14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 3, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022

Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.

Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal.

Kenapa ke Nepal?

Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan paham bahwa bukan saja Hindu Bali berbeda dengan India. Tetangga dekat India, yaitu Nepal, pun tradisi Hindu-nya sangat berbeda dengan Hindu India.

Apa beda Hindu Nepal dan Hindu India?

Di sini saya akan merangkum 3 perbedaan mendasar antara Hindu di India dan Hindu di Nepal — pendapat ini adalah pandangan para ahli perbandingan Hinduisme di India.

1. Agama Hindu dan Buddha tidak terpisah satu sama lain dalam masyarakat di Nepal. Hal ini bukan hal biasa dibandingkan di India. Di India sendiri Hindu dan Buddha terbentang jarak perbedaan. Sementara di Nepal keduanya tumbuh bersama tanpa jarak, bahkan bisa dikatakan berbaur. Pembauran Hindu dan Buddha di Nepal ini tidak sama persisi dengan apa yang terjadi di Bali, tetapi di kedua tempat ini terjadi pembauran yang unik. Di Bali “pembauran Hindu-Buddha” yang menyisakan garis kependetaan Buddha dalam Hindu-Bali. Di Nepal terjadi diranah Tantraisme. Di India hal seperti ini dianggap tidak umum.

2. Tidak ditemukan adanya pengaruh Islam di Nepal. Sementara Hindu di India mengalami pengaruh dan tekanan kuat dalam beberapa abad di bawah Dinasti Mughal (Mughal juga dieja Mogul, atau dalam ucapan Persia disebut Mughūl (“Mongol”).  Dinasti Muslim asal Turki-Mongol ini pernah menguasai sebagian besar India utara dari awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Pengaruh ini banyak memunculkan tekanan, berbagai aliran keagamaan Hinduisme berusaha bangkit dan mengambil bentuk berbagai paham Hinduisme yang mengeras untuk membentengi diri dari desakan pengislaman oleh Dinasti Mughal. Berbagai ajaran Hindu yang berkembang akibat tekanan dinasti Islam ini menjadi variabel perubahan besar dalam sejarah perkembangan Hindu di India. Posisi Nepal sama dengan pulau Bali, tidak terkena pengaruh tekanan Islam dimasa ekspansi Islam sekitar abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18.

3.  Dalam Hindu Nepal tidak ditemukan pengaruh tradisi Bhakti penyembah Rama atau Krishna. Sekalipun di Nepal dikenal istilah ‘bhakti’, tradisi bhakta penyembah atau “pentuhanan” Rama dan Krishna tidak berkembang secara signifikan. Para peneliti India yang melakukan pengamatan terhadap Hindu di Nepal sepakat berpendapat: Meskipun ada kuil yang didedikasikan untuk Rama dan Krishna, emosi yang terkait dengan mereka tidak intim dan pribadi, dan hampir tidak romantis. Masyarakat Hindu Nepal tidak punya keterkaitan emosional yang mendalam dengan sosok Rama dan Krishna.

Tiga pembeda pokok antara tradisi Hindu di India dan Hindu di Nepal tersebut juga menjadi pembeda antara Hindu India dan Hindu Bali.

Tidak hanya berhenti di sana, kemiripan lainnya antara Hindu Nepal dan Hindu Bali, ada beberapa pokok lainnya, diantaranya:

Pertama; Secara arsitektur, Meru di Bali punya kemiripan dengan kuil-kuil Hindu di Nepal. Para pengamat arsitektur Hindu umumnya sepakat bahwa meru di Nepal mirip dengan meru di Bali. Orang Bali akan terkejut (dan kagum) jika pergi ke kuil Pashupatinath (Nepali : पशुपतिनाथ) yang didedikasikan untuk pemujaan Paśupati. Kuil Hindu yang serupa meru ini terletak di Kathmandu, Nepal.

Kuil Hindu Paśupatinath adalah semacam Besakih-nya Hindu di Nepal. Kawasan kuil Hindu yang luas ini memiliki meru-meru atau percandian, dengan pasraman, relief atau gambar-gambar, dan prasasti yang tersebar selama berabad-abad di sepanjang tepi sungai Bagmati yang sangat disucikan. Kuil Hindu ini merupakan salah satu dari tujuh kelompok monumen yang diakui UNESCO yang terhampar di atas Lembah Kathmandu.

Kedua; Jika kita bandingkan dengan berbagai ritual yang ada di Bali, seperti Tumpek dan banten terkait Hyang Paśupati lainnya; apalagi jika kita kaitkan dengan sejarah turunnya para Sapta Rsi di Bali, yang diperintahkan oleh Hyang Pasupati; Hindu di Nepal juga sangat kental dengan pemujaan Paśupati.

Dalam berbagai lontar babad yang diwarisi di Bali sebutkan bahwa: Hyang Pasupati turun ke Bali ketika pulau Bali dan Lombok masih dalam berkeadaan bergoncang-goncang. Pulau Bali bagaikan perahu oleng berayun-ayun di tengah samudera. Turunlah Bhatara Hyang Pasupati ke Bali menyelamatkan pulau Bali. Dengan memindahkan sebagian puncak Mahameru yang dibawa ke Pulau Bali dan Lombok, Hyang Pasupati mengajegkan Bali. Dalam lontar-lontar babad disebutkan peristiwa datangnya Hyang Pasupati ke Bali terjadi pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (sekitar bulan April), ketika tilem (bulan mati/ tergelap), rah 1, tanggek 1, tahun śaka berekor 11.

Dalam Hindu Nepal sendiri Paśupati adalah “the national deity of Nepal” (Dewa Utama secara nasional dimuliakan oleh Hindu Nepal). Paśupati atau Paśupatinath bagi Hindu di Nepal berarti “Sang Penguasa segala binatang” — hal ini punya pengertian yang sama dengan Hyang Pasupati dalam lontar-lontar dan tradisi tutur di Bali. Paśupati adalah julukan Rudra pada periode Weda. Kemudian berkembang Paśupati dikenal dalam masyarakat Nepal dan Bali sebagai salah satu julukan Śiwa. Penghormatan dan pemuliaan Paśupati di Nepal dan Bali punya kemiripan, demikian juga posisinya yang sangat sentral dalam ritual di Nepal dan Bali.

Ketiga; Di Nepal dan Bali dikenal pendeta Mahabrahmana. Keberadaan pendeta Mahabrahmana dikenal dalam era pemerintahan Raja Jayapangus di Bali. Posisinya disebutkan dalam prasasti bersama pendeta-pendeta yang lain; “mpuku sewa-sogata-rsi-mahabrahmana”, salah satunya dalam Prasasti Kayubihi, yang bertahun 1103 Śaka atau 1181 Masehi.

Pendeta Mahabrahmana dikenal dalam kerajaan Nepal bertugas secara khusus muput/memimpin upakara penyucian orang meninggal (atau Ngaben jika dibandingkan di Bali). Tentang pendeta Mahabrahmana ini ditemukan secara khusus dalam kerajaan Hindu Bali Kuno dan Hindu Nepal. Tentang hal ini tentu perlu kajian mendalam yang lebih jauh jika ingin membandingkannya. Namun demikian, saya menduga (dan dugaan ini belum tentu benar) bahwa pendeta Rsi-Mahabrahmana yang disebutkan dalam prasasti era Jayapangus kemungkinan terkait dengan keberadaan kependetaan Sangguhu yang ada jejaknya di Bali sampai sekarang.

Pendeta Mahabrahmana di Nepal adalah pendeta khusus yang bertugas dalam pitra-yadnya, punya tugas khusus dalam ritual yang dilakukan untuk menyucikan layon (sang mati) dari mulai baru meninggal hingga penyucian jiwa orang yang meninggal, selanjutnya penyucian agar jiwa orang yang meninggal diantar dengan sarana ritual agar bisa memasuki alam leluhur (pitra). Dalam Hindu di Nepal dipercaya ruh orang yang meninggal bisa kesasar, dan bisa beresiko gentayangan (pitra kasasar). Agar tidak menjadi petra-kesasar, sang jiwa yang meninggalkan ini harus dituntun dengan upakara khusus untuk memasuki dunia leluhur.

Pendeta Mahabrahmana sering diasosiasikan berasal dari status bawah dalam warna para brahmana karena mereka terlibat langsung dalam menangani kematian yang dianggap bisa mencemari kebrahmanaan seseorang — pekerjaan ini dalam tradisi kuno dihindari oleh banyak orang. Sekalipun posisi pendeta Mahabrahmana dianggap “pendeta kematian”, pendeta kelompok ini sejatinya kelompok brahmana sejati. Kalau dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali di era Dalem Samprangan, Sangguhu “dicibir” sebagai pendeta bawahan karena keterlibatannya ikut dalam upacara kematian Dalem Samprangan. Ketika itu pendeta brahmana dianggap “tidak suci” jika terlibat dalam pembersihan jenasah. Semenjak itu satu kelompok pendeta Sangguhu dianggap “tercemar kebrahmanaan” dan statusnya karena membantu proses upakara layon dan prateka Dalem Samprangan. Padahal, Sangguhu sejatinya adalah brahmana sejati yang memiliki Weda-nya tersendiri, yang tidak lain adalah utusan Sang Sinuhun Kidul untuk datang ke Bali membantu penyelesaian upakara ruwatan bumi dan upakara kerajaan di masa itu. Dalam salah satu catatan Dalem Gelgel disebutkan Sangguhu adalah pendeta utusan Sang Sinuhun Kidul — menjadi pertanyaan siapa sosok Sang Sinuhun Kidul ini? Jika dibandingkan pendeta Mahabrahmana di Nepal, menarik dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali.

4. Hal sangat menarik adalah pedoman kepemangkuan di Bali, terkhusus sesontengan dan mantra memuliakan Paśupati adalah penyebutan bija-aksara SA-BA-TA-I yang dikenal sebagai Pancabrahma yaitu: Sadyojata, Bamadewa, Tatpuruśa, Aghora & Iśana — yang ditulis dalam lontar Sangkulputih dan Kusumadewa yang tak lain adalah lontar-lontar pedoman puja-saha-sesontengan pemangku di Bali — juga tak lain dewa-dewa perwujudan Hyang Paśupati yang dimuliakan di Nepal.

5. Tantrisme Buddha dan Śiwa sangat kuat di Nepal. Baik tantrisme Buddha dan Śiwa, keduanya tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Hindu di Nepal. Ini juga yang terjadi dalam praktek ritual Hindu Bali. Sama dengan Hindu Nepal, pengaruh tantra Buddha dan tantra Śiwa menjadi salah satu pilar pokok ritual di Bali.

Catatan kecil ini hanyalah ajakan untuk tidak sekedar berkutat sebatas membanding-bandingkan Hindu Bali dan Hindu India. Sesekali, yuk, melawat ke Nepal. Atau, kalaupun harus ke India, tidak hanya berkutat di India Tengah dan sekitarnya; melawatlah ke Selatan yang tradisinya sangat beragam — sesekali kita melawat ke Kerala yang suasana alamnya lebih mirip Bali dimana pohon kelapa nyiur melambai dan ada kisah konon kelapa di sana berasal dari Bali? Atau, pergilah ke atas, membandingkan Śiwaisme Hindu Bali dengan Śiwaisme Jammu dan Kashmir di India Utara adalah tantangan yang menarik untuk dimasuki.

India itu luas — luasnya 3.287.590 km2, bandingkan dengan luas Bali 5.780 km².  Manusia India itu berlimpah — berlimpah ragam tradisi kedaerahan dan perangai budaya masing-masing wilayah yang sangat berbeda-beda — jumlah penduduk India lebih dari 1 miliar jiwa (1.274.590.000 jiwa), sementara penduduk Bali 4,27 juta jiwa. Di tanah India yang luas dan berlimpah manusia ini tradisi Hindu tidak pernah tunggal. Ada berbagai ragam tradisi Hindu dengan interpretasi kitab dan praktek ritual kedaerahan masing-masing sangat beragam. Masing-masing daerah atau desa punya “desa-kala-patra” tersendiri.

Menjadi catatan dari banyak pakar-pakar tertinggi sejarah Hindusime dunia: Dari era 3500 Sebelum Masehi tradisi Hinduisme tidak pernah seragam. Terbentang sejarah panjang dan naskah-naskah tebal dengan beraneka ragam tradisi dan interpretasi. Mereka yang baru belajar Hinduisme akan dibuat kebingungan. Mereka yang tidak akrab dengan peta pemikiran-pemikiran besar Hinduisme akan dibuat kalangkabut dalam mencari seluk-beluk Hinduisme. [T]

______

BACA CATATAN HARIAN SUGI LANUS LAINNYA

Tags: hinduHindu BaliHindu IndiaindiaNepal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Next Post

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co