Diah Tantri  sesungguhnya menegaskan suatu ideologi yang bias laki-laki. Artinya, cerita ini bermuatan pesan moral bahwa laki-laki akan bangkit kesadarannya lewat pesona dan empowermant yang dimiliki perempuan. Dalam konteks ini laki-laki yang diwakili lewat tokoh raja Eswaryadala digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya.

Keberdayaannya muncul karena pesona Ni Diah Tantri melalui kepiawiannya bercerita membuat Sang Raja terbuai dan tersadar akan kekeliruannya. Konstruksi semacam ini jelas menjadi model penanaman kultur yang menguatkan bahwa laki-laki seolah-olah tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan kesadaran di atas kemampuan sendiri, dan selalu harus mendatangkan pihak di luar dirinya.

Ketika pemahaman ini di internalisasi secara terus menerus, maka yang terjadi adalah bentukan konstruksi yang tidak adil kepada laki-laki.

Sulit kiranya membantah bahwa carita Ni Diah Tantri adalah medium yang sangat strategis untuk dijadikan penanaman nilai karakter yang tak akan pernah lekang oleh jaman. Namun jika kita ingin benar-benar menjadikan sebagai alat edukasi untuk generasi muda saat ini, perlu ada kehati-hatian agar tidak terjebak pada kedangkalan cara pandang yang hanya melihatnya dari sisi permukaan carita.

Dengan kata lain, kisah ini bisa dipakai untuk melatihkan generasi muda di  pendidikan formal maupun informal sebagai latihan memperdebatkan kerumitan dan kompleksitas konstruksi gender melalui medium karya sastra. Inilah contoh belajar tentang tata cara permainan konstruksi ideologi. [T]

BACA opini lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Tags: ceritacerita rakyatDongeng TantriGenderkesenian baliNi Dyah TantriPerempuanTantri Kamandaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co