24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Jaswanto by Jaswanto
May 30, 2022
in Khas
Menarasikan Produk, Menyambung Napas UMKM

Gde Suardana dan Eka Prasetya

Sebagai urat nadi perekonomian nasional, UMKM memang harus menjadi perhatian serius. Mengingat, di Indonesia ini, menurut Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebut setidaknya terdapat lebih dari 64 juta unit UMKM yang berkontribusi pada 97% terhadap total tenaga kerja dan 60% PDB nasional.

Jika kita mau menilik sejarah, UMKM di Indonesia juga terbukti sebagai usaha yang punya pijakan kokoh. Menurut LPPI dan Bank Indonesia, ketika terjadi krisis moneter 1998, juga krisis di 2008 dan 2009, sekitar 96% UMKM tetap bertahan dari goncangan krisis. Bandingkan dengan usaha-usaha raksasa yang bertumbangan di sana-sini. UMKM membuktikan bahwa usaha kecil juga bisa bertaji.

Namun, UMKM di Indonesia juga sering menghadapi masalah klasik yang kerap menemukan jalan buntu: pembiayaan. Masalah tak selesai di sana saja. UMKM juga menghadapi peliknya strategi berdaya saing di era industri yang berkembang pesat, juga bagaimana menyiasati perubahan yang terjadi di era digital ini.

Memang, hari ini semua orang memiliki media masing-masing, tapi tak semua orang bisa¾atau mampu¾menjadi pengelola media yang baik. Dengan berkembangnya media digital hari ini, baiknya adalah Pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dapat melakukan promosi sendiri tanpa harus memasang iklan di media besar dan banyak mengeluarkan uang atas itu. Namun sayangnya, tak banyak pelaku UMKM yang bisa menuliskan narasi untuk promosi produknya sendiri.

Oleh sebab itu, pada Minggu, 15 Mei 2022, Tatkala May May May, mengundang dua orang narasumber untuk berbicara banyak mengenai UMKM dengan tema khusus: Belajar Bersama: Menulis Narasi Produk UMKM. Pembicara pertama, seorang jurnalis Radar Bali (Jawa Pos Group) yang banyak menulis narasi UMKM khususnya di Buleleng, Eka Prasetya; dan kedua, Gede Suardana, akademisi, jurnalis, wirausahawan, dan sekarang menjadi seorang pengamat branding usaha. Sementara Kadek Sonia Piscayanti, tuan rumah belajar Komunitas Mahima, menjadi pemandu diskusi dengan durasi hampir dua jam itu. Jelas sudah dapat dibayangkan bagaimana keseruan diskusinya.

Diskusi dibuka oleh Eka Prasetya sebagai pembicara pertama setelah sebelumnya, sebagai moderator, Kadek Sonia memperkenalkan kedua narasumber pada diskusi kali ini. Eka menyembut bahwa Kabupaten Buleleng sudah lama dikenal sebagai sentra UMKM di Bali.

“Dengan potensi 700 ribu penduduknya itu, hampir ada 64 ribu sekian UMKM di Buleleng. Dan sekitar 80% di antaranya adalah produk olahan. Maksudnya yang bergerak di bidang jual makanan, dsb. Sisanya baru produk-produk kreatif seperti patung, tas, dan yang bergerak di bidang jasa,” kata penulis buku kumpulan esai seni budaya Yang Ditonton yang Dicatat itu.

Selama menulis UMKM, Eka banyak menemukan hal menarik salah satunya adalah potensi usaha di desa-desa. Pada saat pandemi covid-19 melanda, menurut pengamatan Eka di lapangan, potensi itu justru muncul.

“Di Desa Panji itu ada usaha dendeng babi asap. Ide usaha ini bermula saat pandemi justru. Jadi ceritanya, pemilik usaha ini korban PHK dan kemudian memutuskan untuk mengikuti pelatihan wirausaha dari desa, sampai ia mendapat akses modal dan pemasaran. Di Padang Bulia ada usaha kopi madu padahal tidak punya kebun kopi.”

Fakta dan Fiksi Tentang Fakta dan Fiksi

Pelaku-pelaku UMKM kebanyakan pada dasarnya berangkat dari bawah sekali. Bukan saja dari nol, bahkan minus barang kali. Banyak pelaku UMKM yang awalnya tak punya akses modal maupun akses pasar. Mereka bergerak mandiri dengan apa yang dimilikinya. Bergerak secara organik, perlahan, hingga tak sedikit yang menjelma menjadi bisnis rasaksa dan menjadi lawan tanding perusahaan-perusahaan besar.

Dari sini penulis percaya dengan salah satu adagium yang sering kali terbukti salah: bigger is better. Ini terjadi pada banyak aspek kehidupan. Apa boleh buat, manusia seringkali terpukau pada sesuatu yang grande, besar. Bahwa yang megah adalah hal baik. Rumah besar dianggap lebih baik ketimbang rumah kecil. Mal besar kerap dianggap sebagai pertanda kemajuan ekonomi. Tentu saja pendapat itu sering didebat, bahkan dalam dunia perekonomian sekali pun.

Sebagai seorang yang belajar ilmu ekonomi, penulis mengingat salah seorang ekonom Inggris-Jerman, E.F Schumacher¾tokoh yang pernah menulis buku penting berjudul Small is Beautiful: A Study of Economics As If People Mattered (1973). Menurut Schumacher, era modern juga membawa dampak negatif dalam bentuk obsesi terhadap apa yang dia sebut sebagai gigantisme. Semua harus besar, barang-barang diproduksi dalam jumlah banyak yang akan berujung pada dehumanisasi. Dengan skala gigantis ini, segala aspek kemanusiaan akan kalah oleh profit dan uang. Teori Schumacher sekarang terasa makin relevan di tengah gegap gempita perusahaan besar, dan memicu perlawanan-perlawanan kecil.

Di sana-sini, seperti yang disampaikan Eka tadi, terjadi banyak geliat dalam bisnis berskala kecil: ekonomi kerakyatan. Makin banyak pengrajin yang berjejaring dengan pengrajin lain dan membentuk pasar sendiri yang loyal. Roti dan makanan artisanal makin dicari. Toko buku dan penerbitan kecil berbasis komunitas tumbuh dan berdaya. Usaha-usaha kecil terus lahir dan amat terbantu oleh kemajuan digital.

“Namun sayang, tak banyak pelaku UMKM (di Buleleng) yang memanfaatkan platform digital sebagai media marketing,” kata Eka.

Ya, seperti yang sudah disampaikan penulis di awal tulisan, bahwa tak banyak pelaku UMKM, bukan saja yang tak memanfaatkan media digital sebagai media marketing, tetapi juga banyak pelaku UMKM yang tak bisa menarasikan produknya dengan baik. Artinya, banyak pelaku UMKM yang mempromosikan produknya dengan cara yang masih konservatif¾dalam kata lain biasa-biasa saja.

Pada kesempatan kali ini, Gede Suardana, menyampaikan banyak hal tentang pengetahuan yang didapatnya selama dua tahun belajar bagaimana membranding produk yang baik. Ia memiliki durasi panjang dalam diskusi kali ini.

Memadupadankan Kehumasan dan Jurnalistik, Memeriksa Hubungan Pemerintah dan Wartawan

Branding sendiri diambil dari kata brand, yakni sebuah identitas diri yang bertujuan untuk membedakan antara manusia, produk, atau tempat satu dengan yang lain. Artinya, ia adalah sebuah kegiatan komunikasi untuk mempertahankan dan memperkuat sebuah brand dengan tujuan memberikan perspektif kepada tiap-tiap orang yang melihatnya. Branding sangat berkaitan erat dengan istilah, tanda, simbol, ciri visual, citra, karakter, perspepsi, kredibilitas, serta kesan di benak pelanggan terhadap produk yang ditawarkan. Kehadiran branding sendiri akan membantu setiap pemilik bisnis untuk bisa lebih berbeda dan menonjol dari para kompetitor.

“Sebelum berbicara tentang narasi produk, pelaku UMKM harus tahu peta marketing terlebih dahulu. Peta marketing itu sudah mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Tetapi ilmu marketing yang lampau kadang masih digunakan sampai hari ini,” kata pemiliki Aple Mart itu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan tentang teori mix 4P (marketing mix teori Prof. Jerome McCarthy, ahli pemasaram Harvard, pada 1960)¾ product (produk), price (harga), place (tempat), promotion (promosi). “Rumus ini digunakan temen-temen UMKM dari dulu sampai sekarang. Bisa, si, cuma tidak relevan dengan prilaku konsumen sekarang. Rumus ini berlaku di era ’60-an yang fokusnya pada produk. Tahun ’80-an eranya sudah berubah, namanya marketing 2.0 dengan rumus 4C¾ customers, cost, convenience dan communication. Fokusnya pada customers.”

Pada era marketing 1.0, fokus pengusaha adalah untuk bisa menjual produk mereka sebanyak-banyaknya tanpa memperdulikan apa yang konsumen butuhkan. Disisi lain, marketing 2.0 lebih fokus pada konsumen. Pada era ini para pengusaha sudah mulai berusaha untuk lebih menyentuh hati konsumen, namun konsumen hanya dinilai sebagai objek pasif.

“Setelah 2.0, kemudian berkembang menjadi 3.0. Tetapi, fokusnya sudah pada identitas konsumen. Pada era itu (3.0) konsumen itu sukanya begini, ‘saya pakai sepatu Nike supaya saya sama dengan Jordan’. Jadi, Jordan itu mewakili identitas konsumen era 3.0. Di era itulah muncul banyak bintang ambasador, bintang iklan bertebaran,” jelas Gede Suardana.

Selanjutnya, pada marketing 3.0, para pengusaha lebih fokus pada manusia. Sehingga para pengusaha tidak hanya fokus memasarkan produknya saja, namun juga fokus dalam hal visi, misi, dan value yang berjalan beriringan bersamaan dengan konsumennya. Namun, para pengusaha mengklaim bahwa model marketing ini masih perlu dikembangkan lagi.

Sedangkan sekarang, menurut Gede Suardana, narasi produk sudah sampai pada narasi “untuk bumi yang lebih baik”. Di botol kemasan air mineral Aqua, misalnya, terdapat narasi “botol ini terbuat dari botol yang telah didaur ulang”.

“Nah, sebelum 2015, masuklah era 4.0.  Tapi fokusnya pada komunal. Jadi brand-brand besar itu mulai membentuk komunal-komunal. Contoh Eiger. Punya komunal para pendaki.”

Dalam peta marketing, hari ini kita sudah sampai pada Mix 4E, yaitu experience (pengalaman), exchange (pertukaran nilai / manfaat), everywhere (di mana-mana), evangelism (persebaran nilai/manfaat).

“Di era sekarang, khususnya anak muda, dialah yang mendistrupsi semua era marketing 1.0 sampai 4.0. Dia nggak peduli lagi dengan tokoh artis di bintang iklan. Perilakunya sudah nggak gitu sekarang,” ucap akademisi yang juga wirausahawan itu. “Konsumen itu sekarang seperti ‘binatang buas’¾kalau dulu kita menganggap konsuman ‘raja’, ya, harus dilayani sebaik-baiknya. Kalau sekarang, konsumen itu seperti ‘binang buas’. Dia datang ke tempat kita, makan, pamer, kalau bagus review mereka bagus; tapi kalau jelek reviewnya, mapuslah kita. Kaum milenial ini, selain bisa menjadi promoters produk kita, sekaligus juga bisa menjadi pembunuh produk kita seketika.”

Pada diskusi kali ini, Dina, pelaku UMKM tas hand made, berkesempatan untuk bertanya soal bagaimana cara menarasikan produk supaya konsumen tertarik dengan produk yang ditawarkan.

Gede Suardana menjawab, “Inilah tantang UMKM kita di Buleleng. Saya punya cita-cita bagaimana teman-teman UMKM (Buleleng) ini, jago dalam membikin copywriting¾atau storytelling produk. Orang itu tidak membeli kualitas sekarang, tapi membeli cerita di balik produk itu. Jadi, walaupun pelaku usaha paham betul akan kualitas produk, tapi dalam narasi produk, ini bukan fokus utama. Kalau dalam penulisan berita itu namanya sudut pandang. Bikinlah narasi-narasi yang fokus kepada prilaku konsumen kita sampai pada seolah mewakili emosinya.”

Diskusi yang berlangsung selama hampir dua jam ini membuat kita paham bahwa belajar narasi produk memang tak semudah yang dibayangkan. Banyak harga yang harus kita bayar untuk menjadi seorang pelaku usaha yang lihai dalam menarasikan produk. Dengan adanya acara-acara seperti ini, sangat diharapkan mampu menjadi pemantik bagi pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk segera berbenah, sadar akan proses menjadi yang lebih baik. Menjadi pelaku usaha yang bukan hanya berorientasi kepada profit semata, tapi juga berpikir soal benefit. Dengan begitu, UMKM dapt membuktikan bahwa usaha kecil juga bisa bertaji. Sementara itu, dengan belajar menarasikan produk, artinya kita telah berusaha menyambung napas UMKM kita.

Simak video selengkapnya:

Tags: pengusahaTatkala May May May 2022UMKMwirausaha
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berpadunya Narasi Ibu dan Spiritual dalam Pentas Sastra Daerah “I Jaum” di Desa Pedawa

Next Post

Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Dogtooth (2009): Abnormalitas yang Menegaskan Jati Diri Sinema-Sinema Yorgos Lanthimos

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co