12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Sugi Lanus by Sugi Lanus
June 3, 2022
in Esai
HINDU & KEJAWEN BERHALA?

— Catatan Harian Sugi Lanus, 2 Juni 2022

Saya sepakat 1000% dengan pendapat yang mengatakan bahwa praktek beragama dan ritual Hindu Bali ya Hindu Bali, berbeda dengan Hindu di India.

Tetapi, jika ada pertanyaan kenapa Hindu Bali berbeda dengan Hindu India? Saya akan mengajak si penanya untuk “jalan-jalan” ke Nepal.

Kenapa ke Nepal?

Dengan membandingkan Hindu di Nepal dan Hindu di India, kita akan paham bahwa bukan saja Hindu Bali berbeda dengan India. Tetangga dekat India, yaitu Nepal, pun tradisi Hindu-nya sangat berbeda dengan Hindu India.

Apa beda Hindu Nepal dan Hindu India?

Di sini saya akan merangkum 3 perbedaan mendasar antara Hindu di India dan Hindu di Nepal — pendapat ini adalah pandangan para ahli perbandingan Hinduisme di India.

1. Agama Hindu dan Buddha tidak terpisah satu sama lain dalam masyarakat di Nepal. Hal ini bukan hal biasa dibandingkan di India. Di India sendiri Hindu dan Buddha terbentang jarak perbedaan. Sementara di Nepal keduanya tumbuh bersama tanpa jarak, bahkan bisa dikatakan berbaur. Pembauran Hindu dan Buddha di Nepal ini tidak sama persisi dengan apa yang terjadi di Bali, tetapi di kedua tempat ini terjadi pembauran yang unik. Di Bali “pembauran Hindu-Buddha” yang menyisakan garis kependetaan Buddha dalam Hindu-Bali. Di Nepal terjadi diranah Tantraisme. Di India hal seperti ini dianggap tidak umum.

2. Tidak ditemukan adanya pengaruh Islam di Nepal. Sementara Hindu di India mengalami pengaruh dan tekanan kuat dalam beberapa abad di bawah Dinasti Mughal (Mughal juga dieja Mogul, atau dalam ucapan Persia disebut Mughūl (“Mongol”).  Dinasti Muslim asal Turki-Mongol ini pernah menguasai sebagian besar India utara dari awal abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18. Pengaruh ini banyak memunculkan tekanan, berbagai aliran keagamaan Hinduisme berusaha bangkit dan mengambil bentuk berbagai paham Hinduisme yang mengeras untuk membentengi diri dari desakan pengislaman oleh Dinasti Mughal. Berbagai ajaran Hindu yang berkembang akibat tekanan dinasti Islam ini menjadi variabel perubahan besar dalam sejarah perkembangan Hindu di India. Posisi Nepal sama dengan pulau Bali, tidak terkena pengaruh tekanan Islam dimasa ekspansi Islam sekitar abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-18.

3.  Dalam Hindu Nepal tidak ditemukan pengaruh tradisi Bhakti penyembah Rama atau Krishna. Sekalipun di Nepal dikenal istilah ‘bhakti’, tradisi bhakta penyembah atau “pentuhanan” Rama dan Krishna tidak berkembang secara signifikan. Para peneliti India yang melakukan pengamatan terhadap Hindu di Nepal sepakat berpendapat: Meskipun ada kuil yang didedikasikan untuk Rama dan Krishna, emosi yang terkait dengan mereka tidak intim dan pribadi, dan hampir tidak romantis. Masyarakat Hindu Nepal tidak punya keterkaitan emosional yang mendalam dengan sosok Rama dan Krishna.

Tiga pembeda pokok antara tradisi Hindu di India dan Hindu di Nepal tersebut juga menjadi pembeda antara Hindu India dan Hindu Bali.

Tidak hanya berhenti di sana, kemiripan lainnya antara Hindu Nepal dan Hindu Bali, ada beberapa pokok lainnya, diantaranya:

Pertama; Secara arsitektur, Meru di Bali punya kemiripan dengan kuil-kuil Hindu di Nepal. Para pengamat arsitektur Hindu umumnya sepakat bahwa meru di Nepal mirip dengan meru di Bali. Orang Bali akan terkejut (dan kagum) jika pergi ke kuil Pashupatinath (Nepali : पशुपतिनाथ) yang didedikasikan untuk pemujaan Paśupati. Kuil Hindu yang serupa meru ini terletak di Kathmandu, Nepal.

Kuil Hindu Paśupatinath adalah semacam Besakih-nya Hindu di Nepal. Kawasan kuil Hindu yang luas ini memiliki meru-meru atau percandian, dengan pasraman, relief atau gambar-gambar, dan prasasti yang tersebar selama berabad-abad di sepanjang tepi sungai Bagmati yang sangat disucikan. Kuil Hindu ini merupakan salah satu dari tujuh kelompok monumen yang diakui UNESCO yang terhampar di atas Lembah Kathmandu.

Kedua; Jika kita bandingkan dengan berbagai ritual yang ada di Bali, seperti Tumpek dan banten terkait Hyang Paśupati lainnya; apalagi jika kita kaitkan dengan sejarah turunnya para Sapta Rsi di Bali, yang diperintahkan oleh Hyang Pasupati; Hindu di Nepal juga sangat kental dengan pemujaan Paśupati.

Dalam berbagai lontar babad yang diwarisi di Bali sebutkan bahwa: Hyang Pasupati turun ke Bali ketika pulau Bali dan Lombok masih dalam berkeadaan bergoncang-goncang. Pulau Bali bagaikan perahu oleng berayun-ayun di tengah samudera. Turunlah Bhatara Hyang Pasupati ke Bali menyelamatkan pulau Bali. Dengan memindahkan sebagian puncak Mahameru yang dibawa ke Pulau Bali dan Lombok, Hyang Pasupati mengajegkan Bali. Dalam lontar-lontar babad disebutkan peristiwa datangnya Hyang Pasupati ke Bali terjadi pada hari Kamis Keliwon wuku Merakih, sasih kedasa (sekitar bulan April), ketika tilem (bulan mati/ tergelap), rah 1, tanggek 1, tahun śaka berekor 11.

Dalam Hindu Nepal sendiri Paśupati adalah “the national deity of Nepal” (Dewa Utama secara nasional dimuliakan oleh Hindu Nepal). Paśupati atau Paśupatinath bagi Hindu di Nepal berarti “Sang Penguasa segala binatang” — hal ini punya pengertian yang sama dengan Hyang Pasupati dalam lontar-lontar dan tradisi tutur di Bali. Paśupati adalah julukan Rudra pada periode Weda. Kemudian berkembang Paśupati dikenal dalam masyarakat Nepal dan Bali sebagai salah satu julukan Śiwa. Penghormatan dan pemuliaan Paśupati di Nepal dan Bali punya kemiripan, demikian juga posisinya yang sangat sentral dalam ritual di Nepal dan Bali.

Ketiga; Di Nepal dan Bali dikenal pendeta Mahabrahmana. Keberadaan pendeta Mahabrahmana dikenal dalam era pemerintahan Raja Jayapangus di Bali. Posisinya disebutkan dalam prasasti bersama pendeta-pendeta yang lain; “mpuku sewa-sogata-rsi-mahabrahmana”, salah satunya dalam Prasasti Kayubihi, yang bertahun 1103 Śaka atau 1181 Masehi.

Pendeta Mahabrahmana dikenal dalam kerajaan Nepal bertugas secara khusus muput/memimpin upakara penyucian orang meninggal (atau Ngaben jika dibandingkan di Bali). Tentang pendeta Mahabrahmana ini ditemukan secara khusus dalam kerajaan Hindu Bali Kuno dan Hindu Nepal. Tentang hal ini tentu perlu kajian mendalam yang lebih jauh jika ingin membandingkannya. Namun demikian, saya menduga (dan dugaan ini belum tentu benar) bahwa pendeta Rsi-Mahabrahmana yang disebutkan dalam prasasti era Jayapangus kemungkinan terkait dengan keberadaan kependetaan Sangguhu yang ada jejaknya di Bali sampai sekarang.

Pendeta Mahabrahmana di Nepal adalah pendeta khusus yang bertugas dalam pitra-yadnya, punya tugas khusus dalam ritual yang dilakukan untuk menyucikan layon (sang mati) dari mulai baru meninggal hingga penyucian jiwa orang yang meninggal, selanjutnya penyucian agar jiwa orang yang meninggal diantar dengan sarana ritual agar bisa memasuki alam leluhur (pitra). Dalam Hindu di Nepal dipercaya ruh orang yang meninggal bisa kesasar, dan bisa beresiko gentayangan (pitra kasasar). Agar tidak menjadi petra-kesasar, sang jiwa yang meninggalkan ini harus dituntun dengan upakara khusus untuk memasuki dunia leluhur.

Pendeta Mahabrahmana sering diasosiasikan berasal dari status bawah dalam warna para brahmana karena mereka terlibat langsung dalam menangani kematian yang dianggap bisa mencemari kebrahmanaan seseorang — pekerjaan ini dalam tradisi kuno dihindari oleh banyak orang. Sekalipun posisi pendeta Mahabrahmana dianggap “pendeta kematian”, pendeta kelompok ini sejatinya kelompok brahmana sejati. Kalau dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali di era Dalem Samprangan, Sangguhu “dicibir” sebagai pendeta bawahan karena keterlibatannya ikut dalam upacara kematian Dalem Samprangan. Ketika itu pendeta brahmana dianggap “tidak suci” jika terlibat dalam pembersihan jenasah. Semenjak itu satu kelompok pendeta Sangguhu dianggap “tercemar kebrahmanaan” dan statusnya karena membantu proses upakara layon dan prateka Dalem Samprangan. Padahal, Sangguhu sejatinya adalah brahmana sejati yang memiliki Weda-nya tersendiri, yang tidak lain adalah utusan Sang Sinuhun Kidul untuk datang ke Bali membantu penyelesaian upakara ruwatan bumi dan upakara kerajaan di masa itu. Dalam salah satu catatan Dalem Gelgel disebutkan Sangguhu adalah pendeta utusan Sang Sinuhun Kidul — menjadi pertanyaan siapa sosok Sang Sinuhun Kidul ini? Jika dibandingkan pendeta Mahabrahmana di Nepal, menarik dibandingkan dengan keberadaan pendeta Sangguhu di Bali.

4. Hal sangat menarik adalah pedoman kepemangkuan di Bali, terkhusus sesontengan dan mantra memuliakan Paśupati adalah penyebutan bija-aksara SA-BA-TA-I yang dikenal sebagai Pancabrahma yaitu: Sadyojata, Bamadewa, Tatpuruśa, Aghora & Iśana — yang ditulis dalam lontar Sangkulputih dan Kusumadewa yang tak lain adalah lontar-lontar pedoman puja-saha-sesontengan pemangku di Bali — juga tak lain dewa-dewa perwujudan Hyang Paśupati yang dimuliakan di Nepal.

5. Tantrisme Buddha dan Śiwa sangat kuat di Nepal. Baik tantrisme Buddha dan Śiwa, keduanya tidak bisa dipisahkan dalam sejarah Hindu di Nepal. Ini juga yang terjadi dalam praktek ritual Hindu Bali. Sama dengan Hindu Nepal, pengaruh tantra Buddha dan tantra Śiwa menjadi salah satu pilar pokok ritual di Bali.

Catatan kecil ini hanyalah ajakan untuk tidak sekedar berkutat sebatas membanding-bandingkan Hindu Bali dan Hindu India. Sesekali, yuk, melawat ke Nepal. Atau, kalaupun harus ke India, tidak hanya berkutat di India Tengah dan sekitarnya; melawatlah ke Selatan yang tradisinya sangat beragam — sesekali kita melawat ke Kerala yang suasana alamnya lebih mirip Bali dimana pohon kelapa nyiur melambai dan ada kisah konon kelapa di sana berasal dari Bali? Atau, pergilah ke atas, membandingkan Śiwaisme Hindu Bali dengan Śiwaisme Jammu dan Kashmir di India Utara adalah tantangan yang menarik untuk dimasuki.

India itu luas — luasnya 3.287.590 km2, bandingkan dengan luas Bali 5.780 km².  Manusia India itu berlimpah — berlimpah ragam tradisi kedaerahan dan perangai budaya masing-masing wilayah yang sangat berbeda-beda — jumlah penduduk India lebih dari 1 miliar jiwa (1.274.590.000 jiwa), sementara penduduk Bali 4,27 juta jiwa. Di tanah India yang luas dan berlimpah manusia ini tradisi Hindu tidak pernah tunggal. Ada berbagai ragam tradisi Hindu dengan interpretasi kitab dan praktek ritual kedaerahan masing-masing sangat beragam. Masing-masing daerah atau desa punya “desa-kala-patra” tersendiri.

Menjadi catatan dari banyak pakar-pakar tertinggi sejarah Hindusime dunia: Dari era 3500 Sebelum Masehi tradisi Hinduisme tidak pernah seragam. Terbentang sejarah panjang dan naskah-naskah tebal dengan beraneka ragam tradisi dan interpretasi. Mereka yang baru belajar Hinduisme akan dibuat kebingungan. Mereka yang tidak akrab dengan peta pemikiran-pemikiran besar Hinduisme akan dibuat kalangkabut dalam mencari seluk-beluk Hinduisme. [T]

______

BACA CATATAN HARIAN SUGI LANUS LAINNYA

Tags: hinduHindu BaliHindu IndiaindiaNepal
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Next Post

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co