3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
June 4, 2022
in Esai
Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Situs Goa Gede di Dusun Pendem, Desa Pejukutan, Nusa Penida. Sumber foto: balardenpasar.blogspot.com

Jika pariwisata Nusa Penida adalah artis, maka ia termasuk pendatang baru di Bali. Akan tetapi, ia cepat ngehits dan merebut panggung internasional. Lalu, apa sih daya tarik yang dimiliki oleh Pulau Ki Dukuh Jumpungan ini? “Satu paket alam bahari”. Mirip dengan wilayah kepulauan lainnya, NP memiliki objek wisata seputar pantai, tebing dekat laut, panorama bawah laut dan spot laut yang eksotis dan instragramable.

Objek wisata (alam) bahari inilah yang dijadikan andalan pariwisata NP. Bahkan, menjadi tumpuan satu-satunya dalam menjaga eksistensi pariwisata NP di mata nasional dan internasional. Tentu rasa optimisme ini patut diapresiasi dan dikawal—sambil menggali potensi wisata lain agar lebih variatif.

Maksudnya, jangan sampai “satu paket alam bahari” ini menjadi zona nyaman, tetapi justru kelak mengundang kejenuhan kepada turis. Karena itu, perlulah berjaga-jaga atau merancang wisata alternatif di NP supaya tidak melulu soal objek bahari saja.

Lalu, wisata apa lagi yang pantas dikembangkan di NP selain wisata bahari? Dalam konteks inilah penting kita melihat potensi diri dari kepulauan NP. Tentu bukan sekadar potensi diri yang bersifat kaleng-kalengan. Namun, potensi yang layak diberdayakan (dikemas) menjadi paket wisata bagi turis nasional/ internasional. Misalnya, wisata arkeologi atau wisata sejarah.

Eits… Memangnya NP punya jejak historis apa untuk dikemas dalam menu wisata arkeologi? Kebanyakan orang pasti pesimislah. Namun, jika membaca hasil penelitian Ni Komang Ayu Astiti (dari Pusat Arkeologi Nasional) tentang Sumberdaya Arkeologi di Pulau Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali, yang dimuat di Forum Arkeologi Volume 25 No. 1 April 2012 (31-48)—ternyata Pulau NP memiliki sumberdaya arkeologi yang layak dikembangkan untuk berbagai kepentingan.

Tinggalan Arkeologi di Pulau Nusa Penida

Dari hasil survei yang dilakukan Astiti di Pulau NP, ditemukan sejumlah tinggalan arkeologi berupa goa-goa alam sebagai indikasi tempat hunian, pura-pura kuno dengan arca-arca dari masa klasik, bunker-bunker Jepang dan tinggalan dari pemerintah Belanda berupa dam penampungan air.

Dalam pembahasannya, Astiti menyebutkan bahwa Pulau NP termasuk dalam kawasan karst yang memiliki kecenderungan terbentuknya goa-goa alam. Goa-goa ini diperkirakan dijadikan tempat hunian pada zaman prasejarah. Kriteria kasar yang dijadikan patokan awal adalah goa tersebut memiliki sirkulasi udara, intensitas cahaya yang cukup, kelembaban tinggi, dan ada ruang cukup untuk beraktivitas. Untuk lebih memastikannya, harus diperkuat dengan temuan tinggalan arkeologi di halaman maupun di lantai goa tersebut.

Membedah Riwayat Nama “Batu” di Nusa Penida

Dari beberapa goa alam yang ada di Pulau NP, baru Goa Gede yang sudah mengalami penelitian secara intensif dengan teknik ekskavasi. Hasil beberapa penelitian menyimpulkan bahwa goa ini telah dijadikan tempat hunian pada masa prasejarah. Sementara, pada goa-goa yang lainnya hanya sebagian ditemukan artefak berupa alat-alat batu, perhiasan, fragmen tembikar, fragmen tulang dan sisa cangkang kerang. Temuan artefak ini mengindikasikan bahwa goa-goa ini juga pernah dimanfatkan sebagai tempat hunian zaman prasejarah.

Berikut adalah temuan beberapa goa alam yang tersebar di Pulau NP (Astiti, 2012:8). Pertama, Goa Giri Putri yang terletak di Dusun Karangsari, Desa Suana. Berada di ketinggian 50 m dpl. Panjang bagian dalam goa sekitar 262 m, lebar 10-20 m, dan tinggi kurang lebih 10 m.

Kedua, Goa Pawon (48 m dpl) yang berlokasi di Banjar Karangsari, Desa Suana. Goa Pawon ini terbagi menjadi  2 bagian yaitu hunian dan pemujaan. Mulut goa hunian memiliki lebar 16 m, tinggi 4 m, dan panjang sekitar 18 m. Bagian dalamnya berukuran sekitar 20 m dan ketinggian langit-langitnya mencapai sekitar 15 m.

Ketiga, Goa Gede di ketinggian 180 m dpl. Berlokasi di Banjar Ambengan, Dusun Pendem, Desa Pejukutan. Lebar pintu goa 16 m, tinggi 5 m, lebar bagian dalam 10-20 m, dan panjang sekitar 50 m.

Keempat, Goa Song Puteri dan Song Lanang (191 m dpl) berada di Dusun Punduk Kahe Kaja, Desa Bunga Mekar. Lebar mulut Goa Song Puteri 9,30 m, tinggi 2,60 m, panjang bagian dalam 17 m, dan tinggi 4,5 m. Sedangkan, Goa Song Lanang berukuran 4 m, tinggi 1,6 m dan panjang seluruhnya sekitar 50,5 m.

Kelima, Goa Petung (256 m dpl) terletak di Dusun Pejukutan, Desa Pejukutan. Panjang goa ini mencapai 20 m, lebar 8 m, dan tingi langit-langit sekitar 10 m. Keenam, Goa Munduk Kau yang berlokasi di Dusun Suana, Desa Suana. Lebar mulut goa mencapai 12 m, tinggi 7 m, dan panjang bagian dalam 8 m dengan bentuk mengerucut ke arah dalam.

Ketujuh, Goa Menarik di Dusun Celagilandan, Desa Suana. Lebar mulut goa mencapai 3 m, tinggi 2,5 m, dan dalam 9,9 m. Panjang bagian dalam mencapai 6,5 m dan tinggi 4,0 m. Kedelapan, Goa Mejajar dengan ukuran panjang bagian dalam 45,0 m, lebar 9,80 m dan tinggi 1,50 m. Kesembilan, Goa Taman Sari di sebuah bukit dengan orientasi mulut ke arah 50°. Lubang pintu goa berukuran tinggi 70 m dan lebar 1,10 m.

Kesepuluh, Goa Bale di Dusun Baledan, Desa Klumpu. Ukuran pintu masuk realtif luas. Pada permukaannya, terdapat lubang bulat dengan diameter 18 cm dan dalam 23 cm. Kesebelas, Goa Tukad Tuduh yang terdiri atas beberapa ruang. Dari ruang utama menuju ke bagian dalam terdapat 4 buah ruang dengan ukuran bervariasi yaitu lebar antara 4-7 m, panjang 3-11 m, dan tinggi dinding 1,30-3,0 m.

Klumpu, “Banjar Dokter” di Nusa Penida

Selain goa-goa alam, Pulau NP juga memiliki tinggalan arkeologi masa klasik yang umumnya disimpan di area pura-pura. Kebanyakan berupa arca-arca (Astiti, 2012:10). Misalnya, di Pura Penataran Agung Ped (dulu bernama Pura Dalem Nusa) ditemukan arca Ratu Gede Mecaling di Pura Dalem Ped dan arca Ratu Mas di Pelebaan Ratu Mas.

Tinggalan arkeologi lainnya yakni dua buah arca sebagai perwujudan bhatara-bhatari yang terbuat dari batu padas atau tufa pasiran, disimpan di Pelinggih Gedong Penyimpenan, di Pura Mastulan. Pun ditemukan 2 buah umpak batu yang dimanfaatkan sebagai sakanem.

Pada puncak tertinggi di Pulau NP, ada Pura Puncak Mundi. Di pura ini dijumpai sisa bangunan padmasana tetapi mempunyai pelipit dan empat tiang yang berbeda dengan padmasana pada umumnya. Pura Puncak Mundi juga memiliki beberapa arca, yang disimpan dalam Gedong Pejenengan. Sebagian arca dalam bentuk fragmen.

Satu kompleks dengan Pura Puncak Mundi, ada Pura Dalem Kerangkeng. Pura ini diperuntukkan bagi para atma untuk menerima hukuman kerangkeng besi. Di dalam pura, ada goa kecil (goa kerangkeng), sebagai tempat memenjarakan para atma. Pun dijumpai meja pengadilan untuk mengadili para atma.

Selanjutnya, Pura Dalem Dukut. Di halaman mandala pura, terdapat padmasana setinggi 2,96 m, yang terbuat dari batu gamping, hiasan tubuh padma berupa kala (boma) dan garuda. Di dekat padma, ada bangunan sanggar tawang dan arca kecil 47 cm.

Di Pura Paibon Ibu juga ditemukan padmasana dengan tinggi 2,63 m, bagian atasnya dihiasi oleh arca naga. Antara tepasana dan badan padmasana diberi hiasan relief kala dengan wajah krodha dan hiasan relief kepala burung garuda.

Unsur paling kuno dijumpai di Pura Puseh Saab. Di dalam utama mandala, terdapat bale sakanem dan Pelinggih Sanghyang Gana Pati. Di pura ini juga dijumpai arca-arca perwujudan dan arca ganesha. Arca-arca perwujudan bhatara-bhatari ditemukan sebanyak 13 buah utuh dan 18 buah fragmen yang bagiannya (badan, kepala, hiasan) sudah aus sehingga sulit untuk diidentifikasi.

Dua arca perwujudan dengan sikap kaki bersila dapat kita temukan di Pura Batu Medahu. Sementara, dolmen berbentuk persegi empat tidak beraturan berada di Pura Puseh Maos. Dolmen ini berukuran panjang 110 cm, lebar 97 cm dan tinggi mencapai 34 cm. Dolmen difungsikan sebagai tempat penyembelihan korban untuk upacara keagamaan. Di kompleks pura juga ditemukan menhir dan 7 buah arca dari batu gamping terumbu. Menhir dimanfaatkan sebagai tempat pemujaan memohon kesuburan (memohon hujan saat kemarau panjang).

Wah, banyak juga, ya, temuan tinggalan arkeologi masa klasik. Lalu, bagaimana dengan tinggalan masa kolonial? Jejaknya dapat dilihat dari kolam penampungan air, berbentuk bundar, terbuat dari batu gamping yang diberi lepa. Tebal tembok dinding 30 cm, dalam sekitar 4,15 cm dan luas 625 m (tetapi disebutkan lokasinya oleh Astiti).

Jejak kolonial juga membekas pada 5 buah Goa Jepang yang ditemukan di Dusun Angkal, Desa Suana. Goa ini terletak di dua kaki bukit dengan morfologi dataran rendah dekat pantai. Goa dibuat dari hasil melubangi kaki bukit, kemudian dibentuk dan dirapikan dengan cara diplester semen dan batu gamping.

Masih di sekitar kompleks Goa jepang, juga ditemukan 3 buah Bunker Jepang. Bunker-bunker ini dibangun pada sebuah kaki bukit yang menghadap ke pantai. Bentuk bangunan persegi empat dengan atap dasar yang dibuat dengan teknik cor bertulang dari bahan batu split (kerikil), kapur dan batu gamping. Mulut bunker menghadap ke laut lepas—Selat Lombok.

Mengemas Sumberdaya Arkeologi NP

Dari paparan sebelumnya, NP memiliki sumberdaya arkeologi yang cukup memadai untuk dikembangkan menjadi objek wisata arkeologi. Goa-goa alam yang dekat dengan zaman prasejarah, tinggalan arkeologi masa klasik ketika di bawah pengaruh kerajaan Klungkung dan tinggalan zaman kolonial.

Tinggal bagaimana mengelola situs-situs tersebut. Menurut Kepala Balai Arkeologi Jayapura, Drs. M. Irfan Mahmud, M.Si, dalam setiap pengelolaan sebuah situs arkeologi, harus dibuatkan perencanaan tiga zona di sekitar tempat tersebut yaitu (1) zona inti—tempat ditemukannya bukti-bukti arkeologis, (2) zona pendukung—untuk menjaga agar situs tetap dalam kondisi baik (misalnya pemagaran), dan (3) zona pengembangan—pembangunan fasilitas umum yang berguna bagi masyarakat yang berkunjung. (https://sains.kompas.com/read/2009/05/14/01403941/~Oase~Muasal?page=all#page2).

Bagi Pulau NP, ragam tinggalan arkeologi yang ditemukan menjadi modal, lho. Modal untuk bersolek (dikelola) ala wisata arkeologi. Tentu saja, bersolek sangat dekat hubungannya dengan biaya atau anggaran. Tanpa modal (anggaran), apa yang dijelaskan oleh Irfan tentu tidak akan jalan. Besar kemungkinan, tinggalan-tinggalan arkeologi tersebut menjadi kurang bernilai. Tidak bisa dikonsumsi oleh khalayak umum, tetapi hanya dikonsumsi oleh kalangan para arkeolog saja.

Padahal, wisata arkeologi merupakan wisata sejarah, yang berperan penting dalam mengangkat derajat nilai historis lokal NP di mata internasional. Ketika dikemas untuk kepentingan pariwisata, ia tidak hanya bernilai historis dan kultural tetapi juga bernilai ekonomis.

Di samping untuk kepentingan pariwisata, pengembangan wisata arkeologi di NP juga urgen bagi kepentingan dunia pendidikan (edukasi). Sepengetahuan saya, Pulau NP belum memiliki referensi historis khususnya yang bersifat lokalan. Selama ini, para pelajar NP hanya mengenal sejarah luar diri lewat teks (buku), internet dan lain sebagainya.

Tari Sanghyang Dedari dari Banjar Prapat, Nusa Penida, “Mesolah” di Rumah Warga

Di NP belum ada museum yang dijadikan sumber histori lokal oleh para pelajar. Dengan adanya pengembangan sumberdaya arkeologi di NP—tentu akan menjadi alternatif wisata edukasi bagi kalangan dunia pendidikan. Sumberdaya arkeologi NP akan memberikan tinggalan konkret sejarah kepada guru atau pelajar.

Mengajak siswa melihat, mengamati dan merasakan aura histori di objek wisata menjadikan pembelajaran sejarah tidak hanya real—tetapi menarik dan bermakna—dibandingkan membahas materi sejarah yang abstrak di buku pelajaran.

Artinya, wisata arkeologi di NP bukan hanya menyasar kepada wisatawan (pariwisata), melainkan kepada kalangan pelajar (edukasi). Jadi, wisata arkeologi akan ditunggu kehadirannya di NP tidak hanya bagi kalangan wisatawan tetapi kalangan pelajar.

Namun, persoalan klasik ialah kembali soal biaya pengembangan. Pengembangan wisata arkeologi, tentu tidak hanya mengandalkan pihak pemerintah saja. Masyarakat lokal juga memiliki peran besar dalam mengembangkan wisata ini. Pasalnya, mereka lebih memahami karakteristik objek wisata secara lebih detail. Pengembangan yang ideal mungkin baiknya melibatkan sinergi (kolaborasi) antara pihak pemerintah, swasta dan masyarakat lokal.

Begitu juga penggarapannya. Lebih baik mungkin dibuatkan skala prioritas. Tinggalan arkeologi yang mana lebih diutamakan untuk dikelola dan dikembangkan menjadi objek wisata. Objek utama inilah difokuskan penggarapannya. Setidaknya, dimulai dari zona inti, zona pendukung dan zona pengembangan.

Ketiga zona tersebut berakar pada anggaran, terutama pada fase zona pengembangan. Setidak-tidaknya dimulai dari pengadaan akses jalan menuju lokasi objek, pengadaan fasilitas umum untuk turis, penataan lokasi dan lain sebagainya.

Di samping pengembangan fisik, unsur yang sangat penting dari wisata arkeologi ialah soal narasi. Narasi yang baik akan menjadi salah satu kunci “ketertarikan” bagi para turis terhadap objek wisata sejarah. Hubungan dua unsur ini (narasi dan sejarah) dikemukaan oleh Achmad Sunjayadi, dalam penelitiannya yang berjudul “Pariwisata Sejarah Untuk Generasi Milenial dan Generasi Z 2020”.

Dosen sejarah UI ini mengemukakan bahwa sebuah benda biasa yang digunakan sehari-hari akan menjadi istimewa jika kita mengetahui cerita atau latar belakang benda  tersebut.  Karena itu, sebuah benda yang memiliki kisah dapat dimanfaatkan dengan cara dinarasikan apalagi jika benda tersebut memiliki atau berkaitan dengan sejarah (https://www.researchgate.net/publication/338540558_Pariwisata_Sejarah_Untuk_Generasi_Milenial_dan_Generasi_Z).

Bagi saya, wisata arkeologi tanpa dukungan narasi yang baik, kurang meninggalkan kesan yang komprehensif kepada turis. Wisata arkeologi akan menjadi hambar. Bobot nilai dan makna situs-situs seolah-olah menjadi mati (berkurang). Jika demikian, maka kunjungan menjadi “sunyi”, “dingin” dan “beku”.

Dalam konteks inilah pentingnya kemahiran komunikasi. Bagaimana cara membuat narasi yang memikat turis terutama untuk kaum milenial dan generasi Z. Jangan sampai situs-situs arkeologi (sejarah) menjadi objek yang membosankan karena “kekeringan narasi”.

Karena itu, penting adanya komunitas pencinta sejarah (dari masyarakat lokal misalnya) dan pihak pemerintah untuk menciptakan narasi-narasi apik dan memikat tentang situs sejarah. Materi narasi dapat dikembangkan dari mitos-mitos atau cerita-cerita lokal yang terkait dengan situs tertentu. Dapat pula dari meresearch dan atau membaca hasil research dari para pakar yang berkaitan dengan situs tertentu.

Setelah mendapatkan materi yang cukup, tinggal menyusun narasinya secara sistematis, menarik, lalu disesuaikan dengan karakteristik (kebahasaan) turis. [T]

Tags: arkeologiNusa Penida
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

HINDU BALI LEBIH MIRIP HINDU NEPAL

Next Post

Made Adnyana (Tanpa Ole): Menulis Ulasan Musik Harus Netral

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Made Adnyana (Tanpa Ole): Menulis Ulasan Musik Harus Netral

Made Adnyana (Tanpa Ole): Menulis Ulasan Musik Harus Netral

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co