3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Nyoman Noviantini by Nyoman Noviantini
November 26, 2018
in Khas
Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Diskusi antara dosen dan mahasiswa di sebuah kantin kampus

GENDUWIRASA, begitulah nama acara ngobrol bulanan yang dicetuskan oleh salah satu rekan kuliah saya di Universitas Panji Sakti Singaraja. Acara yang mewadahi mahasiswa Universitas Panji Sakti untuk bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai topik-topik tertentu yang diangkat secara berbeda disetiap bulannya.

Sederhana namun bermakna, kalimat itulah yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan acara ini, sederhana-dilaksanakan di kantin dengan biaya konsumsi ditanggung sendiri oleh mahasiswa, namun bermakna dan memberikan pengetahuan lebih melalui diskusi dari berbagai sudut pandang mahasiswa, sekaligus mempererat tali persaudaraan antar mahasiswa utamanya di jaman milenial yang sebagian besar kegiatan terfokus pada media sosial, yang kemudian berdampak pada kehidupan sosial mahasiswa dengan mulai memudarnya keinginan untuk bertemu dan berbagi cerita secara lisan.

Jumat malam, 23 Nopember 2018. Saya diminta untuk menjadi pematik tutur di acara genduwirasa di bulan Nopember sebagai perwakilan dari mahasiswa Fakultas Hukum Semester 3 dengan topik “Kenapa Hukum?” Topik ini diangkat untuk bertukar cerita dan pengalaman dari mahasiswa yang hadir mengenai alasan-alasan memilih hukum (utamanya untuk mahasiswa fakultas hukum) dan sudut pandang mereka terhadap hukum itu sendiri.

Dan sungguh menjadi kebahagiaan tersendiri ketika salah satu dosen Fakultas Hukum, Bapak Putu Sugi Ardana,SH, MH berkenan hadir dalam acara tersebut. Dan malam itu beliau bercerita mengenai mengapa ia memilih jurusan hukum di perguruan tinggi-kesempatan yang tidak mungkin kita dapat di jam perkuliahan.

Beliau melanjutkan pendidikannya di Universitas Udayana (UNUD) Denpasar, ia bercerita bahwa ia memilih hukum karena ikut-ikutan dengan teman sebayanya, dan juga tidak menyukai hukum ketika awal mulai mempelajari hukum di perguruan tinggi. Namun meskipun tidak menyukainya, ia mengatakan bahwa ia harus bertanggungjawab dengan keputusan yang diambilnya sehingga ia selalu hadir disetiap jam perkuliahan.

Nilai yang diperolehnya pun sebagian besar dihiasi dengan huruf C, hingga ia menyelesaikan pendidikannya di jenjang Strata 1. Kecintaanya terhadap hukum mulai ia temukan ketika melanjutkan pendidikan di jenjang Strata 2, berbeda dengan sebelumnya, ia mulai menikmati dan mendalami dengan lebih serius ilmu hukum. Metode belajar yang beliau gunakan adalah dengan membaca literatur di tempat yang sepi yang kemudian materi yang ia pelajari didiskusikan dan diperdebatkan dengan teman sebayanya.

Terdapat cerita yang berbeda-beda dari setiap mahasiswa yang ikut bergabung di malam itu. Di sudut kantin yang kecil, ada yang bercerita bahwa masuk ke fakultas hukum oleh karena tersesat dan tidak ada arah tujuannya. Yang pada awalnya tidak suka membaca menjadi kecanduan untuk membaca dan terbiasa mendengarkan perdebatan hukum hingga tertidur pulas. Dan bagaimana dengan belajar hukum dapat membentuk pribadi yang pemberani dan tangguh, utamanya ketika berdebat dan mempertahankan argumentasi terhadap suatu kasus tertentu.

Sebagian besar (termasuk saya sendiri) beranggapan bahwa belajar hukum identik dengan menghafalkan pasal dan membaca buku-buku yang tebal, sekilas terlihat sangat membosankan. Akan tetapi pada kenyataanya bahwa belajar hukum sangat menantang dan menyenangkan, disetiap jam perkuliahan seringkali diisi dengan berdiskusi mengenai kasus-kasus yang sedang hangat dibicarakan di masyarakat. Diskusi menjadi menyenangkan ketika mahasiswa yang beprofesi sebagai aparat kepolisian memberikan penjelasan serta pandangannya mengenai kasus tersebut dan bagaimana kelanjutannya.

Ada yang memilih hukum oleh karena sering mendengar dan menonton berita-berita di televisi yang berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran hukum sehingga menjadi tertarik untuk lebih memahami tentang apa itu hukum (entah ini cinta atau obsesi, saya tidak tahu), dan juga ingin mengabdikan masa tuanya dengan berbagi ilmu hukum yang didapat untuk membantu menyelesaikan persoalan yang terjadi di masyarakat sekitar. Bahkan ada mahasiswa pertanian yang ketika sering bertemu dengan mahasiswa hukum dan ikut serta mendengarkan diskusi-diskusinya, menjadi tertarik dan ingin pindah jurusan (jika ada biaya katanya).

Malam itu juga membicarakan tentang stigma di masyarakat yang memandang bahwa penerapan hukum di Indonesia “Tajam ke bawah, tumpul ke atas”. Beberapa dengan terang-terangan membenarkan keduanya, beberapa dengan malu-malu mengakuinya. Ada yang berpandangan bahwa stigma di masyarakat mengenai hukum “Tajam ke bawah, tumpul ke atas”” sudah ada dari masa kerajaan di Indonesia.

Sudah terjadi semenjak dahulu kala, apabila perlakuan penegak hukum ketika menindak masyarakat dari golongan bawah berbeda dengan masyarakat dari golongan atas, pemberian hukuman pada masyarakat golongan bawah (budak,petani,dsb) cenderung lebih keras dibandingkan pada masyarakat golongan atas  (kaum bangsawan).

Hal tersebut kemudian menjadi hal yang biasa dilakukan dan menjadi suatu pemikiran yang meracuni masyarakat mengenai penegakkan hukum hingga saat ini. Ada yang berpandangan bahwa, hal itu terjadi oleh karena perbedaan tingkat pemahaman masyarakat terhadap hukum, mereka yang tergolong masyarakat golongan atas memiliki tingkat pemahaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat golongan bawah.

Sehingga, masyarakat golongan atas “bermain cantik” ketika melakukan pelanggaran, berbeda halnya dengan masyarakat golongan bawah yang tidak paham dengan hukum sehingga tidak dapat “bermain cantik”. Hal inilah yang menyebabkan seakan-akan penegakkan hukum di Indonesia terlihat tajam ke bawah dan tumpul ke atas.

Sebagai kali pertamanya saya menjadi pematik tutur dalam acara itu , banyak catatan yang saya kumpulkan untuk kemudian perlu diperbaiki ke depannya. Terlebih mengenai kemampuan berargumentasi yang perlu saya latih lebih sering lagi. Tak lupa juga saya ucapkan terimakasih pada rekan kuliah saya , yang mendukung dan memberikan kesempatan untuk mencoba mengukur kemampuan dan melatih mental untuk berbicara di depan publik.

“I have no special talents , i am only passionately curious” – Albert Einstein (T)

Tags: hukumkampuskantinmahasiswa
Share16TweetSendShareSend
Previous Post

Lama-lama, Dompet Kita Tebal Bukan Karena Uang, tapi Gara-gara Kartu

Next Post

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Nyoman Noviantini

Nyoman Noviantini

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Panji Sakti Singaraja. Pacaran sambil kuliah, suka jalan-jalan,

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co