13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Made Adnyana (Tanpa Ole): Menulis Ulasan Musik Harus Netral

Jaswanto by Jaswanto
June 4, 2022
in Khas
Made Adnyana (Tanpa Ole): Menulis Ulasan Musik Harus Netral

Made Adnyana

Musik. Melodi, harmoni, ritme, dan timbre. Tidak ada yang tahu kapan  Homo sapiens mulai mengenal seni dan musik. Namun para arkeolog memperkirakan sekitar 180.000 hingga 100.000 tahun yang lalu. Percaya saja, toh kita juga tidak paham ilmunya.

Sedangkan teori pra sejarah musik didasarkan pada temuan situs arkeologi paleolitik—-bahasa aneh yang “terpaksa” penulis gunakan supaya terlihat intelek. Seruling merupakan alat musik yang banyak diutamakan pada zaman pra sejarah. Di Jepang ada shakuhachi. Lalu ada seruling Divje Babe (namanya aneh-aneh) yang terbuat dari tulang paha beruang gua, yang diperkirakan sudah digunakan sekitar 40.000 tahun yang lalu.

Di Lembah Sungai Indus, India, berbagai jenis seruling dan alat musik yang terbuat dari dawai atau senar telah ada sejak zaman dulu (tahun?). India, dalam sejarah musik, dipercaya sebagai peradaban yang memiliki tradisi musik tertua di dunia—-musik yang berasal dari kitab Weda. Namun, penemuan terbesar dan tertua dari alat musik pra sejarah justru berlokasi di Cina, yang bisa dilacak balik antara 7.000 dan 6.600 SM. Sedangkan lagu-lagu Hurri adalah kumpulan musik tertulis dalam tulisan kuno yang digali dari Hurrian di kota Ugarit yang diperkirakan telah ada sekitar 1.400 SM.

Sudah cukup “sok tahu”-nya tentang sejarah musik. Mari kita bergeser ke forum Tatkala May May May yang diselenggarakan media tatkala.co di Rumah Belajar Mahima, Singaraja. Pada Minggu, 22 Mei 2022, seorang wartawan, dosen, dan penulis musik, Made Adnyana, berbagi ilmu dan cerita tentang penulisan musik dengan tajuk “Belajar Menulis Ulasan Musik Bersama Made Adnyana”.

Yang menarik, ada dua “Made Adnyana” di forum itu. Bedanya, yang satu “Made Adnyana” saja; sedangkan satunya lagi “Made Adnyana Ole”. Memang benar, pada kesempatan kali ini, Made Adnyana Ole, tokoh tukang cerita dan tukang berita ini, yang juga sosok pendiri media tatkala.co, bertindak langsung sebagai moderator. Klop sudah. Dua sahabat, sama-sama memiliki nama “Made Adnyana”; sama-sama tokoh, duduk bersama dalam satu forum, maka sudah dapat dibayangkan bagaimana suasana diskusinya.

Dan benar, Made Adnyana (tanpa Ole), membuka diskusi dengan sangat bagus, tanpa bertele-tele (seperti tulisan ini), langsung pada inti, pokok bahasan diskusi.

“Siapa pun bisa jadi penyanyi. Makanya penyanyi tidak akan ada habisnya. Dan ini bahan yang selalu menarik untuk ditulis,” kata Adnyana, sekali lagi, tanpa Ole.

Mengulas lagu atau dalam bahasa lainnya meresensi, adalah sebuah kegiatan membahas, mengkritik, menilai, dan mengungkapkan isi yang ada dalam  lagu dengan bentuk sinopsis, kritikan atau data-data mengenai suatu karya.

Kalau menurut Irzal Amin dalam Terampil Menulis Sinopsis dan Resensi Karya Sastra (2021), resensi dapat digolongkan sebagai salah satu cabang kerja kritik karya seni. “Karena nilai aktualisnya sangat penting, biasanya resensi akan dimuat dalam surat kabar atau majalah. Resensi menilai kelebihan dan kekurangan karya seni dalam tiga kategori yaitu kesan pribadi (impresionistik), standar nilai seni sezaman (juducial), dan segi teknis artis yang membawakannya.”

Sementara menurut Made Adnyana, dalam menulis seni seperti musik, berbeda dengan menulis karya ilmiah yang memiliki pakem, struktur tulisan. Ia berpendapat bahwa menulis musik itu mengalir saja, “jangan terpaku pada teori apa!” ujarnya. Tetapi, ia menegaskan, “bukan berarti kemudian kita sama sekali tidak punya bekal apa untuk menulis musik.”

Made Adnyana lahir dari keluarga pecinta musik. Kakaknya pecinta lagu-lagu The Beatles. Kedua orang tuanya pecinta Titiek Sandhora. Sedangkan Om-nya, penggemar lagu-lagu India. “Tiap hari musik aja yang didengar. Makanya sebelum SD, belum bisa baca, saya sudah tahu lagu-lagu D’Lloyd, The Panbers.”

Berawal dari suka mendengarkan musik, Made Adnyana akhirnya menjadi seorang penulis musik.

Made Adnyana dan Made Adnyana Ole

Lebih lanjut, Adnyana mengatakan bahwa harga yang harus dibayar seseorang sebelum mulai menulis musik adalah; menyukai musik terlebih dahulu. Perkara teknis bisa dipelajari belakangan. Untuk belajar soal teknis penulisan musik, seorang Made Adnyana bahkan meluangkan waktu untuk menonton Akademi Fantasi yang disiarkan Indosiar. “Bukan (untuk) melihat pesertanya, (tapi) saya suka mendengar komentarnya Trie Utami. Karena dari sana saya belajar (berkomentar).”

Dalam menulis ulasan musik, hal terpenting menurut Made Adnyana adalah “jangan pernah alergi terhadap satu jenis musik.” Artinya, penulis ulasan musik yang baik harus melepaskan diri dari fanatisme genre. “Jadi penulis ulasan musik itu harus netral. Netral artinya kita harus menyukai semua.” Ini memang susah. Kalau dari awal kita suka jazz, misalnya, pasti bakal kerepotan menulis tentang rock. Atau sebaliknya. Tapi coba posisikan diri sebagai pendengar, penulis, penikmat yang “sedang” mencari tahu tentang musikalitas band atau penyanyi itu. Lepaskan fanatisme itu, Saudara. Lepaskan!

Ulasan musik selalu disajikan melalui sudut pandang penulis. Ketika seorang penulis musik tidak menyukai suatu karya musik, apa pun alasannya, maka boleh jadi dia akan menulis buruk tentang karya tersebut. Begitu pun sebaliknya. Meski pada satu sisi, ulasan musik juga dituntut menyajikan keberimbangan opini dan fakta-fakta objektif tentang suatu karya. Ketika seorang penulis ulasan musik menuliskan penilaian negatif atas karya tersebut, seharusnya tidak berhenti pada aspek celaan atau penilaian permukaan semata. Penulis ulasan yang baik justru membutuhkan pemaparan argumen yang komprehensif untuk menjelaskan alasan baik/buruk sebuah karya.

Bagaimana Mengemas dan Menarasikan Desa Wisata?

Sebagai seorang penulis ulasan musik, Adnyana mengungkapkan bahwa dalam seni tidak ada kasta tinggi-rendah. “Seni itu semua memiliki ke khasan, kenikmatan masing-masing.”

Penilaian tinggi-rendah seni musik ini terekam dengan baik dalam Jurnalisme Musik dan Selingkar Wilayahnya (2018) karya Idhar Resmadi. Pada tahun 1970-an, terdapat dua genre musik yang saat itu tumbuh besar di Indonesia yaitu rock dan dangdut. Dari sini kemudian muncul istilah “Kampungan versus Gedongan”. Majalah Aktuil, menurut Idhar, “punya peran besar dalam membentuk selera anak muda agar menyukai musik rock sebagai musik keren dan gaul atau musik gedongan.”

Sementara pada era yang sama, “dangdut sering dimunculkan di halaman-halaman Aktuil dan media cetak populer lainnya yang cenderung mengejek atau mengolok dangdut sebagai kampungan dan kolot,” lanjut Idhar dalam bukunya.

Ulasan musik mencakup wilayah-wilayah seperti teknis musik (ritme, akor, melodi, dan lirik) hingga pertunjukan musik (dekorasi panggung, latar panggung, tata lampu, kostum, hingga gerakan tari).

Sebagai moderator, Made Adnyana—-kali ini dengan “Ole”—-menyampaikan kesimpulan sementara sebelum sesi diskusi, “penulis ulasan musik itu sama seperti penulis lain. Artinya, dia harus membekali ilmu-ilmu tentang musik terutama, juga ilmu-ilmu lain; ilmu politik, sosial, lingkungan, psikologi, filsafat. Kalau penyanyi lebih banyak bermain musik; kalau penulis musik lebih banyak membaca. Selain membaca buku ya membaca situasi; membaca perkembangan politik sekarang itu seperti apa pengaruhnya dengan musik.”

Menulis musik sama pentingnya dengan menulis seni yang lain. Dalam tulisanya Apakah Ulasan Musik Masih Penting?, Aris Setyawan menyampaikan, “ulasan musik—atau jika tulisan itu lebih panjang, mendalam, dan komprehensif bisa disebut sebagai kritik musik—itu penting. Kenapa? Karena ia berperan layaknya legislatif yang mengawasi dan menjaga musik sebagai eksekutif agar bekerja dengan sebaik-baiknya.”

Maka menuliskan ulasan musik. Perkara apakah ulasan musik itu kemudian diamini oleh pembaca yang lantas mendengarkan album musik yang diulas atau tidak, itu urusan belakangan. Ya namanya juga panduan kan? Ia tidak selalu harus dituruti. Yang jelas, dengan mengulas musik, kita telah melakukan sesuatu yang penting: berbagi ilmu pengetahuan. Ya, musik adalah bentuk ilmu pengetahuan, bukan sekadar sebuah hiburan semata. Itu.[T]

Tonton video selengkapnya…

Tags: musikTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemberdayaan Sumberdaya Arkeologi Sebagai Wisata Alternatif di Nusa Penida

Next Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Balada Surat Cinta

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
0
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

Read moreDetails

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
0
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

Read moreDetails

Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Festival Seni Bali Jani VIII, Panggung Kolaborasi dan Eksperimentasi Seni Bali

FESTIVAL Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 dipastikan hadir lebih semarak. Festival yang menjadi ruang apresiasi seni modern, kontemporer,...

Read moreDetails

Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

by Nyoman Budarsana
July 10, 2026
0
Lepas 52 Tukik dan Tanam Kelapa, Prama Sanur Beach Bali Rayakan HUT dengan Aksi Peduli Lingkungan

PAGI itu, suasana Pantai Cemara, Sanur, mulai dipenuhi antusiasme. Meski sinar matahari sudah terasa menyengat, puluhan orang tetap bersemangat mengikuti...

Read moreDetails

Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

by Rohmah Nia Chandra Sari
July 9, 2026
0
Sukses Digelar, PEKSIMASIF 2026 Lahirkan Talenta Seni Baru di FISIP Unsoed

RANGKAIAN ajang bergengsi Pekan Seni Mahasiswa FISIP (PEKSIMASIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari, sejak 28 hingga 30 April 2026,...

Read moreDetails

Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

by Chandra Manikan
July 9, 2026
0
Memupuh Desa, Memupuk Dualitas

SAMPAI HARI INI, pupuh itu mengendap lebih lama di pikiranku. Buku “Bali, Pandemi, Refleksi: Dinamika Politik Kebijakan dan Kritisme Komunitas”,...

Read moreDetails

Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
July 8, 2026
0
Membincangkan Puisi dan Kesadaran Kolektif di Singaraja Literary Festival 2026

“SETIAP penyair kalau ia menyuarakan lukanya, ia sebenarnya menyuarakan luka manusia.” Kalimat itu meluncur dari Yahya Umar, Sabtu, 4 Juli...

Read moreDetails

Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 7, 2026
0
Aroma Kopi, Kuliner, dan Percakapan yang Menghidupkan Singaraja Literary Festival 2026

AROMA kopi yang baru diseduh bercampur dengan wangi siobak dan tipat santok menyambut setiap langkah pengunjung di belakang panggung utama...

Read moreDetails

Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

by Agung Sudarsa
July 7, 2026
0
Belajar Mendengarkan Bumi: Refleksi dari Workshop Biodinamik di Griya Yangloni, Gianyar

MINGGU, 21 Juni 2026, di Griya Yangloni milik Dokter Ida Bagus Kesnawa, MM, di Banjar Buruan, Gianyar, sebuah pengalaman sederhana...

Read moreDetails

Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

by Nyoman Budarsana
July 6, 2026
0
Bagai Pasukan Perang, Tim Volunteer AVIRAMA “Kejar Sampah” di Singaraja Literary Festival 2026

BAGAI pasukan di medan perang, petugas kebersihan dalam ajang Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 tak membiarkan sepotong sampah pun tertinggal....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Balada Surat Cinta

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Balada Surat Cinta

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co