3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 3, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022

Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.

Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal.

Kenapa ke Nepal?

Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan paham bahwa bukan saja Hindu Bali berbeda dengan India. Tetangga dekat India, yaitu Nepal, pun tradisi Hindu-nya sangat berbeda dengan Hindu India.

Apa beda Hindu Nepal dan Hindu India?

Di sini saya akan merangkum 3 perbedaan mendasar antara Hindu di India dan Hindu di Nepal — pendapat ini adalah pandangan para ahli perbandingan Hinduisme di India.

1. Agama Hindu dan Buddha tidak terpisah satu sama lain dalam masyarakat di Nepal. Hal ini bukan hal biasa dibandingkan di India. Di India sendiri Hindu dan Buddha terbentang jarak perbedaan. Sementara di Nepal keduanya tumbuh bersama tanpa jarak, bahkan bisa dikatakan berbaur. Pembauran Hindu dan Buddha di Nepal ini tidak sama persisi dengan apa yang terjadi di Bali, tetapi di kedua tempat ini terjadi pembauran yang unik. Di Bali “pembauran Hindu-Buddha” yang menyisakan garis kependetaan Buddha dalam Hindu-Bali. Di Nepal terjadi diranah Tantraisme. Di India hal seperti ini dianggap tidak umum.

2. Tidak ditemukan adanya pengaruh Islam di Nepal. Sementara Hindu di India mengalami pengaruh dan tekanan kuat dalam beberapa abad di bawah Dinasti Mughal (Mughal juga dieja Mogul, atau dalam ucapan Persia disebut Mughūl (“Mongol”).  Dinasti Muslim asal Turki-Mongol ini pernah menguasai sebagian besar India utara dari awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Pengaruh ini banyak memunculkan tekanan, berbagai aliran keagamaan Hinduisme berusaha bangkit dan mengambil bentuk berbagai paham Hinduisme yang mengeras untuk membentengi diri dari desakan pengislaman oleh Dinasti Mughal. Berbagai ajaran Hindu yang berkembang akibat tekanan dinasti Islam ini menjadi variabel perubahan besar dalam sejarah perkembangan Hindu di India. Posisi Nepal sama dengan pulau Bali, tidak terkena pengaruh tekanan Islam dimasa ekspansi Islam sekitar abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18.

3.  Dalam Hindu Nepal tidak ditemukan pengaruh tradisi Bhakti penyembah Rama atau Krishna. Sekalipun di Nepal dikenal istilah ‘bhakti’, tradisi bhakta penyembah atau “pentuhanan” Rama dan Krishna tidak berkembang secara signifikan. Para peneliti India yang melakukan pengamatan terhadap Hindu di Nepal sepakat berpendapat: Meskipun ada kuil yang didedikasikan untuk Rama dan Krishna, emosi yang terkait dengan mereka tidak intim dan pribadi, dan hampir tidak romantis. Masyarakat Hindu Nepal tidak punya keterkaitan emosional yang mendalam dengan sosok Rama dan Krishna.

Tiga pembeda pokok antara tradisi Hindu di India dan Hindu di Nepal tersebut juga menjadi pembeda antara Hindu India dan Hindu Bali.

Tidak hanya berhenti di sana, kemiripan lainnya antara Hindu Nepal dan Hindu Bali, ada beberapa pokok lainnya, diantaranya:

Pertama; Secara arsitektur, Meru di Bali punya kemiripan dengan kuil-kuil Hindu di Nepal. Para pengamat arsitektur Hindu umumnya sepakat bahwa meru di Nepal mirip dengan meru di Bali. Orang Bali akan terkejut (dan kagum) jika pergi ke kuil Pashupatinath (Nepali : पशुपतिनाथ) yang didedikasikan untuk pemujaan Paśupati. Kuil Hindu yang serupa meru ini terletak di Kathmandu, Nepal.

Kuil Hindu Paśupatinath adalah semacam Besakih-nya Hindu di Nepal. Kawasan kuil Hindu yang luas ini memiliki meru-meru atau percandian, dengan pasraman, relief atau gambar-gambar, dan prasasti yang tersebar selama berabad-abad di sepanjang tepi sungai Bagmati yang sangat disucikan. Kuil Hindu ini merupakan salah satu dari tujuh kelompok monumen yang diakui UNESCO yang terhampar di atas Lembah Kathmandu.

Kedua; Jika kita bandingkan dengan berbagai ritual yang ada di Bali, seperti Tumpek dan banten terkait Hyang Paśupati lainnya; apalagi jika kita kaitkan dengan sejarah turunnya para Sapta Rsi di Bali, yang diperintahkan oleh Hyang Pasupati; Hindu di Nepal juga sangat kental dengan pemujaan Paśupati.

Dalam berbagai lontar babad yang diwarisi di Bali sebutkan bahwa: Hyang Pasupati turun ke Bali ketika pulau Bali dan Lombok masih dalam berkeadaan bergoncang-goncang. Pulau Bali bagaikan perahu oleng berayun-ayun di tengah samudera. Turunlah Bhatara Hyang Pasupati ke Bali menyelamatkan pulau Bali. Dengan memindahkan sebagian puncak Mahameru yang dibawa ke Pulau Bali dan Lombok, Hyang Pasupati mengajegkan Bali. Dalam lontar-lontar babad disebutkan peristiwa datangnya Hyang Pasupati ke Bali terjadi pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (sekitar bulan April), ketika tilem (bulan mati/ tergelap), rah 1, tanggek 1, tahun śaka berekor 11.

Dalam Hindu Nepal sendiri Paśupati adalah “the national deity of Nepal” (Dewa Utama secara nasional dimuliakan oleh Hindu Nepal). Paśupati atau Paśupatinath bagi Hindu di Nepal berarti “Sang Penguasa segala binatang” — hal ini punya pengertian yang sama dengan Hyang Pasupati dalam lontar-lontar dan tradisi tutur di Bali. Paśupati adalah julukan Rudra pada periode Weda. Kemudian berkembang Paśupati dikenal dalam masyarakat Nepal dan Bali sebagai salah satu julukan Śiwa. Penghormatan dan pemuliaan Paśupati di Nepal dan Bali punya kemiripan, demikian juga posisinya yang sangat sentral dalam ritual di Nepal dan Bali.

Ketiga; Di Nepal dan Bali dikenal pendeta Mahabrahmana. Keberadaan pendeta Mahabrahmana dikenal dalam era pemerintahan Raja Jayapangus di Bali. Posisinya disebutkan dalam prasasti bersama pendeta-pendeta yang lain; “mpuku sewa-sogata-rsi-mahabrahmana”, salah satunya dalam Prasasti Kayubihi, yang bertahun 1103 Śaka atau 1181 Masehi.

Pendeta Mahabrahmana dikenal dalam kerajaan Nepal bertugas secara khusus muput/memimpin upakara penyucian orang meninggal (atau Ngaben jika dibandingkan di Bali). Tentang pendeta Mahabrahmana ini ditemukan secara khusus dalam kerajaan Hindu Bali Kuno dan Hindu Nepal. Tentang hal ini tentu perlu kajian mendalam yang lebih jauh jika ingin membandingkannya. Namun demikian, saya menduga (dan dugaan ini belum tentu benar) bahwa pendeta Rsi-Mahabrahmana yang disebutkan dalam prasasti era Jayapangus kemungkinan terkait dengan keberadaan kependetaan Sangguhu yang ada jejaknya di Bali sampai sekarang.

Pendeta Mahabrahmana di Nepal adalah pendeta khusus yang bertugas dalam pitra-yadnya, punya tugas khusus dalam ritual yang dilakukan untuk menyucikan layon (sang mati) dari mulai baru meninggal hingga penyucian jiwa orang yang meninggal, selanjutnya penyucian agar jiwa orang yang meninggal diantar dengan sarana ritual agar bisa memasuki alam leluhur (pitra). Dalam Hindu di Nepal dipercaya ruh orang yang meninggal bisa kesasar, dan bisa beresiko gentayangan (pitra kasasar). Agar tidak menjadi petra-kesasar, sang jiwa yang meninggalkan ini harus dituntun dengan upakara khusus untuk memasuki dunia leluhur.

Pendeta Mahabrahmana sering diasosiasikan berasal dari status bawah dalam warna para brahmana karena mereka terlibat langsung dalam menangani kematian yang dianggap bisa mencemari kebrahmanaan seseorang — pekerjaan ini dalam tradisi kuno dihindari oleh banyak orang. Sekalipun posisi pendeta Mahabrahmana dianggap “pendeta kematian”, pendeta kelompok ini sejatinya kelompok brahmana sejati. Kalau dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali di era Dalem Samprangan, Sangguhu “dicibir” sebagai pendeta bawahan karena keterlibatannya ikut dalam upacara kematian Dalem Samprangan. Ketika itu pendeta brahmana dianggap “tidak suci” jika terlibat dalam pembersihan jenasah. Semenjak itu satu kelompok pendeta Sangguhu dianggap “tercemar kebrahmanaan” dan statusnya karena membantu proses upakara layon dan prateka Dalem Samprangan. Padahal, Sangguhu sejatinya adalah brahmana sejati yang memiliki Weda-nya tersendiri, yang tidak lain adalah utusan Sang Sinuhun Kidul untuk datang ke Bali membantu penyelesaian upakara ruwatan bumi dan upakara kerajaan di masa itu. Dalam salah satu catatan Dalem Gelgel disebutkan Sangguhu adalah pendeta utusan Sang Sinuhun Kidul — menjadi pertanyaan siapa sosok Sang Sinuhun Kidul ini? Jika dibandingkan pendeta Mahabrahmana di Nepal, menarik dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali.

4. Hal sangat menarik adalah pedoman kepemangkuan di Bali, terkhusus sesontengan dan mantra memuliakan Paśupati adalah penyebutan bija-aksara SA-BA-TA-I yang dikenal sebagai Pancabrahma yaitu: Sadyojata, Bamadewa, Tatpuruśa, Aghora & Iśana — yang ditulis dalam lontar Sangkulputih dan Kusumadewa yang tak lain adalah lontar-lontar pedoman puja-saha-sesontengan pemangku di Bali — juga tak lain dewa-dewa perwujudan Hyang Paśupati yang dimuliakan di Nepal.

5. Tantrisme Buddha dan Śiwa sangat kuat di Nepal. Baik tantrisme Buddha dan Śiwa, keduanya tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Hindu di Nepal. Ini juga yang terjadi dalam praktek ritual Hindu Bali. Sama dengan Hindu Nepal, pengaruh tantra Buddha dan tantra Śiwa menjadi salah satu pilar pokok ritual di Bali.

Catatan kecil ini hanyalah ajakan untuk tidak sekedar berkutat sebatas membanding-bandingkan Hindu Bali dan Hindu India. Sesekali, yuk, melawat ke Nepal. Atau, kalaupun harus ke India, tidak hanya berkutat di India Tengah dan sekitarnya; melawatlah ke Selatan yang tradisinya sangat beragam — sesekali kita melawat ke Kerala yang suasana alamnya lebih mirip Bali dimana pohon kelapa nyiur melambai dan ada kisah konon kelapa di sana berasal dari Bali? Atau, pergilah ke atas, membandingkan Śiwaisme Hindu Bali dengan Śiwaisme Jammu dan Kashmir di India Utara adalah tantangan yang menarik untuk dimasuki.

India itu luas — luasnya 3.287.590 km2, bandingkan dengan luas Bali 5.780 km².  Manusia India itu berlimpah — berlimpah ragam tradisi kedaerahan dan perangai budaya masing-masing wilayah yang sangat berbeda-beda — jumlah penduduk India lebih dari 1 miliar jiwa (1.274.590.000 jiwa), sementara penduduk Bali 4,27 juta jiwa. Di tanah India yang luas dan berlimpah manusia ini tradisi Hindu tidak pernah tunggal. Ada berbagai ragam tradisi Hindu dengan interpretasi kitab dan praktek ritual kedaerahan masing-masing sangat beragam. Masing-masing daerah atau desa punya “desa-kala-patra” tersendiri.

Menjadi catatan dari banyak pakar-pakar tertinggi sejarah Hindusime dunia: Dari era 3500 Sebelum Masehi tradisi Hinduisme tidak pernah seragam. Terbentang sejarah panjang dan naskah-naskah tebal dengan beraneka ragam tradisi dan interpretasi. Mereka yang baru belajar Hinduisme akan dibuat kebingungan. Mereka yang tidak akrab dengan peta pemikiran-pemikiran besar Hinduisme akan dibuat kalangkabut dalam mencari seluk-beluk Hinduisme. [T]

______

BACA CATATAN HARIAN SUGI LANUS LAINNYA

Tags: hinduHindu BaliHindu IndiaindiaNepal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Next Post

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co