2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Jaswanto by Jaswanto
May 30, 2022
in Khas
Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Gde Suardana dan Eka Prasetya

Sebagai urat nadi perekonomian nasional, UMKM memang harus menjadi perhatian serius. Mengingat, di Indonesia ini, menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut setidaknya terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi pada 97% terhadap total tenaga kerja dan 60% PDB nasional.

Jika kita mau menilik sejarah, UMKM di Indonesia juga terbukti sebagai usaha yang punya pijakan kokoh. Menurut LPPI dan Bank Indonesia, ketika terjadi krisis moneter 1998, juga krisis di 2008 dan 2009, sekitar 96% UMKM tetap bertahan dari goncangan krisis. Bandingkan dengan usaha-usaha raksasa yang bertumbangan di sana-sini. UMKM membuktikan bahwa usaha kecil juga bisa bertaji.

Namun, UMKM di Indonesia juga sering menghadapi masalah klasik yang kerap menemukan jalan buntu: pembiayaan. Masalah tak selesai di sana saja. UMKM juga menghadapi peliknya strategi berdaya saing di era industri yang berkembang pesat, juga bagaimana menyiasati perubahan yang terjadi di era digital ini.

Memang, hari ini semua orang memiliki media masing-masing, tapi tak semua orang bisa¾atau mampu¾menjadi pengelola media yang baik. Dengan berkembangnya media digital hari ini, baiknya adalah Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dapat melakukan promosi sendiri tanpa harus memasang iklan di media besar dan banyak mengeluarkan uang atas itu. Namun sayangnya, tak banyak pelaku UMKM yang bisa menuliskan narasi untuk promosi produknya sendiri.

Oleh sebab itu, pada Minggu, 15 Mei 2022, Tatkala May May May, mengundang dua orang narasumber untuk berbicara banyak mengenai UMKM dengan tema khusus: Belajar Bersama: Menulis Narasi Produk UMKM. Pembicara pertama, seorang jurnalis Radar Bali (Jawa Pos Group) yang banyak menulis narasi UMKM khususnya di Buleleng, Eka Prasetya; dan kedua, Gede Suardana, akademisi, jurnalis, wirausahawan, dan sekarang menjadi seorang pengamat branding usaha. Sementara Kadek Sonia Piscayanti, tuan rumah belajar Komunitas Mahima, menjadi pemandu diskusi dengan durasi hampir dua jam itu. Jelas sudah dapat dibayangkan bagaimana keseruan diskusinya.

Diskusi dibuka oleh Eka Prasetya sebagai pembicara pertama setelah sebelumnya, sebagai moderator, Kadek Sonia memperkenalkan kedua narasumber pada diskusi kali ini. Eka menyembut bahwa Kabupaten Buleleng sudah lama dikenal sebagai sentra UMKM di Bali.

“Dengan potensi 700 ribu penduduknya itu, hampir ada 64 ribu sekian UMKM di Buleleng. Dan sekitar 80% di antaranya adalah produk olahan. Maksudnya yang bergerak di bidang jual makanan, dsb. Sisanya baru produk-produk kreatif seperti patung, tas, dan yang bergerak di bidang jasa,” kata penulis buku kumpulan esai seni budaya Yang Ditonton yang Dicatat itu.

Selama menulis UMKM, Eka banyak menemukan hal menarik salah satunya adalah potensi usaha di desa-desa. Pada saat pandemi covid-19 melanda, menurut pengamatan Eka di lapangan, potensi itu justru muncul.

“Di Desa Panji itu ada usaha dendeng babi asap. Ide usaha ini bermula saat pandemi justru. Jadi ceritanya, pemilik usaha ini korban PHK dan kemudian memutuskan untuk mengikuti pelatihan wirausaha dari desa, sampai ia mendapat akses modal dan pemasaran. Di Padang Bulia ada usaha kopi madu padahal tidak punya kebun kopi.”

Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi

Pelaku-pelaku UMKM kebanyakan pada dasarnya berangkat dari bawah sekali. Bukan saja dari nol, bahkan minus barang kali. Banyak pelaku UMKM yang awalnya tak punya akses modal maupun akses pasar. Mereka bergerak mandiri dengan apa yang dimilikinya. Bergerak secara organik, perlahan, hingga tak sedikit yang menjelma menjadi bisnis rasaksa dan menjadi lawan tanding perusahaan-perusahaan besar.

Dari sini penulis percaya dengan salah satu adagium yang sering kali terbukti salah: bigger is better. Ini terjadi pada banyak aspek kehidupan. Apa boleh buat, manusia seringkali terpukau pada sesuatu yang grande, besar. Bahwa yang megah adalah hal baik. Rumah besar dianggap lebih baik ketimbang rumah kecil. Mal besar kerap dianggap sebagai pertanda kemajuan ekonomi. Tentu saja pendapat itu sering didebat, bahkan dalam dunia perekonomian sekali pun.

Sebagai seorang yang belajar ilmu ekonomi, penulis mengingat salah seorang ekonom Inggris-Jerman, E.F Schumacher¾tokoh yang pernah menulis buku penting berjudul Small is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered (1973). Menurut Schumacher, era modern juga membawa dampak negatif dalam bentuk obsesi terhadap apa yang dia sebut sebagai gigantisme. Semua harus besar, barang-barang diproduksi dalam jumlah banyak yang akan berujung pada dehumanisasi. Dengan skala gigantis ini, segala aspek kemanusiaan akan kalah oleh profit dan uang. Teori Schumacher sekarang terasa makin relevan di tengah gegap gempita perusahaan besar, dan memicu perlawanan-perlawanan kecil.

Di sana-sini, seperti yang disampaikan Eka tadi, terjadi banyak geliat dalam bisnis berskala kecil: ekonomi kerakyatan. Makin banyak pengrajin yang berjejaring dengan pengrajin lain dan membentuk pasar sendiri yang loyal. Roti dan makanan artisanal makin dicari. Toko buku dan penerbitan kecil berbasis komunitas tumbuh dan berdaya. Usaha-usaha kecil terus lahir dan amat terbantu oleh kemajuan digital.

“Namun sayang, tak banyak pelaku UMKM (di Buleleng) yang memanfaatkan platform digital sebagai media marketing,” kata Eka.

Ya, seperti yang sudah disampaikan penulis di awal tulisan, bahwa tak banyak pelaku UMKM, bukan saja yang tak memanfaatkan media digital sebagai media marketing, tetapi juga banyak pelaku UMKM yang tak bisa menarasikan produknya dengan baik. Artinya, banyak pelaku UMKM yang mempromosikan produknya dengan cara yang masih konservatif¾dalam kata lain biasa-biasa saja.

Pada kesempatan kali ini, Gede Suardana, menyampaikan banyak hal tentang pengetahuan yang didapatnya selama dua tahun belajar bagaimana membranding produk yang baik. Ia memiliki durasi panjang dalam diskusi kali ini.

Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan

Branding sendiri diambil dari kata brand, yakni sebuah identitas diri yang bertujuan untuk membedakan antara manusia, produk, atau tempat satu dengan yang lain. Artinya, ia adalah sebuah kegiatan komunikasi untuk mempertahankan dan memperkuat sebuah brand dengan tujuan memberikan perspektif kepada tiap-tiap orang yang melihatnya. Branding sangat berkaitan erat dengan istilah, tanda, simbol, ciri visual, citra, karakter, perspepsi, kredibilitas, serta kesan di benak pelanggan terhadap produk yang ditawarkan. Kehadiran branding sendiri akan membantu setiap pemilik bisnis untuk bisa lebih berbeda dan menonjol dari para kompetitor.

“Sebelum berbicara tentang narasi produk, pelaku UMKM harus tahu peta marketing terlebih dahulu. Peta marketing itu sudah mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Tetapi ilmu marketing yang lampau kadang masih digunakan sampai hari ini,” kata pemiliki Aple Mart itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang teori mix 4P (marketing mix teori Prof. Jerome McCarthy, ahli pemasaram Harvard, pada 1960)¾ product (produk), price (harga), place (tempat), promotion (promosi). “Rumus ini digunakan temen-temen UMKM dari dulu sampai sekarang. Bisa, si, cuma tidak relevan dengan prilaku konsumen sekarang. Rumus ini berlaku di era ’60-an yang fokusnya pada produk. Tahun ’80-an eranya sudah berubah, namanya marketing 2.0 dengan rumus 4C¾ customers, cost, convenience dan communication. Fokusnya pada customers.”

Pada era marketing 1.0, fokus pengusaha adalah untuk bisa menjual produk mereka sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan apa yang konsumen butuhkan. Disisi lain, marketing 2.0 lebih fokus pada konsumen. Pada era ini para pengusaha sudah mulai berusaha untuk lebih menyentuh hati konsumen, namun konsumen hanya dinilai sebagai objek pasif.

“Setelah 2.0, kemudian berkembang menjadi 3.0. Tetapi, fokusnya sudah pada identitas konsumen. Pada era itu (3.0) konsumen itu sukanya begini, ‘saya pakai sepatu Nike supaya saya sama dengan Jordan’. Jadi, Jordan itu mewakili identitas konsumen era 3.0. Di era itulah muncul banyak bintang ambasador, bintang iklan bertebaran,” jelas Gede Suardana.

Selanjutnya, pada marketing 3.0, para pengusaha lebih fokus pada manusia. Sehingga para pengusaha tidak hanya fokus memasarkan produknya saja, namun juga fokus dalam hal visi, misi, dan value yang berjalan beriringan bersamaan dengan konsumennya. Namun, para pengusaha mengklaim bahwa model marketing ini masih perlu dikembangkan lagi.

Sedangkan sekarang, menurut Gede Suardana, narasi produk sudah sampai pada narasi “untuk bumi yang lebih baik”. Di botol kemasan air mineral Aqua, misalnya, terdapat narasi “botol ini terbuat dari botol yang telah didaur ulang”.

“Nah, sebelum 2015, masuklah era 4.0.  Tapi fokusnya pada komunal. Jadi brand-brand besar itu mulai membentuk komunal-komunal. Contoh Eiger. Punya komunal para pendaki.”

Dalam peta marketing, hari ini kita sudah sampai pada Mix 4E, yaitu experience (pengalaman), exchange (pertukaran nilai / manfaat), everywhere (di mana-mana), evangelism (persebaran nilai/manfaat).

“Di era sekarang, khususnya anak muda, dialah yang mendistrupsi semua era marketing 1.0 sampai 4.0. Dia nggak peduli lagi dengan tokoh artis di bintang iklan. Perilakunya sudah nggak gitu sekarang,” ucap akademisi yang juga wirausahawan itu. “Konsumen itu sekarang seperti ‘binatang buas’¾kalau dulu kita menganggap konsuman ‘raja’, ya, harus dilayani sebaik-baiknya. Kalau sekarang, konsumen itu seperti ‘binang buas’. Dia datang ke tempat kita, makan, pamer, kalau bagus review mereka bagus; tapi kalau jelek reviewnya, mapuslah kita. Kaum milenial ini, selain bisa menjadi promoters produk kita, sekaligus juga bisa menjadi pembunuh produk kita seketika.”

Pada diskusi kali ini, Dina, pelaku UMKM tas hand made, berkesempatan untuk bertanya soal bagaimana cara menarasikan produk supaya konsumen tertarik dengan produk yang ditawarkan.

Gede Suardana menjawab, “Inilah tantang UMKM kita di Buleleng. Saya punya cita-cita bagaimana teman-teman UMKM (Buleleng) ini, jago dalam membikin copywriting¾atau storytelling produk. Orang itu tidak membeli kualitas sekarang, tapi membeli cerita di balik produk itu. Jadi, walaupun pelaku usaha paham betul akan kualitas produk, tapi dalam narasi produk, ini bukan fokus utama. Kalau dalam penulisan berita itu namanya sudut pandang. Bikinlah narasi-narasi yang fokus kepada prilaku konsumen kita sampai pada seolah mewakili emosinya.”

Diskusi yang berlangsung selama hampir dua jam ini membuat kita paham bahwa belajar narasi produk memang tak semudah yang dibayangkan. Banyak harga yang harus kita bayar untuk menjadi seorang pelaku usaha yang lihai dalam menarasikan produk. Dengan adanya acara-acara seperti ini, sangat diharapkan mampu menjadi pemantik bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk segera berbenah, sadar akan proses menjadi yang lebih baik. Menjadi pelaku usaha yang bukan hanya berorientasi kepada profit semata, tapi juga berpikir soal benefit. Dengan begitu, UMKM dapt membuktikan bahwa usaha kecil juga bisa bertaji. Sementara itu, dengan belajar menarasikan produk, artinya kita telah berusaha menyambung napas UMKM kita.

Simak video selengkapnya:

Tags: pengusahaTatkala May May May 2022UMKMwirausaha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa

Next Post

Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co