3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 13, 2019
in Esai
Singaraja yang Modern: Konstruksi, Reproduksi dan Komodifikasi Kecepatan di Ruang Publik

Kota Singaraja. Foto: Mursal Buyung

SAYA tiba di kota ini pada tahun 2004 saat melanjutkan jenjang Sekolah Menengah  di SMANSA Singaraja. Waktu itu suasana jalan masih tampak lengang. Orang-orang  jarang yang memiliki kendaraan pribadi. Jika ada, itu pun dipakai bersama-sama dalam satu keluarga dan bukan orang per orang.

Moda transportasi umum seperti bemo merah, biru dan cokelat menjadi alternatif warga kota menuju ke tempat tujuan. Mereka biasanya akan ngtem di tempat-tempat strategis yang berpotensi mendatangkan penumpang seperti pasar dan sekolah.

Aneka bemo itu akan parkir di sekitaran Jalan Pramuka, tepat di depan sekolah saya. Jika sedang malas mengayuh sepeda ke sekolah, biasanya saya akan menumpang bemo. Bermodal uang Rp. 1000, kita akan diantar pak sopir sampai tempat tujuan. Tentu saja biaya itu hanya berlaku di dalam kota saja.

Kelengangan kota Singaraja periode 2000-an awal menyebabkan ritme keseharian masyarakat terkesan lamban dan tenang, jauh dari hiruk pikuk, keterpecahan dan keterburuan gejala khas kota besar.  Tidak seperti sekarang, kecepatan dan ketepatan  menjadi pemandangan yang relatif baru.

Saya masih ingat, kala itu tinggal dengan paman di sebuah mess tua peninggalan Belanda di seputaran Ahmad Yani. Arsitekturnya khas Belanda dan kepemilikannya atas nama PT. Pos Indonesia cabang Singaraja. Kebetulan bibi yang bekerja disana sehingga rumah itu diberikan sebagai tempat tinggal sementara namun dengan tetap membayar sewa setiap tahunnya.

Selama kurun 2004-2011, saya mendiami sebuah kamar bekas gudang berukuran 2x3meter. Kecoak dan tikus akan bersahutan jelang pukul 24.00. Posisi kamar yang menghadap garasi mobil dan jalan besar, dengan posisi lebih rendah dari jalan membuat saya khawatir kebanjiran jika musim hujan tiba. Saya juga waswas bila atap bocor karena dipastikan kasur menjadi basah kena cucuran air hujan.

Setelah lulus sarjana tahun 2011, saya hijrah ke Denpasar, lalu menetap di Jogjakarta selama 2 tahun untuk melanjutkan studi master dan akhirnya kembali ke kota ini sejak 2016. Saya menyaksikan betapa perubahan dan perkembangan yang begitu pesat telah menjadi gejala umum di kota ini. Khususnya di seputaran Ahmad yani, pusat-pusat elektronik, otomotif, kecantikan, dan kuliner kini mendominasi sub-sub pertokoan.

Membludaknya kepemilikan atas kendaraan pribadi diiringi pula kematian suri moda transportasi umum. Pergeseran gaya hidup masyarakat terutama dalam merespon globalisasi mendorong munculnya driver online macam grab, menjamurnya online shop dan tentu saja kuburan bagi ritel modern yang tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan tekonologi seperti kasus Hardys di tahun 2017 lalu.

Sebagai bagian dari interkoneksi global yang tidak luput dari sergapan akses teknologi dan informasi, masyarakat kota Singaraja bergerak maju dan modern. Salah satu penanda kemoderenan itu adalah obsesi masyarakatnya tentang waktu dan kecepatan yang hadir berkelindan.

Aktualisasinya dalam kehidupan sosial dapat ditemukan misalnya pada penggunaan kalender dan jam. Kalender yang digunakan secara umum menampilkan tanggal, nama hari, bulan dan tahun dalam bentuk kolom dan baris. Pada selembar kalender masehi yang menunjukkan tanggal tertentu misalnya dibubuhi keterangan, beberapa sistem penanggalan lain yang ditulis dalam huruf yang lebih kecil.

Pencantuman beragam jenis sistem perhitungan waktu ini merupakan bagian dari perayaan atas kemajemukan waktu yang saling mengandaikan. Jam di sisi lain adalah ekspresi domian ketika waktu sosial dijelaskan.

Melalui ukuran jam, waktu telah menjadi komponen produksi yang dapat dipertukarkan. Ia lalu disandingkan dengan kerja mesin, tenaga kerja dan waktu yang mereka miliki masuk ke dalam kategori kapital, yakni sebuah sistem yang menuntut keserempakan dan ketepatan. Waktu kemudian dikotak-kotak ke dalam waktu kerja dan luang. Dalam situasi kerja, waktu dianggap memiliki nilai tukar abstrak, diukur dengan jam dan dinilai dengan uang.

Nampaknya, obsesi terhadap waktu dan memaksimalkan keberadaannya telah menubuh pada sebagian besar masyarakat kota Singaraja. Seorang kawan, pengajar mata pelajaran eksakta di sebuah bimbingan belajar di Singaraja misalnya selalu menolak ajakan saya untuk kongkow, bahkan meskipun itu adalah akhir pekan.

Menurutnya, kongkow adalah “hura-hura” yang kurang produktif dan buang-buang waktu, “wasting time” ujarnya. Baginya “waktu adalah uang” dalam dunia yang serba kompetitif dan berubah secara cepat. Waktu senggang, betapapun minimnya harus dimanfaatkan untuk sebuah aktivitas yang disebut “kerja” yang menghasilkan uang. Jika tidak begitu, maka peluang kita hidup bahagia di hari tua akan sempit.

Berbeda lagi ungkapan yang dilontarkan karib pengajar matematika yang menganggap bahwa pemanfaatan terhadap waktu sebagai usaha untuk merengkuh segala sesuatu  dengan cepat, istilahnya “siapa cepat dia dapat”. Dalam ungkapan itu, kata cepat dapat berganti-ganti makna dengan lekas atau segera.

Dalam hidup sehari-hari orang dengan lekas atau segera bisa mengumpulkan uang menjadi kaya, maka diyakini bisa melakukan banyak hal yang diinginkan. Kata cepat ini terkesan merupakan “hasrat alamiah” yang ada di tingkat individu. Pada konteks sosial, kata ini mewujud ke dalam saling mendahului di antara individu agar bisa bertahan.

Obsesi pada kecepatan juga tampak pada munculnya kebijakan pemerintah memulai jam kantor yang rata-rata dimulai jam 07.45 telah mendorong orang untuk saling mendahului agar segera sampai.

Faktor yang mendorong orang untuk datang tepat waktu tersebut bukan  hanya masalah disiplin diri yang ditanamkan sekolah, tetapi juga melibatkan ancaman berkurangnya pendapatan atau sanksi administrasi yang mungkin saja didapatkan. Ketepatan waktu yang nyaris mekanistis tanpa memperhatikan batasan-batasan yang timbul merupakan tuntutan nilai efektivitas dan efisiensi waktu kerja yang ditata dalam logika percepatan industri.

Di samping itu, kecepatan bisa juga dianggap sebagai komoditas yang memiliki nilai jual. Dalam dunia otomotif misalnya, siasat utama untuk memasarkan produk kendaraan bermotor dan produk turunanya adalah dengan mengiming-imingi konsumen bahwa peristiwa kecepatan adalah kesempatan berharga.

Rasionalisasi lain yang juga sering bekerja dalam rangka pemujaan kecepatan adalah mitos modernitas yang menantang masyarakat agar terus mengikuti perkembangan teknologi jika tidak ingin terperangkap pada kekunoan dan menjadi tertinggal. Hal ini bisa kita lihat kompetisi produk handphone. Terutama vendor HP yang bermain di level midrange (kelas menengah). Produsen yang tidak mampu berinovasi dan berkreasi dengan kecepatan, sekuat apapun brand nya, siap-siap gulung tikar.

Perihal kekunoan nampaknya menjadi sebab utama seorang  karib selalu melontarkan ejekan hanya karena HP yang saya gunakan sudah out of date, terlihat jadul dan tentu saja lelet alias lambat, sehingga perlu diupgrade. Kelambanan dengan demikian adalah antitesis kecepatan, sekaligus virus yang harus dimusnahkan di dalam tubuh masyarakat yang modern dan instan. (T)

Tags: bulelengekonomiSingarajataman kota
Share112TweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan “Kenapa Memilih Hukum” di Sudut Kantin Kampus

Next Post

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails
Next Post
Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Tabanan : Sejarah, HUT Kota dan Porprov Bali XIV-2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co