13 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Jaswanto by Jaswanto
June 3, 2022
in Khas
Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Agus Muriawan Putra, S.STPar., M.Par., dan Dr. I Made Sarjana, keduanya sama-sama penulis dan peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana, Bali, serta Oktiva Askara Sukma Dody, Kadis Pariwisata Buleleng.

Wahyudi Anggoro Hadi, kepala desa (rasa menteri) kelurahan Panggungharjo, pernah mengatakan bahwa setidaknya ada tiga peta desa mandiri. Pertama, masyarakat; kedua, pemimpin; dan ketiga, birokrasi desa. Khusus untuk pemimpin (kepala desa/lurah/perbekel), harus memiliki lima aspek dasar: regulatif, ekstraktif, distributif, responsif, dan jaringan. Tiga peta dasar dan lima aspek dasar pemimpin desa inilah, menurutnya dapat menjadikan desa itu mandiri.

Dalam hal program yang sifatnya teknis, untuk menjadi desa mandiri, salah satu jalan yang banyak ditempuh desa-desa di Indonesia adalah; desa wisata. Pada tahun 1993, dalam makalahnya Concept, Perspective and Challenges, Wiendu Nuryanti mengartikan desa wisata sebagai desa yang dijadikan tempat wisata karena daya tarik yang dimilikinya. Desa wisata merupakan suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi dan fasilitas pendukung. Desa wisata disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku.

Pada Kamis, 26 Mei 2022, Tatkala May May May yang diselenggarakan media tatkala.co, menghadirkan tiga narasumber untuk berbicara mengenai “Belajar Penulisan dan Diskusi Desa Wisata”. Mereka adalah Agus Muriawan Putra, S.STPar., M.Par., dan Dr. I Made Sarjana, keduanya sama-sama penulis dan peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana, Bali, serta Oktiva Askara Sukma Dody, Kadis Pariwisata Buleleng. Diskusi yang berlangsung selama dua jam lebih ini dipandu oleh seorang jurnalis perempuan, Dian Suryantini.

Foto: Peserta diskusi dan belajar penulisan desa wisata

Sukma Dody, selaku pemimpin pariwisata Buleleng, mendapat kesempatan untuk menyampaikan penjelasannya mengenai desa wisata. Menurut Dody, salah satu program unggulan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mulai tahun 2021 adalah program desa wisata. Hal ini, katanya, berasal dari pencermatan situasi yang terjadi di masa pandemi Covid-19 yang mengakibatkan adanya pembatasan sosial di dalam dan luar negeri.

Adanya pandemi Covid-19, di seluruh dunia menghadapi hal yang sama, masyarakat tertekan dan terbatasi dengan aturan-aturan protokol kesehatan, dari Work From Home, PPKM, dll., yang memaksa mereka mengurangi aktifitasnya, membuat energi mereka berlebih, sehingga banyak bermunculan komunitas olah raga untuk mendapatkan imun dan sosialisasi di antara mereka. Biasanya mereka berkeinginan untuk berwisata yang bersifat outdoor, ini merupakan peluang untuk desa wisata.

“Kemudian, dalam situasi pendemi Covid-19, tentu hubungan antar negara dibatasi, dan sektor pariwisata, khususnya di Bali, sangat terpukul dengan situasi seperti itu. Namun, pada tahun 2021, di dalam kepariwisataan kita, khususnya di Pulau Jawa dengan jumlah penduduk terbesar, daerah-daerah di Jawa yang memiliki tempat pariwisata, mendapat kunjungan domestik yang sangat tinggi,” tutur Pak Kadis.

Menurutnya, atas dasar itulah, Kemenparekraf menggalakkan program desa wisata dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan dan sumber daya, serta memajukan kebudayaan.

Pak Kadis juga mengungkapkan bahwa Kabupaten Buleleng patut bersyukur karena Desa Sudaji telah masuk 50 besar quality tourism yang akan diberikan penilaian dari Kemenparekraf tanggal 13 Juni mendatang. “Kita patut berbangga karena di Sudaji sudah ada pemaketan wisata tentang wellness tourism itu. Bagaimana di sana ada forest healing, yoga treatment, dan ada banyak hal lagi yang ditawarkan.”

Ia percaya bahwa dengan adanya program desa wisata maka akan mempercepat pertumbuhan perekonomian di desa. “Karena prinsipnya adalah community. Pemberdayaan masyarakat. Jadi masyarakat ikut terlibat langsung di dalamnya,” katanya. Hal ini, lanjutnya, berbeda dengan miss tourism seperti di Kuta; di Sanur. Program desa wisata ini disebutnya sebagai program kerakyataan.

Membedah Walli Jing-Kang dan Teka-Teki di Dalamnya

Di Buleleng sendiri, berdasarkan Renstra Bupati Tahun 2017, ada 31 desa wisata. Kemudian pada pertengahan tahun 2021, Kemenparekraf mengeluarkan buku pedoman desa wisata. Dan ternyata, di dalam buku pedoman desa wisata tersebut, ada empat klasifikasi desa wisata: desa wisata rintisan, berkembang, maju, dan mandiri. Standar yang dijadikan acuan adalah Asean Community Based Tourism Standard yang meliputi kepemilikan dan manajemen; kontribusi terhadap kesejahteraan sosial; konservasi dan pengembangan lingkungan; mendorong interaksi komunitas lokal dan tamu; kualitas pelayanan pemanduan wisata; kualitas pelayanan makanan dan minuman; kualitas akomodasi; dan kinerja pemandu wisata.

Community Based Tourism merupakan pariwisata yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat, untuk melindungi nilai-nilai sosial budaya, warisan alam dan budaya, yang dikoordinasikan di tingkat komunitas guna mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat.

Di Buleleng, yang termasuk klasifikasi desa mandiri adalah Desa Pemuteran. Sedangkan di Bali ada dua, Pemuteran dan Penglipuran.

“Pada 11 Maret 2022, Pemerintah Kabupaten Buleleng dari segi kuantitas menetapkan 75 desa wisata,” ujar Sukma.

Lebih lanjut, kata Sukma, untuk mendorong desa wisata, pemerintah pusat mengeluarkan aplikasi bernama JADESTA (Jaringan Desa Wisata). “75 desa wisata itu kami dorong masuk JADESTA. Di sana lah mereka baru belajar bagaimana menulis narasi desa wisata (dari desa-desa lain yang tergabung dalam jaringan desa wisata). Dari mulai membuat foto yang bagus, sampai video promosi desa.”

Sementara itu, Agus Muriawan menyampaikan bagaimana konsep narasi desa wisata supaya menarik. Namun, sebelum menjelaskan konsepnya, terlebih dahulu ia mengutarakan anggapan bahwa dalam perkembangannya, problem desa setelah menjadi desa wisata adalah tidak bergerak. “Seperti misalnya di Tabanan ada 25 desa wisata, tetapi perkembangannya tidak signifikan. Dari 25 itu, mungkin empat sampai lima saja yang berkembang,” kata akademisi Unud itu.

Menurut Agus, narasi desa wisata tidak bertujuan untuk menarik wisatawan berkunjung ke desa saja, tetapi juga mengarah pada konsep ATB-SIRNA: aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, kenangan. Agus percaya, kalau desa wisata sudah masuk dalam tujuh ranah ini, wisatawan yang mengunjunginya akan memiliki rasa.

Lebih lanjut, ia menyebut salah satu kunci dalam mengembangkan desa wisata, yaitu: komitmen masyarakat itu sendiri. Dan sebelum mendirikan desa wisata, yang harus dilakukan adalah membicarakan profit sharing bersama masyarakat setempat.

Pengembangan desa wisata harus direncanakan secara hati-hati agar dampak yang timbul dapat dikontrol. Pada 1981, dalam penelitian Tourism Development Plan for Nusa Tenggara, Indonesia, UNDP/WTO bersama beberapa konsultan Indonesia, dicapai dua pendekatan dalam menyusun rangka kerja/konsep kerja dari pengembangan sebuah desa menjadi desa wisata, yakni pendekatan pasar dan pendekatan fisik. 

Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Selanjutnya, secara tidak langsung, Agus berpendapat bahwa mengemas dan menarasikan desa wisata adalah soal managemen. “Bagaimana mungkin orang datang ke desa kalau tidak dikemas dan dinarasikan?” tanyanya. “Kenapa orang Eropa sampai datang ke Munduk, ya karena dinarasikan, ditulis. Yang ditulis apa? Yang terkait dengan gambaran umum desa, contact person, berapa biaya yang bisa dibayarkan, apa saja yang didapatkan, itu kan dinarasikan. Inilah keterampilan-keterampilan menulis yang perlu dikembangkan.”

Untuk menarasikan desa wisata, menurut Agus, hal pertama yang harus dipersiapkan adalah data. “Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana rasa ini mengolah data itu.”

Sebagai pembicara terakhir, I Made Sarjana, yang juga seorang mantan wartawan, menyampaikan hasil penelitiannya tentang kekuatan dan kelemahan desa wisata. “Desa wisata itu secara potensi dia kuat; tapi dipengelolaan dan pemasaran dia lemah, masih memiliki banyak hambatan. Karena identifikasi produknya belum jelas, unique selling point-nya juga belum dimunculkan masing-masing.”

Dalam menarasikan atau menuliskan desa wisata, Sarjana berpendapat bahwa satu hal yang harus ditekankan adalah keunikan masing-masing desa wisata. Selain itu, secara gaya bahasa, penulisan desa wisata juga harus menarik dan membuat penasaran.

Kata Sarjana, dalam membangun desa wisata, hal penting selanjutnya yang harus dipikirkan pemerintah adalah persepsi masyarakat atau kesadaran atas desa wisata itu sendiri. Sejauh pengamatan Sarjana, masyarakat masih beranggapan bahwa yang bisa membangun tempat pariwisata adalah mereka yang punya jaringan; punya uang, bisa Bahasa Inggris, dan sebagainya. “Menurut petani itu dunia yang berbeda. Masyarakat lokal perlu dirangkul. Kalau tidak orang tuanya ya pemudanya.”

Yang lebih miris daripada itu adalah sedikitnya minat anak muda untuk mengelola desa wisata. “Keluhan dari beberapa desa yang saya observasi kemarin memang, keikutsertaan anak-anak muda itu sangat minim, bahkan tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Foto: Adnyana Ole (pimred tatkala.co), Agus Muriawan Putra, S.STPar., M.Par., dan Dr. I Made Sarjana (keduanya penulis dan peneliti Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana, Bali,) serta Oktiva Askara Sukma Dody (Kadis Pariwisata Buleleng).

Menurut Sarjana, dalam menuliskan narasi desa wisata, penggunaan bahasa harus sesuai dengan segmentasi pasar. Hal ini bertujuan agar supaya orang yang membaca paham apa yang disampaikan. Misalnya, kalau pasarnya kaum milenial, bahasa yang digunakan juga harus menggunakan bahasa mereka.

Dalam teori narasi desa wisata, ada satu pendekatan yang sering digunakan untuk menarasikan desa wisata, yaitu: formula storynomic. Formula ini pada dasarnya menginterpretasikan suatu tempat dalam bentuk narasi penceritaan dan konten kreatif, termasuk dalam wujud digital, sesuai kultur setempat. Dengan storynomic, bukan keindahan suatu tempat semata yang hendak dijadikan komoditas ekonomi, melainkan juga cerita sejarah atau budaya yang bersemayam di tempat tersebut.

Akhir kata, sulit rasanya membayangkan desa wisata dapat berkembang tanpa dikemas dan dinarasikan. Untuk itu, harga yang harus dibayar oleh masyarakat pengelola desa wisata supaya berkembang dan menjadi desa mandiri, selain tiga peta kemandirian desa dan lima aspek dasar yang harus dimiliki pemimpin desa menurut Wahyudi Anggoro Hadi di awal, adalah; belajar mengemas dan menarasikannya. Terlepas dari itu semua, karena menarasikan sesuatu adalah kerja kreatif, maka tingkat literasi masyarakat juga harus dipikirkan. [T]

Tonton video selengkapnya:

Tags: desa wisataTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Siap Grak, Maju Jalan…! Buleleng Bersiap Gelar Lomba Gerak Jalan

Next Post

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails

Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

by Wahyu Mahaputra
August 5, 2026
0
Buku “Under the Spell of the Batur Volcano” Dibincangkan di Batur Village Festival 2026 untuk Mengenang Kerja Akademik Brigitta Hauser-Schäublin

TAK bisa dipungkiri, "Under the Spell of the Batur Volcano" adalah sebuah buku penting tentang Batur. Dalam buku itu Batur...

Read moreDetails

Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

by I Nyoman Tingkat
August 4, 2026
0
Kemah Budaya  Ajang Penguatan SDM Bali Unggul  

SAYA bersyukur  menjadi Panyarikan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta Selatan merangkap sebagai Kepala Sekolah yang membina  remaja SMA. Posisi...

Read moreDetails

Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

by Ashlikhatul Fuaddah
August 4, 2026
0
Kader Dilatih Manfaatkan Ekosistem Google untuk Sistem Pelaporan Digital Kesehatan Balita dan Lansia

TIM Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, yang diketuai oleh Ashlikhatul Fuaddah, pada Sabtu, 25 Juli 2026 menyelenggarakan kegiatan...

Read moreDetails

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails
Next Post
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih
Ulas Musik

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

by Mahesa Putra
August 13, 2026
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’
Panggung

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
Sekali Lagi tentang Dirgahayu
Bahasa

Sekali Lagi tentang Dirgahayu

SETIAP menjelang bulan Agustus, ruang publik kita dipenuhi oleh baliho, spanduk, dan ucapan digital dengan berbagai variasi kalimat selamat hari...

by I Made Sudiana
August 13, 2026
Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   
Esai

Nak Badung, Nak Desa, Nak Dimel   

PEMERINTAH Kabupaten Badung resmi meluncurkan beasiswa motivasi Nak Badung mulai Tahun 2026. Beasiswa ini diniatkan untuk meringankan biaya bagi siswa...

by I Nyoman Tingkat
August 12, 2026
International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal
Esai

International Youth Day, Menemukan Potensi dan Menjadi Orisinal

Dari Gagasan Perdamaian Menuju International Youth Day Setiap 12 Agustus dunia memperingati International Youth Day. Hari ini mungkin tampak seperti...

by Agung Sudarsa
August 12, 2026
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”
Opini

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar
Kesehatan

Penguatan Kesadaran Kesehatan Mental Berbasis Digital bagi Pendukung Sebaya Orang Dengan HIV (ODHIV) di Kota Denpasar

Saat Pendukung Sebaya Juga Butuh Didukung DI sebuah ruangan sederhana di Kota Denpasar, lima belas orang duduk melingkar. Mereka bukan...

by tatkala
August 12, 2026
Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan
Panggung

Dari Rarud Batur Menuju Rena: Merawat Ingatan, Merayakan Kebangkitan

"Seratus tahun setelah Rarud Batur, sebuah karya intermedium membawa kembali ingatan tentang kehidupan, bencana, pengungsian, dan kebangkitan masyarakat Batur ke...

by AA Ayu Mayun Artati
August 12, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital
Esai

Dari Bahasa Bali ke Personal Branding: Fungsi Bahasa Bali dalam Konstruksi Identitas Konten Kreator Bali Di Ruang Digital

PERKEMBANGAN media sosial telah mengubah cara bahasa digunakan, diproduksi, dan diberi makna dalam kehidupan sosial. Bahasa tidak lagi hanya digunakan...

by I Ketut Suar Adnyana
August 12, 2026
Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026
Panggung

Jazz Kontemporer dari Watchdog, Bagian Akhir Rangkaian Tur Indonesia di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026

SETELAH tiga pekan berkeliling dan tampil di sejumlah panggung jazz di Indonesia, perjalanan Watchdog akhirnya berujung di Ubud. Duo asal...

by Dede Putra Wiguna
August 12, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Generasi 81: Merdeka dari Apa?

TAHUN ini Indonesia merayakan 81 tahun kemerdekaan. Bukan hanya yang lanjut usia, kaum milenial, Gen Z, dan Alpha yang juga...

by Chusmeru
August 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co