23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 3, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022

Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.

Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal.

Kenapa ke Nepal?

Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan paham bahwa bukan saja Hindu Bali berbeda dengan India. Tetangga dekat India, yaitu Nepal, pun tradisi Hindu-nya sangat berbeda dengan Hindu India.

Apa beda Hindu Nepal dan Hindu India?

Di sini saya akan merangkum 3 perbedaan mendasar antara Hindu di India dan Hindu di Nepal — pendapat ini adalah pandangan para ahli perbandingan Hinduisme di India.

1. Agama Hindu dan Buddha tidak terpisah satu sama lain dalam masyarakat di Nepal. Hal ini bukan hal biasa dibandingkan di India. Di India sendiri Hindu dan Buddha terbentang jarak perbedaan. Sementara di Nepal keduanya tumbuh bersama tanpa jarak, bahkan bisa dikatakan berbaur. Pembauran Hindu dan Buddha di Nepal ini tidak sama persisi dengan apa yang terjadi di Bali, tetapi di kedua tempat ini terjadi pembauran yang unik. Di Bali “pembauran Hindu-Buddha” yang menyisakan garis kependetaan Buddha dalam Hindu-Bali. Di Nepal terjadi diranah Tantraisme. Di India hal seperti ini dianggap tidak umum.

2. Tidak ditemukan adanya pengaruh Islam di Nepal. Sementara Hindu di India mengalami pengaruh dan tekanan kuat dalam beberapa abad di bawah Dinasti Mughal (Mughal juga dieja Mogul, atau dalam ucapan Persia disebut Mughūl (“Mongol”).  Dinasti Muslim asal Turki-Mongol ini pernah menguasai sebagian besar India utara dari awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Pengaruh ini banyak memunculkan tekanan, berbagai aliran keagamaan Hinduisme berusaha bangkit dan mengambil bentuk berbagai paham Hinduisme yang mengeras untuk membentengi diri dari desakan pengislaman oleh Dinasti Mughal. Berbagai ajaran Hindu yang berkembang akibat tekanan dinasti Islam ini menjadi variabel perubahan besar dalam sejarah perkembangan Hindu di India. Posisi Nepal sama dengan pulau Bali, tidak terkena pengaruh tekanan Islam dimasa ekspansi Islam sekitar abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18.

3.  Dalam Hindu Nepal tidak ditemukan pengaruh tradisi Bhakti penyembah Rama atau Krishna. Sekalipun di Nepal dikenal istilah ‘bhakti’, tradisi bhakta penyembah atau “pentuhanan” Rama dan Krishna tidak berkembang secara signifikan. Para peneliti India yang melakukan pengamatan terhadap Hindu di Nepal sepakat berpendapat: Meskipun ada kuil yang didedikasikan untuk Rama dan Krishna, emosi yang terkait dengan mereka tidak intim dan pribadi, dan hampir tidak romantis. Masyarakat Hindu Nepal tidak punya keterkaitan emosional yang mendalam dengan sosok Rama dan Krishna.

Tiga pembeda pokok antara tradisi Hindu di India dan Hindu di Nepal tersebut juga menjadi pembeda antara Hindu India dan Hindu Bali.

Tidak hanya berhenti di sana, kemiripan lainnya antara Hindu Nepal dan Hindu Bali, ada beberapa pokok lainnya, diantaranya:

Pertama; Secara arsitektur, Meru di Bali punya kemiripan dengan kuil-kuil Hindu di Nepal. Para pengamat arsitektur Hindu umumnya sepakat bahwa meru di Nepal mirip dengan meru di Bali. Orang Bali akan terkejut (dan kagum) jika pergi ke kuil Pashupatinath (Nepali : पशुपतिनाथ) yang didedikasikan untuk pemujaan Paśupati. Kuil Hindu yang serupa meru ini terletak di Kathmandu, Nepal.

Kuil Hindu Paśupatinath adalah semacam Besakih-nya Hindu di Nepal. Kawasan kuil Hindu yang luas ini memiliki meru-meru atau percandian, dengan pasraman, relief atau gambar-gambar, dan prasasti yang tersebar selama berabad-abad di sepanjang tepi sungai Bagmati yang sangat disucikan. Kuil Hindu ini merupakan salah satu dari tujuh kelompok monumen yang diakui UNESCO yang terhampar di atas Lembah Kathmandu.

Kedua; Jika kita bandingkan dengan berbagai ritual yang ada di Bali, seperti Tumpek dan banten terkait Hyang Paśupati lainnya; apalagi jika kita kaitkan dengan sejarah turunnya para Sapta Rsi di Bali, yang diperintahkan oleh Hyang Pasupati; Hindu di Nepal juga sangat kental dengan pemujaan Paśupati.

Dalam berbagai lontar babad yang diwarisi di Bali sebutkan bahwa: Hyang Pasupati turun ke Bali ketika pulau Bali dan Lombok masih dalam berkeadaan bergoncang-goncang. Pulau Bali bagaikan perahu oleng berayun-ayun di tengah samudera. Turunlah Bhatara Hyang Pasupati ke Bali menyelamatkan pulau Bali. Dengan memindahkan sebagian puncak Mahameru yang dibawa ke Pulau Bali dan Lombok, Hyang Pasupati mengajegkan Bali. Dalam lontar-lontar babad disebutkan peristiwa datangnya Hyang Pasupati ke Bali terjadi pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (sekitar bulan April), ketika tilem (bulan mati/ tergelap), rah 1, tanggek 1, tahun śaka berekor 11.

Dalam Hindu Nepal sendiri Paśupati adalah “the national deity of Nepal” (Dewa Utama secara nasional dimuliakan oleh Hindu Nepal). Paśupati atau Paśupatinath bagi Hindu di Nepal berarti “Sang Penguasa segala binatang” — hal ini punya pengertian yang sama dengan Hyang Pasupati dalam lontar-lontar dan tradisi tutur di Bali. Paśupati adalah julukan Rudra pada periode Weda. Kemudian berkembang Paśupati dikenal dalam masyarakat Nepal dan Bali sebagai salah satu julukan Śiwa. Penghormatan dan pemuliaan Paśupati di Nepal dan Bali punya kemiripan, demikian juga posisinya yang sangat sentral dalam ritual di Nepal dan Bali.

Ketiga; Di Nepal dan Bali dikenal pendeta Mahabrahmana. Keberadaan pendeta Mahabrahmana dikenal dalam era pemerintahan Raja Jayapangus di Bali. Posisinya disebutkan dalam prasasti bersama pendeta-pendeta yang lain; “mpuku sewa-sogata-rsi-mahabrahmana”, salah satunya dalam Prasasti Kayubihi, yang bertahun 1103 Śaka atau 1181 Masehi.

Pendeta Mahabrahmana dikenal dalam kerajaan Nepal bertugas secara khusus muput/memimpin upakara penyucian orang meninggal (atau Ngaben jika dibandingkan di Bali). Tentang pendeta Mahabrahmana ini ditemukan secara khusus dalam kerajaan Hindu Bali Kuno dan Hindu Nepal. Tentang hal ini tentu perlu kajian mendalam yang lebih jauh jika ingin membandingkannya. Namun demikian, saya menduga (dan dugaan ini belum tentu benar) bahwa pendeta Rsi-Mahabrahmana yang disebutkan dalam prasasti era Jayapangus kemungkinan terkait dengan keberadaan kependetaan Sangguhu yang ada jejaknya di Bali sampai sekarang.

Pendeta Mahabrahmana di Nepal adalah pendeta khusus yang bertugas dalam pitra-yadnya, punya tugas khusus dalam ritual yang dilakukan untuk menyucikan layon (sang mati) dari mulai baru meninggal hingga penyucian jiwa orang yang meninggal, selanjutnya penyucian agar jiwa orang yang meninggal diantar dengan sarana ritual agar bisa memasuki alam leluhur (pitra). Dalam Hindu di Nepal dipercaya ruh orang yang meninggal bisa kesasar, dan bisa beresiko gentayangan (pitra kasasar). Agar tidak menjadi petra-kesasar, sang jiwa yang meninggalkan ini harus dituntun dengan upakara khusus untuk memasuki dunia leluhur.

Pendeta Mahabrahmana sering diasosiasikan berasal dari status bawah dalam warna para brahmana karena mereka terlibat langsung dalam menangani kematian yang dianggap bisa mencemari kebrahmanaan seseorang — pekerjaan ini dalam tradisi kuno dihindari oleh banyak orang. Sekalipun posisi pendeta Mahabrahmana dianggap “pendeta kematian”, pendeta kelompok ini sejatinya kelompok brahmana sejati. Kalau dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali di era Dalem Samprangan, Sangguhu “dicibir” sebagai pendeta bawahan karena keterlibatannya ikut dalam upacara kematian Dalem Samprangan. Ketika itu pendeta brahmana dianggap “tidak suci” jika terlibat dalam pembersihan jenasah. Semenjak itu satu kelompok pendeta Sangguhu dianggap “tercemar kebrahmanaan” dan statusnya karena membantu proses upakara layon dan prateka Dalem Samprangan. Padahal, Sangguhu sejatinya adalah brahmana sejati yang memiliki Weda-nya tersendiri, yang tidak lain adalah utusan Sang Sinuhun Kidul untuk datang ke Bali membantu penyelesaian upakara ruwatan bumi dan upakara kerajaan di masa itu. Dalam salah satu catatan Dalem Gelgel disebutkan Sangguhu adalah pendeta utusan Sang Sinuhun Kidul — menjadi pertanyaan siapa sosok Sang Sinuhun Kidul ini? Jika dibandingkan pendeta Mahabrahmana di Nepal, menarik dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali.

4. Hal sangat menarik adalah pedoman kepemangkuan di Bali, terkhusus sesontengan dan mantra memuliakan Paśupati adalah penyebutan bija-aksara SA-BA-TA-I yang dikenal sebagai Pancabrahma yaitu: Sadyojata, Bamadewa, Tatpuruśa, Aghora & Iśana — yang ditulis dalam lontar Sangkulputih dan Kusumadewa yang tak lain adalah lontar-lontar pedoman puja-saha-sesontengan pemangku di Bali — juga tak lain dewa-dewa perwujudan Hyang Paśupati yang dimuliakan di Nepal.

5. Tantrisme Buddha dan Śiwa sangat kuat di Nepal. Baik tantrisme Buddha dan Śiwa, keduanya tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Hindu di Nepal. Ini juga yang terjadi dalam praktek ritual Hindu Bali. Sama dengan Hindu Nepal, pengaruh tantra Buddha dan tantra Śiwa menjadi salah satu pilar pokok ritual di Bali.

Catatan kecil ini hanyalah ajakan untuk tidak sekedar berkutat sebatas membanding-bandingkan Hindu Bali dan Hindu India. Sesekali, yuk, melawat ke Nepal. Atau, kalaupun harus ke India, tidak hanya berkutat di India Tengah dan sekitarnya; melawatlah ke Selatan yang tradisinya sangat beragam — sesekali kita melawat ke Kerala yang suasana alamnya lebih mirip Bali dimana pohon kelapa nyiur melambai dan ada kisah konon kelapa di sana berasal dari Bali? Atau, pergilah ke atas, membandingkan Śiwaisme Hindu Bali dengan Śiwaisme Jammu dan Kashmir di India Utara adalah tantangan yang menarik untuk dimasuki.

India itu luas — luasnya 3.287.590 km2, bandingkan dengan luas Bali 5.780 km².  Manusia India itu berlimpah — berlimpah ragam tradisi kedaerahan dan perangai budaya masing-masing wilayah yang sangat berbeda-beda — jumlah penduduk India lebih dari 1 miliar jiwa (1.274.590.000 jiwa), sementara penduduk Bali 4,27 juta jiwa. Di tanah India yang luas dan berlimpah manusia ini tradisi Hindu tidak pernah tunggal. Ada berbagai ragam tradisi Hindu dengan interpretasi kitab dan praktek ritual kedaerahan masing-masing sangat beragam. Masing-masing daerah atau desa punya “desa-kala-patra” tersendiri.

Menjadi catatan dari banyak pakar-pakar tertinggi sejarah Hindusime dunia: Dari era 3500 Sebelum Masehi tradisi Hinduisme tidak pernah seragam. Terbentang sejarah panjang dan naskah-naskah tebal dengan beraneka ragam tradisi dan interpretasi. Mereka yang baru belajar Hinduisme akan dibuat kebingungan. Mereka yang tidak akrab dengan peta pemikiran-pemikiran besar Hinduisme akan dibuat kalangkabut dalam mencari seluk-beluk Hinduisme. [T]

______

BACA CATATAN HARIAN SUGI LANUS LAINNYA

Tags: hinduHindu BaliHindu IndiaindiaNepal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Next Post

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co