2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Esensi Bahasa Indonesia di Tengah Jargon Profil Pelajar Pancasila | Seri Peringatan Bulan Bahasa

I Gede Eka Putra Adnyana by I Gede Eka Putra Adnyana
October 15, 2022
in Opini
Esensi Bahasa Indonesia di Tengah Jargon Profil Pelajar Pancasila | Seri Peringatan Bulan Bahasa

“Pergunakanlah bahasa Indonesia dengan baik dan benar”, demikian imbauan yang sering disampaikan oleh para pembina bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tertulis.

Imbauan semacam itu bukan tanpa alasan. Banyak kenyataan dalam kegiatan berbahasa dapat dikemukakan sebagai contoh guna memperkuat alasan tersebut. Salah satunya adalah sikap arogan dari mereka yang senantiasa menjadi figur publik atau anutan yang masih bersifat paternalistik.

Terhadap masyarakat yang bersifat paternalistik, sikap atau gaya bahasa tokoh (anutan) berdampak psikologis. Artinya menganggap bahwa bahasa yang digunakan si tokoh anutan tersebut sudah benar. Akibatnya, masyarakat akan menirukan begitu saja, tanpa koreksi, atau tanpa menelusuri kebenarannya.

Di samping itu, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah cukup mampu berbahasa Indonesia. Terlebih jaman digital masa kini, sejak mulai berbicara sudah menggunakan Bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Indonesia dianggap remeh, dianggap pelengkap dalam pembelajaran, atau asal-asalan saja. Hal ini menjadikan Bahasa Indonesia begitu latah oleh penggunanya yang abai dan tidak dapat dimungkiri bahwa masih banyak warga masyarakat seperti “enggan” mempelajari bahasa Indonesia sebagai esensi penting dalam kehidupan, juga sebagai warga negara Indonesia sejati.

”Buat apa belajar bahasa Indonesia, toh sudah bisa berbahasa Indonesia. Lebih baik belajar bahasa lain, bisa jadi gaid, mendatangkan uang, atau bisa bekerja di belahan bumi lain”. Begitu biasanya asumsi generasi milenial ketika belajar bahasa Indonesia.

Kenyataanya, benar saja, tidak ada papan-papan reklame yang di pampang di pinggir jalan yang menawarkan les privat bahasa Indonesia. Yang ada, ajakan/tawaran untuk les bahasa lain. Karena oleh sebagian masyarakat, juga generasi milenial,  masalah bahasa Indonesia  dipandang hanya sebagai masalah para pakar dan pembina bahasa Indonesia (termasuk guru-guru yang mengajarkan di sekolah).

Bahkan, mereka yang sudah intelek atau berpendidikan pun seperti “tidak hirau lagi” terhadap bahasa Indonesia. Mungkin karena dalam pergaulan sehari-hari, mereka merasa tidak mengalami kesulitan berkomunikasi dengan bahasa Indonesia.

Begitulah, jika bahasa Indonesia dipandang sebagai alat komunikasi semata-mata, setelah seseorang merasa mampu menggunakannya, merasa mampu menyatakan pikiran, dan perasaan dalam bahasa Indonesia, serta orang lain mampu memahaminya, dianggap selesailah tugas mempelajari bahasa Indonesia itu.

Namun seyogianya perlu disadari, bahasa Indonesia bukan semata-mata alat komunikasi dalam berinteraksi ataupun dalam hubungan interaksi belajar di sekolah. Bagi bangsa Indonesia yang ingin tampil sebagai bangsa yang beridentitas, beradab, berkepribadian, dan punya jati diri, bahasa Indonesia merupakan salah satu sarana pengungkapan diri. Hal itu berarti bahwa melalui pengajaran dan penggunaan bahasa Indonesia, bangsa Indonesia menyatakan peradaban, identitas, kepribadian, dan jati dirinya. Seperti pepatah mengatakan “Bahasa menunjukkan Bangsa”, atau “Bahasa Pemersatu Bangsa”, itulah!

Begitu pula esensi penting bahasa Indonesia di tengah jargon “Profil Pelajar Pancasila. Esensi bahasa Indonesia dalam hal ini sebagai media untuk sarana dalam menjalin gotong royong, sebagai media pemersatu kebhinekaan global, sebagai media untuk menyampaikan pikiran yang kritis dengan benar, untuk menunjukkan bahwa setiap individu memiliki jati diri ke-Indonesiaan yang sejati dengan mampu berbahasa Indonesia dengan baik dan benar, dan untuk menunjukkan bangsa Indonesia memiliki kepribadian yang kuat melalui bahasa, sebagai sarana untuk menyampaikan segala daya kreatif dengan berbahasa yang benar, serta yang paling penting sebagai wujud rasa bakti kepada Tuhan yang telah mengaruniai satu bahasa yang adiluhung untuk pemersatu segala perbedaan yaitu, bahasa Indonesia.

Jadi, Bahasa Indonesia betul-betul memegang peranan penting dalam hal ini, yakni sebagai media dalam mengakomodir nilai-nilai yang ingin dicapai dalam mewujudkan “Profil Pelajar Pancasila”. Bukan malah merusak penggunaan bahasa, latah berbahasa, melazimkan yang tidak benar, dan salah kaprah dalam penggunaan bahasa Indonesia.

Namun dalam kenyataannya, bahasa Indonesia nampaknya makin terdesak oleh suplai bahasa-bahasa lain di tengah pesatnya dunia informasi dan digital. Tak bisa dipungkiri, insan-insan Indonesia lebih elegan dan percaya diri belajar bahasa yang dianggap lebih bombastis. Untuk apa?

Tujuan urgennya adalah ekonomi. Sekarang belajar bahasa tak lagi urusan identitas, tak lagi urusan pemersatu komunitas, pemersatu antar daerah, dan tak sekadar untuk nilai profil Pancasila. Tetapi belajar bahasa adalah agar bisa memproduksi uang, kaya, dan hidup yang lebih hedonis Jadi, belajar bahasa dewasa ini identik dengan materialistik.

Jika konsep ini terjadi pada eksistensi bahasa Indonesia, apakah bahasa Indonesia akan menjadi pelengkap budaya Indonesia saja? Bahasa Indonesia akan “terbunuh”. Bahasa Indonesia akan ditinggalkan. Walaupun digunakan atau dipelajari itu hanya semata-mata untuk kepentingan akademis saja. Untuk kepentingan kurikulum pendidikan. “Yang penting apa yang diucapkan oleh pembicara dan lawan bicara komunikatif, bisa diterima, dan dimengerti, itu cukup” begitu anggapan warga Indonesia terhadap kondisi bahasa Indonesia.  

Nah, kondisi ini tentu ironis bagi bahasa Indonesia. Mengutip pendapat Prof Sumarsono (alm), yang pernah menjadi guru besar Jurdik Bahasa Indonesia, Undiksha, Singaraja, Bali, dalam buku Linguistiknya dinyatakan bahwa bahasa apapun, termasuk bahasa Indonesia, tak bisa “mati”. Yang ada adalah para penggunanya yang berkurang, atau tak acuh terhadap penggunaannya.

Merujuk pendapat itu, apakah bahasa Indonesia akan makin tak dipedulikan, karena generasi Indonesia merasa tak ada untungnya belajar dan memakai bahasa Indonesia bila ditakar secara ekonomi materialistik? Peduli saja kurang, apalagi mempelajari dengan intens tentang kebakuan bahasa, tentang kaidahnya, diksinya, kalimatnya, dan wacananya. Kondisi ini lebih diperparah lagi dengan penggunaan bahasa Indonesia sekarang yang kacau dan asal ucap.

Kasus-kasus yang bisa disikapi secara bijak dalam hal ini, misalnya penggunaan Bahasa Indonesia sehari-hari, baik oleh masyarakat penutur maupun bahasa yang digunakan di media. Dalam konteks inilah dihadapankan dengan persoalan gramatika bahasa, makna di satu pihak dan kreativitas, serta inovasi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Kalau dibiarkan setiap orang memakai bahasa Indonesia menurut enaknya, berarti harus diterima juga makin banyak ucapan-ucapan/kalimat aneh yang menyatukan bangsa ini. 

Fenomena yang bisa diketengahkan dalam keanehan berbahasa Indonesia dan ini sangat latah diucapkan dengan intensitas yang sangat memprihatinkan, misalnya,“I Ketut Sawer belajar dengan giat untuk mengejar ketertinggalan”. Yang dikejar dalam konteks ini adalah ketinggalan, bukan prestasi. Pantas saja I Ketut Sawer terus mengalami kemunduran. Seharusnya “I Ketut Sawer belajar dengan giat untuk mengejar prestasi”. Atau “I Ketut Sawer belajar dengan giat untuk mengatasi kebodohan”.

Atau yang lebih latah lagi,“Tim Nasional Indonesia berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan”. Tidak hanya sesekali, tetapi ucapan seperti ini dilakukan acap kali ada live pandangan mata di layer tv atau di sosial media. Memang secara struktur kalimat itu tanpa cacat, tetapi aneh.Sebab, jika dianalisa secara makna, kalimat itu sangat ironis. Karena yang dikejar adalah ketinggalan, bukan kemenangan. Pantas saja TIMNAS kalah terus. Seharusnya ”Tim Nasional Indonesia berusaha keras untuk mengatasi ketertinggalan atau untuk meraih kemenangan”.

Kekacauan kalimat seperti itu bahkan sudah membudaya di kalangan masyarakat, apalagi bagi reporter di tv, host, atau ucapan pengamat sepak bola. Apakah kondisi seperti ini akan dibiarkan? Mentang-mentang merasa percaya diri berbahasa Indonesia, namun salah kaprah. Merasa nasionalis dengan memakai bahasa Indonesia, namun kita jadikan bahasa Indonesia menderita.

Kita tak lagi bisa mencontoh model bangsa Amerika, bahwa di mana pun warganya berada, bahasa apapun yang dipelajari, tetapi warga Amerika tak pernah lupa apalagi merusak penggunaan bahasanya yang menjadi karakter peradabannya. Persoalannya sekarang ialah apakah boleh mengatakan “silakan memakai bahasa Indonesia sebagaimana enaknya di tengah parasaan yang mengaku nasionalis, di tengah perubahan yang pesat, dan di tengah jargon mengejar pencapainan nilai-nilai filosofi Profil Pelajar Pancasila?”

Perihal penting sekarang yang perlu dipahami, bahwa tuntutan terhadap kebebasan menggunakan bahasa Indonesia ada batasnya. Persoalan bahasa rupanya tak banyak berbeda dengan persoalan politik. Pembakuan (pelaziman) bahasa adalah cermin otoritas, sedangkan kreativitas pemakai bahasa adalah cermin kebebasan setiap warga. Yang selalu menjadi perkara ialah bagaimana kita mengakui diri nasionalis sejati, mengaku memakai bahasa Indonesia, tapi realitanya bahasa Indonesia dalam penggunaanya dirusak.[T]

Model Revitalisasi Bahasa Daerah
Sastra Indonesia di Hadapan Budaya Bahasa
Nasib Kurikulum Merdeka Ada di Tangan Guru
Tags: BahasaBahasa IndonesiaPendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Turnamen Bola Voli Lokal Desa di Tamblang: Sensasi dan Kemeriahan ala Desa Perkebunan

Next Post

OṀ & OṄĠ di BALI & INDIA

I Gede Eka Putra Adnyana

I Gede Eka Putra Adnyana

Ceo_Kumunitas Tanpa Laut,Pengajar, Penulis, Pekerja freelance

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

OṀ & OṄĠ di BALI & INDIA

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co