24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ni Diah Tantri Dalam Carita Tantri: Tokoh Penyeimbang Karakter Maskulin dalam Kepemimpinan

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 27, 2022
in Opini
Ni Diah Tantri Dalam Carita Tantri: Tokoh Penyeimbang Karakter Maskulin dalam Kepemimpinan

Foto ilustrasi diambil dari Poster pementasan Sendratari Dongeng Tantri karya Bumi Bajra Sandhi Bali (1917)

Kupasan Cerita Ni Diah Tantri sudah dilakukan oleh para akademisi. Berbagai ulasan telah lahir, berbagai sudut pandang telah dihasilkan tentang cerita fabel dengan tokoh sentral Ni Diah Tantri.

Di saat masyarakat Bali masih minim akan pilihan hiburan, masih bisalah ditemukan cukilan kisah fabel dari Ni Diah Tantri di jadikan bahan mesatua/bercerita yang dilakukan Nenek dan Kakek, untuk pengantar tidur cucu-cucunya.

Demikian pula di saat masyarakat Bali di tahun 1980-an masih terbuai dengan pesona pertunjukkan wayang kulit, salah seorang dalang  senior yang berasal dari Banjar Babakan, Sukawati Gianyar – I Wayan Wija, tidak pernah surut mengangkat cerita Tantri sebagai lakon dalam pertunjukkan wayangnya bahkan telah berhasil menciptakan Wayang Tantri.

Saat itu, cerita tantri membahana dari banjar ke banjar di seantero pulau Bali, dan sampai mampu membawa popularitas Dalang Wija di puncak ketenarannya.

Masih dalam pentas budaya. Dalam ajang pentas seni drama tari kolosal yang digelar oleh ISI Denpasar pada saat digelarnya Festival Seni dan Budaya Bali yang bertajuk Mandara Mahalango dalam gelaran ke III bulan Agustus 2016 dipentaskan drama tari musikal  “Tantri Kamandaka” (https://bali.antaranews.com/berita/93126/isi-denpasar-pentaskan-drama-tari-kolosal).

Tidak cukup kiranya sampai di sana, ulasan tentangnya dilakukan oleh banyak pihak yang menghasilkan berbagai karya dan pandangan. Cok Sawitri (2011) menghasilkan karya Tantri yang lewat karyanya mendudukan kisah Tanri sebagai foros patokan-patokan moral dalam  menghargai dan menjalani hidup.

Seorang Cok Sawitri juga mengakui bahwa kisah Tantri adalah kisah yang bukan hanya ingin  menonjolkan kemampuan seorang pendongeng, namun sekaligus ingin menonjolkan kecerdasan seorang perempuan dalam mengalahkan ke bengisan seorang raja Eswaryadala dalam memperlakukan perempuan.

Dengan sudut pandang yang hampir serupa ulasan I Nyoman Tika melalui Kompasiana pada tanggal 6 Februari 2020 menegaskan bahwa carita Ni Diah Tantri adalah carita tentang pelecehan raja Eswaryadala terhadap perempuan. Dialog yang ditonjolkan dalam paparan tulisannya menyuguhkan sajian bahwa Ni Diah Tantri hadir sebagai tokoh yang menjadi penegas tentang perempuan sebagai makhluk yang mulia dihadapan raja yang punya kegemaran melecehkan wanita (https://www.kompasiana.com/inyoman3907/5e3b8012097f36409b5d6f92/ni-diah-tantri-paduka-telah-melecehkan-wanita?page=2&page_images=1 ).

Selain itu, ulasan tentang cerita fabel dalam carita Diah Tantri diulas juga dari perspektif budaya politik oleh Kadek Suartaya (https://www.balipost.com/news/2021/02/26/177595/Filosofi-Peradaban-dari-Dongeng-I…html) melalui kisah I Cangak.

Ulasannya, ingin menegaskan bahwa carut marut kehidupan berbangsa dalam dasa warsa belakangan ini bisa menggunakan cerita I Cangak untuk mendapat cermin dalam pemenangan kontestasi politik

Cerita Tantri juga tidak kalah populernya ketika dituangkan ke dalam kanvas oleh para seniman sehingga menghasilkan beragam lukisan yang bernilai rupiah tinggi. Bahkan dalam wujud lukisan carita Tantri telah menjadi monumen yang diabadikan dalam bentuk panil yang tersaji pada dinding Kertagosa, Klungkung. pada panil paling bawah pada langit-langit bangunan Kerta Gosa.

Ceritanya dimulai dari panel sebelah timur beriringan keselatan, barat dan berakhir pada panil sebelah utara.

Bangunan Gedung Kertagosa Sumber : https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kerta-gosa/ diakses 12 Nopember 2022

Pendek kata ulasan tentang Ni Diah Tantri telah masuk dalam cakupan  karya  sastra modern dan klasik, ikonografi, dan seni pertunjukkan. Di tengah-tengah carita Tantri yang banyak mengandung kiasan yang diambil dari tingkah polah binantang, sangat bijak pandangan seorang Prof Dharma Putra, yang mengatakan, hanya orang yang dungu yang tidak mampu mengambil pelajaran dari kias-kias carita Tantri.

Pandangan ini mengemuka dalam Seminar yang bertajuk “Nilai-nilai Sastra dan Budaya dalam Carita Tantri di Bali” (https://www.balebengong.net/kabar-anyar/2011/09/27/tantri-kekuatan-sebuah-dongeng.html/attachment/img_6675).

Demikian banyaknya ulasan tentang carita Tantri menjadi pertanda bahwa carita ini memang memiliki daya tarik yang luar biasa yang diakui oleh banyak pihak bermuatan pelajaran hidup yang tidak pernah padam sampai saat ini. Hal ini pun tidak bisa lepas dari banyaknya trait budaya yang bermuatan kisah tantri. Sesuai penjelasan I Made Pasek (1999:iii) berikut ini.

“Carita Tantri kalintang lumrah ring Bali, Sajeroning kapustakaan Bali wenten kapangguh makudang-kudang wangun sastra sane medaging carita Tantri, minakadinipun: Kakawin (kakawin Tanri) Kidung (Kidung Tantri Nandhaka-harana; Kidung Mandhuka – harana, Kidung Mandhuka Prakarana, Kidung   Ragawinasa, Kidung Pisaca- harana); Parikan miwah Geguritan (Parikan Tantri, Geguritan Cangak, Geguritan Panca Puspita); Gancaran (Tantri Kamandaka); Prasi (Tantri Prasi). Miwah sane lianan. Sios ring punika ring pakraman taler kapanggih gegambaran, balih-balihan, rauhing wayang sane nyaritayang daging Carita Tantri”.

Keabadian carita Tantri yang tertuang dalam berbagai trait budaya tidak akan pernah kering untuk digali dari berbagai sudut pandang.  Semakin carita ini digali semakin menunjukkan betapa ampuhnya dongeng sebagai alat konstruksi budaya.

Selama ini, jika tolehan kita dikembalikan kepada kajian yang selama ini sudah dilakukan, sorotan pandangan kita akan lebih tertuju pada kekuatan dongeng sebagai medium pendidikan nilai karakter untuk berbagai jenjang usia. Padahal ada sisi lain yang menarik dari kehadiran carita ini, tatkala dilihat dari isu gender.

Ni Diah Tantri, dari Perspektif Gender

Siapa Ni Diah Tantri?

Dihadirkan sebagai tokoh utama dalam cerita Tantri bejenis kelamin perempuan dengan adanya istilah Ni yang melekat pada sosok ini sebagai identitas biologis untuk menyebut nama perempuan.

Salah satu lokasi yang bisa diandalkan untuk mengetahui sosok ini bisa ditemukan pada langit-langit bangunan Kerta Gosa, yang ceritanya dimulai dari panel sebelah timur beriringan ke selatan, barat dan berakhir pada panil sebelah utara. Ibarat cerita seribu satu malam Ni Dyah Tantri digambarkan sebagai seorang gadis yang berjuang menghapus hasrat seksualitas seorang raja yang bernama Eswaryadala -, yang mempunyai kebiasaan “memangsa” perempuan yang diminati sesuai apa yang dia mau. Mahapatih mempunyai tugas setiap harinya mencarikan perempuan untuk Sang Raja.

Karena itu dilakukan setiap hari lama kelamaan perempuan di wilayah kerajaan tersebut menjadi habis. Kondisi tersebut terbaca oleh puteri Sang Patih yang bernama Diah Tantri yang selanjutnya menawarkan dirinya untuk dipersembahkan kepada raja (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbali/kerta-gosa/ diakses 12 Nopember 2022)

Dari sudut pandang gender, tawaran Diah Tantri untuk menjadi persembahan Sang Raja bisa dapat dianggap sebagai orang yang memposisikan diri sebagai objek pemuas laki-laki. Dari segi kultur dominan, posisi perempuan sebagai objek seks laki-laki merupakan potret yang dianggap sebagai suatu kelaziman.

Steriotyp tentang hal ini dapat ditemui dari cara pandang terhadap perempuan sebagai mahkluk lemah, pelayan laki-laki, makhluk penurut dan banyak anggapan lainnya yang berujung pada posisi perempuan yang subordinat. Hanya saja, tokoh rekaan, seorang Diah Tantri dari segi perspektif gender ditampilkan sebagai sosok yang di luar pola umum.

Dia dihadirkan sebagai karakter pemberontak, berani, cerdas dan berpengetahuan. Tanpa melepaskan identitas gender perempuan dia digambarkan sebagai sosok yang punya kemampuan membangkitkan karakter maskulin dalam dirinya untuk melawan sosok maskulin di luar dirinya. Melalui rekaan semacam ini,

Ni Diah Tantri mengendalikan keadaan melalui pesona kecerdasannya. Sosok Diah Tantri bisa diartikan sebagai upaya dekontruksi terhadap kultur gender dominan, bahwa perempuan dalam kehidupan sosial tidak bisa digeralisasikan – di mana semua perempuan dalam semua lapisan sosial merupakan sosok yang lemah dan subordinat.

Diah Tantri adalah sosok feminis yang melawan kekerasan dengan kelembutan melalui suguhan cerita fabel dengan gaya cerita yang sanggup menyihir perwatakan Raja yang digambarkan sebagai sosok yang haus seks.

Ketika ulasan cerita ini dihentikan hanya sebatas membedah peran seorang Diah Tantri maka kekayaan cerita-cerita fabel yang dijadikan bahan oleh Ni Diah Tantri untuk membuka kesadaran Raja Eswaryadala sebagai seorang pemimpin,  ketemulah sederetan nilai-nilai karakter ideal yakni. Disiplin, Kerja Keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Setia Kawan, Pantang Menyerah, Menghargai Orang Lain, Persahabatan, Cinta Damai, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, Tanggung Jawab, Sopan Santun, Tolong Menolong, Menghargai Prestasi (https://www.bawarasa.org/nilai-pendidikan-karakter-dalam-kisah-tantri-kamandaka/ diakses, 12/11/2022).

Setidaknya, bayangan seorang pemimpin yang merujuk pada karakter tersebut akan tampil pemimpin yang cerdas, cakap dan sekaligus humanis. Karakter tersebut merupakan perpaduan pensifatan maskulin dan feminin.

Di era kapanpun karakter ideal seorang pemimpin tidak akan pernah jauh dari karakter tersebut.. Diah Tantri dihadirkan dalam cerita Tantri sebagai penyeimbang untuk menetralisir pensifatan maskulin yang tampil dominan sehingga mengundang penindasan. 

Catatan menarik lainnya tatkala kisah Ni Diah Tantri dilihat dari perspektif berbeda yang tidak hanya sekedar membedah nilai karakter, namun melihat muatan isu gender di dalamnya. Secara hidden bisa ditemukan berikut ini.

Pertama, muatan moral dalam sosok Ni Diah Tantri adalah perempuan yang digambarkan bertugas menjadi penyelamat situasi kritis. Dengan cara tetap menjaga sisi femininnya dalam wujud kelembutan – inilah konstruksi gender yang berhasil menegaskan bahwa perempuan diharapkan menjadi penetralisir dominasi kekerasan.

Konstruksi semacam ini bisa berkembang menjadi mitos insklusif. Bingkai ceritanya dibalut mitos agar kemamapan konstruksi gender ideal untuk perempuan tetap dapat terjaga.

Ketika cerita ini dilihat dengan mata telanjang maka dia hanya hanya akan tampak sebagai kisah yang ampuh untuk penanaman nilai karakter pada generasi muda melalaui cerita-cerita binatang, mampu menggugah kesadaran bahwa menjadi pemimpin yang disegani harus memiliki karakter yang seimbang antara karakter maskulin dan feminin.

Namun, kalau dibedah dari kacamata kritis maka dapat ditemukan konstruksi ideologi gender yang menggunakan karya sastra sebagai medium. Mengapa sastra? Keampuhan sastra yang punya kesanggupan membungkus ideologi kiranya tidak bisa diragukan. Oleh karena itulah, kandungan karya sastra sebagai alat konstruksi ideologi menjadi pilihan dari masa ke masa.

Kedua, uniknya lagi carita Ni Diah Tantri  sesungguhnya menegaskan suatu ideologi yang bias laki-laki. Artinya, cerita ini bermuatan pesan moral bahwa laki-laki akan bangkit kesadarannya lewat pesona dan empowermant yang dimiliki perempuan. Dalam konteks ini laki-laki yang diwakili lewat tokoh raja Eswaryadala digambarkan sebagai sosok yang tidak berdaya.

Keberdayaannya muncul karena pesona Ni Diah Tantri melalui kepiawiannya bercerita membuat Sang Raja terbuai dan tersadar akan kekeliruannya. Konstruksi semacam ini jelas menjadi model penanaman kultur yang menguatkan bahwa laki-laki seolah-olah tidak memiliki kemampuan untuk membangkitkan kesadaran di atas kemampuan sendiri, dan selalu harus mendatangkan pihak di luar dirinya.

Ketika pemahaman ini di internalisasi secara terus menerus, maka yang terjadi adalah bentukan konstruksi yang tidak adil kepada laki-laki.

Sulit kiranya membantah bahwa carita Ni Diah Tantri adalah medium yang sangat strategis untuk dijadikan penanaman nilai karakter yang tak akan pernah lekang oleh jaman. Namun jika kita ingin benar-benar menjadikan sebagai alat edukasi untuk generasi muda saat ini, perlu ada kehati-hatian agar tidak terjebak pada kedangkalan cara pandang yang hanya melihatnya dari sisi permukaan carita.

Dengan kata lain, kisah ini bisa dipakai untuk melatihkan generasi muda di  pendidikan formal maupun informal sebagai latihan memperdebatkan kerumitan dan kompleksitas konstruksi gender melalui medium karya sastra. Inilah contoh belajar tentang tata cara permainan konstruksi ideologi. [T]

BACA opini lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal
Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Tags: ceritacerita rakyatDongeng TantriGenderkesenian baliNi Dyah TantriPerempuanTantri Kamandaka
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Sakit Gegaen Anak” | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Puisi-puisi Jang Sukmanbrata Bagi Soni Farid Maulana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co