24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
November 26, 2018
in Esai
Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Ilustrasi diolah dari Google

BANYAK yang bilang, kaya dan tidaknya seseorang itu bisa dilihat dari isi dompet. Tebal atau tidaknya dompet yang kita miliki dapat menentukan persepsi masyarakat tentang strata ekonomi. Jadi, untuk mengakali biar berkesan kaya tinggal isi aja tuh dompet dengan kartu yang bermacam-macam, kan tebal tuh jadinya.

Dahulu, ketika saya kecil, ketika saya sering meminta uang saku sekolah (sebenarnya sekarang sih masih tetap minta), ayah atau ibu biasanya mengeluarkan uang lembaran dari dompet mereka berdua lalu memberikannya pada saya.

Lambat laun jadi kepengen punya dompet sendiri meski isinya tetap minta sama orang tua tapi ya yang namanya pengen gaya-gayaan, pengen niru-niru orang dewasa gitu, jadi akhirnya dibelikan dompet juga sama bapak. Ketika itu, dompet yang saya punya bisa dikatakan dompet jadul, ya maklum lah, kan masih tahun 2000-an. Iya, itu lho dompet yang masih ada perekatnya mirip di sepatu-sepatu anak yang kalo dibuka akan berbunyi “kreeek ….” Makanya banyak yang menyebut dompet itu dengan nama dompet kreeek-an (huruf  e-nya tiga kali ya).

Katanya sih dompet norak. Sebab setiap kali buka dompet selalu keluar bunyi yang lumayan bisa didengar beberapa telinga dan menurut orang sekarang kalau masih bawa dompet gituan mesti dikatai norak.

Dipikir-pikir iya juga sih. Misal ketika pergi ke mall dan mau bayar barang lalu kita mengeluarkan dompet yang begituan kemudian dibuka, dan keluar suara “kreeek” sontak semua mata bakal tertuju pada kita kayak di film-film Korea. Beberapa ada yang berbisik, “Ih, masih jaman dompet gituan?” Ya, zaman memang berubah, padahal dompet yang begituan kata bapak sih dulu sudah bagus daripada pake dompet kecil reslitingan yang biasa dibawa ibu-ibu ke pasar. Iya, itu lho dompet emas yang dialihfungsikan jadi dompet uang. Hehe, bukan maksud meledek ibu-ibu lho ya.

Sekarang dompet yang ngetren adalah dompet yang sudah gak pake kreeek-an, gak pake perekat. Tinggal lipat, buka, udah gak usah pake acara bunyi-bunyian. Kata orang dengan begitu kita bisa “keep cool” alias gak usah rame-rame kalau mau keluarin duit.

Kan kata orang semakin keren dan gaul seseorang maka semakin gak berbunyi tuh barang-barangnya. Mobil makin bagus mana ada yang makin nyaring. Sepatu makin bagus makin gak bunyi tuh kalo menghantam tanah. Dan semakin ndeso label yang didapatkan orang, semakin nyaring pula apa-apa yang digunakannya. Sepeda motor dinyaringin biar orang satu kampung kedengeran, nikahan kalo gak pake sound gede dan lagu dangdut yang jedem-jedem rasanya masih kurang. Ya begitulah stigmatisisasi dalam kehidupan kita.

Tapi masalah yang sebenarnya bukan itu. Itukan cuma perihal selera gaya dan kata orang-orang. Sekarang nih gak usah lihat model dompetnya kayak apa, apakah pake dompet “keep cool” yang gak bunyi atau dompet “kreee-kan” yang katanya norak itu. Masalahnya, tuh dompet berisi atau tidak, nah itu pashiongaya yang musti ditingkatkan. Percuma dompet harganya dua ratus ribu tapi isinya malah dak lebih dari 5 persen harga tuh dompet. Percuma baju apik-apik, sandal mapan, tapi otak kayak sampan tenggelam. Ya begitulah kira-kira saudara.

Lambat laun, semakin dewasa kita semakin terikat pula kita dengan dompet. Artinya, keperluan ekonomi akan sangat meningkat seiring bertambahnya usia, nah di situlah peran dompet mulai terlihat bukan sekedar untuk gaya-gayaan.

Semakin dewasa, semakin bermacam-macam pula isi dompet yang kita punya. Dulu ketika kecil mungkin isinya mentok sisa uang saku yang buat ditabung sama mungkin foto-foto entah foto sendiri, foto ibuk, atau juga ayah. Sekarang, tuh dompet gak karuan apa isinya. Semua yang kira-kira seukuran dengan kantong dompet masuk berdesakan. Mulai dari kartu, slip pembayaran, foto, jimat juga mungkin, sampai yang terakhir uang. Kenapa uang disebutin terakhir? Sebab sekarang isi dompet yang dominan bukan uang, tapi kartu.

Gimana? Setuju saudara-saudara? Ya setuju lah. Kan uangnya udah masuk kartu ATM bro. Kalo perlu apa-apa tinggal gesek, selesai deh. Eaa, gak usah banyak alesan deh. Bilang aja biar kelihatan tebal diisi banyak katu ATM mulai dari BRI, BTN, BCA, dan semua ATM bank-bank lain meski sebenarnya gak ada saldonya.

Ya begitulah teman-teman, semakin hari semakin canggih teknologi kita, semakin menyusut pula benda-benda di dunia ini. Komputer dulu besar sekali bahkan sampai seukuran rumah sekarang cukup di genggaman tangan saja. Dulu celengan dan brangkas ukurannya besar, sekarang cukup dengan selembar kartu, iya betul, ATM. Dan seterusnya berlalu. Bahkan baju-baju model sekarang juga ikutan mengecil tuh, makin singset, makin keliatan semua tubuhnya meski sudah pake baju. Dan seterusnya sampe gak pake baju. Eh, eh, sorry kecepolosan.

Tapi akhir-akhir ini, semakin saya merasa dewasa, semakin sering saya mengamati isi dompet saya. Bukan karena gak ada uangnya, bukan. Kalau itu kan persoalan semua orang. Tapi dari tahun ke tahun rasanya penghuni tetap dompet tuh terus saja bertambah. Kalau uang kan penghuni sementara yang hanya singgah beberapa hari di hatiku … Hehe.

Sampai saya membayangkan betapa nanti dompet kita tebal bukan karena uang, tapi karena kebanyakan kartu. Mulai dari KTP, ATM, SIM (SIM A, B, dan seterusnya lengkap), kartu mahasiswa, kartu organisasi, dan semacamnya. Seiring berlanjut usia, bukan tidak mungkin kita akan jadi anggota di banyak organisasi yang mengharuskan adanya kartu. Lah, nambah lagi tuh penghuni dompet. Eh, Belakangan ini malah ada kebijakan yang mungkin bakal menambah penghuni dompet kita ternyata, eits bukan uang tapi ya.

Mentri Agama belakagan ini mengumumkan bahwa sedang berencana mengubah tanda bukti pernikahan yang asalnya buku menjadi kartu. Banyak tuh beritanya di media-media, bisa kamu searching di Google. Atas dasar efisiensi dan kemudahan membawa, maka bukti nikah dipandang perlu untuk dijadikan sekecil mungkin. Jadi gak perlu bawa buku nikah ke mana-mana. Cukup bawa kartu saja.

Prinsipnya bisa dikatakan mirip ATM. Cuman kalau ATM isinya uang, tapi kalo kartu nikah ini hanya sekedar bukti resmi bin sah bahwa kita sudah menikah.

Gimana? Kan bakal ketambahan teman tuh KTP, ATM, SIM, dan sebagainya di dompet.

Dompet dapat diibaratkan lumbung atau persediaan. Di dalam dompet ada persediaan hidup kita meski tidak musti pangan atau sandang. Di sana ada uang meski sekarang sudah berbentuk ATM. Selain itu ada kartu-kartu identitas.

ATM bisa kita anggap sebagai lumbung uang dan kebutuhan ekonomi kita, sementara kartu-kartu lain yang ada di dompet adalah lumbung dan persediaan identitas kita. Dengan kartu itu orang-orang bisa mengetahui identitas resmi kita sebagai penduduk negara mana dan anggota organisasi mana.

Terlepas dari efektifitas dan persoalan yang akan timbul bila bukti nikah diganti kartu (bisa saja mudah hilang atau malah akan terjadi skandal mirip penggelapan identitas layaknya kasus KTP), namun yang bisa saya katakan sekarang adalah betapa fungsi dompet kita sudah beralih fungsi. Yang dulunya digunakan sebagai tempat menyimpanan uang atau sebagai lumbung ekonomi kita, sekarang mungkin bisa dikatakan lebih dominan sebagai tempat atau lumbung identitas kita dengan lebih banyaknya kartu daripada uang dalam dompet tersebut.

Jadi sekarang dompet tuh buat menyimpan kartu-kartu, sementara untuk uang mungkin hanya dalam durasi beberapa hari saja. Atau bisa jadi kelak manusia akan punya dompet dua, satu untuk menumpuk kartu, dan satu lagi untuk tempat uang, itupun kalau ada uangnya, hiks.

So, kalau mau beli dompet sekarang jangan cari yang kantong uangnya lebih banyak atau lebih besar, tapi cari dompet yang kantong kartunya lebih banyak, kan fungsi dompet sudah bukan tempat uang lagi. Dan mungkin bisa saja akan muncul banyak lagi kebijakan pemerintah yang mengharuskan kita membawa kartu ke mana-mana. Kan sudah ada kartu Indonesia sehat, kartu Indonesia pintar, bahkan ada pula wacana kartu Indonesia jomblo. Hehe. (T)

Tags: dompetgaya hidupuang
Share3TweetSendShareSend
Previous Post

Teka-Teki dari Jepang – Catatan Ikut Workshop Butoh di Yogya

Next Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co