4 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 13, 2019
in Esai
Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Kota Singaraja. Foto: Mursal Buyung

SAYA tiba di kota ini pada tahun 2004 saat melanjutkan jenjang Sekolah Menengah  di SMANSA Singaraja. Waktu itu suasana jalan masih tampak lengang. Orang-orang  jarang yang memiliki kendaraan pribadi. Jika ada, itu pun dipakai bersama-sama dalam satu keluarga dan bukan orang per orang.

Moda transportasi umum seperti bemo merah, biru dan cokelat menjadi alternatif warga kota menuju ke tempat tujuan. Mereka biasanya akan ngtem di tempat-tempat strategis yang berpotensi mendatangkan penumpang seperti pasar dan sekolah.

Aneka bemo itu akan parkir di sekitaran Jalan Pramuka, tepat di depan sekolah saya. Jika sedang malas mengayuh sepeda ke sekolah, biasanya saya akan menumpang bemo. Bermodal uang Rp. 1000, kita akan diantar pak sopir sampai tempat tujuan. Tentu saja biaya itu hanya berlaku di dalam kota saja.

Kelengangan kota Singaraja periode 2000-an awal menyebabkan ritme keseharian masyarakat terkesan lamban dan tenang, jauh dari hiruk pikuk, keterpecahan dan keterburuan gejala khas kota besar.  Tidak seperti sekarang, kecepatan dan ketepatan  menjadi pemandangan yang relatif baru.

Saya masih ingat, kala itu tinggal dengan paman di sebuah mess tua peninggalan Belanda di seputaran Ahmad Yani. Arsitekturnya khas Belanda dan kepemilikannya atas nama PT. Pos Indonesia cabang Singaraja. Kebetulan bibi yang bekerja disana sehingga rumah itu diberikan sebagai tempat tinggal sementara namun dengan tetap membayar sewa setiap tahunnya.

Selama kurun 2004-2011, saya mendiami sebuah kamar bekas gudang berukuran 2x3meter. Kecoak dan tikus akan bersahutan jelang pukul 24.00. Posisi kamar yang menghadap garasi mobil dan jalan besar, dengan posisi lebih rendah dari jalan membuat saya khawatir kebanjiran jika musim hujan tiba. Saya juga waswas bila atap bocor karena dipastikan kasur menjadi basah kena cucuran air hujan.

Setelah lulus sarjana tahun 2011, saya hijrah ke Denpasar, lalu menetap di Jogjakarta selama 2 tahun untuk melanjutkan studi master dan akhirnya kembali ke kota ini sejak 2016. Saya menyaksikan betapa perubahan dan perkembangan yang begitu pesat telah menjadi gejala umum di kota ini. Khususnya di seputaran Ahmad yani, pusat-pusat elektronik, otomotif, kecantikan, dan kuliner kini mendominasi sub-sub pertokoan.

Membludaknya kepemilikan atas kendaraan pribadi diiringi pula kematian suri moda transportasi umum. Pergeseran gaya hidup masyarakat terutama dalam merespon globalisasi mendorong munculnya driver online macam grab, menjamurnya online shop dan tentu saja kuburan bagi ritel modern yang tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan tekonologi seperti kasus Hardys di tahun 2017 lalu.

Sebagai bagian dari interkoneksi global yang tidak luput dari sergapan akses teknologi dan informasi, masyarakat kota Singaraja bergerak maju dan modern. Salah satu penanda kemoderenan itu adalah obsesi masyarakatnya tentang waktu dan kecepatan yang hadir berkelindan.

Aktualisasinya dalam kehidupan sosial dapat ditemukan misalnya pada penggunaan kalender dan jam. Kalender yang digunakan secara umum menampilkan tanggal, nama hari, bulan dan tahun dalam bentuk kolom dan baris. Pada selembar kalender masehi yang menunjukkan tanggal tertentu misalnya dibubuhi keterangan, beberapa sistem penanggalan lain yang ditulis dalam huruf yang lebih kecil.

Pencantuman beragam jenis sistem perhitungan waktu ini merupakan bagian dari perayaan atas kemajemukan waktu yang saling mengandaikan. Jam di sisi lain adalah ekspresi domian ketika waktu sosial dijelaskan.

Melalui ukuran jam, waktu telah menjadi komponen produksi yang dapat dipertukarkan. Ia lalu disandingkan dengan kerja mesin, tenaga kerja dan waktu yang mereka miliki masuk ke dalam kategori kapital, yakni sebuah sistem yang menuntut keserempakan dan ketepatan. Waktu kemudian dikotak-kotak ke dalam waktu kerja dan luang. Dalam situasi kerja, waktu dianggap memiliki nilai tukar abstrak, diukur dengan jam dan dinilai dengan uang.

Nampaknya, obsesi terhadap waktu dan memaksimalkan keberadaannya telah menubuh pada sebagian besar masyarakat kota Singaraja. Seorang kawan, pengajar mata pelajaran eksakta di sebuah bimbingan belajar di Singaraja misalnya selalu menolak ajakan saya untuk kongkow, bahkan meskipun itu adalah akhir pekan.

Menurutnya, kongkow adalah “hura-hura” yang kurang produktif dan buang-buang waktu, “wasting time” ujarnya. Baginya “waktu adalah uang” dalam dunia yang serba kompetitif dan berubah secara cepat. Waktu senggang, betapapun minimnya harus dimanfaatkan untuk sebuah aktivitas yang disebut “kerja” yang menghasilkan uang. Jika tidak begitu, maka peluang kita hidup bahagia di hari tua akan sempit.

Berbeda lagi ungkapan yang dilontarkan karib pengajar matematika yang menganggap bahwa pemanfaatan terhadap waktu sebagai usaha untuk merengkuh segala sesuatu  dengan cepat, istilahnya “siapa cepat dia dapat”. Dalam ungkapan itu, kata cepat dapat berganti-ganti makna dengan lekas atau segera.

Dalam hidup sehari-hari orang dengan lekas atau segera bisa mengumpulkan uang menjadi kaya, maka diyakini bisa melakukan banyak hal yang diinginkan. Kata cepat ini terkesan merupakan “hasrat alamiah” yang ada di tingkat individu. Pada konteks sosial, kata ini mewujud ke dalam saling mendahului di antara individu agar bisa bertahan.

Obsesi pada kecepatan juga tampak pada munculnya kebijakan pemerintah memulai jam kantor yang rata-rata dimulai jam 07.45 telah mendorong orang untuk saling mendahului agar segera sampai.

Faktor yang mendorong orang untuk datang tepat waktu tersebut bukan  hanya masalah disiplin diri yang ditanamkan sekolah, tetapi juga melibatkan ancaman berkurangnya pendapatan atau sanksi administrasi yang mungkin saja didapatkan. Ketepatan waktu yang nyaris mekanistis tanpa memperhatikan batasan-batasan yang timbul merupakan tuntutan nilai efektivitas dan efisiensi waktu kerja yang ditata dalam logika percepatan industri.

Di samping itu, kecepatan bisa juga dianggap sebagai komoditas yang memiliki nilai jual. Dalam dunia otomotif misalnya, siasat utama untuk memasarkan produk kendaraan bermotor dan produk turunanya adalah dengan mengiming-imingi konsumen bahwa peristiwa kecepatan adalah kesempatan berharga.

Rasionalisasi lain yang juga sering bekerja dalam rangka pemujaan kecepatan adalah mitos modernitas yang menantang masyarakat agar terus mengikuti perkembangan teknologi jika tidak ingin terperangkap pada kekunoan dan menjadi tertinggal. Hal ini bisa kita lihat kompetisi produk handphone. Terutama vendor HP yang bermain di level midrange (kelas menengah). Produsen yang tidak mampu berinovasi dan berkreasi dengan kecepatan, sekuat apapun brand nya, siap-siap gulung tikar.

Perihal kekunoan nampaknya menjadi sebab utama seorang  karib selalu melontarkan ejekan hanya karena HP yang saya gunakan sudah out of date, terlihat jadul dan tentu saja lelet alias lambat, sehingga perlu diupgrade. Kelambanan dengan demikian adalah antitesis kecepatan, sekaligus virus yang harus dimusnahkan di dalam tubuh masyarakat yang modern dan instan. (T)

Tags: bulelengekonomiSingarajataman kota
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Next Post

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
0
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

Read moreDetails

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

by Angga Wijaya
June 4, 2026
0
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

Read moreDetails

Pertemuan William James dan Vivekananda

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
0
Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

Read moreDetails

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails
Next Post
Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat
Panggung

‘Nalaskara’, Menafsir Nyala Siat Geni dalam Gerak yang Dinamis dan Penuh Semangat

SOROT lampu panggung perlahan menghangatkan Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, Sabtu malam, 30 Mei 2026. Setelah denting gamelan...

by Dede Putra Wiguna
June 4, 2026
Cukup Telulas?
Bahasa

Cukup Telulas?

BISA jadi telanjur terbentuk stigma tiga belas identik dengan celaka, sial, dan segala bentuk ketidakberuntungan maka sangat penting diupayakan menghindari...

by Komang Berata
June 4, 2026
Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin
Esai

Sekaa Teruna: Menjaga Tradisi, Mencetak Pemimpin

DI tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang berlangsung begitu cepat, generasi muda Bali menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka...

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 4, 2026
Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?
Esai

Korespondensi, Masihkah Diajarkan di Sekolah Kini?

SIANG hari beberapa waktu lalu saat pulang kampung, saya membuka sebuah kotak lama berisi tumpukan surat. Kertas-kertas itu mulai menguning....

by Angga Wijaya
June 4, 2026
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten
Tualang

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa
Bahasa

Dokter Gia: Pilihan Kata Mengolah Rasa

DOKTER Gia Pratama (dr. Gia) —seorang dokter dan penulis yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat dalam dunia kesehatan—pernah...

by I Made Sudiana
June 3, 2026
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah
Khas

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co