3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
November 26, 2018
in Esai
Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Ilustrasi diolah dari Google

BANYAK yang bilang, kaya dan tidaknya seseorang itu bisa dilihat dari isi dompet. Tebal atau tidaknya dompet yang kita miliki dapat menentukan persepsi masyarakat tentang strata ekonomi. Jadi, untuk mengakali biar berkesan kaya tinggal isi aja tuh dompet dengan kartu yang bermacam-macam, kan tebal tuh jadinya.

Dahulu, ketika saya kecil, ketika saya sering meminta uang saku sekolah (sebenarnya sekarang sih masih tetap minta), ayah atau ibu biasanya mengeluarkan uang lembaran dari dompet mereka berdua lalu memberikannya pada saya.

Lambat laun jadi kepengen punya dompet sendiri meski isinya tetap minta sama orang tua tapi ya yang namanya pengen gaya-gayaan, pengen niru-niru orang dewasa gitu, jadi akhirnya dibelikan dompet juga sama bapak. Ketika itu, dompet yang saya punya bisa dikatakan dompet jadul, ya maklum lah, kan masih tahun 2000-an. Iya, itu lho dompet yang masih ada perekatnya mirip di sepatu-sepatu anak yang kalo dibuka akan berbunyi “kreeek ….” Makanya banyak yang menyebut dompet itu dengan nama dompet kreeek-an (huruf  e-nya tiga kali ya).

Katanya sih dompet norak. Sebab setiap kali buka dompet selalu keluar bunyi yang lumayan bisa didengar beberapa telinga dan menurut orang sekarang kalau masih bawa dompet gituan mesti dikatai norak.

Dipikir-pikir iya juga sih. Misal ketika pergi ke mall dan mau bayar barang lalu kita mengeluarkan dompet yang begituan kemudian dibuka, dan keluar suara “kreeek” sontak semua mata bakal tertuju pada kita kayak di film-film Korea. Beberapa ada yang berbisik, “Ih, masih jaman dompet gituan?” Ya, zaman memang berubah, padahal dompet yang begituan kata bapak sih dulu sudah bagus daripada pake dompet kecil reslitingan yang biasa dibawa ibu-ibu ke pasar. Iya, itu lho dompet emas yang dialihfungsikan jadi dompet uang. Hehe, bukan maksud meledek ibu-ibu lho ya.

Sekarang dompet yang ngetren adalah dompet yang sudah gak pake kreeek-an, gak pake perekat. Tinggal lipat, buka, udah gak usah pake acara bunyi-bunyian. Kata orang dengan begitu kita bisa “keep cool” alias gak usah rame-rame kalau mau keluarin duit.

Kan kata orang semakin keren dan gaul seseorang maka semakin gak berbunyi tuh barang-barangnya. Mobil makin bagus mana ada yang makin nyaring. Sepatu makin bagus makin gak bunyi tuh kalo menghantam tanah. Dan semakin ndeso label yang didapatkan orang, semakin nyaring pula apa-apa yang digunakannya. Sepeda motor dinyaringin biar orang satu kampung kedengeran, nikahan kalo gak pake sound gede dan lagu dangdut yang jedem-jedem rasanya masih kurang. Ya begitulah stigmatisisasi dalam kehidupan kita.

Tapi masalah yang sebenarnya bukan itu. Itukan cuma perihal selera gaya dan kata orang-orang. Sekarang nih gak usah lihat model dompetnya kayak apa, apakah pake dompet “keep cool” yang gak bunyi atau dompet “kreee-kan” yang katanya norak itu. Masalahnya, tuh dompet berisi atau tidak, nah itu pashiongaya yang musti ditingkatkan. Percuma dompet harganya dua ratus ribu tapi isinya malah dak lebih dari 5 persen harga tuh dompet. Percuma baju apik-apik, sandal mapan, tapi otak kayak sampan tenggelam. Ya begitulah kira-kira saudara.

Lambat laun, semakin dewasa kita semakin terikat pula kita dengan dompet. Artinya, keperluan ekonomi akan sangat meningkat seiring bertambahnya usia, nah di situlah peran dompet mulai terlihat bukan sekedar untuk gaya-gayaan.

Semakin dewasa, semakin bermacam-macam pula isi dompet yang kita punya. Dulu ketika kecil mungkin isinya mentok sisa uang saku yang buat ditabung sama mungkin foto-foto entah foto sendiri, foto ibuk, atau juga ayah. Sekarang, tuh dompet gak karuan apa isinya. Semua yang kira-kira seukuran dengan kantong dompet masuk berdesakan. Mulai dari kartu, slip pembayaran, foto, jimat juga mungkin, sampai yang terakhir uang. Kenapa uang disebutin terakhir? Sebab sekarang isi dompet yang dominan bukan uang, tapi kartu.

Gimana? Setuju saudara-saudara? Ya setuju lah. Kan uangnya udah masuk kartu ATM bro. Kalo perlu apa-apa tinggal gesek, selesai deh. Eaa, gak usah banyak alesan deh. Bilang aja biar kelihatan tebal diisi banyak katu ATM mulai dari BRI, BTN, BCA, dan semua ATM bank-bank lain meski sebenarnya gak ada saldonya.

Ya begitulah teman-teman, semakin hari semakin canggih teknologi kita, semakin menyusut pula benda-benda di dunia ini. Komputer dulu besar sekali bahkan sampai seukuran rumah sekarang cukup di genggaman tangan saja. Dulu celengan dan brangkas ukurannya besar, sekarang cukup dengan selembar kartu, iya betul, ATM. Dan seterusnya berlalu. Bahkan baju-baju model sekarang juga ikutan mengecil tuh, makin singset, makin keliatan semua tubuhnya meski sudah pake baju. Dan seterusnya sampe gak pake baju. Eh, eh, sorry kecepolosan.

Tapi akhir-akhir ini, semakin saya merasa dewasa, semakin sering saya mengamati isi dompet saya. Bukan karena gak ada uangnya, bukan. Kalau itu kan persoalan semua orang. Tapi dari tahun ke tahun rasanya penghuni tetap dompet tuh terus saja bertambah. Kalau uang kan penghuni sementara yang hanya singgah beberapa hari di hatiku … Hehe.

Sampai saya membayangkan betapa nanti dompet kita tebal bukan karena uang, tapi karena kebanyakan kartu. Mulai dari KTP, ATM, SIM (SIM A, B, dan seterusnya lengkap), kartu mahasiswa, kartu organisasi, dan semacamnya. Seiring berlanjut usia, bukan tidak mungkin kita akan jadi anggota di banyak organisasi yang mengharuskan adanya kartu. Lah, nambah lagi tuh penghuni dompet. Eh, Belakangan ini malah ada kebijakan yang mungkin bakal menambah penghuni dompet kita ternyata, eits bukan uang tapi ya.

Mentri Agama belakagan ini mengumumkan bahwa sedang berencana mengubah tanda bukti pernikahan yang asalnya buku menjadi kartu. Banyak tuh beritanya di media-media, bisa kamu searching di Google. Atas dasar efisiensi dan kemudahan membawa, maka bukti nikah dipandang perlu untuk dijadikan sekecil mungkin. Jadi gak perlu bawa buku nikah ke mana-mana. Cukup bawa kartu saja.

Prinsipnya bisa dikatakan mirip ATM. Cuman kalau ATM isinya uang, tapi kalo kartu nikah ini hanya sekedar bukti resmi bin sah bahwa kita sudah menikah.

Gimana? Kan bakal ketambahan teman tuh KTP, ATM, SIM, dan sebagainya di dompet.

Dompet dapat diibaratkan lumbung atau persediaan. Di dalam dompet ada persediaan hidup kita meski tidak musti pangan atau sandang. Di sana ada uang meski sekarang sudah berbentuk ATM. Selain itu ada kartu-kartu identitas.

ATM bisa kita anggap sebagai lumbung uang dan kebutuhan ekonomi kita, sementara kartu-kartu lain yang ada di dompet adalah lumbung dan persediaan identitas kita. Dengan kartu itu orang-orang bisa mengetahui identitas resmi kita sebagai penduduk negara mana dan anggota organisasi mana.

Terlepas dari efektifitas dan persoalan yang akan timbul bila bukti nikah diganti kartu (bisa saja mudah hilang atau malah akan terjadi skandal mirip penggelapan identitas layaknya kasus KTP), namun yang bisa saya katakan sekarang adalah betapa fungsi dompet kita sudah beralih fungsi. Yang dulunya digunakan sebagai tempat menyimpanan uang atau sebagai lumbung ekonomi kita, sekarang mungkin bisa dikatakan lebih dominan sebagai tempat atau lumbung identitas kita dengan lebih banyaknya kartu daripada uang dalam dompet tersebut.

Jadi sekarang dompet tuh buat menyimpan kartu-kartu, sementara untuk uang mungkin hanya dalam durasi beberapa hari saja. Atau bisa jadi kelak manusia akan punya dompet dua, satu untuk menumpuk kartu, dan satu lagi untuk tempat uang, itupun kalau ada uangnya, hiks.

So, kalau mau beli dompet sekarang jangan cari yang kantong uangnya lebih banyak atau lebih besar, tapi cari dompet yang kantong kartunya lebih banyak, kan fungsi dompet sudah bukan tempat uang lagi. Dan mungkin bisa saja akan muncul banyak lagi kebijakan pemerintah yang mengharuskan kita membawa kartu ke mana-mana. Kan sudah ada kartu Indonesia sehat, kartu Indonesia pintar, bahkan ada pula wacana kartu Indonesia jomblo. Hehe. (T)

Tags: dompetgaya hidupuang
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Teka-Teki dari Jepang – Catatan Ikut Workshop Butoh di Yogya

Next Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co