2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal

Luh Putu Sendratari by Luh Putu Sendratari
November 16, 2022
in Opini, Pilihan Editor
Serpihan Narasi Kecil Tentang Makna Kepahlawanan dari Kisah Perempuan Marginal

Made Suami , pedagang di Pasar Banyuasri

Setiap bulan November, negeri ini akan dibalut dengan hingar bingar wacana kepahlawanan. Heroiknya Bung Tomo beserta para pemuda dari berbagai daerah tanggal 10 Nopember 1945 di hotel Oranye Surabaya menjadi cover depan yang sampai saat ini masih menghiasi buku-buku pelajaran sejarah. Akibatnya, siswa hanya belajar kepahlawanan lebih pada sosok elite, berjenis kelamin laki-laki, berprilaku heroik, dihasilkan dari kancah medan perang.

Kondisi ini berjalan sudah sangat lama tanpa ruang perspektif yang lain. Perang sudah usai, pahlawan sudah ditetapkan bahkan sudah menjadi mitos yang telah sanggup menjadi magnit tentang masa lalu negeri ini untuk membangun spirit dalam menegakkan kemerdekaan bangsa baik dalam hidup masa kiri dan merencanakan masa depan.

Sederetan pahlawan nasional yang dimiliki bangsa ini menjadi pertanda bahwa negeri ini tidak dibangun lewat belas kasihan bangsa lain, namun diraih melalui kucuran keringat dan darah para pejuangnya.

Negeri ini telah berdiri tegak, kisah kepahlawanan telah menjadi kisah monumental yang selalu menyisakan suasana haru biru, sekaligus rasa bangga bagi generasi penerus bangsa ini. Hanya saja, kebutuhan akan jiwa kepahlawanan tidak akan pernah berhenti walaupun kita sudah tidak berhadapan dengan suasana perang fisik.

Dalam konteks ini, pandangan Pierre Bourdieu tentang arena pergulatan memberikan pemahaman bahwa di dalam setiap arena wilayah kehidupan akan terjadi pergulatan yang akan selalu bertarung untuk keluar menjadi pemenang. Setiap orang sesungguhnya senantiasa ada dalam pergulatan untuk menjaga eksistensinya. Setiap orang pula, selalu terdorong untuk bisa eksis.

Hakekat kepahlawanan bagi setiap orang menjadi kebutuhan. Dan, sesungguhnya, filosofis kepahlawann itu bukanlah sesuatu yang tunggal, namun lebih bermakna majemuk. Artinya, sosok kepahlawan tidaklah harus ditemukan pada sosok yang tunggal, namun bisa ditemukan dari keaneka ragaman profesi, status, latar sosial ekonomi, latar etnis maupun agama yang berbeda.

Tolehan karakteristik tentang kepahlawanan selama ini lebih dominan tertuju pada narasi-narasi besar yang diwakili lewat tokoh-tokoh yang telah diakui secara legal formal dan dikukuhkan dengan keluarnya Surat Keputusan Presiden yang memuat tokoh-tokoh pahlawan yang dinilai berjasa menegakkan martabat bangsa ini dari eksploatasi para penjajah.

Di era pasca kemerdekaan sosok kepahlawanan lebih diperluas lagi dengan pemberian penghargaan kepada mereka-mereka yang dinilai berjasa dalam bidang sosial ekonomi, lingkungan, bahkan penghargaan kepada para pejuang seni pun menjadi hal yang biasa saat ini. Kita diperkenalkan tentang para seniman yang mampu memajukan dan mengembangkan kehidupan sastra dan seni. Semakin beragam sosok kepahlawan yang kita kenal, akan semakin memperkaya perspektif dalam menemukan arti dan makna kepahlawanan.

Kisah Perempuan Marginal

Membaca kisah dari seorang perempuan yang selalu berjuang untuk bertahan hidup, merupakan langkah dalam memperkaya perspektif. Adalah seorang perempuan tengah baya bernama Made Suami (60tahun). Sosok perempuan Bali ini sehari-harinya menghabiskan waktu di pasar Banyuasri, Buleleng.

Selintas perempuan ini tampak biasa-biasa saja, sebagaimana halnya perempuan Bali tradisional penghuni pasar. Dengan kain kemben batik, rambut diikat seadanya, wajah tanpa riasan menunjukkan tampilan sebagaimana perempuan Bali pada umumnya di dunia pasar tradisional.

Gambar 01: Made Suami sedang melayani pembeli | Sumber: Sendratari, Nopember 2022

Saat ini Pasar Banyuasri telah menjadi pasar tradisional dengan bangunan  kokoh dan megah, yang tampil lewat perpaduan karakter bangunan tradisional dan modern. Pembangunan pasar semacam ini, bukan hanya dimaksudkan untuk mengubah tampilan fisik pasar, namun juga sekaligus dimaksudkan untuk memupus anggapan tentang label pasar yang kumuh, dan tidak beraturan.

Selain membawa perubahan fisik, pembangunan pasar modern sekaligus mengubah pula kultur para pedagang tentang arti kebersihan dan kerapian. Konsep pasar semacam ini dimaksudkan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan kepada para pengunjung pasar.

Gambar 02: Tampilan Depan Pasar Banyuasri, Buleleng | Sumber: https://bali.antaranews.com/berita/230446/pasar-banyuasri-di-buleleng-dibuka-18-maret

Gagasan cemerlang pembangunan pasar tradisional tidak secara otomatis akan menciptakan stimulus munculnya antusias para pedagang untuk mengisi blok maupun kios-kios yang ada di dalam bangunan pasar. Banyak di antara pedagang saat wajah pasar masih belum megah, hanya dengan meja kecil, membayar karcis sekedarnya sudah bisa mengais rejeki di dalam pasar, namun ketika pasar dikelola dengan manajemen modern, banyak pula yang tumbang. Inilah konsekuensi pembangunan berdasarkan analisis socio depelopment.

Made Suami adalah sosok yang memilih berdagang di luar kemegahan Pasar Banyuasri. Di tengah-tengah kenyamanan kios maupun blok yang ada di dalam pasar, dia lebih memilih menyudut di pinggiran jalan pasar tempat orang-orang melintas. Dia sadar tempat yang dipilihnya tidak legal, tidak aman karena sewaktu-waktu sangat dimungkinkan dia akan kena penertiban oleh petugas.

Namun, dia masih bertahan sampai saat ini. Dengan entengnya dia berucap: “yach lamen usire, buin pindah”. Ucapan ini disampaikan dengan nada kepasrahan. Pasrah dan tahan banting itu hal yang menurutnya sudah menjadi bagian dari perjuangan hidupnya selama ini. Kisahnya dimulai dari kehidupan masa kecilnya yang mengantarkan takdirnya ada di dunia pasar.

Dia mulai berkisah saat umur sekitar 6 tahun dia sudah kehilangan bapaknya yang meninggal sebagai korban peristiwa Gerakan 30 September di tahun 1965. Samar-samar dia masih mengingat suasana mencekam di desanya saat itu – Panji Anom, Buleleng. Namun Suami kecil mengaku tidak merasa takut melihat beberapa orang di desanya membawa klewang.

Kehilangan figur bapak baginya adalah awal dari pahitnya hidup bersama ketiga saudaranya yang lain. Rasa kehilangan itu semakin kuat setelah beberapa saat ibu kandungnya menikah lagi dengan lelaki di desanya. Hidup selanjutnya dilakoni bersama ketiga saudaranya di bawah asuhan nenek. Melalui didikan neneknya dia mengenal apa artinya bertahan hidup di tengah himpitan kemiskinan.

Kehilangan sosok tulang punggung keluarga membawa takdir Made Suami dari umur 7 tahun mulai tahu cara mendapat uang dengan berdagang. Dimulai menjual bunga di pasar tenten  di sekitar desanya dia mulai mencium nikmatnya aroma uang kertas yang sanggup membuatnya ketagihan untuk terus mencari dan mencarinya.

Uang yang didapat tidak serta merta dibelanjakan, namun setelah disisihkan untuk membeli barang dagangan, sisanya diserahkan kepada neneknya untuk dimasukkan ke celengan.

Saat hari raya tiba, misalnya Galungan sebagai hari sangat ditunggu-tunggu, neneknya akan memasakkan nasi tulen. Sehari-harinya mereka biasa makan nasi cacah karena hanya itu yang bisa mereka nikmati. Lauk baginya adalah barang mahal.

Kedatangan hari raya Galungan menjadi hari istimewa baginya dan saudara-saudaranya yang lain. Nasi tulen, berhenti sejenak mencari uang digantikan dengan bermain dan melali bersama teman sebayanya adalah momen yang mewarnai masa kecil Made Suami di saat hari raya tiba.

Dia mengaku sempat mencicipi dunia sekolah hanya sampai kelas 2 SD/Sekolah Dasar. Keputusannya berhenti sekolah menurut pengakuannya karena tidak punya baju yang dipakai sekolah, satu dua baju yang dimiliki sering kotor dan sudah lusuh yang membuatnya malu datang ke sekolah. Saat itu, tidak ada yang memaksa dia untuk lanjut sekolah. Sambil menunduk dengan nada pelan dia berujar: “kengkenang nagih masuk, be sing ade ane ngeruwuang” (“bagaimana bisa lanjut sekolah, orang tidak ada yang ngurus”).

Seiring dengan bertambahnya usia, di tahun 80-an Suami kecil bertumbuh menjadi perempuan remaja, mulai semakin punya dorongan kuat untuk memiliki lebih banyak uang melalui kegiatan berdagang. Bersama-sama beberapa teman sebayanya dia mulai berani berdagang keluar desa dari Panji Anom menuju pasar Banyuasri.

Pukul 04.00 subuh secara berkelompok mereka menyusuri jalanan kecil menuju ke jalan Raya Anturan, dan sekitar pukul 05.00 mereka sudah sampai di Pasar Banyuasri.

Demikian hal yang dilakukan setiap harinya, sehingga membangun keyakinan Made Suami bahwa pasar adalah denyut nadi kehidupannya. Tidak ada rasa kuatir dan tiada kecemasan saat mereka menelusuri jalan di kegelapan malam. Karena menurutnya: “sing ade anak muani jahil di jalan jamane ento, len ajak jani” (“tidak ada laki-laki yang nakal menggoda kita saat itu di jalan, beda dengan zaman sekarang”)

Dia mulai melirik peluang mendapatkan barang dagangan yang ekonomis, tetapi mendapatkan untung. Satu komuditas yang memberi keuntungan baginya adalah daun jati. Saat itu di sekitar desanya sangat banyak ada kebun-kebun jati yang daunnya bisa dicari secara bebas tanpa larangan dari pemiliknya. Sore hari dia mulai mencari daun jati untuk dibawa keesokan harinya.

Selain daun jati, dia juga membeli barang dagangan untuk dibawa ke pasar yakni daun paku/jukut paku. Walaupun barang dibawa hanya dalam skala kecil, dan untuk sampai di pasar ditempuh dengan jarak yang jauh, Made Suami tidak pernah mengeluh dan selalu bisa merasakan bahwa pasar sudah menyelematkan dirinya dan keluarga dari himpitan kemiskinan.

Memasuki tahun 1982-an, Made Suami bertemu jodohnya, seorang lelaki berasal dari Desa Tukad Mungga, kira-kira berjarak 4 kilometer dari desa asalnya. Setelah berkeluarga, sampai mempunyai anak kesenangannya berdagang tidak pernah luntur. Malah menurutnya, tuntutan hidup setelah berkeluarga, mempunyai anak justru semakin memacu semangatnya untuk mengais rejeki di pasar. Setelah berkeluarga, dia mulai memutuskan untuk menggelar dagangan di tempat yang relatip tetap, sehingga bisa menjual barang dagangan yang lebih banyak.

Dia juga memiliki suami yang selalu siap mengantarnya ke pasar di saat subuh dan menjemputnya saat tengah hari. Demikian terus terpola. Ada saat-saat dia aman tanpa diganggu hiruk pikuk pembongkaran pasar, kepindahan lokasi berjualan, sebaliknya dia merasa tidak aman kalau suatu saat dia digusur dari tempatnya sekarang. Seringkali dia mencoba melupakan bayangan itu dengan tetap menjaga kecintaannya dengan pasar.

Dia selalu yakin pasti ada jalan. Dia selalu berdoa agar di sisi megahnya Pasar Banyuasri, masih selalu tersisa tempat untuk orang-orang seperti dirinya. Secara pribadi dia punya penilaian bahwa berjualan di dalam pasar lebih sering sepi pembeli, dan dia merasa tidak punya modal untuk menyewa blok. Katanya, ada temannya yang mau meminjamkan blok untuknya, namun sampai sekarang dia mengaku tidak tertarik, karena khawatir tidak akan sanggup menebus.

Berjualan di pinggiran pasar baginya sudah cukup memberinya rejeki. Jenis barang dagangannya saat ini tidak berubah dari dulu. Berjualan bunga, daksina, kulit ketupat, pisang, kelapa, beberapa sayur mayur. Dia mendapatkan semua itu dari para pedagang lainnya. Saat pasar dalam kondisi sepi dia mendapatkan keuntungan sekitar Rp.50.000/hari.

Kondisi yang menyenangkan baginya di saat pasar ramai menjelang hari raya kecil maupun besar, karena hasil penjualan yang didapat pun meningkat ketimbang hari-hari biasa. Walaupun akhir-akhir ini dia merasa kondisinya menurun, sering sakit pinggang, kakinya terkadang sakit, namun dia tetap yakin bahwa pasar adalah arena yang tepat baginya untuk berjuang meniti hidup dirinya dan keluarganya.

Cara Memaknai Hidup

Kisah Made Suami bukanlah satu-satunya kisah insan manusia di arena pasar. Kiranya masih banyak kisah serupa yang tidak kalah rumitnya tentang pengalaman hidup seseorang dalam berjuang mempertahankan hidup di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Dia hanyalah salah contoh menarik tentang potret perempuan yang tegar di tengah megah dan kokohnya pasar Banyuasri. Membaca kisah singkat hidup seorang Made Suami sesungguhnya dapat dijadikan bahan rujukan untuk menemukan sisi kepahlawanan dalam diri seseorang. Setidaknya, ada semangat juang, pantang menyerah, tidak mengenal lelah, selalu optimis, itulah hal yang dapat diperoleh dari Made Suami.

Dari sisi inilah dapat ditemukan unsur keteladanan yang hadir dari cara-cara orang kecil memaknai arti hidup. Baginya, menjadi pahlawan keluarga adalah sebuah kemuliaan. Arti pahlawan menurutnya adalah saat – saat seseorang bisa berperang melawan kemalasan.dan bisa mengalahkan kemalasan Baginya, kemalasan adalah musuh besar untuk menjaga kualitas hidup. Berteman dengan kemalasan sama halnya dengan orang bodoh yang tidak mau menangkap peluang.

Keluasan membangun perspektif tentang kepahlawanan akan menghasilkan kekayaan moralitas yang bisa jadi akan bermuara kepada kebajikan, kesederhanaan, ketulusan dan keikhlasan. Karakter semacam inilah yang diperlukan sebagai bentuk keteladanan yang tidak akan pernah lekang dari masa ke masa. [T]

[][][]

BACA artikel opini yang lain dari penulis LUH PUTU SENDRATARI

Nasi Kuning: Warisan Intangible | Pintu Akselerasi Perempuan Mewujudkan Mimpi Pemberdayaan
Mengeja Gender dalam Imajinasi Kota Singaraja : Sudut Pandang Pluralisme
Panji Semirang: Tokoh Imajiner dalam Merajut Manusia Androgyni
Tags: ekonomipahlawanPerempuan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Indrawan dan Warung Tresni, Kenangan Demi Kenangan — Sebuah Obituari

Next Post

Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Luh Putu Sendratari

Luh Putu Sendratari

Prof. Dr. Luh Putu Sendratari, M.Hum., guru besar bidang kajian budaya Undiksha Singaraja

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Dari Tugu Singa, 484 Atlet Porprov Buleleng Berangkat ke Medan Tanding

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co