13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Kelima Gede Sura | Cerpen I Komang Mudita

I Komang Mudita by I Komang Mudita
June 5, 2022
in Cerpen
Anak Kelima Gede Sura | Cerpen I Komang Mudita

Penulis I Komang Mudita

Sudah hampir dua jam Gede Sura mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Sesekali dia duduk, kakinya tak henti-hentinya digerakkan, kemudian bangun lagi. Belum beranjak jauh dari kursi tunggu, dia duduk kembali sesekali sambil melihat ponselnya yang sebenarnya ia tahu tidak ada pesan masuk pada ponsel itu.

Sunyi ruang tunggu rumah sakit, sesunyi hatinya. Di tengah kesunyian itu ditatapnya dalam-dalam gerak jarum jam dinding yang terpasang di sudut tembok rumah sakit.

Kemudian dia terhanyut ke dalam kenangan yang dialaminya lima belas tahun silam. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter Gede Sura menunggu Luh Manik yang sedang berdandan di kamarnya. Waktu terkadang begitu lama berlalu, bagi orang yang sedang menunggu. Sunyi ruangan membuat detak jarum jam terdengar jelas, bersautan dengan degup jantung Gede Sura. Tangannya tak henti-hentinya memainkan kunci mobil.

Hari itu adalah kencan pertamnya dengan Luh Manik. Sudah hampir lima tahun Gede Sura mencoba mengambil hati Luh Manik, wanita yang sudah dia kenal sejak duduk di bangku SMP. Luh Manik selain cantik, juga tergolong siswi cerdas. Wajar saja banyak lelaki yang berlomba-lomba mencarinya.

Luh Manik sendiri memang dari dulu juga menaruh rasa terhadap Gede Sura. Bukan karena Gede Sura yang merupakan laki-laki anak saudagar cengkeh, yang akan mewariskan berpuluh-puluh hektar kebun cengkeh, melainkan karena Gede Sura tahu cara memperakukan wanita, di samping  juga Gede Sura memang memiliki paras yang tampan.

Berkat segala perjuangannya, pada akhirnya, Gede Sura mampu memperistri Luh Manik. Wanita yang kini telah memberinya tiga orang putri yang cantik-cantik. Dan kini, Luh Manik sedang berjuang melahirkan anak keempat.

“Dengan keluaga Ibu Luh Manik?” Tiba-tiba tepukan kecil seorang dokter yang menangani Luh Manik, membangunkan ingatan Gede Sura dari masa lalunya.

“Ya, saya Gede Sura, suami Luh Manik,” ucap Gede Sura bergegas berdiri.

Bagaimana istri saya Pak Dokter? Anak saya sudah lahir?”

“Bukaan proses kelahiran istri bapak sampai saat ini belum ada perkembangan. Sepertinya istri bapak sudah kehabisan tenaga. Ada prosedur lain yang bisa ditempuh Pak. Jika Bapak setuju, kami bisa ambil tindakan caesar,” terang dokter yang menangani.

“Saya setuju, Pak. Silakan ambil tindakan terbaik agar istri dan anak saya bisa selamat,” pinta Gede Sura.

Luh Manik segera dipindahkan ke ruang operasi caesar. Dalam perjalanan menuju ruangan, Gede Sura sempat memegang erat tangan istrinya. Tidak ada satu kata pun terucap dari mulut Gede Sura. Tapi pegangan erat tangan itu memberikan motivasi luar biasa bagi Luh Manik. Meski sudah lima belas tahun menjadi suami istri kasih sayang Gede Sura kepada Luh Manik tidak pernah berubah.

Tidak menunggu lama, akhirnya tangis bayi pecah dari ruang operasi caesar itu. Senyum Gede Sura mengembang. Langkahnya tak seberat tiga jam lalu. Dia menunggu untuk menyambut kabar baik dari ruang operasi itu.

“Bapak suami Luh Manik?” seorang perwat menyapa.

“Ya, saya suami Luh Manik,” jawab Gede Sura dengan penuh gairah.

“Selamat, istri bapak melahirkan dengan selamat. Anak bapak cantik seperti ibunya. Bapak bisa menemuinya di ruang perawatan bayi,” jelas perawat yang masih mengenakan APD itu.

Senyum Gede Sura beruba tiba-tiba menjadi tatapan yang penuh beban. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Anaknya perempuan lagi, tentu itu akan menjadi masalah. Bukan dengan siapa-siapa, melainkan dengan ibunya.

Dari dulu, sejak kelahiran anak perempuan yang kedua, ibunya selalu berandai-andai punya cucu laki-laki. Anak laki-laki yang akan mewariskan usaha keluarga. Yang akan mengurus keluarga ketika mereka sudah tua. Ketika kelahiran anak perempuan yang ketiga, sikap ibunya kepada Luh Manik semakin berubah. Luh Manik sering dibanding-bandingkan dengan menantu tetangganya yang memiliki dua anak laki-laki.

Gede Sura sendiri takut, kelahiran anak perempuan yang keempat ini akan membuat perlakuan ibunya terhadap Luh Manik akan semakin buruk. Kemudian, segera dihapus kekhawatiranya itu. Dia menuju ruang perawatan bayi. Benar kata perawat, anak empat ini benar-benar mirip istrinya. Entah mengapa, gejolak cintanya kepada Luh Manik seakan tumbuh lagi seperti masa-masa pacaran.

*****

Hari berlalu, Gede Sura dan Luh Manik masih melewati rumah tangga dengan keharmonisannya. Luh Manik masih menjadi istri yang merawat anak-anaknya dengan telaten. Sesibuk apa pun, Luh Manik selalu menyiapkan sarapan Gede Sura sebelum berangkat kerja.  Di akhir pekan meraka selalu menyempatkan diri beribur. Keluarga yang banyak dimimpikan oleh orang lain.

Tiba-tiba kebahagiaan itu mulai terusik. Ibunya meminta Gede Sura pulang lebih awal dari mengurus cengkeh yang baru saja dipanen oleh buruh alap-nya.. Di ruang keluarga yang dihiasi ornamen barang antik itu, Gede Sura seperti sedang diadili.

“Kamu harus punya anak laki-laki, De!” Ibunya meminta.

“Sebagai penerus keluarga yang akan mengurus merajan. Yang juga akan mengelola kebun cengkeh dan usaha penggilingan padi keluarga kita!” Ayahnya menambahkan.

Sura tidak berkomentar. Dia tahu arah pembicaraan kedua orang tuanya. Ujung-ujungnya dia diminta untuk menikah lagi agar memiliki anak laki-laki. Pembahasan yang pernah ia dengar setelah istrinya melahirkan anak perempuan yang keempat. Selama ini, Sura selalu memenuhi permintaan orang tuanya, terlebih ibunya. Dia tidak pernah berani melanggar permintah ibunya. Karena dia meyakini semua yang dia raih selama ini adalah berkat doa ibunya. Tapi kali ini, dia akan dengan tegas menolak permintaan kedua orang tuanya jika memaksanya untuk menikah lagi.

“Ibu juga sangat menyayangi Manik. Dia menantu yang baik. Ibu sudah menggapnya sebagai anak kandung ibu. Tapi…”

“Ibu meminta Gede menikah lagi? Itu tidak mungkin, Bu!” Gede Sura buru-buru memotong pembicaraan ibunya.

“Kenapa tidak De? Orang-orang akan memaklumimu menikah lagi. Kamu harus punya anak laki-laki,” bujuk ibunya lagi

“Untuk urusan menikah lagi, Gede tidak perlu pandangan orang. Tapi ini lebih tentang perasaan Manik.” Gede Sura mencoba menolak.

“Dan kamu tak peduli perasaan kami. Tiap hari mendengar krimik-krimik orang. Mengolok-olok keluarga kita karena kamu tidak punya anak laki-laki,” tambah bapaknya.

“Memang kenapa kalau tidak punya anak laki-laki, Bu?” Coba ibu lihat Pak Tut Darna. Dia punya lima anak dan empat anaknya laki-laki. Sejak dia menderita struk, siapa yang merawatnya? Anak tertua sibuk dengan kariernya. Anak kedua dan ketiga sibuk mengurus istri, tidak punya waktu untuk bapaknya. Dan anak laki-laki yang paling bontot mabuk setiap hari. Apa yang bisa dibanggakan dari empat anak laki-laki itu?” Baru kali ini Sura berani berargumen dengan nada tinggi.

“Jika tidak mau menikah lagi, itu artinya kamu mengirim kami lebih cepat  ke neraka!” Ibunya menutup pembicaraan.

Sejak perdebatan itu, hubungan anak dan orang tua itu menjadi renggang. Ibu Gede Sura lebih suka mengurung diri di rumah. Dia jarang keluar. Menyendiri menjadi pilihannya untuk menghidari krimik orang-orang di luar sana. Pikirannya juga begitu capek menampung guyonan dan sindiran yang merendahkan dirinya karena tidak punya cucu laki-laki.

Sudah hampir tiga bulan Gede Sura tidak mengunjungi tempat tinggal ibunya yang sebenarnya masih satu pekarangan dengannnya. Tiba-tiba orang terdekat ibunya memberi kabar bahwa ibunya jatuh sakit. Sudah hampir seminggu ibunya tidak makan. Gede Sura tanpa banyak pikir segera mengunjungi ibunya. Dia melupakan perdebatan tiga bulan lalu itu.

Didapati  ibunya sedang berbaring di tempat tidur. Badannya sangat kurus. Wajahnya pucat, terlihat jauh lebih tua dari seharusnya. Melihat keadaan ibunya, Gede Sura merasa sangat berdosa. “Ibu jatuh sakit seperti ini pasti kerena aku menolak menikah lagi,” pikirnya.

“Ibu harus ke rumah sakit sekarang agar mendapatkan perawatan dan infus,” ajak Gede Sura.

“Biarkan ibu meninggalkan dunia fana ini, De,” tolak ibunya dengan suara yang sangat berat.

Tanpa basa-basi, Gede Sura mengabaikan penolakan ibunya, kemudian membawa ibunya ke rumah sakit. Dibantu ayahnya Gede Sura menggotong ibunya masuk ke dalam mobil untuk segera menuju ke rumah sakit. Selama perjalanan di rumah sakit, Gede Sura mengenang masa-masa indah dan perjuangan ibunya membesarkannya. Ibu yang rela bangun pukul satu dini hari, yang ketika orang-orang sedang tidur dengan nyenyak, namun ibunya sudah sibuk menyiapkan danganan untuk dibawa ke pasar. Dalam hatinya dia berjanji, jika Tuhan masih memberikan kesempatan ibunya umur panjang, Gede Sura akan mengikuti segala permintaan ibunya.

“De, kita langsung menuju ruang IGD!” pinta bapaknya yang mengagetkan Gede Sura. Sesampai di IGD, perawat dan dokter segera memberikan tindakan. Menurut keterangan dokter, Ibu Gede Sura menderita penyakit hepatitis. Penyebabnya karena banyak beban pikiran, kemudian kurang tidur, dan makan tidak teratur. Dokter mengatakan bahwa Ibu Gede Sura masih bisa sembuh.

Setelah menjalani perwatan sebulan penuh, Ibu Gede Sura akhirnya sembuh. Selama perwatan ibunya, Gede Sura selalu ada di sisi ibunya. Selanjutnya, Gede Sura akan memberanikan diri mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan menikah lagi agar bisa memiliki anak laki-laki.

“Bli mau menikah lagi, Luh,” uajar Gede Sura tanpa berani menatap istrinya.

“Tiang sudah mendengar rencana Bli mau menikah lagi. Kasak-Kusuk dari orang-orang terdekat Bli, katanya Ibu sakit karena Bli menolak untuk menikah lagi. Baiklah Bli. Tiang akan mengizinkan Bli untuk menikah lagi dengan syarat biarkan tiang dan anak-anak kita untuk sementara waktu tinggal di Denpasar bersama orang tua,” jelas Luh Manik.

“Sampai kapan, Luh?” tanya Gede Sura.

“Sampai Bli punya anak laki-laki.”

Dengan memenuhi persyaratan Luh Manik, Gede Sura menikah dengan Komang Sudasih, anak dari Made Jagel, teman dekat Ayah Gede Sura. Acara pernikahan Gede Sura dan Komang Sudasih digelar dengan sederhana. Tidak ada acara resepsi, hanya dihadiri kerabat dekatnya.

Tiga bulan setelah pernikahan itu, Komang Sudasih hamil. ibunya meminta  Gede Sura untuk lebih banyak tinggl di rumah, merawat Komang Sudasih yang sedang hamil. Ada harapan besar Komang Sudasih akan melahirkan anak laki-laki. Dilihat dari sisilah keluarganya, Luh Sudasih adalah anak satu-satunya perempuan, lima kakaknya adalah laki-laki. Keluarga Made Jegel, ayah Komang Sudasih, memiliki garis keturunan yang sangat mudah mendapatkan anak laki-laki.

Bulan demi bulan Gede Sura merawat Komang Sudasih dengan talaten. Namun, sudah hampir setahun pernikahannya perasaan Gede Sura belum bisa menerima Komang Sudasih sebagai istrinya. Pikirannya jauh memikirkan istrinya yang kini tinggal di Denpasar.

“Ini akan belalu. Aku akan segera bisa menemui Luh Manik,” pikir Gede Sura di hari-hari penantiannya menjelang persalinan Komang Sudasih.

Akhirnya Komang Sudasih merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dia segera dibawa ke rumah sakit. Komang Sudasih dibawa ke ruang pesalinan. Menunggu persalinan istri keduanya ini, Gede Sura merasakan penantian yang sama dengan menjelang kelairan anak perempuannya yang keempat. Namun persalinan Komang Sudasih kali ini berjalan dengan lancar.

Dari pintu ruang persalinan, seorang bidan memanggil. “Keluarga Gede Sura?”

“Ya ya, Bu,” Gede Sura bergegas mendekati bidan itu.

“Selamat, Pak. Istri Bapak melahirkan anak yang sehat dan lengkap,” jelas sang bidan

“Apakah dia tampan, Bu?” tanya Gede Sura.

“Dia sangat cantik!” [T]

  • Cerpen ini adalah hasil “Workshop Penulisan Cerpen Sehari Langsung Jadi” dalam acara Tatkala May May May 2022 yang digelar tatkala.co, Sabtu 21 Mei 2022

_____

KLIK UNTUK MEMBACA CERPEN-CERPEN LAIN

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Balada Surat Cinta

Next Post

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

I Komang Mudita

I Komang Mudita

Guru SMAN 1 Singaraja

Related Posts

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co