23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pengalaman adalah Referensi | Catatan Rajangan Barung Teater Kalangan

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
May 12, 2022
in Khas
Pengalaman adalah Referensi | Catatan Rajangan Barung Teater Kalangan

Peserta dan panitia Rajangan Barung di Komunitas Mahima

Teater Kalangan membuka open call bertajuk “Rajangan Barung”. Program ini bertujuan dan berangkat pada fokus menyoal mengajak para koreografer dan penari di Bali untuk menulis kritik/ulasan pertunjukan, proses kreatif seniman, sekaligus menuangkan gagasan praktik artistiknya ke dalam bentuk proposal karya.

Program ini akan berjalan intens dimulai pada bulan Mei dan September 2022 di Bali. Pada program “Rajangan Barung” ditunjukan khusus bagi kalangan koreografer dan penari di Bali. Rangkai program pertama adalah workshop yang berfokus pada dua kegiatan penulisan. Pada program kedua setelah mengikuti workshop, para peserta terpilih akan mengikuti program pengembangan riset dan produksi pertunjukan yang muaranya akan dipresentasikan sebagai karya tumbuh pada 2023 mendatang.

“Rajangan Barung” merupakan serangkaian program karya tumbuh yang diinisiasi Teater Kalangan dalam rangka mendorong kemungkinan pengembangan praktik lintas disiplin pertunjukan seniman muda di Bali. Konteks “Rajangan Barung” mengadaptasi gagasan yang hadir di balik istilah “Rajangan”, yang dalam Bahasa Indonesia artinya racikan, serta “Barung” yang merujuk pada budaya mebarung di Bali. Sekaligus menjadi ajang timbang pertunjukan antar seniman dalam rangka mengukur proses dan capaian karyanya masing-masing.

Program ini diharapkan mampu menjadi ruang produksi dan interaksi beragam pengetahuan serta dapat membuka jejaring ekosistem kajian dan produksi pertunjukan yang lebih kritis, cair, sekaligus reparative terhadap kemungkinan isu yang berkembang dalam kenyataan Bali hari ini.

Kemudian pada tanggal 6-8 Mei kemarin, para peserta terpilih dan beberapa peserta tamu mengikuti kegiatan pertamanya. Berlokasi di Singaraja, para peserta terpilih banyak menghabiskan waktunya di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Soal Mengulas Karya dari Persepsi | Catatan Singkat-Santai Tim Publikasi Rajangan Barung

Dan beberapa melakukan persinggahan menuju tempat-tempat para narasumber yang sudah dipilih. Dari rentan waktu tiga hari tersebut banyak agenda yang para peserta lakukan. Setelah para peserta datang dan sampai di Mahima para peserta disambut sekaligus dipaparkan soal program yang akan dijalankan selama tiga hari mendatang.

Pada hari pertama tanggal 6 Mei, ketika para peserta datang dan sudah cukup untuk beristirahat. Pemateri pertama diisi oleh Made Adnyana Ole atau yang saya akrab panggil Pak Ole. Adalah sastrawan, jurnalis sekaligus pimpinan redaksi media jurnalisme warga bernama tatkala.co. Diskusi yang terjadi banyak menceritakan pengalamannya menulis sebagai jurnalis, serta kemungkinan lain bentuk tulisan yang bisa dikerjakan nanti selama workshop berlangsung.

Kebetulan hari pertama juga saya hadir dan mendengarkan langsung pemaparan yang diberikan oleh Made Adnyana Ole, meskipun tidak semua ceritanya saya tangkap tapi ada beberapa hal-hal penting yang saya amini sebagai pembelajaran. Selain begitu banyak cerita Pak Ole yang sangat menarik dan unik selama perjalanan menulis ulasan pertunjukan atau menulis liputan, Pak Ole juga memberikan keterangan kesalahan kecil yang sering dilakukan penulis.

Kita sering kali terjebak Ketika menulis selalu membutuhkan referensi besar dan sedikit gawat, semacam mecantumkan teori, nama pengarang, judul buku dan bahkan halamannya. Sering kali pada ruang-ruang akademis misalnya, kegiatan menulis menjadi hal yang sangat serius. Harus menyiapkan jiwa yang kuat, 10 gelas kopi, bertumpuk judul buku teori dan hal-hal yang memusingkan penulisnya sendiri.

Ketika Pak Ole menceritakan pengalaman selama menulis hal yang sederhana dan menyenangkan, saya teringat waktu dulu masih duduk di bangku sekolah dasar. Biasanya setelah selesai libur panjang semester atau libur hari raya, hari pertama masuk sekolah pada pelajaran Bahasa Indonesia guru saya selalu menugaskan muridnya untuk menceritakan pengalamnnya kembali selama liburan. Sedetail-detailnya dan seinget-ingetnya, versi masing-masing. Saya ingat bagaimana saya menuliskan perjalanan liburan itu begitu menyenangkan, begitu bersemangat seolah-olah liburan saya lah yang paling mengesankan di banding kawan-kawan saya di kelas.

Tandang Kunjung Melihat Seniman Bekerja | Catatan Singkat-Asyik Tim Publikasi Rajangan Barung

Momen itu yang kemudian sudah tidak saya dapatkan kembali ketika saya menduduki tingkat sekolah yang semakin dewasa. Sampai akhirnya saya mendengar cerita kawan saya yang duduk di bangku kuliah, bagaimana sebenarnya dia sangat ingin menulis. Tapi diberatkan oleh referensi yang dia rujuk itu berangkat dari mana, saya berpikir mungkin itu adalah pola latihan menulis yang terjadi di bangku kuliah.

Kemudian pada workshop pertama yang diberikan oleh Pak Ole, hal itu mungkin bisa menjadi tidak dipikirkan kembali. Karena bagi Pak Ole, referensi itu bisa datang dari mana saja termasuk pengalaman, mendengar music, menonton, cerita orang terdahulu dan kenyataan di lapangan. Bagi Pak Ole menulis tentang ulasan pertunjukan adalah menulis pengalaman kembali paska menonton pertunjukan. Bagaimana kita memberikan pandangan yang mungkin tidak ditangkap oleh orang lain. Menuliskan kembali apa-apa saja kelebihan dan kekurangan selama menonton pertunjukan tersebut.

Demikian juga untuk menulis apapun, termasuk menulis tentang proses kreatif seniman atau proses kreatif sendiri. Bagaimana yang terpenting adalah cara menyampaikan gagasan dengan baik dan banyak dapat dimengerti orang lain. Tidak harus berat-berat dan gunakanlah kemampuan bahasa yang kita miliki. Meskipun memang ada tulisan yang memang berat dan itu suatu waktu dibutuhkan, tapi untuk melatihnya saya rasa kerja-kerja sederhana seperti ini dapat dilakukan.

Workshop hari pertama berjalan begitu hangat, menyenangkan dan menambah banyak wawasan. Terlihat para peserta terpilih dan peserta tamu banyak yang berbagi pengalaman atau sekedar bertanya dalam teknis kepenulisan. Ya tentu saja, masalah yang saya ceritakan tadi jadi pertanyaan salah satu peserta. Workshop dan diskusi berjalan selama dua jam, dan setelah itu para peserta dipersilahkan untuk istirahat makan malam dan mandi.

Malam harinya, sekitar jam 7 malam. Para peserta kembali berkumpul dan melaksanakan kegiatan selanjutnya. Yaitu menonton bareng dokumentasi pertunjukan para narasumber yang akan mengisi pada hari selanjutnya. Ada tiga dokumentasi pertunjukan yang disaksikan; pertunjukan dari Gasti Made Aryana seorang dalang wayang dan penulis yang akrab dipanggi Jro Dalang Sembroli. Pertunjukan dari Kadek Sonia Piscayanti seorang sastrawan, sutradara teater dan akademisi. Dan yang ketiga ada pertunjukan dari Putu Satria Kusuma seorang sutradara teater, filmmaker dan penulis.

Yang Tertangkap Yang Kehilangan | Catatan Singkat dan Foto Esai Tim Publikasi Rajangan Barung

Setelah menyaksikan dokumentasi pertunjukan selama kurang lebih dua jam, penonton dijelaskan sedikit tentang biografi para narasumber dan apa tujuan dari memperkenalkan karya-karya mereka. Setelah itu kegiatan selesai dan peserta diperlsilahkan untuk bersantai, lanjut mengobrol atau langsung istirahat. Saya dan kawan-kawan peserta mengobrol santai sebentar, setelah itu saya memutuskan untuk pulang terlebih dahulu karena esoknya harus bekerja. Pun para peserta esoknya harus melanjutkan kegiatan Rajangan Barung.

Pada hari kedua, pagi hari sekali para peserta bersiap-siap untuk menuju ke lokasi para narasumber tersebut. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Yang kemudian setiap kelompoknya menuju ke lokasi narasumber berproses, untuk mengais informasi tentang narasumber sekaligus menanyakan bagaimana proses kreatif narasumber. Tapi saya yang sebagai anggota Teater Kalangan, tidak ikut menjadi pendamping seperti teman-teman Teater Kalangan lainnya. Karena keharusan untuk bekerja dan menuju kantor, jadi saya hanya mendengar cerita dari kawan-kawan dan peserta. Kegiatan tersebut berlangsung kurang lebih dari jam 9 pagi hingga 3 sore hari.

Setelah itu para peserta balik lagi ke Rumah Belara Komunitas Mahima untuk melanjutkan diskusi temuan para peserta selama mengais informasi ke narasumber. Temuannya bisa banyak bentuk, bisa berupa data, hasil wawancara, foto dan video, cerita serta pengalaman pribadi selama mengikuti program.

Kemudian Pak Ole memfasilitatori temuan para peserta menjadi satu alur cerita yang bisa dijadikan tulisan untuk lebih lanjut. Setelah itu para peserta menuliskan temuannya itu berlanjut menjadi sebuah alur cerita yang matang. Ada yang menulis sambal santai di Mahima, ada yang keluar menikmati suasana kota Singaraja. Menuliskan temuan masing-masing para peserta lakukan sampai dirasa selesai menurutnya masing-masing.

Di hari ketiga atau hari terakhir para peserta pada program workshop pertama ini, saya sama sekali tidak bisa hadir karena ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikan. Saya sedikit sedih karena sebagai anggota Teater Kalangan, saya malah tidak memberi banyak partisipan selama kegiatan berlangsung selian hanya menjadi tim hore di bidang apa saja.

Tapi saya percaya, dari dua hari itu saja sudah cukup menggambarkan bagaimana sebenarnya pengalamanpun adalah hal yang besar untuk dapat dituliskan kembali menjadi sesuatu. Agar kita terbiasa untuk menuliskannya, agar kita terbiasa untuk menceritakan kembali apa yang kita lihat, dengar dan saksikan.

 Saya sangat setuju bahwa referensi itu datang dari mana-mana, dari menonton, mendengar cerita, membaca buku atau melihat fenomena kenyataan hari ini di sekitar tanpa membutuhkan teori yang berat. Meskipun nanti ketika kita menuliskan pengalaman kita dan dibaca oleh orang yang terbiasa menulis menggunakan teori, lalu kita dipertanyakan soal teori apa yang kita pakai. Kita akan sama-sama saling pandang dan tertawa. Dan jangan lupa untuk menjadikan itu juga sebagai sebuah pengalaman. [T]

Tags: Komunitas MahimaRajangan BarungTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Macam-macam Usaha Sukses Orang Buleleng di Denpasar: Siobak, Rujak, Kopi dan Advertising

Next Post

Merasa Orang Paling Sabar di Muka Bumi? Cobalah Jalur Lintasan Pantura Situbondo

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Merasa Orang Paling Sabar di Muka Bumi? Cobalah Jalur Lintasan Pantura Situbondo

Merasa Orang Paling Sabar di Muka Bumi? Cobalah Jalur Lintasan Pantura Situbondo

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co