15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Merasa Orang Paling Sabar di Muka Bumi? Cobalah Jalur Lintasan Pantura Situbondo

Azman H. Bahbereh by Azman H. Bahbereh
May 12, 2022
in Esai
Merasa Orang Paling Sabar di Muka Bumi? Cobalah Jalur Lintasan Pantura Situbondo

Jalur Pantura di kawasan Paiton

Untuk keluar dari daerah Situbondo, dengan melintasi jalur Pantura Situbondo (Situbondo-Probolinggo) di Jawa Timur, kita bisa menghabiskan waktu 4 jam lebih, atau sekurang-kurangnya 3 jam (bila ngebut). Namun, ngebut di sepanjang lintasan Situbondo-Probolinggo , atau yang kerap disebut Pantura Situbondo bukanlah solusi yang tepat. Akibatnya bisa dibayangkan sendiri.

Bukan hal yang asing bagi pengendara lintas daerah seperti sopir truk tronton, truk barang, mobil pick-up, atau pengendara motor, soal jalur Pantura Situbondo yang sangat amat panjang dan membosankan ini. Keluar dari jalur Pantura Situbondo, meski perjalanan masih jauh, rasanya amat melegakan, misalnya begitu masuk Baluran sampai tanah terakhir yaitu Besuki.

Berkendara di sepanjang  lintasan Pantura Situbondo seperti berkelana dari ujung dunia ke ujung dunia sana, tidak kebayang kapan selesainya. Perumpaan itu mungkin berlebihan, tapi percayalah, rasanya memang mirip-mirip berkelana ke ujung dunia. Haha. Bosan bukan disebabkan pengendara sedang melambatkan kendaraan, atau bersikap hati-hati, tapi memang Situbondo adalah daerah yang jek aeng lantangne – seram sekali panjangnya. Belum lagi kalau sampai di sana tepat siang hari, terik panas di jalur Pantura Situbondo adalah sesuatu yang tak bisa dihindarkan.

Para remaja mungkin berhasil bersabar ketika pacarnya selingkuh. Para ayah bisa bersabar atas kelakuan nakal anaknya. Orang-orang juga bisa bersabar dengan tak meluapkan amarahnya ketika dihina, diejek atau dicacimaki. Tapi, kesabaran mungkin bisa hilang jika berkendara melewati lintasan Pantura Situbondo.

Desa Sudimoro: Di Sini Jawa di Sana Madura, di Tengah-tengahnya Sawah Tebu

Saat berjalan, ada sesuatu yang rasanya terserang. Yang diserang itu adalah gejolak batin dan emosi kita terhadap jalan yang panjang, serasa tak ada habisnya. Memang, bila kita lihat rute dari Baluran sampai ke Kraksaan pada aplikasi Google Maps, hanya memakan waktu 2 jam lebih. Tapi jangan percaya, waktu 2 jam hanyalah angan-angan, saya pernah sampai 5 jam kurang hanya untuk keluar dari daerah Situbondo.

Melelahkan? Tentu. Melelahkannya bukan sebab pantat yang gepeng atau tangan yang pegel, tapi memikirkan “ini kapan selesai si Situbondo, Tuhan?”

Untungnya, pemandangan tepi jalan menampakkan gunung-gunung, bahkan kita bisa masuk dalam kerindangan Baluran. Keindahan itu sekilas bisa membuat hati lebih sejuk, tapi, bagi saya jalur Pantura Situbondo tetaplah pemantik sepercik traumatik terhadap perjalanan lintas daerah.

Eitsss, jangan anggap saya lebay dan berlebihan. Saya mahasiswa dari Bali, kuliah di Malang, dan seringkali ke Malang naik sepeda motor. Dan saya merasakannya.

Saya bisa melihat dan merasakan banyak hal dalam perjalanan. Hutan yang lebat;, punya beberapa spot pemandangan gunung-gunung, dan terlihat ketika pengendara sedang fokus-fokusnya boleh jadi sebagai penetralisir kemumetan pengendara. Namun bisakah akses jalan yang tak baik terhindar dari cacian?

Kita sebagai manusia, melewati polisi tidur yang berjajar saja sudah mengeluh sana-sini, protes ke mana-mana. Di Malang, saya kadang suka ngomel ketika melihat 4 polisi tidur berjajar, ini biasanya saya temukan di jalan-jalan perkampungan di kota Malang. Kalau 1 polisi tidur itu jelas hal yang normal saja, tapi ini 4 polisi tidur, dempet-dempet lagi. Tak salah kalau kadang banyak mahasiswa yang heran dan langsung sambat.

Dan coba bayangkan bagaimana bila polisi tidur atau yang menyerupai, ada di setiap jengkal jalur berkendara? Yap, itulah yang saya rasakan dan mungkin pengendara lainnya ketika melintasi jalur Pantura Situbondo. Makanya, seperti yang dikatakan di awal bahwa ngebut bukanlah solusi yang tepat untuk cepat-cepat keluar dari Situbondo.

Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Selain jalan yang melintang panjang. Jalur Pantura Situbondo adalah lintasan yang banyak memiliki tambalan aspal, maksudnya jalan rusak yang ditambal. Kalau setiap 10 meter ya masih dimaklumkanlah, tapi ini, dalam sejumlah ruas jalan, hampir setiap jengkal, setiap kita bernafas, ada tambalan aspal.

Lah itu gimana? Padahal Jalur Pantura Situbondo bukan sembarang jalur. Itu adalah lintasan utama, yang wajib dilewati oleh para pengendara lintas daerah, yang berangkat dari Banyuwangi atau Bali ke Pasuruan, Surabaya, Malang dan sekitarnya.

Paling-paling di jalur Pantura Situbondo, yang termasuk jalan mulus, semulus mata kekasih, itu hanya di lintasan dekat Wisata Bahari Pasir Putih, kawasan hutan Baluran dan sedikit di Kota. Sedangkan di luar itu, dari Banyuputih sampai dengan Kraksaan Probolinggo, jalannya banyak tambalan aspal. Bukan jalan rusak ya, tapi tambalan. Jalan rusak ada juga, tapi tak terlalu mengakar.

Dan jangan meremehkan, tambalan jalan di sepanjang Pantura Situbondo. Pernah suatu kali, saya mudik pakai motor dari Malang ke Bali, melihat ada motor dari arah berlawanan di jalur Pantura Situbondo. Pemotor itu saya lihat menghindari jalan bertambal. Ketika banting stang ke kiri, dari arah saya, ada truk tronton melaju di depan, dan akan mengalami adu jangkrik dengan si pemotor. Namun untung saja, si pemotor bisa banting stang lagi ke kanan dengan cepat, berhasil menghindar dari musibah di depan matanya.

Tak hanya itu, saya sendiri sering mengalami ketika akan balik Malang atau balik ke Bali. Bukan mengalami akan kecelakaan, Alhamdulillah itu tak pernah terjadi pada saya. Yang saya alami setiap pulang dan balik adalah pantat yang sakit akibat terlonjak-lonjak dari sadel, ya itu jelas diakibatkan oleh berjibun-jibunnya aspal tambalan.

Beberapa teman saya juga mengalami, dan sering mereka mengeluh, mengata-ngatai  jalur Pantura Situbondo, tak sedikit juga ngomel tentang pemerintahan dan para pimpinannya. Dan saya tentunya menganggap itu hal yang wajar.

Tapi hal seperti itu sebenarnya ada alasannya. Jalur Pantura Situbondo seperti itu karena Pantura Situbondo jalur utama yang dilewati kendaraan-kendaraan besar, seperti truk-truk tronton, bus-bus panjang, travel-travel dan segala macam. Makanya tak heran melihat jalanan Pantura Situbondo yang membosankan sekaligus membuat waspada luar-dalam.

 Memang, yang mau kita salahkan juga siapa? Jalannya? Pemerintahan? Menurut saya pemerintah tentu juga berfikir panjang untuk meronovasi jalan sepanjang itu. Di samping adanya keluhan, pasti mereka juga mengamati kepentingan mana yang harus didahulukan, dan menunda perbaikan jalan menurut mereka mungkin adalah langkah yang tepat.

Jalur Pantura Situbondo adalah jalur utama dan dilewati oleh banyak orang yang memiliki kepentingan, semisal pengiriman barang, perjalanan wisata, mengantar penumpang dan sebagainya. Bila terjadi perbaikan jalan di jalur Pantura Situbondo secara besar-besaran. Alhasil, pastinya kepentingan mereka terpaksa tertunda, atau memilih jalur memutar yang lebih jauh lagi.

Karena itu, melewati jalur Pantura Situbondo bukan hanya menguras emosi dan kesabaran, tetapi juga menguras keberanian kita. Saya tak berniat menciptakan ketakutan dalam tulisan ini. Hanya ingin menyampaikan bahwa berkendara di jalur tersebut dengan kecepatan penuh bukanlah solusi yang bagus. Paling tidak, kita memiliki sikap berhati-hati dan tetap fokus ketika bertempur dengan jalur Pantura Situbondo, hehehe.

Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Namun tak lengkap rasanya bila tak saya informasikan di sini bahwa sebenarnya, di luar dari itu semua, Pantura Situbondo juga memiliki semacam penghilang rasa kebosanan dan emosi. Sepanjang lintasan pertama sampai akhir, seperti yang saya katakan di beberapa kalimat di atas, bahwa dari Pantura Situbondo kita akan banyak melihat pemandangan gunung-gunung.

Gunung-gunung yang besar itu tampak jelas dari jalur Pantura Situbondo. Namun paling terlihat jelas ketika matahari terbit. Semburat matahari terbit yang keemasan, memoles tubuh gunung-gung yang telanjang, menebarkan pesona mereka ke kedalaman mata kita. Gunung-gunung yang terlihat itu antara lain dan kalau saya masih ingat jelas nama-namanya, yaitu Gunung Bundul, Ringgit, bahkan Argopuro terlihat dari jalur Pantura Situbondo.

Selain itu, biasanya sebelum akan menempuh lintasan panjang tersebut, saya menyegarkan ketegangan dan kelelahan dari perjalanan sebelumnya. Saya biasa berhenti di wilayah hutan Baluran, menikmati pohon-pohon rindang, sesekali juga pernah mengobrol dengan salah satu bapak-bapak yang mengendarai mobil keluarga yang berhenti di sana, yang sekadar melihat monyet-monyet juga sembari memberi makan.

Hutan Baluran yang hijau, cukup menyegarkan pikiran kita ketika bersiap melintasi Pantura Situbondo. Pemandangannya yang luas, juga pohon-pohon yang lebat, lumayan mengisi stamina untuk menempuh kesabaran melintasi jalan panjang tersebut. Tidak hanya saya, bahkan di tengah-tengah hutan Baluran, banyak yang berhenti seperti truk-truk besar dan semacamnya, mungkin juga menyiapkan stamina untuk perjalanan di depan.

Plat DK dan Masakan Sasak yang Menuntaskan Rindu | Cerita Mahasiswa Bali di Kota Malang

Dan terakhir, tujuan peristirahatan dari perjalanan panjang itu, selalu sampai di titik Utama Raya, sebuah rest area yang lumayan besar, yang terletak di perbatasan Situbondo dan Probolinggo. Di sanalah biasa para pengendara lintas daerah beristirahat. Orang-orang seperti supir bus pariwisata, mobil yang mengangkut anggota keluarga dan macam-macam.

Maka teruntuk kalian yang mungkin akan melakukan perjalanan lintas daerah. Jangan khawatir, selain menyajikan lintasan yang membosankan dan lumayan menguras emosi batin. Pantura Situbondo juga tak lupa menyajikan pemandangan lumayan eksotis serta hijau, dan tempat pemuas dahaga kelelahan kita dari melintasi jalurnya yang membentang luas.

Jadi, tetapkan berkendara. Karena tujuan akan dicapai jika kita berkendara.[T]

Tags: Jawa TimurPanturaperjalananSitubondo
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pengalaman adalah Referensi | Catatan Rajangan Barung Teater Kalangan

Next Post

Jembrana Adalah Kota Persinggahan

Azman H. Bahbereh

Azman H. Bahbereh

Lahir di Singaraja, Bali, 30 Januari 2001. Bekerja sebagai tukang jagal ayam yang selain gemar membaca juga gemar menulis. Kalian bisa menemukannya di akun Instagram : @azmnhssmb

Related Posts

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails
Next Post
Arak Bali Belum Sepenuhnya Legal, Tapi Tenang Saja…

Jembrana Adalah Kota Persinggahan

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co