14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 16, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal

Made Suami , pedagang di Pasar Banyuasri

Setiap bulan November, negeri ini akan dibalut dengan hingar bingar wacana kepahlawanan. Heroiknya Bung Tomo beserta para pemuda dari berbagai daerah tanggal 10 Nopember 1945 di hotel Oranye Surabaya menjadi cover depan yang sampai saat ini masih menghiasi buku-buku pelajaran sejarah. Akibatnya, siswa hanya belajar kepahlawanan lebih pada sosok elite, berjenis kelamin laki-laki, berprilaku heroik, dihasilkan dari kancah medan perang.

Kondisi ini berjalan sudah sangat lama tanpa ruang perspektif yang lain. Perang sudah usai, pahlawan sudah ditetapkan bahkan sudah menjadi mitos yang telah sanggup menjadi magnit tentang masa lalu negeri ini untuk membangun spirit dalam menegakkan kemerdekaan bangsa baik dalam hidup masa kiri dan merencanakan masa depan.

Sederetan pahlawan nasional yang dimiliki bangsa ini menjadi pertanda bahwa negeri ini tidak dibangun lewat belas kasihan bangsa lain, namun diraih melalui kucuran keringat dan darah para pejuangnya.

Negeri ini telah berdiri tegak, kisah kepahlawanan telah menjadi kisah monumental yang selalu menyisakan suasana haru biru, sekaligus rasa bangga bagi generasi penerus bangsa ini. Hanya saja, kebutuhan akan jiwa kepahlawanan tidak akan pernah berhenti walaupun kita sudah tidak berhadapan dengan suasana perang fisik.

Dalam konteks ini, pandangan Pierre Bourdieu tentang arena pergulatan memberikan pemahaman bahwa di dalam setiap arena wilayah kehidupan akan terjadi pergulatan yang akan selalu bertarung untuk keluar menjadi pemenang. Setiap orang sesungguhnya senantiasa ada dalam pergulatan untuk menjaga eksistensinya. Setiap orang pula, selalu terdorong untuk bisa eksis.

Hakekat kepahlawanan bagi setiap orang menjadi kebutuhan. Dan, sesungguhnya, filosofis kepahlawann itu bukanlah sesuatu yang tunggal, namun lebih bermakna majemuk. Artinya, sosok kepahlawan tidaklah harus ditemukan pada sosok yang tunggal, namun bisa ditemukan dari keaneka ragaman profesi, status, latar sosial ekonomi, latar etnis maupun agama yang berbeda.

Tolehan karakteristik tentang kepahlawanan selama ini lebih dominan tertuju pada narasi-narasi besar yang diwakili lewat tokoh-tokoh yang telah diakui secara legal formal dan dikukuhkan dengan keluarnya Surat Keputusan Presiden yang memuat tokoh-tokoh pahlawan yang dinilai berjasa menegakkan martabat bangsa ini dari eksploatasi para penjajah.

Di era pasca kemerdekaan sosok kepahlawanan lebih diperluas lagi dengan pemberian penghargaan kepada mereka-mereka yang dinilai berjasa dalam bidang sosial ekonomi, lingkungan, bahkan penghargaan kepada para pejuang seni pun menjadi hal yang biasa saat ini. Kita diperkenalkan tentang para seniman yang mampu memajukan dan mengembangkan kehidupan sastra dan seni. Semakin beragam sosok kepahlawan yang kita kenal, akan semakin memperkaya perspektif dalam menemukan arti dan makna kepahlawanan.

Kisah Perempuan Marginal

Membaca kisah dari seorang perempuan yang selalu berjuang untuk bertahan hidup, merupakan langkah dalam memperkaya perspektif. Adalah seorang perempuan tengah baya bernama Made Suami (60tahun). Sosok perempuan Bali ini sehari-harinya menghabiskan waktu di pasar Banyuasri, Buleleng.

Selintas perempuan ini tampak biasa-biasa saja, sebagaimana halnya perempuan Bali tradisional penghuni pasar. Dengan kain kemben batik, rambut diikat seadanya, wajah tanpa riasan menunjukkan tampilan sebagaimana perempuan Bali pada umumnya di dunia pasar tradisional.

Gambar 01: Made Suami sedang melayani pembeli | Sumber: Sendratari, Nopember 2022

Saat ini Pasar Banyuasri telah menjadi pasar tradisional dengan bangunan  kokoh dan megah, yang tampil lewat perpaduan karakter bangunan tradisional dan modern. Pembangunan pasar semacam ini, bukan hanya dimaksudkan untuk mengubah tampilan fisik pasar, namun juga sekaligus dimaksudkan untuk memupus anggapan tentang label pasar yang kumuh, dan tidak beraturan.

Selain membawa perubahan fisik, pembangunan pasar modern sekaligus mengubah pula kultur para pedagang tentang arti kebersihan dan kerapian. Konsep pasar semacam ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada para pengunjung pasar.

Gambar 02: Tampilan Depan Pasar Banyuasri, Buleleng | Sumber: https://bali.antaranews.com/berita/230446/pasar-banyuasri-di-buleleng-dibuka-18-maret

Gagasan cemerlang pembangunan pasar tradisional tidak secara otomatis akan menciptakan stimulus munculnya antusias para pedagang untuk mengisi blok maupun kios-kios yang ada di dalam bangunan pasar. Banyak di antara pedagang saat wajah pasar masih belum megah, hanya dengan meja kecil, membayar karcis sekedarnya sudah bisa mengais rejeki di dalam pasar, namun ketika pasar dikelola dengan manajemen modern, banyak pula yang tumbang. Inilah konsekuensi pembangunan berdasarkan analisis socio depelopment.

Made Suami adalah sosok yang memilih berdagang di luar kemegahan Pasar Banyuasri. Di tengah-tengah kenyamanan kios maupun blok yang ada di dalam pasar, dia lebih memilih menyudut di pinggiran jalan pasar tempat orang-orang melintas. Dia sadar tempat yang dipilihnya tidak legal, tidak aman karena sewaktu-waktu sangat dimungkinkan dia akan kena penertiban oleh petugas.

Namun, dia masih bertahan sampai saat ini. Dengan entengnya dia berucap: “yach lamen usire, buin pindah”. Ucapan ini disampaikan dengan nada kepasrahan. Pasrah dan tahan banting itu hal yang menurutnya sudah menjadi bagian dari perjuangan hidupnya selama ini. Kisahnya dimulai dari kehidupan masa kecilnya yang mengantarkan takdirnya ada di dunia pasar.

Dia mulai berkisah saat umur sekitar 6 tahun dia sudah kehilangan bapaknya yang meninggal sebagai korban peristiwa Gerakan 30 September di tahun 1965. Samar-samar dia masih mengingat suasana mencekam di desanya saat itu – Panji Anom, Buleleng. Namun Suami kecil mengaku tidak merasa takut melihat beberapa orang di desanya membawa klewang.

Kehilangan figur bapak baginya adalah awal dari pahitnya hidup bersama ketiga saudaranya yang lain. Rasa kehilangan itu semakin kuat setelah beberapa saat ibu kandungnya menikah lagi dengan lelaki di desanya. Hidup selanjutnya dilakoni bersama ketiga saudaranya di bawah asuhan nenek. Melalui didikan neneknya dia mengenal apa artinya bertahan hidup di tengah himpitan kemiskinan.

Kehilangan sosok tulang punggung keluarga membawa takdir Made Suami dari umur 7 tahun mulai tahu cara mendapat uang dengan berdagang. Dimulai menjual bunga di pasar tenten  di sekitar desanya dia mulai mencium nikmatnya aroma uang kertas yang sanggup membuatnya ketagihan untuk terus mencari dan mencarinya.

Uang yang didapat tidak serta merta dibelanjakan, namun setelah disisihkan untuk membeli barang dagangan, sisanya diserahkan kepada neneknya untuk dimasukkan ke celengan.

Saat hari raya tiba, misalnya Galungan sebagai hari sangat ditunggu-tunggu, neneknya akan memasakkan nasi tulen. Sehari-harinya mereka biasa makan nasi cacah karena hanya itu yang bisa mereka nikmati. Lauk baginya adalah barang mahal.

Kedatangan hari raya Galungan menjadi hari istimewa baginya dan saudara-saudaranya yang lain. Nasi tulen, berhenti sejenak mencari uang digantikan dengan bermain dan melali bersama teman sebayanya adalah momen yang mewarnai masa kecil Made Suami di saat hari raya tiba.

Dia mengaku sempat mencicipi dunia sekolah hanya sampai kelas 2 SD/Sekolah Dasar. Keputusannya berhenti sekolah menurut pengakuannya karena tidak punya baju yang dipakai sekolah, satu dua baju yang dimiliki sering kotor dan sudah lusuh yang membuatnya malu datang ke sekolah. Saat itu, tidak ada yang memaksa dia untuk lanjut sekolah. Sambil menunduk dengan nada pelan dia berujar: “kengkenang nagih masuk, be sing ade ane ngeruwuang” (“bagaimana bisa lanjut sekolah, orang tidak ada yang ngurus”).

Seiring dengan bertambahnya usia, di tahun 80-an Suami kecil bertumbuh menjadi perempuan remaja, mulai semakin punya dorongan kuat untuk memiliki lebih banyak uang melalui kegiatan berdagang. Bersama-sama beberapa teman sebayanya dia mulai berani berdagang keluar desa dari Panji Anom menuju pasar Banyuasri.

Pukul 04.00 subuh secara berkelompok mereka menyusuri jalanan kecil menuju ke jalan Raya Anturan, dan sekitar pukul 05.00 mereka sudah sampai di Pasar Banyuasri.

Demikian hal yang dilakukan setiap harinya, sehingga membangun keyakinan Made Suami bahwa pasar adalah denyut nadi kehidupannya. Tidak ada rasa kuatir dan tiada kecemasan saat mereka menelusuri jalan di kegelapan malam. Karena menurutnya: “sing ade anak muani jahil di jalan jamane ento, len ajak jani” (“tidak ada laki-laki yang nakal menggoda kita saat itu di jalan, beda dengan zaman sekarang”)

Dia mulai melirik peluang mendapatkan barang dagangan yang ekonomis, tetapi mendapatkan untung. Satu komuditas yang memberi keuntungan baginya adalah daun jati. Saat itu di sekitar desanya sangat banyak ada kebun-kebun jati yang daunnya bisa dicari secara bebas tanpa larangan dari pemiliknya. Sore hari dia mulai mencari daun jati untuk dibawa keesokan harinya.

Selain daun jati, dia juga membeli barang dagangan untuk dibawa ke pasar yakni daun paku/jukut paku. Walaupun barang dibawa hanya dalam skala kecil, dan untuk sampai di pasar ditempuh dengan jarak yang jauh, Made Suami tidak pernah mengeluh dan selalu bisa merasakan bahwa pasar sudah menyelematkan dirinya dan keluarga dari himpitan kemiskinan.

Memasuki tahun 1982-an, Made Suami bertemu jodohnya, seorang lelaki berasal dari Desa Tukad Mungga, kira-kira berjarak 4 kilometer dari desa asalnya. Setelah berkeluarga, sampai mempunyai anak kesenangannya berdagang tidak pernah luntur. Malah menurutnya, tuntutan hidup setelah berkeluarga, mempunyai anak justru semakin memacu semangatnya untuk mengais rejeki di pasar. Setelah berkeluarga, dia mulai memutuskan untuk menggelar dagangan di tempat yang relatip tetap, sehingga bisa menjual barang dagangan yang lebih banyak.

Dia juga memiliki suami yang selalu siap mengantarnya ke pasar di saat subuh dan menjemputnya saat tengah hari. Demikian terus terpola. Ada saat-saat dia aman tanpa diganggu hiruk pikuk pembongkaran pasar, kepindahan lokasi berjualan, sebaliknya dia merasa tidak aman kalau suatu saat dia digusur dari tempatnya sekarang. Seringkali dia mencoba melupakan bayangan itu dengan tetap menjaga kecintaannya dengan pasar.

Dia selalu yakin pasti ada jalan. Dia selalu berdoa agar di sisi megahnya Pasar Banyuasri, masih selalu tersisa tempat untuk orang-orang seperti dirinya. Secara pribadi dia punya penilaian bahwa berjualan di dalam pasar lebih sering sepi pembeli, dan dia merasa tidak punya modal untuk menyewa blok. Katanya, ada temannya yang mau meminjamkan blok untuknya, namun sampai sekarang dia mengaku tidak tertarik, karena khawatir tidak akan sanggup menebus.

Berjualan di pinggiran pasar baginya sudah cukup memberinya rejeki. Jenis barang dagangannya saat ini tidak berubah dari dulu. Berjualan bunga, daksina, kulit ketupat, pisang, kelapa, beberapa sayur mayur. Dia mendapatkan semua itu dari para pedagang lainnya. Saat pasar dalam kondisi sepi dia mendapatkan keuntungan sekitar Rp.50.000/hari.

Kondisi yang menyenangkan baginya di saat pasar ramai menjelang hari raya kecil maupun besar, karena hasil penjualan yang didapat pun meningkat ketimbang hari-hari biasa. Walaupun akhir-akhir ini dia merasa kondisinya menurun, sering sakit pinggang, kakinya terkadang sakit, namun dia tetap yakin bahwa pasar adalah arena yang tepat baginya untuk berjuang meniti hidup dirinya dan keluarganya.

Cara Memaknai Hidup

Kisah Made Suami bukanlah satu-satunya kisah insan manusia di arena pasar. Kiranya masih banyak kisah serupa yang tidak kalah rumitnya tentang pengalaman hidup seseorang dalam berjuang mempertahankan hidup di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Dia hanyalah salah contoh menarik tentang potret perempuan yang tegar di tengah megah dan kokohnya pasar Banyuasri. Membaca kisah singkat hidup seorang Made Suami sesungguhnya dapat dijadikan bahan rujukan untuk menemukan sisi kepahlawanan dalam diri seseorang. Setidaknya, ada semangat juang, pantang menyerah, tidak mengenal lelah, selalu optimis, itulah hal yang dapat diperoleh dari Made Suami.

Dari sisi inilah dapat ditemukan unsur keteladanan yang hadir dari cara-cara orang kecil memaknai arti hidup. Baginya, menjadi pahlawan keluarga adalah sebuah kemuliaan. Arti pahlawan menurutnya adalah saat – saat seseorang bisa berperang melawan kemalasan.dan bisa mengalahkan kemalasan Baginya, kemalasan adalah musuh besar untuk menjaga kualitas hidup. Berteman dengan kemalasan sama halnya dengan orang bodoh yang tidak mau menangkap peluang.

Keluasan membangun perspektif tentang kepahlawanan akan menghasilkan kekayaan moralitas yang bisa jadi akan bermuara kepada kebajikan, kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan. Karakter semacam inilah yang diperlukan sebagai bentuk keteladanan yang tidak akan pernah lekang dari masa ke masa. [T]

[][][]

BACA artikel opini yang lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Panji Semirang: Tokoh Imajiner dalam Merajut Manusia Androgyni
Tags: ekonomipahlawanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indrawan dan Warung Tresni, Kenangan Demi Kenangan — Sebuah Obituari

Next Post

Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co