2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Kelima Gede Sura | Cerpen I Komang Mudita

I Komang Mudita by I Komang Mudita
June 5, 2022
in Cerpen
Anak Kelima Gede Sura | Cerpen I Komang Mudita

Penulis I Komang Mudita

Sudah hampir dua jam Gede Sura mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Sesekali dia duduk, kakinya tak henti-hentinya digerakkan, kemudian bangun lagi. Belum beranjak jauh dari kursi tunggu, dia duduk kembali sesekali sambil melihat ponselnya yang sebenarnya ia tahu tidak ada pesan masuk pada ponsel itu.

Sunyi ruang tunggu rumah sakit, sesunyi hatinya. Di tengah kesunyian itu ditatapnya dalam-dalam gerak jarum jam dinding yang terpasang di sudut tembok rumah sakit.

Kemudian dia terhanyut ke dalam kenangan yang dialaminya lima belas tahun silam. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter Gede Sura menunggu Luh Manik yang sedang berdandan di kamarnya. Waktu terkadang begitu lama berlalu, bagi orang yang sedang menunggu. Sunyi ruangan membuat detak jarum jam terdengar jelas, bersautan dengan degup jantung Gede Sura. Tangannya tak henti-hentinya memainkan kunci mobil.

Hari itu adalah kencan pertamnya dengan Luh Manik. Sudah hampir lima tahun Gede Sura mencoba mengambil hati Luh Manik, wanita yang sudah dia kenal sejak duduk di bangku SMP. Luh Manik selain cantik, juga tergolong siswi cerdas. Wajar saja banyak lelaki yang berlomba-lomba mencarinya.

Luh Manik sendiri memang dari dulu juga menaruh rasa terhadap Gede Sura. Bukan karena Gede Sura yang merupakan laki-laki anak saudagar cengkeh, yang akan mewariskan berpuluh-puluh hektar kebun cengkeh, melainkan karena Gede Sura tahu cara memperakukan wanita, di samping  juga Gede Sura memang memiliki paras yang tampan.

Berkat segala perjuangannya, pada akhirnya, Gede Sura mampu memperistri Luh Manik. Wanita yang kini telah memberinya tiga orang putri yang cantik-cantik. Dan kini, Luh Manik sedang berjuang melahirkan anak keempat.

“Dengan keluaga Ibu Luh Manik?” Tiba-tiba tepukan kecil seorang dokter yang menangani Luh Manik, membangunkan ingatan Gede Sura dari masa lalunya.

“Ya, saya Gede Sura, suami Luh Manik,” ucap Gede Sura bergegas berdiri.

Bagaimana istri saya Pak Dokter? Anak saya sudah lahir?”

“Bukaan proses kelahiran istri bapak sampai saat ini belum ada perkembangan. Sepertinya istri bapak sudah kehabisan tenaga. Ada prosedur lain yang bisa ditempuh Pak. Jika Bapak setuju, kami bisa ambil tindakan caesar,” terang dokter yang menangani.

“Saya setuju, Pak. Silakan ambil tindakan terbaik agar istri dan anak saya bisa selamat,” pinta Gede Sura.

Luh Manik segera dipindahkan ke ruang operasi caesar. Dalam perjalanan menuju ruangan, Gede Sura sempat memegang erat tangan istrinya. Tidak ada satu kata pun terucap dari mulut Gede Sura. Tapi pegangan erat tangan itu memberikan motivasi luar biasa bagi Luh Manik. Meski sudah lima belas tahun menjadi suami istri kasih sayang Gede Sura kepada Luh Manik tidak pernah berubah.

Tidak menunggu lama, akhirnya tangis bayi pecah dari ruang operasi caesar itu. Senyum Gede Sura mengembang. Langkahnya tak seberat tiga jam lalu. Dia menunggu untuk menyambut kabar baik dari ruang operasi itu.

“Bapak suami Luh Manik?” seorang perwat menyapa.

“Ya, saya suami Luh Manik,” jawab Gede Sura dengan penuh gairah.

“Selamat, istri bapak melahirkan dengan selamat. Anak bapak cantik seperti ibunya. Bapak bisa menemuinya di ruang perawatan bayi,” jelas perawat yang masih mengenakan APD itu.

Senyum Gede Sura beruba tiba-tiba menjadi tatapan yang penuh beban. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Anaknya perempuan lagi, tentu itu akan menjadi masalah. Bukan dengan siapa-siapa, melainkan dengan ibunya.

Dari dulu, sejak kelahiran anak perempuan yang kedua, ibunya selalu berandai-andai punya cucu laki-laki. Anak laki-laki yang akan mewariskan usaha keluarga. Yang akan mengurus keluarga ketika mereka sudah tua. Ketika kelahiran anak perempuan yang ketiga, sikap ibunya kepada Luh Manik semakin berubah. Luh Manik sering dibanding-bandingkan dengan menantu tetangganya yang memiliki dua anak laki-laki.

Gede Sura sendiri takut, kelahiran anak perempuan yang keempat ini akan membuat perlakuan ibunya terhadap Luh Manik akan semakin buruk. Kemudian, segera dihapus kekhawatiranya itu. Dia menuju ruang perawatan bayi. Benar kata perawat, anak empat ini benar-benar mirip istrinya. Entah mengapa, gejolak cintanya kepada Luh Manik seakan tumbuh lagi seperti masa-masa pacaran.

*****

Hari berlalu, Gede Sura dan Luh Manik masih melewati rumah tangga dengan keharmonisannya. Luh Manik masih menjadi istri yang merawat anak-anaknya dengan telaten. Sesibuk apa pun, Luh Manik selalu menyiapkan sarapan Gede Sura sebelum berangkat kerja.  Di akhir pekan meraka selalu menyempatkan diri beribur. Keluarga yang banyak dimimpikan oleh orang lain.

Tiba-tiba kebahagiaan itu mulai terusik. Ibunya meminta Gede Sura pulang lebih awal dari mengurus cengkeh yang baru saja dipanen oleh buruh alap-nya.. Di ruang keluarga yang dihiasi ornamen barang antik itu, Gede Sura seperti sedang diadili.

“Kamu harus punya anak laki-laki, De!” Ibunya meminta.

“Sebagai penerus keluarga yang akan mengurus merajan. Yang juga akan mengelola kebun cengkeh dan usaha penggilingan padi keluarga kita!” Ayahnya menambahkan.

Sura tidak berkomentar. Dia tahu arah pembicaraan kedua orang tuanya. Ujung-ujungnya dia diminta untuk menikah lagi agar memiliki anak laki-laki. Pembahasan yang pernah ia dengar setelah istrinya melahirkan anak perempuan yang keempat. Selama ini, Sura selalu memenuhi permintaan orang tuanya, terlebih ibunya. Dia tidak pernah berani melanggar permintah ibunya. Karena dia meyakini semua yang dia raih selama ini adalah berkat doa ibunya. Tapi kali ini, dia akan dengan tegas menolak permintaan kedua orang tuanya jika memaksanya untuk menikah lagi.

“Ibu juga sangat menyayangi Manik. Dia menantu yang baik. Ibu sudah menggapnya sebagai anak kandung ibu. Tapi…”

“Ibu meminta Gede menikah lagi? Itu tidak mungkin, Bu!” Gede Sura buru-buru memotong pembicaraan ibunya.

“Kenapa tidak De? Orang-orang akan memaklumimu menikah lagi. Kamu harus punya anak laki-laki,” bujuk ibunya lagi

“Untuk urusan menikah lagi, Gede tidak perlu pandangan orang. Tapi ini lebih tentang perasaan Manik.” Gede Sura mencoba menolak.

“Dan kamu tak peduli perasaan kami. Tiap hari mendengar krimik-krimik orang. Mengolok-olok keluarga kita karena kamu tidak punya anak laki-laki,” tambah bapaknya.

“Memang kenapa kalau tidak punya anak laki-laki, Bu?” Coba ibu lihat Pak Tut Darna. Dia punya lima anak dan empat anaknya laki-laki. Sejak dia menderita struk, siapa yang merawatnya? Anak tertua sibuk dengan kariernya. Anak kedua dan ketiga sibuk mengurus istri, tidak punya waktu untuk bapaknya. Dan anak laki-laki yang paling bontot mabuk setiap hari. Apa yang bisa dibanggakan dari empat anak laki-laki itu?” Baru kali ini Sura berani berargumen dengan nada tinggi.

“Jika tidak mau menikah lagi, itu artinya kamu mengirim kami lebih cepat  ke neraka!” Ibunya menutup pembicaraan.

Sejak perdebatan itu, hubungan anak dan orang tua itu menjadi renggang. Ibu Gede Sura lebih suka mengurung diri di rumah. Dia jarang keluar. Menyendiri menjadi pilihannya untuk menghidari krimik orang-orang di luar sana. Pikirannya juga begitu capek menampung guyonan dan sindiran yang merendahkan dirinya karena tidak punya cucu laki-laki.

Sudah hampir tiga bulan Gede Sura tidak mengunjungi tempat tinggal ibunya yang sebenarnya masih satu pekarangan dengannnya. Tiba-tiba orang terdekat ibunya memberi kabar bahwa ibunya jatuh sakit. Sudah hampir seminggu ibunya tidak makan. Gede Sura tanpa banyak pikir segera mengunjungi ibunya. Dia melupakan perdebatan tiga bulan lalu itu.

Didapati  ibunya sedang berbaring di tempat tidur. Badannya sangat kurus. Wajahnya pucat, terlihat jauh lebih tua dari seharusnya. Melihat keadaan ibunya, Gede Sura merasa sangat berdosa. “Ibu jatuh sakit seperti ini pasti kerena aku menolak menikah lagi,” pikirnya.

“Ibu harus ke rumah sakit sekarang agar mendapatkan perawatan dan infus,” ajak Gede Sura.

“Biarkan ibu meninggalkan dunia fana ini, De,” tolak ibunya dengan suara yang sangat berat.

Tanpa basa-basi, Gede Sura mengabaikan penolakan ibunya, kemudian membawa ibunya ke rumah sakit. Dibantu ayahnya Gede Sura menggotong ibunya masuk ke dalam mobil untuk segera menuju ke rumah sakit. Selama perjalanan di rumah sakit, Gede Sura mengenang masa-masa indah dan perjuangan ibunya membesarkannya. Ibu yang rela bangun pukul satu dini hari, yang ketika orang-orang sedang tidur dengan nyenyak, namun ibunya sudah sibuk menyiapkan danganan untuk dibawa ke pasar. Dalam hatinya dia berjanji, jika Tuhan masih memberikan kesempatan ibunya umur panjang, Gede Sura akan mengikuti segala permintaan ibunya.

“De, kita langsung menuju ruang IGD!” pinta bapaknya yang mengagetkan Gede Sura. Sesampai di IGD, perawat dan dokter segera memberikan tindakan. Menurut keterangan dokter, Ibu Gede Sura menderita penyakit hepatitis. Penyebabnya karena banyak beban pikiran, kemudian kurang tidur, dan makan tidak teratur. Dokter mengatakan bahwa Ibu Gede Sura masih bisa sembuh.

Setelah menjalani perwatan sebulan penuh, Ibu Gede Sura akhirnya sembuh. Selama perwatan ibunya, Gede Sura selalu ada di sisi ibunya. Selanjutnya, Gede Sura akan memberanikan diri mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan menikah lagi agar bisa memiliki anak laki-laki.

“Bli mau menikah lagi, Luh,” uajar Gede Sura tanpa berani menatap istrinya.

“Tiang sudah mendengar rencana Bli mau menikah lagi. Kasak-Kusuk dari orang-orang terdekat Bli, katanya Ibu sakit karena Bli menolak untuk menikah lagi. Baiklah Bli. Tiang akan mengizinkan Bli untuk menikah lagi dengan syarat biarkan tiang dan anak-anak kita untuk sementara waktu tinggal di Denpasar bersama orang tua,” jelas Luh Manik.

“Sampai kapan, Luh?” tanya Gede Sura.

“Sampai Bli punya anak laki-laki.”

Dengan memenuhi persyaratan Luh Manik, Gede Sura menikah dengan Komang Sudasih, anak dari Made Jagel, teman dekat Ayah Gede Sura. Acara pernikahan Gede Sura dan Komang Sudasih digelar dengan sederhana. Tidak ada acara resepsi, hanya dihadiri kerabat dekatnya.

Tiga bulan setelah pernikahan itu, Komang Sudasih hamil. ibunya meminta  Gede Sura untuk lebih banyak tinggl di rumah, merawat Komang Sudasih yang sedang hamil. Ada harapan besar Komang Sudasih akan melahirkan anak laki-laki. Dilihat dari sisilah keluarganya, Luh Sudasih adalah anak satu-satunya perempuan, lima kakaknya adalah laki-laki. Keluarga Made Jegel, ayah Komang Sudasih, memiliki garis keturunan yang sangat mudah mendapatkan anak laki-laki.

Bulan demi bulan Gede Sura merawat Komang Sudasih dengan talaten. Namun, sudah hampir setahun pernikahannya perasaan Gede Sura belum bisa menerima Komang Sudasih sebagai istrinya. Pikirannya jauh memikirkan istrinya yang kini tinggal di Denpasar.

“Ini akan belalu. Aku akan segera bisa menemui Luh Manik,” pikir Gede Sura di hari-hari penantiannya menjelang persalinan Komang Sudasih.

Akhirnya Komang Sudasih merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dia segera dibawa ke rumah sakit. Komang Sudasih dibawa ke ruang pesalinan. Menunggu persalinan istri keduanya ini, Gede Sura merasakan penantian yang sama dengan menjelang kelairan anak perempuannya yang keempat. Namun persalinan Komang Sudasih kali ini berjalan dengan lancar.

Dari pintu ruang persalinan, seorang bidan memanggil. “Keluarga Gede Sura?”

“Ya ya, Bu,” Gede Sura bergegas mendekati bidan itu.

“Selamat, Pak. Istri Bapak melahirkan anak yang sehat dan lengkap,” jelas sang bidan

“Apakah dia tampan, Bu?” tanya Gede Sura.

“Dia sangat cantik!” [T]

  • Cerpen ini adalah hasil “Workshop Penulisan Cerpen Sehari Langsung Jadi” dalam acara Tatkala May May May 2022 yang digelar tatkala.co, Sabtu 21 Mei 2022

_____

KLIK UNTUK MEMBACA CERPEN-CERPEN LAIN

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Balada Surat Cinta

Next Post

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

I Komang Mudita

I Komang Mudita

Guru SMAN 1 Singaraja

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co